Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan
.
.
.
"Selamat pagi, Sasuke."
Detik berikutnya Sasuke langsung menutup pintu dengan sedikit membantingnya. Itachi datang berkunjung.
~ My neighbor ~
.
.
.
[Chapter 2]
.
Don't Like, Don't Read
.
.
Suasana pagi Sasuke menjadi rusak dengan tamu yang sangat-sangat tidak diharapkannya untuk datang, Sasuke memilih kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidur paginya yang sedikit terganggu.
Itachi menjadi kecewa dengan sambutan panas dari Sasuke, dia masih mematung didepan pintu rumah Sasuke, berharap Sasuke membukakan pintu untuk dirinya, namun sepertinya itu hanyalah sebuah harapan yang sia-sia, beberapa menit berlalu dan Sasuke tidak juga membukakan pintu rumahnya.
Merasa sia-sia dengan menunggu Sasuke, Itachi berjalan menjauh dari pintu rumah Sasuke, melihat ke arah sekitar dan menemukan sosok seorang gadis yang sedang menyiram pot bunganya.
Sakura yang merasa sedang diperhatikan, melirik sejenak ke arah teras rumah Sasuke, wajahnya sedikit kaget, seperti melihat saudara kembar Sasuke, hanya saja orang itu terlihat lebih dewasa dan sepertinya sangat pekerja keras, orang itu lantas berjalan mendekati pagar Sakura dan tersenyum sambil menyapa Sakura.
"Selamat pagi, Kau tinggal disini?"
"Pagi, iya, aku tinggal disini."
"Oh iya, perkenalkan, namaku Uchiha Itachi, salam kenal." ucapnya ramah,
"Namaku Haruno Sakura, salam kenal, Kakaknya Sasuke?"
"Iya, apa Sasuke pernah memberitahukanmu?"
"Uhm, Sasuke pernah bercerita dan kalian sangat mirip."
"Sasuke pernah bercerita tentangku?"
"Ah, dia cuman pernah bilang punya kakak yang tinggal jauh dari Konoha."
kebiasaan Sakura yang suka keceplosan hampir membuatnya membongkar semua cerita Sasuke.
"Kalian, maksudku, kau dan Sasuke saling mengenal yaa?"
"Iya, kami sekelas di fakultas yang sama dan kebetulan kami juga tetangga."
"Waah, ternyata Sasuke mempunyai tetangga yang cantik ya."
Sakura tertunduk malu, masih sepagi ini dia sudah mendapat pujian dari kakak Sasuke.
"Kenapa anda tidak masuk? Apa Sasuke masih tidur?"
"Dia sepertinya tidak senang dengan kedatanganku."
"Mau mampir ke rumahku?"
Tanpa berpikir panjang Sakura mengundang orang yang jelas-jelas baru dikenalnya pagi ini, tapi jika membiarkan Itachi diluar, Sakura merasa kasian, menurutnya Itachi perlu istirahat, pasti perjalannya sangat jauh, Sasuke benar-benar tidak peduli dengannya.
"Mungkin tidak usah, aku tidak ingin merepotkanmu."
"Ahk, tidak apa-apa, Sasuke itu sudah seperti temanku, aku tidak keberatan jika mengundang anda."
"Hmm, panggil Saja kakak Itachi."
"Baiklah, silahkan masuk."
Itachi menyimpan dua kopernya diteras rumah Sasuke dan berjalan menuju rumah Sakura, Itachi sedikit terlihat lelah dengan perjalanan jauhnya, berharap Sasuke langsung menerimanya, malah sepertinya Sasuke mengusirnya.
"Mau segelas teh, kopi, atau kak Itachi mau minuman yang manis-manis?"
"Cukup teh saja."
"Mohon tunggu sebentar yaa."
Itachi berjalan-berjalan memperhatikan setiap detail ruang tamu Sakura, mungkin sedikit tidak sopan, masuk ke dalam rumah orang dan langsung memperhatikan apapun yang ada di ruang tamunya, Itachi sedikit tertarik dengan keadaan ruang tamu Sakura, seperti terasa hangat akan kekeluargaan.
"Orang tuamu dimana?"
"Mereka tinggal di kota Suna, mereka lebih senang tinggal disana, disini aku harus menyelesaikan pendidikanku terlebih dahulu." ucap Sakura sambil membawa dua gelas teh hangat dengan aroma melati.
"Jadi kau tinggal sendirian?" ucap Itachi dan mulai meminum sedikit teh hangatnya.
"Iya, aku tinggal sendirian."
"Sepertinya kau akrab dengan Sasuke."
"Ti-tidak juga, kami hanya teman kelas."
"Benarkah? Padahal aku berharap ada sesuatu antara kalian, sudah lama aku ingin punya seorang adik perempuan."
"Kami benar-benar hanya teman biasa." Sakura mencoba menahan dirinya agar tidak begitu terlihat senang, bisa saja rona wajahnya akan terbaca oleh Itachi.
"Jadi Kak Itachi akan tinggal dimana?"
"Aku tidak tahu, aku lebih senang tinggal di rumah dari pada harus menginap hotel atau menyewa rumah lain, aku kesini hanya ingin mengunjungi Sasuke, aku sudah sengaja meninggalkan pekerjaanku hanya untuk melihatnya, aku sedikit khawatir dengan keadaanya jika dia tinggal sendirian."
"Aku bisa pastikan Sasuke akan baik-baik saja."
"Apa yang bisa kau pastikan?"
"Di-dia akan baik-baik saja."
"Baik-baik saja?"
"Eh, itu, anu."
Sakura tanpa sadar sudah mengucapkan hal-hal yang membuat Itachi semakin penasaran, sepertinya benar, jika ada sesuatu antara Sasuke dan Sakura, Itachi jadi sedikit menyukai Sakura, dia berharap jika pendamping Sasuke nantinya itu adalah Sakura.
"Hahah, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, aku hanya bercanda."
Sakura bernapas lega, dia sangat kebingungan, apa yang harus diucapkannya di hadapan kakaknya Sasuke, mana mungkin dia akan to the point, 'Aku menyukai Sasuke' apa tanggapan Itachi nanti, Sakura terlihat sedang melamun dan membuat Itachi tersenyum menatap gadis itu, dia sepertinya menyukai Sasuke, itu adalah hal yang terlintas dalam pikiran Itachi.
"Bagaimana kalau kak Itachi menempati kamar tamu dirumahku?"
"Apa boleh aku tinggal dirumahmu?"
"Tentu, aku tidak keberatan sama sekali, dengan begitu kak Itachi tidak perlu repot tinggal jauh dari Sasuke."
"Benar juga, terima ka-"
"Kau tidak akan tinggal disini, cepat angkat koper-koper bodohmu itu ke dalam rumah."
'Sasuke'
Sakura kaget menatap seseorang yang sepertinya baru bangun tidur dan wajahnya sedikit kusut menatap ke arah Itachi.
"Kau sudah bangun Sasuke."
"Aku tidak ingin mengulang kata-kataku."
"Iya-iya, akan aku angkat, Terima kasih atas undangannya Sakura."
"Sama-sama."
Itachi menghabiskan tehnya dan bergegas berjalan ke rumah Sasuke dan membawa masuk koper-kopernya ke dalam rumah Sasuke, kini tinggal Sasuke dan Sakura.
"Jangan pernah berbaik hati kepadanya"
"Aku hanya menawarkan teh."
