Chocolaput Present
.
.
.
Harry Potter and the Mystery of the Beast
Chapter 7: Bola Patronus
.
.
.
Disclaimer: Hanya dalam mimpi aku memiliki Harry Potter
.
.
.
Api hijau itu berkilat sesaat sebelum wajah disana memberengut kecewa. Sayangnya kekecewaan itu tidak sebanding dengan kekhawatiran yang tertinggal di benaknya. Walaupun mulutnya serasa dipenuhi abu panas, ia memaksa diri untuk bicara. Bicara kepada satu-satunya keponakan yang ia miliki.
"Baiklah. Pergilah kalau begitu. Kau tak perlu mengkhawatirkan Cissy, perhatikanlah dirimu sendiri, Draco," Draco mengangguk, menyaksikan wajah Andromeda dalam perapian disela-sela lidah api yang berkilat.
Sesaat mereka hanya saling diam tanpa ada yang berbicara sampai akhirnya Draco berkata, "Besok tolong antarkan ibu ke Dokter Granger. Tolong jangan tinggalkan ibu sendirian, Bibi. Tanpa adanya aku dan ayah... aku tak tahu, mungkin dia akan—"
"Tidak," tukas Andromeda, "sudah kubilang Cissy akan aman bersamaku. Dan bukankah putri Dokter Granger juga penyihir? Kuharap dia orang yang tepat untuk mengontrol lukamu."
Draco sudah memberitahu bibinya mengenai serangan Young Tully, juga mengenai luka yang ia dapatkan akibat serangan itu. Andromeda sangat khawatir tetapi ia telah berjanji untuk tidak memberitahu Narcissa Malfoy tentang ini. Membiarkan ibunya dalam keadaan tak tahu apa-apa memang kejam, namun tentu saja Draco tak mau ambil resiko membuat kesehatan ibunya menurun.
"Bibi," panggil Draco lagi yang disambut Andromeda dengan antusias, "tolong jaga Edward Lupin untuk Potter."
Senyuman Andromeda mengembang mendengar ini, sejurus kemudian dia berseru, "Tentu saja, Draco. Edward Lupin adalah cucuku. Dan Draco... kuharap kau mengingat ini... kau adalah Draco Malfoy."
"Aku ingat kalau aku seorang Malfoy, Bibi," canda Draco mengabaikan tatapan serius Andromeda.
"Lebih dari itu, Nak. Kau bukan hanya seorang Malfoy, ingatlah garis keturunan ibumu dan sejarah masa lalumu. Kau mungkin akan mengerti bahwa ayahmu menyembunyikan lebih dari yang mampu dia sembunyikan. Berhati-hatilah karena mungkin itulah yang dicari orang-orang."
"Aku mengerti," kata Draco meskipun kenyataannya ia sama sekali tak mengerti tentang perkataan Andromeda barusan.
Setelah ucapan sampai jumpa sederhana, Draco bangkit. Ia mendengar seseorang telah menjatuhkan sesuatu dengan bunyi gedebuk keras dan Draco menuju sumber suara itu sesegera mungkin.
.
.
.
Dilihatnya tempat payung berbentuk kaki trol telah jatuh terguling di lantai batu. Hermione Granger mendengus keras kepada dirinya sendiri. Ketika ia menyadari kehadiran Draco, wajahnya bertambah makin masam.
"Aku sudah mencoba lima kali! Aku tidak bisa ber-apparate ke rumah Young Tully!" jeritnya frustasi.
"Mungkin kau harus mencobanya diluar—"
"Aku memang mencobanya diluar! Kalau kau mau tahu, aku tampak sangat konyol. Ada banyak muggle di lapangan depan dan mereka melihatku. Kalau kau tak keberatan Malfoy, bilang pada Harry bahwa dia harus mengizinkanku melepas pengamanan anti-apparate di rumah ini. Jadi aku bisa ber-apparate ke apartemenku dan membawa mobilku kemari. Kita akan pergi dengan cara muggle."
Well, ini pertamakalinya Draco diteriaki seorang wanita selain Pansy Parkinson. Hal itu membuat Draco menghela napas beruasaha bersabar. "Oke, tenang Granger. Akan kupanggil Potter untukmu dan jangan berteriak-teriak lagi," ujar Draco hati-hati. Takut kalau-kalau Hermione menjadi lepas kendali lagi.
