"Ahra noona tidak bisa datang.." Yesung mendesah dan meletakkan ponsel setelah memeriksa pesan singkat yang masuk. Kyuhyun tersenyum melihat Yesung kecewa, padahal lelaki itu sudah membuat pasta dan ayam fillet untuk makan siang mereka. "Kenapa?" Yesung duduk di bangku sebrang meja, menghadap Kyuhyun. "Katanya harus revisi skirpsi, dan dikumpul besok." Lagi-lagi Yesung menghela napas, sepertinya kata kecewa tidak cukup menggambarkan suasana hatinya. "Santai saja.. Lagian masih ada aku." Yesung menatap Kyuhyun yang tersenyum lebar, sejurus kemudian ia ikut tersenyum. "Ya.. Kau ada." Ucapnya setengah tertawa.
Kyuhyun menggulung spageti dengan garpu, tidak mempedulikan Yesung yang memandangnya was-was, menunggu komentar apa yang akan diberikan pria itu padanya. "Aku menyesal.." Perasaan Kyuhyun mendadak tidak enak mendengar Yesung mengatakan itu. "Seharusnya kala itu aku menuruti kata hati." Kyuhyun berhenti makan dan meletakkan garpu di sisi piring. "Seharusnya aku tidak menyangkal perasaanku bahwa aku memang menyukaimu. Jika aku tahu jadinya akan seperti ini…"
"Sudahlah Yesung. Tidak ada gunanya kata 'seandainya' 'seharusnya' atau apapun itu. Masalalu tetaplah masalalu, jadikan itu sebagai pelajaran." Nafsu makan Kyuhyun menurun sepenuhnya, tadinya ia berniat menghabiskan ayam tanpa tulang di atas piring, namun tiba-tiba topik pembicaraan yang –sepertinya- sengaja dipilih Yesung membuat ia malas, badmood juga. "Aku hanya ingin membagi kegundahan hatiku denganmu." Yesung menatap tepat ke mata Kyuhyun berusaha membuat Kyuhyun mengerti akan perasaan dan mau mendengarkan dirinya. "Tapi aku benci membahas masalalu." Balas Kyuhyun kesal. Yesung terdiam.
Nampaknya Kyuhyun sudah muak. Semarah apapun Kyuhyun pada Yesung. Kyuhyun lebih memilih memendamnya. Tapi sekarang sepertinya ia benar-benar kesal hingga intonasi suaranya meninggi.
Suasana kembali hening. Kyuhyun tak lagi menyentuh makanannya sementara Yesung duduk mematung dengan kedua kaki dinaikkan ke atas kursi. Mendadak mereka berdua merasa canggung. Terdengar helaan napas hingga kemudian Kyuhyun berdiri. "Mau nonton film?" Tawarnya sambil menatap Yesung. Tanpa membalas pandangan Kyuhyun, Yesung bertanya. "Film apa?"
"Kau sukanya apa?" Kali ini Yesung berdiri. "Apapun yang penting jangan kanibal." Keadaan membaik dengan cepat, Kyuhyun menghampiri Yesung dan merangkul pundaknya, mengajak Yesung menuju ruang tengah. "Tunggu… aku punya camilan dan bir… kau duluan saja ke kamar." Dahi Yesung berkerut. "Hei… Jangan berpikiran macam-macam. Di kamar ada infocus," Kyuhyun mengacak rambut Yesung sebelum berjalan menghampiri kulkas.
Yesung mendelik, ia masuk duluan ke kamar, menunggu Kyuhyun di atas ranjang sambil mengamati isi ruangan. Banyak yang berubah, meja kerja Kyuhyun sudah tak ada, bedcover beserta ranjang juga diganti, maupun letak semua barang-barang.
Kyuhyun masuk membawa beberapa kaleng bir dan snack, menutup pintu kembali lalu menghampiri Yesung. "Kenapa dimatikan?" Tanya Yesung heran saat Kyuhyun mematikan lampu, menutup gorden beserta jendela. "Tidak seru nonton film kalau terang." Yesung hanya tersenyum.
Selesai mengatur letak infocus dan menghubungkan ke laptopnya, Kyuhyun mencari film apa yang akan mereka tonton. "Horor bagaimana?"
