Chocolaput Presents
.
.
.
Harry Potter and the Mystery of the Beast
.
.
.
Chapter 6: Pangeran Kegelapan dan Ahli Ramuan
.
.
.
Disclaimer: Tentu saja, Harry selalu menjadi milik J.K. Rowling
.
.
.
a/n: Terimakasih untuk para juri IFA 2015 yang telah memilih fanfic ini sebagai Best Adventure Multichapter. Dan chapter ini saya dedikasikan untuk Alan Rickman. Terimakasih sudah memerankan karakter Profesor Snape dengan sangat sempurna, selamat jalan!
.
.
.
Ruangan itu nyaris kosong kecuali adanya sofa butut dan sebuah meja reyot didepan perapian yang hanya menyisakan bara-bara yang meretih. Seorang pria terjaga disofa itu, matanya cekung dengan pipi yang makin kurus kian hari. Ruangan persegi dari kayu itu tak berjendela, tetapi pria itu tahu bahwa fajar telah mengintip dilangit luar. Sudah seminggu salju tidak turun, baginya ini menguntungkan, walaupun dia tahu musim dingin tak akan berakhir secepat itu. Paling tidak ia tak perlu terus-menerus menyalakan api tiap malam, turun kedesa setiap tiga hari sekali saja sudah cukup merepotkan.
Sesosok makhluk nyaris transparan membuka pintu. Pria itu terlonjak, tidak sekarang, pikirnya. Tetapi apapun itu yang ia pikirkan tak akan mampu mencegah sosok itu melakukan apapun yang ia sukai. Dalam hidup dan matinya, sifat dan keahliannya tidak berubah.
"Pionmu sungguh tak berguna!" sosok itu membentak, melayang-layang diudara dengan arogan. Tak seorangpun berpikir ia masih sanggup berada didunia ini. Termasuk Antonin, yang selama ini menjalani hidup tenang dalam persembunyian.
"Maaf, Tuanku. Aku tak menduga anak itu akan mengadu," isak Antonin menyesal sekaligus tak percaya akan takdirnya yang begitu memuakkan.
"Seharusnya kau langsung membunuhnya. Tapi kau malah banyak omong, mengoceh yang tidak-tidak dengan suara serakmu tentangku. Kau tahu sendiri sekarang akibatnya memakai muggle sebagai pion. Kuhabiskan waktu berhargaku, mencari abdiku yang masih ada, mengisikimu dengan senjata lama keluarga Black, dan kau sudah mengacaukan segalanya. Bertindak sendiri membunuh Bones atas dasar dendam pribadimu. Andai saja tongkatku masih ada, Antonin," sosok itu marah, warnanya yang hitam nyaris transparan berubah keruh menjijikkan, mencengkeram kerah jubah Antonin yang gelapan dan makin pucat.
"A-Anda t-tak bisa! Anda tak boleh membunuh saya! Tak akan ada yang bisa melakukan rencana Anda kalau tak ada saya, selama Anda masih berupa Poltergeist!" ia menjerit, menyuarakan apa yang selama ini bergaung dikepalanya.
Voldemort mengenyahkan Antonin hingga terpuruk disofa butut itu. "Mendengar bahwa aku sekarang hanya Poltergeist memang menyedihkan. Kau benar, seharusnya aku membunuhmu dan mempertahankan Carrow. Karena kau tak bisa diandalkan!"
"Anda mencari saya untuk mencuri dari Gringoots dan saya berhasil..."
"Kau seharusnya menggunakan Eliksir itu padaku dan bukannya untuk kepentinganmu sendiri!"
"Saya dibawah pengaruh wiski api! Saya stress setelah menggunakannya setetes dan membunuh Peri tolol itu," sekarang ia berdiri, berteriak-teriak berharap Tuannya akan mengerti. "Anda tak tahu bagaimana rasanya... betapa mengerikannya..."
"Aku akan tahu bagaimana rasanya kalau kau memberikan sisa ramuan itu padaku. Tapi apa yang kau lakukan, menuangkannya pada tenggorokan muggle? Kau merusak rencanaku!"
