CHOCOLAPUT
HARRY POTTER AND THE MYSTERY OF THE BEAST
CHAPTER 9: END
.
.
.
Disclaimer: Queen Rowling own it all
Aku benar-benar tak mengambil keuntungan pribadi. Hanya kesenangan yang kumiliki. Kuliah ternyata tak semenyenangkan yang ku kira, tapi akhir-akhir ini aku menemukan beberapa orang baik (halah curhat). Ini adalah bagian akhir, maaf telah membuat kalian menunggu begitu lama. Hati-hati dengan typo(s) yang tanpa sengaja ku sebar. Terimakasih ... Terimakasih. Dan sekali lagi maaf. Happy reading.
.
.
.
Bekas luka Harry sakit lagi, sesuatu yang mengejutkan. Ketika kasus ini jatuh ketangannya asumsi Harry hanya pada Pelahap Maut yang ingin membalas kekalahan mereka pada perang terakhir. Hal ini didukung dengan kesaksian Draco bahwa Antonin Dolohov sebenarnya masih hidup dan teori-teori lain yang disampaikan Hermione. Namun rasa sakit yang mendera bekas luka lama itu—walau cuma sekejap—mematahkan semua teori yang susah payah Hermione temukan.
"Voldemort ada dibalik semua ini," putus Harry persuasif melihat tatapan Hermione dan Mr. Weasley yang jelas meragukannya.
"Jangan sembarangan, Harry. Kau sendiri yang mengalahkannya saat itu." Mr. Weasley, yang tidak jadi pergi menemui istrinya, berkata murung.
"Mr. Weasley," tanpa disadari Harry sudah menggeram, "saya tahu itu. Tapi saya mohon, percayalah. Tidak ada orang lain yang bisa membuat bekas luka ini sakit kecuali dia."
"Tapi tak seorangpun bisa membuat yang sudah mati hidup kembali. Bahkan Voldemort sekalipun," Mr. Weasley bersikeras menyangkal.
"Saya tidak tahu bagaimana dia bisa. Tapi saya yakin ... sangat yakin kalau Voldemort yang melakukan semua ini."
Mr. Weasley menunduk dan perlahan mengangguk. Ketika kembali menatap Harry, kecemasan di matanya berkilat puluhan kali lebih jelas. "Yah," desahnya, "kalau memang dia yang kita hadapi itu berarti kita salah langkah. Pasukan kita bersiap hanya untuk mengepung, membebaskan sandera dan menangkap pelaku. Voldemort tentu jauh diluar dugaan kita. Sihir hitam bukanlah musuh yang tepat untuk diajak duel."
Harry menatap Hermione, meminta pendapat cemerlangnya yang biasa. Tapi bahkan Hermione cuma mengangguk menyetujui pendapat Mr. Weasley. Harry menghela napas dan memutar otak. Pada kejayaan Voldemort yang terakhir, sihir hitam yang terlibat adalah Horcrux dan selebihnya adalah intimidasi dan kekejaman yang disebar pengikutnya. Masalahnya Harry tidak tahu pasti apa yang digunakan Voldemort kali ini, Harry tidak tahu rencananya dan dia sudah salah strategi. Tapi ingatan itu kembali padanya, cahaya jingga yang melimpah ruah menembus dirinya, aula sebuah gedung dengan empat pilar raksasa, bola keperakan yang melayang-layang didepannya, suara klakson mobil dan isi kuali yang berdeguk menerobos kepalanya beruntutan, membuatnya merasa sakit lagi.
"Sebuah gedung muggle."
"Maaf?"
"Voldemort ada di gedung muggle. Aku ... aku melihatnya saat bekas lukaku sakit, seperti dulu. Dia ... dia ... bahagia atau—entahlah. Koneksi ini tersambung lagi, aku bisa melihat semua itu," terbata-bata Harry menceritakan penglihatannya pada Mr. Weasley dan Hermione. Keduanya mendengarkan dengan baik dan sesekali terperanjat mendengar kisah Harry.
"Gedung dengan aula besar dan empat pilar raksasa ... Area muggle. Jadi teoriku tentang wilayah muggle itu benar. Tapi ada ratusan gedung seperti itu, apa ada informasi yang lebih spesifik?" tanya Mr. Weasley.
Harry menggeleng, "Entahlah, Mr. Weasley. Saya rasa gedung itu sangat suram, saya merasa putus asa dan tanpa harapan tapi disisi lain kekuatan Voldemort berlipat ganda."
"Putus asa dan tanpa harapan?" celetuk Hermione tiba-tiba, "itu petunjuk yang paling jelas. Dementor. Pasti gedung itu penuh Dementor hingga kau yang hanya masuk lewat pikiran bisa merasakannya."
