Who will u choose?
Cast : Naruto Sasuke Itachi Sakura Kyuubi (Monsterhuman)
Pair : Sasunaru Itanaru Sasusaku Itakyuu
Genre : History Romance Drama
Warning : Mpreg, boys love, yaoi,alur kecepetan
Disclaimer : karakter milik masashi kishimoto cerita milik saya
Don't like don't read
Bagi penggemar sakura atau ss silahkan klik tombol back karena akan dinistakan disini
Oh ya kemarin ada yg review kenapa cepet banget naruto hamil nya. Karena sudah 3minggu dari naru dirape sasu. Coba itung deh seminggu itachi pergi, terus dia terlambat pulang 1 hari terus besoknya dia ditemukan mati lalu 3 hari kemudian itachi bangun setelah diselamatkan kyuubi dan mulai dihitung H-8 pemberontakkan danzo. Jadi 7+4+8= 19 hari saya sengaja skip 2 hari hahaha gomen2~~
Utk yg minta agar Naru gak keliatan lemah, udh keliatan kan Naru kuat di chap kemarin? Dan chap ini akan saya buat naru menjadi lebih kuat dan keren xD
Dan juga naru nikah nya ama sasu satu hari setelah rencana pemberontakan Danzo. Bukan tepat hari pemberontakannya ya.
Yosh mari mulai lanjutan cerita mereka ^^
Enjoy~
Chapter 7
H-1 pemberontakan Danzo
Setelah memeriksa kondisi Naruto, Tsunade keluar beserta Kiba. Kiba awalnya ingin mengucapkan selamat pada Naruto, namun melihat wajah Naruto yang pucat dan terguncang, dia tidak jadi dan memilih pergi.
Naruto mencengkeram perutnya. Dia masih tidak percaya di dalam perutnya ada kehidupan lain. Sekujur tubuhnya bergetar hebat. Dia lupa jika dia laki-laki yang bisa hamil. Dan dia hamil dengan orang lain, adik dari suaminya. Dia sangat yakin jika ayah dari janin nya adalah Sasuke, bukan Itachi. Karena Itachi tidak sampai memasukinya dan hanya Sasuke yang sampai memasukinya.
"Bagaimana ini?" lirih Naruto. Dia merasa sungguh kotor dan hina. Sungguh tidak layak menjadi Ratu karena hamil dengan orang lain. Meskipun besok dia akan menikah dengan ayah janinnya, tapi dia tetap merasa mengkhianati Itachi. Itachi yang tulus mencintainya akan merasa begitu sedih di atas sana. Naruto menangis sambil melingkarkan kedua tangannya di perutnya.
"Itachi-sama.. hhh maafkan aku..maafkan aku..hikss"
.
.
.
"Pangeran, benarkah 2 hari lagi pangeran akan menikah dengan Yang Mulia Ratu?"
Sakura bertanya pada Sasuke yang ada di hadapannya. Sakura tengah menemani Sasuke bermain shogi. Sasuke tidak menjawab dan tetap menggerakkan bidaknya. Sakura menggeram dalam hati. Jika Sasuke diam, artinya iya. Jadi benar apa yang dikatakan pamannya kemarin. Rencananya berantakan gara-gara pernikahan Sasuke dan Naruto lusa. Dia tidak menyangka ada aturan istana seperti itu. 'Sial' batinnya. Kalau begini dia harus mengganti rencananya.
"Pangeran, sebenarnya hamba tidak ingin menjadi selir, tapi karena Yang Mulia Ibu Suri sudah menentukan, hamba tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang penting pangeran selalu disisi hamba" ucap Sakura penuh penghayatan. Dia hanya bisa mengucapkan kata-kata yang manis yang bisa membuat Sasuke percaya. Dengan begitu dia bisa mempengaruhi Sasuke.
"Sakura" panggil Sasuke
"Jangan pernah kecewakan aku. Hanya kau yang aku sayangi setelah aniki dan ibunda" ujar Sasuke tanpa menatap Sakura. Namun gadis itu dapat melihat mata onyx Sasuke yang berkabut rasa sedih, takut kehilangan seseorang yang disayangi lagi, dan memikirkan sesuatu yang seperti konflik batin.