"Tidak perlu," terdengar langkah-langkah menuruni tangga. Ron muncul dengan ransel hitam menggantung dipundaknya, tampak waspada. "Lepaskan saja pengamanannya Hermione, dan cepat ambil mobilmu kemari. Harry sudah mengizinkannya"
Setelah mendengar persetujuan dari pemilik rumah yang disampaikan Ron, Hermione melambaikan tongkat sihirnya ke udara dan langit-langit rumah yang diterangi cahaya temaram. Ia menggumamkan sesuatu dan dengan gerakan rumit, diturunkannya tongat sihir sehingga terjatuh disisi tubuhnya. Lalu, Ron merasakan kulitnya disentuh sesuatu tak kasat mata. Tampaknya Draco juga merasakannya karena ia sedikit bergidik.
"Aku pergi," kata Hermione sebelum berputar ditempat dan menghilang diikuti bunyi plop keras.
Sekarang tersisa dirinya dan Ron Weasley. Ini aneh baginya, mendapati dirinya bersama orang itu tanpa saling melempar kutukan—atau mungkin Draco salah. Karena secepat kilat, tanpa Draco duga, Ron mendorongnya kuat hingga punggungnya membentur dinding. Ia bisa merasakan luka diperutnya menganga kembali, lalu saat ia mencoba bangkit, tali-tali meluncur dari tongkat Ron dan membelitnya. Membuatnya tak bisa berbuat apa-apa selain bernapas dengan tersengal.
Ron merunduk menatapnya dengan—apa? Waspada? Entahlah. Tapi Draco mengingat ekspresi ini. Terakhir kali ia melihat Weasley bertampang seperti ini mereka menghancurkan Ruang Kebutuhan di Hogwarts dengan membakarnya. Well, Draco tak ingin hal seperti itu terjadi, tapi kenapa? Ia tak mengerti, apa Ron Weasley sudah gila?
"Malfoy, aku terpaksa melakukan ini karena aku mencurigaimu," ujar Ron hati-hati.
Draco mengumpat, tiba-tiba kemarahan memuncak didalam dirinya. "Apa-apaan ini? Kau mencurigai aku?" semburnya marah.
"Yah, Malfoy, aku terpaksa, kan? Kau coba saja pikirkan Dobby, kau ingat dia? Dan bagaimana nasibnya saat dirumahmu, tidak jauh beda dengan Timby, kan?"
"Apa yang kau bicarakan, Weasley?"
"Begini, harusnya aku menyadari ini sejak awal. Kau adalah mantan Pelahap Maut, mungkin masih. Kau bisa saja menjadi pembunuh Timby saat ini. Dan Eliksir Steab, kenapa kami harus mencurigai Antonin Dolohov yang entah dimana sementara kau ada disini? Seorang mantan Pelahap Maut, keturunan keluarga Black dan bebas. Kau bahkan tahu bagaimana cara menghentikan air terjun anti-maling Gringoots. Ayo, Malfoy, beritahu aku apalagi yang kau sembunyikan di Malfoy Manor! Apa ayahmu masih menyimpan Bola Patronus itu?" ujar Ron panjang dengan suara yang tidak seperti suara Ron.
Entah bodoh atau bagaimana, Draco masih sempat pamer seringaian memuakkan yang tentu saja membuat Ron merengut marah. "Kau benar-benar dungu!" lirih Draco karena memang itulah yang bisa ia lakukan sekarang ini, yeah dalam kondisi terikat begini.
"Aku sudah muak denganmu, Malfoy. Cepatlah mengaku dan kita bisa menyelesaikan ini berdua saja. Hanya kau dan aku, duel penyihir," Ron mengelus tongkatnya sayang seolah ia sudah tak sabar untuk menggunakannya.
"Aku tidak akan mengakui apa-apa. Dan kau juga tidak akan melakukan apa-apa dengan tongkatmu," Draco geram, posisinya sungguh tidak adil. Ia tanpa tongkat dan terikat...
"Apa kau mengira aku tidak berani, Malfoy? Kau harus ingat satu hal... aku bukan pengecut sepertimu!"
"Kau tidak—"
"Cruci—"
"Stupefy!"
Cahaya merah meluncur dari arah tangga, mengenai punggung Ron Weasley secara telak. Ron ambruk tepat pada saat ia akan melontarkan Kutukan Cruciatus kearah Draco, tongkatnya terlempar dan Draco mensyukuri keberuntungannya.
