Who will u choose?

Cast : Naruto Sasuke Itachi Sakura

Pair : Sasunaru Itanaru Sasusaku

Genre : History Romance Drama

Warning : Mpreg, boys love, yaoi

Disclaimer : karakter milik masashi kishimoto cerita milik saya

Terima kasih buat yg sudah voting. Saya memutuskan buat menjadikan no.2. Maaf kalau ada yg kecewa. Warning ada lime! Khusus chapter ini. Karena ini lemon pertama saya, jadi harap maklum kalau tidak hot dan gak asem.

Don't like don't read

Bagi penggemar sakura atau ss silahkan klik tombol back karena akan dinistakan disini

Enjoy~

Chapter 3

Malam di kerajaan Uchiha semakin larut. Namun pesta yang diadakan untuk perayaan pernikahan Itachi dan Naruto tetap semarak dan semakin meriah. Kembang api diledakkan di langit yang berhiaskan sinar bulan. Memantulkan warna-warna yang berpendar dan menyinari langit. Itachi dan Naruto yang tengah berjalan-jalan di sekitar pavilium mereka sambil bergandengan tangan memandang ke atas. Wajah Naruto yang terkena sinar bulan sekaligus kembang api terlihat sangat indah. Itachi tak henti-hentinya memandang wajah Naruto dari samping.

Cupp

Wajah Naruto memerah menyadari pipi kanannya baru saja dicium oleh suaminya. "Kau benar-benar indah Naru. Aku sungguh beruntung memiliki dirimu di sisiku. Tetaplah bersamaku selamanya" Itachi memeluk tubuh Naruto yang begitu pas di dekapannya. Naru memeluk bahu Itachi dan berbisik "Aku juga ingin kau disisiku selamanya, Yang Mulia"

Ledakkan kembang api di atas mereka menemani pengharapan dan janji dua insan yang saling mencintai itu. Janji yang ingin mereka tepati, walau takdir menghendaki lainnya.

.

.

.

Warning Itanaru lemon!

Itachi membaringkan Naruto di atas futon. Bibir keduanya saling bertautan, begitu pula dengan lidah mereka. Mata Naruto menjadi sayu dan wajahnya memerah. Itachi menciumnya dengan begitu mesra dan hmm bergairah? Keduanya terengah-engah begitu tautan bibir mereka terlepas, membentuk benang saliva di keduanya. Saliva yang entah milik siapa menetes dari bibir merah Naruto dan membasahi dagu dan turun kelehernya. Itachi menyembunyikan wajahnya di leher kiri Naruto dan menciumnya. Nafas Itachi sangat terasa di leher Naruto.

"Ahhh" Naruto mengerang begitu Itachi membuat kissmark di leher tan nya. Salah satu titik sensitifnya diketahui oleh Itachi. Itachi terus membuat tanda di leher Naruto, baik di kanan maupun kiri. Naruto hanya bisa meremas rambut Itachi, melampiaskan gairahnya.

Itachi mulai melepas ikatan di baju Naruto dan membuangnya di sudut kamar. Tersingkaplah tubuh Naruto yang mulai dibasahi keringat. Dada yang mengkilat karena keringat dan paha yang mulus itu. Kimono yang dipakainya tampak kusut karena Naruto banyak bergerak. Tangan Itachi bergerak menyusuri leher hingga dada Naruto. Tangannya berhenti di nipple Naruto yang mulai mengeras. Disentuhnya nipple kiri Naruto dengan tangan kirinya. Dan tangan kanannya meraba perut Naruto. Mulutnya mencium nipple kanan Naruto dengan gemas.

"Ahh yang muliaa nghh" Naruto tidak tahan dengan godaan dan sentuhan Itachi di titik sensitif kedua nya.

"Sebut namaku, Naru" Itachi meraup nipple kanan Naruto dengan mulutnya yang basah dan tangan tangan kirinya memelintir dan mencubit nipple satunya. Tangan kanannya sibuk mengelus paha dalam Naruto.