Sakura tau, Sasuke tidak sepenuhnya mencintai dirinya. Rasa sayang Sasuke kepadanya karena Sakura memberi dia perhatian walau itu palsu. Sasuke sebenarnya masih bersifat kanak-kanak. Iri saat aniki nya bersama dengan Naruto karena anikinya tidak menemaninya belajar dan berlatih lagi. Karena itu dia mencari orang yang memberikan kasih sayang padanya dan Sasuke berpikir orang itu adalah Sakura.
Diam-diam Sakura merasa kasihan pada Sasuke. Tapi ego nya lebih tinggi. Demi kekuasaan dan balas dendam atas kemiskinan di masa lalu, dia mengesampingkan rasa itu. Entah apa jadinya Sasuke kalau tahu dia membohongi dan mengkhianati laki-laki itu. Sakura menjalankan bidak nya dan membalas dengan lembut.
"Hamba akan selalu di sisi Pangeran selamanya"
.
.
.
Setelah menangis sampai mata sapphire nya sembab, Naruto memanggil Kiba yang ada di luar.
"Yang Mulia, Anda baik-baik saja?" tanya Kiba khawatir. Kiba heran, harusnya Naruto bahagia atas kehamilannya, meskipun suaminya sudah tidak ada, setidaknya dia masih mempunyai buah hati mereka bukan? Pikir Kiba.
Naruto mengelus perutnya perlahan. "Kiba, aku ingin kabar kehamilanku ini tidak menyebar ke siapapun juga. Hanya kau, aku dan tabib Tsunade yang tahu soal ini. Ini adalah keinginan ku yang pertama dan terakhir padamu" Kiba gelagapan. Seorang ratu memohon padanya. Dia sungguh tidak tahu harus berbuat apa selain menyanggupi keinginan majikannya itu.
"Ba-baik Yang Mulia. Hamba akan selalu menjalankan perintah Yang Mulia"
"Terima kasih Kiba. Hanya kau yang bisa aku percaya saat ini" Naruto tersenyum pada Kiba. Kiba terharu, dia yang hanya pelayan bisa mendapatkan kepercayaan dari orang nomor 2 di kerajaan ini. Tidak pernah dia temukan orang seperti Naruto, yang sangat menghargainya dan memperlakukannya dengan sangat baik. Majikan-majikannya sebelumnya memperlakukan dia dengan hina dan kasar. Kiba hanya bisa menerima semua itu karena dia tidak berhak menolak. Sampai tiba dimana dia bertemu dengan Naruto yang baru saja diangkat menjadi Ratu. Saat itu dia dikurung di dalam tahanan pelayan karena dia dituduh mencuri uang menteri pertanian. Dia yang memang tidak tahu apa-apa tentu saja tidak mengakui dan langsung dijebloskan di tahanan bawah tanah. Berhari-hari dia bersedih dan menangis, namun suatu hari pintu kurungannya di buka dan Naruto mengulurkan tangan padanya sambil tersenyum lebar dan mata yang menyipit. Kiba masih ingat kata-kata Naruto kala itu.
"Ikutlah denganku, karena aku tahu kau adalah orang yang baik dan setia, Inuzuka Kiba"
Kiba segera menyambut uluran itu dan sampai sekarang dia setia melayani Naruto. Kiba bersumpah dalam hati, dia akan menjaga Naruto dan melindunginya walau nyawa taruhannya.
Kiba bersujud hingga mukanya menyentuh tatami kamar Naruto. Wujud rasa syukurnya kepada Naruto..
.
.
.
Menjelang malam, Naruto mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia sudah mengenakan pakaian tidur, namun dia tidak bisa tidur. Besok adalah hari pertempuran antara dia dengan Danzo. Walaupun sudah memiliki strategi yang matang, Naruto masih gelisah. Apalagi dengan berita dia hamil di saat-saat genting seperti ini. Dari buku yang dia baca, usia janin antara 3 minggu memanglah belum terlalu terlihat bentuknya. Tapi tetap saja Naruto was-was jika saat dia bertarung, perutnya mengalami kontraksi dan dia keguguran. Naruto mengelus perlahan perut datar nya.
"Sayang, besok kaa-san akan banyak bergerak. Tolong bertahan ya? Kaa-san janji tidak akan lama dan mengganggu tidurmu. Hehehe.. kaa-san sayang pada mu" Naruto memantapkan hatinya. Dia harus kuat demi Itachi dan buah hatinya.
