The Same Place
Chapter 04
..
..
BM : Hello - Nue'st
..
..
"Haowen hyung dan Luhan hyung thallak!, Ziyu dan Cehun hyung menang yeayy..." teriak Ziyu kesenangan sambil loncat-loncat kecil. Ketiga yang lainnya hanya menatapinya dengan senyuman, Haowen menghela nafas lelah sehabis bermain badannya pun sudah terasa lengket akibat keringatnya sendiri.
"Hanya kebetulan, biasanya juga kau kalah dan kau bisa menang karena ada Sehun hyung bukan!" cercah Haowen agak kesal melihat adik kecilnya itu kelewat gembira akan kemenangannya saat ini.
"Bialin, yang penting Ziyu menang dan hyung kalah weekk..." ejek Ziyu tak mau kalah, membuat sang kakak mendengus kesal.
Luhan yang melihatnya hanya tersenyum maklum akan tingkah keduanya, itu sangat lucu untuk disaksikan apa lagi tingkah Ziyu saat ini. Kemudian ia ikut menghela nafas karena merasa lelah pula, mereka benar-benar bermain dengan puas tadi. Bermain bola berempat karena Sehun tiba-tiba datang dan menawarkan diri untuk ikut. Jelas saja Luhan terkejut akan kedatangan pria itu, ingin menolak tapi ketika melihat raut wajah ceria Ziyu ia terpaksa diam saja.
Bermain hampir menghabiskan waktu entah berapa jam lamanya, bahkan saat ini sudah tampak sore tiba dan taman malah semakin ramai. Begitu tim Ziyu dengan Sehun dinyatakan menang mereka pun berhenti, yah Ziyu bersama Sehun sementara Luhan bersama Haowen. Mereka berdua kalah entah karena apa? Yang jelas hal itu sungguh dibuat si paling kecil begitu senang.
"Ahh...lelahnya" keluh Haowen kembali mengelap keringatnya.
"Kita istirahat saja dulu, setelah itu kalian berdua harus pulang!" usul Luhan
"Ne hyungg..." serentak Ziyu dan Haowen sambil mengangguk paham.
"Apa kalian haus?" itu suara Sehun bertanya dan ketiganya pun menoleh padanya
"Ne hyung, Ziyu hauc..."
"Aku juga" timbal Haowen
"Oke hyung akan belikan kalian minuman, emm...Haowen kau ikut dengan hyung yah!" Haowen mengangguk menurut dan berjalan mendekati Sehun berada.
"Kalian tunggu disini!"
"Allaceo hyung..."
Kepergian keduanya Luhan membawa Ziyu untuk duduk disalah satu bangku ditaman itu, dengan si kecil duduk dipangkuan Luhan dan pria manis itu sibuk mengelap keringat ditubuh Ziyu menggunakan tissue yang ada didalam tasnya. Sampil menunggu kedatangan Haowen dan Sehun disana.
"Cehun hyung kereen..."
"Huh?" Luhan menghentikan tangannya yang tadi sibuk mengelap keringat Ziyu ketika anak kecil itu tiba-tiba berseru dengan riangnya, lalu ia menghadapkan wajahnya kesamping agar dapat bertatapan dengan anak itu.
"Ziyu cuka, Cehun hyung cangat baik membantu Ziyu agal bica menang dari Hao hyung..."
"Benarkah?"
"he'um, apa hyung kenal dengan Cehun hyung?"
Luhan terdiam menatap arah bawah mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Ziyu, bukan karena tak tau ia harus jawab apa hanya saja ia sedikit berpikir untuk menjawabnya. Lagi pula mengapa Ziyu harus bertanya seperti itu padanya saat ini?
"Hyung kenapa diam?" tersentak akibat Ziyu menyadarkan dirinya yang sempat melamun itu, ia kembali menatap anak itu dan memaksa tersenyum palsunya.
"Yah, hyung kenal baik dengan Sehun hyung, karena kami berada disatu sekolah yang sama" jawabnya. Membuat Ziyu seketika berwajah ceria lagi.
"Benalkah? Wahh...pacti hyung celalu belmain dengan Cehun hyung yah?"
"heumm...bermain bersama...se-selalu?" ia mengerutkan alisnya ketika mengatakan hal itu, terpaksa berkata bohong pada Ziyu agar anak itu percaya padanya.
"Pacti menyenangkan hihihiii..."