"Menyerang teman dari belakang, Potter?" ejek Draco kepada Harry yang muncul dari tangga dan melambaikan tongkatnya tak acuh untuk melepas ikatan Draco dan segera menolong Ron.
"Saat keadaan darurat, terkadang menyerang teman adalah keputusan yang tepat. Bukan berarti aku membenarkannya," engah Harry saat mencoba mendudukkan Ron yang masih pingsan.
"Ada yang salah dengan teman rambut merahmu itu," Draco berdiri seraya membetulkan pakaiannya. Sebercak darah membekas dikemejanya saat ia menyadari luka itu membuka kembali.
Anehnya, Harry mengangguk menyetujui apa yang dilontarkan Draco barusan tanpa mengelak. "Memang. Dia sudah aneh sejak tadi, saat dia keluar untuk mengecek keadaan diluar lima menit sebelum Hermione mencoba ber-apparate. Antusiasmenya berbeda," Harry menggumamkan mantra kepada Ron dan Ron mengerang pelan. "Kau tak apa? Ron, hei?"
"Err...mio..knee, ngan..gi..."
"Ron..., bangunlah..." desah Harry antara putus asa dan berharap, masih berusaha memegangi Ron agar tetap duduk.
Setelah kira-kira semenit, Ron mengerjapkan matanya dan kelihatan terkejut melihat Harry. "Harry!" serunya seolah sebelumnya benar-benar tidak terjadi apa-apa. "Harry! Young Tully membunuh neneknya, kita harus segera kesana. Ayo, Harry! Kita harus mendahului Polusi muggle—"
"Ron, tenanglah. Aku sudah tahu hal itu dan kita memang akan berangkat kesana."
"Lalu kenapa kau masih disini? Ayo ber-apparate kesana!" tampaknya, apapun yang menimpa Ron sebelumnya sudah tidak mempengaruhinya lagi sekarang.
Harry menggeleng, "Tidak bisa. Ada mantra anti-apparate disana."
Ron kelihatan seperti akan menjatuhkan rahangnya, "Mantra anti-apparate?" ulangnya tak percaya. Memangnya muggle mana yang memasang mantra anti-apparate di rumah mereka?
"Tapi, cobalah tenang. Hermione sedang dalam perjalanan membawa mobilnya kemari."
"Huh," gerutu Ron, "padahal aku benci naik mobil."
"Daripada kau mengeluh tentang betapa bencinya kau dengan mobil, bukankah lebih baik kalau kau menjelaskan kenapa kau menyerangku tadi?" tanya Draco dengan suara yang luar biasa jengkelnya.
"Aku? Menyerangmu?" Ron membeo dan baru menyadari kalau Draco ada disitu.
Rasanya percuma saja berusaha meyakinkan Ron kalau dia tadi menyerang Draco. Ron tampaknya menderita lupa ingatan parah untuk sementara. Ia cuma mengingat pagi harinya yang normal di kamarnya diatas toko George dan usahanya pergi ke Grimmauld Place nomor 12 dengan melewati depan rumah Young Tully yang kelihatan normal. Setelah itu, bahkan Ron melupakan pertemuannya dengan Severus Snape padahal ia sudah menantikan saat-saat itu. Jadi Harry dan Draco—dan bahkan Ron—dengan berat hati mengakui kalau Ronald Weasley dibawah pengaruh Kutukan Imperius. Tapi bagaimana mungkin Kutukan Imperius dapat menghilangkan ingatan sebanyak itu?
"Aku tak mengerti," kata Draco lama kemudian. Saat itu mereka berempat sudah menaiki mobil Hermione yang meluncur pelan melalui London muggle. Mereka berempat bisa saja naik Bus Ksatria, tapi mereka ragu akan kualitas kerahasiaan misi mereka (mengingat Stan Shunpike masih menjadi kondekturnya). "Weasley menyebut-nyebut Bola Patronus—walaupun tanpa dia sadari, sih. Tapi apa itu Bola Patronus?"
Seperti yang sudah diduga semua orang yang berada dalam mobi itu, hanya Hermione yang mampu menjawab pertanyaan macam itu. "Bola Patronus sebenarnya adalah patronus biasa yang dibekukan. Dengan sihir khusus, orang bisa memerangkap patronus mereka dalam bentuk bola. Aku pernah melihatnya di Departemen Misteri bentuknya seperti bola kristal untuk meramal. Tapi alih-alih kabut, isinya malah patronus."
