Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan

.

.

.

"Kau menyukainya?"

"Anggap saja dia sedang main-main tadi."

Sasuke melepaskan rangkulan tangan Sakura, dia merasa perlu berbicara serius dengan Sakura, tingkah Sasori membuatnya sangat-sangat kesal.

"Uhm, Sasuke, bisakah kau melupakan hal yang tadi, dia benar-benar tidak serius dengan ucapannya."

Sasuke terdiam cukup lama, wajahnya yang selalu saja datar membuat Sakura sulit menebak apa yang sedang dipikirkan Sasuke.

"Aku menyukai Sasori, yaa... meskipun sikapnya seperti itu, aku tetap menyukainya."

Ucapan Sakura membuat Sasuke mengangkat wajahnya dan menatap Sakura.


~ my neighbor ~

.

[Chapter 3]

.

Don't Like Don't Read

.

.

.

Sasuke terdiam lebih lama, perasaannya gelisah dan merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya, tapi sepertinya sangat sulit untuk menerjemahkan perasaannya sekarang.

"Jadi, kau benar-benar menyukainya?"

"Iya, tentu saja, aku menyukainya."

Sakura melirik ke arah Sasuke yang tidak menatapnya, mungkin ada sedikit yang ganjal dari ucapannya, Sakura salah mengartikan kalimat 'suka'nya dan 'suka' dari pertanyaan Sasuke.

"Tu-tunggu dulu, maksudku, aku menyukai Sasori sebagai teman, aku tidak bisa bilang aku tidak menyukainya, biar dia sangat egois aku tetap menyukainya, soalnya kami sudah berteman sejak lama."

"Oh." Sasuke membelakangi Sakura, dia tidak menyadari sebuah senyuman yang menghiasi wajahnya, dia lega akan ucapan Sakura tadi.

"Sasuke, apa kau tidak apa-apa? Semoga kau tidak marah karena sikap anak itu."

"Aku rasa tidak perlu memikirkan sikapnya." ucap Sasuke yang kini menatap Sakura.

"Apa kau marah?"

"Tidak."

"Syukurlah, aku tidak ingin kau sampai marah."

"Aku tidak akan marah, hanya karenanya, aku mungkin akan marah, kalau dia sampai mengganggumu,"

Sebuah kalimat yang membuat Sakura terkejut, apa Sasuke serius dengan ucapannya atau karena dia sedang kesal jadi hanya asal mengucapkan hal itu, Sakura sibuk dengan pikirannya dan tidak sadar orang yang mengucapkan hal tadi sudah berjalan beberapa langkah menjauh dari Sakura.

"Hei, apa kau akan mematung disitu terus?"

Sakura tersadar dan melihat ke arah suara tadi, "Ma-maaf, aku akan ke sana." Sakura berjalan sedikit terburu-buru mengikut Sasuke masuk.

Suasana di dalam gedung masih sangat ramai, Itachi masih terlihat berbincang-bincang dengan orang-orang yang lebih tua darinya, mereka memiliki kedudukan yang sama dengan Itachi, pemegang saham terbesar.

Sakura dan Sasuke yang sudah lapar, memilih mengambil beberapa makanan dan membawanya ke meja mereka, meja yang bundar yang hanya ada mereka berdua, Sakura tidak ingin duduk dekat orang lain, dia memilih duduk bersampingan dengan Sasuke, meja itu bebas di duduki oleh siapa saja, tidak lama kemdian ada sekitar empat orang mulai duduk di meja yang sama dengan Sasuke dan Sakura, mereka tersenyum ramah kepada Sakura dan Sasuke, Sasuke yang merasa tidak terlalu terganggu akan mereka, mengangguk perlahan agar mereka paham, meja itu bisa di duduki oleh mereka, Sakura hanya tersenyum menatap Sasuke.

"Apa aku usir saja mereka?" bisik Sasuke.

"Jangan." ucap Sakura sedikit mencubit pinggang Sasuke, membuat si yang pemilik pinggang kaget dengan adanya sengatan dari jari Sakura.

"Kau berani mencubitku?" Sasuke menatap ngeri ke arah Sakura.

"Iya, dan jika kau berani melakukannya, aku akan mencubitmu lebih keras."

"Kau ini, apa tidak bisa di ajak bercanda."

"Tidak biasanya kau akan bercanda tuan Uchiha."

Mereka tidak sadar dengan tatapan orang yang duduk di seberang mereka, mereka pikir Sakura dan Sasuke adalah pasangan suami istri yang sedang bercanda.

"Kalian ini mesra juga yaa."

"Membuat kami iri saja."

Kaget dari ucapan mereka, bisa di bilang orang-orang yang duduk tadi berumur sekitar 30an dan 40an, mereka jadi terlihat senang menatap Sasuke dan Sakura.

"Eh, maaf, kalau kami mengganggu." Ucap Sakura.

"Tidak kok, kami senang melihat kalian berdua, pasangan yang masih muda memang selalu semangat yaa,"

"Iya-iya benar,"

Mereka malah sibuk bergosip akan ke-mesra-an Sasuke dan Sakura.

"Ka-kami bukan pa-"

Sasuke langsung menyupai Sakura dengan sepotong kue, membuat Sakura melotot 'tidak suka' di depan Sasuke.

"Sudahlah, biarkan mereka." Bisik Sasuke.

Orang-orang yang duduk di seberang mereka menjadi histeris dengan tingkah Sasuke, menyuapi Sakura. yaah, begitulah jika mereka merasa usia mereka sudah sangat tua dan tidak indah lagi jadi bermesaraan seperti dua pasangan yang sebenarnya mereka bukan pasangan beneran.