"Thriller lebih baik." Tantang Yesung, Kyuhyun tertawa lalu mengklik salah satu video. Segera Kyuhyun menyusul Yesung tiduran di ranjang. Tepat di depan mereka adalah tembok kosong berwarna hijau muda hampir putih, di sana mulai menampakkan oppening dari film thriller Korea. "Film apa ini?" Tanya Yesung penasaran. "Lihat saja, nanti juga tahu." Kyuhyun membuka satu kaleng bir dan menyerahkannya pada Yesung.
Yesung maupun Kyuhyun fokus pada film.
XXX
"Perlu aku panggil psikolog?" Tawar Donghae melihat Siwon hanya melamun melihat layar laptopnya, padahal layar itu sudah lama blank. "Untuk?" Donghae menghela napas kemudian menggeleng. Ia rasa Siwon memang tidak membutuhkan manusia semacam psikolog agar bisa membantu meringankan masalahnya. "Kau pikir apa yang dilakukan Yesung bersama lelaki itu?" Sebenarnya Donghae tak ingin menjawab, karena ia tidak memiliki jawaban yang bagus di kepala, hanya saja ia juga tidak ingin mengecewakan Siwon. "Hanya… makan siang?" Balasnya ragu.
Siwon ingin mempercayai ucapan Donghae. Yah, mereka hanya makan siang. Hanya saja sebagian besar hatinya mengatakan tak mungkin hanya itu. Sudah dua hari Yesung pergi ke rumah Kyuhyun saat dirinya ke kantor. Tidak mungkin, kan mereka hanya makan siang? Barangkali Yesung pergi ke taman bermain dengan Kyuhyun. Atau hal sederhana saja yang bisa dilakukan di rumah, memasak bersama misalnya?
Ah! Memikirkan itu membuat Siwon merasa semakin stres. "Menurutmu, apa yang lebih baik? Pertahankan atau lepaskan?" Tanpa menatap Donghae, Siwon bertanya.
Lagi-lagi Donghae bimbang mau menjawab apa. "Lepaskan jika sudah tidak tahan. Pertahankan jika ingin sakit yang lebih dalam." Siwon berreaksi. Donghae benar, ia memang sakit mempertahankan Yesung. Mempertahankan apa yang tidak ingin ditahan, sesuatu yang seharusnya sudah ia lepaskan sejak dulu. "Aku masih mencintainya." Donghae menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
"Bicara pada Yesung. Tanyakan apa yang sebenarnya Yesung inginkan agar dia bisa berlaku baik padamu, sikapmu yang bagaimana agar dia bisa luluh." Siwon menggeleng. "Dia pasti berkata 'ceraikan aku' atau apalah itu."
"Kau masih mencintainya bahkan saat dia melakukan hal seperti ini padamu? Sadarlah Choi Siwon! Berapa banyak manusia di luaran sana yang tulus mencintaimu! Kau seakan dihadapkan pada pintu tertutup, kau hanya meratapi pintu itu dan mengabaikan pintu-pintu di belakangmu yang padahal terbuka!" Siwon tahu Donghae muak. "Hanya Yesung yang aku cintai." Ucapnya lemah, tidak mau membuat Donghae ikut kalut dengan permasalahannya.
"Apa Yesung mencintaimu?" Suara Donghae membentak, Siwon terdiam. "Jika dia mencintaimu tak akan dia melakukan ini. Keluar rumah tanpa ijin, dan melakukan hal menyebalkan lainnya!" Siwon tidak berniat membalas perkataan Donghae. Pura-pura ia sibuk pada laptop. "Hukum Yesung, beri dia pelajaran. Aku tak mau mendengar kata tega dari mulutmu. Kau pikir apa Yesung kasihan padamu hah? Tidak, kan? Balas dia Choi Siwon! Buat dia sadar!" Donghae memukul meja sebelum keluar ruangan. Siwon memejamkan matanya. Mendengar dadanya bergemuruh hebat.
XXX
Film berdurasi dua jam itu menjadi semakin 'panas' saat sang tokoh utama berhubungan intim dengan seseorang sebelum akhirnya adegan berdarah kembali dimulai.
Yesung meremas kaleng bir dan melemparnya ke tong sampah kecil samping ranjang. Jantungnya berdetak tidak karuan. Bukan karena film terlalu menakutkan, maupun adegan yang barusan mereka tonton, melainkan sesuatu yang berada di selangkangannya. Tangan Kyuhyun berada di sana, itu membuat Yesung merasa panas dan tidak konsen dengan film.