Tersenyum lagi ketika melihat bagaimana lucunya Ziyu terkikik senang diatas pangkuannya ini. Melihat Ziyu ia jadi teringat dengan dirinya sendiri saat ia masih kecil dulu. Sama sepertinya yang dulu begitu ceria dan selalu tersenyum-riang.
"Maaf kami sedikit lama..." Suara Sehun terdengar tiba-tiba dimana pria itu sudah datang menghampiri mereka bersama Haowen membawa 4 cup Bubble tea.
"Ini untuk Ziyu..." Sehun memberikan satu cup pada si paling kecil, diterima baik oleh Ziyu dengan senyumannya.
"Telima kacih hyung..."
"Dan ini untukmu, Lu..."
"Te-terima kasih Sehun." dengan sedikit gugup Luhan menerima secup bubble tea dari Sehun, menunduk setelah itu sambil mulai menyeruput minumannya.
"Aahh...legahnya" Sehun tersenyum tipis melihat bagaimana lucunya Haowen mendesah legah saat tenggorokannya telah terbasahi oleh minumannya itu, dan Ziyu si paling kecil mengikuti gaya sang kakak.
"Aahh...legahnya hihihiii..." sangat terlihat lucu sampai Luhan pun tak bisa untuk tidak tersenyum pula manis, hal itu secara tak sengaja Sehun memperhatikannya.
Ia terpaku menatapnya betapa ia jadi merindukan senyuman seorang Luhan seperti itu, senyuman yang selama ini selalu menghangatkan hari-harinya. Ia rindu dan tengah menikmatinya saat ini seakan tak ingin hal itu terlewatkan barang sedikit pun. Siapa tau tiada hari esok untuk ia dapat dihari ini.
"Sudah sore, mungkin ada baiknya jika kita pulang saja dan kalian berdua pasti akan dicari oleh orang tua kalian..." Luhan berujar memberitahukan ketika ia sempat memeriksa jam tangannya.
"Itu benar, kalian pasti dicari sekarang ini" maka Sehun menambahinya sedikit sampai kedua anak itu mengangguk paham.
"Hyung benar, Ziyu ayo kita pulang."
"Ne hyung, Luhan hyung dan Cehun hyung ziyu mau pulang dulu..." ucap Ziyu bermaksud berpamitan pada kedua pria disana.
"Heumm...Ziyu-ya hati-hati ne!." mengangguk lalu
"Becok-becok kita belmain lagi ne, juga Cehun hyung-" Ziyu beralih pada Sehun berdiri tepat dihadapan pria tinggi itu, sampai Sehun harus berjongkok agar menyamai tinggi badan anak kecil itu.
"Ziyu cenang bica belmain dengan hyung, kalena hyung Ziyu bica mengalahkan Hao hyung hehee..."
"Benarkah? Kalau begitu hyung janji akan bermain bersama Ziyu lagi heum..." balas Sehun ramah sambil mengusap lembut kepala Ziyu, dan anak itu tampak tersenyum senang.
"Aciikkk...Ziyu akan menunggu hyung datang hihiii" Luhan ikut tersenyum ditempatnya kini diikuti pula Haowen bergelang kepala melihat sang adik.
"Yasudah, Luhan hyung dan Sehun hyung kami pulang dulu ne, terima kasih sudah mau bermain bersama kami" Haowen bersuara kini menatap bergantian kedua pria didepannya
"heum hati-hati dijalan"- Luhan dengan senyumannya
"Yah."- Sehun singkat beranjak dari jongkoknya.
"Ayo Ziyu!" Haowen meraih tangan adiknya mulai melangkah membawa pulang sang adik kerumah mereka bersama.
"Byee Luhan hyung, byee juga Cehun hyung..." Ziyu berlambai tangannya
"Byee Ziyu-yaaa..." Luhan balas berteriak ikut melambaikan tangannya pula, sampai akhirnya kedua anak kecil itu perlahan-lahan mulai menjauh dari pandangan mereka dan berakhir hilang dijalan setapak. Maka Luhan terdengar menghela nafas pelan.
Berjalan sedikit untuk mengambil tas ranselnya, ia pakai lalu berbalik sampai sadar ia terhenti ditempatnya ketika Sehun sudah beralih memperhatikannya. Selama 5 detik saling bertatap sebelum Luhan lebih dulu memutuskannya kearah lain dan menunduk.