"Cerdas, Hermione," puji Mr. Weasley yang membuat Hermione merona. " Sekarang kita harus mengirim pesan Patronus pada para auror dan yang lain. Buat mereka melacak Dementor yang berkeliaran di London. Kita bergabung dengan mereka secepatnya."
Mendengar kata Mr. Weasley, mereka langsung bergegas. Rencana mereka disusun kilat dan sudah siap untuk ber-apparate dalam dua menit. Tepat ketika patronus Harry, Hermione, dan Mr. Weasley lenyap membawa pesan masing-masing, sosok keperakan lain menembus dinding batu ruang rapat. Kelinci tersebut berputar keliling ruangan sekali dan berhentu tepat didepan Harry. Suaranya lembut dan bergema mengucapkan, "Vauxhall Road nomor 23. Butuh pasukan. Banyak Dementor dan Nargle."
"Nargle," komentar Harry keheranan, "pasti Luna sedang dalam masalah."
"Kau tahu, Harry, seharusnya kita tahu bahwa dia akan memilih Vauxhall Road. Buku hariannya berasal darisana, kan? Dia sangat sentimental," kata Hermione.
"Yeah. Aku ingat sekarang. Ayo cepat!"
.
.
.
Entah apa yang melintas di kepala merah Ron Weasley saat itu. Ia tidak melaksanakan perintah ayahnya untuk menghubungi Orde Phoenix—tanpa alasan yang jelas. Tetapi ia juga tidak serta-merta bertindak sendirian (walaupun jiwa Gryffindor-nya jelas-jelas ingin melakukan hal itu—tipikal pahlawan). Menghubungi Laskar Dumbledore adalah keputusan terbaiknya saat ia baru saja keluar dari kantor Kementerian. Alasannya, anggota Laskar Dumbledore sekarang lebih banyak, lebih muda, dan mereka punya koneksi yang besar. Kalau meminta tolong pada mereka untuk mencari tempat di dunia muggle yang aneh, yang kemungkinan besar digunakan untuk melakukan praktik sihir mencurigakan, Laskar Dumbledore cukup bisa dipercaya.
Ron berdiri disamping toko tutup yang berada di ujung jalan, menunggu. Tempat disekitar itu cukup lengang dan orang-orang sekitar sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Jadi, jika ada penyihir ber-apparate disitu mereka tidak akan sadar meski sebetulnya ber-apparate di tempat muggle bukanlah hal yang bijak. Ron melirik jam tangannya dan membatin seharusnya Ginny sudah sampai. Tak tahu apa yang menghambat adiknya itu, Ron berharap Ginny tidak datang menaiki sapu.
Bunyi gedubrakan di toko seberang menarik perhatian Ron, seseorang tampaknya memecahkan sesuatu. Orang-orang melongok kedalam ingin tahu. Suara wanita berujar tegas terdengar. "Kami akan ganti! Tapi cuma ini yang kami punya!" suara itu terdengar akrab di telinga Ron.
"Aku tidak butuh logam mainan bodoh itu, Nona!" teriak seorang pria, tak kalah tegas.
"Ini bukan logam mainan bodoh! Ini emas. EMAS ASLI!" teriak suara sebelumnya.
"Kau pikir aku percaya?"
Teriakan-teriakan lain penuh amarah memenuhi toko itu. Ron meluruskan tubuhnya dan hendak ikut melihat. Namun pintu toko itu dibanting menutup sebelum ia sempat mendekat. Tiga orang paling berantakan hari itu muncul dan langsung menghampirinya. Ginny Weasley, Luna Lovegood, dan Neville Longbottom. Wajah Ginny semerah rambutnya dan Neville berkeringat. Luna yang biasanya tampak kalem kini kelihatan semrawut.
"Kalian yang ribut disana tadi?" tanya Ron dengan tololnya.
"Kami ber-apparate diatas satu set cangkir mahal. Aku kehilangan 2 Galleon 3 Sickle," kata Ginny berapi-api.
"Kenapa kau memilih tempat ini, sih?" Neville bertanya dengan tangan menyeka keringat.
"Well," gumam Ron, "ini tempat—"
"—terbaik yang bisa kau pikirkan. Aku mengerti cara kerja otakmu," pungkas Ginny yang membuat Ron mendelik padanya.
"Teman-teman, kalau kalian sudah selesai bertengkar sebaiknya lihat ini," Luna bersuara tanpa memandang mereka. Matanya terpancang pada sesuatu diatas papan reklame usang. Ginny, Neviile, dan Ron mengikuti arah pandangannya, terpana.
"Bukan kebetulan kalau ada Dementor disini," kata Luna lagi.
Tiga Dementor itu sepertinya tidak peduli dengan manusia (ini aneh) tapi mereka terlihat seperti menunggu sesuatu. Keberadaan mereka mempengaruhi sekelilingnya. Suhu menurun drastis, mendung yang tiba-tiba datang, dan udara yang berkeretakan.
