CHOCOLAPUT PRESENT

HARRY POTTER AND THE MYSTERY OF THE BEAST

CHAPTER 4: THAT BOY

.

.

.

DISCLAIMER: Belongs to J.

.

.

.

a/n: yeah chapter 4! Happy reading. Hati-hati dengan typo(s).

.

.

.

Draco Malfoy tak pernah menyangka hari seperti ini akan datang pada hidupnya. Dulu ia tak pernah menyangka akan menjadi healer. Tetapi menjadi healer adalah hal terbaik yang mampu dilakukannya saat ini, dan itu menakjubkan. Dalam setiap hari yang ia lalui selalu ada kejutan. Selalu ada orang yang berterimakasih kepadanya karena sesendok ramuan yang ia berikan kepada mereka. Selalu ada keajaiban saat ia menolong seseorang yang tak berdaya. Keajaiban yang lebih mujarab daripada sihir itu sendiri.

Dan selain berbagai macam penyakit sihir yang ia jumpai setiap hari, ada satu hal yang lebih aneh daripada itu semua. Menghabiskan makan siangnya di café muggle. Berada ditempat ini untuk pertamakalinya dengan jubah healer yang lengannya ternoda serta teman duduk yang tak pernah ia perkirakan. Draco Malfoy duduk dalam satu meja bundar yang sama bersama Harry Potter dan Hermione Granger. Oh, kakek moyangnya pasti akan geli melihat hal ini.

Lebih daripada itu, hampir semua orang di café itu meliriknya. Sudah sepuluh menit ketiganya menikmati makan siang, tetapi tak seorangpun ditempat itu yang tidak memperhatikannya. Ia jadi merasa risih sendiri.

"Apa ada sesuatu diwajahku?" tanyanya asal pada kedua teman duduknya.

Pemuda berkacamata menggeleng sementara teman ceweknya mengangguk terang-terangan. Draco mengernyit pada cewek itu sehingga yang dipandangnya mendengus.

"Malfoy, aku tahu ini bukan pertamakalinya kau didunia muggle. Tapi, setidaknya perhatikan pakaianmu, dong! Itu sangat mencolok dimata mereka," desis cewek itu keras-keras.

"Granger, aku terburu-buru. Lagipula ini cuma pakaian kerja biasa," komentarnya seraya menyusurkan jemari dirambutnya yang pirang mencolok. Saat ia melakukan itu, segerombol cewek disudut terkikik keras bersamaan, membuat Hermione Granger mem-puh mereka.

"Tidak cukup biasa ditempat ini," kata Hermione.

Melihat Draco yang nampak ingin mendebat Hermione, Harry menyela dengan gaya seorang penengah. "Cukup! Kita mulai diskusi saja," ajaknya.

Keduanya terkejut mendengar Harry yang bersikap bijak. Seorang pelayan mendatangi meja mereka dan membawakan tiga gelas minuman untuk mereka. Harry dan Hermione mengangguk untuk berterimakasih pada pelayan itu. Ketika pelayan itu telah berbalik, Harry beringsut dikursinya untuk mendapatkan perhatian dari Hermione dan Malfoy.

"Apa kau sudah menerima kunjungan dari Kantor Auror?" tanya Harry. Ia menyuruh seorang auror junior untuk mengecek apakah ada kesamaan antara luka-luka dijasad Timby dengan Mr. Bones. Harry pikir, sekarang bukanlah saatnya untuk menyembunyikan segala sesuatu dari Kementerian. Memang tidak banyak yang tahu, tapi paling tidak ia telah memberitahu Pak Menteri.

"Yeah, mereka memberitahuku kalau atasanmu meninggal," kata Draco datar.

"Dibunuh lebih tepatnya," kata Hermione tiba-tiba.

Draco belum tahu tentang hal ini sehingga ia tampak terkejut. "Sudah dua pembunuhan dan pembunuh sialan itu berhasil membunuh kepala Divisi Kriminal," komentar Draco. "Apa sebenarnya yang akan kita diskusikan disini?"

"Well," Harry menghembuskan napas dalam seolah mencari udara yang paling segar, "sebenarnya, Malfoy, kami baru saja menyimpulkan kalau yang membunuh atasanku dan perimu adalah orang yang sama. Atau sesuatu yang sama."

