Who will u choose?
Cast : Naruto Sasuke Itachi Sakura Kyuubi (Monsterhuman)
Pair : Sasunaru Itanaru Sasusaku Itanaru
Genre : History Romance Drama
Warning : Mpreg, boys love, yaoi,alur kecepetan
Disclaimer : karakter milik masashi kishimoto cerita milik saya
Don't like don't read
Bagi penggemar sakura atau ss silahkan klik tombol back karena akan dinistakan disini
Enjoy~
Chapter 5
Semalaman Naruto tidak dapat tidur. Dia terus menerus merasakan firasat buruk tentang Itachi. Naruto berusaha untuk menepis perasaan itu namun tetap terbayang dalam benaknya. Itachi tidak sedang memimpin sebuah perang, jadi kemungkinan dia tidak apa-apa kan? Pikir Naruto.
Tepat saat fajar menyingsing dia segera berpakaian lengkap khas Ratu kerajaan dan berjalan dengan cepat menuju pintu gerbang istana. Diikuti dengan Kiba tentu saja.
"Buka pintu gerbangnya!" perintah Naruto pada penjaga pintu gerbang istana. Kedua penjaga itu mengangguk dan menarik pintu besar itu sekuat tenaga. Naruto menatap ke depan, terus berharap saat pintu itu terbuka lebar, sang Raja akan datang dengan kuda dan senyuman yang sangat dirindukannya itu. Namun setelah pintu itu terbuka tidak ada tanda-tanda kehadiran sang suami.
Naruto terus menunggu hingga matahari tepat di atas kepala. Kiba yang juga berdiri di belakang Naruto merasa lelah. Dia tahu tuannya itu juga lelah sama sepertinya. Apalagi tuannya itu belum makan sejak semalam. Kiba berusaha membujuk Naruto.
"Yang mulia, lebih baik kita menunggu di dalam saja. Mungkin Yang Mulia Raja masih memiliki urusan dengan kerajaan Suna. Jadi kepulangannya terlambat dari yang beliau janjikan"
"Tidak, dia tidak pernah berbohong padaku..aku akan tetap menunggunya. Kau kembali saja Kiba. Aku akan tetap disini" Kiba tidak punya kuasa untuk menghalangi majikannya dan menunduk lantas pergi. Naruto mengeratkan kepalan tangannya. Dirinya terus berharap dalam hati agar para dewa melindungi Pemimpin Kerajaan Uchiha itu.
.
.
.
Namun kenyataannya, hingga sore hari Itachi tidak kunjung datang. Naruto hampir saja jatuh ke belakang jika tidak ada Sasuke yang menahannya.
"Kau bodoh sekali! Seharian kau menunggu aniki ku seperti orang bodoh!" Sasuke memegangi kedua pundak Naruto dari belakang. Naruto hendak menyingkirkan tangan Sasuke menyerah. Tubuhnya tidak bisa diajak kerjasama karena terlalu lelah.
"Aku memang bodoh. Tapi orang bodoh ini mencintai orang yang berjanji padanya untuk menunggunya. Lepaskan aku pangeran. Aku bisa sendiri" Sasuke menggeram marah. Naruto benar-benar keras kepala.
"Kau mau aniki ku melihatmu yang seperti mayat hidup begini? Setidaknya sambutlah dia dengan kondisi yang lebih baik. Makan dan istirahat. Itu yang kau butuhkan" Sasuke memanggil dayang-dayang untuk membawa Naruto ke paviliunnya. Naruto hanya bisa menuruti Sasuke dan dibantu berjalan oleh dayang-dayangnya. Sasuke menatap punggung Naruto yang semakin rapuh. Entah kenapa dia memperhatikan Naruto sejak siang tadi. Dirinya yang tidak sengaja lewat di depan wilayah pintu gerbang istana berhenti dan melihat Naruto yang berdiri tidak bergerak. Awalnya Sasuke ingin menghiraukannya namun akhirnya dia tetap memperhatikan Naruto dari kejauhan.
