Chocolaput Present

Harry Potter and the Mystery of the Beast

.

.

.

Chapter 8: Beast

Disclaimer: Always J.K. Rowling

.

.

.

"Lebih dari itu, Nak. Kau bukan hanya seorang Malfoy, ingatlah garis keturunan ibumu dan sejarah masa lalumu. Kau mungkin akan mengerti bahwa ayahmu menyembunyikan lebih dari yang mampu dia sembunyikan. Berhati-hatilah karena mungkin itulah yang dicari orang-orang."

Mungkin sekarang Draco mulai mengerti apa yang dimaksud Andromeda, meski tidak semuanya. Ayahya selalu menyembunyikan banyak hal, segala hal malah. Mungkinkah yang dimaksud Andromeda adalah ini—Bola Patronus ini? Apakah sekarang orang-orang sedang mencari Bola Patronus? Dan garis keturunan ibunya, Keluarga Black. Keluarga itulah yang memulai penyebutan Darah Lumpur di kalangan penyihir, anggota keluarga mereka mendukung sihir hitam dan juga—Black yang membuat Eliksir konyol itu.

Bola Patronus diletakkan disebuah kotak beludru yang Draco temukan di lemarinya. Sekarang kotak itu ada dihadapannya, menggodanya untuk mencari tahu apa yang bisa Bola itu lakukan. Draco beringsut disofa ruang duduk depan, berada diposisi ini membuatnya pusing, andai saja ada ayahnya disini. Ayahnya selalu bisa menemukan jawaban yang Draco harapkan, seperti apa kegunaan Bola Patronus itu selain memancarkan kebahagiaan yang untuk sekarang tak begitu berguna dan kenapa itu harus Patronus milik Snape?

Draco membayangkan ayahnya duduk disofa lainnya yang berada dekat jendela, menjelaskan segalanya dengan suara keras agar seluruh ruangan bisa mendengar betapa pintar pertanyaan anaknya itu, bahkan jika pendengarnya hanyalah lukisan. Tetapi ayahnya sekarang berada jauh di Azkaban, dan sudah lama sekali sejak Draco terakhir mengunjunginya. Ruang duduk ini sekarang terasa begitu kosong, hanya suara dengkur beberapa lukisan yang menemani lamunan Draco.

Harry Potter dan Ron Weasley sudah pergi ke Kementerian beberapa menit lalu atas panggilan Menteri Sihir. Tanda Kegelapan itu sudah membuat heboh masyarakat sihir Inggris, orang-orang jadi cepat panik belakangan ini. Lagipula, mereka—para Auror—harus menemukan Young Tully secepatnya. Kasus ini bukan lagi kasus yang bisa ditangani mereka berempat sendiri. Young Tully harus diselamatkan sebelum dia jadi korban, kata Harry tadi padanya. Tapi menurut Draco, Young Tully sudah menjadi korban. Hanya ada dirinya dan Hermione Granger di Malfoy Manor sekarang, tapi Hermione sedang meminjam perpustakaan Malfoy Manor untuk mencari kegunaan Bola Patronus. Karena Draco tidak mau repot-repot membantu, dia berada disini dan sedang melakukan sesuatu yang dia sebut berpikir. Jadi dia benar-benar sendiri sekarang.

Lalu, suara itu terdengar seolah membelah langit-langit rumahnya. Krakk—

Seseorang jelas-jelas telah berdiri disebelah sofanya, bukan Hermione, bukan pula Harry ataupun Ron, melainkan...

"Dolohov!" seru Draco seketika itu pula, saking terkejutnya ia langsung berdiri dengan tongkat siap siaga.

Dolohov terkekeh, suaranya berada diantara isakan dan kebengisan sehingga kedengaran mengerikan. Draco tak sempat memandangi penampilan Dolohov, hanya saja dia tampak begitu aneh. "Maaf, Draco. Tapi kita terburu-buru."

Tali-tali meluncur dari ujung tongkat Dolohov dan membelit Draco. Satu samberan cahaya merah menghantam telak dadanya. Sebelum Draco sempat menghindar, serangan rasa pusing dan kegelapan memenuhi kepalanya. Setelahnya, Draco tak ingat apa-apa.

