Aka-chan to Boku!
A Katekyo Hitman Reborn! Fanfiction
By : Nekomois
Disclaimer:
Katekyo Hitman Reborn! © Amano Akira
Baby and Me © Prime Entertainment
Warnings:
Hints Shounen-ai. AU. Kemungkinan jayus dan abal.
Sebelum mual segera klik tombol back sebelum telat!
Enjoy~
Hari itu cuaca agak gelap. Di tengah langit mendung yang hampir meneteskan rintik-rintik hujannya, dua orang berlari-lari ke arah sebuah rumah bercat coklat muda yang ada di ujung gang. Dua orang lain terlihat duduk selonjoran di atas tikar yang digelar begitu saja di teras rumah itu dengan seorang bayi yang merangkak-rangkak riang di atasnya.
"EKSTRIM! KITA SAMPAI SEBELUM KEHUJANAN!" teriak Knuckle.
"Haha, keren senpai!" puji Asari —yang entah apa maksudnya— dengan beg— tulusnya
G melengos mendengar percakapan absurd itu dan menengok ke arah Giotto yang memincingkan mata ke arah dalam.
"Kenapa tuh Daemon?" tanya Giotto sambil menunjuk makhluk yang tidak sadarkan diri dan tergelepar di dalam ruangan.
"Biasa," jawab G ketus, "udah jangan masuk, jijik banget di dalem. Kita aja sampe ngungsi ke sini." lanjutnya.
Giotto hanya bisa sweatdrop dan bergabung bersama teman-temannya di atas tikar itu.
Sore itu hujan akhirnya turun dan akhirnya memaksa empat sekawan itu masuk ke rumah. Untung Daemon sudah sadar tadi —lebih tepatnya dipaksa sadar oleh bogeman Alaude— lalu dengan terhuyung-huyung mengepel bekas kubangan nosebleed nistanya sehingga ruangan itu suci lagi.
"Gimana G? Udah ada kabar dari polisi?" Giotto duduk dan memijat-mijat kepalanya yang makin nyut-nyutan.
"Yaelah sabar dong, To. Baru aja kemarin lusa kita lapornya," G bersila sambil menyalakan rokok.
"EKSTRIM! MEROKOK MEMBUNUHMU!" jerit Knuckle persis himbauan di bungkus rokok. G menyumpal kupingnya sambil mendengus, "suka suka gue!"
Knuckle hampir saja memulai ceramah ngawurnya saat Tsuna berhasil mendistraksinya. Dia meringis sambil meraih dan menggendong Tsuna yang merangkak-rangkak di dekatnya dan pergi menjauh.
"Ehm... ya lu tau sendiri polisi kita kayak apa," G melanjutkan percakapan yang tadi terputus. "Kasih amplop dulu baru bisa gercep."
"HAAA? DUIT LAGI DUIT LAGI?" Giotto emosi sambil menunjuk-nunjuk dompetnya yang menggenaskan. Dia menjungkirkan dompet laksana selembar tissue itu dan koin-koin tak bersalah jatuh gemerincing di bawah kakinya. Giotto terduduk lagi di atas sofa dan merenungi nasib.
"Apa salahku... Apa salah ibuku..." senandung Giotto pelan.
Di balik otak dan muka kecenya selera musiknya ternyata sangat payah, G membatin.
"Nufufu~" suara tawa yang membuat bulu kuduk berdiri itu tiba-tiba mendekat. G menatap makhluk itu dengan sinis dan dengan sigap menendang salah satu sofa yang menghalangi siluman semangka itu untuk mendekat.
"Apa maksudmu, G?" Daemon memincingkan matanya.
"Batas suci. Jangan dilewatin, Jis." G menjawab ketus.
Pertumpahan darah menyeruak lagi dan Giotto hanya bisa menatap mereka dengan nanar dari kejauhan.
"Apa salahku... Apa salah ibuku..."
Tak terasa malam kemudian tiba. Kos sederhana itu terasa agak sunyi waktu itu karena Alaude pergi ke rumah orang tuanya. Tapi anehnya Daemon juga pergi setelah bilang dia mau kerja kelompok. 'Eh jangan-jangan mereka... Hoi, hoi, udah udah,' Giotto menepis pikiran absurd itu jauh-jauh. 'Yang penting dua pengganggu di rumah ini lenyap sudaaah ngoahaha,' pikirnya gembira.