"Teh dan tempat tinggal, harusnya tadi kau usir saja dia."
"Maaf, aku bukan kau, Sasuke, aku tidak akan mengusirnya."
"Lakukan saja sesuka mu."
Sasuke meninggalkan Sakura begitu saja, Sakura merasa sedikit jengkel dengan sikap Sasuke yang seperti seenaknya memerintah, memangnya dia siapa? Sakura merasa Sasuke tidak seperti biasanya jika menyangkut kakaknya, sebenci itukah Sasuke terhadap kakaknya? Sakura merasa bingung dengan hal itu, Saat menatap Itachi, dia benar-benar tulus dengan setiap ucapannya, dia ingin mengunjungi Sasuke dan khawatir akan keadaan Sasuke, berbeda jauh dengan sikap Sasuke yang sedikit, bukan! lebih tepatnya sangat-sangat egois,
"Oh jadi namanya Haruno Sakura, ahh..~ aku menyukainya."
Sasuke hanya terdiam sambil menatap layar Tv dan tidak mempedulikan Itachi yang sepertinya sedang memancing dirinya, Sasuke tetap fokus dengan film di Tv, siang ini Sasuke tidak bisa tidur, Itachi selalu saja meneriaki namanya jika perlu sesuatu, sampai-sampai dia merasa ingin membuang telinganya jauh-jauh.
"Apa kau tidak tertarik dengannya?"
"..."
"Apa dia sudah punya pacar?"
"..."
"Mungkin saja dia sudah punya pacar, makanya kau tidak ingin mendekatinya."
"Berhentilah mengganggu."
"Hn? kenapa hanya pada kalimat 'pacar' kau meresponku?"
Itachi benar-benar senang jika bisa mengganggu Sasuke dan topiknya kali ini, sangat sempurna, membuat si adik bungsunya itu tidak bisa menahan dirinya untuk diam lebih lama.
"Sampai kapan kau akan disini?"
"Hmm, aku tidak tahu, pokoknya sampai cuti liburanku selesai."
"Kembalilah besok ke kawasan Uchiha."
"Tidak, aku sedang cuti dan tidak bisa kesana."
"Siapa yang akan menjalankan perusahaan?"
"Tenang saja, masih ada Kisame yang bisa mengatur segalanya, dia lebih mahir dari padaku, hehehe."
"Kau hanya menggangguku disini."
"Aku hanya ingin melihat kondisimu."
"Kau bisa lihat sendiri, aku baik-baik saja, apa sekarang kau bisa pulang?"
"Tidak bisa."
"Menyebalkan."
"Aku menyayangimu Sasuke."
"Kau tidak usah baik kepadaku, aku tidak pernah memaafkanmu."
"Aku sudah capek menjelaskan kepadamu berkali-kali, ya sudahlah, itu hak mu, mau percaya atau tidak, tapi, aku akan tetap tinggal disini sampai cuti ku berakhirnya."
"Aku tidak peduli."
Sakura memandangi rumah Sasuke dari arah jendela, sepertinya mereka tidak terlalu suka beradu mulut hingga seluruh tetangga mendengarnya, Sakura khawatir jika saja mereka akan berkelahi, mengingat Sasuke begitu membenci kakaknya, tapi Itachi? Dia sepertinya tidak punya niat jahat, bahkan dia berbanding terbalik dengan sikap Sasuke.
Rasanya Sakura bisa mempercayai Itachi, mungkin kata-kata Itachi benar, jika dia tidak melakukan apapun kepada orang tuanya, tapi seperitnya Sakura pun akan sulit membuat Sasuke percaya, kebenciannya selama bertahun-tahun tidak bisa hilang dengan begitu saja, lagi pula, Sakura merasa dirinya pun tidak bisa merubah kebencian yang sudah tertanam di lama dalam diri Sasuke. Suara ketokan di pintu rumah Sakura, membuatnya tersadar dan segera berjalan ke arah pintu.
"Hai."
"Ada apa Sasuke?"
"Apa kau sedang sibuk?"
"Tidak, aku tidak sibuk."
"Hmm, maaf soal tadi pagi."
"Tidak apa-apa, aku sudah melupakannya kok, mau masuk?"
"Hn."
Sakura merasa sedikit bisa membaca pikiran Sasuke, mungkin Sasuke agak risih dengan kedatangan Itachi dan memilih rumahnya sebagai pelarian.
"Aku tidak akan lama."
"Tidak apa-apa, jangan sungkan begitu, kau sudah pernah ke rumahku, datang saja jika kau mau, lagi pula rumah ini hanya ada aku."
"Hn."
"Jadi..., apa yang akan kita lakukan?"
"Tidur."
Sakura membuka matanya lebar-lebar, apa-apaan dengan ucapan to the point Sasuke, mereka belum lama kenal dan Sasuke sudah meminta hal yang tidak senonoh, Sakura tersadar saat melihat Sasuke sudah tertidur di sofanya, tanpa meminta ijin kepada si tuan rumah, Sakura membuang jauh-jauh pikiran joroknya tadi, yang Sasuke maksud adalah dia ingin numpang tidur di rumah Sakura, tidur siangnya begitu sangat terganggu dengan Itachi.
"Mungkin sebaiknya kau tidur di kamar tamu, kau akan masuk angin jika di sini."
Sasuke tidak menjawab apapun, cepat sekali tidurnya! Sakura hanya menghela napas, mengambil selimut dari lemari yang terdapat di kamar tamu dan menyelimuti bagian badan Sasuke. Sakura mematung, menatap Sasuke yang sedang tertidur, bahkan tidur pun wajahnya terlihat sangat mempesona, Sakura mendudukkan dirinya di karpet, tatapannya tetap fokus pada wajah Sasuke.
Oh tuhan, makhluk ciptaanmu ini sungguh mempesona, aku sama sekali tidak bisa memalingkan penglihatanku darinya, aku berharap bisa menjadi orang yang spesial untuknya, tidak, Sakura! sadarlah! Dia tidak akan jatuh hati padamu.
Sakura menatapnya sambil tersenyum-senyum, pria dingin di hadapannya sudah membuatnya bertekut lutut. Lama memandangi Sasuke, Sakura jadi kebingungan harus melakukkan apa, hari libur seperti ini, dia hanya akan keluar mencari buku-buku di perpustakaan, tapi dia sedikit tidak tega jika harus meninggalkan Sasuke sendirian di rumah.
Sakura memutuskan untuk membaca sebuah novel dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Sasuke, novel pun sepertinya tidak bisa menjadi pengalih perhatian Sakura, Sesekali lagi Sakura membaca dan kemudian menatap Sasuke, sepertinya Sakura tidak sadar, dia menjadi ikut tertidur, memperhatikan Sasuke tidur terus-menerus membuatnya ikut mengantuk.
17:30
Terasa ada sesuatu yang lembut menempel di bibir Sakura, Sakura mencoba membuka matanya perlahan, dan detik berikutnya, matanya melebar menatap seseorang yang sangat-sangat bahkan tidak ada lagi jarak antara dirinya dan Sasuke, APA! Sasuke mencium bibirnya.
"Hentikan, Sasuke!" ucapnya segera dan mendorong Sasuke jauh-jauh.
Sakura segera membuka mata, napasnya memburu dan jantungnya berdetak sangat cepat, ditatapnya sofa dihadapannya, Sasuke masih tertidur pulas.