Tidak lama kemudian mereka selesai dengan santapan mereka dan pamit untuk lebih dulu pergi kepada Sakura dan Sasuke yang masih menikmati minuman mereka, pamitan mereka di balas ramah Sasuke dan Sakura.

Rasanya Sakura ingin membaringkan kepalanya di meja, tapi jika dia seperti itu akan terlihat tidak sopan, Sakura sudah cukup lelah untuk saat ini, Itachi masih belum selesai berbicara, Itachi adalah orang yang terpandang dan dia harus menyapa siapapun yang hadir di pesta ini, seluruh tamu yang diundang mengenal Itachi, dengan usianya yang sangat sukses melanjutkan perusahaan Uchiha.

"Kau lelah?" Sasuke sadar akan sikap Sakura.

"Aku tidak lelah, hanya perlu menunggu kak Itachi kan?"

"Sebaiknya kau pulang, aku yang akan mengatakannya di Itachi,"

"Tapi...aku tidak enak, aku yang di ajak, aku yang duluan pulang, itu tidak sopan Sasuke. "

"Tidak apa-apa, Itachi akan mengerti, tunggu di sini,"

"Sasuke."

Sakura tidak sempat mencegat Sasuke yang sudah berdiri dan berjalan dengan cepat ke arah Itachi, Usahanya untuk meminta Itachi mengobrol sebentar, malah Sasuke ikut dalam perbincangan mereka, Sasuke sangat jarang di lihat oleh beberapa rekan bisnis Itachi, Sasuke harus memasang image baik untuk menghargai marga keluarganya yang sangat terkenal di kalangan pebisnis.

Sakura melihat Sasuka yang sepertinya ikut terjebak dalam pembicaraan serius, dia hanya menghela napas, Sakura tidak akan pulang cepat, Sakura bermain-main dengan gelasnya dan meneguk habis minuman bersodanya.

"Minuman lagi nona?" ucap seorang pelayan, menawarkan minuman kepada Sakura.

Sakura yang merasa masih haus, meminta dua gelas untuk di taru di mejanya, pelayan itu menaru dua gelas minuman dan berjalan ke meja lain untuk menawarkan minuman, rasa lelahnya membuat Sakura tidak sadar dengan jenis minuman yang di berikan oleh pelayan tadi, pelayan tadi membawa minuman jenis anggur yang kadar alkoholnya cukup membuat orang awam yang minum langsung mabuk hanya dengan segelas, Sakura benar-benar tidak sadar, Sakura pikir ini hanya minuman anggur biasa, Sakura meminum segelas, detik berikutnya kepalnya rasanya sedikit berat, Sakura pikir mungkin hanya karena rasa lelahnya, Sakura kembali meminum segelas.

Suara pecahan gelas membuat semua orang terdiam, Sasuke dan Itachi sibuk mencari arah suara gelas pecah itu, Tidak perlu menunggu lama, Sasuke hanya menatap ke arah Sakura dan benar saja, pecahan gelas itu berada di samping kaki Sakura, Sasuke tidak pamit dan langsung meninggalkan orang-orang itu, secepatnya menghampiri Sakura yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya.

'Mabuk'

Sakura mabuk berat, berdiri pun hanya membuatnya terduduk kembali dengan tatapan yang sayup-sayup, sebentar tertutup, sebentar terbuka, Sakura terlihat seperti orang yang ngantuk berat.

"Kau baik-baik saja? Ada yang terluka?" Sasuke khawatir jika Sakura terkena pecahan gelas.

"Kau terlalu lama Sasuke!" bentak Sakura.

Jika saat ini hanya ada mereka berdua, Sasuke ingin tertawa sekeras-kerasnya, baru kali ini dia melihat Sakura mabuk.

"Sebaiknya kau membawanya pulang," ucap Itachi, yang sudah menelpon sopir limosinnya untuk segera berada di pintu masuk.

Sasuke mengikuti perintah Itachi, sedikit ada kendala saat Sasuke akan membawa Sakura pergi, ingin berjalan bersama, tapi jalan Sakura berantakan, kiri, kanan, kiri, kiri, kanan, kanan, membuat Sasuke kesal dan memilih mengangkat Sakura, Sakura sudah tidak bisa menahan rasa sakit dikepalanya, dia memilih menutup matanya.

Limosin sudah terparkir di depan pintu masuk, sopir pribadi Itachi sudah menunggu dengan membukakan pintu, Sasuke memasukan Sakura ke dalam limosin dan membiarkan Sakura berbaring di kursi.

"Antar kami pulang," ucap Sasuke dan juga segera masuk ke dalam Limosin.

Limosin mereka sudah berjalan dan tidak terlihat lagi di depan gedung, suasana di dalam gedung kembali seperti semula.

"Ada apa Itachi?" tanya Nagato, dari tadi dia tidak menemukan asal suara pecahan gelas.

"Sepertinya ada yang salah memberikan minuman kepada Sakura."

"ahh, aku sedikit lalai tidak memisahkan minuman tamu."

"Tidak apa-apa Nagato, Sasuke sudah membawanya pulang, aku rasa dia akan baik-baik saja."

"Uhm, iya."

"Sebaiknya kita lanjutkan lagi, masih banyak yang perlu kita bicarakan dengan mereka."

Nagato dan Itachi kembali sibuk dengan berbicara soalnya perusahaan.

.

.

.

Sakura tertidur pulas di kursi limosin, Sasuke yang duduk di seberang hanya menatap wajah Sakura, terlihat memerah, Sakura benar-benar mabuk berat, mungkin ini untuk pertama kalinya bagi Sakura.

