CHOCOLAPUT PRESENT

HARRY POTTER AND THE MYSTERY OF THE BEAST

CHAPTER 3: PUPPET

.

.

.

DISCLAIMER: Masih belum kurebut dari J.K. Rowling

.

.

.

a/n: Ini chapter ketiga. Bagian ini agak panjang dibanding chapter sebelumnya. Selamat membaca. Hati-hati dengan typo(s)

.

.

.

Baru setengah menit Harry berhasil bernapas di ruangan minim udara segar miliknya, pintu kembali menjeblak terbuka. Harry terlonjak dari duduknya dan terkejut dengan pemandangan didepannya saat ini. Seorang pria jangkung dengan rambut pirang dan mata kelabu pucat yang memancar dari rongganya dan bibir yang melengkung menyebalkan merangsek masuk dan duduk begitu saja di seberang Harry.

"Kupikir auror bekerja keras membasmi sampah para penyihir diluar sana. Tapi apa yang kudapat disini? Pantas saja banyak yang terjadi akhir-akhir ini," sindir orang itu dengan nada bicara yang dipanjang-panjangkan.

"Yeah, senang bertemu denganmu juga, Malfoy," gerutu Harry kesal.

Draco Malfoy tampak sangat uring-uringan. Ia mencibir dan memutar bola matanya bersamaan.

"Apa kau belum mendengar apa yang dikatakan Bibi Andromeda? Peri-rumahku diserang, Potter, dan aku tidak melihatmu bertindak sama sekali," katanya mendelik kepada mata hijau Harry.

Mendadak saja pipi Harry serasa ditampar. Baru pagi tadi Andromeda menyuruhnya untuk menemui Draco tapi sekarang ia sudah lupa. Pantas saja Draco jadi uring-uringan dan lebih menyebalkan daripada yang Harry tahu.

Harry berdehem dan mencoba bersikap kalem. Sengaja ia mengabaikan kepalanya yang berdenyut mengerikan. "Oke, sori. Banyak yang terjadi hari ini. Jadi, sori," ucap Harry mencoba untuk bersungguh-sungguh.

"Potter," Malfoy menggeram dengan suara kesal yang tertahan, "Peri-rumahku mati dan kau cuma minta maaf?"

Astaga, Harry benci hari ini.

"Lalu kau ingin aku melakukan apa, Malfoy? Menghidupkan kembali peri-mu? Sori saja aku tidak bisa," ucap Harry sarkatis.

"Kau yang auror. Kau yang tahu apa yang harus kau lakukan untuk menghadapi serangan seperti ini!" bentak Draco tidak tahan.

Malfoy benar. Ia harusnya tahu apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi hal seperti ini. Hanya saja, otaknya menolak untuk berpikir cepat setelah emosinya memampat didepan pintu Mr. Bones tadi. Ini semua begitu tidak adil. Sepertinya ia lupa apa yang sebelumnya ia harapkan. Ia berharap menemukan sebuah atau beberapa kasus serius, dan setelah ia mendapatkannya, ia begitu tidak siap.

"Aku mengerti, Malfoy," kata Harry memandang Draco yang masih terlihat kesal, "sekarang kutanya kau, kau memilih menyerahkan kasus ini kepada auror dengan melalui prosedur yang berlaku atau kau menyerahkan kasus ini padaku?"

Malfoy tampak berpikir sejenak sebelum ia memutuskan untuk menyerahkan semua ini kepada Harry. "Pastikan kasus ini tidak sampai bocor. Ini diantara kita saja."

.

.

.

Ketika Harry mencari dengan pandangan matanya, ia menemukan Malfoy bersandar di dinding batu dapur dengan memandang lampu gantung di langit-langit. Harry baru saja selesai memeriksa Timby yang telah diawetkan Malfoy dengan ramuan pengawet mayat.

Harry memanggil dan menemukan mata Draco menatap dirinya. Ia berjalan mendekat sehingga mereka berdiri berhadapan.