.

.

.

Hermione begitu terkejut sekaligus ketakutan ketika dia merasakan hal itu. Rasanya seperti ada aliran listrik statis yang mengejutkan kulitnya tiba-tiba lalu lenyap sedemikian rupa. Tidak diragukan lagi, batinnya gundah sambil meletakkan buku yang ia genggam di lantai. Entah kenapa dia menjadi panik, setengah terguncang, jelas sesuatu yang tidak sering ia alami. Jelas ini bukan akibat listrik statis (Malfoy Manor tidak punya listrik) tapi Hermione bisa memastikan kalau ini sihir. Sihir yang baru saja menerobos Malfoy Manor.

Mendapati dirinya dalam keadaan panik mencari pintu keluar perpustakaan malah semakin membuatnya khawatir. Dia tidak pernah tersesat dalam perpustakaan manapun sebelumnya, namun kali ini ia sepertinya terbenam terlalu dalam diantara buku-buku ini. Ia menyalahkan dirinya sendiri, bodoh—ceroboh. Seharusnya, begitu ia menemukan buku itu ia langsung menemui Draco dan mendiskusikannya. Seharusnya, dia tidak mempercayakan Bola Patronus pada Draco—bukannya ia tidak percaya pada cowok itu—karena itu terlampau berbahaya. Mengingat kejadian-kejadian mengerikan sering menimpa Draco akhir-akhir ini dan analisanya mengenai pertahanan Malfoy Manor sungguh tidak bijak membiarkan Draco menjaga Bola Patronus sendirian. Apalagi setelah ia membaca buku itu.

"Malfoy," teriaknya kepada kamar kosong Draco, tempat terakhir ia melihatnya. Suaranya memantul menyedihkan dan tidak ada tanda-tanda jawaban.

Ia berlari lagi. Membuka pintu-pintu, melongok keluar jendela, menyusuri koridor dan naik-turun tangga, merapal Homenum Revelio, tetapi Draco Malfoy tidak berada dimanapun di Malfoy Manor. Akhirnya Hermione menghadapi ketakutan terakhirnya saat ia mematung di ruang duduk mewah di bawah. Sofa masih menunjukkan tanda-tanda baru saja diduduki, kotak beludru itu sekarang terbuka dengan isinya yang entah dimana.

Hermione mengumpat mendapati keadaan jadi seperti itu. Tidak ada gunanya lagi mencoba mempertahankan sihir Manor. Dia meng-accio buku yang tadi dibacanya dan dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, membobol pertahanan leluhur terakhir dan tenggelam dalam pipa kegelapan.

.

.

.

Harry Potter membeku ditempatnya mendengar kabar dari Hermione. Draco Malfoy diculik oleh seseorang yang mengakibatkan semua kekacauan ini. Harry ingin bertindak, bergerak pergi ke tempat dimana Malfoy ditahan dan menghentikan semua ini. Tapi ia tidak mendapat persetujuan dari yang lain, mulai dari rekan auror, Menteri Sihir, bahkan Hermione dan Ron. Semua menahannya di rapat ini untuk tetap diam dan mendengarkan atau mengusulkan rencana-rencana. Harry tidak bisa terima diperlakukan seperti ini. Ia merasa dianggap sebagai anak kecil tanpa pengalamaman, tetapi rupanya Hermione punya alasan khusus untuk meyakinkan orang-orang agar Harry tetap diam. Terakhir kali Harry bertindak gegabah untuk menyelamatkan seseorang, orang itu malah mati ditempat. Hermione tidak akan melupakan kecerobohan Harry saat itu. Kematian Sirius Black selalu menjadi pengingatnya.

"Bagaimana dengan Hogwarts?" seorang auror mengusulkan dimana kira-kira Draco ditahan.

Menteri Sihir menggeleng, "Minerva sudah memberi laporan, dan tidak ada apa-apa disana," kata beliau.