Dia lanjut mengaduk kopi sambil termenung sejenak, tentang dua hari ini dan semua peristiwa yang menguras kewarasannya itu. Dia tiba-tiba mengandai-andai. Andai saja malam itu dia pulang tepat waktu... Andai saja dia mengabaikan suara tangisan bayi itu... Andai saja dia membiarkan bayi itu. 'Ah lu emang terlalu baik, To.' Batinnya dengan narsisnya malah memuji-muji diri sendiri.
Dia melirik ke ruang tengah, dimana si Knuckle dan Asari lagi asik bermain-main dengan Tsuna. Dia jadi agak lega melihat pemandangan itu. Seenggaknya dia nggak harus repot mengurus sendiri bayi itu karena ada mereka yang agak lebih bisa diandalkan daripada yang lain.
"Ayo tangkap ini, Tsuna... Siap-siap yaaa... Hap!"
Sebuah bola meluncur cepat ke arah Tsuna yang tidak tau apa-apa.
"HUEEEEEEE!"
"LEMPARAN EKSTRIM!"
Oke tarik kembali pernyataan tadi.
Giotto berjalan mendekat dan mendengus sambil menatap iba Tsuna yang mukanya memerah seketika terkena lemparan Asari. "KALIAN APAIN INI ANAK ORANG?" Dia mencak-mencak.
"Tapi kan... Anak-anak biasanya suka diajak main lempar bola..." Asari menunduk, dengan absurdnya terlihat sedih.
Giotto facepalm sekian kalinya. Tsuna merangkak aja masih susah, eh ini mau diajak main lempar bola, bola baseball lagi.
"EKSTRIM! LAKI-LAKI TIDAK BOLEH MENANGIS!" Knuckle berusaha menenangkan bayi itu dengan cara absurdnya. Tapi ya namanya bocah, dan diteriakin dengan volume super ala Knuckle, tangisnya makin pecah.
"G tolongin dong..." Giotto frustasi, mengambil bayi itu dari pangkuan Knuckle dan mengayun-ayunkannya. G tidak menoleh sedikitpun dan lanjut menonton siaran bola kesayangannya. Giotto mengutuk G dengan fasih dalam hati.
Tsuna yang digendong Giotto tiba-tiba berhenti menangis. Dia kemudian tertawa-tawa dan menggapai-gapaikan tangganya ke arah Giotto sambil mangap-mangap.
Giotto terenyuh melihat pemandangan ini, 'lucunya...' batinnya.
"EKSTRIM! GIOTTO SEPERTI IBU SUNGGUHAN!"
"Haha!"
"BAPAK WOY! GUE LAKI TULEEEN!" Giotto menjerit.
.
.
.
Setelah hari melelahkan kemarin, hari ini tepat hari ketiga setelah kedatangan bayi Tsuna ke kos itu. Sesosok pria tinggi berambut hitam cepak bermuka be— tampan terlihat menggendong bayi yang sangat rewel. Mata karamel bulat bayi itu kini terlihat sembab, karena terus terusan menangis. Dia sesekali melirik ke arah pintu masuk kos sambil mengayun-ayun bayi itu.
"Aduh.. Giotto mana ya?" ucapnya, ala ibu-ibu menunggu suaminya pulang.
"Berisik amat," G menutupi kupingnya kesal. Polusi udara Knuckle aja dia nggak tahan apa lagi sekarang ditambah rengekan bayi ini.
"Aduh susunya mana ya..." Asari —yang terdengar makin mirip ibu-ibu— mengobrak-abrik tumpukan belanjaannya tempo hari yang masih belum dibereskan. "Eh kok udah abis sih?" tanyanya dung— polos.
"HAH? BELANJAAN SEGITU BANYAK ISINYA APA?" G mendelik tak percaya sambil menepuk dahinya pelan sementara Asari hanya meringis, "ya udah sana beli lagi." lanjutnya malas.
"Nggak ada duit," kata Asari memelas.
"Yaudah jual ginjal sana," G mulai ngaco.
Sementara itu tangis Tsuna makin keras dan menjadi-jadi.
"Sial, nih duit gue pake aja!" G mengulurkan lembaran duit yang sebenarnya dia simpan untuk rental kaset PS, gampang lah entar dia minta Giotto ganti.
"Thanks, G!" Asari nyengir dan ngibrit keluar mencari abang ojekan yang biasa mangkal di area sana.