Padahal Sasuke masih ingat perkataannya pagi itu setelah dia dan Naruto berhubungan. Dia tidak akan berubah menjadi baik pada Naruto.
'Sial, kenapa denganku?'
.
.
.
Mikoto sang ibu suri berjalan dengan cepat menuju paviliun Ratu. Dia yang mendengar jika menantunya itu hampir hatuh pingsan lantas dengan segera menemui Naruto. Naruto yang diberitahu Kiba jika Mikoto datang, lalu berusaha bangun dan duduk di atas futonnya.
"Ibu Suri, ibu tidak usah repot-repot kesini. Aku baik-baik saja" Naruto tersenyum menenangkan Mikoto. Mikoto menggeleng tidak percaya begitu saja pada Naruto. Dia menggenggam kedua tangan Naruto penuh sayang.
"Kau tadi hampir pingsan Naru, ibu sangat khawatir. Apa yang membuatmu seperti ini? Katakan pada ibu" Naruto lantas memeluk Mikoto erat. Air matanya mengalir.
"Ibu, aku mencemaskan Yang Mulia Itachi.. dia belum juga kembali.. aku ..aku sangat khawatir ibu.."
"Ssstt tenanglah Naru. Itachi akan baik-baik saja. Ibu yakin dia akan selamat. Itachi adalah raja Uchiha yang kuat. Dia pasti akan kembali" Naruto mengangguk dan memandang langit berhiaskan bulan purnama dan bintang-bintang yang bersinar dari jendela kamarnya. Berharap sang bulan dan bintang menyampaikan doa dan harapannya pada suaminya dimanapun dia berada.
.
.
.
Setelah semalaman beristirahat dan makan pagi, Naruto merasa sudah sehat. Namun masih belum ada kabar dari kedatangan Itachi. Memikirkan itu Naruto harus melakukan sesuatu. Segera dia berpakaian lengkap dan memakai jubah warna merah bersulam emas dan corak naga. Dengan lambang kerajaan Uchiha di belakang punggung. Naruto berjalan keluar diikuti Kiba menuju aula istana.
"Kumpulkan semua perdana menteri dan penasehat istana serta panglima perang. Aku akan mengadakan rapat di aula istana" ujar Naruto pada Kiba. "Baik, Yang mulia" Kiba undur diri dan segera memberitahu para anggota rapat yang lainnya. Naruto mengeratkan kepalan tangan di kedua sisi tubuhnya. Dirinya sebagai seorang ratu harus berguna dan mencari Itachi dimana dia berada.
Setengah jam kemudian para menteri, penasehat istana, panglima perang dan pejabat lainnya telah berkumpul di aula istana. Mereka duduk di atas bantal duduk dengan berhadap-hadapan dan Sasuke yang ikut pula duduk di ujung dekat dengan Naruto. Naruto sendiri duduk di atas bantal duduk namun di tempat yang lebih tinggi sehingga dia bisa melihat mereka semua.
Setelah terkumpul semua, Naruto memulai rapat itu.
"Aku mengumpulkan kalian disini untuk membahas Yang Mulia Raja yang sampai sekarang belum sampai juga ke istana. Senjuu, apa kau sudah menanyakan kerajaan Suna tentang ini?"
"Sudah, Yang Mulia Ratu, mereka bilang bahwa Yang Mulia Raja sudah pulang darisana 4hari yang lalu. Seharusnya Yang Mulia Raja sampai kesini kemarin" jawab Tobirama sang menteri hubungan antar kerajaan.
Naruto terdiam sebentar. Pasti ada sesuatu yang menghalangi perjalanan Itachi. Naruto menoleh pada Neji si panglima perang. "Cepat cari Yang Mulia di sekitar jalan dari Suna ke Uchiha. Cari juga di daerah yang belum pernah di lewati Yang Mulia"
"Baik, Yang Mulia!" jawab Neji siap menerima perintah. Naruto menoleh pada Sasuke.