"Tapi bukankah Anda juga menggunakannya, Tuanku?" tanyanya takut-takut.
Voldemort dalam wujudnya yang menyedihkan menyeringai dengan mulutnya yang nyaris tanpa bibir, "Harus kukakui, dia memang sedikit menguntungkan. Aku berharap kau segera berhasil memancingnya kemari. Masih butuh waktu sebelum aku bisa benar-benar menggunakannya."
"Jadi... jadi, Anda sudah tidak akan menggunakan saya?" engah Antonin gagal menyembunyikan nada bahagianya.
Voldemort berbalik menuju pintu, sebagai Poltergeist ia tak pernah bisa menembus benda padat. "Aku masih akan menggunakanmu, tentu saja. Apa kau berpikir aku akan melepaskanmu begitu kau menyerahkan anak itu?" ia membuka pintu itu, bunyi berkeriut memecah kesenyapan sejenak disana, "bukan begitu aturan mainnya, Dolohov. Aku masih Lord Voldemort disini," lalu dia pergi, menembus malam dan meninggalkan abdinya gemetaran.
.
.
.
"Avada Kedavra!"
"Expelliarmus!"
Terdengar letusan bagaikan tembakan meriam, dan nyala keemasan yang meledak di antara mereka, tepat di pusat lingkaran yang mereka bentuk, menandai titik dimana mantera mereka bertumbukan. Harry melihat pancaran hijau mantra Voldemort beradu dengan mantranya sendiri, melihat Tongkat Elder melayang tinggi, gelap kontras terhadap cahaya matahari pagi, berputarputar diudara bagaikan kepala Nagini, berputar menuju tuannya yang tak akan dibunuhnya, tuan yang pada akhirnya datang untuk mengambil kepemilikan tongkat itu sepenuhnya. Dan Harry, dengan kecakapan tanpa cela seorang Seeker, menangkap tongkat itu dengan tangannya yang bebas sementara Voldemort jatuh ke belakang dengan kedua lengan terbentang, mata merahnya yang berpupil tipis berputar ke atas. Tom Riddle menghantam lantai, tubuhnya layu dan mengkerut, tangan putihnya kosong, wajahnya yang mirip ular kini hampa sama sekali.
Tak ada yang menyadari, tak ada yang melihat. Manusia memang tidak diciptakan untuk melihat sesuatu yang telah mati, tetapi dia ada disana. Mendengar sayup-sayup sorakan seluruh musuhnya yang merayakan kematiannya sebelum ia terhempas kesebuah tempat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Tidak pernah aku melihat makhluk semenjijikkan ini," suara siapa itu? Seseorang? Sesuatu?
"Bangunlah, Riddle," ada yang menendang samping perutnya. Ia bangkit, memandang sekelilingnya dan terpana. Ia berada dibukit yang mengelilingi Pondok Gaunt, mendung bergulung-gulung diatasnya sementara pondok itu tampak berbeda dari yang ia ingat. Terlihat jauh lebih bersih, dan nyaman. Bahkan jalan masuknya pun kelihatan, tidak ada lagi tanaman yang merambati dinding. Asap mengepul dari cerobong kecil, lalu udara disekelilingnya diliputi bau yang sangat manusiawi. Campuran antara masakan dan kebahagiaan.
"Menikmati pemandangan?" suara itu terdengar lagi. Ia memalingkan wajahnya dari Pondok Gaunt dan mendapati seseorang berdiri dengan pakaian muggle yang rapi dan mengesankan. Pria itu kelihatan beberapa tahun lebih muda dari usianya seharusnya.
"Apa kau melupakanku?" ia mencibir dan memandang Voldemort sinis, "rupanya kau lupa dengan korban pertamamu?"
Voldemort berpikir, tentu saja ia mengingatnya. Muggle menjijikkan yang telah mengkhianati Merope Gaunt, membuatnya menyandang nama yang sama. "Tom Riddle, tanpa Marvolo," ia bergumam.