Ia mulai merasa tak tenang juga gugup karena tinggal dirinya-lah disana bersama Sehun. Cukup canggung mengingat keadaan mereka kini telah berbeda, tak sama dengan keadaan sama mereka bersama dulu. Hingga suara deheman Sehun menyadarkannya beserta ia rasakan satu-persatu air turun dari atas mengenai wajah.
Ketika ia dongakan wajahnya keatas tanpa perdulikan suara deheman pria tak jauh darinya tadi, ia sadar langit sudah tampak tak secerah tadi yang mana kini mulai tampak gelap. Air dari langit pun semakin berjatuhan dan Luhan merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti jari-jemari tangan kanan.
Ia merunduk dan berpaling dimana Sehun telah berada dihadapannya. Menatapnya dengan tatapan yang selama ini ia rindukan. Tersadar lagi jika sesuatu ditangannya berasal dari tangan Sehun yang menggenggamnya begitu erat.
"Ayo!"
Kata itu mengakhiri hari cerah mereka hari ini, tergantikan dengan hujan deras yang turun membasahi seluruh kota Seoul pada sore hari. Saat itu pula Luhan membiarkan dirinya dibawa lari oleh Sehun dibawah turunnya hujan.
...
..
Disebuah teras toko yang telah tutup Sehun membawa Luhan disana untuk berteduh, ia tak bisa membawanya langsung mobilnya itu karena keburu basah kuyup akibat hujan semakin deras. Jadinya ia menarik pria kecil itu untuk sejenak berlindung didepan toko tersebut. Luhan juga tidak mempermasalahkan hal itu tubuhnya tak sampai begitu basah pun itu sudah cukup baginya.
Dalam suasana hening ditemani suara gemuruh hujan yang tak henti turun keduanya tak melakukan apa pun selain diam satu sama lainnya. Tanpa ada pembicaraan dan suara lain menantikan hentinya hujan turun disana. Hanya berdua dalam diam ditempat itu. Sehun akan sesekali memandang kearah Luhan disebelahnya, dan Luhan tak jauh berbeda melirikan matanya pada Sehun. Lalu menunduk dalam ketika matanya tak sengaja bertemu dengan sepasang mata elang itu.
Canggung rasanya sampai Luhan ingin sekali lekas pergi dan sampai dirumahnya untuk tidur dibalik selimut tebal miliknya. Karena jujur saja ia mulai merasa kedinginan walau masih ada Blazer seragamnya itu. Tapi tetap saja didingin belum lagi sedikit terkena basah akibat hujan. Ia jadi tidak akan bisa menahannya lagi jika terlalu lama menunggu disana dalam keadaan dingin seperti ini.
Ia menggigil sampai bibirnya bergetar kecil, lantas ia mengusap-usapkan lengannya menjadi kehangatan, bahkan sampai memeluk tubuhnya sendiri disana. Sehun menyadarinya masih diam memperhatikan betapa Luhan kedinginan saat ini. Ia tau hal itu karena ia pun juga tengah merasakannya, dingin walau tidak begitu kentara.
"Kau kedinginan?" tanyanya basa-basi ingin memastikan lagi, Luhan menoleh seketika kearahnya memandangnya bengong sebelum menunduk lagi, dan bergumam sangat pelan.
"heum..."
Hening kembali, untuk sejenak Sehun berpikir hingga terlewati semenit kemudian. Lalu ia bergerak mendekat, perlahan menyentuh pundak Luhan sampai pria kecil itu berbalik menghadap padanya. Luhan jelas terkejut apa lagi ketika merasa bagaimana hangatnya kedua tangan Sehun meraihnya. Membungkus erat tubuhnya yang tengah kedinginan.
"Se-Sehun..."
"Apa sekarang lebih baik?" terdiam membatu ditempatnya Luhan membiarkan ia benar berada sepenuhnya dalam pelukan hangat pria yang pernah menjadi penjaga didalam kehidupnya selama setahun terlewati.
Pelukan yang tak pernah berubah ia rasakan, pelukan sayang nan hangat berbeda hanya milik seorang Oh Sehun. Ia merindukannya dan kini tengah melepaskan rasa rindu itu saat ini.
"heum...hangat" bisiknya kecil yang mana pada akhirnya ia tak bisa melakukan apa pun, selain menerimanya, menikmatinya rasa hangat akan pelukan yang begitu ia rindukan itu. Dengan mata terpejam Luhan balik meraih tubuh Sehun untuk ia peluk. Membiarkan sepenuhnya tubuh mereka saling menyelimuti satu sama lain agar kehangatan semakin tercipta diantara keduanya.