Tiba-tiba Naruto teringat sesuatu. Dia lekas memakai kimono terluarnya (yang seperti jaket) berwarna hitam dengan lambang Uchiha di belakangnya. Sebenarnya ini milik Itachi, namun naruto mengenakannya di saat-saat santai. Naruto tahu Itachi tidak akan hidup kembali, tapi setidaknya dengan memakai pakaian milik Itachi, dia merasa jika suaminya itu seolah-olah bersama-sama dengan dia. Naruto menyingkirkan pikiran yang membawanya kembali ke kesedihan. Bukan waktunya meratap, sekarang ada yang lebih penting. Kerajaannya harus berada di tangan orang yang baik, bukan seperti Danzo.
Naruto menutup pintu kamarnya dan berjalan ke paviliun Fugaku dan Mikoto. Saat di depan gerbang paviliun, Naruto dicegah oleh 2 orang prajurit.
"Maaf Yang Mulia Ratu. Hari sudah tengah malam, Yang Mulia Fugaku dan Ibu suri sudah tidur. Besok saja Yang Mulia kemari lagi" ujar salah satu prajurit itu.
"Ada hal yang penting yang ingin aku sampaikan. Minggir" Naruto maju satu langkah tapi langsung dicegah kembali oleh prajurit satunya.
"Mohon, Yang Mulia. Kembalilah ke paviliun Anda"
Naruto mulai tak sabar. "Kau berani memerintah Ratu Uchiha?" 2 prajurit itu menunduk takut dan membuka jalan pada Naruto. Naruto bergumam terima kasih dan berjalan cepat. Sesampainya di depan kamar Fugaku dan Mikoto, Naruto berbicara dari luar.
"Ayah, ibu, ini aku. Ada yang ingin aku bicarakan" tak lama kemudian Fugaku muncul.
"Naruto" Naruto membungkuk dan menatap Fugaku. "Maaf aku menganggu ayah dan ibu larut malam begini. Tapi ada yang sangat penting ingin aku sampaikan" Fugaku menyuruh Naruto masuk dan duduk ruang kerja Fugaku. Mikoto tengah tidur di kamarnya dan Fugaku tidak berniat untuk membangunkannya karena dia tahu istrinya sangat lelah dengan persiapan pernikahan putra bungsunya.
"Ayah tau kan lusa adalah hari pernikahanku dengan Pangeran?"
"Tentu saja Naruto. Ayah tidak akan lupa. Apalagi ibu mu yang sibuk sekali mempersiapkan semua nya itu. Padahal sudah kuberitahu untuk istirahat saja dan menyerahkan segalanya pada kepala pelayan Shizune. Tapi dia keras kepala" hanya pada Naruto dan istrinya saja Fugaku dapat berbincang lebar seperti ini. Itachi dan Sasuke dia hanya bicara singkat dan seadanya. Karena Naruto anak yang ceria dan membuat Fugaku merasa hatinya hangat dan dia jadi kerap tersenyum. Ah, Naruto memang menantu idaman.
Naruto tersenyum menanggapi celotehan ayah mertua nya itu. Fugaku memang memiliki sifat yang berbeda dengan tou-san nya, tapi Naruto tetap sayang pada ayahnya itu. Terkadang Fugaku memberikan perhatian tanpa banyak bicara dan pergi begitu saja. Tapi Naruto tahu itu bentuk kasih sayang pada dirinya. Naruto semakin mengeratkan genggamannya di pahanya. 'Maafkan aku, ayah, ibu, aku harus berbohong pada kalian'
"Sebelum menikah, aku ingin ayah dan ibu mengunjungi kakek ku yang bernama Jiyara. Itu sudah menjadi tradisi keluargaku sejak turun-temurun saat ada yang ingin menikah"
"Tapi bukankah waktu kau menikah dengan Itachi aku dan ibumu tidak mengunjungi kakekmu?" Fugaku mengernyitkan dahinya heran. Baru kali ini dia mendengar tradisi keluarga Namikaze. Naruto sempat terkejut sejenak tapi dia berhasil menguasai ekspresinya. Dengan cepat dia berpikir.
