Chocolaput Present

Harry Potter and the Mystery of the Beast

Chapter 5: Eliksir Steab

.

.

.

Disclaimer: Harry Potter itu sebenarnya milikku. Dia direbut JK Rowling. Sedih deh. :(

.

.

.

a/n: Hi guys! Akhirnya sampai juga di chapter ini. Oiya, Choco lupa satu hal, disini anggap aja bapaknya Hermione itu bukan dokter gigi tapi dokter spesialis kanker, jadi dia bisa ngobatin maminya Draco. Okeh yukk dibaca! Hati-hati dengan typo(s) ya ^^ Happy Reading!

.

.

.

Hermione Granger selalu membaca buku dan sekarang ini akhir pekan. Seperti yang selalu ia lakukan di akhir pekan, ia menginap di rumah orangtuanya untuk semalam dan menjauh dari dunia sihir yang membuatnya merasa penat selama seminggu penuh. Ia baru saja menyelesaikan makan malam bersama orangtuanya. Suasana dimeja makan tadi agak menyebalkan dan canggung. Sepagian ini, ayahnya terus-terusan bicara mengenai pernikahan, lalu saat makan siang, seorang dokter muda mengunjungi rumah mereka. Kata ibunya, dia—dokter itu—adalah pilihan ayahnya, jadi mungkin saja Hermione bisa cocok dengan orang itu.

Tentu saja Hermione menjadi agak kesal terhadap cara ayahnya itu. Bukannya ia tidak suka—dokter itu benar-benar keren dan tampan—ia hanya belum atau mungkin tidak akan siap dengan pernikahan. Toh ia masih muda dan juga ia baru putus dari pacarnya, penyihir Turki, sekitar tiga minggu lalu. Jadi, ia merasa tidak punya alasan yang tepat untuk mulai berpacaran dengan dokter keren itu. Bukankah Hermione Granger selalu butuh alasan logis untuk melakukan suatu hal?

Tidak seperti biasanya jika ia menghabiskan malam ini dengan meringkuk di kasurnya. Ia membiarkan kedua orangtuanya pergi ke bioskop berdua saja tanpa dirinya. Biasanya mereka pergi bertiga, lalu Hermione akan memilihkan film untuk mereka. Tapi tidak, urusan cinta Hermione adalah urusannya, dan ketika ayahnya ikut campur dengan mendatangkan dokter super keren itu, ia berakhir dengan menyedihkan disini. Bersungut-sungut seperti anak kecil, berusaha untuk membaca sesuatu yang ia temukan di perpustakaan Kementerian. Itu buku kuno, tebal dan berdebu. Ironis, ia harusnya bersenang-senang malam ini.

Syukurlah, buku itu cukup menarik perhatiannya sejak pertama kali ia melihatnya di Perpustakaan Kementerian. Jadi ia tak perlu merasa terlalu mengasihani dirinya sendiri. Keluarga Besar Black: Sejarah, Pencapaian, dan Kemunduran. Well, itulah. Jika tidak ada sangkut-pautnya dengan kasus yang sedang ia jalani, ia tidak akan mau menyentuh buku itu. Penuh sihir hitam yang jahat, Hermione benci sihir hitam yang jahat.

Ia membalik-balik bab ramuan yang sedang digelutinya. Dahinya mengernyit jijik ketika membacanya. Menurut Harry, Eliksir Steab dibuat oleh seorang Black. Ia pasti akan menemukannya disini. Saat waktu sudah menembus tengah malam, didengarnya derum mobil orangtuanya memasuki garasi. Lalu, pintu depan yang dibuka dan suara ibunya yang sayup-sayup terdengar. Ia membatu dihalaman ke-tigaratus sekian dan tak kuasa untuk mengedip. Setelah semua itu, batinnya teringat Mr. Bones, ia tahu petaka mengerikan apa yang menanti didepan mereka.

.

.

.