"Kita buat Patronus?" saran Neville ragu-ragu.
"Jangan!" sergah Giny. "Lihat! Ada yang datang lagi."
Ginny benar. Dementor berdatangan dari segala penjuru langit, dua-dua atau tiga-tiga. Jumlah mereka semakin banyak dan masih terus bertambah. Lalu, kerumunan suram itu melayang rendah, menerjang menembus para muggle yang tidak bisa melihat mereka dan menjauh.
"Kita buntuti mereka?" saran Neville lagi, dengan mantap. Ketiga temannya mengangguk dan segera saja mengejar Dementor itu.
Lagi-lagi tindakan mereka tanpa disertai alasan pasti. Mereka terus mengejar Dementor itu. Lari, bersembunyi, lari lagi. Rasa putus asa dan kesedihan merambati perasaan mereka sehingga sulit untuk berkonsentrasi penuh. Keempatnya mulai tertinggal jauh saat Luna dengan bijak menyihir patronus yang berlarian mengelilingi mereka. Mereka mengejar dan Dementor itu terus melaju. Berbelok di perempatan yang padat kendaraan, rombongan Dementor itu berhenti di sebuah gedung biru muda.
.
.
.
"Apa Azkaban sekarang pindah kesini?" Ron bertanya dan terpana pada saat yang sama. Melihat Dementor yang mengerumuni sebuah gedung muggle memang membuat Ron tidak bisa berpikir jernih. Rasa sedih luar biasa akibat keberadaan Dementor ditambah bunyi derum kendaraan muggle membuat otaknya macet bekerja.
Para Dementor mengelilingi gedung yang tampak kosong. Pintu depan tertutup dan seertinya mereka berusaha mencari jalan masuk. Beberapa Dementor melayang menjauhi gedung, turun ke jalan raya yang bising dan penuh.
"Mereka akan mengecup muggle itu!" Ginny memekik ketika salah satu dementor mencengkeram dagu seorang pejalan kaki. Pejalan kaki itu terbeliak dan menjerit, ia ambruk ke trotoar dan tangan berkeropeng dementor bergerak ke tudung jubahnya, membukanya dan siap memberikan kecupan.
"Expecto Patronum!" terdengar lecutan keras disamping telinga Ron. Ia menoleh dan melihat Neville terengah-engah dengan tangan masih menjulur didepan.
"Kerja bagus, Neville," kata Ron dan Neville tersenyum. "Kita harus berpencar. Ginny dan Luna, kalian selamatkan muggle disini. Pindahkan mereka ke tempat yang lebih aman," keduanya mengangguk mendengar perintah Ron.
"Bagaimana dengan kau?" Ginny bertanya dengan nada khawatir.
"Aku akan masuk ke gedung itu bersama Neville," Ron bertukar pandang dengan Neville yang mengangguk mantap.
Mereka saling meneriakkan hati-hati. Neville dan Ron berlari menuju gedung itu. Setiap beberapa langkah meneriakkan mantra patronus. Dementor-dementor berhamburan dan pergi. Tapi itu tidak lama sebab setiap satu dementor pergi mereka akan kembali lagi membawa kawanannya. Ron tidak berani memikirkan bagaimana nasib Ginny dan Luna. Ia menyilangkan jarinya dan berharap yang terbaik.
Pintu depan semakin dekat. Satu dememtor menghadang pintu itu. Neville meluncurkan patronus yang mengenai perut si dementor. Ron mengacungkan tongkatnya dan berteriak "Alohomora!" dan pintu itu langsung membuka.
Cahaya jingga berhamburan keluar menyilaukan mata. Mereka masih berlari dan kemudian Ron berhenti dengan begitu mendadak ketika otaknya sudah mencerna apa yang dilihat matanya.
Ini buruk sekali. Jelas ini bukan sesuatu yang ia harapkan untuk dilihat. Tapi ia sudah berada disini dan ia akan berusaha untuk menghentikan ritual konyol apa yang sedang makhluk-makhluk bodoh itu coba lakukan. Dan refleknya bertindak lebih cepat daripada otaknya. Cahaya merah melesat keluar dibarengi mantra yang bersuara "Expelliarmus!" Lalu segalanya luluh lantak. Cahaya jingga berhenti memancar. Seseorang di sebelah menggumamkan namanya terang, bukan Neville melainkan Draco Malfoy.
"Aku tak menyangka. Ronald Weasley dan Neville Longbottom," suara dingin yang telah lama tidak didengarnya. Ron berhenti memandang mata Draco dan dengan ngeri menghadapi apa yang ada didepannya.
"Kau tidak berhak berada di dunia ini," kata Ron tetapi Voldemort hanya menyeringai. "Melibatkan muggle untuk rencana busukmu, membunuh orang-orang yang tidak bersalah untuk kesenanganmu sendiri. Kau masih sama saja dengan dulu saat Harry mengalahkanmu."