"Hhhh ahhh Itachi-sama.. be..berhentii men-ngghh goda..ku"

Itachi melepas kulumannya di nipple kanan Naruto dan ganti mengulum nipple satunya. Naruto kembali memekik dan mendesah menerima belaian Itachi. Tangan kanan Itachi melepas celana dalam Naruto sedangkan tangan kirinya membelai pinggang Naruto naik dan turun.

Begitu terlepas, tampaklah penis Naruto yang sudah berdiri tegak. "Hmm kau sudah bangun rupanya Naru" Itachi melepas kimono nya dan hanya tersisa celana dalamnya. Wajah Naruto kian memerah melihat otot Itachi dan perut suaminya yang six pack itu.

Itachi lalu menunduk dan membuka lebar paha Naruto. Naruto yang malu berusaha menutup kedua pahanya. "Jangan ditutupi Naru. Milikmu begitu indah. Aku benar-benar menyukainya" Itachi meraba penis Naruto dan menggengamnya. Tangannya naik turun memijat milik Naruto yang bertambah keras.

"Ngghhh ahhh Itachi-sama ... uhhh" Naruto meremas rambut Itachi yang tenggelam di antara kedua paha nya. Wajahnya mendongak ke atas menahan rasa nikmat saat mulut Itachi memanjakan penisnya. Matanya terpejam dan saliva nya kembali menetes. Suara Itachi yang menghisap miliknya menjadi irama di kamar itu. Suara kecipak dan kuluman keduanya menambah suasana panas di kamar yang hanya disinari lilin itu.

Itachi terus menghisap dan menggengam penis Naruto. Kepalanya naik turun dan lidah nya sesekali terjulur menjilat milik Ratu nya itu. Itachi mendongak ingin melihat ekspresi Naruto tanpa melepas kulumannya. Keduanya bertatapan dan mendapat tatapan lembut sekaligus menggoda milik suaminya membuat Naruto tidak tahan lagi dan mengeluarkan sperma nya di dalam mulut Itachi.

"Mmmhhpphh kcpkk" Itachi menelan semua sperma Naruto dan langsung mencium Naruto. Naruto turut merasakan benih nya yang baru kali pertama dia rasakan. 'Rasanya aneh' pikir Naruto.

Itachi melepas ciuman nya dan menempelkan kedua dahi mereka. "Naruto, sukidesu"

"Sukidayo Itachi-sama hhhh" Naruto terengah-engah dan memeluk Itachi. Menyembunyikan wajahnya di dada Itachi. Itachi sempat terkejut, namun dia tersenyum. Dia mengelus rambut kuning Naruto lembut. Melihat Naruto yang kelelahan dia berusaha mengalah. Biarkan kali ini dia menahan gejolaknya. Dia tidak ingin menyetubuhi istrinya yang kelelahan. Karena dia tidak ingin melakukannya atas dasar nafsu saja. Tapi cinta dan kelembutan. Dibaringkannya Naruto yang memejamkan matanya dan Itachi menyelimuti tubuhnya dan Naruto dengan selimut berbahan sutra yang tebal dan hangat.

"Yang mulia? Kenapa berhenti?" tanya Naruto malu-malu dan bingung.

"Tidak apa-apa. Kau tidur saja Naru. Kau tampak lelah" Itachi mencium dahi Naruto dan memeluk dari samping tubuh Naruto.

Naruto bergumam maaf dan memejamkan matanya. Dia merasa gagal menjadi pasangan hidup Itachi yang tidak bisa memuaskan suaminya. Tak lama kemudian keduanya jatuh ke alam mimpi...

End lemon Itanaru

Di malam yang sama dengan malam pertama Itanaru, Sakura, Danzo dan sekutu mereka berdiskusi tentang pemberontakan mereka.

"Bagaimana dengan jawaban kerajaan Tang? Mereka setuju?" tanya Danzou pada bawahannya.

"Li Yuan setuju untuk membantu kita, tuan Danzou. Tiga minggu lagi mereka akan sampai disini" jawab bawahannya itu. Danzou terkekeh senang. Rencananya untuk menguasai kerajaan Uchiha akan terjadi sebentar lagi. Dia sudah muak dengan keturunan Uchiha yang memandang lemah dirinya dan menjunjung tinggi peraturan istana. Dia juga ingin merasakan kekuasaan dengan menjadi seorang raja. Rencana yang sudah dia susun bertahun-tahun akhirnya akan menjadi kenyataan. Dia sungguh beruntung keponakannya yaitu Sakura mau membantu nya.