"Asyik deh kalau punya satu dirumah," celetuk Ron tanpa dosa. Ia sudah terbiasa berkomentar seperti ini untuk setiap penjelasan Hermione.
"Asal kau tahu saja, Ron. Semakin lama patronus disimpan maka akan semakin kuat. Apalagi kalau pemiliknya selalu diliputi kebahagiaan, seribu dementor pun tak akan berani mendekat," Hermione membalas ucapan Ron sambil tetap fokus menyetir.
"Tapi tetap saja, ayahku tak bisa membuat patronus. Tak satupun dari keluarga Malfoy yang bisa."
"Terlepas dari milik siapa patronus itu, ayahmu pasti tertarik akan kekuatannya," timpal Harry yang duduk disebelah Hermione didepan.
"Yeah, barang-barang seperti itu. Ayah sangat menyukainya," gumam Draco kepada dirinya sendiri.
.
.
.
Seperti yang diam-diam diduga Harry tetapi ia tak pernah punya keberanian untuk mengutarakannya, Young Tully raib entah kemana. Dia jadi buronan seluruh Inggris sekarang. Banyak sekali wartawan yang berseliweran di area rumah Young Tully, belum lagi ditambah polisi dan sirine ambulans yang meraung-raung membuat keadaan jadi sepuluh kali lipat lebih buruk daripada yang diduga Harry. Berdasarkan keterangan polisi yang berhasil Harry curi dengar omongannya, seorang pria menelpon kantor polisi dan melapor telah terjadi pembunuhan di rumah itu. Sayangnya tak diketahui siapa pria itu dan Mrs. Tully diketahui tinggal bersama cucunya yang pernah terkena kasus kriminal. Hal itu, secara otomatis membuat Young Tully menjadi tersangka.
Sesungguhnya, Harry menolak untuk percaya akan berita yang didengarnya itu. Tetapi ia juga tak bisa menyangkal banyak, apalagi saat ia berdiri mematung dipinggir kerumunan dan melihat jasad tua Mrs. Tully diangkut ke ambulans.
"Bukan dengan cara muggle!" pekik Hermione seraya mencengkeram lengan mantel Harry agar Harry juga melihat fakta yang dilihatnya.
Namun tanpa perlu cengkeraman sekuat itu, seluruh penyihir yang melihat jasad Mrs. Tully dipastikan tahu penyebab kematiannya. Kutukan kematian. Sebuah kutukan yang hampir tiga tahun ini dipastikan tak ada yang menggunakannya kepada manusia bahkan serangga.
"Tidak ada lagi orang didunia ini yang dicintai Young Tully," kata Draco.
"Itu berarti tidak ada yang mampu mengendalikan kewarasannya," simpul Harry.
"Tapi pembunuhan ini dilakukan oleh penyihir! Apakah menurutmu ada orang yang tega menggunakan Kutukan itu?" tanya Hermione.
Mobil ambulans itu menyalakan sirinenya lagi, lalu meluncur pergi. Menembus kerumunan wajah-wajah yang ingin tahu dan wartawan yang terus meliput berita ini.
"Kecuali kalau Voldemort masih ada," kata Ron putus asa.
Tepat pada saat itu, sesuatu meledak dilangit biru kelabu. Cahaya hijau menggumpal diangkasa seperti gas diberi pewarna, menggeliat dan memecah lalu berkumpul membentuk sesuatu. Para muggle terkesiap secara bersamaan, terpesona dengan apa yang mereka saksikan. Cahaya itu berhenti bergerak, menggantung rendah diudara, tepat diatas atap kediaman Tully yang bobrok, Tanda Kegelapan raksasa kembali terlihat.
"Tidak, Potter!," Harry sudah akan berlari menuju rumah itu, mengejar siapapun orang bodoh—atau sok berani—yang menyihir Tanda itu sebelum Draco Malfoy menyentaknya kembali. Napas Harry memburu, tak percaya melihat dua sahabatnya yang tak bertindak atas apa yang dilakukan Draco terhadapnya.
"Kenapa?" teriaknya, "kenapa kalian diam saja? Itu Tanda Kegelapan dan kita harus mencari orang itu!"