"Apa yang terjadi terhadap peri-mu adalah sesuatu yang bisa kupastikan belum pernah terjadi," mulai Harry tak yakin. Ia telah menghabiskan beberapa jam terakhir untuk memeriksa peri itu lagi dan lagi. Dan walaupun dia tahu dia tidak bisa melakukan penelitian lebih detail, dia tahu pasti apa yang terjadi.

"Apa maksudmu dengan belum pernah terjadi?" tanya Malfoy, sekarang ia berdiri tegak dengan tangan yang berlipat didada.

"Sebaiknya kita duduk. Ini bukan diskusi ringan," kata Harry.

Ia mengikuti Malfoy yang duduk dikursi ujung meja makan, Harry sendiri duduk disisi kanan meja yang dekat dengan Malfoy.

"Mulailah kalau begitu," Harry mencibir mendengar nada memerintah dari pemuda rambut pirang itu. Ini pertama kali baginya, duduk satu meja dengan Malfoy tanpa saling melempar cacian atau kutukan. Beberapa hal tampak jelas berubah selama waktu ini.

"Baiklah, Malfoy. Anggap proses penyelidikan dimulai dari sini," kata Harry.

Draco Malfoy mendengus, "Memangnya darimana lagi, eh?"

"Kau tahu bukan itu maksudku. Jangan memotong pembicaraanku lagi kali ini," paksa Harry jengkel. Jika saja ia bukan auror dan orang ini bukan Draco Malfoy.

Ia melihat Malfoy menyeringai, tetapi ia melanjutkan bicara.

"Kau minta bantuanku untuk menyelidiki peri-rumahmu. Itu berarti kita partner sekarang. Itu juga berarti kau akan menjawab semua pertanyaanku. Aku tidak menerima pengecualian," katanya dan orang disebelahnya mengangguk menyetujui.

"Itu juga termasuk pertanyaan apakah kau masih berhubungan dengan kawan pelahap maut-mu?" kalimat ini diiringi dengan pelototan dari Malfoy.

"Apa kau baru saja menuduhku, Potter?" tanya Draco sengit.

"Aku hanya bertanya apakah kau berhubungan dengan kawan pelahap maut-mu? Karena ini sepertinya berhubungan," jelas Harry, menatap Malfoy yang nampak jengkel dengan serius.

"Apa kau mengira aku masih bagian dari mereka? Aku clear, Potter. Kalau tidak, aku pasti bernasib sama dengan ayahku yang mendekam di pojokan Azkaban," katanya miris, kedengarannya ia seperti menyindir nasibnya sendiri.

"Baiklah, aku tahu kau clear. Aku sendiri yang membersihkan namamu. Tapi, ini bukanlah sesuatu yang bisa ditolerir sekarang. Penyerangan terhadap peri-rumahmu dilakukan secara brutal. Ia dikoyak dan benar-benar hancur. Maksudku, kau pernah lihat korban beruang hitam? Semacam itulah kondisinya sekarang. Tapi, bukan beruang hitam, kalaupun mereka disekitar sini, mereka tidak akan bisa menembus proteksi rumah ini. Hanya yang tahu cara menerobos mantra proteksi disini yang bisa mengaksesnya."

Harry tidak sadar ia mulai mengoceh sepanjang itu. Diluar perkiraannya juga bahwa Malfoy mendengarkannya.

"Dan itu bukan sembarang orang," sambung Malfoy beberapa menit kemudian.

Harry mengangguk, "Itu benar."

Ia mendengar Malfoy menghembuskan napas berat. Ekspresinya sulit dibaca. Tetapi ada langkah lain yang tak seimbang memasuki dapur. Harry menoleh dan mendapati dirinya tertegun. Draco Malfoy juga menyadari arah pandangan Harry. Pemuda itu terduduk tegak dan mengubah ekspresinya menjadi sebuah senyuman cerah versi Draco Malfoy.