Sakura dilahirkan dari orangtua yang miskin. Sedari kecil dia tidak pernah mendapat kasih sayang dan sering dipukul jika tidak mendapat uang. Dia membenci orangtuanya terlebih ibu nya. Karena itu dia ingin membalaskan semua kemarahannya kepada keluarga Uchiha yang sedari lahir sudah merasakan hidup sejahtera dan makmur. Dia menerima uluran pamannya Danzo dan bersedia membantu pamannya melakukan pemberontakan. Dia tidak sabar untuk menjadi seorang ratu, meskipun Naruto sudah dipilih menjadi seorang ratu, tapi selalu ada jalan menuju roma bukan?

Kelompok pemberontak itu tidak sabar untuk menjalankan rencana mereka menggulingkan kerajaan Uchiha. Ya, akan selalu ada badai di hari yang cerah, bukan?

.

.

.

Pagi menyapa penghuni istana. Burung-burung berkicauan merdu saling bersahutan menimbulkan simphony yang indah. Sinar matahari menyinari salah satu pamviliun tepatnya kamar Raja dan Ratu Uchiha. Tubuh keduanya masih tidak berbalut apapun selain selimut. Naruto, sang ratu yang pertama kali membuka mata. Menampakan warna biru langit tanpa awan yang sangat cerah dan menawan.

Naruto memandang Itachi yang masih terpejam. Disentuhnya wajah tampan Itachi sambil tersenyum. Meskipun dia tidak jatuh cinta karena wajah Itachi, namun dia tidak memungkiri kalau dia berdebar-debar tatkala melihat wajah suaminya.

"Sudah puas memandangi wajahku, Naru? Ah tidak, ratuku yang cantik?" Itachi membuka matanya dan terkekeh melihat wajah panik Naruto.

"Ah, yang mulia maaf kalau aku membangunkanmu"

"Tidak apa. Sudah waktunya bangun bukan? Ah aku lupa mengucapkan sesuatu" Itachi bangun dan duduk di atas futon mereka.

"Apa itu?"

"Ohayou, ratuku" Itachi tersenyum lembut dan menyingkirkan poni Naruto serta mengecup dahinya.

"Ohayou, Yang Mulia" Naruto tersenyum dan Itachi berdiri menuju kamar mandi. Naruto hendak memakai kimononya sebelum kepala Itachi melongok dari kamar mandi.

"Mau mandi bersama, Naruto?"

Itachi langsung menutup pintu kamar mandi untuk menghindari lemparan bantal dari istri tercintanya.

"Yang mulia mesum!"

.

.

.

Kakashi melaporkan kegiatan hari itu pada Itachi. Mulai dari rapat dengan menteri kesehatan, makan siang dengan bangsawan Inggris dan mengunjungi kerajaan Suna selama tujuh hari. Mendengar kunjungan ke Suna selama tujuh hari, Itachi menghela nafas. Padahal dia baru saja menikah dengan Naruto dan masih ingin bermesraan dengan istrinya itu. Dan dia harus meninggalkan istrinya selama seminggu.

Kakashi yang mendengar helaan nafas Rajanya, hanya tersenyum dibalik masker nya. Dia menyadari pengantin baru memang masih mesra-mesranya. Ah, dia teringat dengan Iruka pasangannya sekarang. Dia merindukan guru pengajar anak bangsawan istana itu.

"Baiklah kakashi. Sekarang beritahu menteri kesehatan untuk ke ruang rapat sekarang" Itachi merapikan dokumen-dokumen untuk rapat nanti.

"Baik yang mulia"

.

.

.