"Harry," kata Hermione dengan suaranya yang paling sedih, "siapapun dia, pasti orang itu sudah ber-apparate. Pergi entah kemana, kau tak akan bisa melacaknya."
"Hermione, bukankah kau sendiri yang bilang kalau tempat ini dibatasi mantra anti-apparate? Dia tak akan bisa pergi!" ucap Harry habis sabar.
Hermione menatap Tanda Kegelapan itu dan bergumam, "Sudah hilang, Harry. Rasakanlah."
Dengan hati seberat satu ton, Harry mencoba entah apa yang Hermione suruh rasakan. Untuk sesaat dia merasa konyol namun kemudian Harry merasa napasnya hanya disesaki oleh aroma parfum muggle dan bau kumuh daerah itu. Perlahan ia memahami apa yang dikatakan Hermione—entah bagaimana—selongsong mantra itu telah diangkat. Harry tahu bahwa mantra anti-apparate hanya bisa diangkat oleh orang yang merapalkannya, atau oleh orang lain atas izin perapal mantra.
"Aku mencoba belajar mengenali jejak sihir seperti yang Dumbledore lakukan. Tapi sihir disekitar tempat ini terasa buruk," Harry tertegun mendengar Hermione bersuara. "Ayo kita ke Malfoy Manor," ajak Harry kemudian.
"Er... Harry kurasa ada yang aneh denganmu. Kenapa—"
"Tidak, Ron. Kita harus mendapatkan Bola Patronus itu sebelum orang lain. Pencarian pertama kita adalah Malfoy Manor," tegas Harry, matanya melirik kembali Tanda Kegelapan yang mulai memudar. Muggle tampaknya menyimpulkan kalau itu adalah ulah anak-anak sekarang dengan teknologi terbaru mereka. Siapapun orang yang telah meng-imperius Ron demi Bola Patronus sama sekali tak layak mendapatkan benda itu. Harry hanya merasa bahwa ia dan teman-temannya harus menyelamatkannya.
"Bagus, deh, kalau kalian berencana mengacak-acak rumahku," gerutu Draco.
.
.
.
Malfoy Manor tampak biasa-biasa saja bagi Draco Malfoy. Tempat ini adalah rumahnya, tempat ia merasa aman dan tempatnya bersembunyi dari berbagai kenyataan menyedihkan yang pernah menimpanya. Tapi bagi Harry, Ron, dan Hermione, Malfoy Manor adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Setiap kali berada di Malfoy Manor, entah mengapa Harry selalu merasa diawasi oleh sesuatu. Bayang-bayang Pelahap Maut yang berseliweran dilorong-lorongnya, bagaimana mereka semua berencana untuk menghancurkan dunia sihir disini. Tempat ini seolah menyerap semua kengerian itu dalam wujudnya yang kokoh dan angkuh, menjulang dengan susunan batu bata kelabu dan suram dan taman seluas setengah lapangan sepak bola yang penuh petak-petak bunga yang dikubur salju membuat rumah—istana—ini semakin terasa tak tersentuh, tak terkalahkan. Dengan pemikiran seperti itu, mustahil rasanya menemukan Bola Patronus—yang dibuat dengan kenangan bahagia—ditempat ini. Lagipula bukankah Draco sudah bilang kalau tak pernah ada anggota keluarga Malfoy yang mampu menciptakan Patronus? Seolah mereka tak punya cukup kenangan bahagia.
"Ayo, silakan acak-acak rumahku," gumam Draco dan dia memimpin jalan, melewati jalan berbatu hitam yang membelah taman luas itu.
Begitu semua setuju untuk mengunjungi Malfoy Manor, Hermione segera menitipkan mobilnya di Leaky Cauldron. Akan makan banyak waktu jika mereka pergi dengan cara muggle, pun mereka tak tahu jalan muggle mana yang bisa dilewati mobil Hermione untuk menemukan tempat yang dilindungi sihir. Omong-omong soal sihir, seharusnya—menurut teori Hermione—batas-batas sihir terasa sangat kuat. Yah, seharusnya, karena sesuatu yang janggal telah menimpa batas sihir itu. Hermione merogoh sakunya dan mengecek ponselnya, masih berfungsi dengan benar dan bisa menangkap sinyal. Ponsel selalu menjadi alat sederhana untuk mengecek keberadaan sihir diudara. Jika ponsel tidak bisa digunakan tanpa alasan jelas, sudah dapat dipastikan bahwa sihir sangat kuat di area itu. Sayangnya, yang terjadi di Malfoy Manor adalah hal sebaliknya dan itu sudah cukup untuk dijadikan pertanda.