Malfoy tidak tampak terkejut kali ini, sepertinya dia sudah menduga apa yang akan dikatakan Harry sebelumnya. "Jadi, apa?" ringkasnya dengan muka keras tanpa ekspresinya. Mungkin begitulah caranya menunjukkan rasa kesalnya.

"'Jadi, apa' bagaimana?" tuntut Harry tak mengerti.

"Apa yang kau minta aku lakukan sehingga kalian repot-repot memintaku datang kesini?" nada angkuhnya sudah mulai terdengar lagi.

"Kau akan ikut kami, Malfoy. Ke Kantor Polisi untuk mengambil bukti yang bersangkutan dengan kematian Mr. Bones. Kemungkinan, dilihat dari cara pelaku melukai korbannya, kita juga akan menemukan siapa yang membunuh Timby jika kita tahu siapa pembunuh Mr. Bones," jelas Hermione panjang.

Sikap sok tahu Hermione membuat Malfoy memutar matanya saat mendengar hal itu. Setelahnya ia mengangguk dan kelihatannya ia hanya bisa menangkap satu hal selain wajah Hermione yang terlalu mirip Dr. Granger, "Apa itu Kantor Polisi?"

Alis Hermione dan Harry terangkat bersamaan, "Demi Tuhan, Malfoy. Kau tak mengerti?" kata Hermione histeris.

Malfoy menggeleng tanpa dosa, dan untuk pertamakalinya, Harry dan Hermione mendapatkan cengirannya. Hermione mulai mengoceh lagi tentang apa itu kantor polisi kepada Draco Malfoy.

"Tunggu dulu," ujar Malfoy pelan dengan tatapan mengawang, "jika kau berpikir kematian Mr. Bones dan Timby berkaitan, apakah kau masih berpikir ini ada hubungannya dengan Pelahap Maut?" tanyanya kepada Harry.

Harry mengangguk pelan. Ia ingat kejadian beberapa minggu lalu ketika Mr. Bones memasuki ruangannya yang berantakan, memberitahunya bahwa Eliksir Steab dicuri, menyelidiki Gringoots Bank, dan menyimpulkan bahwa mungkin saja pencurinya adalah Pelahap Maut yang lolos dari Kementerian. Lalu, ia juga ingat bagaimana Malfoy memberitahunya nama dua Pelahap Maut yang tidak pernah ditangkap Kementerian karena keduanya tewas saat perang. Atau hanya dikira tewas. Lambat Harry menyadari bahwa mungkin saja ada sesuatu yang berkaitan dan ia bisa tahu siapa atau apa yang telah berbuat begitu kejam kepada peri-rumah dan Mr. Bones.

"Tapi aku tidak tahu bahwa orang itu punya hubungan dengan Pelahap Maut. Mana mungkin ia dibunuh begitu saja oleh mereka?" tanya Draco, yang dimaksudnya tentu saja Mr. Bones.

"Malfoy, Mr. Bones adalah salah satu aset Kementerian untuk memberantas pendukung Voldemort (Draco berjengit jijik mendengar nama itu disebutkan) baik di perang pertama maupun kedua. Pastinya, ia punya banyak musuh jahat yang menyimpan dendam padanya. Dan kita tidak bisa menyimpulkan begitu saja bahwa ini memang ulah Pelahap Maut. Kita belum punya cukup bukti untuk itu," kata Hermione dengan kalimat cerdasnya yang membuat kedua pria itu mengangguk paham.

"Astaga!" seru Harry tiba-tiba, membuat Hermione dan Draco terlonjak.

"Ada apa, sih, Harry?" tanya Hermione kesal karena Harry telah membuatnya terkejut.

Muka Harry mendadak tampak gugup dan bersemangat secara bersamaan. Ia memandang Hermione dan Draco bergantian dengan sorot berbinar di mata hijaunya.

"Air terjunnya!" serunya lagi.

"Apa?" tanya Hermione dan Draco bersamaan merasa penasaran.

"Hermione, kau ingat air terjun di Gringoots dulu? Saat kita terguyur airnya semua mantra penyamaran atau apapun mantra yang ada pada diri kita menghilang. Dan air terjun itu memiliki semacam alarm untuk memberitahu bahwa ada orang yang masuk secara ilegal. Aku baru sadar bahwa Goblin mengetahui hilangnya Eliksir Steab saat melakukan pemeriksaan rutin bulanan yang kebetulan dilakukan esok harinya. Dan juga, saat aku dan Mr. Bones turun, kami tidak melewati air terjun bawah tanah itu. Hermione, ada yang membuat air terjunnya berhenti mengalir."