Sasuke terkejut, Sakura tiba-tiba bangun dan duduk, tatapannya masih sayup-sayup menatap Sasuke, dia belum sepenuhnya sadar dari pengaruh alkohol tadi.

"Sasuke." ucap Sakura.

"Hn?"

Sasuke masih memandangnya, alkohol itu membuat Sakura menjadi sedikit liar, tidak pandang lagi siapa yang ada di hadapannya, Sakura langsung duduk di atas pangkuan Sasuke dan berhadapan langsung dengannya, tangan Sakura sudah melingkar di leher Sasuke dan matanya menatap langsung ke arah Sasuke.

"Apa kau Sasuke?"

Sasuke terdiam dan masih menatap Sakura, ini bisa menjadi kesempatannya untuk melakukan apapun dengan Sakura, niat yang sedikit jahat mengelilingi pikirannya, namun Sasuke masih bisa mengendalikan dirinya.

"Kau mabuk Sakura."

"Mabuk? Aku tidak pernah mabuk Sasuke!" ucapnya sedikit berteriak.

Sakura masih pada posisinya dan tidak berniat pindah dari atas Sasuke, dia mabuk dan Sasuke memahaminya, Sasuke membiarkan gadis itu terus menatapnya, detik berikutnya Sakura seperti ingin mencium Sasuke, jarak antara mereka semakin menipis, Sasuke membuang mukanya kesamping dan kepala Sakura sudah tepat berada di atas bahu kiri Sasuke, Sasuke menghindari ciuman Sakura, ini bukan waktu yang tepat mendapatkan ciuman dari Sakura.

Sakura tidak juga menarik kepalanya, sepertinya dia tertidur dengan menopang dagunya di bahu Sasuke, Sasuke mengusap perlahan punggung Sakura, hari ini benar-benar cobaan yang sangat berat.

Limosin mereka sudah sampai dan Sasuke meminta sopirnya untuk membantunya menurunkan Sakura, posisi mereka sangat-sangat tidak sopan jika dilihat, untung saja sejak awal sopir ini sudah tahu jika Sakura sedang mabuk, Sasuke agak sedikit kesulitan menurunkan Sakura dengan posisi seperti itu, si sopir menahan Sakura sejenak dan membiarkan Sasuke turun dulu, kemudian dia memberikan Sakura kepada Sasuke, Sasuke mengangkat Sakura yang masih tertidur, sebelum dia kembali menjemput Itachi, sopir itu membantu Sasuke membuka pintu pagar dan pintu rumah, setelahnya dia pamit dan Sasuke sudah menaruh Sakura di kamar tamu.

Sasuke merebah dirinya di sofa ruang tv, sedikit kelelahan denga sikap Sakura yang menjadi liar didalam limosin, Sasuke harus mengendalikan dirinya, dia tidak ingin merusak Sakura dan mengambil kesempatan tadi.

Pukul 12 : 00

"Sasuke."

Ucapan sebuah suara membangunkan Sasuke, dia tertidur di sofa lengkap dengan pakaian pestanya, Sasuke menoleh ke arah suara dan mendapati Sakura sudah duduk di sampingnya.

"Kau sudah bangun?"

"Uhm, kepalaku Sakit."

"Tunggu, aku ambilkan minuman."

Sasuke masuk ke dalam dapur, membuka jasnya dan menyimpannya di kursi, membuka satu kancing bajunya paling atas, mengeluarkan kaki kemejanya, membuka kancing-kancing dilengan dan menggulung lengan kemejanya ke atas, keadaannya sudah lebih legah dari pada saat lengkap dengan pakaian tadi, Sasuke mengambil sebuah ramuan penghilang mabuk. Meskipun Sasuke ataupun Itachi bukan pemabuk, mereka selalu menyediakan ramuan itu, hanya untuk berjaga-jaga.

Segelas ramuan dan Sasuke sudah kembali ke ruang tv, Sakura masih belum sadar sepenuhnya, dia kembali membaringkan badannya di sofa, masih lengkap dengan gaunnya namun rambutnya sudah berantakan.

"Sakura, minumlah ini."

Sasuke membangunkannya, Sakura yang masih belum tetidur total bangun dan segera meminum minumannya.

"Apa ini? rasanya aneh." Protes Sakura.

"Supaya mabukmu segera hilang."

Sakura menghabiskannya dan memberikan gelas kosong kepada Sasuke, setelahnya Sasuke kembali ke dapur menyimpan gelas dan kembali ke ruang tv, terlihat Sakura masih duduk dan mematung.

"Kau baik-baik saja?"

"Yaa, sepertinya minuman tadi sedikit berefek, sakit kepalaku sedikit hilang."

"Hn, aku senang mendengarnya, mau aku antar pulang?"

"Tidak usah, aku bisa sendiri,terima kasih, dan.. maaf sudah merepotkanmu."

"Kau masih belum pulih total, biar aku mengantarmu,"

"Baiklah."

Sakura berdiri dan hampir terjatuh jika saja Sasuke tidak langsung menopang tubuh Sakura.

"Kau memang harus di antar."

Sakura terdiam dan membiarkan Sasuke merangkulnya hanya untuk menyeimbangkan jalannya.

"Aku baru tahu rasanya mabuk seperti ini."

"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan tadi?"

"Memangnya apa yang sudah kulakukan?"

"Kau tidak ingat?"

"Yang ku ingat hanya memecahkan gelas, setelah itu aku tidak ingat apa-apa, kepalaku rasanya berat, mungkin aku tertidur, benarkan?"