"Weasley, tahukah kau apa yang sesungguhnya kucari dari dunia menjijikkan ini?"
Ron tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Jadi ia hanya diam dan memandang tak jelas ke depan.
"Mereka yang tidak pernah benar-benar berusaha mencari kekuatan tetapi mendapatkannya secara cuma-cuma. Orang seperti itu tidak pantas mengalahkan Lord Voldemort. Terutama temanmu. Harry Potter harus mendapat balasan dari Lord Voldemort."
"Jadi kau kesini hanya untuk membalas dendam? Kalau begitu kau membuang waktumu," komentar Neville setelah dia melepaskan Draco dari ikatannya.
Voldemort melihat itu tetapi ia membiarkan Neville melakukannya. "Kau bilang hanya?" Voldemort berputar untuk berpaling pada Neville, jubahnya berkibar mengerikan mengikuti setiap geraknya. Wujud tubuhnya yang aneh kehitaman dan ringkih, lemah namun mengancam dengan caranya sendiri. "Kau tak tahu apa-apa, Longbottom. Terkadang orang-orang membuat kesalahan yang membuat kita harus menanggung akibatnya. Akibat yang merugikan. Dendam berfungsi untuk membuat orang itu merasakan apa yang kita rasakan, bahkan lebih buruk dari itu."
"Aku pikir aku tak memerlukan dendam kalau aku sudah memiliki rasa berbesar hati dan memaafkan. Sesuatu yang jelas asing bagimu," Neville mencibir seraya memberi pertolongan pertama pada luka Draco yang dibuat Voldemort.
Tongkat sihir yang ditangan Voldemort memercikkan bunga api oranye. Young Tully mengejang dibelakang sana. Mendadak penampilannya yang tak ubahnya seorang monster menghilang dan ia muncul kembali sebagai seorang remaja muggle. Lemah, pucat, dan ketakutan.
"Kau masih perlu banyak belajar, Longbottom. Auror dan para hakim Wizengamot tak akan banyak gunanya kalau semua masalah diselesaikan dengan kebesaran hati dan permintaan maaf. Azkaban akan kosong. Setelah ini, setelah aku membunuhmu dan Weasley, aku akan memulai pembalasan dendamku atas kutukan setelah kematian yang masyarakat sihir timpakan padaku. Darah Beast akan mengalir dalam tubuhku dan kawanmu, Harry Potter, akan menjadi korban pertamaku. Kali ini aku tak butuh pengikut, kaum dementor lebih dari cukup untuk membantuku."
Voldemort sedang berusaha menerjang Draco. Ia berlari, setengah melayang. Jubahnya berkibar mengerikan, meninggalkan bekas-bekas asap kehitaman. Jejak lari sang Poltegeist. "Darah Black, Draco!" Pangeran Kegelapan berkata, suaranya bergema dalam gedung itu. Larinya cepat, dan Draco tahu ia tanpa pertahanan. Tongkat sihirnya tidak dalam genggaman, luka diperutnya berdenyut menyakitkan tanpa mampu ia sembuhkan. Tak ada pelindung, hanya Neville Longbottom yang kelihatan tak mampu mengatasi keterkejutan yang menekan.
Neville terjengkang, Voldemort menerjangnya begitu saja. Bunyi berdebam mengiringi jatuhnya Neville. Hidungnya berdarah dan tubuhnya diliputi asap. Ia beringsut dan berusaha berdiri, namun ia kembali terjatuh. Vodemort telah menjadi lebih dari sekadar poltergeist biasa. Ia memiliki kekuatan yang membuat Neville merasa lemah dan tak mampu bernapas. Udara menggelap di sekelilingnya dan Voldemort terus menuju arah Draco.
Draco benar-benar tanpa perlindungan. Ia sudah mengambil lima langkah mundur darurat. Jaraknya dengan makhluk itu kurang dari satu meter. Draco bisa membaui aroma aneh asap kehitaman yang seolah menguap dari tubuh Voldemort sendiri, melejit mengikuti setiap gerak tubuhnya. Tiga langkah mundur darurat. Darahnya benar-benar tak boleh menetes atau makhluk ini akan menjadi semakin berbahaya. Ia menekan perutnya dan mendapati hangat darah yang merembes disana.
Tangan Voldemort yang mirip dengan Dementor terjulur. Meski keduanya sama-sama tanpa tongkat sihir, Voldemort jelas telah memiliki sihirnya sendiri untuk mengancam Draco. Sudah nyaris terlambat ketika Draco merasakan esensi jari itu dilehernya, namun ledakan cahaya didepannya membuat Voldemort terjatuh nyaris menimpanya—
"Nepotestastum!" suara itu menggelegar diikuti ledakan cahaya itu. Bukan suara yang Draco kenali, namun terasa tak asing.