"Jadi itulah mengapa para Goblin tidak langsung tahu pembobolan itu," tukas Hermione sengit.

"Dan aku pernah tahu orang yang melakukan hal semacam itu," ujar Draco santai.

Kali ini giliran Harry yang terkejut. Kenapa, pikirnya, ia tidak memberitahu Mr. Bones tentang air terjun bawah tanah itu saat beliau masih hidup. Padahal, dia menyadarinya saat itu. Tetapi karena Mr. Bones mengajaknya kembali, ia lupa begitu sampai di kantor.

"Siapa, Malfoy?" kata Hermione takut-takut. Ia takut mendengar apa yang akan diucapkan Draco setelah ini.

Harry terdiam, ia menunggu Draco mengucapkan sesuatu sementara Draco meiriknya ragu-ragu.

"Ini tentang orang yang kita bicarakan malam itu, Potter," ujar Draco. Harry menggigit bibir bawahnya, merasa tak yakin dan mengernyit.

"Siapa, Malfoy?" tanya Hermione untuk kedua kalinya.

Draco pun ragu, tapi sedetik kemudian dia berkata, "Antonin Dolohov," dan ia tahu bahwa napas kedua teman duduknya tercekat.

Fakta dimana Draco Malfoy menyebutkan nama orang yang sudah mati membuat Hermione merinding. Ia melihat mayat Dolohov disana dua setengah tahun lalu, ia membantu menguburkan mereka, baik para pahlawan perang maupun Pelahap Maut, di halaman Hogwarts yang paling jauh dari kastil. Ia tahu persis dimana posisi kuburan Dolohov. Selama ini ia sudah mati dan tidak mungkin dia bisa bangkit.

"Tidak, Granger. Dolohov tidak bangkit dari kubur. Aku bahkan tidak yakin dia pernah mati," ujar Draco seolah ia tahu apa yang sedang Hermione coba simpulkan.

Hermione menyangkal, "Tapi aku membantu pemakamannya. Aku melihatnya. Aku melihat jenazahnya," rintihnya. Tangannya gemetar memikirkan Antonin Dolohov yang dikiranya sudah mati mencuri sesuatu dari Gringoots.

"Yeah, kau boleh saja melihat mayatnya. Tapi aku yakin sebelum perang meletus kembali, ketika aku memutuskan untuk...pergi, aku melihatnya melalui kami. Berlari menuju Hutan Terlarang. Dia bahkan sempat mengangguk kepada ayahku," kisah Malfoy.

"Oke, aku tahu ini mengejutkan. Tapi kami perlu mendengarmu tentang sihir air terjun itu, bagaimana itu dilakukan, kapan kau melihatnya, dan apa yang disihirnya," putus Harry ketika ia sadar pembicaraan ini sudah sampai kemana-mana.

"Kupikir ini bisa menunggu. Kita belum tahu pasti apakah kasus ini saling berhubungan atau tidak. Lebih baik kita segera mengunjungi Kantor Polisi itu untuk mengambil bukti yang kau bicarakan tadi," usul Draco. Melirik matahari yang mulai condong ke barat sementara pembicaraan ini membuat Draco ngeri, betapa banyaknya waktu yang telah ia habiskan bersama dua orang yang paling dia benci semasa sekolah.

.

.

.

Bagi Draco Malfoy, Kantor Polisi adalah hal yang sangat baru setelah mobil milik Hermione yang membawa mereka bertiga kesini. Gedungnya kelihatan agak miring dengan cat dinding kusam dan bebercak air hujan. Didalamnya, ada banyak sekali orang yang berlalu lalang dan sibuk dengan kepentingan masing-masing. Segerombol orang yang dikiranya polisi merangsek masuk dan membuat rombongan kecil mereka terhimpit ke dinding. Seseorang diantara segerombol polisi itu—satu-satunya yang tidak berseragam—meronta begitu keras. Tangannya menyatu dibelakang punggungnya.

Hermione, yang berdiri diantara dirinya dan Harry, meremas ujung mantel dua pria dikiri-kanannya. Ia mengawasi mereka sesaat sebelum berkata "Ayo," dan dua pria itu mengekor Hermione. Mereka bertiga melewati koridor panjang dengan ruangan yang sibuk dikedua sisinya. Lantai marmer putih yang tak kalah kusam tampak kotor dan penuh jejak kaki menyilang, Draco menemukan tumpukan salju yang entah bagaimana bisa masuk disalah satu sudut koridor.