"Pangeran"
Sasuke terkejut tak menyangka dia dipanggil Naruto. Walau wajahnya masih tampak datar.
"Ya, Yang Mulia"
Mata sapphire dan onyx itu bertemu. Sasuke terus menatap Naruto namun Naruto mengalihkan wajahnya dan berkata tanpa menatap Sasuke. "Aku mau kau tetap di paviliunmu. Jangan coba-coba ikut campur masalah ini. Karena aku akan membuktikan padamu kalau aku pantas menjadi Ratu kerajaan Uchiha" ujar Naruto dingin.
Sasuke menyipitkan matanya tidak suka. Apa Naruto berniat menantangnya?Karena Sasuke merendahkan dan tidak mengakui Naruto sebagai Ratu?
Para menteri dan pejabat istana berbisik-bisik akan ucapan Naruto. Apakah pangeran dan ratu sedang berseteru? Saat semua anggota rapat itu sibuk satu sama lain, tiba-tiba pintu aula terbuka lebar.
Seluruh orang di aula itu menoleh dan menatap seorang laki-laki yang berjalan tertatih-tatih. Pakaiannya robek disana-sini. Luka di kaki yang membuat dia tidak bisa berjalan dengan benar.
"Kakashi?" Naruto berujar lirih dan berdiri serta berlari melewati orang-orang disana. Kakashi berhenti berjalan dan bersimpuh di depan Naruto meskipun kesulitan karena luka nya.
"Dimana Yang Mulia? Kenapa kau datang sendirian? KATAKAN KAKASHI!"
"Maafkan hamba Yang Mulia, hamba tidak bisa menjaga Yang Mulia Raja" Kakashi menunduk meminta maaf. Naruto merasa kakinya lemas dan terduduk. Di belakang Kakashi datang dua orang prajurit yang menggotong sebuah tandu berisi seseorang di dalamnya. Dua orang prajurit itu meletakkan tandu itu di sebelah Kakashi.
"Hamba menemukannya di dekat jurang di hutan perbatasan Konoha dan Suna. Saat kami melewati hutan itu, kami dikejar oleh sebuah monster yang dapat mengeluarkan bola api. Kami berpencar namun monster itu malah mengejar Yang Mulia. Saat hamba kembali, hamba hanya menemukan kalung ini dan buah persik yang Raja beli untuk oleh-oleh untuk Ratu di samping orang ini. Hamba memang tidak bisa mengenali rupa orang ini, tapi hamba yakin ini adalah Yang Mulia Raja karena kalung dan buah persik ini ada di sampingnya" Kakashi memberikan kalung itu kepada Naruto. Naruto meraih kalung itu dengan tangan gemetar. Kalung dengan bandul berwarna biru kehijauan yang dia berikan saat pernikahannya dengan Itachi.
Sasuke berjalan menuju ke tempat Naruto dan Kakashi. Dilihatnya mayat yang Kakashi bilang kalau itu anikinya. Memang wajah dan tubuhnya berwarna hitam karena terkena bola api sang monster. Tapi fisiknya hampir menyerupai anikinya. Apalagi dengan bukti bahwa disampingya ada kalung dan buah persik itu. Sasuke menahan kesedihannya dengan mengeratkan gigi-giginya. Aniki yang kadang usil namun begitu sayang padanya telah pergi. Aniki yang begitu dia sayangi meski Sasuke tidak menunjukkan terang-terangan. Senyum Itachi yang begitu hangat saat dia menepuk kepala dan menyentil dahinya saat kecil dia rindukan sekarang tidak akan pernah dilihatnya lagi.
Tapi Sasuke tahu, yang lebih bersedih dan hancur hati adalah Naruto. Dia menoleh dan memandang bahu Naruto yang bergetar dan kepalanya yang menunduk sudah menandakan jika Naruto sedih. Atau bahkan lebih dari itu. Tidak ada yang berani mendekatinya apalagi menghiburnya. Para menteri dan pejabat lainnya hanya mampu menunduk dan menutup sebagian wajahnya dengan tangan.