"Kapan terakhir kali kau mengecek perlindungan rumah ini, Malfoy?" tanya Hermione ketika mereka berempat telah sampai di aula depan Malfoy Manor.
"Beberapa bulan lalu, mungkin. Aku sangat jarang melakukan hal itu," jawabnya tak acuh sambil terus berjalan ke balik pintu ganda besar diseberang aula. Hanya ada ruang duduk mewah disana. Jendela besar menjulang dari lantai sampai langit-langit. Potret-potret keluarga dipajang disatu sisi dinding, Hermione berjengit saat Bellatrix Lestrange memelototinya dari kanvasnya.
"Kenapa kau jarang melakukannya? Tidakkah menurutmu kau tidak bertindak ceroboh?" cicit Hermione setelah berhasil mengatasi keterkejutannya.
"Ceroboh?" ulang Draco, "Granger, kau pasti tahu kalau keluarga Malfoy adalah keluarga sihir tua. Tentunya tak mungkin bagi kami membangun tempat ini tanpa perlindungan. Sihir di Malfoy Manor, sesuai yang sudah direncanakan oleh leluhurku, bisa memperbarui sendiri tanpa harus memerlukan kontrol rutin. Jadi Granger, kau tidak boleh mengataiku ceroboh karena hal yang sudah direncakan leluhurku."
Hermione merengut (tetap saja ada yang aneh dengan sihir perlindungan disini) dan Ron mendengus keras, "Berhenti mengoceh mengenai leluhurmu, Malfoy. Kita mulai saja pencariannya, tempat ini kan tidak kecil," usul Ron seraya menatap langit-langit yang diukir rumit.
"Jadi, darimana kita harus mulai?" tanya Harry lebih kepada Draco.
"Er...Ruang bawah tanah. Ayah biasa menyimpan barang-barang sihir disana."
Jika berpikir tentang ruang bawah tanah, pasti itu tak akan jauh-jauh dari perkakas bekas dan rusak, debu, sarang laba-laba dimana-mana, serangga dan tikus-tikus, kurangnya pencahayaan dan semua hal-hal tak menyenangkan lainnya. Tapi jika kau bicara mengenai ruang bawah tanah keluarga Malfoy (ruangan yang berbeda dari yang dulu digunakan untuk menahan Harry) semua hal-hal menjijikkan diatas sama sekali tidak ada. Bayangkan ruangan itu sebuah museun kecil, dengan lemari kaca setinggi langit-langit yang memenuhi dinding, tambahkan meja-meja panjang yang disusun seperti labirin dan cahaya lampu kristal yang memantul di kaca lemari. Semuanya tampak begitu keren kalau saja benda-benda disitu tidak penuh sihir hitam.
"Koleksi ayahmu menandingi koleksi Departemen Misteri," komentar Hermione kagum, saat tangannya menyentuh buku mantra kuno yang sampulnya bernoda sesuatu yang dicurigainya adalah darah.
"Ayah memang mendapatkan beberapa dari sana. Kau sering ke Departemen Misteri?" timpal Draco yang ikut-ikut memandangi buku tersebut dengan tertarik.
"Mm," Hermione mengangguk, "beberapa untuk menyelidiki kasus dan beberapa untuk memenuhi rasa penasaranku."
"Apa ini?" tanya suara Ron dari suatu sudut.
Draco berjalan menghampiri Ron dan melihat apa yang dipertanyakannya. Sekilas dia berjengit dan menjawab, "Jauh-jauh dari benda itu. Itu potongan jubah Dementor."
"Potongan jubah Dementor?" ulang Ron lalu segera meluncur menjauh daru benda itu. "Aku tak mengerti kenapa ayahmu menyimpan potongan jubah Dementor," kata Ron sambil bersungut-sungut.
Setelah merasa cukup melihat-lihat (karena siapapun tidak mungkin tidak tergoda untuk melihat-lihat isi tempat ini) mereka berempat memulai pencarian. Awalnya memang kelihatan mudah karena benda-benda disini disusun rapi dan tertata. Tapi mengingat jumlahnya ratusan—mulai dari sehelai rambut Banshee sampai kotak emas mencurigakan—pencarian lama-lama terasa melelahkan dan membosankan. Hermione telah mencoba mantra Accio-nya, tapi seperti Horcrux, benda itu tak mau dipanggil begitu saja dengan cara yang mudah.