Tetapi, ini cuma Kantor Polisi kecil yang berlokasi disektor itu. Ketika mereka sampai diujung koridor, Hermione lagi-lagi memimpin memasuki sebuah ruangan yang jauh lebih rapi dibandingkan koridornya. Jendela diruang itu lebar dan dibuka, membuat sebuah lapangan yang dipenuhi remaja diseberang sana terlihat begitu jelas. Angin bersalju menerobos masuk, tetapi ruangan itu hangat sekali.

'Ini pasti kerja listrik,' batin Draco tak mengerti kenapa diruangan dengan angin yang menerobos bebas bisa memiliki suhu begini hangat.

Sebuah meja kaku besar dengan kursi tinggi diletakkan disudut terjauh dari jendela. Sementara, ada sofa empuk pink cerah yang berdiri ditengah ruangan. Karpet berwarna ungu tua menutup lantai jelek itu dan kesan feminim menyeruak dengan warna-warna serba cerah untuk semua perabot disitu. Bantal sofa, lemari arsip, taplak meja berwarna kuning. Rak buku, sofa yang tadi, tempat pensil dimeja besar, seluruh map yang memenuhi separuh dinding disebelah pintu, beberapa pigura dengan foto yang tak bergerak, berwarna pink. Cuma komputer dan meja besar itu yang tidak berwarna feminim.

Seorang wanita berpotongan rambut pendek dan berwajah cerah menyambut ketiganya dengan salaman hangat. Ia menyilakan mereka duduk disofa yang sangat empuk dan hangat. Draco duduk dengan kikuk dan merasa aneh dengan bantal kuning disofa itu.

"Aku sudah menunggumu Mr. Potter," sapanya ramah terhadap Harry akan tetapi ia terus-terusan melirik Draco yang mengernyit tak nyaman disofanya. Anehnya, dibalik semua kefeminimannya, wanita yang kira-kira berusia tigapuluhan itu memiliki suara seperti laki-laki.

Harry tersenyum membalas sapaan wanita itu dan mengangguk agak gugup. Bagaimanapun juga, wanita itu menghiraukannya dan memilih mengambil sesuatu dari mejanya, mengitari sofa, kemudian duduk di kursi malas disamping sofa itu.

"Bagaimana hasil penyelidikannya, Mrs. Bowman?" tanya Harry langsung penuh harap.

Tanpa diduga, raut Mrs. Bowman berubah menjadi agak merengut. Ia mendesah pelan sebelum berkata, "Aku tahu ini buruk, tapi kau harus mendengarnya Mr. Potter. Sidik jari dan sampel darah yang ada dimantel korban membuktikan bahwa pelakunya adalah..." ia menggantung kalimatnya untuk mengeluarkan suara yang mirip isakan, "...seorang remaja. Astaga, ia bahkan masih delapan belas!" serunya histeris tiba-tiba.

Harry, Hermione, dan Draco terperanjat di sofa mereka. Ini jelas jauh dari apa yang mereka harapkan. Harry berbisik menyuarakan apa yang ada dipikirannya, "Apakah polisi menghubungi orang tuanya?"

Mrs. Bowman mengiyakan. "Neneknya," katanya, "ia tinggal bersama neneknya. Ini pelanggaran hukum yang sangat berat, sebenarnya. Pembunuhan sadis. Tapi, kau sebagai keluarga meminta kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan," gerutunya sembari mengangguk-angguk.

Harry yang mendatangi Kantor Polisi lagi sehari setelah kejadian, mengaku sebagai sepupu jauh Mr. Bones. Ia sengaja meminta Polisi untuk tidak menahan siapapun yang terbukti membunuh Mr. Bones. Ia tidak mau ada muggle yang terlibat. Tetapi mengingat yang menemukan jenazah Mr. Bones adalah seorang muggle, Harry hanya bisa berusaha meminimalisir jumlah mereka yang ikut campur disini. Alasan ingin menyelesaikan masalah secara kekeluargaan memang lemah. Sayangnya Mrs. Bowman terlalu panik saat itu untuk menyadarinya. Seperti di dunia sihir, dunia muggle pun mengalami penurunan tindak kriminal beberapa waktu ini.