Naruto merangkak mendekati mayat Itachi dan mengusap wajah Itachi dengan hati-hati saking rapuh dan hampir menjadi abu.
"Ya-yang mulia Raja" sang ratu menangisi kematian sang raja Itachi. Tangisan dan raungan yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
"Itachi-sama kenapa kau meninggalkanku? Hiksss kenapa? KENAPA?" Naruto menjerit dan jatuh pingsan. Sontak Sasuke dan orang-orang disana berlari dan Sasuke menggendong Naruto menjauh dari sana.
Kabar kematian Itachi tersiar di seluruh negeri Konoha. Seluruh negeri berduka dan pemakaman Itachi didatangi semua perwakilan dari kerajaan Suna dan Iwagakure. Pemakaman Itachi dilakukan dengan membuang abunya ke sungai. Naruto menatap hampa sungai di depannya. Mata sapphire yang biasanya cerah dan bersinar itu sekarang sembab dan kehilangan cahayanya.
Sungai yang dihiasi oleh bunga warna putih dan cahaya bulan yang terpantul di air menjadi tempat peristirahatan terakhir Raja kerajaan Uchiha yang sangat disegani. Meskipun baru kurang lebih seminggu menjabat, namun kebijaksanaan dan kebijakan yang Itachi buat membuat dia dihormati dan dicintai rakyatnya. Para pelayat melepas lampion yang berisi lilin, menerangi langit dan seolah menghantarkan kepergian Itachi ke langit sana. Pemandangan yang romantis dan indah jika tidak mengingat alasan mereka disini.
Satu per satu pelayat pergi dan tinggalah Naruto, Sasuke Fugaku, Mikoto, Minato, Kushina dan Kakashi. Mikoto yang masih menangis mendekati Naruto dan memeluk Naruto yang lebih tinggi darinya. "Naru, Itachi akan sedih kalau kau tidak bisa merelakannya pergi. Itachi sangat mencintaimu sayang" Naruto kembali menangis dan memeluk ibu suri.
'Itachi-sama, aku berjanji akan melindungi rakyat dan menjadi Ratu Uchiha yang berguna. Aku mencintaimu sampai kapanpun'
.
.
.
3hari setelah itu..
Di sebuah gua gelap namun diterangi cahaya api unggun terlihat seorang pemuda yang sedang tertidur atau bisa disebut tidak sadar. Pemuda itu tidur beralaskan jerami dan selimut kulit binatang harimau. Tak lama kemudian pemuda itu membuka matanya secara perlahan. Membiasakan diri dengan cahaya api di dinding-dinding gua itu. Pemuda itu bangun namun memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Kau sudah sadar? Kau pingsan selama hampir 7hari. Menyusahkan saja" pemuda lainnya masuk ke dalam gua sambil membawa bahan makanan berupa buah dan ikan dari sungai.
"Siapa kau?"
"Aku Kyuubi, aku menyelamatkanmu saat kau jatuh dari tebing. Kau tidak ingat?" pemuda bernama Kyuubi yang memiliki warna rambut orange kemerah-merahan, mata yang serupa dengan warna rambutnya dan wajah campuran tampan dan manis. Pemuda yang pingsan tadi mencoba mengingat namun kepalanya langsung sakit.
"Aku tidak ingat apa-apa" jawab pemuda itu sambil menahan sakit.
'Tentu saja kau tidak ingat. Karena aku yang menghilangkan ingatanmu'ujar Kyuubi dalam hati. Tujuannya hanya dia yang tahu.
"Makanlah, kau pasti lapar tidak makan selama seminggu" Kyuubi menyerahkan buah apel pada laki-laki tadi dan segera dimakannya. Perutnya begitu lapar.