'Mimpi'
Sakura hanya bermimpi dan mimpi itu membuatnya kini tersipu malu, apa itu seperti sebuah harapan jika nantinya dia ingin Sasuke menciumnya, Sakura segera menepuk-nepuk kedua pipinya, membuatnya agar segera sadar dengan harapan kosongnya itu.
"Sasuke." Sakura mencoba membangunkan Sasuke.
Sasuke bergeliat dan membuka matanya perlahan, menatap si tuan rumah sedang memandanginya dan wajahnya masih memerah, apa karena dirinya? Wajah memerah itu selalu menghiasi wajah putih Sakura jika berhadapan dengannya, Sasuke tidak ingin membuatnya kabur lagi seperti beberapa hari yang lalu, Sasuke memilih diam dan tidak berkomentar apapun dengan wajah Sakura sekarang, merona.
"Jam berapa sekarang?"
"Sudah tepat jam 6 sekarang."
"Oh, maaf aku ketiduran."
"Tidak apa-apa."
"Mungkin sebaiknya aku pulang."
"Hmm, iya."
"Terima kasih sudah mau menampungku."
"Tidak masalah."
"Hn, apa besok kita bisa pergi bersama?"
"Besok, boleh, kebetulan Ino akan pergi bersama Sai."
"Baiklah, jangan sampai terlambat, besok kita akan masuk jam 7 tepat."
"Iya- iya, tuan tepat waktu."
"Dah."
"Dah...~"
Sakura mengantar Sasuke keluar rumahnya, pertemuan mereka berakhir saat Sakura melambaikan tangan dan Sasuke segera masuk ke dalam rumahnya.
.
.
.
"Bagaimana tidur siang bersamanya?"
Sasuke mengacuhkan godaan Itachi dan segera masuk ke ruang makan, Kalau bisa, malam ini Sasuke ingin sekali makan masakan Sakura lagi, tapi dia tidak enak selalu saja merepotkan Sakura dengan membuatkan makanan untuknya.
Itachi cukup handal dalam memasak, dia membuatkan Sasuke steak daging, Sasuke memang membenci Itachi, tapi tidak akan ada yang bisa menandingi masakan kakaknya, itu menurut pendapatnya, Sasuke sedikit heran dengan Itachi, sejak dulu Itachi pintar masak, muncul pertanyaan di benaknya, sejak kapan Itachi belajar masak? masakan Itachi selalu pas di lidahnya, membuatnya tidak banyak bertanya dan langsung saja melahap makan malamnya.
"Apa yang akan kau lakukan di Konoha?"
Sasuke memulai pembicaraan saat mereka berdua tengah makan malam bersama, sebenarnya dia tidak peduli dengan apapun yang akan di lakukan Itachi di Konoha, tapi dia sedikit penasaran, Itachi sudah lama tidak ke Konoha sejak usia Sasuke beranjak 12 tahun, saat Sasuke masih tinggal bersama kakeknya, madara di Konoha, sejak itu dia dan Itachi tidak pernah bertemu dan sekarang Itachi tiba-tiba datang berkunjung.
"Sebenarnya aku berencana pindah ke Konoha, aku akan ingin menjalankan perusahaan yang ada di sini menggantikan Nagato dan membiarkan Kisame, Shisui, dan Tobi untuk tetap menjalankan perusahan di kawasan Uchiha."
"Oh, mereka masih bekerja padamu?"
"Tentu, dan mereka sangat menyebalkan saat aku bilang ingin mengunjungimu, mereka masih sangat senang terhadapmu, aku melarang mereka untuk mengikutiku ke Konoha."
"Aku membenci mereka."
"Hahah, aku tahu."
Mendengar nama mereka saja, Kisame, Tobi, dan Shisui, membuat Sasuke merasa ingin mendorong mereka ke jurang, mereka adalah kaki tangan Itachi, Kisame dan Tobi adalah sahabat sekaligus rekan kerja Itachi dan Uchiha Shisui adalah sepupunya, tetap saja Sasuke tidak senang dengan mereka, jika mereka bertemu Sasuke, pasti saja ada hal-hal aneh yang menimpah Sasuke, intinya mereka sangat-sangat senang menjahilinya, Sasuke hanya bisa merengek di Madara, Sasuke tidak ingin merengek di hadapan Itachi setelah apa yang dia perbuat dulu, Sasuke masih menyimpan kebenciannya.
"Lalu Nagato?"
"Aku ingin menjadi wakilnya saja."
"Kenapa? Kau bisa dengan mudah menjadi direktur utamanya."
"Membosankan, aku bosan dengan menjadi atasan, aku ingin sekali-kali menjadi bawahan, bagaimana menurutmu? Sepertinya itu ide yang sangat baguskan, pekerjaanku akan sedikit berkurang, dan aku akan seterusnya di Konoha."
"Terserah kau saja."
Sasuke segera menghabiskan makanannya, menyimpan piring kotornya dan segera menaiki tangga memasuki kamarnya.
"Hei tunggu dulu Sasuke, dasar, kau tidak bisa dimintai pendapat."
"IBU! AYAH! Apa yang sudah kau lakukan kakak!, jawab aku kakak!"
Sasuke terduduk sedih, tatapannya kosong menatap darah segar yang menempel di telapak tangannya, di hadapannya orang tua Sasuke tidak bernapas lagi, samar-samar Sasuke menatap ke arah seseorang yang memegang pistol itu, wajah Itachi yang terlihat disana, samar-samar lagi wajahnya berubah menjadi orang lain, orang itu lantas menodong senjata di jidat Sasuke dan menarik pelatuknya.
DORRRR...!
Sasuke menarik napas panjang dan segera bangkit dari kasurnya, di tatapnya sekeliling kamarnya yang gelap, Sasuke lebih senang jika tidur tanpa menggunakan lampu, jam dindingnya menunjukkan pukul 05:30, dia kembali merebah dirinya dan menutup wajanya dengan tanganya,
'Mimpi buruk'
Setiap dia melihat Itachi, mimpi buruk itu akan terus menghantui dirinya dan membuatnya kembali frustrasi. Hari ini dia berharap bisa sedikit mendapat hiburan, jika tidak, dia akan kembali ke bar, untuk menghilangkan frustrasinya.
.
.
.
Sakura sudah siap di depan rumahnya, Sasuke baru saja akan mengeluarkan motornya dan memarkirnya di depan pagar, menunggu penumpangnya untuk menghampiri.
"Aku sudah berusaha untuk bangun pagi," Ucap Sakura, sedikit rasa kesal berputar-putar didalam pikiran Sakura, semalam dia masih memikirkan mimpi indahnya dengan Sasuke, membuatnya sukar untuk tidur cepat dan akhirnya tepat pukul 03:15 dia baru akan tertidur.
"Kau begadang?"
"Ti-tidak, tidak kok, aku tidak begadang."
"Hn."
"Sebaiknya kita segera berangkat."
Sasuke naik dan menstater motornya, Sakura berjalan perlahan dan menaiki motor Sasuke, Sasuke memberinya helm dan kini mereka bersiap-siap untuk pergi, Seperti biasa, Sakura masih memilih mencengkram tas Sasuke kuat-kuat.
"Hati-hati, yaa..." ucap Itachi yang tengah berdiri di teras dengan secangkir kopi yang dipegangnya.
