CHOCOLAPUT PRESENT

HARRY POTTER AND THE MYSTERY OF THE BEAST

CHAPTER 2: GRINGOTTS

.

.

.

Disclaimer : Kalau Harry Potter punyaku maka JK Rowling yang menulis fanfic ini. Kubilang kalau, jadi itu cuma kalau.

.

.

.

a/n: Aku minta maaf karena terlambat update. Ini semua karena jadi kelas tiga begitu sulit. Well, selamat membaca.

.

.

.

.

Hiruk pikuk di stasiun bawah tanah muggle beberapa menit lalu membuatnya berpikir betapa kecilnya dunia sihir. Ia dan Ted telah mencapai rumah Andromeda dan putra angkatnya itu segera saja menghilang diujung lorong, bermain entah kemana.

Sekarang ia duduk disalah satu kursi di dapur. Hari masih agak pagi dengan hawa beku yang menusuk-nusuk kulitnya yang tidak tertutup baju. Andromeda nampaknya juga merasa kedinginan , ia telah mendobel gaun rumahnya dengan beberapa lapis sweater , rambutnya yang biasa disanggul rapi kini tergerai dan menjuntai bebas dipunggungnya.

"Kopi?" tawarnya, sementara ia mulai membuat secangkir untuk dirinya sendiri.

Harry menggeleng, "Tidak usah. Aku tak pernah suka minuman itu."

"Kenapa kau datang begitu lama? Aku sempat khawatir dan berpikir untuk menjemputmu," Andromeda telah menyelesaikan kopinya dan sekarang membawa cangkir yang mengepul itu ke meja dihadapan Harry. Ia sendiri mengenyakkan diri di kursi diseberang Harry.

"Aku hanya kehabisan bubuk flo. Lupa membeli. Jadi aku harus membawa Teddy dengan kereta bawah tanah," jalas Harry.

Wanita didepannya mengangguk dan mulai menghirup kopinya. Dapur itu kecil, dan secangkir kopi saja membuat seluruh isi dapur beraroma kafein.

"Jadi, ada apa sebenarnya, Andromeda? Kenapa kau tidak menjemput Ted semalam?" tanya Harry.

Andromeda menurunkan cangkirnya dan menatap Harry dengan serius. "Apa ada sesuatu terjadi?" tanya Harry lagi. Ia mengenal baik wanita itu termasuk semua ekspresi gelisahnya.

"Ya, sesuatu terjadi," desah Andromeda.

"Tentang adikmu?" sekarang Harry mulai penasaran.

Ia menggeleng, "Ini tentang peri-rumah keluarga Malfoy, yang merawat adikku. Kau tahu, Nak, namanya Timby," kata Andromeda. Jemarinya yang runcing gelisah, memutar-mutar cangkir kopinya.

Andromeda mencoba menjelaskan kepada Harry apa yang dikatakan Draco padanya kemarin. Harry mendengarkan. Menjadi auror melatihnya untuk selalu mendengarkan dan Andromeda bersyukur Harry tidak memotong ceritanya. Ia tidak yakin sanggup mengatakan detailnya. Ia bahkan tidak sanggup untuk sekedar membayangkannya. Sudah cukup buruk mengetahui adiknya terluka, ditambah serangan itu.

"Bisakah kau membantu Draco, Nak?" pertanyaan Andromeda menggantung di langit-langit.

Harry terdiam agak lama. Ini aneh, pikirnya. Seperti sesuatu yang dilakukan oleh seorang psikopat (sebutan untuk salah satu penyakit kejiwaan muggle) tapi ada kejanggalan, tentu saja. Tanpa disadarinya ia mengangguk mengiyakan. Jiwanya sebagai auror mencegahnya untuk menggeleng. Terlepas dari ketidaksukaannya dengan Draco Malfoy, ia akan menyelidiki kasus ini.

.

.

.

Jujur saja, Harry Potter tidak tahu apa alasannya ia menjadi auror. Saran dari Mad-Eye Moody palsu waktu dia kelas empat dulu membuatnya tidak mampu memikirkan pekerjaan lain. Mungkin dengan menangkap penyihir hitam, ia bisa mencegah lahirnya Pangeran Kegelapan baru. Suatu usaha preventif yang sekarang sia-sia belaka, karena nampaknya dimasa damai ini, tidak ada orang yang berpikir untuk menjadi Pangeran Kegelapan. Itu bukan suatu prospek bisnis yang menguntungkan, kan? Kau tidak perlu menjadi Pangeran Kegelapan untuk merusak masa damai dan tenteram ini, kan?