Ronald Weasley jarang menghabiskan akhir pekannya dengan mengunci diri di kamarnya yang terletak diatas toko lelucon kakaknya di Diagon Alley. Ia meminta George untuk menutup toko lebih awal, dan saat George menariknya untuk makan malam di The Burrows, ia menarik diri. Menolak George dengan gelengan singkat yang tak jelas apa artinya. George sendiri tak pikir panjang tentang Ron yang ber-galau ria dihadapannya. Ia hanya mengedikkan bahu dan membiarkan Ron yang murung menyembunyikan dirinya. Lalu, ia ber-apparate lima menit kemudian ke The Burrows, tempat dimana ia bisa mencium bau lezat masakan dari jarak seratus meter.

Ron duduk di tepian kasurnya, merasakan horor yang menyentak didada ketika ia melirik nakas kusam disisi jendela. Kemarin lusa, ia masih menyimpan mainan jahanam itu disana, teronggok tanpa ia pedulikan. Sekarang, setelah boneka itu ia tinggalkan di kantornya, ia juga tak merasakan tenang.

The Talking Puppet sebenarnya cuma mainan yang dapat merekam suara dan menirukannya kembali dengan suara anak kecil sambil menggerak-gerakkan mulutnya. Ia tahu Teddy Lupin punya satu The Talking Puppet. Anak itu sering bernyanyi didekat si boneka, lalu setelah ia selesai bernyanyi, boneka itu akan mengulang nyanyiannya dengan nada yang persis sama tapi dengan suara imutnya yang kecil. Itu memang jauh dari kata mengerikan.

Tapi, bagaimana jika suara pertama yang direkam boneka itu adalah pembicaraan pembunuh dengan korbannya yang sekarat? Bisakah kau membayangkan bagaimana jika jerit kesakitan Mr. Bones itu diulang dengan suara anak kecil boneka itu? Rasanya Ron tidak akan sanggup lagi makan banyak setelah hal ini. Sejak saat itu, ia terus teringat dengan perang Hogwarts dua setengah tahun lalu, dengan jeritan Hermione saat Bellatrix menyiksanya, dengan semua tragedi masa perang yang telah dilaluinya.

Mau tak mau, semua kengerian dan bukti yang disampaikan oleh boneka itu, membuat Ron menyadari sesuatu. Bahwa, apapun yang ada dihadapan mereka, itu mungkin sama buruknya dengan Voldemort. Seseorang yang dikira mati ternyata masih hidup. Siapapun dia, dia bukan orang baik-baik.

.

.

.

Mungkin perang memang membuat segala sesuatu mejadi aneh. Apalagi jika sekarang ditambah perdamaian yang membuat orang-orang saling membantu satu sama lain walaupun dulunya mereka bermusuhan. Seperti saat ini, saat Hermione Granger menjejalkan secangkir coklat panas kegenggaman Draco Malfoy yang menggigil dan berdarah, bertutup selimut tipis yang dibawakan Kreacher untuknya.

Dini hari, seseorang menerobos jaringan flo Grimmauld Place nomor 12. Dengan bunyi gedebuk lemah di perapian dapur, orang itu tersungkur ke lantai batu, jubahnya menyenggol sepanci sup tomat hingga tumpah ruah membanjiri lantai dapur dan sebagian mengguyur rambut orang itu.

Lantas, keributan itu membangunkan seisi rumah. Kreacher yang pertama. Peri rumah itu berteriak-teriak bising dan membangunkan lukisan Walburga Black. Harry berjengit dibalik selimutnya. Kepalanya tiba-tiba terasa pening dengan suara-suara teredam yang berasal dari lantai bawah. Ia menyibak selimutnya dan meraih kacamata dari nakas. Ginny, yang malam ini menginap di Grimmauld Place, ikut terjaga dengan mata mengantuk dan bertukar pandang penuh arti dengan Harry.

Harry turun cepat-cepat, tongkat sihir digenggaman. Ginny mengikuti dibelakang, tongkat sihirnya aman disaku celana piyamanya. Ketika mereka menyadari suara itu berasal dari dapur, Harry berbelok kesana sementara Ginny menuju arah sebaliknya. Ia merogoh tongkatnya dari saku dan mengayunkannya ke arah lukisan Walburga Black yang berteriak marah. Setelah itu, ia menyusul Harry ke dapur.