"Tanda Kegelapan diatas rumah muggle itu menyembunyikan pesan untuk kita," Mr. Weasley berkata. Sebagai salah satu anggota Orde Phoenix yang masih siaga di Kementerian, beliau menjadi peserta wajib rapat ini.

"Sudah jelas, kan? Tanda Kegelapan diatas rumah itu berarti ada pembunuhan oleh Death Eaters disana," kata seorang auror disudut.

Mr. Weasley menggeleng mendengarnya, "Bukan itu maksudku," katanya dan membuat semua orang merasa heran. "Dalam dua perang sihir sebelumnya teror seperti itu selalu ada. Tidak dipungungkiri lagi bahwa jika ada Tanda Kegelapan diatas sebuah bangunan hampir pasti selalu ada pembunuhan oleh mereka. Tapi dulu, Tanda itu selalu muncul diatas rumah penyihir atau kawasan penyihir. Belum pernah ada Tanda seperti itu di daerah muggle. Hal itu mungkin saja karena tempat persembunyian mereka adalah London-nya muggle," jelas Mr. Weasley.

Seluruh peserta rapat terdiam mencerna informasi ini, termasuk Harry. Perkataan Mr. Weasley entah mengapa membuatnya berpikir lebih matang dan tidak gegabah. Lagipula Draco pasti bisa mempertahankan diri, batinnya berusaha menyingkirkan rasa khawatir yang menyergapnya sejak tadi.

Ron menyeringai disisi kanan Harry dan mencondongkan kepalanya ke telinga sahabat senasibnya itu, "Aku tak tahu kalau ayahku bisa sekeren itu," bisiknya. Harry ikut menyeringai meski ia tahu kalau ini bukanlah saat yang tepat.

"Jadi," Menteri Sihir bangkit dan berjalan mondar-mandir ruang rapat, "bagian London muggle yang mana persisnya yang dimanfaatkan oleh Death Eaters untuk hal kotor ini?"

Tidak ada yang menjawab pertanyaan beliau. Seluruh peserta rapat menyadari bahwa menebak-nebak tempat mana yang tepat tidak akan menghasilkan apapun yang berarti. London terlalu luas dan tempat itu bisa dimana saja.

"Kontak para Auror untuk membagi kelompok. Sebagian biar urus dunia sihir dan sebagian lagi kerahkan untuk mengepung London dan melakukan pengecekan total. Sisanya harus menjaga Hogwarts dan Kementerian, kita punya cukup orang untuk itu," putus Harry cepat ditimpali anggukan matang dari Auror senior dan Harry mendapat firasat bahwa dia akan mendapatkan promosi setelah kasus ini selesai.

Beberapa auror bergegas melaksanakan komando Harry. Menteri Sihir berkata, "Aku akan menghubungi Perdana Menteri muggle. Aku akan minta bantuan tentara Inggris kalau perlu," dan setelah itu beliau turut melesat pergi.

"Orde Phoenix, Ron," desak Mr. Weasley.

Ron memandang Ayahnya, "Apa—oh, yeah. Akan kukontak mereka yang masih tersisa dan Laskar Dumbledore, tentu saja."

Hermione dan Harry sempat meneriakkan hati-hati kepada Ron sebelum ia juga meninggalkan ruang rapat. Hanya tersisa beberapa orang disitu, termasuk Harry, Hermione, Mr. Weasley dan senior Harry.

"Apa kita akan menghadapi Perang Dunia Sihir ketiga?" tanya Hermione entah kepada siapa.

"Kita tidak bisa memastikan. Yang jelas kita harus berjuang," ujar Mr. Weasley, beliau meluruskan jubahnya dan menepuk bahu Harry, "Aku akan menemui Molly."

Harry baru akan mengantar Mr. Weasley keluar ruangan sebelum sengatan rasa sakit mendera kepalanya. Sakit sekali sampai Harry merasa tengkoraknya retak dan terbelah. Harry menjerit tapi tak ada apapun yang keluar dari kerongkongannya. Ruang rapat terdistorsi dihadapannya, membengkok dan memebentuk lagi. Sebuah ruangan lain yang sama sekali berbeda.

.

.

.