"Ibu!" suara Malfoy bergetar mengucap kata itu.

Wanita itu berusaha berdiri tegak. Susah payah ia mempercepat langkahnya tapi ia masih saja sempoyongan. Draco berdiri dan menyongsong wanita itu, disambarnya kedua lengan sang ibu dan dipapahnya wanita ringkih itu menuju konter dapur kuno.

"Aku bisa sendiri, Son," kata Narcissa lemah.

Draco menggeleng dan mengeluarkan senyumnya lagi untuk wanita itu. "Harusnya aku ada saat kau butuh. Seperti dirimu yang selalu ada untukku," bisik Draco rendah ditelinga Narcissa dan membuatnya mengeluarkan senyuman yang mirip dengan putranya.

"Well, aku tidak akan membutuhkanmu untuk sekedar mengambilkan obatku seperti ini saat Dokter Granger berhasil menyembuhkanku," kata Narcissa sedih.

Draco menuangkan segelas air untuk ibunya. Narcissa menerima dan meminum obatnya yang berupa pil dan kapsul. Obat muggle.

"Akan kuantar Ibu ke kamar, atau mungkin Ibu ingin ke perpustakaan?"

"Kamar. Obat ini menimbulkan kantuk, aku pasti tertidur sebentar lagi," lirih Narcissa.

Mereka berdua berbalik dengan Draco yang masih merangkul sebelah tubuh Narcissa. Narcissa mengedarkan matanya dan menemukan Harry mengawasi mereka.

Harry bangkit dan tersenyum canggung. Ia merasa telah merusak momen ibu dan anak saat ini. Narcissa membelalak, "Harry Potter," katanya.

"Senang bertemu denganmu, Mrs. Malfoy," kata Harry sopan.

Wanita itu mengangguk dan tersenyum sopan, "Bekerjasama dengan putraku, kalau begitu?" tanyanya penasaran.

"Begitulah," jawab Harry agak tidak yakin.

Draco kemudian membawa Narcissa ke kamarnya dan meninggalkan Harry sendirian di dapur itu. Harry takjub dengan pemandangan yang baru saja ia saksikan. Seorang Draco Malfoy yang angkuh, sombong, dan arogan, berubah menjadi seorang yang hangat dihadapan ibunya. Ini kali pertamanya ia melihat senyuman Malfoy yang begitu tulus kepada ibunya. Harry menanggung rasa iri yang berat karena, ia tak pernah bisa melakukan apa yang baru Draco Malfoy lakukan kepada ibunya sendiri. Mendadak ia merindukan orang tuanya.

Draco Malfoy kembali dan duduk ditempatnya semula. Harry mengamatinya dan bibirnya terbuka sebelum ia sendiri bisa mencegahnya.

"Apa ibumu tadi bicara tentang Dokter Granger?" tanyanya.

Draco mengawasi matanya sebelum mengangguk. "Ini tamparan untuk keluarga kami," katanya. Telapak tangannya menggenggam erat menahan apapun itu yang sedang ia rasakan.

"Malfoy," panggil Harry sementara Draco hanya memandangnya dengan marah, "kau beruntung masih memiliki orang tuamu," kata Harry yang tiba-tiba merasa kasihan dengan orang itu.

Draco mendecih dan menurunkan matanya, "Anak mana yang ingin memiliki ayah pelahap maut, Potter?"

"Paling tidak kau memiliki kesempatan untuk melihat mereka dan tumbuh dalam pengawasan mereka. Paling tidak kau tidak kehilangan mereka bahkan sebelum kau bisa mengelap liurmu sendiri," ujar Harry kosong. Hatinya mengerut sedih mengingat orang tuanya.