"Waktu itu kakek ku sedang pergi ke tempat yang jauh, jadi dia tidak bisa ditemui. Karena dia sekarang sedang ada di rumah jadi dia bisa ditemui"
"Baiklah. Besok siang ayah dan ibu kesana"
"J-jangan besok siang ayah. Besok, pagi-pagi buta ayah dan ibu berangkat"
"Kenapa harus pag-pagi sekali?" Fugaku mulai curiga. "Karena perjalanannya cukup jauh. Kalau ayah dan ibu berangkat siang, sampai disana sore dan ayah dan ibu akan kelelahan dan hanya bisa tidur sesampainya disana. Kalau berangkat pagi, sampai disana tidak sampai tengah hari dan ayah dan ibu bisa bercakap-cakap dengan kakek dan menikmati pemandangan disana. Lagipula tou-san dan kaa-san juga ada disana"
Fugaku mengangguk sekali. "Bilang dari tadi kalau Minato dan Kushina disana juga. Ayah dan ibu sudah lama tidak bertemu dengan mereka. Baiklah besok pagi-pagi buta ayah dan ibu akan kesana. Dimana rumah kakekmu?"
"Besok ada orang ku yang akan mengantar kalian. Terima kasih ayah sudah mau mendengarkan permintaanku" Naruto bangkit berdiri dan memeluk Fugaku. Baru pertama dia memeluk ayahnya dan sebaliknya pun begitu. Fugaku menepuk-nepuk bahu Naruto khas seorang ayah.
Naruto rela menanggung kesalahan karena membohongi orangtua nya demi keselamatan mereka. Ya, biar Naruto yang menanggung semuanya..
.
.
.
Hari H pemberontakan Danzo
Naruto bangun saat sinar matahari mengenai jendela kamarnya yang terbuat dari kertas dan membias ke wajahnya. Begitu bangun dia langsung mandi dan memakai pakaian hakama dengan jubah dan mengikat tali kecil dengan jepitan berbentuk helaian daun warna hijau keemasan (jubah nya mirip dengan jubah hokage Naruto). Dia memandang pantulan wajahnya di cermin yang ada di meja. Mata Naruto berkilat, penuh dengan keyakinan untuk bertarung hidup dan mati hari ini. Dia meraih kalung krystal berwarna biru kehijauan yang dia hadiahkan pada Itachi dan memakainya. Dengan memakai kalung ini, Naruto berharap Itachi ada bersamanya dan menjaganya dari atas sana. Setelah itu Naruto memakai jepit rambut warna merah empat buah di sisi kanan dan kiri rambutnya agar dia bisa melihat dengan jelas lawan-lawannya tanpa terhalang rambutnya yang mulai memanjang itu.
Naruto bangkit dan membuka lebar pintu geser kamarnya. Digenggamnya pedang di tangan kananya erat-erat. Naruto yakin, dia sudah siap kali ini...
.
.
.
Sasuke yang kebetulan bangun pagi-pagi dan memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar paviliunnya terhenti saat melihat Naruto yang memakai pakaian rapi dan lengkap berjalan dengan langkah tergesa di sepanjang lantai kayu menuju balai jamuan tamu negeri tetangga.
'Untuk apa mereka datang sepagi ini?' pikirnya tidak mengerti. Sasuke memutuskan untuk mengikuti Naruto diam-diam.
Naruto yang keluar dari kamarnya tadi dihampiri oleh Kakashi. Kakashi yang sekarang adalah tangan kanan Naruto berlari tergopoh-gopoh. "Ya-yang mulia.. pejabat Li Yuan datang..dia sudah ada di balai jamuan"
"Apa? Kenapa mendadak sekali? Apa mereka tidak tahu aturan pemberitahuan berkunjung kerajaan Uciha? Lancang sekali mereka!" Naruto menggeram dan buru-buru berjalan cepat diikuti Kakashi dan Kiba.
KRIETTT
Suara pintu kayu terbuka cepat. Semua orang di dalam balai jamuan menoleh kepada orang yang membuka pintu. Begitu mengetahui siapa yang telah membuka, orang-orang di sana langsung berdiri dan membungkuk memberi penghormatan.
Naruto berjalan dengan langkah tenang namun tegas. Dia menatap tajam sosok perdana menteri negeri Tang yaitu Li Yuan yang berdiri di ujung barisan. Naruto duduk di atas kursinya dan Li Yuan duduk di depannya. Sebuah meja kayu menjadi pemisah mereka. Dia menyerahkan pedangnya pada Kakashi yang berdiri di sampingnya, agak ke belakang.