Sementara itu di pangkalan ojek, Byakuran kabur dari tempat, setelah merasakan aura-aura bokek Asari, meninggalkan Shoichi yang nggak ngerti apa-apa.
"Bang, ke Vongomaret ya!"
#Sementara itu di Kosan#
Sekarang hanya tinggal Tsuna dan G penghuni ruangan tengah itu. Tsuna masih kekeuh mewek dan G masih berusaha mengabaikan rengekan bocah itu dengan membaca buku-buku kuliahnya. Tsuna tiba-tiba merangkak ke arahnya saat dia menangkap bau-bauan semerbak dan seketika menjauh. G menatap bocah itu dengan sinis. "Udah berisik, bau lagi," ucapnya tanpa perasaan. Dia memperhatikan baju yang dipakai Tsuna dan seketika sweatdrop ketika menyadari bajunya belum ganti sejak dia ditemukan Giotto kemarin. Tiga hari nggak mandi, pantes aja dia rewel, batinnya mencelos.
Berada di antara pria-pria kemproh ini efeknya ternyata sangat buruk bagi kesehatan seorang bayi.
G garuk-garuk, belum mandi sejak tadi pagi gara-gara sabunnya habis.
Setelah puas, dia mengambil ponselnya, menekan beberapa tombol, dan memencet tombol hijau, mumpung ada bonusan.
"Woi... To, cepet pulang." katanya —ala ibu-ibu galak yang menelpon suaminya yang suka ngeluyur sampai malam— setelah sambungannya diangkat .
Giotto di ujung lain yang menerima panggilan itu mulai berkeringat dingin. Nggak biasanya G nelpon. Jangan-jangan Alaude minta bayaran kosnya yg telat seminggu. Sial, abis kekuras duo Asari-Knuckle dia jadi kere nggak kece gini.
"Emangnya kenapa, G?" tanyanya, menelan ludah.
"Anak lu bau, cepet mandiin." jawab yang diujung sana.
Giotto separuh lega separuh sweatdrop.
"Duh G, gue masih ngelembur tugas," katanya memelas.
Giotto sekilas mendengar, "alesan lu!" dan seketika sambungan mati. Dia menatap layar ponselnya dengan muka ngehe.
Sementara itu kembali ke kos dengan G yang mengumpat dengan fasih, dia masuk ke kamar Giotto, merampok persediaan sabun mandinya, dan membawa Tsuna yang tangisannya makin kencang ke kamar mandi.
Malam semakin larut. Giotto yang baru saja pulang menguap lebar saat masuk ke ruang tengah dan menemukan G yang masih asik mempelototi TV dan Tsuna —yang keliatan segar dan lebih ceria— tiduran di tengah karpet. Giotto tersenyum penuh kemenangan sambil melirik ke arah G.
Jam ternyata sudah menunjukkan pukul 12. Giotto yang udah selonjoran di sofa merasakan matanya makin berat sebelum akhirnya dia menyerah pada kantuk. Beberapa saat ia terbangun karena udara menggigil dari pintu yang belum ditutup dan agak mendelik melihat pemandangan di hadapannya.
Tsuna terlihat tertidur pulas di sebelah G yang berbaring miring ke arahnya. Kepalanya beralaskan tangan kanan G yang terjulur. Tsuna terlihat makin menyamankan diri dan menggulung badannya, persis seekor kucing.
Giotto tersenyum kecil melihat mereka berdua, diam-diam mengambil ponselnya, dan menjepret mereka sambil terkekeh kecil.
To Be Continued
G: Sh*t gue nggak nyangka fic ini balik dari kubur *blush*
Giotto: Endingnyaaa eaaak eaaak *toel toel G*
Knuckle: EKSTRIM!
Tsuna: Nya nya nya~
Author notes: HONTO NI GOMENASAI! Maaf udah nelantarin fic ini (lagi). Kesibukan kuliah ternyata emang nggak main-main*ditendang karena curhat* yah.. semoga saya bisa update teratur ya setelah ini, udah nggak kuliah dan cuma ngerjain skrispi sih (cuma? CUMA? CUMA!? orz *jedotin pala ke tembok*)
Pokoknya sekali lagi makasih banget buat semua reviews, alerts, fave, and loves! Semoga humornya masih ngena ya, so mind to leave some reviews, again?