Ginny berjengit ketika kaki telanjangnya menginjak genangan sup tomat yang membanjiri lantai. Harry sedang memapah seseorang, yang kelihatannya terluka, untuk duduk disalah satu kursi, Kreacher terpuruk disamping perapian dan gemetar. Saat Harry merunduk di depan perapian untuk berbicara dengam sesorang, barulah Ginny menyadari bahwa orang itu adalah Draco Malfoy, bersimbah darah dan terguncang.

Ginny setengah berlari ketika mendekati Malfoy yang terengah, menggumamkan mantra penyembuh sederhana untuk menghentikan pendarahan dari luka yang melintang dari dada hingga perut Draco. Tapi, semuanya tampak sia-sia, darah itu terus saja memancar keluar. Perut Ginny terasa mual melihat darah yang begitu banyaknya, sementara Draco Malfoy tampak mulai kehilangan kesadaran.

Lalu, perapian berkobar dengan api hijau menyilaukan. "Apa yang...Malfoy luka?" Ginny mendengar suara kakaknya menggema, air matanya meleleh karena panik. Ia berbalik, menatap kakaknya yang juga berambut merah, dan menggeleng lemah, "Tidak berhasil," dan setelah itu ia sudah menangis dipelukan kakaknya.

.

.

.

Tidak ada alasan bagi Hermione Granger untuk menolak pergi ke Grimmauld Place saat Harry dan Ron membutuhkannya. Ron baru saja mengiriminya pesan patronus yang menyala terang dikamarnya. Setelah cukup baginya untuk merasa terkejut, ia berpakaian dan mengendap-endap ke halaman belakang. Orangtuanya pasti tidak akan setuju kalau mengetahui Hermione melarikan diri ke dunia sihir dini hari. Udara sangat dingin dan menyesakkan. Baru setelah tarikan napas yang ketiga, ia ber-apparate tepat ke pintu depan Grimmauld Place nomor 12.

Ia menyadari ada sesuatu hal yang salah didapur. Dengan bergegas ia mendorong dirinya kesana hanya untuk mengetahui kekacauan disana. Lantai batu, baru ia sadari, banjir darah dan tomat. Tapi ada hal yang lebih darurat ketimbang itu. Draco Malfoy yang terkapar tak sadarkan diri.

"Malfoy, katakan sesuatu!" engahnya panik seraya memeriksa denyut nadi Draco. Tapi, seperti yang ia duga, tak ada jawaban. Ia menyentuh luka diperut Draco dan mendadak saja ujung jarinya terasa seperti terkena sengatan listrik. Sihir selalu meninggalkan jejak, dan terkadang jejak itu sangat khas. Luka Draco Malfoy adalah luka kutukan, simpulnya. Masih merasakan sihir gelap bergetar disana, ia mengayunkan tongkatnya. Cahaya biru keperakan keluar dari tongkatnya, mengikuti garis luka sepanjang perut dan dada Draco Malfoy. Lambat, luka mengerikan itu berhenti berdarah tetapi tidak menutup. Napas Draco melambat, kemudian perlahan menjadi teratur.

"Lihat matanya, Hermione," bisik Ginny yang masih berangkulan dengan kakaknya. Ginny benar, ketika Hermione memandang Draco, matanya terbuka. Ia tampak kebingungan tapi ia melihat Harry, dan sejenak ia bergerak bangkit. Tapi tidak, Hermione mendorongnya kembali ke kursinya. "No, Malfoy! Bahkan lukamu masih membuka," sentaknya.

"Granger, aku perlu Potter," erang Draco keras kepala.

"Tunggu sampai aku membereskan luka itu," kata Ginny yang telah mengambil perban dari entah mana. "Dan aku harus memberimu ramuan obat dulu, bagaimana kalau coklat panas, Hermione?"

"Yah, aku bisa menangani yang satu itu." Hermione menuju konter yang seingatnya baru direnovasi Harry. Ia mulai membuat lima cangkir coklat panas dan Draco mendapat porsi yang paling besar.

Draco mengerang ketika Ginny meneteskan Sari Murtlap banyak-banyak. Secepat itu, rasa perih digantikan oleh perasaan menyegarkan yang yang melingkupinya. Lalu, saat Sari Dittany juga ikut ditambahkan, rasanya ia merasa sangat sehat. Well, sepengalaman Draco, keduanya adalah obat sederhana yang menyenangkan. Tentu saja ia masih menggigil, tapi sejenak setelah Ginny Weasley menyelesaikan perbannya dan meminjamkan kemeja Harry yang bersih, ia merasa jauh lebih baik.