Juugo menatap heran tuan sekaligus pangeran itu. Sedari tadi dia hanya terdiam memandangi pohon sakura yang belum mekar itu. 'Mungkin dia teringat dengan wanita berambut merah muda itu' pikirnya

Bak memiliki indra keenam, wanita yang dibicarakan Juugo itu terlihat. Wanita yang tak lain adalah Sakura mendekat Sasuke dan membungkuk hormat.

Sasuke bersemangat kembali tatkala melihat Sakura dibalik wajahnya yang masih datar itu. Sakura tersenyum dan mengucapkan salam.

"Selamat siang Yang Mulia. Bolehkan hamba duduk di sini?"

"Hn, silahkan nona...?"

"Sakura. Haruno sakura yang mulia. Terima kasih atas kebaikan anda" sakura duduk di sebelah Sasuke dan Juugo yang berdiri di belakang agak menjauh dari keduanya untuk memberikan privasi.

Keduanya bercakap-cakap walau Sakura saja yang banyak berbicara. Sasuke hanya sesekali menanggapi, walau begitu dia merasa senang bisa mengenal wanita ini lebih jauh. Dia mulai bisa melupakan masalah Naruto yang dia rasa tidak pantas bagi kakaknya.

"Kalau yang mulia berkenan, hamba mengundang Yang Mulia untuk minum teh di kediaman hamba di bagian selatan istana ini. Paviliun hamba di paviliun penasehat Danzo" ujar Sakura. Dia menunduk, menyembunyikan seringainya. Langkah awal untuk menjalankan rencananya.

"Hn, baiklah. Aku akan datang malam ini. Oh dan apa hubunganmu dengan Danzo?"

"Hamba keponakannya, pangeran. Terima kasih sudah berkenan mengunjungi kediaman hamba yang rendah ini"

"Tidak masalah-" ucapan Sasuke terhenti tatkala melihat Naruto yang lewat di depan mereka bersama Kiba.

Wajah Sasuke berubah menjadi benci. Dia menggertakan giginya. Perubahan wajah itu tidak luput dari pandangan Sakura. Dia menyeringai kecil. Sepertinya rencana nya akan berjalan mulus. Tidak perlu dengan kekuatan yang berlebihan.

.

.

.

Itachi dan Naruto tengah berdiri di depan gerbang istana. Kakashi ikut menyertai Itachi.

"Haruskah Yang mulia pergi? Aku ingin bersamamu.." lirih Naruto. Entah firasatnya tidak enak kali ini. Seolah akan terjadi masalah yang besar jika suaminya pergi.

"Naru, aku harus pergi mengunjungi kerajaan Suna. Ini demi hubungan kerjasama kerajaan Uchiha dan Suna. Kau mengerti?" jelas Itachi lembut. Dia mengusap rambut Naruto penuh kasih, berusaha menyampaikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Baiklah, kalau itu untuk kebaikan kerajaan kita. Tapi aku ingin oleh-oleh dari negeri Suna, ya? ya?" Naruto mendongak menatap Itachi seraya memegang jubah milik Itachi. Jurus puppy eyes nya tidak akan bisa ditolak oleh siapapun.

"Hahaaa baik-baik aku akan memberikan mu oleh-oleh naru ku sayang" Itachi mencubit gemas hidung naruto. Naruto merengut sesaat namun kembali tersenyum ceria. Biarlah firasat buruknya tadi hanya angin lalu.

Itachi mencium lembut sekilas bibir Naruto dan naik ke atas kudanya. "Tunggu aku seminggu lagi Naruto. Aku akan kembali. Jaga dirimu baik-baik karena kau adalah seorang ratu Uchiha. Aku akan selalu bersamamu" Itachi tersenyum dan menatap sebentar Naruto dan memacukan kudanya diikuti oleh Kakashi dan beberapa prajurit istana.

"Yang mulia, kuharap semua akan baik-baik saja.." Naruto menatap kepergian Itachi dan berdoa agar suaminya selamat.

"Yang mulia ratu, sudah waktunya makan siang. Mari ke paviliun Anda" Kiba menunduk hormat pada Naruto dan Naruto tersenyum kecil. Dilihatnya sekali lagi siluet Itachi dan masuk kembali ke istana.

.

.

.