Tanpa ragu menyandarkan kepalanya pada pundak lebar milik Sehun, ia merasa sangat nyaman dalam keadaan mereka seperti itu. Dan bolehkah ia tetap ingin seperti ini? Jangan berhentik karena ia sudah terlanjut rindu dengan semua ini terjadi padanya.
Ia merindukan pelukan Sehun.
Sehun perlahan sedikit merenggangkan pelukannya, alih memandang wajah manis Luhan yang masih dalam mata yang terpejam. Satu tangannya ia angkat untuk menangkup wajah itu dan itu terasa dingin. Wajah Luhan terasa dingin mungkin akibat kedinginan, lantas ia usap pelan pipi itu dengan ibu jarinya. Sampai Luhan membuka kedua matanya yang mana mereka saling bertatapan langsung.
Tatapan begitu teduh tercampur akan kerinduan yang Luhan dapatkan dari pancaran kedua manik tajam pria didepannya ini. Memandangnya begitu lekas seakan tak ingin berpaling sedetik pun. Maka Luhan juga tak bisa menyembunyikan raut wajah sendunya, yang jauh lebih merindukan.
"Sehun..." sampai ia tak bisa mencegat bibirnya untuk tidak menyerukan nama pria itu, dengan nada kecil juga bergetar sampai rasanya ia ingin sekali menitihkan air mata sekarang. Menangis kencang dan mengatakan betapa ia merindukan segala hal yang pernah terjadi diantara mereka.
Maka sebelum hal itu benar akan ia lakukan, Sehun lebih dulu melakukannya, memberinya sebuah ungkapan secara tak langsung jika pria itu sama halnya dengan dirinya. Saling merindukan begitu dalam dan ingin menggila jika mereka tak lekas mengungkapkannya.
Sebuah kecupan kecil dibibir, menjadi ciuman lembut sebagai bentuk rasa rindunya Sehun lakukan semua itu. Sehun bodoh melakukannya dan akan sangat bodoh jika ia tak segera melakukannya.
Ia merindukan Luhan.
Dengan kedua tangannya meraih tangan Luhan yang tadi berada dipinggangnya, ia pindahkan kini melingkar dilehernya agar mereka semakin mendekat. Luhan sendiri lagi-lagi membiarkannya saja kembali menutup matanya rapat kala merasa Sehun semakin menciumnya. Memberinya berkali-kali lumatan halus nan perlahan agar ia merasa nyaman. Dan benar saja Luhan nyaman akan hal itu, ciuman yang memang cukup lama tak ia rasakan dari Sehun.
Ciuman memabukan dari sosok sang mantan kekasihnya. Ia merindukan semuanya jadi jangan salahkan dirinya, jika ia membiarkan Sehun melakukan apa yang pernah pria itu lakukan padanya selama ini. Karena Luhan juga menginginkannya.
..
...
"Sehun..."
"Hm?"
"Kenapa kau melakukannya?"
"Karena aku ingin melakukannya."
Luhan membuka kedua matanya saat mendengar jawaban kurang pasti dari mulut Sehun, saat matanya terbuka bisa ia lihat pria itu masih memandangnya seperti sebelum-sebelumnya tanpa menghentikan satu elusan dipipi kanannya itu.
"Kita sudah berakhir bukan?" pertanyaan itu pada akhirnya membuat Sehun mengalihkan pandangannya kearah lain, bahkan elusan itu pun telah terhentikan begitu saja.
Pria itu menjauhkan dirinya dari Luhan, mengambil langkah mundur beberapa kali. Tatapan berbeda terjadi disepasang manik tajam itu, tatapan yang sulit diartikan menurut Luhan. Hal itu menjadi banyak pertanyaan tercipta dikepala Luhan. Bagaimana bisa Sehun melakukan semua ini padanya? Setelah apa yang terjadi pada mereka sebelumnya, kenapa? Apa pria ini ingin kembali mempermainkan dirinya lagi?
"Sehun..."
"Aku tidak tau."
"Aku, tidak mengerti ini Sehun..."
"Kau pikir kau saja? Aku bahkan jauh lebih tak mengerti mengapa aku melakukannya?" Luhan menghembuskan nafasnya berat setelah sebelumnya ia tahan akibat balasan yang Sehun berikan padanya.
"Seharus ini tidak terjadi" melirihkan suaranya sebelum berbalik membelakangi pria pucat itu, jika boleh jujur Luhan ingin sekali menangis saja saat ini. Hatinya kembali terasa perih sekali.