"Ibuku sakit kanker paru-paru. St. Mungo tidak bisa mengobatinya karena itu bukan penyakit atau luka-luka sihir. Aku berpikir untuk membawa ibu ke rumah sakit muggle dan aku terkejut melihat pria yang merawat ibuku. Seorang pria seusia ayahku yang pernah kutemui dulu di Flourish and Bloots awal tahun keduaku di Hogwarts," kisah Draco dengan memandang udara kosong didepannya.

"Ayah Hemione?" tanya Harry terkejut.

Pemuda pirang itu mengangguk, telapaknya kini menutupi mukanya yang memerah. "Aku menyesal, Potter. Dengan apa yang pernah kulakukan dulu. Kepada Granger terutama. Saat aku melihat ayahnya bekerja keras untuk menyembuhkan ibuku, rasanya..."

"Aku mengerti, Malfoy. Tapi lebih baik kita fokus ke permasalahan ini, oke?"

"Jadi, siapa nama yang kau tahu, yang berhasil lolos dari Kementerian?" desak Harry lagi kali ini lebih antusias.

Keduanya kembali berdiskusi. Draco menyebutkan dua nama yang menurut Harry meragukan. Catatan Kementerian membuktikan kedua nama itu sudah mati, tapi Draco membantah dan mulai berspekulasi.

"Aku melihat mereka, atau sesuatu yang seperti mereka berjalan keluar Aula Besar ditengah perang. Tapi aku sendiri tidak tahu apakah sekarang mereka masih hidup atau tidak," sangkal Draco tak yakin.

"Tapi Malfoy, mereka mati disana. Bill menemukan mayat mereka," kata Harry.

"Potter, kalau kau menyuruhku menyebutkan nama yang kutahu tentang pelahap maut, merekalah yang kutahu."

"Tapi bagaimana bisa begitu sementara mayat mereka sudah ditemukan?"

"Aku tak tahu!" kata Malfoy frustasi dan kesal.

"Oke baiklah. Akan kuselidiki lagi nama itu nanti," kata Harry menyerah dengan perdebatan mereka.

Jeda sesaat ketika keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba perapian menyala dengan api hijau yang biasa dan seorang wanita keluar dari sana. Ia mengibaskan debu dari jubahnya dan terkejut melihat dua orang yang saling diam dalam satu meja.

"Bagus jika kalian sudah mulai. Aku akan melihat Narcissa," kata Andromeda sambil lalu kepada Harry dan Draco.

Harry tersenyum. Andromeda yang telah membuat Harry setuju untuk menangani kasus ini. Sekarang ia dibuat bingung oleh Draco yang menyebutkan dua nama yang dianggapnya telah meninggal.

Draco meliriknya sekilas. Ia berterimakasih dalam hati karena Potter bersedia membantunya. "Kau bisa melanjutkan penyelidikan besok. Aku harus pergi ke St. Mungo," kata Draco lebih tenang.

Harry bangkit dan beranjak pergi. Namun begitu ia sampai dilangkah ketiga ia berbalik menghadap Malfoy yang masih duduk ditempatnya. "Apa kau sudah memberitahu ibumu tentang Timby?" tanyanya ragu.

Ia melihat Draco menggeleng. Bibir bawahnya terapit diantara kedua giginya. Dari sini, ia jelas terlihat agak berantakan. Harry mengerti ini berat untuk pria itu, satu anggukan kepada Malfoy dan dia pergi meninggalkan rumah besar itu.

.

.

.

Salju turun malam itu. Pernak-pernik natal yang menghiasi malam yang gelap berpendar dan membuat salju berkilauan. Diatas jembatan batu yang sepi, terdengar bunyi 'plop' yang memecah keheningan tengah malam. Seseorang yang muncul dari bunyi 'plop' itu memandang sekeliling untuk memeriksa sekitar. Pekerjaannya memembuatnya terbiasa untuk bersikap waspada. Sejak keluar dari kantornya ia merasa diikuti oleh seseorang—atau sesuatu—yang membuat suasana hatinya tak nyaman.