Sasuke cuek dan tetap pada posisinya, menatap lurus ke depan, Sakura tersenyum dan melambaikan tangannya, detik berikutnya mereka sudah berada di jalan raya.
.
.
.
Sasuke dan Sakura melewati gerbang kampus dan dua pasang mata menatap mereka, Sakura masih sibuk menatap helm Sasuke dan tidak melihat Ino dan Sai menatap mereka dari arah gerbang masuk.
"Sakura dengan si dingin?" ucap Sai, sedikit heran.
"Padahal aku sudah menyuruhnya untuk menjauh."
"Tapi mereka sepertinya sangat cocok."
"Iya sih, mereka sangat serasi, hanya saja aku belum mengetahui Sasuke seperti apa, aku takut jika dia akan melakukan hal yang aneh-aneh terhadap Sakura."
"Kau terlalu termakan gosip,Ino."
"Kau sendiri, memangnya tahu apa tentang si Uchiha itu."
"Aku tidak tahu apa-apa sama sekali, tapi sepertinya dia mirip denganku."
"Mirip?"
"Uhmm."
"Mirip apanya? Kalian sangat berbeda."
"Apa kau tidak ingat, saat pertama kali kita bertemu?"
"Aku masih ingat, kau itu sangat menyebalkan, cuek, dan tidak memilih kepekaan sama sekali."
"Nah, kau masih mengingatnya, bagaimana sekarang?"
"Berbanding terbalik."
"Yaah, Sasuke mungkin saja seperti itu, mungkin hanya Sakura yang bisa mengetahui sikap asli Sasuke."
"Kau seperti Sakura sekarang, membela si Uchiha itu."
"Hahaha, sudahlah Ino, ayo kita masuk." ucap Sai dan berjalan merangkul bahu Ino, yang di rangkul hanya terdiam dan tersipu malu.
.
.
.
Sakura dan Sasuke berjalan terpisah, Sakura tidak ingin mendapat gosip-gosip yang tidak enak, dia memilih jalan duluan menuju kelas, Sasuke menurunkan Sakura sebelum masuk ke dalam tempat parkir.
Sakura mempercepat langkahnya, dan segera berhenti saat seseorang menghadangnya di kordor, Wajahnya begitu terkejut, seseorang yang di tatapnya begitu senang melihat Sakura.
"Ka-kau"
"Maaf, mungkin hari ini kau harus bolos dulu."
Orang itu lantas menggenggam tangan Sakura dan mengajaknya keluar dari kampusnya, Pria itu membawa Sakura dengan sedikit tergesa-gesa dan memasukkan Sakura ke dalam mobilnya, kalau di lihat-lihat ini seperti penculikan, tapi Sakura masih terkejut dan membiarkan orang itu membawanya pergi dari kampus.
Sasuke baru masuk kedalam kelas dan melirik ke arah Ino, Sasuke sudah hapal jika dimana Ino duduk, tentunya ada Sakura, tapi yang carinya tidak ada, Sakura tidak duduk di samping Ino, Sakura bahkan tidak berada di kelas.
Ino melihat Sasuke menatapnya dan Ino membalas tatapan Sasuke, tatapan Ino seperti menanyakan 'mana Sakura?' jelas-jelas tadi dia melihat Sasuke membonceng Sakur, Sasuke mengangkat bahunya cepat, Sasuke juga tidak tahu Sakura dimana.
"Ada apa Sasuke?" Naruto sedikit penasaran dengan Sasuke yang masih mematung dan tidak juga duduk.
"Apa kau melihat Sakura?"
"Dia belum masuk, mungkin dia akan terlambat."
Sasuke tidak menjawab dan berlari keluar kelas, mendapati prof. Kakasih yang sudah menuju kelas, Sasuke mengurungkan niatnya untuk pergi, Sasuke kembali ke kelas, namun dia tidak duduk di tempat biasanya, dekat dengan teman-temannya, Sasuke duduk disebelah Ino.
Ino sedikit terkejut begitu juga teman-teman Sasuke, tidak biasanya Sasuke mau duduk dengan Ino.
Prof, Kakashi sudah masuk ke kelas dan mereka memulai pelajaran, Sasuke menuliskan sesuatu di buku catatannya.
Di mana Sakura?
Setelah menulis, Sasuke mnggeserkan bukunya agar Ino melihat apa yang sedang ditulis Sasuke. Ino sedikit bingung dengan pertanyaan Sasuke, padahal mereka tadi bersama.
Ino : Bukannya kalian tadi bersama?
Sasuke : Aku menurunkannya sebelum memarkir motorku.
Ino :Dia tidak masuk dari tadi.
Sasuke : ?
Ino : Apa dia diculik seseorang? Atau jangan-jangan para fans gilamu yang menculik Sakura!
Sasuke : Aku tidak pernah merasa punya fans.
Ino : Shiit! Jika kau penyebab Sakura hilang, aku akan menguburmu hidup-hidup!
Sasuke : Bisakah kau tenang? Aku akan mencarinya.
Jam mata kuliah prof. Kakashi sudah kelar, Sasuke yang sudah panik, hanya terlihat dari dalam dirinya, wajahnya tetap datar, tapi gerakkannya yang sedikit tergesa-gesa, bisa di pastikan saat ini dia benar-benar panik, dengan cepat menaiki motornya dan segera mencari Sakura.
"Kau! Aku sudah bilang berapa kali untuk tidak melakukan hal ini!" Sakura benar-benar marah dengan tindakan teman kecilnya ini, Pria berambut merah dan wajah babyfacenya menatap Sakura dengan tatapan ingin tertawa.
"Aku tidak sedang melucu! Gara-gara kau aku harus ketinggalan mata kuliah prof. Kakashi."
"Tenanglah Sakura."
"Aku tidak bisa tenang, Kau bisa kan mengajakku setelah pelajaranku selesai."
"Aku tidak bisa menunggu."
"Kau harus menunggu!"
"Aku hanya bisa mengajakmu hari ini,"
"Oh tuhan, kenapa kau harus mempertemukanku dengan orang seperti dia."
"Aku merindukanmu, Sakura."
"Aku membencimu,Sasori."
Sejak kecil Sakura dan Sasori selalu bersama, mereka tetangga dekat di Suna, namun setelah beranjak dewasa, Sakura harus meninggalkan Suna dan mengikuti orang tuanya di Konoha, setelah orang tua Sakura menyelesaikan pekerjaan mereka di Konoha, Mereka meninggalkan Sakura di Konoha sendirian, Sakura bukan anak yang manja dan dia bisa bertahan lama di Konoha, Sasori selalu datang ke Konoha, tiap tahun dia akan datang, dan hal yang membuat Sakura sedikit tidak suka dengan tindakan Sasori yang tiba-tiba, selalu saja menculiknya saat masih SMP, SMA, dan sekarang pun dia masih melakukan hal itu, Sasori sedikit tidak sabaran jika datang ke Konoha, dia ingin cepat-cepat bertemu dengan Sakura.
Sakura menatap kesal ke arah Sasori dan Sasori hanya membalasnya dengan senyum lebarnya, pesanan mereka sudah datang, semangkuk es cream coklat dan vanili dan ada beberapa toping di atasnya, itu untuk Sakura, Sedangkan Sasori hanya memesan jus jeruk.
"Kapan kau datang?"
"Tadi pagi."
"Tadi pagi! Kau turun dari pesawat dan langsung ke kampus."