"Hn, kau tertidur sampai kita tiba di rumah."

Sasuke tidak menceritakan pada bagian terliar Sakura saat di atas limosin yang membuat Sasuke harus berusaha mengendalikan dirinya.

"Kak Itachi mana?"

"Dia belum pulang, mungkin sejam lagi.'

"Uhm, Sampaikan permintaan maafku, rasanya tadi aku malu sekali, semua orang memandangiku gara-gara aku membuang gelas itu, orang mabuk memang sangat hilang arah yaa, untuk apa coba aku membuang gelas itu," Sakura ngutuk dirinya sendiri.

Sasuke menahan diri untuk tidak tertawa dengan cerita sedih Sakura yang sengaja membuang gelas itu, setelah mabuk Sakura merasa di perintahkan oleh tangannya sendiri.

"Yaah, begitulah jika orang mabuk."

"Sungguh, aku tidak berniat memecahkan gelas itu, mungkin sebaiknya aku mengganti gelas itu."

"Tidak perlu, anggap saja kecelakaan kecil."

"Oh, aku malu sekali, aku tidak ingin datang lagi jika kak Itachi mengajakku ke pestanya, orang-orang itu akan cepat mengenalku, gadis aneh yang memecehkan gelas."

Sasuke lagi-lagi harus menahan tawanya. Meskipun dalam keadaan seperti ini, Sakura masih bisa melawak dalam artian bagi Sasuke, tapi bagi Sakura ini adalah curahan hatinya yang malu akan kejadian mabuknya.

"Sampaikan juga terima kasihku, aku senang sekali sudah di ajak kesana, aku jadi bisa menemuai kak Nagato lagi, tapi tidak dengan Sasori, sikapnya masih membuatku kesal."

"Hn."

Sasuke tidak terlalu banyak menanggapi setelah Sakura mengucapkan nama orang itu, 'Sasori'.

Mereka sudah berdiri di depan rumah Sakura, Sakura mengucapkan 'selamat malam' pada Sasuke dan melambaikan tangan saat Sasuke sudah berjalan keluar pagarnya.


Pagi yang sangat cepat datang untuk Sakura, dia merasa masih ingin berlama-lama dengan kasurnya, ramuan dari Sasuke sangat bermanfaat untuknya, jika bukan karena ramuan itu, Sakura mungkin akan merasa kepalanya yang serasa mau pecah pagi ini.

Jadwal kuliah untuk hari ini sedikit di undur, Sakura masih punya banyak waktu untuk tidur kembali, tapi sepertinya dia tidak akan tidur tenang dengan pekerjaan rumah yang sudah penumpuk, beres-beres. Khusus untuk mata kuliah hari ini, Sasuke dan dia harus berpisah, Sakura lebih dahulu menjadwalkan mata kuliahnya sebelum Sasuke, Sasuke mengambil mata kuliah yang sama namun di kelas yang berbeda.

Sakura segera bangun dan merapikan apapun yang ada dihadapannya, termasuk dirinya, semalam dia sangat mengantuk dan agak malas menyimpan gaunnya dengan rapi, Sakura membuka dan menggeletakkan gaunnya di lantai begitu saja, dirinya hanya tidur menggunakan shortpants dan bra, tidak ada waktu untuk menggunakan baju tidur.

Mandi mungkin ide yang bagus menurut Sakura, dia merasa perlu penyegaran saat ini. Sejam berlalu, rumah sudah beres dan Sakura sudah segar, tinggal satu pekerjaan lagi, membuang sampah, Sakura berjalan keluar rumahnya membawa sekantong besar plastik hitam dan membawanya keluar dan membuang sampahnya di bak sampah depan rumahnya.

"Selamat pagi Sakura." Sapa Itachi yang sedang menyiram halaman.

"Selamat pagi, uhm.. anu, maaf soal pesta semalam, aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku."

Sakura berjalan lebih dekat ke pagar pembatas antara rumahnya dan rumah Sasuke.

"Tidak perlu minta maaf, kau tidak sepenuhnya salah, Nagato sampai mengkhawatirkan mu, dia merasa bersalah tidak memisahkan minuman tamu."

"Bukan begitu, disini aku benar-benar yang salah, aku sendiri yang mengambil meminumnya, aku pikir itu tidak berakohol, jadi aku memang yang salah."

"Sudahlah, tidak apa-apa kok Sakura." ucap Itachi dan tersenyum ramah.

"Uhm, mungkin aku perlu mengganti gelas yang pecah."

"Hahahah."

"Eh? Apa yang lucu?"

"Kau lucu Sakura, kau merasa sangat bertanggung jawab untuk hal sepeleh seperti ini, tidak apa-apa, semalam anggap saja kecelakaan yang tidak disengaja, jadi tidak ada yang perlu diganti."

Sakura tertunduk malu, meskipun hal sepeleh, baginya ini adalah masalah besar, bahkan orang-orang yang ada di pesta sempat memandanginya.

"Terima kasih, kak Itachi."

"Sama-sama, apa kau baik-baik saja sekarang?"

"Iya, semalam Sasuke memberiku segelas minuman, katanya ramuan penghilang mabuk ya."

"Oh, iya, aku tahu, ramuan itu sebagai jaga-jaga saja jika ada yang mabuk, soalnya keluarga Uchiha jika mabuk mereka akan susah mengontrol diri, heheh."

"Begitu yaa."

"Hm, tumben kau dan Sasuke tidak pergi bersama."

"Kami di kelas yang berbeda untuk hari ini, jadi jadwalnya juga berbeda."