Setelah memastikan ia sendirian, ia mulai berjalan. Sepatunya melesak dalam salju dan menimbulkan jejak kubangan yang bertambah banyak seiring langkahnya. Rumahnya adalah rumah nomor tiga setelah jembatan batu. Tepat didepan rumahnya, ada sebuah tugu peringatan untuk pahlawan muggle yang berjasa atas wilayah itu. Ia bisa melihat tugu itu menghalangi pandangannya untuk melihat rumahnya yang berbata merah.

Ia merapatkan tudung jubahnya kasar dan tersenyum melihat sesuatu yang terbungkus kertas tebal dipelukannya. The Talking Puppet. Mainan sihir yang sedang trend saat ini. Dibelinya tadi pagi saat melakukan kunjungan ke Diagon Alley. Cucunya pasti senang menerimanya sebagai hadiah natal nanti.

Tanpa disadarinya, ada sepasang mata yang berkilat menahan kesal mengawasinya. Orang itu mengendap-endap mengikuti, tapi langkahnya aneh. Untuk sesaat Si Penguntit berusaha berbalik dan menjauh, tetapi tubuhnya tersentak dan wajah kelabunya meringis kesakitan. Lalu ia melanjutkan mengikuti targetnya yang sudah mencapai rumah kedua.

Dengan kecepatan yang tak biasa, Si Penguntit berlari dan menghadang orang itu. Orang itu terkejut dan otomatis mengeluarkan sebuah tongkat dari saku jubahnya.

"Siapa kau?" tanyanya curiga.

Si Penguntit menyeringai kejam dan tertawa, "Selamat malam, Jeremy," sapanya dengan suara menggeram yang sudah lama tak didengar Jeremy.

Jeremy mengernyit, "Kau? Bagaimana bisa?" tanyanya keheranan. Ia mencengkeram tongkatnya semakin erat dan bersiap melancarkan beberapa kutukan untuk Si Penguntit.

"Tentu saja aku bisa," suara berat Si Penguntit menggema, sebelum Jeremy bisa melawan, Si Penguntit telah merangsek maju hingga keduanya bertubrukan dengan Jeremy berada di posisi yang kurang menguntungkan.

"Kau sudah mati!" kata Jeremy susah payah karena orang itu menekan dadanya dengan lengannya yang kuat.

Mereka bergelut diatas salju, Si Penguntit mencabik Jeremy. Jeremy melolong tapi orang itu tak peduli. Kuku tangannya yang tajam dan runcing telah menorehkan luka dilengan kiri Jeremy yang menjerit-jerit kesakitan. Salju disekeliling mereka banjir darah. Si Penguntit berhasil melukai kedua pergelangan tangan Jeremy dengan taringnya, darah menyembur dari kulitnya yang robek. Jeremy lemas dan tak bisa melakukan banyak perlawanan selain berkelit menghindar. Tongkat sihirnya terlempar dan begitu pula The Talking Puppet untuk cucunya.

Saat Si Penguntit tengah meninju perut Jeremy, mendadak saja ia berhenti seperti tersadar akan sesuatu. Matanya membelalak melihat pemandangan didepannya. Seorang pria paruh baya yang sedang meregang nyawa. Darah dimana-mana, keadaan sekeliling mereka berantakan.

"Oh, Tuan. Apa yang telah aku lakukan?" kata Si Penguntit kebingungan memandangi jubahnya yang berlumur darah. Suaranya tidak lagi menggeram seperti tadi.

"Tidak!" katanya ketakutan saat tubuh Jeremy tiba-tiba berhenti bernapas. "Tidak!" serunya pelan dan panik. Ia harus pergi dari tempat ini sebelum ada saksi. Ia tak mau dituduh lagi setelah kejadian disekolah kemarin.