Draco Malfoy baru saja sadar bahwa dirinya sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk melawan. Ia terikat di salah satu pilar aula besar itu. Ia tidak pernah pergi ke tempat seperti ini sebelumnya, namun dari bisingnya suara kendaraan bermotor ia merasa berada di lingkungan muggle.

Pemandangan dihadapannya sungguh ganjil jika dibandingkan dengan kondisi aula yang bersih dan modern. Ada dua manusia lain selain Draco disana dan seorang lagi entah apa (Draco yakin dia bukan manusia). Draco melihat Dolohov dan Dolohov menyadari itu, dia memberi Draco isyarat diam dengan seringai keji mengiringi. Dolohov sedang mengaduk isi kuali yang menggelegak, memercikkan beberapa lidah api yang meletup-letup seperti petasan. Jelas itu bukan jenis ramuan yang sering Draco buat untuk mengobati pasien.

Lalu seorang lagi, dengan keadaan terikat sama seperti dirinya di pilar lain. Draco mengenali rambut kusut itu dan jins belel yang kotor. Tak sama seperti dirinya yang baru saja membuka mata, Young Tully sedang memberontak pada ikatannya, disela-sela itu ia mengumpat pada sosok bukan manusia yang mondar-mandir disekeliling Young Tully.

"Lepaskan, biar aku bisa menggunakanmu," sosok itu berbicara dengan suara dingin melengking yang telah lama tak didengar Draco.

Tersentak dalam pemahamannya bahwa sosok itu adalah Voldemort, Draco juga ketakutan dengan apa yang harus Young Tully lepaskan.

Suara rengekan, "Tidak! Aku tidak mau membantu Hocus Pocus tololmu itu! Kau membunuh nenekku!"

"Kalau begitu maumu kau harus diberi pelajaran," Voldemort berkata keji dan berputar, "Dolohov!"

"T-Tuan.."

"Lakukan tugasmu!"

Tergopoh-gopoh, Dolohov meninggalkan kualinya dan mendekati Young. Draco tahu apa yang akan terjadi, ia segera memalingkan mukanya tepat saat Dolohov berteriak, "Crucio!" dan jerit kesakitan Young Tully memantul diseluruh aula.

"Hentikan!" tak ada yang meresponnya. Dolohov masih mengacungkan tongkatnya, sama sekali tidak menggubris Draco.

"Hentikan itu!" sekali lagi Draco berteriak dan kali ini berhasil. Atas isyarat Voldemort, Dolohov menurunkan tongkatnya. Teriakan Young Tully berangsur-angsur berubah menjadi rengekan. Sekarang semua perhatian tertuju pada Draco.

Lalu kekehan tawa itu. Tawa melengking dingin yang tak manusiawi lolos dari bibir Voldemort. "Merasa kasihan, Draco?"

Draco memilih untuk tidak mengacuhkan yang satu itu. Ia mendengus marah dan membuang muka. Tatapannya jatuh pada kilau biru keperakan Bola Patronus yang tergeletak begitu saja diantara bahan-bahan ramuan diatas sebuah meja besi.

"Merasa kasihan pada orang yang nyaris menghabisi nyawamu?" suara itu lagi, dan Draco mengabaikannya lagi.

Dia tidak tahu bagaimana cara menggunakan Bola Patronus. Apakah itu cukup untuk menghalau Poltergeist? Teori Draco, seharusnya cukup karena Poltergeist tidak punya kekuatan seperti Dementor. Tapi, poltergeist punya pikiran. Ia harusnya mengikuti Hermione ke perpustakaan dan mencari tahu. Sekarang ia cuma bisa menunggu seseorang menyadarinya bahwa dia menghilang.

"Kenapa kau diam saja, Draco? Takut tak ada yang melindungimu, eh?" suara itu kini sangat dekat dengan telinga Draco. Draco menoleh dan matanya bertatapan lagsung dengan mata Pangeran Kegelapan.