"Ayahmu," Tom tersenyum tanpa arti, membuatnya tampak pongah dan mirip dengan Voldemort saat masih remaja, "akhirnya kau mati, anakku. Dengan cara yang... sama memuakkannya ketika aku mati."
Voldemort diam. Sesuatu didalam dirinya tersentak mendengar kenyataan ini. Mati? "Tidak, aku tidak akan pergi dari dunia itu," ucapnya kaku.
Tom Riddle tertawa, jenis tawa yang sama mengerikannya dengan milik Voldemort, "Masih berani menyombongkan diri, ternyata? Baiklah, tampaknya kau juga tak mau lama-lama bicara denganku, aku juga begitu," katanya.
"Untuk apa kau menemuiku?"
"Nah, itu pertanyaan yang bagus," dahi Voldemort mengernyit kebingungan mendengar itu, tapi pria didepannya malah kelihatan santai dan meneruskan, "untuk meluruskan beberapa hal."
"Aku tidak butuh muggle sepertimu untuk meluruskan kematianku!" bentak Voldemort sia-sia, karena sekali lagi Tom Riddle berbicara. Pembicaraan yang panjang kali ini hingga mau tak mau ia mendengarkan.
"Aku menunggumu disini setelah kau membunuhku. Sangat lama hingga kupikir kau tak akan mati. Aku mendengar desas-desus bahwa kau menjadi penyihir yang jahat dan membunuh orang-orang tak bersalah. Dan disinilah aku, menunggumu sebelum aku menjalankan hukuman Kematian.
Kau lihat Pondok itu? Dulu aku memandang remeh keluarga yang tinggal disana, apalagi anak laki-laki mereka. Tetapi kau pasti tahu cerita selanjutnya, Merope mencintaiku tapi aku tidak, sebuah kesalahan yang membuatku meminum segelas limun di musim panas setelah aku berkuda. Limun itu, membuatku secara ajaib terobsesi pada Merope hingga dia mengandungmu. Aku membencinya karena membuatku bertanggungjawab atas anak yang tak pernah kuinginkan, dan aku kabur. Lalu, Merope mati setelah melahirkanmu, mati dalam keputusasaan yang selalu menyertainya," Tom Riddle mengakhiri ceritanya.
Voldemort tak mengerti apa maksud cerita itu. Langit hitam yang bergulung-bergulung itu telah menurunkan gerimis, mengaburkan pandangannya terhadap Pondok Gaunt. Tetapi anehnya ia sama sekali tidak basah karena gerimis itu, begitu pula ayahnya. Ia benci mengakui ini, tapi kemiripan diantara keduanya memang tak bisa ditampik.
"Tapi Merope tenang dalam kematiannya, tidak seperti kau atau aku. Kematian untuk orang jahat itu menyedihkan, anakku. Kau punya terlalu banyak jiwa tak bersalah dalam dirimu hingga kau tak pantas mati dengan layak," Tom memandang kosong ke rumah besar diatas bukit yang melatarbelakangi Pondok Gaunt. Apakah ia sedang menyesali kesalahan masa lalunya? "Disanalah aku akan menjalani hukumanku," ia berkata datar sebelum beralih melihat putra yang tak pernah dikenalnya.
Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat, berusaha memahami apa yang ada dibenak satu sama lain. Tapi nyatanya tak ada apa-apa selain kesedihan yang tiba-tiba menguar. Bahkan Voldemort merasakannya, perasaan kelam dari masa lalu yang menggerogotinya hingga seperti ini. Perasaan yang sama ketika teman-teman mengucilkannya di panti asuhan, dulu... dulu sekali. Ia tak pernah menyangka akan berada disini dan bertemu ayahnya yang telah dia bunuh bertahun-tahun lalu.
"Seharusnya aku tak pernah meninggalkan Merope dan ada disana untuk merawatmu. Aku tak bisa sesombong dulu. Kesombonganku tidak membuat hidupku berguna," Tom Riddle menunduk, air matanya meleleh tanpa mampu ia cegah.