Ia berlari terpincang-pincang meninggalkan tubuh Jeremy yang mulai kaku. Si Penguntit sesenggukan dan terus berlari. Ia tidak tahu bagaimana. Ia tak mengerti kenapa. Dipercepat larinya yang pincang dan ketakutan. Tanpa ada yang melihat, ia menghilang dibalik gedung-gedung pabrik tua.

.

.

.

Wilayah yang terkenal damai di pinggiran kota mendadak riuh dengan suara sirine polisi. Garis polisi melintang disekeliling mayat yang membiru didekat tugu yang tertutup salju. Seorang wanita dengan celana jeans pudar menangis terduduk tepat diluar garis polisi sambil memeluk boneka. Seorang ahli forensik setempat berada didalam pagar mengambil beberapa foto dan sampel darah dijubah mayat.

Beberapa warga yang penasaran mendekat dan berkerumun. Saling berbisik dan berpendapat. Mereka yang datang belakangan saling mengintip dibalik bahu orang yang berada didepan mereka. Begitu pula tiga orang yang baru datang disana, mereka mendesak maju dengan penasaran. Beberapa orang lain kemudian bermunculan disekitar tempat itu. Tidak ada yang menyadari bahwa rombongan orang terakhir itu muncul dari ketiadaan.

"Clarissa?" suara itu membuat wanita dewasa yang menangis terduduk itu menoleh. Ia menyadari siapa pria yang membungkuk dan memegang bahunya ini. Tetapi yang dilakukannya sekarang hanyalah menangis.

"Clarissa, aku akan membawamu masuk rumah. Biar Harry dan Ron yang mengurusnya," kata teman pria itu, seorang wanita yang selalu ada untuk membantu apapun masalah kedua temannya.

Clarissa mengangguk lemah. Dengan bantuan Hermione, ia berdiri membawa boneka dan tongkat sihir yang ditemukan bersama jasad ayahnya. Ia begitu shock saat dua orang polisi mengetuk pintu rumahnya dipagi buta. Keluarganya jarang sekali berurusan dengan muggle sehingga dia agak kurang percaya dengan apa yang dikatakan polisi tersebut kepadanya. Bahwa ayahnya ditemukan meninggal didekat halaman rumah mereka.

Ia memang sendirian dirumah saat itu. Tunangannya menginap di Paris untuk dua minggu bersama putri mereka. Malam itu ayahnya juga tidak pulang, tetapi ia tak khawatir. Ayahnya sering berbuat begitu. Sejak ibunya meninggal, ayahnya berubah menjadi seorang workaholic.

"Minumlah, Clarissa," kata Hermione sambil menyodorkan segelas air untuk wanita malang itu.

Clarissa menerimanya tanpa protes. Hermione sangat baik padanya meskipun ia tak begitu mengenalnya. Hermione meletakkan boneka berbentuk gadis kecil dan sebuah tongkat sihir di nakas disamping sofa yang mereka duduki. Ia merangkul pundak Clarissa seraya membisikkan kalimat-kalimat yang menenangkan. Clarissa masih terisak, tetapi tak separah tadi. Sekitar satu jam mereka duduk, Harry dan Ron menerobos masuk ruang tamu tanpa mengetuk.

"Bagaimana Daddy?" serobot Clarissa tanpa menunggu Harry dan Ron mengambil napas.

"Well," Harry mendesah tak nyaman, memandang Clarissa yang pipinya basah. "Ini mungkin sulit untukkmu menghadapinya. Polisi tidak tahu apa yang membunuh ayahmu, begitu pula kami," kata Harry mencuri pandang pada Ron yang tidak membantu.

"Bagaimana dengan jenazah Daddy?" rintih Clarissa pelan.

"Kami berhasil meyakinkan polusi itu untuk tidak melakukan adopsi lebih lanjut terhadap jenazah Mr. Bones. Jasadnya akan segera diurus oleh rumah sakit," kata Ron.

Hermione mengernyit, "Polisi, Ron. Dan yang benar otopsi bukan adopsi," koreksinya.