Masih dalam suasana yang sungguh tak mengenakan-bagi Luhan, keduanya tampak tak ingin bersuara lagi sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Sehun hanya bisa menatapi teduh punggung rapuh Luhan didepan sana. Ingin berkata lagi tapi mulutnya seakan enggan untuk digerakan, jadi ia memilih diam saja menunggu Luhan yang mungkin akan bersuara lebih dulu.
"Aku sudah ingin melupakanmu, tapi kenapa kau melakukan ini padaku?"
"Yasudah jangan melupakan diriku!"
"Apa?" Luhan terkejut dan berbalik langsung tubuhnya kembali kearah Sehun.
"Jangan melupakan diriku, tetap-lah terus ingat padaku!" bergeleng tak setuju dengan apa yang Sehun ucapkan. Jadi benar pria itu akan mempermainkan dirinya lagi?
"Aku tak mengerti Sehun-"
"Tak perlu mengertikannya! Karena kau tak akan pernah bisa jauh dariku..."
Luhan benar tak mengerti sekarang dengan segala ucapan Sehun, pria itu berkata-kata aneh seakan meminta Luhan untuk tidak jauh darinya. Sebenarnya apa yang pria itu pikirkan? Mengapa ia berkata semua ini padanya? Ia tak mengerti maksud pria ini sungguh dengan situasi rumit seperti ini. Jika saja ia bisa membaca pikiran orang lain maka Luhan ingin sekali membaca apa sebenarnya yang ada dipikiran Sehun. Sampai pria itu berkata aneh padanya.
Ia mendesah pendek sekilas membawa tatapannya kesamping tepat dimana hujan telah berhenti. Ketika mereka larut akan pembicaraan mereka tadi, sampai tak sadari akan hentinya hujan yang entah sejak kapan terjadi. Lantas Luhan berpikir mungkin ia lekas pulang saja saat ini.
"Aku tidak tau apa lagi yang akan kau lakukan, setelah berakhir aku pikir kita tak perlu bersama dan bertemu dengan jarak dekat seperti ini. Aku lelah Sehun, tidak perduli dengan segala rencana yang ada dikepalamu itu" sekali lagi mendesah Luhan membawa untuk terakhir kalinya tatapan penuh lukanya pada pria disana.
"Sudah cukup aku melepas rinduku dan sekarang kita akan benar-benar berpisah menurutku, kau dan aku tidak ada lagi Sehun-shi jadi kumohon jangan seperti ini lagi, aku ingin benar ini berakhir..." maka dari itu walau menyakitkan, walau terasa ini terpaksa ia lakukan Luhan akan tetap pergi.
Pergi berbalik dan mulai melangkah menjauh dari beradanya Sehun disana. Pria tercintanya yang hanya akan bisa ia cintai dalam kepedihannya tanpa ingin kembali jika pun Sehun memintanya. Ia tetap akan menjauh darinya tanpa berbalik sedikit pun. Karena ia telah lelah hatinya tak ingin lagi terluka untuk kedua kalinya, dan dengan orang yang sama.
Sehun membiarkannya Luhan pergi semakin jauh dari, meninggalkannya sendiri disana dengan segala penyesalannya. Ia menunduk dalam diam satu tangannya ia bawa untuk menutupi setengah wajahnya. Menekannya dengan begitu kuat tanpa perduli jika itu terasa sakit, ia pun berucap lirih.
"Mianhae nae sarang..."
...
..
Luhan memeluk tubuhnya erat dibalik gulungan selimutnya, sejak tadi ia hanya bisa seperti itu didalam kamarnya. Tanpa berniat melakukan hal lainnya untuk sekedar berpindah posisi pun ia rasanya enggan. Sampai ketika malam tiba dan kini hujan kembali terjadi jauh lebih deras dari sebelumnya. Luhan pun tak begitu memperdulikannya ia hanya tetap ingin berada dikamarnya saja hingga terlelap dengan sendirinya mungkin?
walau perutnya mulai terasa meronta untuk minta diisi, tapi ia tak memperdulikannya biarkan saja malam ini ia tak makan lagi, lagi pula hanya ada mie ramen lagi yang ia milik. Bukan karena ia tak ingin memakannya karena merasa bosan atau apa, tapi karena ia memang tak berselera untuk makan. Dan kembali hanya ingin menetap pada tempatnya saat ini.