"Sayang sekali kalian jadi tidak bersama."

Sakura melirik kesembarang arah, Itachi seperti sedang memancingnya, Sakura akan berusaha mengontrol dirinya, sehari tanpa bersama Sasuke bukan apa-apa, bukankah beberapa semester mereka juga jarang terlihat bersama.

"Sakura."

Yang dipanggil terlihat melamun, Itachi memanggilnya lagi dan tetap sama, Itachi menghentikan kegiatan menyiramnya dan berjalan mendekati pagar.

"Hallo, apa ada orang?"

"I-iya."

"Ini masih pagi Sakura, jangan melamun."

"Maaf."

"Apa kau sibuk sebentar sore?"

"Tidak."

"Bagus."

"Bagus, apanya?"

"Mau menemaniku membuat makan malam?"

"Mau, aku mau." Ucap Sakura senang.

"Baiklah, sampai ketemu jam 5 sore nanti."

Mereka berpamitan, Itachi membereskan selang airnya dan membawanya ke dalam gudang.


Tugas yang sedikit menumpuk membuat Ino dan Sakura harus menyelesaikannya di perpusatakan, Sakura sibuk menulis beberapa data dan Ino sibuk mencari referensi di buku, di meja hanya ada tumpukkan buku dan selebaran-selebaran kertas yang sedikit berserakkan.

"Masih belum selesai?" ucap Ino, mulai bosan dengan apa yang sejak dua jam lalu mereka lakukan.

"Hmmpp...~ masih ada beberapa, coba carikan yang ini." ucap Sakura, memperlihatkan sebuah pernyataan dan Ino mulai mencari apa yang suruh oleh pernyataan itu.

Ino mencari selembar demi selembar, membuka perlahan buku yang sedang di bacanya.

"Eh, bagaimana dengan hubungan kalian sekarang?" ucap Ino disela mencari-cair jawaban dari buku yang di pegangnya.

"Hubungan apa maksudmu?" Sakura tidak menghentikan kegiatannya dan tetap menulis.

"Itu, hubungan itu, dengan si Uchiha."

"Kami tidak ada hubungan, Ino."

"Aku tidak percaya."

"Mau aku buktikan seperti apa, supaya kau mau percaya."

"Apa kau benar tidak memiliki perasaan terhadapnya?"

Sakura menghentikan kegiatannya dan menatap Ino yang juga sedang menatapnya, menunggu jawaban pasti dari Sakura.

"Aku tidak tahu. Apa aku suka padanya atau tidak."

"Sepertinya kau menyukainya."

"Uhm, entalah, aku sendiri belum menentukan apa-apa."

"Lalu, bagaimana dengan Sasuke, apa dia juga menyukaimu?"

"Dia? Aku tidak tahu, jika kau pikir bisa membaca pikirannya dengan mudah, itu sangat mustahil."

"Ternyata dia rumit juga."

"Aku tidak ingin berlama-lama di perpusatakan ini, bisakah kita cepat selesaikan ini."

"Iya-iya."

Sejam berikutnya, Sakura sudah berhenti menulis dan Ino memilih membaringkan kepalanya di atas buka.

"Tinggal satu bagian lagi."

"Masih kurang satu?"

"Iya, mungkin bukunya ada di perpustakaan dekat rumahmu, aku sempat kesitu."

"Baiklah, aku akan mengambilkannya untukmu."

"Terima kasih, sebaiknya kita segera pulang."

Sakura dan Ino berpisah di depan gerbang kampus, Ino sudah ada janji dengan Sai yang sudah menunggunya, Sakura bergegas pulang untuk menepati janjinya juga dengan Itachi.


Tok..! tok..!

"Masuk saja." teriak seseorang dari arah dapur.

Sakura masuk dan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, sepertinya Sasuke tidak ada, hanya ada dia dan Itachi.

"Maaf sudah merepotkanmu." Ucap Itachi berjalan keluar dengan celemek putihnya.

"Ti-tidak, aku tidak merasa tidak merepotkan kok."

"Ayo masuk."

Itachi menarik perlahan lengan Sakura, membawanya ke dapur dan memberinya celemek dengan warna yang sama. Bahan masakan sudah selesai dibersihkan dan tinggal di membuat menunya.

"Kira-kira kita akan buat apa yaa?" Itachi masih berpikir.

"Sesuatu yang simpel dan tidak terlalu berat untuk hidangan awal, bagaimana kalau sup jamur."

"Ide bagus. Kau bisa membuatnya?"

"Tentu."

"Untuk makanan utamanya, biar aku yang buat, untuk makanan penutup, aku ingin Sakura membuat cemilan yang enak, bisakan?"

Sakura menggangguk pasti dan wajah terlihat senang, untuk pertama kalinya dia bisa masak bareng Itachi dan untuk kedua kalinya dia menggunakan dapur Sasuke lagi.

Cuaca untuk sore hari sama sekali tidak mendukung, sejak siang tadi langit sudah mendung dan kini hujan turun dengan sangat deras, mungkin sampai malam pun hujan akan tetap turun.

Sakura mengaduk adonan sambil menatap keluar jendela yang ada di dapur, langit sudah gelap dan hujan masih belum redah.

"Sasuke, ada dimana?"

"Biasanya dia ada di rumah Shikamaru." Ucap Itachi dan memanggang ayam.

'belajar bersama' Itu yang terlintas di pikiran Sakura, mungkin sekarang giliran Sasuke yang akan mengajari teman-teman satu gengnya.

"Tenang saja dia akan segera pulang, apa cemilan sudah siap?"

"Sedikit lagi."