Muka Ron memerah mendengar Hermione tapi gagal mengucapkan protes. Ron juga seorang auror, sama seperti Harry. Hanya saja Ron berada di Divisi Ilmu Hitam, sedangkan Hermione bekerja di Departemen Penegak Hukum Sihir, yang sudah berhasil mengeluarkan undang-undang tentang peri rumah.

"Clarissa, sebaiknya kau menghubungi tunanganmu. Dia perlu tahu tentang keadaan ayahmu," saran Hermione.

Clarissa setuju dan pamit masuk untuk mem-floo tunangannya. Begitu ia menghilang, Harry dan Ron bergegas duduk dengan tampang serius.

"Persis seperti peri-rumah Malfoy," kata Harry tiba-tiba.

Ron dan Hermione memandangnya tak percaya. Harry telah memberitahu kedua sahabatnya untuk membantunya mengenai kasus Timby. Sepulang dari Malfoy Manor hari itu, ia mengontak Hermione dan Ron untuk diajak bekerjasama. Malfoy setuju saja dengan apa yang dilakukan Harry, karena ia sendiri yakin bahwa akan membutuhkan waktu sangat lama untuk menangani kasus Timby jika mereka hanya bekerja berdua, mengingat hubungan keduanya yang tak begitu baik.

"Mungkinkah keduanya berkaitan?" tanya Ron.

Hermione menggeleng, "Kita tidak bisa langsung memutuskan. Harry, aku ikut dalam kasus ini. Aku akan membantumu," katanya, yang ia maksud adalah kasus Mr. Bones.

"Apa tidak ada bukti untuk penyelidikan kita? Sebuah bukti sihir dan bukannya sampel darah?" kata Ron lebih kepada Harry.

Harry menggeleng frustasi, "Tidak ada apapun di..."

"Ada," potong Hermione cepat.

"Apa?" seru Harry dan Ron bersamaan.

Tetapi Clarissa memasuki ruangan itu ketika mereka berdua akan bertanya lebih lanjut kepada Hermione.

"Gustave akan kembali ke Inggris secepatnya. Aku akan merasa lebih baik ketika ia pulang," katanya sedih dan menerawang.

"Baiklah, Clarissa. Kami pikir kami juga harus pergi. Kingsley akan segera mengunjungimu setelah ini," kata Hermione ramah.

"Kita pulang?" tanya Ron keheranan, "kupikir kita akan...," tetapi Harry memberinya tatapan untuk tidak menginterupsi Hermione sehingga Ron langsung diam.

"Clarissa, bolehkah kami membawa boneka dan tongkat sihir ayahmu?" bujuk Hermione, "untuk penyelidikan," tambahnya ketika melihat mimik ragu Clarissa.

"Tapi penyihir dimakamkan bersama tongkatnya," kata Clarissa tak rela.

"Kami janji itu tidak akan lama. Maksimal satu minggu," tambah Harry meyakinkan.

Clarissa setuju. Mereka bertiga berpamitan dan langsung ber-apparate didepan pintu menuju atrium Kementerian.

"Apa yang bisa dibuktikan dari sebuah boneka berambut pirang?" tanya Ron mencibir begitu kaki mereka mendarat dengan mulus di lantai keramik atrium.

"Kau akan tahu, Ron, ketika aku memberitahumu," kata Hermione menampilkan ekspresi bersemangatnya yang biasa.

"Tapi itu cuma boneka, kan?" tanya Harry yang sama tak yakinnya dengan Ron.

"Kalian tak tahu, ya? Ini bukan sekadar boneka. Ini," kata Hermione memberikan jeda yang dramatis, "adalah The Talking Puppet."

.

.

.

TBC

.

.

.

a/n: Special thanks to Steve yang menginspirasiku dengan The Talking Puppet. Terimakasih sudah membaca. Jangan sungkan kasih review, ya. Dan makasih buat yang udah review. See you next chapter!