Hermione datang dan menyodorkan coklat panas untuk masing-masing dari mereka. Ia juga menyampirkan handuk hangat ke bahu Draco dan duduk, menyeruput coklatnya sendiri.

"Malfoy, apa yang sebenarnya…," Harry memulai tapi Hermione menyergahnya.

"Biarkan dia minum coklatnya dulu, Harry," paksa Hermione. Harry menurut dibawah pelototan Hermione dan Ginny. Ia menunggu Draco hingga isi cangikrnya tinggal separuh. Akhirnya, Draco meletakkan cangkirnya dan merenggut handuk hangat itu hingga benar-benar memeluk dirinya. Ia bergidik, melihat tangannya yang masih bernoda darah.

"Saat aku bilang aku butuh Potter, aku memang butuh dia untuk mendengar semua ini," mulainya. Ia memandang Harry lekat-lekat dan penuh arti. Semuanya terasa lebih baik memang, saat ia disini.

"Mungkin kau harus menceritakan kepada kami bagaimana kau memperoleh luka itu. Kau tidak splinching, kan?" tanya Ron curiga, setelah kasus ini, ia tidak serta merta berbelok menyukai Malfoy.

Draco menggeleng, "Tidak, tentu saja. Luka ini," ia membelai perutnya seraya meringis, "gara-gara cakar sialan Young Tully."

Efek dari perkataan Draco Malfoy sungguh mengesankan. Harry meneriakkan kata "Apa?" sedemikian keras sehingga membuat Kreacher—yang masih terpuruk dan tersedu-sedu disisi perapian—ikut menjerit karena terkejut. Ron menggabruk meja, merasa tak percaya. Hermione meletakkan cangkirnya sedemikian keras sehingga isinya berhamburan.

Tampaknya, dari semua ini hanya Ginny yang tidak terpengaruh. Ia mengernyitkan dahinya, "Bisakah kau menjelaskan lebih spesifik kepada mereka?" tanyanya agak jengkel.

Draco menatap Ginny kemudian membetulkan letak handuknya. "Begini, anak itu menyerangku dirumah. Bagaimana tepatnya ia bisa menemukan Malfoy Manor aku tak tahu. Untunglah ibuku tidak sedang berada dirumah, jadi dia tidak apa-apa. Tapi yang jelas, anak itu bukan Young Tully. Maksudku, itu memang tubuhnya, tapi tidak jiwanya."

"Bagaimana ia menyerangmu? Kupikir kau diserang penyihir," ujar Hermione yang telah menemukan kembali suaranya.

"Anak itu punya cakar, Granger. Dan kupikir itu bukan cakar biasa," jelas Draco, membayangkan beberapa saat lalu ia nyaris meregang nyawa karena bocah muggle itu.

"Cakar? Kau yakin diserang dengan cakar?" tanya Harry.

"Aku belum pernah menemui muggle yang bercakar," ejek Ron.

"Kau harus bercerita secara lengkap, Malfoy. Mereka jadi bingung kalau kau bercerita terputus-putus begini. Dan kalian bertiga juga jangan memotong ceritanya," sergah Ginny yang—walaupun ia bukan bagian dari tim ini—merasa perlu menengahi.

"Yeah, Weasley benar. Oke, darimana aku harus mulai…er…begini saja, aku baru pulang dari St. Mungo dan ber-apparate langsung ke gerbang depan. Kalian tahu, tidak ada yang bisa ber-apparate langsung kedalam Malfoy Manor, itu dilindungi seperti Hogwarts. Lalu saat aku baru saja masuk rumah, seseorang sedang menungguku. Berdiri dibawah bayang-bayang, kupikir itu ibuku, tapi aku ingat pagi tadi aku mengantarnya ke Andromeda. Aku baru akan menanyainya, tapi dia langsung menerjangku. Aku terjerembab dan pada saat itulah aku melihatnya. Young Tully, dengan mata merah, dia bertaring dan bercakar. Cakarnya aneh, keperakan dan berpendar. Anak itu tidak tampak mengenalku, dia malah mengucapkan serentetan kalimat aneh padaku sebelum cakarnya menembus kulitku," kisah Draco, sekali lagi membelai perutnya yang terluka.