"Memang seharusnya begitu," Voldemort menggesesr kakinya menjauh dari Tom Riddle. Ia menamatkan tatapannya ke Pondok Gaunt lagi, sekarang, sementara hari semakin gelap, jendela itu berpendar dengan cahaya keemasan.
"Aku tak akan membawamu kesana," Tom berkata tiba-tiba, "tapi aku akan membawamu ke Rumah Riddle, jika kau memilih untuk itu."
"Apa maksudmu? Apa aku punya pilihan sekarang?" desakan kegembiraan membuncah dari dadanya. Apapun pilihan itu, pasti lebih baik daripada menghabiskan kematian yang abadi ditempat yang ada Tom Riddle. Ia memang tidak membutuhkan ayah.
"Ya," Tom mengangguk antusias, "kau punya pilihan. Istimewa untuk dirimu. Bukan sesuatu yang patut dibanggakan sebenarnya, karena hanya orang yang tak akan diterima Kematian lah yang akan mendapatkannya."
Pilihan macam apa yang diberikan untuk orang yang tidak diterima Kematian? Seburuk itukah dirinya? Ia, yang telah menapaki jalan yang sangat panjang untuk mengais keabadian dan gagal, ternyata ditolak oleh Kematian. Lalu untuk apa ia berada disini kalau tidak untuk mati? Apakah ini merupakan kesempatannya untuk kembali berkuasa, kembali menjadi Pangeran Kegelapan?
"Kematian mengundangmu memasuki dunianya, tentu saja untuk menghadapi hukumanmu karena telah berlaku licik terhadapnya. Tapi kesalahanmu sungguh fatal, membelah jiwamu menjadi delapan bagian. Jadi, tawarannya adalah ke rumah Riddle dan menunggu hukumanmu selanjutnya atau kembali dalam wujud Poltergeist," mendadak suara Tom Riddle berubah angkuh dan mengerikan seolah ia adalah Kematian itu sendiri.
"Apa yang menantiku kalau aku ke Rumah Riddle?" Voldemort bertanya awas, suasana telah berubah sekarang. Takdir selanjutnya akan dimulai disini.
"Dementor," sahut Tom Riddle, "tugas abadi menjadi Dementor dan melayani Kematian."
"Jadi...jadi aku akan diubah? Menjadi Dementor?"
Tom mengiyakan dengan anggukan, "Ya, dan kembali ke dunia yang sangat kau cintai."
"Lalu apa yang kudapat kalau aku menjadi Poltergeist?"
"Kau tidak tahu? Ah, tentu saja kau tidak memperkirakan bahwa kau akan mati, kan?" ia terkekeh melihat raut Voldemort berubah pucat. "Bagi orang yang telah mati, kembali ke dunia adalah siksaan tersendiri bagi mereka. Mereka tidak lagi berhak disana, itu seperti menempatkan kembali ayam kedalam cangkangnya, bukan tempatnya. Udara, sinar matahari, dan bahkan tanah akan membuatmu kesakitan. Poltergeist berbeda dengan hantu, mereka padat dan nyaris transparan dan kau akan berada didunia itu dengan kesakitan yang kau derita selama kau belum dihancurkan."
Keduanya sama-sama memberinya peluang kembali kedunia. Dementor, tangan berkeropeng dan memakan kebahagiaan. Tidak, Dementor bekerja dibawah Kementerian, ia tidak mau disuruh-suruh orang-orang bodoh yang bekerja disana. Poltergeist, ia pernah membaca dan bahkan bertemu dengan salah satunya waktu dia masih di Hogwarts. Mereka makhluk aneh, terkadang disamakan dengan hantu. Tetapi, Poltergeist, meskipun menyakitkan, mereka lebih bisa melakukan apa-apa daripada Dementor. Satu-satunya yang ia butuhkan sekarang adalah kebebasan bergerak, kebebasan berencana. Lagipula, ia sudah pernah berada dalam kondisi serendah itu selama tiga belas tahun. Kalau ia berhasil menemukan mantra yang tepat, atau mungkin ramuan... Kalau masih ada abdinya yang tersisa... Ia punya waktu selamanya untuk itu dan Harry Potter tidak tahu, tidak ada kisikan sama sekali. Kalau dipikir-pikir, kenapa tidak?