"Maaf, jika saya tidak berpakaian yang formal untuk menemui Anda. Tapi Anda seharusnya mempunyai urusan yang sangat penting sehingga datang pagi-pagi begini tanpa pemberitahuan lebih dulu, bukan?" tanya Naruto sinis. Perasaannya tidak enak terhadap orang di depannya ini.
"Hmm saya memakluminya, Yang Mulia. Apalagi dengan jepit rambut Anda itu. Sangat cocok untuk Anda" Li Yuan melirik jepit rambut Naruto dan Naruto mencengkeram hakamanya menahan malu sekaligus marah. Merasa dilecehkan.
"Anda belum menjawab keperluan Anda, perdana menteri Li"
Li Yuan tersenyum dan mengisyaratkan anak buahnya yang ada di belakangnya. Si anak buah mengangguk dan memberikan sebuah kotak yang besar. Li Yuan menerima kotak itu dan menaruhnya di atas meja.
"Tahun ini, kerajaan Tang sedang panen besar-besaran. Karena itu kami hendak memberikan sedikit dari hasil panen kami kepada kerajaan Uchiha. Dengan begitu hubungan kedua belah pihak bertambah erat dan menguntungkan satu sama lain" Li Yuan tersenyum penuh arti. Li Yuan pun menghadapkan tutup kotak besar itu ke arah Naruto. Naruto mulai curiga, apalagi dengan senyuman Li Yuan yang terlihat licik.
"Ini dia, hasil panen kami Yang Mulia. Selamat menikmati di dunia akhirat!"
Wushh
Trakk
Brakkk
Naruto terhempas dari kursinya dengan mata terbelalak. Dirinya sungguh terkejut tatkala Li Yuan membuka kotak itu dan pisau yang jumlahnya belasan melayang ke arahnya. Naruto tidak sempat berlindung, namun dia berhasil diselamatkan oleh Sasuke yang tiba-tiba ada di depannya dan menangkis semua pisau itu dengan katananya.
Kakashi juga sama terkejutnya, dia tidak menyangka Li Yuan akan mencelakai Naruto. Dengan segera dia mengeluarkan pedangnya dan menghunuskan ke arah Li Yuan. Pedang Naruto dia sarungkan di sebelah kanan pinggangnya.
"Hoo kau bisa menangkis nya ternyata. Apa boleh buat, kau tidak bisa mati karena pisau berlumur racun Yang Mulia" Li Yuan berdiri dan tertawa mengejek.
Naruto berusaha bangkit berdiri dan menatap tajam Li Yuan. "Apa maksud semua ini Li Yuan?!"
"Tanyakan saja pada Danzo. Aku hanya membantunya dengan iming-iming kekayaan kerajaan Uchiha yang makmur itu" Naruto menggeram, tidak tahu jika Danzo meminta bantuan negeri Tang. Sementara Sasuke terkejut walau tidak terlalu kentara di wajahnya. Danzo adalah orang kepercayaan ayahnya dan dia sekarang melakukan pemberontakan?
"Pangeran, bawa pergi Yang Mulia ke luar. Biar aku disini yang menyelesaikan mereka" Kakashi melemparkan pedang Naruto dan ditangkap oleh Naruto. Kakashi berlari dan menusukkan pedangnya ke dada Li Yuan namun segera ditangkis oleh anak buah Li Yuan. Sasuke mengangguk dan menarik jemari Naruto untuk digenggamnya dan berlari melewati pasukan Tang yang menghadangnya. Sasuke menyerang pasukan itu dengan satu tangannya. Walau begitu Sasuke tetap menang dan dapat melukai pasukan itu.
Setelah sampai diluar tepatnya di halaman istana, Naruto menarik tangannya dan membuat genggaman Sasuke terlepas. "Aku harus menemui Neji dan Shikamaru. Kau pergilah dulu" Naruto hendak berbalik namun pundaknya ditarik Sasuke. "Untuk apa kau menemui mereka? Kau ini incaran pemberontak itu dobe! Kau mau mati terbunuh mereka?"