Berpikir pun ia merasa lelah, bingung dengan apa yang harus ia pikirkan? Ia sudah merasa dirinya tampak bodoh saja sekarang. Dengan segala kondisi dirinya saat ini dan menyedihkan. Ia pun berbalik pada posisinya kesamping meringkuk bagaikan bayi ditempat tidurnya. Kedua maniknya menatapi kosong pada benda padat pipih berwarna putih didekatnya itu. Tergeletak begitu saja disana tanpa ingin ia sentuh.
'Aku harap kau tidak lagi menjualnya!'
Kata itu seketika mengingatkannya setiap kali ia melihat benda tersebut, maka hatinya jadi bergemuruh cepat seakan ingin meledak jika dibiarkan begitu saja. Luhan tau Sehun yang melakukannya, tapi mengapa ia memberikan ponsel itu? Bahkan dengan segala perkataan pria itu padanya tadi?
Mengapa?
Mengapa pria itu seperti ini padanya? Disaat-saat ia akan melupakan semua yang pernah mereka lakukan bersama, melupakan segala rasa cintanya terhadap pria itu? Mengapa? Luhan merasa benar dipermainkan olehnya bahkan dari perasaannya sendiri, hingga membuatnya merasa menderita sendiri. Ini jelas menyakitkan untuknya dan ia bodoh, lemah karena tak bisa menanganinya sendiri.
Ia meringis pelan membawa kedua tangannya untuk meremas dadanya yang mulai terasa sesak, air matanya pun yang entah sejak kapan sudah meluncur bebas dikedua pipinya. Menangis tanpa isakan dan dalam diam, lebih terasa perih dibandingkan dengan ia yang menangis dengan isakannya. Tapi ia merasa lelah untuk sekedar mengeluarkan suaranya dan terisak.
Mengingat semua hanya membuatnya merasa jadi sebuah boneka bodoh yang akan selalu dipermainkan oleh siapa pun juga. Dan pada malam itu Luhan benar terlelap usai dengan tangisannya seorang diri dikesunyian malam yang hujan.
.
Sehun pun dikamarnya melakukan hal yang sama, walau berbeda dengan ia lebih duduk bersandar pada pinggiran sofa dikamarnya. Dengan kaki yang dibiarkan lurus dan satunya ia tekukan mata tajamnya menatapi arah jendela kaca besar dikamarnya itu. Dimana pemandangan luar tengah dibasahi oleh hujan deras yang terjadi. Tatapan kosong dengan satu nama yang selalu menghantui otaknya.
Ia merindukan sosok pemilik nama tersebut.
Luhan
Luhan
Sehun mendesah resah sambil meremas rambutnya kuat, seperti dirinya akan gila seketika jika tidak sekali pun memikirkan sosok itu. Dadanya hingga naik-turun berdesir kencang sampai ingin sekali ia membawa kedua kakinya pergi keluar menerobos derasnya hujan, segera berlari menuju alamat rumah sosok itu, menemuinya dan langsung membawa tubuh rapuh itu kedalam bekapan hangatnya.
Mengatakan bahwa ia merindukannya dan mereka kembali bersama seperti sebelumnya. Tapi bisakah itu terjadi lagi? Mereka kembali bersama? Bisakah?
Maka Sehun menggeram tertahan, membawa satu tangannya terkepal kuat dan meninjukannya disandaran sofa itu. Tanpa perduli jika hal itu bisa saja membuat tangannya terasa sakit, tapi ia tak perduli sama sekali akan hal itu. Hatinya bahkan jauh lebih sakit sekarang mengingat ulahnya sendiri-lah yang telah melukai dirinya.
Sehun benci pada dirinya kini, karenanya ia kehilangan sosok itu disisinya.
Ia bodoh, tak berguna dan begitu brengsek!
"Luhan...Luhan...Luhan..."
Bahkan ia sudah tampak gila memanggil nama tersebut tanpa henti, tersenyum bodoh ketika membiarkan mulutnya terus bergerak menyeru nama itu.
Ia gila dikesendiriannya.
"Luhan, aku merindukanmu..."
Ketika gairahnya tak lagi bisa ia hentikan dan menahannya Sehun beranjak bangun dari tempatnya, menyambar kunci mobilnya berlalu keluar dengan cepat dan pergi dengan hanya satu alamatnya ingin ia datangi. Tanpa perduli jika kenyataannya hujan deras masih terjadi diluar sana.
Karena ia hanya ingin melihat dan menemui sang pemilik hati pada akhirnya.
.
.
.
TBC
