Makasih banyak buat yg udah mau baca, review, dan alert yaa~ I LOVE U ALL~ *glomps*

Balesannya monggo dibaca lewat pm ye *wink*

Oh iye, sebelumnya maaf banget yaa~ kalo updetannya lama banget, sebenernya ini udah selesai 3 minggu-an yang lalu, cuma baru saya publish sekarang, sekalian buat selebrasi UNAS udah selesaai deeh! Beban saya berkurang satu deh *sigh*

Oh ya, buat Kagamine0410

Karep saya sih, dia itu bukan ibu kos yang sebenernya, mangkanya dipakein tanda kutip dari awal, selain biar gak ketebak seh, haha! tapi endingnya malah ada yang salah paham yah, gomen ne~ mungkin saya aja yg kurang bisa nyampeinnya ;_;

Oh yea~ Bacotan selesai! Let the story begin~


Aka-chan to Boku!

Chapter 2

By : Fantasiasma

Disclaimer: Katekyo Hitman Reborn! © Amano Akira | Baby and Me © Prime Entertainment

Warning: Super OOC, Alternate Universe, melenceng jauh dari EYD, udah di cek, tapi mungkin masih ada typo nyempil, kemungkinan ngaco, aneh, gaje, garing. Berasa mual? Segera klik tombol back sebelum telat!

Enjoy~


.

.

.

Sekarang Giotto sudah duduk berhadap-hadapan dengan Alaude di ruang tamu. Alaude memang hampir sebaya dengannya, walaupun dia lebih tua beberapa tahun sih. Tapi.. GLEK.. Giotto tetap saja merasa terintimidasi.

Selagi mereka enak-enak duduk berhadap-hadapan, tiba-tiba, hawa-hawa tidak enak menyerbu mereka.

"Nufufufufu~" munculah sesosok manusia yang lebih mirip siluman semangka dari arah kamar mandi. Dia membuka pintu kamar mandi dengan dramatis, diiringi aroma semerbak yang harus membuat Alaude dan Giotto nutupin idung.

"BAU AMAT! HABIS NGAPAIN SIH?" jerit Giotto sambil keluar dari ruangan mangap-mangap cari oksigen.

"Nufufufufu~ Masak gak tahu sih, Giotto ini~" jawab Daemon sambil kedip-kedip mata sebelah.

"WTF!"

Alaude gak pake banyak cingcong langsung menggapai sebotol pengarum ruangan dan menyemprotkannya ke segala arah, termasuk ke Daemon, dari ujung atas sampe bawah, tanpa terkecuali.

CROOOSSSH

"Nufufu~ Apa maksudmu Alaude?"

"Kau bau."

Mereka bertengkar hebat kemudian, Giotto cuma ngeliatin mereka sambil makan popcorn, menikmati tontonan bagaikan di bioskop. Dia tidak berniat memisah sama sekali, karena kalau kurang beruntung, dia juga bisa kena bogem mentah yang sekarang saling mereka lemparkan.

"Cih, berisik sekali kalian ini!"

Dua orang keluar dari kamar mereka dan melihat apa yang terjadi. Ruang tamu sekarang lebih mirip bekas terjangan tsunami daripada ruang tamu. Yang satu langsung facepalm, dan yang satunya lagi cuma ketawa-ketawa. Entah apa yang membuatnya tertawa melihat situasi yang kacau ini.

"Asari? G? Kalian masih melek?" tanya Giotto

"Iya, kita habis tanding," jawab G dengan muka sedatar triplek.

"Tanding?"

"Monopoli."

KRIK

Emang gak ada yang lebih kerenan dikit, gitu?

"EXTREMEEEE! Bertengkar itu dosaaa!" teriak seseorang dari arah dapur. Tak lama dia ikut hadir di TKP.

"Percuma, Knuckle, mereka itu udah gak kenal yang namanya dosa," kata Giotto sweatdrop.

Mereka tak sadar kalau mereka sudah melupakan sesuatu...

Sesutu yang...

"HUEEEEEEEEEE!"

Semua mata tertuju padanya.

Ke-pedo-an Daemon langsung kumat dan akhirnya dia pingsan di tengah-tengah kubangan nosebleed-nya sendiri. Semua, minus Alaude, pada mangap. Ternyata mereka baru nyadar.

"ANAK SIAPA ITUUU!" teriak mereka berbarengan dan kompak, walaupun tanpa dikomando.

"Itu tuh, Giotto yang bawa," jawab Alaude masa bodo sambil nyeruput kopi, eh? SEJAK KAPAN ADA KOPI DISITU?