"Yaah, begitulah."
"Apa kau sudah gila?"
"Kau tahu, aku harus kabur dari pengawalan Kak Nagato, mereka pasti akan segera membawaku ke rumah Nagato."
"Itu lebih bagus."
"Aku tidak mau, mereka pasti akan melarangku keluar,"
"Itu lebih bagus lagi,"
"Oh, ayolah Sakura, aku sudah menunggu ini setiap tahun, aku senang sekali jika harus menemuimu terlebih dahulu,"
"Tapi caramu salah, aku tidak suka, jika tahun depan kau seperti ini, aku akan memukulmu hingga pingsan,"
"Coba saja, aku yang duluan akan membuatmu pingsan, hahaha,"
"Dasar anak kecil, kau harus mematuhiku, biar bagaimanapun aku 2 tahun lebih tua darimu."
"Iya-iya, dasar kakak yang cerewet, cepat habiskan es creammu, hari ini kau harus menemaniku di Konoha."
"Aku tidak mau, kau sudah tahu kota ini, kau saja yang pergi sendirian."
"Sejak kapan kau jadi orang tega seperti itu?"
"Sejak kau selalu berusaha menculikku tiba-tiba."
"Hahaha, maaf-maaf, lebih seru saat menculikmu."
"Sasori!"
"Hahaha, baik-baik, lain kali aku akan memintamu dengan baik-baik."
"Huff, jadi kau mau kemana?"
"Kemana saja, ke tempat yang kau suka juga boleh."
"Tempat yang aku suka,hmm..,rumahku."
"Jangan rumahmu, aku bosan ke sana."
"Dasar, memangnya rumahku tempat yang membosankan, aku tidak suka berpergian, jadi tidak tahu tempat-tempat yang bagus di Konoha, terserah kau saja mau kemana."
"Hmm, okey, kita pergi ke menara Konoha."
Sasuke berdiam diri di taman kampus, sudah sore dan dia juga belum menemukan Sakura, dia sampai kebingungan harus kemana, Sakura juga tidak ada di rumahnya.
"Apa kau sudah menemukannya?" Tanya Ino yang baru saja menghampiri Sasuke, Sai juga masih mencari Sakura.
"Tidak."
"Astaga! Kemana sih anak itu, tiba-tiba saja menghilang."
"Kau tidak menghubunginya?"
"Dia tidak mempunyai ponsel, dia malas menggunakan benda itu."
"Apa tidak ada tempat yang sering di kunjunginya?"
"Hmm, tidak ada, dia tidak terlalu suka untuk berjalan-jalan, aku harus bekerja keras jika mau mengajaknya keluar."
"Apa dia kembali ke Suna?"
"Tidak mungkin, dia pasti akan mengabariku jika dia ke Suna."
"Bagaimana kalau ini mendadak?"
"Ahk, aku tidak tahu, Sebaiknya kau pulang saja, kita tunggu kabar darinya, aku harap dia segera pulang."
"Hn."
Sasuke dan Ino berpisah, Ino segera menghubungi Sai, namun Sai tetap tidak menemukan Sakura.
Sasuke berkendara dengan sangat pelan, berharap menemukan Sakura di jalan, namun usahanya sia-sia, dia sudah berada didepan rumah dan sama sekali tidak menemukan Sakura.
Sasuke memasukkan motornya, membuang helmnya di sofa dan duduk sambil menghela napas, dia tidak pernah secapek ini untuk mencari seseorang, Sasuke menutup rapat-rapat matanya, memikirkan Sakura ada dimana.
"Ada apa? Kau seperti sangat kelelahan." Tanya Itachi yang baru saja selesai mandi.
"Sakura menghilang, aku lelah mencarinya."
"Hn? Kau mencari Sakura?"
"Memangnya kenapa kalau aku mencarinya?"
"Tidak biasanya kau menganggap seseorang penting."
"Bukan urusanmu."
"Hmm, seperti yang aku duga."
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada, aku hanya ingin memastikan satu hal."
"Apa?"
"Ra-ha-sia."
Rasanya Sasuke ingin memukul Itachi keras-keras, setiap penyataan Itachi membuatnya penasaran dan apa yang bisa di dapatnya, hanya sebuah jawaban kosong yang sama sekali tidak dipahami Sasuke.
"Kalau kau mencari Sakura, dia ada dirumahnya."
"Dirumahnya?"
"Iya, sepertinya beberapa menit yang lalu dia baru pulang, kami sempat saling menyapa saat dia masuk ke rumahnya."
Sasuke tidak mendengarkan ucapan Itachi lagi, dia sudah berlari keluar dan berdiri tepat di depan rumah Sakura, mengetuk dengan sedikit keras pintu rumah Sakura.
Ceklek
"Sasuke?"
"Syukurlah." Sasuke memejamkan matanya dan bernapas lega, detik berikutnya dia sudah memandangi Sakura, dan yang di pandangi terlihat heran.
"Ada apa?"
"Hmm, tidak ada."
"Mau masuk?"
"Tidak usah."
"Kau terlihat aneh, apa ada masalah?"
"Kau-"
"Kau dari mana saja!"
Ino tiba-tiba datang menyambar Sakura dan tidak peduli lagi Sasuke yang kaget dengan suara Ino tiba-tiba.
"I-Ino."
Sama halnya dengan Sasuke, Sakura juga kaget, Ino tiba-tiba datang dan langsung memeluknya erat, diliriknya ke arah pagar, Sai sedang berjalan masuk.
"Kau dari mana? Aku mengkhawatirkanmu, dari tadi aku mencarimu, aku kira kau di culik seseorang atau kau kembali ke Suna tiba-tiba tanpa mengabariku."
"Tenanglah Ino, ada apa ini? aku tidak diculik atau kembali ke Suna kok."
"Tadi pagi kau tidak masuk kelas, kau ke mana?"
"Itu, kau masih ingat Sasori?"
"Sasori?"
"Iya,"
"Hmm, Sasori yaa, ah..aku ingat sekarang, si anak egois itu, yang selalu saja menculikmu secara tiba-tiba, kau seperti orang yang tiba-tiba hilang dalam sehari,"
"Iya, dia datang tadi pagi dan langsung mengajakku pergi."
Sai sudah tepat berada di teras rumah Sakura dan kini berdiri di samping Sasuke, Sasuke sepertinya hanya ingin mendengar penjelasan Sakura.
"Syukurlah, aku kira kau kenapa-kenapa."
"Aku baik-baik saja Ino."
"Aku pikir kau sudah pulang, jadi aku datang saja ke rumahmu."
"Maaf, sudah membuatmu khawatir."
Ino mencoba menenangkan dirinya dan memastikan Sakura baik-baik saja sebelum pulang, tatapan Ino tertuju pada seseorang yang hanya mematung dan tidak juga merespon ucapan Sai yang sepertinya Sai menyapa Sasuke.
"Tunggu dulu, Sasuke? kau, kenapa bisa ke sini?"
Ino yang tadi sangat panik sampai tidak sadar jika Sasuke yang berdiri di pintu rumah Sakura.
"Aku tinggal di sebelah rumah Sakura."
"Apa! Kau, kau tinggal sebelah rumah Sakura, Sakura! kenapa tidak bilang-bilang kalau tetanggamu itu Sasuke."
"Heheh, aku uhmm, aku rasa kau tidak ingin tahu, jadi aku tidak mengucapkan apa-apa."