Naruto menggeram marah diteriaki dobe. Ingin sekali membalas namun ditahannya, setidaknya sampai mereka selesai hari ini. "Aku sudah merancang strategi untuk menghadapi mereka dan aku bukan seorang Ratu yang lemah dan tidak berdaya seperti bayanganmu. Aku sudah melatih fisik dan mentalku selama ini, agar kau tidak meremehkan ku lagi, pangeran. Lebih baik kau lindungi saja tunanganmu itu. Semoga dia tidak terlibat kejahatan ini, mengingat dia adalah keponakan Danzo" Naruto menggerakan bahunya agar tangan Sasuke lepas dari pundaknya. Setelah itu Naruto berlari ke arah berlawanan. Sasuke menggeram marah 'Dia memikirkan strategi tanpa melibatkanku? Dan..selama ini dia tahu akan ada pemberontakan tapi tidak mencegahnya? Sial, apa yang dipikirkan si dobe itu?'
Sasuke berdecih dan pergi ke paviliun Sakura. Apa yang dikatakan Naruto tadi memang benar, dia was-was jika Sakura terlibat dalam pemberontakan ini. Sasuke mengenal Sakura sebagai wanita yang lemah lembut dan anggun. Apalagi setelah ucapannya kemarin yang meminta Sakura agar tidak mengecewakannya. Dan wanita itu telah berjanji padanya. Mustahil dia terlibat. Namun di dalam hatinya dia merasa Naruto lah yang benar..
.
.
.
Di perjalanan menuju kantor Neji, Naruto banyak menemukan mayat prajurit yang bergelimpangan. Naruto menggigit bibirnya kuat-kuat dan mempercepat langkahnya. Jubahnya berkibar seiring langkahnya. Naruto bersumpah akan menghabisi pasukan Danzo dan Li Yuan yang membunuh prajurit dan rakyatnya itu.
"Yang Mulia!" Naruto berhenti melangkah dan berbalik. "Neji, bagaimana istana wilayah barat?"
"Kami sudah memukul mundur seperempat pasukan Danzo. Tapi prajurit kita banyak yang terluka dan meninggal" jawab Neji sambil menunduk. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan nyawa anak buahnya. Serangan itu begitu mendadak, meskipun Neji sudah bersiap. Jumlah mereka tidak sebanding.
Naruto berbalik kembali, menunjukkan punggungnya pada Neji. "Kita lanjutkan rencana kita. Buat pengkhianat itu merasakan rasa sakit yang kita alami" ujar Naruto dingin. Bulu kuduk Neji berdiri, belum pernah dia mendengar Naruto berkata sedingin dan menusuk itu. Mungkinkah ini adalah sifat Naruto yang selama ini terpendam? Jiwa yang kuat dan berani telah bangkit dari dalam tubuh Naruto?
"Ha'i!"
.
.
.
"Li Yuan, kau lama" Danzo melipat kedua tangannya di dada dan memandang sinis pada Li Yuan. "Maaf-maaf. Orang yang bernama Kakashi itu kuat sekali. Aku sampai kualahan"
"Cepat, kita harus ke sana. Aku sudah tidak sabar melihat wajah Fugaku yang memohon padaku agar diselamatkan. Hahahaha!" Danzo tertawa kesetanan dan menyeringai keji. Li Yuan turut menyeringai dan mereka menuju ke paviliun Fugaku dan Mikoto diikuti anak buah masing-masing.
Prajurit yang menjaga paviliun Fugaku langsung dihabisi oleh anak buah mereka. Danzo berjalan santai ditengah-tengah mayat prajurit yang tergeletak di tanah. Dia menyeringai sejenak dan menggeret pintu kamar Fugaku dengan kasar.
Kosong
Danzo mengernyit. Kenapa tidak ada orang di sini? Danzo segera masuk ke dalam dan membuka semua pintu di ruangan itu. Hasilnya nihil, tidak ada siapapun.
"Mereka sudah pergi, Danzo" Danzo tersentak dan mencari asal suara itu. Seseorang muncul dari balik sudut kamar yang tersembunyi oleh guci yang sangat besar.
"Ho? Yang Mulia Ratu ternyata. Aku sudah curiga padamu sejak kemarin-kemarin. Kau kemanakan Fugaku dan Mikoto ha?"
"Mereka sudah kusuruh pergi pagi-pagi buta ke tempat yang aman. Aku sudah tahu semua rencana busukmu dan kebencianmu pada Fugaku dan Mikoto"
Danzo tersenyum licik dan bersiap memanggil anak buahnya.