Akhirnya, tiga jam kemudian, keempatnya duduk bersandar di lemari kaca, berkeringat dan terengah-engah. Bernapas rasanya semakin sulit mengingat mereka berada di ruang bawah tanah. Draco telah memanggil peri rumahnya untuk menyediakan makanan dan minuman. Rupanya mereka sangat kelelahan hingga dalam waktu lima belas menit semua makanan itu telah tandas (Ron menghabiskan paling banyak).
"Mungkin ayahmu tidak menyimpannya disini," kata Harry.
"Tapi dimana lagi? Ayah menyimpan semua koleksinya disini," sangkal Draco.
"Mungkin benda itu begitu berharga sehingga tidak aman jika ada disini," kata Ron.
"Atau mungkin...Mr. Malfoy menyimpan benda ini pada orang yang paling dicintainya," usul Hermione.
Mata Ron berbinar penuh ide, "Benar. Bukankah Patronus dibuat dengan kenangan bahagia? Bagaimana kalau Mr. Malfoy mempercayakan benda itu pada orang yang paling ia sayangi?"
"Kalau begitu, siapa orang yang paling dicintai Ayahmu, Malfoy?" tanya Harry pada akhirnya.
Spekulasi mereka bertiga memang kedengaran masuk akal. Siapa orang yang paling dicintai ayahnya? Awalnya Draco akan menjawab bahwa ibunya adalah orang itu. Tetapi ia mencoba berpikir lagi dan mengingat ayahnya lebih keras daripada yang pernah ia coba sebelumnya. Ayahnya yang begitu panik saat ia jatuh dari sapu mainannya, ayahnya yang mengajaknya menonton pertandingan quidditch dimana saja, ayahnya yang membelikannya komputer muggle betapapun beliau membenci muggle, ayahnya yang...dan ayahnya yang segalanya baginya hingga Voldemort datang datang dan merusak segalanya. Ia mendapati dirinya berkata, "Aku," pada mereka.
.
.
.
Kamar Draco Malfoy adalah tempat pencarian berikutnya. Walaupun Ron nenyangkal bahwa tidak mungkin Bola Patronus berada disitu, Harry dan Hermione yakin Bola Patronus ada disana. Kendalanya adalah, tampaknya Draco tidak menyimpan apapun yang berhubungan dengan sihir disitu. Aneh sekali rasanya melihat ada satu set alat musik band ada disana lengkap dengan speaker besar dan dvd band-band muggle disana. Wajah Draco berubah warna menjadi merah muda saat mau tak mau Harry, Ron, Hermione cekikikan. Rahasianya terbongkar sudah, diam-diam ia juga pecinta musik muggle.
"Aku merasakannya," kata Hermione setelah menyelesaikan tawanya, "Bola Patronus itu." Hermione serius sekali sehingga teman-temannya juga ikut terdiam. Ia nenunjuk dengan tongkat sihirnya, satu titik diatas kepala ranjang Draco.
"Hermione, cuma ada dinding disana," kata Ron tak mengerti apa yang dilakukan Hermione.
Tetapi Hermione tak acuh, dan semakin memfokuskan pandangannya ke titik itu dan bergumam, "Harmonia nectere passus." Dinding batu bergeser, menunjukkan tempat kecil didalam sana dan Bola Patronus betul-betul ada disana.
"Bagaimana kau melakukan itu?" tanya Draco takjub.
"Susah kubilang, aku belajar merasakan sihir."
Harry mengamati lebih dalam Bola Patronus itu. Bentuknya memang seperti Bola Kristal Trelawney, tapi isinya bukan kabut. Hewan kecil berlarian didalamnya, wujudnya terbuat dari cahaya sehingga bola itu berpendar dalam cahaya kebiruan. Kebahagiaan nemancar dari bola itu, Harry merasakannya. Selain itu, sesuatu yang lain mengusiknya. Ia mengenali patronus itu, ia pernah melihatnya setidaknya dua kali. Sekali di Hutan Dean dan sekali dalam memori. Rusa betina yang sama.
"Itu Patronus milik Snape."
.
.
.
TBC
.
.
.
Silakan review bagi yang berkenan. Maaf bila ada typo(s).
Chocolaput