"Kau harusnya memberitahukanku dari dulu."
"Tapi sekarang kau sudah tahu,kan."
"Aku akan mengawasimu Uchiha." Ucap Ino dan berjalan pulang bersama Sai.
Tinggal mereka berdua saja, Sasuke dan Sakura yang bingung harus memulai cerita mereka dari mana.
"uhm...Jadi, kalian tadi mencariku?"
"Hn, aku diancam sabahatmu, jika tidak menemukanmu aku akan di kubur hidup-hidup."
Sakura segera menutup mulutnya dan tertawa, ucapan Sasuke benar-benar terdengar lucu, seakan-akan Ino memaksanya untuk mencarinya.
"Sekali lagi maaf, sudah membuat kalian khawatir, aku sampai marah besar kepadanya, dia selalu saja mengajakku secara tiba-tiba."
"Dia?"
"Oh, maksudku Sasori."
"Siapa dia?"
"Hanya teman sejak kecil, kami sangat akrab, dan dia selalu saja mengunjungiku terlebih dahulu."
"Hn, baiklah, mungkin kau perlu istirahat, da."
"Dah, selamat malam, Sasuke."
Sasuke berjalan pulang dan melambaikan tangan tanpa membalikkan badannya, perasaannya menjadi lega setelah melihat Sakura, tapi sepertinya dia merasa orang itu akan merebut Sakura, hei! Sejak kapan Sasuke berpikir Sakura akan direbut orang, apa dia peduli akan Sakura, bahkan dia sama sekali tidak tahu apa yang muncul dalam dirinya jika bersama dengan Sakura.
Sakura masuk dengan sedikit tersipu malu, wajah Sasuke tadi seperti sangat khawatir padanya, Sakura berjalan dengan sedikit berjingkrak-jingkrak senang, mungkinkah Sasuke sedikit menaruh hati padanya? Membayangkan hal itu sudah membuat Sakura sangat malu, dan kini wajahnya memerah.
Ruang kerja terasa seperti penjara, tapi mau tidak mau, dia harus menjalankan hal itu, rasanya berjalan-jalan dengan Sakura lebih menyenangkan dari pada harus bekerja, itulah yang dipikirkan Sasori saat ini dengan menatap tumpukkan berkas-berkas yang harus segera diperiksanya sebelum menyerahkanya kepada Nagato.
"Cepatlah, semakin lama kau kerja, semakin lama kertas-kertas itu akan menggunung," ucap Nagato, berjalan masuk ke dalam ruangan Sasori untuk memastikan apa dia mengerjakan tugasnya.
"Kenapa tidak kau kerja saja sendiri."
"Hei, kau kan bawahanku."
"Aku ingin jalan-jalan dengan Sakura."
"Sakura? kau masih mengejar gadis itu?"
"Tentu saja, dia gadis yang sangat langkah"
"Memangnya dia sejenis hewan langkah."
"Nagato."
"Hahahah, kau ini, dia lebih tua darimu loh."
"Aku tidak peduli, aku menyukainya."
"Saat kau tiba di Konoha, kau langsung kabur dari pengawal-pengawalku, kemana saja kau?"
"Aku pergi dengan Sakura."
"Dasar kau ini, oh iya, besok kita akan bertemu dengan Uchiha Itachi."
"Uchiha Itachi?"
"Apa kau lupa, dia juga salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan ini."
"Aku tidak melupakannya, hanya saja sudah lama aku tidak melihat orang itu."
"Hmm, dia sangat jarang ke Konoha, sebenarnya dia sedang berlibur disini, mungkin sekaligus untuk mengunjungi perusahaan ini."
"Oh, apa aku bisa pulang sekarang?"
"Selesaikan dulu pekerjaanmu, kau disini hanya sementara dan akan kembali ke Suna, kau tidak boleh malas-malasan disini."
"Baik bos."
Sasori dengan gerakan agak-sedikit-malas, membuka satu persatu map laporan dan mengecek-ngecek secara detail tiap laporan itu, Nagato hanya tersenyum dan kembali ke ruangannya.
Sasori adalah adik sepupu Nagato, beberapa hal seperti pengecekkan data-data pribadi, Nagato lebih mempercayai Sasori, bisa di bilang dia anak yang sedikit istimewa dengan kemampuannya yang melebih orang seusianya, dia lebih dulu menyelesaikan pendidikannya dari pada Sakura yang lebih tua darinya, meskipun begitu dia tetap masih betingkah sesuai umurnya 20 tahun.
"Aku tidak mau pergi."
"Oh, ayolah Sasuke, kau juga akan menjadi pemegang saham Uchiha."
"Aku tidak mau'"
"Sasuke."
"Aku tidak peduli dengan perusahan-perusahan itu."
"Perusahan-perusahan itu milik ayah, kita tidak bisa membiarkannya begitu saja."
"Aku tidak ingin kau mengucapkan ayah."
"Baik, Tapi anggap saja jika aku tidak ada, apa yang akan kau lakukan, apa kau akan menghancurkan semua kerja keras ayah selama ini?"
"Tidak."
"Jadi, apa kau akan ikut? ini hanya pertemuan secara informal."
"Hn, baiklah."
Itachi terlihat senang, dia berhasil membujuk Sasuke untuk pergi menemuai rekan-rekan bisnisnya, meskipun awalnya Sasuke benar-benar tidak ingin kemana-mana, Itachi ingin memperkenalkan Sasuke kepada beberapa rekan bisnisnya, dia merasa Sasuke perlu mengambil bagiannya, mungkin saja suatu saat nanti Sasuke yang akan menjadi direktur utama menggantikan posisinya.
Itachi sudah mengenakan setelan jas hitamnya dan begitu juga Sasuke, mereka berdua sangat terlihat sempurna, Itachi mengikat rapi rambutnya dan Sasuke seperti biasa, tidak ingin menghilangkan kesan rambut dongker kebelakangnya.
Mereka berdua sudah siap dan berjalan keluar rumah, kali ini tidak ada yang mengendarai kendaraan, Itachi sudah menyiapkan Limo hitam dengan sopir pribadinya yang sudah tepat parkir di depan pagar, beberapa detik berlalu dan Itachi juga belum masuk ke dalam limosin, Sasuke sedikit bingung, apa Itachi melupakan sesuatu.
"Maaf, apa aku terlambat?"
Sebuah suara yang membuat dua orang pemilik mata onyx itu segera menatap ke arah suara tadi, mereka hanya mematung dan lama memandangi seorang gadis dengan gaun putih selututnya, pada bagian lengan yang pendek dan sedikit menggembung, hiasan pita putih di bagian rambut softpink sepinggangnya membuatnya tampak lebih manis, riasan wajahnya yang simpel dan tidak terlalu berlebihan membuatnya sangat sempurna, siapa saja pria yang melihatnya akan jatuh hati padanya.
"Ada apa? Apa ada berlebihan dari penampilanku?"
"Tidak, kau terlihat sangat cantik nona Sakura." ucap Itachi dan segera menawarkan tangannya untuk mengajak Sakura masuk kedalam limosin, membuat Sasuke sedikit risih, kakaknya mendahuluinya.
Sakura hanya tersipu malu dan mengikuti Itachi, berjalan masuk ke dalam limosin.