"UAAAPHAAA!"

"Giotto, ternyata.. kamu...kamu...kamu..."

"EXTREMEEEE! Zina itu dosa!"

Giotto pingin rasanya nyumpel mulut mereka pakai kaos kaki satu-satu, tapi berhubung dia cuma pakai dua, jadi dia membatalkan niatnya.

"DENGERIN DULU DOOOONG!" Giotto teriak frustasi.


.

.

.

"Ooooh jadi begitu tooh."

Asari, G, dan Knuckle lagi-lagi koor. Mereka akhirnya tahu kisah yang sebenarnya dari mulut Giotto sendiri. Alaude masih melanjutkan ngopinya dan Daemon masih dibiarkan tergeletak tak berdaya dalam kubangan nosebleednya sendiri, gak ada yang nolongin.

"Eh Daemon gimana tuh?" tanya Asari tiba-tiba, khawatir.

"Biarin aja, nanti juga sadar-sadar ndiri," jawab G ketus.

"Oh, ya udah." Asari mengiyakan saja dengan polosnya.

Tapi mereka semua mengiyakan kata-kata G tadi, persetan dengan Daemon, yang prioritas sekarang bukan Daemon tapi...

"Jadi enaknya gimana nih?" tanya Giotto yang sudah suram dari tadi, dan udah masang muka hidup-segan-mati-tak-mau. Dengan jiwa keibu—kebapakannya dia sibuk mendiamkan Tsuna biar berhenti mewek.

Asari kemudian membaca pesan peninggalan dari bonyok Tsuna.

"Kita rawat aja dia, kan itu pesan dari orang tua Tsuna!" usul Asari dengan beg—polosnya.

"BENER BANGET! ANAK ITU AMANAAH!" sahut Knuckle yang gak disangka-sangka idem sama ide Asari dengan alasan yang gak masuk akal.

"OGAAAH! Kalo mau ya silahkan aja gue gak ikut-ikut!" G langsung nyolot

"Cih. Berisik, kenapa gak telepon polisi aja. Gitu aja kok repot," kata Alaude.

Sejurus kemudian Alaude membuka laci penyimpanan yang ada di dekat situ. Ada Koleksi Yellow Pages di sana, dari yang zaman jebot dulu, sampai yang terbaru ada semua, Alaude ngambil yang paling atas dan melemparnya.

"ADOOOOOHHH!" jerit G yang kurang beruntung karena Yellow Pages-nya nyium jidatnya.

"Pake tuh, aku mau tidur," katanya sambil ngeloyor pergi dan masuk ke kamarnya, gak tahan berkumpul dengan orang-orang bego.

Tak lama setelah itu, akhirnya mereka menemukan nomor telepon Kantor Kepolisian terdekat dan G-lah yang secara sukarela menelponkan pakai Hpnya, bukan karena banyak pulsanya, tapi kebetulan aja ada bonusannya.

"Tut tat tit tut tat tit tut tut" G menekan tombol dengan lincahnya pake tangan satu, tangan yang satunya lagi buat nggosok-nggosok jidatnya yang habis kena ciuman panas Yellow Pages.

.

.

.

#SKIP-TIME#

"WUAAAAPHAAA!"

Cuma itu yang Giotto bisa katakan setelah mendengar apa yang dikatakan G.

"Iya Giotto, mereka kan bukan Panti Asuhan, apalagi Babysitter, jadinya mereka nyuruh kita rawat dia dulu sampe pelakunya ketemu."

"Bentar-bentar, aku masih meresapi," kata Knuckle yang not responding.

"Hah? Meres sapi?" kata G ngaco.

Hening sejenak.

"Tuuh kaan, aku bilang juga apa, ya kan Knuckle!" kata Asari kegirangan.

"YA TUUUH!" Knuckle kemudian ber-highfive ria sama Asari.

"Semangat banget seeh! Lu aja kalo gitu yang ngerawat dia!" G ngamuk-ngamuk dan mengirimkan deathglare terbaiknya ke arah mereka.

"Nufufufu~"

Si Daemon ternyata mulai siuman, dia bangkit berdiri walau sedikit terhuyung-huyung karena kehabisan darah (?)

"Kalau kalian gak mau, aku bersedia kok, nufufufufufu," katanya tiba-tiba.

"GAAAAAK! Pedofil kayak lu gak boleh ngerawat bayi!"

"Nufufu, kau bilang apa G?"

Baku hantam dan saling lempar bogem hampir terjadi kalau saja...

"Apaan nih, bau gosong?" kata Giotto tiba-tiba.