Draco terpaku ditempatnya. Tepat didepan kakinya, sosok poltergeist itu jatuh tertelungkup, namun jelas masih berusaha bangkit. Diatas tubuhnya yang terjatuh, makhluk kelabu bertaring menekankan lututnya di punggung itu. Makhluk itu tidak besar, berambut hitam dan terengah-engah. Young Tully telah berpindah tempat, menggunakan amarah dan rasa takutnya untuk melindungi Draco. Jauh di depan Draco, Antonin Dolohov mengacungkan tongkat sihirnya lurus-lurus ke makhluk itu. Jelas sekali terguncang.
Asap hitam merebak dimana-mana. Menghalangi pandangan, membuat sesak. Draco tak tahu dimana Ron berada atau bagaimana keadaan Neville sekarang. Lamat-lamat didengarnya suara Ron berteriak "Expecto Patronum". Namun suara itu makin lama semakin lemah. Lalu disadarinya pula rintihan Neville di suatu tempat di dekatnya. Tetapi ia tak mampu melihatnya. Kemudian disadarinya bahwa sesuatu mencekal pergelangan kakinya. Tangan Voldemort!
Tapi bagaimana bisa, Draco tak mengerti. "Kemarikan darahmu, Draco. Dan tuanmu akan bangkit." Tidak! Cengkeraman itu terasa menggores kulitnya. Ia tak mampu bergerak, sementara Young Tully menggeram. Young Tully meraih lengan Voldemort yang mencekalnya, mencakar lengan itu hingga memperkeruh asap hitam. Young menggigit, Draco menginjak lengan itu dengan kaki satunya. Kakinya sakit sekali, poltergeist ini seharusnnya tak bisa menyakitinya. Perutnya melintir merasakan kenangan terburuknya menekan setiap sisi otaknya. Kemudian ledakan lagi, cahaya lagi yang begitu terang. Kakinya mengeluarkan bunyi 'krak' mengerikan dan rasa sakit menembus pergelangan kakinya. Draco terjatuh, pandangannya menggelap. Ada yang mencekik lehernya, ia merasa darahnya mengalir dari beberapa tempat yag berbeda di tubuhnya. Namun Draco tak mampu mempertahankan kesadarannya. Paru-parunya sesak dan ia tak mampu bernapas. Mungkin ia akan mati.
.
.
.
Tapi kematian seharusnya terasa damai bagi seseorang yang sudah terlalu banyak menderita seperti Draco. Kematian seharusnya tidak dipenuhi bunyi sirine yang meraung-raung dan tangisan panik anak kecil. Kematian seharusnya tidak membuatnya kesulitan bernapas. Kepalanya berdenyut mengerikan, ketika ia membuka matanya semuanya terlihat kabur seolah ia menderrita rabun.
"—sepertinya ia akan segera sadar," suara Hermione Granger menerobos indra pensdengarannya.
"Hermione, bawa saja dia ber-apparate."
"Terlalu bahaya, Harry. Kita tidak tahu seberapa parah luka-luka kutukan itu. Tunggu dia sadar dulu."
Draco mengeluh dan mengerang. Ia sebal mendengar percakapan itu, seolah ia benar-benar tak mampu berbuat apapun. Ia berkedip beberapa kali untuk menyelaraskan pandangannya dan dilihatnya Hermione Granger dan Harry Potter berdiri di dekatnya. Ia mencoba berdiri, namun seluruh tubuhnya terasa sakit. Ia mengerang lagi dan tampaknya hal itu berhasil menarik perhatian Harry.
"Kau sadar," kata Harry yang sekarang berlutut disampingnya dan membantunya duduk.
"Yeah ... aku hidup. Tapi apa yang terjadi?" tanya Draco. Keadaan sekelilingnya begitu berantakan. Pecahan kaca ada dimana-mana, satu sisi dinding ada yang runtuh sehingga Draco bisa melihat apa yang terjadi di jalanan. Para pejalan kaki melongok ingin tahu sementara beberapa orang berpakaian seragam menghadang mereka. Beberapa orang terluka dengan tatapan kosong ketakutan dibaringkan di atas tandu dan diangkut ke mobil-mobil putih yang tak henti-hentinya meraungkan bunyi sirine yang memuakkan.
Harry menggeleng dan memanggil Hermione agar mendekat. Masih berlutut di sebelah Draco, Harry menatapnya dan berkata, "Hermione akan membawamu ber-apparate ke tempat yang lebih baik. Dia akan memberitahumu apa yang terjadi."
"Kemari, Malfoy. Kau bisa berdiri?" tanya Hermione yang wajahnya dilapisi debu dan sisi pipinya berdarah.