"Apakah Anda yakin, Mrs. Bowman, bahwa pelakunya adalah seorang remaja? Karena kami awalnya menduga dia seseorang yang lebih tua," Hermione mengucapkan sangkalannya sesopan mungkin. Ia sendiri tak yakin akan apa yang baru saja dikatakan polwan itu.

Mrs. Bowman mengangguk seraya merengut, "Ini berkasnya, seperti yang diminta oleh Mr. Potter. Semuanya jelas tertera disitu. Remaja SMA. Sebenarnya penyelidikan ini tak begitu sulit dilakukan, anak itu kelihatan sangat ketakutan saat polisi mendatangi rumahnya, tapi ia tak berusaha kabur. Neneknya panik tapi berhasil ditenangkan. Rupanya, cucunya telah bercerita semuanya padanya. Anak itu sangat jujur," kisah Mrs. Bowman dalam sebuah suara yang berat. Tampaknya, semakin berat beban pikirannya, suara yang mirip lelaki itulah yang mendominasi tenggorokannya.

Draco diam namun memperhatikan. "Kutukan Imperius, sudah jelas," gumamnya tanpa sadar membuat Mrs. Bowman makin memusatkan perhatian padanya.

"Maaf?" desak Mrs. Bowman penasaran dengan arti kata yang baru saja dikatakan Draco. Ia jelas mendengar sesuatu yang asing dari bibir pria itu.

Draco menggeleng terkejut karena polisi itu menyadari ucapannya. "Tidak. Maksudku, ini kasus yang serius. Sangat serius," gagap Draco yang mendapat lirikan tajam dari Hermione karena keceplosan bicara.

"Itulah yang berusaha kukatakan sejak tadi Tuan. Sayang sekali kau baru menyadarinya sekarang," sindir Mrs. Bowman yang salah sangka terhadap Draco. Draco sadar, sangat sadar malah, kalau ia sedang terlibat dalam kasus menyebalkan yang menyita waktunya. Hal terakhir yang diinginkannya adalah keterlibatan muggle, terutama polisi.

Hermione beringsut dalam duduknya, menyikut Harry pelan. Menyampaikan kode untuk mengambil alih percakapan. Harry mengerti dan mengiyakan dengan tatapan matanya. "Bolehkah kalau saya—maksudku—kami meminta alamat remaja yang kau maksud, Mrs. Bowman? Karena mungkin saja anak itu menderita kelainan atau apa sampai tega melakukan hal semacam itu," ujar Hermione dengan lugas, "dan kami masih ingin menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan," tuntasnya.

Rambut Mrs. Bowman bergoyang kala ia merunduk untuk mendelik kepada Hermione. "Sejujurnya, Miss, dia bahkan bukan anak-anak lagi. Tapi kalau itu yang kalian pilih akan kuberikan alamatnya," ia menarik secarik kertas dari mejanya dan kembali lagi dengan kertas tesebut yang telah ditulisi huruf sambung rapi dengan pena.

"Ini dia," ia menyerahkannya kepada Hermione. "Menurutku, sangat tidak bijak menyembunyikan penjahat dirumah. Biarkan hukum bertindak dan kau akan aman, sekadar menyarankan saja," ujarnya pelan.

Mereka bertiga lalu berpamitan dan segera menuju mobil Hermione untuk sampai dialamat yang tertulis rapi dikertas itu.

.

.

.

Itu adalah rumah muggle yang paling menyedihkan menurut Harry. Sangat jauh dari rumah Paman Vernon yang dulu pernah ditinggalinya, rumah ini jauh dari kata nyaman, tampaknya. Namun, selain karena bangunan beratap bolong diberanda dan tiang kayu yang keropos, rumah itu bersih. Polwan tadi mengatakan bahwa remaja itu tinggal bersama neneknya. Mungkin bersihnya rumah itu juga berkat kerja nenek itu. Letaknya berada didekat jalan masuk ke Leaky Cauldron yang kumuh.

Halaman rumah itu sempit dan salju menumpuk tidak terlalu tebal disisi petak mawar yang daunnya telah gugur, di tengah-tengah halaman, dan dijalan setapak kecil yang dihiasi batuan sungai. Jejak kaki saling bertumpukan dijalan setapak itu, membuktikan bahwa dibalik kesenyapan yang menyelebunginya, ada kehidupan didalam sana.