Beberapa detik kemudian..

"UGYAAA! TELOOR CEPLOOKKUUU!" teriak Kunckle memekakkan telinga dan kemudian dia ngibrit balik ke dapur. Rupanya dia lupa kalau sebelum kedatangan Giotto tadi dia lagi ada di dapur, menggoreng telor. Tapi semua sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur, telor sudah menjadi gosong. Knuckle cuma bisa meratapi telor gosongnya, dan bikin lagi yang baru.


.

.

.

Keesokan harinya

Mereka mulai bagi-bagi tugas.

Asari dan Knuckle ditugasi pergi ke supermarket 24 jam terdekat buat membeli segala macem keperluan bayi. Uangnya? Tentunya mereka pake uang Giotto. Giotto-lah yang paling bisa diandalkan kalau udah urusan sama yang namanya uang, maklum saja, orang tuanya tergolong berkecukupan. Apalagi mengetahui kalau teman-temannya cukup kere, dia akhirnya merelakan dompetnya untuk dibawa si Asari dan Knuckle.

06.00 a.m

Giotto melihat jam yang tergantung di ruangan itu. Dia menguap lebar-lebar, masih ngantuk, maklumlah setelah kejadian yang melelahkan kemarin.

"G, enaknya ngapain ya?" tanyanya sambil melihat Tsuna yang juga udah bangun, dan sekarang lagi merangkak gaje kesana kemari.

"Ngegame yuk," kata G sambil mengeluarkan kotak, yang isinya seperangkat PS beserta joystick dan temen-temennya tiba-tiba, entah dari mana.

"OGAAAAH!"

Giotto sweatdrop dan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan laporan praktikumnya yang belum selesai dia kerjakan. Laptopnya yang berwarna orange ngejreng dia keluarkan dari tasnya yang tergeletak di situ.

"UUUGH, SILAAU MEEN!" kata G lebe.

Giotto tidak menghiraukan temennya itu dan menyalakan laptopnya. Dengan cekatan dia membuka MS. Word dan melanjutkan kerjaannya.

Kemudian setelah itu sunyi. Cuma terdengar suara keyboard dan suara membahana dari game nista yang dimainkan G sajalah yang memenuhi ruangan itu.


.

.

.

Giotto merenggangkan otot-ototnya, sudah 30 menit dia berkutat dengan tugasnya itu, dan sudah 30 menit juga G masih berkutat dengan PSnya.

"SIAAAAL! KURANG AJAAAR!" teriak G sambil memencet-mencet tombol joystick dengan brutal. Semua tombol dipencet, analog-nya juga di puter-puter dengan kekuatan dahsyat. Giotto melihat layar TV. Tiba-tiba ada tulisan 'YOU LOSE' gede dan disertai suara yang tidak kalah heboh.

"ASEEEM!" teriak G lagi, kali ini dengan membanting joysticknya. Giotto cuma sweatdrop dan melihat timbunan joystick yang jadi korban tak jauh dari G.

Tsuna tiba-tiba merangkak ke arahnya, Giotto tersenyum sambil melihatnya juga. Tsuna sudah sampai di dekatnya dan entah mengapa, dia melihat ke arah laptopnya dengan penuh rasa penasaran, mungkin ini pertama kalinya dia liat barang seperti ini, batin Giotto tersenyum.

"Nyaaa!"

Tiba-tiba Tsuna mencet tombol biru gede yang ada di pojokan kanan atas.

Logging off...

Saving your setting...

Windows is shutting down...

"Eh?" hanya itu respon Giotto. Begitu dia sadar apa yang udah terjadi, dia langsung nemplok ke G.

"G! TUGAAS GUEEEE, BELUM DI SAVEE!" kata Giotto yang udah mewek gak karu-karuan. Maklum aja, tugasnya itu dikumpulin hari ini dan tadi itu dia udah selesai, cuma tinggal direvisi doang.

"Kan ada document recovery," kata G sweatdrop.

Hening.

G tanpa banyak bacot langsung menyalakan laptop Giotto lagi dan membuka document recovery yang kemudian nongol di pinggir kanan MS. Word setelah dibuka.

"Ooooh," Giotto—yang ternyata gaptek—ber-oh-ria. Dia kemudian cengar-cengir sambil berpose 'peace' biar G gak ngamuk.

Alaude tiba-tiba nongol dari kamarnya dengan muka yang sangat tidak enak. Pintu kamarnya yang bertuliskan 'MASUK, BACOK!' itu pun terbuka. Aura membunuhnya tiba-tiba menguar hebat dan sebuah clurit sudah bersiap di tangan kanan.