Memang film ini bergenre thriller-erotis, banyak adegan-adegan dewasa di dalamnya. Dan sepertinya Kyuhyun terangsang ketika melihatnya. "Kyu…" Panggil Yesung merasa tangan Kyuhyun merangkak membuka restleting celananya.
"Apa filmnya masih lama?" Tanya Yesung berniat basa-basi. "Sebentar lagi." Kyuhyun tidak bohong, sepuluh menit kemudian film habis dengan klimaks kepala si tokoh antagonis di penggal. Yesung tidak sungguh-sungguh menikmati dua puluh menit terakhir film gara-gara Kyuhyun. Lama kelamaan ia semakin risih dengan tangan di daerah pribadi miliknya. "Aku sedang tidak ingin, Kyu." Yesung bangkit dari ranjang, merapikan tempat tidur dan membuang sampah pada tempatnya. Mengabaikan Kyuhyun yang sepertinya kecewa.
"Yesung…" Panggilnya membuat Yesung menatap Kyuhyun. "Tidak, hanya ingin memanggilmu." Kyuhyun tersenyum sambil menyamankan posisi rebahannya, tidak lama kemudian Yesung ikut tiduran di samping Kyuhyun, sama-sama menatap pada langit-langit kamar. "Apa kau percaya pada kata 'selamanya'?" Kyuhyun memiringkan tubuh menghadap Yesung. "Tidak. Bagaimanapun kematian itu pasti. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Tidak ada kata selamanya. Suatu saat dunia juga pasti berakhir, kan?" Yesung merasakan lengan Kyuhyun di perutnya, menarik dirinya mendekat. "Kau membuatku takut." Bisiknya parau.
"Aku sangat takut kehilanganmu. Jika bisa aku ingin kita abadi." Ucapan Kyuhyun dibalas tawa kecil oleh Yesung. "Ternyata kau juga punya sisi kekanakan, ya?" Yesung mengusap-usap tangan Kyuhyun di perutnya. "Aku tidak bercanda, Yesung." Komentar Kyuhyun merasa tidak terima. "Aku takut, saat akhirnya tiba, saat dimana salah satu dari kita meninggal." Pelukan Kyuhyun mengerat. "Berjanjilah. Kalau saat itu terjadi, entah itu aku atau kau yang meninggal duluan, yang tetap hidup tidak boleh menangis." Tantang Yesung. Kyuhyun terdiam.
XXX
Siwon duduk di ruang tengah menunggu kepulangan Yesung.
Jam antik di ruangan itu berdenting nyaring saat jarum panjangnya menunjuk ke angka sembilan tepat. Siwon menghela napas dan meneguk kopinya sekali lagi. Seketika matanya tertuju ke pintu saat seseorang membukanya. Yesung berdiri di sana dengan mata sedikit melebar. Terdapat kepanikan pada parasnya.
"Aku ingin bicara." Perasaan Yesung tidak karuan, hampir beberapa bulan terakhir ia tak pernah mendengar suara Siwon sebegitu seriusnya, raut wajah lelaki itu juga sangat tidak biasa menambah kegugupan Yesung. Walau takut tapi akhirnya Yesung duduk di sebelah Siwon. "Kenapa tiba-tiba?" Tanya Yesung berusaha mencairkan suasana. "Darimana kau?" Siwon menatap Yesung serius. "Rumah Kyuhyun." Yesung menjawab tanpa ragu dan rasa takut. "Kau anggap aku apa selama ini, Yesung?" Yang ditanya tak dapat menjawab.
Mereka bertatapan dalam hitungan detik. "Tidak mungkin kau menganggap aku suamimu, sikapmu padaku saja sangat… keterlaluan…" Siwon memelankan suaranya saat diakhir kata. "Maaf jika aku menyakitimu. Hanya saja, aku sudah tidak mencintaimu Siwon." Aku Yesung jujur, Siwon dibuat semakin sakit hati dan ia tak sanggap mengatakan apapun lagi. Tatapannya pada Yesung menggambarkan segalanya, tanpa katapun seharusnya Yesung mengerti.
"Lalu apa maksudmu mau menerima lamaranku kala itu?" Yesung tersenyum miring. "Aku sudah menolak, kau ingat?! Tapi kau terus-terusan memaksa, Siwon! Karena kasihan ya aku mau saja."