Itachi duduk di sebelah Sakura dan Sasuke duduk sendirian, Sasuke memandang horor ke arah Itachi, Sasuke sama sekali tidak diberitahukan kalau Sakura akan ikut bersama mereka, Sepertinya ini sudah direncanakan Itachi, Sakura merasa sedikit tidak enak, dua jam sebelum mereka siap-siap, Itachi tiba-tiba mengajak Sakura pergi, awalnya Sakura tidak menyetujuinya, Sakura merasa sedikit tidak enak, ini adalah acara pertemuan rekan-rekan bisnis Itachi dan Sakura hanyalah tetangganya, tapi Itachi sedikit memaksa Sakura, dia ingin jika ada seorang gadis yang berjalan bersama mereka ketika masuk dan Itachi sedikit mengucapkan untuk menemani Sasuke jika nantinya dia sibuk dengan teman-temannya, Sasuke tidak terlalu suka pesta, jika Itachi sibuk, Sakura akan bersama Sasuke, dan ucapan itu sukses membuat Sakura untuk ikut.
"Maaf sudah merepotkan." ucap Sakura.
"Tidak, tidak sama sekali, aku senang mengajakmu, Sakura." ucap Itachi.
Sasuke masih terdiam, menopang dagunya dan melirik ke arah jendela, kalau di perhatikan, Sasuke tidak menatap gedung-gedung yang terpampang di setiap pinggiran jalan, tapi menatap pantulan wajah Sakura di jendela limosin, menurutnya wajah Sakura lebih indah dibandingkan pemandangan malam Konoha.
Sakura melirik ke arah Sasuke, wajah Sasuke hanya terlihat datar, rasanya Sakura ingin membaca pikiran Sasuke, apa Sasuke senang jika dia ikut atau sebaliknya, Sakura menghela napas sejenak, membuat Sasuke yang masih menatapnya dari arah jendela sedikit mengerutkan alisnya, Itachi sibuk melirik ke arah adiknya dan Sakura, mereka benar-benar cocok.
Waktu perjalanan dihabiskan dengan berdiam diri, tidak ada yang memulai pembicaraan, suasana di dalam limosin menjadi sangat kaku, berhentinya limosin mereka di depan sebuah gedung mewah membuat Sakura sedikit bernapas lega, rasanya dia seperti menjadi batu didalam limosin.
Gedung yang bernuansa eropa, bercat putih dengan lampu sorot kekuningan menghiasai sisi gedung itu, mereka segera menuruni limosin dan berjalan masuk ke dalam gedung, suasana di dalam gedung sudah sangat ramai, hampir seluruh pemegang saham dan beberapa direktur utama di undang di pesta ini, Sakura sedikit gugup, harus menemui orng-orang besar yang bahkan Sakura tidak mengenal mereka sama sekali.
"Santai saja, Sakura." bisik Itachi dan menawarkan lengannya untuk kedua kalinya, merasa hanya Itachi yang membuatnya tenang, Sakura memegang lengan Itachi dan Sasuke yang berada dibelakang kembali terlihat lebih risih lagi, Itachi seperti membuat bom yang tertanam didiri Sasuke yang bisa saja meledak, demi image kakaknya, Sasuke harus menahan dirinya, membiarkan tingkah kakaknya yang sedikit berlebihan, haruskah Sasuke mematahkan tangannya yang selalu saja jahil ingin menyentuh Sakura, oh Sasuke, sadarkan pikiranmu.
Mereka berjalan menuruni tangga dan seluruh mata tertuju pada mereka, bukan, seperitnya tertuju pada gadis disamping Itachi.
"Kau terlambat Itachi." Ucap Nagato menghampiri mereka.
Sakura fokus terhadap wanita yang berdiri di samping Nagato, wanita dengan rambut purple selehernya dengan balutan gaun hitam selutut, agak sedikit gemerlap dengan payet yang menghiasi gaun itu, dia menatap ramah ke arah Sakura.
"Maaf, aku agak sedikit telat tadi, apa kabar Konan?"
"Seperti yang kau lihat, sudah lama kita tidak berjumpa." ucap konan, wanita yang berada di samping Nagato.
"Iya, bagaimana hubungan kalian sekarang?"
"Aku akan melamarnya secepatnya." ucap Nagato.
Konan hanya tersipu malu mendengar ucapan Nagato, mereka sudah hampir 8 tahun pacaran dan Nagato akan segera menikahi Konan.
"Aku turut senang, jangan lupa mengundangku, yaa.."
"Tentu, Hmm.., kau Sakura,kan? Haruno Sakura." ucap Nagato tiba-tiba.
"Kau mengenalnya?" Tanya Itachi.
"Aku sangat mengenalnya, apa kau melupakanku, nona Haruno."
"Kak Nagato! tentu saja aku masih mengenal kakak, apa kabar?"
"Aku baik-baik saja, oh iya, kenalkan, ini Konan, pacarku, aku belum sempat mengenalkanmu, waktu aku ke Suna, malah kau tinggal di Konoha,"
"Salam kenal, aku Haruno Sakura."
"Salam kenal juga, aku Konan."
"Sepertinya aku perlu mengetahui hal ini, orang yang aku ajak ternyata sudah mengenal temanku,"
"Hahaha, kau bisa saja Itachi, Sakura ini sudah seperti adikku sendiri, dari kecil aku sudah mengenalnya, orang tuanya dulu sempat bekerja sama denganku, dan aku sering mengajakknya keluar,"
"Sepertinya kau bukan orang asing disini Nona Sakura," ucap Itachi.
Sakura kembali tersipu malu, orang yang sudah lama dikenalnya, kini mereka bertemu kembali, jika Nagato ada disini, pasti Sasori juga ada, Sakura tidak ingin terlihat mencari sosok pria berambut merah itu, dia hanya tersenyum menanggapi setiap pembicaraan Nagato dan Itachi.
Sasuke sama sekali tidak terlalu senang dengan pembicaraan mereka, dia hanya sedikit terkejut, Nagato juga mengenal baik Sakura, Sasuke memilih diam dan tidak merespon apapun.
"Sasuke, kemarilah." ucap Itachi.
Sasuke berjalan kedepan dan berdiri tepat disamping Sakura.
"Sudah lama juga aku tidak melihatmu Sasuke, kau terlihat lebih besar sekarang."
"Terima kasih, kak Nagato, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan anda, terakhir kita bertemu di kawasan Uchiha."
"Wah, ternyata kau masih ingat juga."
"Hn, aku tidak akan melupakan siapa pun yang sudah bertemu denganku."
Sasuke berusaha membuatnya terlihat baik-baik saja di hadapan teman-teman kakaknya, Itachi tahu, jika Sasuke bisa menjaga sikapnya.
"Apa semuanya sudah datang?"
"Sudah, mereka semua menunggumu."
"Terima kasih sudah mengadakan pesta ini."
"Tidak perlu berterima kasih, seharusnya aku yang berterima kasih, kau sampai harus datang ke Konoha, padahal kau sangat sibuk di kawasan Uchiha."
"Mari kita temui mereka." ucap Nagato berjalan lebih dahulu.
"Bisakah kau menemani Sasuke?" Bisik Itachi.
Sakura hanya mengangguk dan bergeser sedikit ke arah Sasuke dan membiarkan Itachi berjalan bersama Nagato dan Konan.