Ketika Hermione telah memarkir mobilnya dibawah tiang listrik diseberang jalan tempat rumah itu berada, angin berembus dan berbutir-butir salju menutupi wajah ketiganya ketika keluar dari mobil. Draco telah mencoba untuk terbiasa dengan sensasi menaiki mobil, tapi tetap saja ia terhuyung dan kepalanya terasa pening. Ia lebih suka ber-apparate.

Langkah ketiganya menambah jejak-jejak kaki dijalan setapak itu. Salju menempel dibawah sepatu mereka. Harry mengetuk pintu kayu bercat coklat kusam tiga kali. Suara jingle iklan terdengar dari dalam. Pintu terbuka separuh dan seorang wanita kecil berambut abu-abu mengintip dari celahnya.

"Siapa?" cicitnya. Matanya yang hitam memindai penampilan ketiganya. Harry dengan sweater hijau dan celana jins dan penampilan Hermione yang mengenakan mantel kuning tua tampak biasa dimatanya. Tapi pangkal hidungnya mengerut kala ia sampai pada Draco dengan jubah healer putihnya yang ternoda.

"Kami mencari Mr. Tully," kata Harry pelan.

Wanita tua itu makin mengerutkan pangkal hidungnya, "Kepolisian?" Harry menggeleng. Ia mengangguk dan bertanya, "Psikiater?" dan Harry menggeleng lagi.

Baru setelah ia tahu bahwa mereka bertiga bukan anggota polisi, detektif, psikiater atau apapun itu, ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyilakan mereka bertiga untuk duduk disofa dengan busa yang membuncah keluar.

Diujung ruang tamu, ada televisi yang menempel didinding ditopang meja triplek kecil sementara ada kursi yang menghadapnya. Kursi itu membelakangi mereka yang duduk disana, sehingga hanya kepala hitam yang menyembullah yang mampu mereka lihat. Televisi itu menampilka acara kuis sore hari dengan pembawa acara yang botak. Kehadiran mereka bertiga tidak mampu membuat orang yang duduk disana terganggu.

"Jadi siapa kalian?" tuntut wanita tua itu dan ia menghenyakkan diri di kursi berlengan disana.

"Kami keluarga dari Mr. Bones. Kami mau bertanya beberapa hal mengenai kematian paman kami," kilah Harry cepat, yang sebelumnya telah ia latih didalam mobil Hermione.

"Dan menanyai cucuku tentang mengapa ia membunuh paman kalian? Aku berterimakasih karena kalian tidak memenjarakan cucuku, tapi ia sudah cukup terpukul dengan apa yang diperbuatnya. Maaf sekali, lebih baik kalian pergi," katanya sinis. Matanya melirik orang yang duduk menghadap televisi dengan cemas.

"Kami berjanji tidak akan membuatnya terpukul lebih dalam lagi. Kami memohon Mrs. Tully, kami juga perlu bicara," kata Hermione yang menahan keras agar suaranya tidak kedengaran merengek.

"Bicara apa lagi?" desahnya kesal, "aku tahu cucuku seorang pembunuh. Sudah cukup penderitaannya selama ini. Aku tak ingin dia tambah menderita gara-gara bicara dengan kalian bertiga."

Draco mendengus. Ini mungkin seperti melihat ibunya dulu, saat ia baru menjadi Pelahap Maut. Waktu itu ibunya mencegahnya untuk berinteraksi terlalu banyak dengan Pelahap Maut lainnya. Ia mengambil napas dan berbicara untuk pertamakalinya dirumah ini. "Tapi mungkin saja Mr. Tully akan merasa lega jika berbicara dengan kami," katanya keras-keras.

Orang yang duduk didepan televisi itu bangkit. Melangkah kearah mereka dan membuat neneknya terkesiap. Ia memang seorang remaja. Rambut hitamnya lurus dan beberapa helainya jatuh ke dahinya dengan bagus. Ia tinggi dan mengenakan kemeja flanel lengan panjang dengan jaket tebal. Wajahnya yang pucat sebenarnya tampak kekanakan. Dibalik kantung mata dan jins bocel-bocel, ia adalah cowok yang tampan.

"Young...," neneknya berdiri dan menarik-narik ujung jaketnya.

Yong menepis tangan neneknya, ia mengangguk kearah Harry, Hermione, dan Draco yang memandangnya takut-takut. Dibalik wajahnya yang tampan ia adalah seorang pembunuh.