Hitam dan nyaris transparan. Kulit disekitar hidungnya mengelupas perlahan-lahan hingga—alih-alih darah—asap tipis menguar dari balik kulitnya. Lalu Draco mengamati bagaimana kulit itu tumbuh lagi, pelan tapi pasti dan menutup luka yang terbuka. Kemudian mengelupas lagi dan sembuh kembali. Begitu terus-menerus hingga Draco mual melihatnya.

"Kau sudah mati!" gesekan antara kulit dan tali yang mengikatnya rasanya semakin kuat ketika ia mencoba melepaskan diri.

"Memang betul. Tapi, aku masih ada disini."

"Kau cuma poltegeist!" kata Draco lagi dan hal itu tampaknya membuat Voldemort marah.

"Segera," ujar Voldemort licik, "setelah aku merampas jiwa anak itu dan menggunakan darahmu, aku akan menjadi yang terkuat lagi."

"Kau cuma orang yang tak bisa menerima takdir dan kekalahanmu sendiri," Draco mencoba memancing Voldemort untuk memberitahu rencananya. Draco harus tahu itu dan setelahnya entah bagaimana ia akan memberitahu Harry Potter.

"Dan semua ini terjadi karena ibumu membodohiku, Draco! Kau yang harus membayarnya!"

Draco membelalak pada sosok Poltergeist Voldemort, "Kenapa...Kenapa kau mau repot-repot kembali ke dunia ini saat kau tahu tak ada lagi yang setia padamu?" Draco mencoba bertanya, bersikeras supaya suaranya tak terdengar ketakutan.

Berbalik hingga jubahnya ikut melambai dengan dramatis, Voldemort menghampiri Young Tully yang masih meringis kesakitan. "Menyingkirlah, Makhluk Aneh!" umpat Young yang air matanya meleleh di pipinya yang kotor.

"Aku akan menemukan abdi baruku yang lebih setia setelah ini. Para Dementor akan menyukai kekuatanku. Tidak pernah aku berada dalam posisi yang serendah ini dalam hidupku," Voldemort berbicara tanpa peduli kondisi Young.

"Itu karena kau sudah mati!" jelas Draco sekali lagi.

"Tidak lama aku akan membangkitkan diriku sendiri, Draco Malfoy. Darah murni keluarga Black mengalir dalam tubuhmu. Selama ini, keluarga Black menyimpan rahasia-rahasia sihir dalam diri mereka. Darah cuma salah satunya. Digunakan sebagai pemicu kekuatan besar yang ada dalam makhluk ini," Voldemort menunjuk Young seolah Young bukanlah manusia.

"Tidak biasanya kau melibatkan muggle dalam rencana besarmu. Dan tempat ini, bukankah ini ada di wilayah muggle?" ejek Draco kali ini.

"Itu...adalah sebuah kesalahan. Abdiku yang bodoh tidak begitu banyak berpikir. Dia bagus dalam hal mencuri, tapi dia tidak pandai menggunakan barang curian. Rakus akan kekuatan sehingga dia mencoba Eliksir itu untuk dirinya hanya untuk membunuh Peri-Rumah dan menuangkan sisanya ke tenggorokan muggle untuk menyelesaikan dendam pribadi. Aku seharusnya bisa bangkit hanya dengan Eliksir itu. Gara-gara dia semuanya bertambah rumit, dan aku harus menggunakanmu!" Voldemort bercerita, jelas-jelas dia membicarakan Dolohov yang mengkerut dibalik tungku dan kuali.

"Dolohov dan Tully adalah Beast?" Draci membeo tak percaya.

"Seharusnya hanya aku. Tapi, ya Draco. Kini untuk bangkit sebagai Beast pula, aku harus menggunakan jiwa salah satu dari mereka. Dan darahmu Draco, tentu saja sebagai penyempurnanya."

"Kalau begitu kau harus membunuhku dan Young Tully terlebih dahulu."

"Itukah nama makhluk ini? Kau setengah benar, tapi aku tak perlu membunuh seseorang untuk mengambil jiwanya."

"Lalu untuk apa kau perlu Bola Patronus?" Draco telah mencoba mengulik informasi semakin dalam. Bagaimana dia memberitahu Harry soal ini, dia tak tahu. Kalau ia terbunuh kali ini, informasi ini tidak akan berguna.