"Percuma. Anak buahmu sudah mati. Dan Li Yuan sedang bertarung dengan Panglima Neji. Lawanmu adalah aku, Danzo!" Naruto berlari dan menghunuskan pedangnya namun dengan sigap Danzo menangkisnya. Naruto terus menyerang Danzo dengan membabi buta. Pedang Naruto menyanyat baju atasan Danzo tapi tidak sampai membuat dia terluka. Danzo kuwalahan menghadapi serangan bertubi-tubi Naruto. Danzo terpojok sampai halaman belakang paviliun. Pedang Naruto menekan pedang Danzo sampai tubuhnya menunduk. Keringatnya menetes ke wajah Danzo. Danzo mengertakan gigi menahan kekuatan besar Naruto. Namun dia tersenyum licik dan berkata "Kau yang akan mati Yang Mulia, bukan aku"
Naruto hendak menyanggah tapi dia melihat seseorang dari pantulan pedangnya yang bersinar di bawah matahari. Seseorang itu melompat dari atap genting kamar Fugaku dan Mikoto dan mengayunkan pedangnya ke kepala Naruto. Namun dengan cepat Naruto menghindar ke belakang dan kakinya membuat gesekan tanah yang membekas.
"Kau terlambat Sai" Danzo menegakkan tubuhnya dan menyarungkan kembali pedangnya. Pria itu berpakaian ninja tapi wajahnya tidak tertutupi apapun. Orang itu tersenyum dengan mata yang menyipit. Tapi semua orang tahu itu adalah senyum palsu yang tertanam apik di wajah pucatnya.
"Maafkan aku tuan Danzo. Aku ada sedikit halangan tadi. Pria berambut panjang dengan mata putih itu memang sangat kuat"
Naruto menggeram marah. Orang itu berani sekali melukai Neji panglimanya yang dia percayai.
"Aku serahkan Ratu ini padamu Sai. Aku mau menyelesaikan urusanku yang lain" Danzo pergi dan Naruto berteriak. "Tak akan kubiarkan kau pergi Danzo sialan!"
Naruto berlari mengejar Danzo namun Sai menghalangi jalannya. Masih dengan senyum palsunya dia berkata. "Lawanmu sekarang adalah aku Yang Mulia"
TBC ^^
Maaf sekali lama banget updatenya :( sibuk skripsi dan sempat kena wb. Padahal udah separoh ngetik. Ya sudahlah ada yang nagih ini ff lewat review2 yang baru hehee. Sempet syok juga kena flame. Karena baru pertama dapet flame. Tapi ya sudah lah bukan karena cacian Anda WALKER. Karena cacian anda saya jadi tambah semangat untuk melanjutkan ff ini. Karena ff yang menjijikan ini anda mau sempetin baca. LOL..
Maaf gak bisa bales review, saya sebutin saja ya.
Thanks to :
mariaerisa , femix , L , dianarositadewi4 , etik chan , asyifaaulia31 , imsung namikaze , Guest 1 , Guest 2 , yuura, Katsuki12, Dwi618, Jiji Park, adri U, Guest 3, Yuko, d14napink, L (thx sudah mereview 3kali di chap yg sama hehe) Guest 4, Guest 5, Sarivina52, Dark , Meli793, Kamira Fujika, Yurina, ani, dekdes, sunmoon Cassie, reiasia95, kazekageashainuzukaasharoyani, aXsisyeolliefujo, riu, .1, dianarositadewi4, Walker (saya tetap berterima kasih padamu karena km tetaplah mau mereview ff saya), .146, Eun810, miszshanty051, Akira lia, Lusy922, BlackCrows1001, ChulZzinPang, Arum Junnie, , Aiko Vallery, Xhavier rivanea huges, retvianputri12, Aoi Itsuka, choikim1310, liaajah, Kyutiesung, Vilan616, Dewi15, ChaaChulie247, uzumakinamikazehaki, Kuma Akaryuu, namiee, Gakupo, name, 10, NaYu Namikaze Uzumaki, hyuashiya, askasufa, SapphireOnyx Namiuchimaki, Taqieyya746, dan versetta
Serta yang sudah mengalert ff ini arigatou gozaimasu ^^~
Review again?