Draco menggumamkan kata ya ringan dan berusaha memfungsikan kakinya yang gemetaran. Pergelangan kaki kirinya sakit sekali dan ia merasa tulangnya patah di bagian situ. Ada darah di celananya di bagian itu pula, Draco merasakan firasat buruk mengenai kakinya. Namun, bantuan dari Harry dan Hermione membuatnya mampu berdiri dengan satu kaki walaupun rasanya betul-betul mengerikan.
"Dimana Weasley dan Longbottom?" tanya Draco pada Hermione yang memapahnya menjauh dari Harry. Draco berjalan terpincang-pincang disampingnya.
"Yah, mereka sudah aman. Kau tak perlu khawatir."
Banyak orang sibuk berlalu lalang di sekeliling mereka dan semuanya tampak kelelahan. Draco mengenali beberapa orang di antara mereka, penyihir Kementerian dan penyembuh dari St. Mungo, tetapi yang lain jelas sekali adalah muggle. Muggle-muggle itu termasuk orang-orang berseragam dengan berbagai peralatan di tangan yang asing bagi Draco.
Mereka berdua mencapai bagian lain gedung. Sebuah ruangan kecil berisi sapu, ember, sabun pembersih lantai dan pengharum ruangan yang memiliki penerangan seadanya. Suhu di ruangan itu lembab dan dindingnya yang seharusnya berwarna putih telah menjadi kekuningan. Hermione menutup pintu ruangan itu dan ruangan menjadi semakin gelap.
"Pegang lenganku erat-erat, Malfoy." Draco mematuhi perintah itu tanpa banyak protes. Hermione menggenggam tongkatnya erat dan sejenak kemudian Draco merasa udara di sekitarnya memampat. Paru-parunya seperti dijejalkan ke dalam pipa karet dan tubuhnya ditekan habis-habisan. Tapi perasaan itu hanya terjadi sesaat dan Draco merasa seperti dilemparkan dari tempat yang sangat tinggi. Ia bahkan tak sadar kalau dirinya terjatuh saat mendarat sementara Hermione tidak.
Pergelangan kakinya sakit luar biasa. Lantai batu di depan matanya terlihat buram. Langkah-langkah kaki mendekat dan beberapa lengan menariknya berdiri. Ia mengerang dan tubuhnya terjatuh pada sesuatu yang lembut. Pandangannya masih mengabur dan semakin parah, orang-orang mulai menyentuh kakinya yang terluka. Ia tak berani memperkirakan separah apa luka itu, rasanya sungguh sakit. Kematian terasa nyaris lebih baik. Namun, rasa sakit itu semakin kabur seiring dengan kepalanya yang terasa seringan kapas. Draco hanya mau berhenti.
.
.
.
Hermione adalah satu-satunya manusia yang sehat di bangsal gelap itu. Ia merunduk dengan sedih dan memainkan tongkat sihirnya. Lengan jubahnya telah ia gulung hingga mencapai siku dan Hermione mampu membaca bekas luka itu sebaik sebelumnya. Ujung tongkat sihirnya mengarah kesana dan ia mencoba untuk menghapus luka itu namun ia tak berhasil Bekas luka bertuliskan 'mudblood' itu memang sudah tak sakit tetapi kenangan atas rasa sakit itu seolah kembali hari ini, ketika ia melihat sosok Voldemort diantara kilatan cahaya, erangan, dan kibasan jubah Dementor. Bekas lukanya berdenyut seolah memperingatkan sesuatu yang buruk akan terjadi.
Dan sesuatu yang buruk memang benar terjadi, 'kan? Nyatanya sekarang ia berakhir di bangsal ini dengan empat tempat tidur yang diisi orang-orang yang dia kenal dan keempatnya terluka. Hermione marah sekali pada Voldemort karena selalu menyebarkan kesedihan pada semua orang atas dasar keegoisan dan dendam pribadi. Segalanya sungguh tak adil, andai Hermione bisa mendorong punggung makhluk itu ke neraka sekarang juga.
"Ugh."
Hermione bangkit mendengar dengusan itu. Matanya memindai diantara keempat tempat tidur untuk melihat siapa yang akhirnya tersadar. Ia mendapati Draco, meringis kesakitan di tempat tidur paling ujung dan sedang mencoba duduk. Ia menghampirinya dan membantu. Draco melihatnya dan hermione bisa melihat ketidaksukaan di wajah Draco ketika mereka bersentuhan. Mereka masih bukan teman, hanya bekerja sama untuk menyelamatkan dunia sihir.
"Ini akan membantu," Hermione menyodorkan segelas ramuan, "seorang perawat menyuruhku memberimu ini ketika kau sadar."
Draco meraih piala itu, menggumamkan terimakasih dan menenggak ramuan itu. Aroma ramuan itu membuat tenggorokannya panas tetapi rasanya tak seburuk yang Draco kira. Diserahkannya lagi gelas kosong itu pada Hermione yang meletakkannya kembali ke nakas.