"Aku akan berbicara dengan kalian," suaranya parau karena terlalu lama tak digunakan. Ia bersiap duduk tapi Hermione mencegahnya.

"Bisakah tidak disini? Maksudku ditempat yang lebih pribadi," tawar Hermione kepadanya.

Ia menunjuk atap dengan telunjuknya, "Kamarku kalau begitu."

.

.

.

"Jadi begitulah. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan aku berada disana. Tapi mendadak saja aku sadar dan aku berlari ketakutan," desahnya kecewa. Ia mengusap kepalanya bebarapa kali, membuat rambutnya menjadi kusut. "Beberapa orang menganggapku berbohong, mereka tak percaya padaku. Yang lainnya malah menganggapku sakit jiwa," lanjutnya seraya mendengus.

"Young," panggil Hermione, "apa kau tahu yang kau bunuh itu siapa?"

Young menggeleng, "Mereka cuma menyebutnya Mr. Bones."

Harry, Hermione, dan Draco saling pandang. Mendengar bahwa pembunuh Mr. Bones adalah seorang muggle sudah membuat mereka terkejut. Sekarang mereka harus mendengar bahwa Young Tully tidak tahu bagaimana ia bisa membunuh Mr. Bones.

"Apakah kau bertemu orang asing akhir-akhir ini, sebelum malam itu?" tanya Harry.

"Ya. Aku sudah bilang tadi aku bolos sekolah siang itu. Jadi aku bertemu seseorang, aku bicara dengannya. Ada apa?"

Harry menggeram, "Apa orang tuamu tak pernah mengajarimu untuk tidak bicara dengan orang asing?"

"Orangtuaku sudah mati," desis Young.

"Oh, apa? Sori, aku tak tahu."

"Itulah mengapa aku tinggal disini."

"Dimana kau bertemu orang itu?" tanya Draco tiba-tiba.

Young Tully melihatnya dan menunjuk ke jendela yang terbuka, kearah tikungan kumuh yang sepi yang terlihat dari situ, "Dekat pub bodoh itu. Gang dekat situ tempat anak-anak biasa membolos."

Draco tahu kalau tikungan itu menuju ke pintu masuk Diagon Alley, dan pub bodoh yang dimaksud bocah ini pastilah Leaky Cauldron. Tampaknya Harry dan Hermione juga menyadarinya.

"Apa saja yang kau bicarakan dengannya?" tanya Draco lagi.

Yyoung beringsut diranjang berantakannya, "Apa saja, dia nyerocos sendiri tentang memperalat Kementerian. Aku tahu dia bohong. Orang aneh itu. Dia memakai jubah hitam, semua orang memakai mantel dimusim dingin, tapi dia malah berdandan seperti penyihir. Dengan tudung yang menutupi wajahnya. Dia memberiku cola."

Hermione terkesiap, "Kau meminumnya?" dan Young mengangguk hampir bersamaan.

"Aku haus."

Orang itu, siapapun itu yang diceritakan Young Tully, dia memang penyihir. Dan Young Tully telah berbicara dengan seorang penyihir, lalu malamnya dia membunuh pegawai Kementerian.

"Kenapa kau membolos?" pertanyaan Harry membuat Young meremas seprainya seketika. Wajah pucatnya gabungan antara gugup dan geram.

"Aku berkelahi dengan anak Kepala Sekolah. Mereka men-skors-ku. Sebenarnya aku di-skors sekarang ini bukan karena sekolah tahu aku membunuh, itu karena perkelahianku," jelasnya dengan muram.

"Apa yang terjadi denganmu setelah kau meminum minuman bodoh itu?" desak Draco.

"Well, disitulah. Awalnya semuanya terasa sakit, aku bisa merasakan pembuluh darahku pecah. Aku tak ingat lalu aku tiba-tiba sadar dan sudah berlumur darah. Aku pulang ketakutan dan menceritakan semuanya pada Nenek. Polisi datang lusa pagi. Kalian tahu, aku tak percaya kalian keponakan Mr. Bones. Kalian terlalu banyak tanya seperti detektif sialan itu. Tapi detektif itu tidak ada yang percaya dengan ceritaku, mereka menganggapku gila. Tapi kalian percaya dan melahap omonganku begitu saja. Siapa sebenarnya kalian?"