"Jadi selama ini kau hanya mengasihaniku?" Yesung tidak menggeleng maupun mengangguk. "Saat Kyuhyun sudah sadar kau jadi berani menginjak-injakku. Kenapa tidak aku buat mati saja lelaki itu?!" Siwon berdiri, meninggalkan Yesung menuju kamar. Sementara Yesung hanya diam tak bersuara.
XXX
Pagi kembali menjelang.
Tanda datangnya pagi adalah adanya matahari. Namun matahari tak nampak di langit. Awan hitam bergulung disapu angin, sepertinya akan ada hujan deras.
Yesung membuka mata dan menemukan dirinya tidur di ranjang bersama Siwon. Ia lupa kenapa bisa ia berakhir di sini, seingatnya tadi malam ia ketiduran di ruang tengah. Yesung mengusap kedua matanya yang masih terasa berat, kemudian menatap Siwon. Wajah lelaki itu tepat berada beberapa senti di depannya.
Jujur saja semakin hari perasaannya pada Siwon semakin datar. Ini jelas bukan kehendaknya. Jika bisapun ia ingin mencintai Siwon, hidup bersama lelaki baik ini sampai penghujung hidupnya. Hanya saja tidak bisa. Ia mencintai Kyuhyun entah karena apa. Padahal mereka berdua sama-sama baik dan rela berkorban demi dirinya. Mungkin ada sesuatu spesial dan berbeda dari Kyuhyun hingga hati Yesung memilih lelaki itu.
Yesung berbalik memunggungi Siwon. Tidak lama kemudian Yesung merasa Siwon memeluknya. "Permainan brengsek ini tidak akan berakhir jika tidak ada yang mau mengalah." Suara Siwon terdengar serak, sebelum melanjutkan kalimatnya ia berdehem. "Entah itu Kyuhyun yang rela melepasmu, atau aku yang membiarkanmu bersama Kyuhyun, dan mungkin kau yang diam di sisiku dan melupakan lelaki itu?" Siwon tertawa kecil.
"Setelah aku pikir-pikir. Kau lebih bahagia bersama Kyuhyun, ya?" Yesung tetap diam. "Dengan berat hati aku mengatakan terima kasih dan selamat tinggal." Matanya melotot lebar. Yesung bangun dan menatap Siwon. Lelaki itu juga memandang dirinya. "Kenapa? Tidak mau?" Siwon mengacak-acak rambutnya sendiri sebelum duduk. "Pergilah, aku memang tidak pantas bersamamu." Siwon meraih tangan kiri Yesung dan melepaskan cincin di salah satu jarinya. "Melihatmu tertawa bahagia dan bukan dusta jauh lebih indah daripada memaksamu tetap bersamaku, kesannya aku egois."
Tanpa kata Yesung memeluk Siwon, rasa haru membuatnya bungkam. "Tidak akan ada kesedihan jika kau rela untuk melepaskan." Bisik Yesung. Siwon mengusap punggung Yesung sambil tersenyum. "Ya… kau benar… aku akan belajar mengurus diriku sendiri…" Yesung melepaskan pelukannya, kembali untuk pertama kalinya Yesung tersenyum tulus untuk Siwon. "Terima kasih." Ucapnya sebelum keluar kamar. Siwon hanya menunduk, mustahil sebenarnya ia rela melepas Yesung. Hatinya sepenuhnya tidak siap. Hanya saja ia rasa ini yang terbaik.
Lebih baik segera berhenti daripada semakin sakit dikemudian hari.
Ya. Ia akan belajar hidup tanpa bayangan Yesung. Belajar melupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan seseorang yang masih berada di hatinya.
XXX
Beberapa bulan kemudian Yesung dan Kyuhyun resmi menikah. Menyewa sebuah gedung untuk mengundang teman-teman, keluarga, dan siapapun yang mereka kehendaki. Senyuman bahagia terpancar dari keduanya. Sorak-sorai dari para tamu undangan menambah suka cita dari kedua mempelai.
Yesung mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Mencari sosok Siwon yang sudah lama tak ia lihat. Namun nyatanya lelaki itu tidak hadir. Hanya Donghae yang menjadi perwakilan. Selesai upacara pernikahan Yesung menghampiri Donghae yang kebetulan sedang duduk bersama Seohyun di depan gedung pernikahan mereka. "Hm… Hae…" Panggil Yesung ragu.