"Kau harus memberitahuku, Granger," kata Draco lemah. Ia memandang gadis itu dan pandangannya terjatuh pada tiga tempat tidur lain di belakang Hermione. "Apa yang terjadi? Bukankah itu Longbottom dan ... Weasley? Siapa yang ada di tempat tidur ujung sana? Apa mereka baik-baik saja? Katakan padaku kalau mereka tidak akan mati gara-gara menolongku."
"Mereka tidak akan mati tapi aku tak tahu kapan mereka akan tersadar."
"Beritahu aku apa yang terjadi di gedung itu, Granger."
Hermione mendesah cemas. Dia tahu Draco akan panik seperti ini tetapi sudah tak ada lagi yang perlu disembunyikan dari Draco, sesakit apapun cerita itu.
"Aku dan yang lain datang sangat terlambat," Hermione memulai, suaranya agaktercekat akibat menahan tangisan yang sedari tadi mengguncang dirinya. "Aku tahu kau diculik oleh entah apa, Malfoy, lalu aku mendatangi Kementerian dan kami mengadakan rapat darurat. Semua auror bergerak untuk mencarimu, termasuk Ron. Dia berangkat lebih dulu dariku dan Harry saat dia bilang akan menghubungi Orde Phoenix untuk membantu. Kemudian kami mendapat pesan patronus dari Luna yang memberi tahu lokasi kejadian dan kami langsung menuju kesana."
"Kenapa Lovegood bisa terlibat?" tanya Draco tiba-tiba.
Hermione menggeleng lemas, "Entahlah, Malfoy. Mungkin Ron yang menghubunginya."
Lalu Hermione bercerita bagaimana ia menemukan jawaban tentang Bola Patronus dalam buku yang dibacanya saat berada di Perpustakaan Malfoy Manor. Tentang sebuah Patronus yang diabadikan dan hanya akan berfungsi sekali—hanya sekali—ketika seseorang yang ditujukan untuk dilindungi Bola Patronus itu berada dalam bahaya dan keduanya tidak terpisah jarak yang jauh.
"Pikirku kau akan aman, Malfoy. Bola Patronus itu dimiliki ayahmu dan dia sangat menyayangimu. Bola Patronus itu pasti akan berfungsi dengan baik, kekutan sihirnya begitu luar biasa."
"Tapi hal itu tak pernah terjadi. Tidak ada bentuk perlindungan apapun saat itu. Aku sendirian dan aku melihat semuanya, ritual kejam itu, kebengisan Voldemort. Tidak ada perlindungan seperti yang kau bicarakan," kata Draco dengan amarah yang sudah sampai di ujung kesabarannya.
Hermione ingin menangis sekarang. Ia ingin mencoba untuk tidak peduli pada apapun perasaan Draco saat ini. Apa Draco pikir Hermione tidak menederita melihat dua sahabatnya terluka?
"Aku tahu, Malfoy. Aku menyadari aku telah melakukan kesalahan dan aku sudah sangat terlambat. Saat kami tiba disana, kami harus membantu Luna dan Ginny mengusir Dementor yang menyerang para muggle. Tak pernah aku melihat Dementor sebanyak dan seagresif itu. Kami lumayan berhasil meskipun keadaan semakin kacau. Lalu aku dan Harry memasuki gedung itu dan membiarkan para auror menangani Dementor yang masih tersisa. Tetapi ternyata keadaan di dalam jauh lebih buruk. Ada jauh lebih banya Dementor di gedung itu dan semuanya sepertinya tertarik pada keberadaan Voldemort disana. Lalu aku melihat Ron dan Neville, terkapar di lantai dengan Dementor yang mencoba mengecup keduanya. Aku melihatmu tanpa tongkat sihir dan makhluk itu mencengkeram kakimu, aku melihat Young Tully mencabik makhluk itu, aku melihat Antonin Dolohov yang berdiri dan mencoba melakukan beberapa sihir untuk menghalangi Voldemort melukaimu."
"Tapi apa yang terjadi kemudian?"
Hermione berhenti sesaat dan mendesah, "Kau ingat aku melakukan kesalahan. Aku terlembat menyadari bahwa Bola Patronus itu adalah milik Snape dan dari kisah yang kudengar dari Harry, Snape sangat mencintai Lily Potter—ibu Harry. Jadi tentu saja aku tahu bahwa Patronus itu tidak dibuat untuk melindungimu, melainkan Harry. Saat Harry melakukan mantra Patronus tepat pada Voldemort, bola itu entah bagaimana meledak. Meledak dan membuat Dementor musnah, hancur seperti hujan abu bersamaan dengan hilangnya Poltergeist itu. Hanya itu, Malfoy."