Tapi masa damai itu agak membosankan bagi auror. Enam bulan penuh Harry berlatih segala macam pendidikan auror. Mulai dari mantra pelucutan senjata sederhana sampai ramuan tersulit untuk keperluan penyelidikan dan pertahanan. Ia lulus menjadi auror legal bersertifikat resmi Kementerian, ditandatangani oleh Menteri Sihir sendiri. Harusnya sekarang ia berada diluar sana, dilapangan, menghadapi sihir hitam dan berduel. Nyatanya, ia disini, terjebak dalam ruangan 3x4 yang sumpek dan cat dinding kuning tua yang membosankan.

Memeriksa berkas-berkas perkara baru yang membosankan membuatnya lelah entah karena apa. Rasanya ia dilahirkan didunia ini hanya untuk dijejalkan di ruangan ini seperti berkas-berkas yang diperiksanya. Jam bundar yang dipasangnya didinding tiga bulan lalu seolah memperlambat putarannya. Ia hanya merasa bosan dengan suasana ini.

Tidak pernah, selama hampir dua tahun pekerjaannya sebagai auror, ia menemukan perkara serius. Paling-paling cuma perampokan biasa yang dilakukan berandal Diagon Alley atau kerusuhan yang dibuat penyihir jalanan. Kasus terberat yang dijalaninya adalah meledaknya sebuah bus tingkat muggle yang membuat heboh nyaris seisi bumi. Kementerian tahu ledakan yang menewaskan dua puluh turis Jepang, lima warga negara Perancis, dan mengakibatkan ratusan mobil disekitar bus ikut terbakar serta puluhan orang terluka merupakan ulah penyihir. Penyihir yang dengan cerobohnya meninggalkan tanduk erumpent didalam bus tingkat. Rupanya, muggle mengira ini serangan terorisme bom bunuh diri dan seluruh dunia geger karena banyaknya korban yang tewas. Inggris Raya darurat teroris dan Departemen Auror kerepotan memberi penjelasan yang masuk akal dan mudah dilupakan oleh muggle. Sayang itu kasus lama, enam bulan yang lalu.

Itulah mengapa Harry begitu antusias mendengar berita peri-rumah Malfoy terbunuh. Bukan karena ia senang Malfoy menderita, tapi sungguh, kasus ini benar-benar penting untuknya.

Pintu kayu dihadapannya membuka perlahan-lahan. Sejenak ia bisa merasakan hawa yang lebih segar saat pintu itu mengayun, namun seseorang menerobos tanpa aba-aba dengan langkah berat dan menutup pintu dibelakangnya.

"Kasus baru. Kelas B," geram orang itu, menghempaskan sebuah amplop tebal ditempat yang tersisa dimeja Harry.

"Mr. Bones," Harry agak terkesiap, orang itu mendelik pedanya dengan mata biru pucat yang lelah.

"Ya, Potter. Kelas B," geramnya lagi.

Harry menyelidiki orang itu. Rambut abu-abu yang sepanjang bahu, berayun lemah menyentuh ujung-ujung jubah hijau kumal, wajahnya lelah dengan gurat-gurat luka disetiap permukaannya. Tetapi rautnya yang panik meyakinkan Harry kalau ini tidak main-main. Maka ia menyentak amplop itu dan mulai meneliti isinya. Kebosanannya raib sejak Mr. Bones mengucapkan kata Kelas B.

"Semalam? Brankas lama keluarga Black?" gumam Harry lebih kepada dirinya sendiri.

"Yep, Potter. Rombongan goblin Gringrotts ngamuk-ngamuk di ruanganku."

"Mereka mengantarkan ini sendiri?" tanya Harry tidak yakin.

Mr. Bones mengangguk tegas, "Sekarang, Potter. Jangan buang waktuku. Ikut aku ke Gringrotts. Persiapkan dirimu."

Harry mengerti. Mr. Bones bergumam ia akan berangkat lebih dulu dan Harry menarik jubah bepergiannya dari gantungan. Ia juga bergegas keluar ruangannya. 'Ini dia,' batinnya. Jantungnya menghentak didadanya, ini dia.

.

.

.

Gringrotts kacau pada jam sepagi ini. Rupanya Mr. Bones mengajak beberapa auror lain untuk menemaninya sekaligus untuk berjaga. Segerombol penyihir marah-marah di meja panjang, saling beradu mulut dengan para goblin. Dua orang auror Kementerian berusaha menengahi mereka, namun salah satunya kena pukul tongkat sihir salah satu orang yang mengacung tinggi-tinggi. Tetakel ungu bermunculan dari kepalanya.

Mata Harry memandang menyapu ruangan besar itu. Pandangannya bertemu mata Mr. Bones. Pria itu tampak lega melihat Harry berjalan menghampirinya.

"Langsung saja ke brankas. Antar kami, Gilbert," perintah Mr. Bones.