Itachi membiarkan Sakura bersama Sasuke, suasana menjadi kaku, Sakura bingung mau berbicara apa dengan Sasuke, meskipun hanya melirik, Sakura bisa melihat jelas wajah Sasuke yang terlihat sangat mempesona dengan setelan jas hitamnya.
"Maaf atas perbuatan kakakku." Sasuke angkat berbicara.
"Eh, sungguh, aku tidak merasa keberatan, aku senang bisa membantu kak Itachi."
Sasuke melihat ke arah Sakura dan yang dilihatnya menundukkan wajahnya. 'cantik' Sakura terlihat sangat cantik dengan gaun putihnya, dilihat berapa kalipun, Sasuke tidak bosan menatapnya.
"Kita bisa pergi dari sini jika kau bosan."
"Aku tidak bosan kok, hanya saja, aku sedikit malu, berhadapan dengan orang-orang yang belum aku kenal."
"Hn, aku juga tidak mengenal beberapa orang disini, hanya teman akrab kakakku saja yang aku kenal. jadi... benar apa yang di ucapkan Nagato tadi,"
"Uhm, iya kami pernah bersama, dia sangat baik padaku, dan orang tua selalu membiarkanku bersamanya,"
"Oh, sepertinya kau orang yang cukup dikenal yaa nona Haruno,"
"Kau bisa saja, Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang? Sepertinya kakakmu sangat sibuk menyapa teman-temannya." ucap Sakura melirik ke arah Itachi yang sudah di keremuni beberapa orang.
"Aku haus, mau minum?"
"Boleh."
Mereka berjalan menghampiri meja yang sudah terisi dengan minuman dan hidangan yang menggiurkan, Sasuke mengambilkan Sakura minuman.
Hilang?
Sasuke melihat kesana kemari dan tidak menemukan Sakura, bagaimana Sakura bisa hilang begitu saja? Gumam Sasuke, menyimpan minumannya dan segera mencari Sakura.
Sakura sangat terkejut, seseorang menariknya menjauh dari pesta, mereka berjalan ke halaman belakang gedung itu.
"Lagi-lagi kau."
"Hehehe, aku pikir salah orang, ternyata benar kau, Sakura."
"Sebaiknya aku kembali, Sasuke akan mencariku."
"Kau dan Uchiha Sasuke saling mengenal?"
"Tentu, dia temanku."
"Seorang teman dan dia mengajakkmu ke pesta ini."
"Sebenarnya yang mengajakku itu kak Itachi."
"Kau mengenal Itachi juga?"
"Sasori, kau ini seperti polisi saja, iya, aku mengenal mereka semua dan mereka adalah temanku."
"Kau hebat juga bisa mengenal pemegang saham terbesar marga Uchiha."
"Pemegang saham terbesar?"
"Iya, Uchiha Itachi."
"Aku tidak tahu,"
"Nah, sekarang kau tahu,kan, Aku tidak percaya mereka sampai mengajakkmu kesini, pasti mereka terpesona dengan kecantikanmu,"
"Sasori, jangan coba-coba menggodaku,"
"Hahah, maaf-maaf, tapi benar, kau sangat cantik hari ini, aku senang bisa melihatmu, aku sedikit bosan dengan pesta ini, Kau tidak terkejut aku disini?"
"Tidak, aku sudah bertemu dengan kak Nagato, sudah pasti kau juga ada disini."
"Ah, pantes saja kau tidak terkejut."
"Jadi, apa aku bisa pergi sekarang?"
"Kau tidak mau menemaniku?"
"Tidak, aku sini bersama Sasuke dan Kak Itachi, aku harus bersama mereka."
"Tinggalkan saja mereka, aku hanya punya waktu kosong malam ini, mau yaa."
"Tidak Sasori, aku tidak enak, jika tiba-tiba menghilang dari mereka."
"Tapi-"
"Maaf, tuan, Aku harus membawa nona ini."
Sakura tiba-tiba terkejut, seseorang menariknya dan merangkul bahunya, Sasuke datang dan memisahkannya dari Sasori.
"Sasuke."
"Aku mencarimu,"
"Maaf."
"Siapa dia?"
"Uhm, dia yang bernama Sasori."
"Oh, orang ini."
"Hei-hei, jangan berbisik-bisik seperti itu, aku juga ingin mendengar apa yang kalian bicarakan."
"Sasori, maaf, aku harus pergi dengan Sasuke."
"Jadi, kau memilih orang ini dari pada aku yang sudah lama mengenalmu?"
"Sasori, kau jangan kenak-kanakan."
"Maaf, Sakura, aku hanya tidak suka jika ada pria lain yang menyentuhmu selain aku."
Sasuke terdiam, ucapan Sasori seakan-akan menjadi pemicu bom yang sejak tadi sudah di buat Itachi, apa maksudnya dengan mengucapkan 'pria lain yang menyentuh Sakura'.
Merasa seperti akan terjadi perang besar, Sakura merangkul lengan Sasuke, membuat Sasuke yang tadi sepertinya akan melampiaskan amarahnya kepada Sasori menjadi redah.
"Sasori, lain kali kita akan bertemu yaa, aku harap kau bisa mengerti, ini bukan waktu yang tepat untuk kita bersama-sama."
"Yaah, baiklah, Sakura, janji, sebelum aku pulang ke Suna, kita akan pergi bersama."
"Tentu, aku masuk duluan yaa."
"Dah."
Sakura sedikit memaksa Sasuke untuk segera menjauh dari Sasori, Sasori dengan sikap egoisnya, bertemu dengan Sasuke yang sama-sama egois, bisa-bisa terjadi perang dunia, jika mereka berlama-lamaan ditinggalkan bersama.
Setelah cukup jauh, Sakura menghela napas, upayanya untuk menghentikan perang dunia sukses, Sakura mungkin akan sulit menghentikan mereka jika dibiarkan.
"Jadi itu temanmu?"
"I-iya, maafkan sikapnya."
"Dia menyukaimu."
"Uhm..., sudahlah, jangan membahasnya, dia hanya anak kecil yang masih suka mengangguku."
"Kau menyukainya?"
"Anggap saja dia sedang main-main tadi."
Sasuke melepaskan rangkulan tangan Sakura, dia merasa perlu berbicara serius dengan Sakura, tingkah Sasori membuatnya sangat-sangat kesal.
"Uhm, Sasuke, bisakah kau melupakan hal yang tadi, dia benar-benar tidak serius dengan ucapannya."
Sasuke terdiam cukup lama, wajahnya yang selalu saja datar, membuat Sakura sulit menebak apa yang sedang dipikirkan Sasuke.
"Aku menyukai Sasori, yaa... meskipun sikapnya seperti itu, aku tetap menyukainya."
Ucapan Sakura membuat Sasuke mengangkat wajahnya dan menatap Sakura.
.
.
.
-TBC-
Oh ya ampuuun..~ orang ketiga sudah muncul, hahahahaha, bingung nih sama orang ketiga, tiba-tiba menjadikannya seseorang pria yg lumayan keras kepala, maafkan saya fans Sasori.
next chapter, update semoga pake kilat, biar nggk lama di tunggu, mungkin chapter ini agak sedikit, semoga bisa buat yg lebih banyak lagi untuk chapter berikutnya.
.
.
Dolphin : sudah berusaha upadate secepat kilat, terima kasih sudah membaca.
Hanazono Yuri : Update...! yey, terima kasih sudah membaca.
.
.
Mohon review yooo~