"Tapi ... aku tak mengerti, Granger. Voldemort lenyap bersama para Dementor, bagaimana dengan Tully dan Dolohov? Aku sempat melihat Dolohov mencoba menghentikan gerak sihir makhluk itu dengan satu mantra yang sangat kuat. Tapi itu tak banyak artinya. Kalau dia menggunakan sihir sebanyak itu untuk melawan Poltergeist yang sedang bertransformasi menjadi Beast ..." Draco menghentikan ucapannya, takut akan kemungkinan buruk yang akan didengarnya jika ia terus berbicara.
"Dolohov memang tidak baik-baik saja. Ia ada disini, di bangsal khusus. Tetapi aku telah bertanya pada Healer, kemungkinan Dolohov untuk selamat sangat kecil."
"Yah," Draco menerawang ke langit-langit, "Aku tak tahu apakah ia layak mendapatkan itu. Tapi ia benar-benar membuat masalah, mencuri ramuan, membunuh Timby, meracuni muggle, mengimperius Ron untuk mendapatkan bola Patronus, membunuh Mrs. Tully, membunuh Mr. Bones, dan menculikku."
"Tapi kau lupa ia menolongmu disaat terakhir," tambah Hermione.
"Aku tak yakin, Granger. Ia mungkin hanya menyelamatkanku untuk menyelamatkan dirinya sendiri," kata Draco kesal.
"Bagaimanapun juga, tidak ada orang di dunia ini yang berhak untuk benar-benar menderita, sejahat apapun ia."
Hermione mendengar Draco mendecih, "Tipikal orang baik sekali kau ini. Apa Weasley dan Lonbottom akan baik-baik saja?"
Mendadak kesedihan kian jelas di waja Hermione, "Aku cuma bisa berharap mereka akan baik-baik saja. Begitu pula Young Tully, ia tak pantas menderita karena ulah penyihir, dia hanya remaja muggle yang normal."
.
.
.
Draco mendapat kabar dari seorang healer yang merawat kakinya, ia kehilangan sedikit darah keluarga Black dan sebagai gantinya ada setetes racun yang larut dalam pembuluh darahnya. Racun dari tangan makhluk aneh campuran Poltergeist dan Beast. Ia tahu racun itu akan membuat tubuhnya tidak akan berjalan normal, ia mungkin harus mulai membuat ramuan untuk menjaga keselamatan dirinya sendiri. Kabar baiknya, racun itu hanya setetes dan kakinya juga mulai membaik walaupun sekarang ia mendapat bekas luka yang melingkar di pergelangan kaki.
Tiga hari setelah ia tersadar, tiga hari setelah hari itu, Ronald Weasley dan Neville Longbottom akhirnya tersadar. Mereka pucat dan lemas serta terlihat tidak bahagia. Healer hanya menyuruh mereka mengkonsumsi coklat untuk menghilangkan efek Dementor pada diri mereka. Draco masih harus berbagi bangsal dengan mereka dan mereka bertiga masih sering beradu pendapat, bertengkar tentang hal-hal remeh dan tak penting. Tapi Draco yakin itu pertanda bahwa hidupnya akan kembali normal.
Harry Potter juga sering mengunjunginya dan berterimakasih pada Draco karena telah membuat karirnya sebagai auror tak lagi membosankan. Ia juga sering datang bersama Edward Lupin yang kelihatan senang ketika diberi tahu bahwa Draco adalah pamannya. Ia berkata bahwa yang ia butuhkan sekarang hanya seorang nenek, ayah baptis, dan seorang paman berambut pirang. Ada-ada saja kelakuan bocah itu. Dan Harry Potter tampaknya telah menjadi pahlawan dunia sihir untuk yang keseribu kalinya. Dia tetaplah idola masyarakat sihir.
Namun, Young Tully belum juga terbangun, begitu pula Antonin Dolohov. Ada sesuatu dalam diri mereka yang tak bisa ditangani oleh healer. Sepanjang hari, jika para penjenguk tidak datang dan dia tidak sedang bertengkar dengan Ron ataupun Longbottom, ia akan duduk di samping tempat tidur remaja itu. Luka-luka yang ia derita tak sebanding dengan yang dialami Young Tully. Ia telah berbicara pada Hermione Granger juga, untuk memintanya merawat Young Tully jika ia sembuh nanti. Hermione setuju dan ia bahkan berencana untuk mengirim Young Tully ke universitas.
Draco juga punya rencana jika ia sudah boleh keluar dari rumah sakit ini, yang tepatnya adalah besok pagi, ia akan memulai risetnya sebagai healer. Ia akan melakukan apapun untuk membuat Young Tully dan Antonin Dolohov terbangun. Ia akan menangani apapun yang tidak mampu dipahami oleh healer lain untuk menyembuhkan mereka. Draco tak akan berhenti, ia akan menyelamatkan lebih banyak orang dengan profesinya sebagai seorang penyembuh.
.
.
.
Fin(ish)