Gilbert memimpin dihadapan mereka, memasuki sebuah ruangan dengan kereta luncur ukuran sedang yang akan mengangkut mereka menuju lemari besi keluarga Black. Gilbert naik dan segera memposisikan diri didepan disusul Mr. Bones dan Harry. Kereta meluncur turun semakin kebawah, gesekan antara roda dan rel menimbulkan bunyi bising yang dipantulkan stalagmit dan stalagtit yang makin kedalam makin bermunculan.

Ketiganya bungkam. Harry ingat bagaimana ia bisa menerobos lemari besi Lestrange saat masa perang dulu. Ia memanfaatkan ramuan polijus dan kutukan imperius, dan jangan lupakan naga yang membawa mereka bertiga—Harry, Ron, Hermione—keluar dari sana dengan nyawa yang masih utuh. Mungkin, menurut teori Harry, pencuri kali ini menggunakan strategi yang nyaris sama dengannya dulu.

Harry tak habis pikir kenapa ada orang yang membutuhkan Eliksir Steab. Ia sendiri tidak tahu apa itu Eliksir Steab, bahkan ia baru mendengarnya sekali ini saat membaca surat yang diberikan Mr. Bones tadi padanya. Brankas keluarga Blackyang bertahun-tahun tak pernah dibuka, dibobol oleh entah siapa. Bukan galleon atau piala antik yang hilang, melainkan sebotol Eliksir Steab.

"Kita sudah sampai," ujar Gilbert ketus. Dirinya turun lebih dulu. Harry melompat dan mendekati pintu lemari besi itu yang tampak hangus.

Mr. Bones mengernyit dan menyentuh pintu besi tersebut. Tangannya mengusap bekas hangus dan membauinya, "Fiendfire," gumamnya.

"Tidak mungkin!" ucap Harry.

Mr. Bones berbalik menatapnya, "Mungkin saja."

"Tapi bukankah itu sangat berbahaya? Apinya bisa saja menyebar kalau tidak dikendalikan dengan benar," kata Harry keras kepala.

"Orang ini berhasil mengendalikannya, Nak," kata Mr. Bones agak kecewa. Wajahnya semakin terlihat lelah.

Harry mengumpat dan berbalik menghadap Gilbert. Goblin itu lebih tinggi daripada goblin biasanya. Tampangnya tidak begitu kejam seperti kebanyakan goblin, mungkin efek dari hidungnya yang lurus kecil. "Apa kau yakin hanya Eliksir Steab yang hilang? Apakah sudah diperiksa?" tanya Harry menuntut.

Gilbert mengangguk, "Ya. Sudah kami cek tiga kali," katanya meyakinkan.

Mr. Bones memilih untuk memeriksa sekeliling. Harry mengawasi dan melihat bekas hangus juga ada di stalagtit terdekat. Ketika ia menyadari sesuatu, Mr. Bones memanggilnya dan mengajaknya kembali ke kantor. Harry menurut, Gilbert mengantar mereka kembali ke aula diatas. Keduanya berpisah dengan Gilbert dan segera ber-disapparate menuju Kementerian.

"Kantorku, Potter," Mr. Bones memberi aba-aba agar Harry mengikutinya ketika mereka baru sampai di Kementerian.

Kantor Mr. Bones lebih luas dan tertata daripada kantor Harry. Dipintunya yang baru dicat ulang, terdapat plakat emas berkilat bertuliskan "KEPALA DIVISI KRIMINAL". Itulah jabatan Mr. Bones sekarang. Harry duduk di kursi kayu sementara kursi Mr. Bones yang ada dihadapannya merupakan kursi dengan sandaran tinggi. Suatu simbol yang menandakan bahwa ia memiliki kedudukan. Meja kerja diantara mereka berdua pun rapi, foto Mr. Bones dan istrinya tertawa cerah dari piguranya yang terletak disana.

"Siapapun yang mencuri Eliksir Steab pasti sudah menggunakannya sekarang," kata Mr. Bones, matanya menerawang melewati Harry, "tapi, meskipun kita tidak bisa mendapatkan Eliksir ini kembali, kita tetap harus menangkap pelakunya."

Diam-diam Harry setuju dengan apa yang Mr. Bones katakan.

"Errr... Mr. Bones?" Harry bersuara, namun Mr. Bones belum juga memandangnya. "Mr. Bones, maukah anda memberi tahu saya apa itu Eliksir Steab?"

Mr. Bones mengerlingnya sebentar sebelum menjawab, "Eliksir Steab, Potter," katanya, "adalah eliksir yang diciptakan oleh salah satu anggota keluarga Black ratusan tahun lalu pada masa-masa gelap. Tidak diketahui secara pasti siapa, tetapi orang itu, bagaimanapun juga telah berhasil mengemas sihir paling hitam dalam botol ramuan."

"Apa yang mampu dilakukan eliksir itu? Apa efeknya, Mr. Bones?" desak Harry, sekarang ia benar-benar merasa penasaran.