Semuanya terdiam mendengar penjelasan Draco. Hermione sebaliknya, ia terkejut mendengar hal ini. "Malfoy, lukamu… adalah luka yang dihasilkan sihir. Aku memeriksamu, sihir itu meninggalkan bekas. Tapi, kita semua tahu kalau Young Tully adalah muggle," ia memegangi cangkir coklatnya, ketakutan dengan realita yang dibawa Draco Malfoy yang terluka.

"Yeah, muggle mana yang bercakar, Granger?" Draco benar, Young Tully tidak seperti muggle dan dia telah membunuh seorang penyihir dewasa dan—kemungkinan—peri rumah. Ia juga melukai penyihir dan berhasil menembus pertahanan di Malfoy Manor.

Astaga, Draco benar. Kenapa Hermione baru menyadarinya sekarang? Ia baru saja membaca tentang ini semalam. Rasanya seperti disiram air dingin, kepalanya mendadak saja bisa bekerja lebih baik. "Aku mungkin saja tahu, yah aku hanya menebak. Tapi kemungkinan—bukan kemungkinan yang baik, kurasa—Young Tully telah diubah. Ya, mungkin saja."

"Er, bisakah kau perjelas apanya yang mungkin dan apa yang diubah menjadi apa?" tanya Ron yang membuat Hermione merengut sebal.

"Begini ya, Ron. Dan juga Harry, Ginny, dan kau terutama, Malfoy. Semalam aku membaca sebuah buku ("Tipikal kau sekali," ejek Ron) dan Eliksir Steab dibahas dibuku itu. Maksudku, memang tidak dibahas secara jelas, tapi ini cukup membantu. Jadi singkatnya, Eliksir Steab diciptakan secara tidak sengaja oleh seorang Black, tidak disebutkan Black yang mana. Awalnya ia ingin menciptakan ramuan untuk menghilangkan kekuatan sihirnya, tapi yang terjadi adalah kesalahan. Ramuan itu tidak menghilangkan sihir yang mengalir didarahnya. Sihir itu malah melipatgandakannya.

Dengan cara aneh yang ia sendiri tak mengerti, tubuhnya juga berubah. Beast, begitulah ia menganggap dirinya saat itu. Liar, tak terkendali, juga menakutkan. Kekuatan menggelegar dalam dirinya. Awalnya, ia masih bisa merasakan jiwanya dalam tubuh itu, tapi lama kelamaan, apa yang dikenalnya menjadi dirinya hilang. Dan dia menjadi Beast seutuhnya."

"Kenapa ada orang yang mau menghilangkan kekuatan sihirnya? Apalagi dia seorang Black," tanya Harry tak mengerti.

"Well, dikisahkan dia terlibat cinta terlarang dengan muggle. Kau mengerti, kan, Black dan segala peraturan darah murni mereka. Mungkin pikirnya ia akan dibuang dari keluarga Black kalau dia tak punya sihir sehingga bisa mendapatkan muggle itu," jelas Hermione.

"Dan Timby diserang, lalu Gringotts kemalingan, dan bos Potter, lalu aku. Jika benar semua itu dilakukan Young Tully, tidaklah mustahil kalau anak itu memang diubah menjadi Beast," Draco menatap Hermione dalam, baru sekarang ia menyadari kalau cewek itu benar-benar pintar.

"Mungkin saja, yeah, kemungkinan yang besar," timpal Ron.

"Tapi, Young Tully tidak mungkin membobol Gringotts untuk menemukan Eliksir Steab dan mengubah dirinya," semuanya mengangguk setuju mendengar Harry, "sekarang pertanyaannya adalah, siapa?"

.

.

.

TBC

.

.

.

a/n: Setelah melihat nilai rapor yang enggak mengecewakan, saya jadi semangat nulis lagi. Saya beritau rahasia ya (yang nggak jadi rahasia lagi) kata Steab dalam Eliksir Steab itu sebenernya anagram dari kata Beast itu sendiri. So, gitulah, Choco minta review dari kalian.