.
.
.
Sebentuk bayangan berasap muncul ditengah ruangan. Awalnya tak jelas ia berbentuk apa, tapi kemudian jubahnya melambai dilantai, kakinya terbentuk dan kedua tangannya mengayun mencari keseimbangan. Sebuah kepala dengan hidung besar, bengkok dan rambut licin melengkapi wujudnya. Seringaian melebar dibibir tipisnya dan matanya mengejek, "Memanggilku dari kematian, anak-anak?" suara datarnya menggema seolah datang dari kejauhan. Entah apa maksudnya dengan anak-anak, padahal keempat manusia hidup didepannya sama sekali bukan anak-anak lagi.
"Profesor, er... kami ingin bertanya sesuatu, bolehkah?" suara Hermione mencicit. Ia bahkan mengangkat tangannya seolah mereka sedang dalam diskusi seru dikelas.
"Pertanyaan macam apa," mata Snape memandang mereka berempat satu-satu dengan curiga, "yang tidak mampu dijawab orang hidup sehingga memanggil orang mati?"
Draco mendengus, "Tentu saja hal ini berkaitan dengan bidang keahlian anda. Seperti ilmu hitam dan ramuan, misalnya?"
"Wah wah, Draco. Perang membawa perubahan, bukan? Kalian terlihat akur saat ini," komentar Snape tang membuat Draco memutar matanya jengkel. Snape tersenyum mengejek, lagi, yang membuat Ron dan Harry teringat dengan jam pelajaran ramuan mereka di Hogwarts. Snape tidak pernah tidak tersenyum seperti itu kepada mereka.
"Profesor," sela Harry tiba-tiba sehingga mata Snape langsung terpancang padanya, "begini, kami...eh...menghadapi suatu kasus yang menyulitkan. Sesuatu dicuri dari Gringoots, peri rumah Malfoy dibunuh oleh seseorang...entahlah, pegawai Kementerian—atasanku—dibunuh juga, dan tiga hari yang lalu Malfoy mendapat serangan," jelasnya terbata-bata.
Draco mengangguk, "Yeah, dan kasus ini melibatkan muggle. Orang yang menyerangku adalah remaja muggle. Dia juga yang membunuh atasan Potter. Kemungkinan dia dibawah pengaruh Eliksir Steab."
"Eliksir itulah yang hilang dari Gringoots," imbuh Ron.
"Jadi Profesor Snape, saya membaca tentang Eliksir itu. Itu mengubah peminumnya menjadi Beast. Dan bisakah anda menjelaskan, kalau mungkin ada, ramuan penangkalnya?" kali ini Hermione bertanya lagi, tampak lebih serius dari sebelumnya.
Snape yang sedari tadi mendengarkan dalam diam menggeleng khidmat dan terlihat menyesal, "Sayang sekali tidak bisa. Bukankah ramuan itu milik keluarga Black? Kenapa kau tak tanya pada Andromeda, Potter?"
"Bahkan Andromeda tidak tahu kalau ada ramuan seperti ini. Kami memanggil Anda karena cuma Anda ahli ramuan yang kami tahu, kami yakin Anda lebih tahu dari Hermione tentang ini," kata Harry kecewa.
Snape mendesah dan tampak berpikir, "Yah, penemu Eliksir Steab tidak sempat membuat penangkalnya, kau pasti membaca ini Miss Granger. Jauh-jauh saja dari mereka karena mustahil sekali mengendalikannya. Mereka, setelah menjadi Beast tak ubahnya seperti korban kecupan Dementor, makhluk tanpa jiwa. Bedanya adalah kekuatan sihir mereka menggelegar tak terkendali dalam tubuh mereka."