"Apa yang kau buat?"

"Pancake greentea dengan saus coklat."

"Sepertinya akan enak."

.

.

.

Di lain tempat, tatapannya masih sibuk dilayar ponsel, dia membaca pesan yang baru dilihatnya, ponsel yang berada di dalam tas membuatnya tidak mendengar bunyi dering pesan masuk.

-Baka Nii-

Hari ini aku bersama Sakura di dapur, jika kau tidak pulang cepat, mungkin aku dan dia akan makan malam romantis, soalnya hanya ada kami berdua, sampai jumpa dirumah.

Wajah Sasuke terlihat sedikit kesal dengan kalimat pesan singkat dari kakaknya.

"Ada apa Sasuke?" Tanya Naruto heran.

"Aku duluan, ada yang harus aku lakukan."

"Tumben kau cepat pulang, ada apa?" tanya Shikamaru.

"Ada hal penting. Dah."

Sasuke tidak menjelaskan apapun dia terlalu malas untuk menceritakan betapa kesalnya membaca pesan singkat dari kakaknya, menurutnya Itachi tidak boleh makan malam dengan Sakura. detik berikutnya, Sasuke sudah menghilang dari hadapan teman-temannya.

"Padahal masih hujan." Ucap Kiba.

"Dia terburu-buru sekali, mungkin memang ada hal yang penting. Hey Chouji! Jangan tidur terus!" Naruto berteriak di telinga Chouji.

"Ya mungkin saja, ayo cepat kelarkan tugas kalian, tidak ada Sasuke membuatku semakin repot menghadapi kalian."

"Baik kapten!" Naruto dan kiba memberi hormat kepada Shikamaru dan kembali melanjutkan tugas mereka.

"Chouji, jika kau tidur lagi, kau tidak akan dapat makan malam." Tegur Shikamaru.

"B-baik!"

Dengan malas Chouji mengambil buku dan pulpennya, mengikuti Naruto dan Kiba mengerjakan soal yang diberi Shikamaru.

.

.

.

Sasuke mengendarai motornya dengan cepat, untung saja hari ini dia membawa mantel. Hujan yang semakin lebat dan penglihatan di jalanan hanya berjarak beberapa meter, Sasuke sedikit tidak waspada dengan hal itu, dia tetap mempercepat laju motornya tanpa memperdulikan jalanan yang sedikit licin.

Sebuah truk tiba-tiba melintas dan baru di sadari Sasuke. rem mendadak dan membuatnya oleng dari motor, truk sudah lewat namun Sasuke yang sudah terlanjur terjatuh bersama motornya.

Sakura masih memasak beberapa adonan lagi dan pancakenya hampir kelar. Itachi sudah sibuk menata meja makan dan menunggu adiknya pulang, dia sudah tidak sabar melihat wajah cemburu adiknya.

Suara motor terdengar dari arah garasi, Itachi menghentikan kegiatannya dan membukakan pintu.

"Selamat datang Sasuke."

Yang di sapa menatap kesal, Sasuke tidak membuka mantel bajunya dan masuk begitu saja.

"Sasuke, kau membuat basah lantai!" Itachi ikut menjadi kesal dengan tingkah Sasuke.

"Kak Itachi aku sudah sele...sai." Sakura menatap ke arah Sasuke yang mematung menatapnya.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Membantu Kak Itachi."

"Hmm."

"Bisakah kau membuka mantelmu, menyimpan tas dan berganti pakaian." Sakura tiba-tiba menaikkan nada bicaranya dan sedikit memerintah melihat penampilan Sasuke yang benar-benar basah plus dengan wajah kusut.

Itachi kaget dengan ucapan Sakura, pikirnya Sasuke akan lebih menaikkan nada bicaranya, tapi tidak, Sasuke langsung melakukan apa yang di perintah Sakura. ini benar-benar pemandangan yang unik dari adik bungsunya, tidak biasanya Sasuke mau di perintah, dia lebih suka memerintah.

Meja makan sudah siap dengan hidang yang di buat Sakura dan Itachi, mereka masih belum makan, menunggu Sasuke selesai mengganti baju, yang di tunggu akhirnya datang dengan kaos abu-abu lengan pendek dan celana hitam selutunya. Apa yang terlihat di hadapan Sakura dan Itachi membuat mereka menunda makan bersama mereka.

Di lutut kiri Sasuke ada luka lebam dan di lutut kanan ada darah yang keluar dari lukanya. Di siku kiri Sasuke juga ada luka dan di telapak tangannya memar.

"Ada apa Sasuke?" Tanya Itachi cemas.

"Hanya kecelakaan kecil." Jawab Sasuke dengan malas dan melirik ke arah lain.

"Kau kecelakaan?" ucap Itachi.

"Aku tidak apa-apa."

"Sebaiknya di obati dulu." Ucap Sakura dan langsung menarik Sasuke ke arah ruang tamu.

Sasuke membulatkan matanya, Sakura tidak tinggal diam dan mematung menatapnya, dia malah menarik lengan Sasuke dan mengajaknya ke ruang tamu, Itachi segera mengambil beberapa benda seperti kotak obat dan alat kompres seperti yang di minta Sakura.

Sasuke duduk di sofa dan membiarkan Sakura mengobati lukanya, Itachi melipat tangannya ke dada dan bersadar ke tembok, menatap si bungsu Uchiha yang terus menatap Sakura.

Sakura hanya mengompres luka memar, luka yang berdarah di bersihkan darahnya, diberi betadin dan memperbedan luka-luka itu.

"Kau harus meminum obat penghilang nyeri dan bengkak."