"Kontrol. Dalam proses pemindahan jiwa Beast kedalam inang baru diperlukan kontrol yang kuat untuk menjaga agar jiwa itu tetap stabil," jelas Voldemort dengan kebanggaan yang tesirat dalam suaranya.

"Jadi, Dolohov yang membunuh Timby dan Mr. Bones?"

Voldemort mengangguk, "Keberaniannya hanya sampai membunuh peri-rumah. Dia menggunakan makhluk itu untuk menyelesaikan dendam pribadinya pada Bones."

Cara Voldemort menyebut Young makhluk itu membuat Draco muak. " Young tak tahu apa-apa soal Mr. Bones, bagaimana Dolohov bisa menggunakannya?"

"Sesama Beast bisa saling mempengaruhi pikiran satu sama lain. Tapi, Draco kenapa kau banyak sekali bertanya?" seringai licik menemani kalimat itu dan Draco tergagap menjawabnya.

Jadi begitulah Young menyerangku malam itu. Dibawah pengaruh Dolohov.

"I-itu...aku hanya penasaran bagaimana kau bisa sepintar itu."

"Kau tidak bisa membohongiku seperti yang dulu dilakukan ibumu, Draco. Tidak bisa. Sekarang aku akan mengakhiri penderitaanku sebagai Poltergeist. Aku yang begitu lemah hingga tanah dan angin mampu merobek kulitku dan mematahkan tulangku, akan bangkit lagi menjadi lebih kuat."

"Tunggu dulu," kata Draco, "Peeves hantu Hogwarts itu, bukankah dia Poltergeist juga? Kenapa dia tidak tampak tersiksa sepertimu?"

"Pertanyaan terakhir, Draco. Setelah ini aku akan menghabisimu," Draco terhenyak mendengar itu tapi ia tetap diam dan mendengarkan.

"Dia cuma menghibur dirinya. Kau tidak pernah melihat Peeves dari dekat, kan? Dia menyembunyikan semua itu dengan tingkah konyolnya. Kalau kau mengamatinya dengan jelas, dia akan tampak sepertiku. Sekarang, Dolohov!"

Semuanya terjadi begitu saja. Awalnya Draco menanti sinar hijau menyambar dirinya dan merenggut hidupnya. Tapi tak terjadi apa-apa. Justru Young lah yang sedang dalam kesulitan. Draco tak tahu mantra apa yang membuat tongkat sihir meluncurkan sinar oranye seperti itu, tapi Young tak menjerit-jerit lagi. Ia hanya menunjukkan raut terkejut dan mulutnya menganga tanpa suara. Draco tak bisa berbuat apa-apa saat Dolohov dengan tongat sihir di tangan kanan dan Bola Patronus di tangan kiri terus merapal sesuatu.

Bola Patronus melayang di udara kosong, menjembatani cahaya oranye dari tongkat Dolohov ke tubuh Young. Lalu dari atas kepala Young, sosok kelabu mewujud dan merayap perlahan menuju Voldemort. Saat itulah Draco sadar bahwa sosok kelabu itu adalah jiwa Beast yang sedang dipindahkan. Lagi-lagi Bola Patronus bekerja sendiri, mengeluarkan sinar keperakan dan menyelubungi sosok kelabu itu dengan cahaya biru-perak-nya.

Tepat ketika Draco memastikan dia akan terbunuh setelah proses itu selesai, sebuah suara diringi cahaya merah melucur dari belakangnya.

"Expelliarmus!" kata suara itu.

.

.

.

TBC

.

.

.

an: maaf ya saya update telat. saya habis selesai ujian semester dan sekarang saya sibuk ujian sekolah yang jadwalnya itu delapan hari serasa delapan abad :') belom lagi ujian finalnya tanggal 4 april nanti :'( ugh! doakan kepala saya masih utuh buat nulis chapter 9 yang bakal jadi chapter terakhir. ookaayyy, ada yang mau memberi saran dan kritik? Silakan pencet tombol review! Chocolaput.