"Oh ya, siapa namamu?" Kyuubi berdiri di dekat pemuda itu.
"Uchiha... Itachi"
.
.
.
H-8 Pemberontakan Danzo
"Tinggal 8 hari lagi kedatangan Li Yuan. Aku sudah tidak sabar untuk segera menggulingkan kerajaan Uchiha. Hahaha" Danzo tertawa membayangkan bagaimana Fugaku beserta istri dan anak nya bersujud di kakinya untuk meminta ampun.
"Oh ya Sakura, kapan kau akan menjadi istri Sasuke? Aku hanya memberimu waktu 8hari" ujar Danzo sinis. Sakura hanya mendengus dan menjawab "Aku sedang berusaha paman. Jangan mendesakku seperti itu"
"Ck, kau itu terlalu lama. Bunuh saja Naruto itu"
"Tidak perlu, aku punya rencana lain. Karena Uchiha Itachi sudah mati, otomatis yang akan menjadi Raja selanjutnya adalah Sasuke, dan aku akan membuat dia menjadikanku istrinya" Sakura tersenyum licik. Danzo pun memuji kepintaran Sakura dan mereka kembali berbincang mengenai rencana mereka.
.
.
.
Di tanah lapang belakang istana, terlihat Naruto yang tengah berlatih memanah dengan memakai pakaian hakama. Sebagai pemimpin kerajaan, dia harus bisa memanah musuhnya kelak.
"Bahumu kurang turun. Tanganmu lebih rileks. Pandangan mata ke depan dan fokus pada bidikan" Sasuke yang melatih Naruto menyentuh bahu Naruto yang tengah bersiap melepaskan anak panahnya. Begitu disentuh Sasuke Naruto langsung teringat kejadian malam itu dan menjauhi Sasuke. Tubuhnya sedikit begetar namun tidak luput dari pengamatan Sasuke. Naruto yang meminta Sasuke untuk mengajarinya tidak menyangka kalau dia masih trauma dengan sentuhan Sasuke.
"Maaf, tolong ajari aku lagi tanpa dengan sentuhan dari pangeran" Naruto kembali memasang kuda-kuda memanahnya. Sasuke menatap datar wajah Naruto dari samping. "Angkat dagumu, bahu dan tangan harus sejajar. Tarik kuat-kuat dan lepaskan" Naruto melepaskan anak panah itu dan segera meluncur menancap pada bidikan namun belum pas di titik tengah.
"Awal yang bagus untuk seorang pemula. Sekarang coba lagi" Sasuke dan Naruto terus berlatih panah sampai siang hari. "Latihan kita sudahi saja. Tanganku pegal" Naruto memberikan panahnya pada seorang prajurit dan melepas rompi untuk melindungi tubuhnya. Sasuke mengikuti Naruto duduk di tempat yang disediakan dan menikmati wagashi dan ocha.
"Maaf pangeran, ada surat untuk Anda dari nona Haruno Sakura" Juugo menyerahkan surat pada Sasuke. Naruto hanya melirik dari sudut matanya dan tetap meminum ocha nya. Sasuke menerima surat itu dan membacanya. Isi surat itu kurang lebih permintaan maaf Sakura dan meminta Sasuke datang kembali di jamuan makan malamnya.
Sasuke memasukkan surat itu ke dalam kantung hakamanya dan meminum ocha. 'Aku harus waspada kali ini. Kalau-kalau dia memberiku obat yang aneh lagi'
.
.
.
"Hamba minta maaf waktu itu pangeran. Hamba meninggalkan pangeran dan hamba begitu panik melihat pangeran tidak ada di ruangan hamba" Sakura membungkuk meminta maaf. Sasuke hanya berhn dan berkata tidak apa-apa. Sakura tersenyum manis dan menuangkan teh ke cangkir terus melihat gerak-gerik Sakura was-was jika wanita itu menaruh obat aneh lagi. Setelah dirasa aman, Sasuke meminum teh itu perlahan.