"Eliksir ini mampu mengubah manusia menjadi makhluk kegelapan. Darah manusia—baik penyihir maupun muggle—yang telah terkontaminasi bisa dimanfaatkan untuk pengendalian sesama makhluk hitam."

"Tapi bagaimana? Maksud saya, itu brankas lama keluarga Black. Black terakhir sudah... sudah meninggal," kerongkongannya tercekat mengatakan hal ini, "... dan bagaimana pencurinya tahu ada sebotol Eliksir Steab disana?"

Mr. Bones membungkuk diatas meja, wajahnya yang dipenuhi bekas luka begitu dekat dengan Harry.

"Secara teknis, itu brankasmu, Potter."

Harry membelalak, tetapi Mr. Bones menampilkan ekspresi tidak ada yang boleh memotong pembicaraannya.

"Anggota keluarga Black dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, tersisa empat orang. Narcissa Malfoy, Andromeda Tonks, Bellatrix Lestrange, dan tentu saja, Sirius Black. Narcissa dan Androeda menikah dengan orang yang bukan Black, pada masa ini keduanya bisa dipastikan tidak bersentuhan dengan sihir hitam, dan Sirius mengorbankan hidupnya untuk melindungimu, putra baptisnya.

Seperti yang kau tahu, Sirius benar-benar tidak peduli dengan status darah dan kurang menyukai tetek-bengek sihir hitam dikeluarganya. Tetapi saudari sepupunya adalah tangan kanan Lord Voldemort. Dan jika kau tanya aku tentang brankas lama keluarga Black, aku yakin Bellatrix mengetahui separuh yang ada didalam sana. Tetapi sebelum kematiannya, Sirius mewariskan semua harta keluarga Black padamu termasuk brankas itu sehingga Bellatrix tidak bisa menggunakannya sebelum ia sendiri mati dalam perang.

Apapun yang diketahui Bellatrix mengenai sihir hitam, ia pasti memberitahu tuannya dan kawan pelahap maut-nya. Kau Potter, tidak peduli dengan segala warisan yang diamanahkan padamu, telah dimanfaatkan oleh pencuri itu. Aku berani taruhan dengan mobil muggle yang paling mewah, pencurinya adalah sisa-sisa dari kejayaan Lord Voldemort."

Ekspresi Harry mengeras mendengar hal ini. Ia baru sadar—atau mungkin baru ingat—bawa yang dicuri adalah harta Sirius. Mr. Bones benar, harusnya ia lebih peduli terhadap apa yang telah diwariskan Sirius padanya. Jika saja ia tahu ada benda yang begitu berbahaya dalam brankas itu, semua ini mungkin bisa dicegah.

"Potter, bukan maksudku menyalahkanmu. Sori, aku sungguh..."

"Tak apa, Mr. Bones. Hanya, bagaimana anda bisa tahu tentang semua itu?"

"Mungkin kau tidak tahu. Tapi aku adalah salah satu anggota Orde, aku dipihakmu sejak dulu," Mr. Bones mengatakannya dengan begitu bangga.

Harry lega mendengarnya. "Mr. Bones, kenapa tidak ada materi mengenai Eliksir Steab dikelas auror pemula?" tanya Harry, antusiasmenya terhadap kasus ini telah kembali.

"Tentu saja karena kurangnya informasi mengenai eliksir ini dan tidak ada tanda-tada pemakaiannya sejak lama," kata Mr. Bones, "kembalilah ke kantormu."

Harry mengangguk dan beranjak pergi. Ia mendapat tugas untuk menghubungi Divisi Ilmu Hitam untuk bekerja sama dengan Divisi Kriminal. Namun, begitu ia sampai diluar ruangan Mr. Bones, semuanya jadi terasa lebih buruk. Jauh lebih buruk. Kepalanya pening dan dadanya sesak. Diseretnya kakinya yang terasa berat kembali ke ruang 3x4 miliknya. Ia seperti ditarik kebelakang oleh arus. Ia hanya merasa mundur ke sebuah waktu dimana Sirius terbunuh, lenyap dibalik kelambu di Departemen Misteri. Rasanya sesakit ini, sesakit saat ia gagal menjaga sesuatu yang harusnya ia jaga, sesakit saat orang-orang yang ia sayang mati berkorban untuknya. Orang tuanya, Cedric, Sirius, Dumbledore, Mad-Eye, Fred, Moony, Tonks, dan bahkan Creevey. Ia menggumamkan mantra patronus, sesuatu yang menjadi kebiasaannya untuk menghapus pikiran buruk dari benaknya, walaupun itu tak bisa menciptakan patronus.

TBC

a/n: Well, entah perasaanku saja atau bagaimana, chapter ini agak memaksa dan menurutku jelek. Sekali lagi aku minta maaf. Semoga kalian suka. Dan jangan lupa beritahu pendapat kalian di kotak review.