"Hmm."

"Apa masih sakit?"

Tatapan mereka bertemu. Sakura menatap ke arah mata Sasuke. sangat kelam dan sulit terbaca oleh Sakura.

"Tidak."

"Kau harus hati-hati jika berkendara saat hujan."

"Kau seperti ibu-ibu yang menggurutu."

"Dan kau seperti anak kecil yang habis jatuh dari belajar sepeda pertamanya."

"Itu tidak lucu."

"Kau pikir aku sedang melucu."

"Yaah, mungkin saja."

Sakura memukul bahu Sasuke dengan keras, menandakan dia tidak terima dengan ucapan Sasuke dan sedikit menahan tawanya.

Sasuke dan Sakura berjalan menuju meja dan yang mereka dapati adalah Itachi dengan piring yang sudah bersih.

"Aku sampai kelaparan, maaf, aku tidak bisa menunggu kalian, Sakura, aku ambil jatah pencuci mulutku yaa," ucap Itachi, berjalan ke dapur menyimpan piringnya di westfel dan mengambil pancake greentea yang sudah di sirami coklat cair.

Suasana sedikit canggung, tinggal Sakura dan Sasuke yang makan bersama, ini sudah kedua kalinya mereka makan bersama tapi tetap saja tidak bisa di bilang hanya berdua, karena Itachi sedang sibuk di ruang Tv dengan acara favoritnya.

"Apa Itachi yang menyuruhmu?" ucap Sasuke.

"Tidak, aku sendiri yang menawarkan diri." Sedikit berbohong agar Sasuke tidak membuat wajah kesal lagi jika tahu Itachi yang menawarkan Sakura.

"Aku sudah bilang, jangan terlalu baik padanya."

"Aku juga sudah bilang kalau aku tetap akan membantunya."

"Kau keras kepala."

"Kau tukang memerintah."

"Siapa yang tadi memerintah?"

"I-itu bukan perintah, apa kau akan tetap dengan mantel basahmu?"

"Apa yang kau masak?"

"Hanya sup jamur, aku suka masakan kakakmu, ayam ini enak, bumbunya bisa sampai terasa kedaging yang paling terdalam."

"Terima kasih, Sakura." teriak Itachi, dia mendengar ucap Sakura.

"Jangan membuatnya besar kepala." Sasuke sengaja membesarkan suaranya.

"Aku tidak besar kepala, Masakanku memang enakkan, Sasuke."

"Aku tidak berpikir seperti itu."

Tanpa di sadari Sakura mulai tertawa kecil, Sasuke dan Itachi seperti sedang perang.

Makan malam bersama berakhir, Sakura pamit dan berterima kasih kepada Itachi yang sudah mengundangnya makan malam, lebih tepatnya meminta tolong kepadanya, Sakura tidak keberatan, tidak ada salahnya membantu Itachi, Sakura sedikit jenuh, jika dia harus sendirian di rumah dan tidak melakukan apapun.


Luka di kaki Sasuke belum sembuh dan dia tipe orang bingung akan hal-hal mengobati luka sendiri, meskipun masih tersirat rasa tidak sukanya, mau tdak mau dia harus meminta tolong Itachi untuk menggantikan perban di lukanya.

"Mau aku antar?" Tanya Itachi sambil membalut luka Sasuke dengan kain has.

"Tidak perlu."

"Apa kau sudah bisa naik motor dengan luka-luka ini?"

"Aku naik bus saja."

"Oh, bareng Sakura yaa."

Sasuke terdiam, jika dia meladeni pernyataan Itachi dengan mudah dia akan dapat singgungan keras dari Itachi lagi, biasalah, seorang kakak yang sangat ingin tahu, merasa perlu ikut campur.

Sakura sudah menunggu Sasuke, tidak perlu menunggu lama, Sasuke sudah berjalan keluar, ada sedikit rasa sakit pada bagian lututnya tapi Sasuke mencoba berjalan sebaik mungkin, dia tidak ingin terlihat aneh saat berjalan.

"Bagaimana keadaanmu?" Sakura sedikit khawatir.

"Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil."

"Apa kau benar-benar akan pergi dengan keadaan seperti itu?"

"Hn."

Jawaban singkat khas Sasuke tidak di gubris lagi Sakura, Dia sudah hapal dengan ucapan Sasuke seperti itu, meskipun sedikit risih, hanya kata-kata itu yang sering keluar dari mulut Sasuke, Sasuke juga tidak terlalu suka untuk mengungkapkan sesuatu dengan berbelit-belit, Sakura tidak bertanya lagi mereka segera menaiki bus.

Mungkin untuk pertama kalinya atau Sasuke sudah lupa kapan dia terakhir menaiki bus. sangat ramai dengan orang-orang yang juga sedang terburu-buru bekerja maupun ke sekolah, Sakura dan Sasuke harus berdiri, ditambah lagi dengan luka Sasuke yang belum sembuh dan masih terasa nyeri, okey, penderitaannya menjadi bertambah, dia harus bersabar berdiri sampai ada kursi kosong, itu pun jika ada kursi kosong sebelum mereka sampai di tujuan.

Sakura sesekali menatap Sasuke, dia tahu jika Sasuke sedang menahan kesakitan, dia berharap segera ada kursi kosong, pandangan Sakura mengarah ke sekitar, dan yang ditemukannya hanya pandangan beberapa gadis dengan wajah memerah mereka menatap Sasuke, detik berikutnya Sakura sudah menatap ke arah kakinya, dia tidak ingin melihat mereka menatap Sasuke seperti itu.