"Pangeran, hamba ingin mengatakan sesuatu. Tapi sebelumnya hamba meminta maaf atas kelancangan hamba ini"
"Katakan saja"
"Setelah kematian Yang Mulia Raja, sesuai adat-adat sebelumnya sepatutnya pangeran yang akan menjadi raja. Jika pangeran menjadi raja, alangkah baiknya jika pangeran mencari seorang perempuan yang akan mendampingi pangeran"
"Lalu? Apa maumu?"
"Hamba.. menyukai Anda pangeran.. maafkan kelancangan hamba ini..hamba pantas mati. Tapi hamba benar-benar menyukai pangeran. Bukan karena pangeran adalah pangeran, tapi karena pangeran adalah orang yang baik hati dan sangat pintar dalam segala hal. Hamba jatuh cinta pada pangeran" Sakura menunduk tidak berani melihat wajah Sasuke. Dalam hati dia berharap agar Sasuke tidak marah padanya. Kalau iya bisa kacau rencananya.
Hening sejenak dan Sakura mulai menyiapkan rencana B. Namun Sasuke menjawabnya. "Baik, akan kupikirkan" Sakura membungkuk sekali lagi "Terima kasih Yang Mulia Pangeran"
'Dengan ini aku selangkah lebih maju untuk menjadi Ratu'
.
.
.
H-6 pemberontakan Danzo
Naruto tengah memeriksa dokumen-dokumen saat Kiba masuk. "Yang Mulia, ada yang ingin bertemu dengan Anda. Uzumaki Karin namanya"
Naruto mengernyitkan dahinya. Tumben sekali sepupunya itu menemuinya. "Suruh dia masuk"
Tak lama datanglah Karin. Dia membungkuk dan berdiri di hadapan Naruto. "Karin, ada keperluan apa kau kemari?" Naruto meletakkan dokumen itu ke atas meja dan tersenyum pada sepupunya.
"Begini, Yang Mulia. Hamba ingin mengatakan sesuatu rahasia" Karin bergerak gelisah.
"Rahasia? Rahasia apa? Duduklah disini. Kau daritadi terlihat gelisah" Karin pun duduk di samping Naruto namun dia tetap merasa was-was. Takut ada orang lain yang mendengar.
"Begini Yang Mulia. Hamba mendengar dan melihat dengan mata kepala hamba sendiri jika tuan Danzo dan anak buahnya bersekongkol untuk memberontak dan menggulingkan kerajaan Uchiha. Mereka juga bekerjasama dengan Li Yuan dari negara Tang. Mereka akan kesini 6hari lagi"
"Apa? Danzo? Danzo adalah penasehat Yang Mulia Fugaku, kenapa dia ingin memberontak?" Naruto tidak mengerti jalan pikiran Danzo.
"Hamba juga tidak mengerti kenapa Yang mulia. Tapi hamba berkata jujur"
"Baiklah, kau boleh kembali. Aku akan memikirkan masalah ini" Setelah kepergian Karin, Naruto merenung. Apa yang harus dilakukannya? Andai saja ada Itachi, dia akan mmepunyai solusinya. Tapi suaminya sudah tidak ada. Yang ada hanya dirinya. Apapun yang terjadi dia harus melindungi kerajaan ini, meski nyawa yang menjadi taruhannya...
TBC ^^
Terima kasih buat doa teman-teman sekalian, sidang saya bisa berjalan dengan lancar. Saya akan sidang kembali di bulan Januari, karena kampus saya mengadakan sidang 2kali huhuhu
Terima kasih buat yang sudah membaca, mereview, memfavorit dan memfollow ff ini *senyum charming* Maaf tidak bisa membalas review TT
Oh ya ada kesalahan penulisan di chap kemarin harusnya perbatasan Uchiha dan Suna tapi saya nulisnya Konoha dan Suna *tepok jidat* Gomen2 #bow
Review please?