Naruto memakan makan siangnya dengan pelan. Mendadak dia tidak berselera makan. Walaupun ikan yang dimasak oleh dayang-dayang itu terlihat enak, namun Naruto tetap tidak berselera.

"Ratu, apa makanannya tidak enak? Perlu hamba ganti?" tanya Kiba khawatir. Naruto menggeleng pelan. "Tidak usah kiba. Aku hanya sedang tidak berselera makan. Aku mau tidur sampai malam saja" Naruto menaruh sumpitnya dan berdiri menuju lemari pakaiannya untuk mengganti nya dengan pakaian tidur berwarna putih. Kiba berkata 'Baik Yang mulia' dan menyuruh dayang-dayang membereskan meja dan makanan itu. Tinggalah Naruto sendiri yang berbaring menatap langit-langit kamar.

"Itachi-sama, aku rindu padamu" Naruto memejamkan matanya dan jatuh tertidur.

.

.

.

Malamnya Sasuke mendatangi paviliun Danzo dan disambut oleh Sakura yang mengenakan kimono terbaiknya. Kimnono berwarna merah darah dengan corak bunga warna kuning. Rambutnya disanggul rapi. Sepintas terlihat cantik bagi Sasuke.

"Selamat datang di paviliun ini pangeran. Hamba berterima kasih Anda sudah bersedia datang ke tempat kecil ini" Sakura menunduk hormat, menyembunyikan kedua tangannya di balik lengan bajunya. Sasuke mengangguk kecil dan bergumam sambil melihat-lihat sekitar. Juugo tidak ikut kali ini karena Sasuke melarangnya. Katanya ini adalah privasinya. Juugo hanya menurut saja. Toh juga tuannya itu masih di wilayah istana.

"Silahkan duduk pangeran. Hamba tuangkan teh untuk Anda" Sakura menuangkan teh ke atas cangkir buatan China dengan anggun. Sasuke meneguk teh itu perlahan. Tidak menyadari jika teh itu terdapat obat racikan tabib yang bersekutu dengannya. Obat perangsang.

'Sebentar lagi kau akan menjadi milikku, pangeran Sasuke. Hahahaa' batin Sakura. Senyum palsu menghiasi wajahnya.

"Apa anda mau minum sake, pangeran?" Tanya Sakura memperlihatkan botol sake berwarna putih tulang itu.

"Hn baiklah" 'Sekali-sekali tidak apa aku minum sake' batin Sasuke. Cawan sakenya diisi penuh oleh Sakura. Sasuke meneguknya sekali tegukan. Sudah 4 cawan dihabiskannya sake itu. Wajah Sasuke memerah. Entah kenapa tubuhnya terasa panas. Padahal dia bukan orang yang mudah mabuk karena sedikit sake. Sakura menyeringai dalam hati. Obatnya sudah bekerja. Ruangan tempat mereka minum dipisahkan oleh pintu geser yang adalah kamar Sakura.

"Hamba permisi dulu, pangeran" Sakura berdiri dan mundur teratur menuju kamarnya. Dia harus bersiap berpenampilan seksi agar Sasuke tertarik padanya dan bercinta padanya. Dia mengganti pakaiannya dengan yukata yang lebih tipis dan mudah dilepas. Rambutnya dia gerai dan Sakura menatap penampilan dirinya di cermin. Malam ini dia milik Sasuke sepenuhnya...

"Pangeran, hamba kembali" Sakura membuka pintu geser itu dan tersenyum menggoda. Namun senyumnya langsung pudar begitu melihat Sasuke tidak ada di tempatnya. Wajahnya langsung panik dan mencari Sasuke ke luar di sekitar paviliunnya.

Lalu kemana perginya Sasuke?

Setelah kepergian Sakura, Sasuke berusaha berdiri dengan berpegangan pada pinggir meja. Tubuhnya terasa panas dan kepalanya terasa pusing. Sasuke pergi dari ruangan itu dan berjalan keluar.