"Berisik!"

"UWAAAAAA!"

Dan sekarang mereka bergelimpangan dengan nista. Masing-masing dapet hadiah satu bogem mentah dari Alaude. Lha terus ngapain dia bawa clurit? Mungkin dia habis belah buah kelapa di dalem kamar (?)

"BANG5AT!" G teriak emosi, dan berniat membalas pukulan si Alaude. Tapi sayangnya Alaude keburu ngacir ke kamarnya.

BLAAAM!

Pintu kamar Alaude ketutup lagi.


.

.

.

"Nufufufu~" Daemon muncul dari kamarnya tiba-tiba dan menghampiri duo yang lagi nangkring di atas sofa ruang tamu.

"Ngapain lu kesini?" tanya G—tapi dengan nada kayak malak orang—.

"Ada masalah, G?" jawab Daemon tanpa melihat si penanya, karena saat ini tatapannya hanya tertuju ke arah Tsuna saja, dia mendekati Tsuna dan kemudian mengendongnya.

"Nufufufu~"

"Jangan pegang-pegang dia! Dasar semangka pedo!"

"Kau bilang sesuatu G?"

Giotto cuma melihat saja karena dia merasa ada sesuatu yang salah di sini.

Giotto melihat Tsuna, dan kemudian menyadari sesuatu.

Apa itu? Ekspresi yang sering dia lihat pada Daemon?

BOKER FACE (1)!

Tapi semua sudah terlambat, karena Tsuna keburu boker di gendongan Daemon. Daemon terlalu syok, sampai dia menjatuhkan Tsuna yang ada di gendongannya itu. Tsuna yang habis dijatuhkan dari ketinggian beberapa senti itu langsung mewek.

"HUEEEEEEEE!"

"HAHAHA, MAKAAAN TUH DAEMON! MAKAAAAN!" G malah ngakak, dan menyebarkan bau mulutnya yang tidak sedap karena dari tadi dia belum gosok gigi. Giotto nutup idung sambil ngebekep si G.

"Mhmhmhm!"

Giotto melepaskan bekepannya karena dia juga gak mau tangannya jadi bau jigong. Daemon langsung ngibrit ke kamar mandi.

BLAAM

"AKU KOTOOR, AKU KOTOOR!"

Terdengar suara nista Daemon—yang mirip cewek yang habis diperkaos di sinetron dalam negeri—membahana dari dalam kamar mandi. Giotto dan G cuma sweatdrop mendengarnya.

"ALAY LU!" teriak G.


07.00 a.m

Lagi-lagi Giotto melihat jam yang tergantung di ruang itu. Dia memencet CTRL+S berulang-ulang setelah kejadian tadi, gak mau trauma untuk kedua kalinya. Dia melihat kamar mandi, udah kosong. Daemon yang menghuninya tadi udah keluar beberapa menit yang lalu. Giotto melirik ke arah Tsuna. Oh shit. Dia lupa. Bekas bokernya belom di beresin.

"G, bantuin beresin doong," kata Giotto

"OGAH!" jawab G singkat, padat dan jelas, tapi bagi Giotto jawabannya jleeb dan sesuatu banget #apaseh

Giotto sudah pasang muka melas, tapi tetep aja gak ngefek, karena frustasi, akhirnya dia mengendong Tsuna yang bau itu ke kamar mandi.

.

.

.

.

And this is the start of hellish day~

TBC


(1) : Terinspirasi sama sebuah video plesetan poker face yg ada di youtube, Why so cacat xD

G : AUTHOOOORR! Kita jadi nista banget CUIH!

Author : *ngumpet di dalem lemari*

Giotto : Kurang asem! Dia udah ngehancurin imej kite! Manaaa? Mana Authoooor!

Daemon: Nufufufufu~ bener banget, kita harus bikin perhitungan *nyiapin boneka voodoo*

Giotto : *Hyper Instuition activated* AUTHOR KETEMUU! *buka lemari dengan paksa*

Author : UGYAAAA!

Asari : Hahaha~ :D

Author: Gimana pendapat kalian? Ada typo? Ada bagian yang aneh? Ada yang gaje? Apapun itu kritik, masukan, dan saran akan sangat berarti, so mind to leave some review? Oh dan ya, ada setengah bagian yang gak tau napa kok jadi italic seenak udel, padahal di doc managernya gak apa-apa lo, tapi kok begitu di preview jadi italic ._. ada yang bisa kasi solusi? tapi kalo pas kalian baca udah gak apa-apa ya syukur deeh *teparlagi*