"Bocah pintar," sindir Draco seraya menyeringai. "Kami adalah orang-orang yang mengunjungi pub bodoh tadi dari waktu ke waku. Kami adalah orang-orang yang sejenis dengan orang yang mencekokimu minuman itu. Orang berjubah itu adalah penyihir. Kami penyihir."

"Malfoy!" seru Hermione dan Harry bersamaan.

"Apa kau tak bisa tutup mulut, Malfoy? Itu melanggar undang-undang—"

"Biar saja, biar jelas,"

"Kalian penyihir?"

"—dan kau bicara dengan muggle,"

"Kau menyebutku apa?"

"—kau tak boleh, ini ditempat muggle!"

"Apa itu muggle?"

"Biar kita bisa mengetahuinya apakah ia terkena kutukan atau—"

"Kutukan apa?"

"Diam! Kalian bertiga, duduk!"

Ketiga pria dikamar sumpek itu terkejut dengan teriakan Hermione. Mereka berhenti berdebat dan mengempis ditempatnya masing-masing. Hanya Harry yang masih terlihat bersungut-sungut.

"Oke. Cukup," pinta Hermione, "akan kujelaskan padamu, Young. Kau sudah terlanjur mendengar."

"Tentang penyihir?" tanya Young penasaran.

"Ya, tentang penyihir," Young tersenyum puas mendengarnya. "Jadi Young, mungkin ini saatnya kau tahu bahwa ada dunia lain selain duniamu, ini dunia sihir. Aku, Harry, dan Malfoy, kami penyihir. Mr. Bones penyihir dan orang yang kau temui di gang kumuh itu kemungkinan penyihir, kami tak tahu. Selama hampir tiga tahun ini kehidupan dunia sihir berlangsung tenteram. Di Inggris, penyihir menyembunyika diri mereka dengan cukup baik. Mereka memanggil orang-orang non-sihir sepertimu dengan sebutan muggle. Lalu, peri-rumah Malfoy dibunuh secara brutal. Luka-lukanya sama dengan luka-luka Mr. Bones. Kami menebak bahwa yang membunuh keduanya adalah makhluk bertaring atau bercakar, yang ada hubungannya dengan penyihir yang buron. Tapi setelah kami melihatmu, kau sama normalnya dengan manusia pada umumnya. Kami merasa, dengan menemuka pembunuh Mr. Bones kami juga bisa mengusut pembunuh Timby, peri-rumah itu."

"Dan ternyata itu aku. Bagaimana dengan penyelidikan kalian? Apa kalian sejenis Polisi Sihir?"

"Hanya Harry. Aku pegawai Kementerian dan Malfoy healer. Yah, penyelidikan kami gagal begitu mengetahui pembunuhnya adalah kau, seseorang yang jauh urusannya dengan dunia sihir. Tapi bagaiman jika kau dimantrai, Young? Dan dikendalikan oleh penyihir itu, itulah yang kami takutkan."

"Aku mengerti. Jadi sekarang aku bagian penting dari ini. Apa kau akan tahu kalau aku dimantrai?"

"Mungkin saja. Tes darah ala penyihir. Kami akan mengujinya di Kementerian."

"Dan Kementerian itu juga milik penyihir?" tanya Young semabri menggulung lengan kemejanya dan menekankan silet dikulit pucatnya. Darah mengalir dan Hermione mengambil ampul dari saku mantelnya untuk menampung darah itu.

"Thanks atas kerjasamamu, Young. Ya, itu Kementerian penyihir. Mungkin ini hanya akan membuktikan apakah kau dimantrai atau tidak—aku curiga dengan cola itu—tapi kami punya bukti untuk tahu siapa yang mungkin memantraimu. Temanku sedang menyelidikinya."

"Oke, aku tahu," kata Young enteng.

Mereka diantar Young kembali ke ruang tamu. Mrs. Tully mondar-mandir disana saat melihat mereka turun dan tersenyum lega kepada cucunya. Hermione janji akan menghubungi Young dan Young juga berjanji akan menghubungi Hermione jika ada sesuatu yang aneh padanya. Harrry memperingatkan Young untuk tidak memberitahu neneknya tentang dunia sihir. Ia masih memelototi Draco gara-gara ini.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N: Fyuuuhhh... akhirnya. Beritahu aku gimana chapter ini lewat review, okay? Oiya, makasih buat kak Brilliant Hermione yang udah ngedaftarin fic ini untuk masuk nominasi IFA. Nggak nyangka fic ini banyak yang mau baca. See you next chapter guys!^^