Harry ingat sensasi nyaris 'tanpa jiwa'. Pengalamannya dengan Dementor waktu dia kelas tiga jelas membuatnya paham betul tentang hal ini. Lalu dia teringat Young Tully. Dia cuma muggle yatim piatu yang tinggal dekat Leaky Cauldron dan kebetulan bertemu penyihir hitam. Dari penjelasan Snape, kelihatannya tidak mungkin mengendalikan Beast, tetapi... kasus Young Tully kelihatannya berbeda.
"Profesor," celetuk Ron tanpa diduga siapapun, mungkin ini pertama kalinya bagi Ron untuk berbicara sopan dengan Snape, "jika tidak ada penangkalnya, apa kelemahannya? Apa yang paling membuat Beast tidak mampu melakukan apa-apa?"
"Kau tahu Weasley, itu pertanyaan yang pintar," Sang Profesor mondar-mandir seraya berpikir, tetapi tentu saja ia segera tahu jawaban pertanyaan itu. "Cinta," katanya dengan mata hitamnya terpaku pada mata hijau Harry. Mata Lily.
Keempat manusia hidup disana menatapnya keheranan. "Cinta? Bagaimana bisa? Bukankah cinta yang membuat penemu Eliksir itu melakukan kesalahan ini?" salak Draco, berdiri dari duduknya begitu cepat.
"Tidakkah kalian mengerti, cinta membuat diri kalian tetap mengingat siapa sebenarnya kalian dalam keadaan apapun. Hanya orang yang memiliki cinta yang cukup besar lah yang mampu mengobati jiwa yang rusak. Jiwa seorang Beast," Snape sekali lagi memandang Harry dengan ekspresi aneh yang tak Harry kenal. Dia berbalik dan jubahnya berkibar dibelakang. Sang Ahli Ramuan lalu menghilang seperti kelelawar hitam.
"Well, tidak sia-sia juga kita mencari batu itu lagi. Untung Hermione minta tolong McGonagall," desah Ron lega. Tak kunjung dapat respon dari Harry dan Hermione—dan bahkan Malfoy—membuat Ron mengeluarkan sebuah gerutuan. "Apa? Kita tahu Young Tully pasti sangat mencintai neneknya, kan? Dia tidak akan berbuat jahat selama ada neneknya."
"Ron," kata Hermione dengan nada yang biasa digunakannya untuk Ron dalam keadaan seperti ini, "Snape tadi bilang tidak ada penangkal untuk Tully, dan tidak ada yang bisa mengendalikannya. Kalau kau memikirkannya, Ron, apakah mungkin dia membunuh Mr. Bones dan Timby begitu saja tanpa alasan? Apakah mungkin baginya untuk menembus pertahanan Malfoy Manor tanpa sihir yang hebat dan—tentu saja—terkendali?"
Jelas Ron tahu jawaban dari pertanyaan Hermione, tetapi ia lebih memilih untuk tidak menanggapi. Begitu pula Harry dan Draco, keduanya bungkam dan terjebak dalam kepala masing-masing. Kenapa, batin Harry, Malfoy yang diincar oleh Young Tully? Apa yang dimiliki Malfoy yang mampu membuat penyihir hitam tertarik untuk mengincarnya? Dan, kenapa pionnya harus seorang muggle?
Ponsel Hermione yang berdering keras membuyarkan lamunannya. Hermione merogoh sakunya dan mengangkat teleponnya dan mengabaikan pandangan heran Ron dan Draco. Dahinya mengernyit dalam saat ia mengucapkan kata "Halo?"
"Hermione," terdengar suara laki-laki bergetar dari kejauhan, suara yang dikenalnya.
"Ya?"
"Hermione, aku... aku... telah membunuh nenekku," lalu kalimat itu diakhiri dengan isakan keras yang membuat Hermione makin terperanjat.
.
.
.
TBC
.
.
.
a/n: Bagaimana dengan chapter ini? Kalimat yang dicetak miring itu Choco kutip dari Deathly Hallows. Mmm... RL menyita waktuku terlalu banyak ternyata. Jadi kalau chapter ini kurang memuaskan Chocolaput minta maaf. Jangan lupa review, oke?