Seohyun pertama kali menoleh, ia tersenyum melihat Yesung masih mengenakan tuksedo putih dengan dasi kupu-kupu merah. "Yesung? ada apa?" Tanya Donghae yang baru menyadari kehadiran Yesung.
Yesung duduk di sebelah Donghae. "Siwon… kemana dia?" Walau ragu tapi akhirnya Yesung tetap menanyakan pertanyaan yang sedaritadi memenuhi kepalanya. "Siwon tidak memberitahumu?" Raut sedih tak dapat Donghae sembunyikan, Seohyun juga tiba-tiba terlihat muram. "Ada apa?! Memberitahu apa?" Panik Yesung. "Mungkin Siwon tidak ingin membuatmu khawatir. Aku kira dia mengatakannya padamu," Yesung semakin penasaran, firasatnya mengatakan ini bukan berita baik.
"Kau ingat saat Siwon menunggumu pulang dari rumah Kyuhyun?" Pikiran Yesung berlarian ke kejadian itu…
FLASHBACK
Donghae tidak karuan mengerjakan pekerjaannya, ia rasa salah sudah membentak Siwon. Ia hanya kesal kenapa Siwon sebegitu tidak bisanya keras pada Yesung. Donghae berdiri, memilih masuk kembali ke ruangan Siwon dan menemukan lelaki itu tertidur di kursinya.
Donghae mendekat. "Siwon…" Panggilnya. Merasa Siwon tidak berreaksi Donghae memberanikan diri menepuk-nepuk pipi Siwon. Tapi lelaki itu tidak juga bangun. "Choi Siwon!" Seru Donghae panik. "Siwon!" Panggilnya sekali lagi dan Siwon masih tidak bergerak. Otaknya langsung terpikir untuk memanggil ambulan, baru menghubungi keluarga Siwon.
XXX
"Apa Choi Siwon pernah kecelakaan sebelumnya?" Ibu Siwon mengangguk membenarkan, perempuan paruh baya itu mencium sesuatu yang tak mengenakkan. "Salah satu saraf di sumsum tulang belakang Siwon-ssi terjepit, karena dibiarkan terlalu lama keadaannya memburuk, menyebabkan komplikasi pada jantung." Donghae terdiam sambil merangkul pundak Ibu Siwon, berusaha menenangkan. "Oleh karena itu, jatung Siwon-ssi tidak berfungsi memompa darah dengan baik."
"Ada pembuluh yang pecah hingga katup jantung Siwon-ssi tidak bisa bekerja. Jika dalam waktu satu hari Siwon-ssi tidak memiliki pendonor jantung yang cocok, nyawanya tidak dapat tertolong." Lutut Donghae melemas. Apa itu artinya ia akan kehilangan Siwon?!
FLASHBACK OFF
"Dia berkata bahwa ada yang ingin dia bicarakan denganmu, kan?" Yesung mengangguk lemah. Ia sama sekali tidak sadar bahwa saat itu Siwon tidak baik-baik saja. "Sebenarnya Siwon sendiri tidak tahu bagaimana kondisi dirinya sebenarnya. Ibu Siwon hanya mengatakan kalau Siwon harus banyak istirahat karena jantung Siwon sedang tidak sehat.
Tapi sepertinya Siwon sudah punya firasat, jadi dia melepaskanmu. Tepat beberapa jam setelah kau pergi, dia meninggal." Rasa bersalah seketika menggerogoti diri Yesung. Ia tak tahu harus berbuat apa. Penyesalan tak akan berguna. Siwon sudah pergi untuk selama-lamanya, dan bodohnya ia selalu memberikan kenangan buruk disisa hidup Siwon. "Jangan beritahukan ini pada Kyuhyun. Jangan menyesal terlalu dalam. Siwon sudah tenang di alam sana. Jadi aku harap kau juga jangan mengingatnya lagi." Donghae berdiri, menggandeng tangan Seohyun kemudian pergi.
Yesung mengusap wajahnya. "Maaf." Gumamnya sambil menatap langit.
TO BE CONTINUE
Kok saya ngerasa chap ini aneh yah… agak gak ngeh gitu '-' tapi ya sudahlah… yang penting cepet tamat … sepertinya chap depan ending deh…
Oh iya, bagi yang penasaran film apa yang di tonton KyuSung.. itu adalah I Saw the Devil… saya recommend film ini buat di tonton ,-, filmya tahun 2010 sih, saya juga sebenarnya udah lama nonton…