Di taman paviliun itu dia melihat siluet Naruto yang masih menggunakan pakaian tidur duduk di depan kamarnya. Paviliun Danzo dan paviliun ratu memang hanya berjarak 100 meter. Jadi Sasuke masih bisa melihatnya. Naruto dengan pakaian tidurnya yang tipis dan pahanya yang sedikit tersingkap menambah gejolak Sasuke. Persetan dengan siapa Naruto atau gender yang sama, dia harus melampiaskan hasratnya. Sasuke berjalan cepat dengan terengah-engah. Sesekali tubuhnya oleng karena kepalanya yang sakit namun dia tetap berjalan menuju Naruto.

Naruto yang sedang memandang langit, mengalihkan padangannya ke sumber suara. Suara langkah orang yang menabrak benda-benda sekelilingya. Sorot sinar bulan menyinari orang itu yang tak lain adalah Sasuke.

"Pangeran? Sedang apa Anda kesini?" Naruto berdiri dan berjalan mengahmpiri Sasuke. Tidak tahu jika dia akan menjadi pelampiasan hasrat Sasuke. Meskipun dia masih sedikit takut dengan Sasuke, dia harus menghormati pangeran kerajaan ini bukan?

"Namikaze Naruto.. kau.." Sasuke mencengkeram pergelangan tangan kanan Naruto erat. Naruto meringis mendapat perlakuan Sasuke.

"Pangeran.. lepas..sakit" Naruto berusaha memberontak namun cengkeraman Sasuke semakin erat. Pergelangan Naruto memerah.

"Ikut aku!" Sasuke menarik Naruto ke kamar Naruto dan melemparnya ke atas futon. Naruto mengaduh sakit dilempar begitu saja.

"Pangeran! Mana rasa hormatmu pada Ratu?!" Naruto berusaha menggertak Sasuke. Meskipun tubuhnya bergetar ketakutan. Naruto melihat kabut nafsu di mata Sasuke. Tubuhnya semakin bergetar.

"Heh? Ratu? Meskipun kau sudah menjadi istri aniki ku, kau tidak pantas menjadi seorang ratu Uchiha!" Sasuke melepas kimononya dan mengikat tangan Naruto dengan tali kimononya (yang di perut. Namanya apa ya? Klo ada yg tahu please kasi tau saya) ke kaki lemari pakaian Naruto.

Naruto berusaha melepaskan ikatan itu namun selain ikatan yang kuat, dia juga tidak bisa menggeser lemari dari kayu aras itu. Sasuke menyeringai melihat Naruto tidak bisa bergerak. Kaki Naruto menendang ke segala arah menjadikan paha dan kakinya terkespos. Nafsu Sasuke bertambah besar melihat betapa mulusnya kaki Naruto. Sasuke menjilat bibirnya. "Kau sungguh menarik, apa kau menjual tubuhmu untuk mencari makan huh?"

Naruto menggeram marah. "Aku tidak pernah menjual tubuhku, brengsek! Lepaskan aku!"

"Hoo jadi kau berani memanggil pangeran sepertiku dengan sebutan brengsek? Pelacur?" Sasuke menindih tubuh Naruto. "Harusnya kau bangga seorang pangeran merasakan tubuhmu. Banyak wanita diluar sana yang begitu mendambakan tubuhku ini"

"Dalam mimpimu, cuih!" Naruto meludah ke wajah Sasuke. Mata Sasuke yang semula bernafsu, sekarang diliputi amarah. "Berani sekali kau meludahiku! Rasakan ini!" Sasuke memukul wajah Naruto dan merobek baju tidur Naruto. Sasuke langsung membuat kissmark di leher Naruto. Naruto berusaha mengelak dari cumbuan Sasuke di lehernya.

"Ahhhh!" Naruto memekik begitu Sasuke menyedot dan menjilati leher yang merupakan titik sensitif Naruto.

"Kau menolak tapi mendesah begitu keras. Kau memang murahan" Sasuke menurunkan wajahnya sejajar dengan nipple Naruto. Sasuke langsung meraup nipple kiri Naruto dan tangannya mencubit dan memutar nipple satunya. Naruto meringis menahan sakit saat gigi Sasuke menggigit nya begitu keras. Nipple Naruto berdarah saking kuatnya gigitan Sasuke.

"Hen..tikan..hhh" Naruto kehabisan tenaga karena terus memberontak. Kakinya dijepit oleh kaki Sasuke sehingga kakinya sulit digerakkan. Setelah puas dengan nipple Naruto, dia membuka celana dalam Naruto dengan tangan kirinya dan tangan kanannya mencengkeram pipi Naruto.

"Ini akibat kau tidak menyadari siapa dirimu. Bersiaplah menanggung rasa sakit ini" Sasuke melepas celana dalamnya dan terlihat kejantanannya yang mengacung tegak, memerah dan mengeluarkan pre cum. Rasanya sesak sekali, dia sudah tidak tahan siksaan tidak bisa mengeluarkan hasratnya.

Mata Naruto membulat. Dia semakin memberontak dan kakinya menendang-nendang ke segala arah. Sasuke kesal karena Naruto terus memberontak diangkatnya pinggul Naruto dan meletakkan kedua kaki Naruto ke pundak nya. Memperlihatkan lubang Naruto yang memerah dan berkedut. Sasuke menggeram tak sabar merasakan penisnya merasuki lubang Naruto yang menggiurkan itu. Tanpa aba-aba dan pemanasan Sasuke langsung memasukkan penisnya ke lubang Naruto.

"ARRGGHH!" Naruto berteriak kesakita. Air matanya mengalir begitu saja. Tubuhnya terasa dirobek menjadi dua dan lubangnya mengeluarkan darah. Penis Sasuke sangat besar dan Naruto baru pertama kali melakukannya jadi terasa sangat sakit. Itachi bahkan tidak pernah melakukannya sejauh ini.

Begitu masuk, Sasuke langsung menggerakkan kejantannya maju mundur. Tubuh Naruto terntak-hentak. Naruto terus merintihkan kesakitan dan menyuruh Sasuke berhenti namun Sasuke hanya sibuk dengan hasratnya sendiri.

"Sial, lubangmu ketat sekali Naruto.. kau nikmat sekali hhh" Ini pertama kalinya dia melakukan sex dan itu dengan seorang pria sekaligus kakak iparnya dan tak lain adalah seorang ratu. Dia tidak menyangka rasanya nikmat sekali. Entah karena memang Naruto yang nikmat atau memang sex itu nikmat. Sasuke lantas merasakan miliknya berkedut hendak mengeluarkan sprema nya. Naruto juga merasakan miliknya sebentar lagi keluar hanya pasrah dan menyemprotkan miliknya ke dada Sasuke dan perutnya.

"Hahhh hahhh nnhhh ja..jangan..di..da..dalam.." Naruto berusaha mengatakan agar Sasuke tidak mengeluarkannya di dalam namun terlambat Sasuke merasakan lubang Naruto semakin menjepit miliknya dan akhirnya dia mengeluarkan hasratnya di dalam tubuh Naruto.

"Ahhh" Sasuke menggeram nikmat sudah mengeluarkan spermanya. Naruto menangis. Dia baru saja diperkosa oleh Sasuke. Seorang ratu diperkosa oleh pangeran kerajaan. Ratu macam apa dia? Bagaimana kalau Itachi sampai tahu? Wajah Itachi yang kecewa terbayang-bayang di pikirannya. Dia melupakan fakta kalau dia bisa hamil karena sperma Sasuke.

Sasuke mengeluarkan miliknya dan lubang Naruto langsung mengeluarkan darah dan sisa sperma Sasuke yang sangat banyak itu. Sasuke ambruk di samping Naruto dan jatuh tertidur. Mata Naruto kosong dan bercucuran air mata.

'Maafkan aku Yang Mulia Itachi...'

TBC ^^

Terima kasih sudah baca, review, favorite, dan follow ff dan author pemalas ini #bow

Maaf dua minggu baru update. Saya lagi seru baca manga black buttler sih. Sebastian keren banget #kyaaa Ciel juga gemesin *cubit pipi Ciel*

Maaf juga kalau tidak menyebutkan nama satu-satu tapi saya baca setiap review dan pm kok. Arigatou gozaimasu~~~

Review again pls?