Suasana bus yang ramai dan beberapa orang berdesak-desakkan, Sakura merasa seperti ada yang menyentuh bagian pinggangnya, menurutnya mungkin perasaannya saja, bus ini terlalu ramai dan jalanan kadang kurang mulus, bisa saja itu hanya tersenggol tidak sengaja, tidak lama setelah Sakura menghilangkan pikiran negatifnya, lagi, ada yang menyentuh pinggangnya dan hal itu benar-benar sangat terasa, bukan senggolan tapi ada yang memang akan menyentuhnya. Sakura mulai gelisa dengan keadaannya di bus ini, di tatapnya kiri – kanan dengan tatapannya yang sedikit takut.

Sakura tersadar saat sebuah tangan memegang lengannya dan menariknya lebih dekat, Sasuke menarik Sakura lebih dekat dengannya, jarak antara mereka hanya ada beberapa senti, Satu tangan Sasuke memegang Bus Handle Grip dan satu tangannya lagi seolah-olah berjaga-jaga di belakang Sakura jika saja ada yang berbuat jahil dengan Sakura.

"Kau tidak apa-apa?" bisik Sasuke.

"Uhm, iya, aku tidak apa-apa."

Sakura merasa aman sekarang, orang yang tadi ingin menjahilinya mengurungkan niatnya, Posis Sasuke layaknya seorang pria yang sedang melindungi pacarnya. Sia-sia menunggu kursi kosong, mereka sudah sampai di halte tempat mereka turun.

.

.

.

Bagi Sasuke ini hal yang sedikit memalukan, dia harus bertemu teman-temannya tidak jauh dari gerbang. Mereka, Naruto, Shikamaru, Kiba, minus Chouji yang sedang ke kantin, menatap ke arah Sasuke. Cuma satu hal yang di pikirkan mereka.

'Sasuke jalan kaki'

Bukan karena masalah jalan kaki, Sasuke terlalu malas menjelaskan kasus jatuh bodohnya dengan motor gara-gara pesan singkat dari kakaknya yang hanya ingin menggoda Sasuke.

"Oi teme, kau kenapa?" tegur Naruto, merasa ingin mengetahui alasan sahabat baiknya ini jalan kaki.

"Aku duluan ke kelas." Ucap Sakura tidak ingin bergabung dengan mereka, Sakura memilih jalan duluan ke dalam kelas.

"Uhm." Sasuke hanya melirik ke arah Sakura dan meng-iya-kan ucapan Sakura.

"Oi..oi...," Naruto mulai kesal, dia ingin Sasuke menjawab pertanyaannya.

"Apa yang terjadi Sasuke?" Ucap Kiba, dia juga penasaran.

"Hanya kecelakaan kecil." Sasuke mulai malas, berharap mereka berdua tidak bertanya lebih detailnya lagi.

"Sebaiknya kita juga segera masuk." Ucap Shikamaru

Sasuke merasa cuma Shikamaru yang bisa membaca situasinya saat ini, Naruto dan Kiba masih penasaran tapi mereka berdua sudah ditarik paksa oleh Shikamaru,

"Kami bisa jalan sendiri." Ucap Kiba dan Naruto, mereka jalan lebih dulu.

Shikamaru berjalan perlahan menunggu Sasuke berjalan beriringan dengannya.

"Ada apa?" ucap Shikamaru tanpa menghadap ke Sasuke, dia sedang mengawasi kedua temannya agar tidak berbalik dan mendengar percakapannya dengan Sasuke, suaranya sedikit di pelankan, Naruto dan Kiba sudah agak jauh dari mereka.

"Aku tergelincir di jalan."

"Oh. Aku pikir ada apa, kau sepertinya terburu-buru sekali kemarin. Apa ada sesuatu yang terjadi?"

Sasuke terdiam, sesuatu yang terjadi adalah hal terbodoh menurutnya, mana mungkin dia akan mengatakan kalau dia mempercepat laju motornya demi mencegah kakaknya makan malam berdua dengan Sakura.

"Tidak ada, aku hanya tidak memperhatikan truk yang melintas di hadapanku, hujannya cukup lebat."

"Uhm."

Mereka tidak melanjutkan percakapan dan sudah berada di kelas.


Suara ketukan keras di depan pintu Sakura. siang ini ada yang sedang bertamu atau...

"Sakura! aku merindukanmu."

Satu pelukan singkat mendarat di tubuh Sakura, Pria berambur merah dengan wajah babyfacenya menatap ceria ke arah Sakura.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Kita akan tinggal bersama."

"Tinggal bersama? Apa maksudmu?"

"Aku sudah meminta ijin dari Nagato, dia mengijinkanku tinggal bersamamu."

"Aku tidak mau."

"Oh ayolah Sakura, hanya sampai aku pulang saja, apa kau tega jika melihatku di jalanan."

"Sepertinya itu ide bagus."

"Kau semakin kejam yaa."

"Ya sudahlah, tapi ingat, tidak ada pembantu disini dan aku orang yang sibuk, jadi kau harus mandiri."

"Siap!"

Sasori membawa masuk satu kopernya dan tas ranselnya, Sakura menunjukkan kamar tamu untuk Sasori.

"Aku pikir kau tidak suka dengan rumahku."

"Aku suka rumahmu kok."

"Terus...kata-kata 'aku bosan dengan rumahmu' apa itu tidak termasuk?"

"Aku hanya becanda, kok, Rumahmu tidak ada perubahan sama sekali, apa kau tidak berpikir untuk membuang sebagian pernak-pernik yang membuat ruang tamumu ramai seperti ini?"

"Kau pikir orang tuaku akan sudi jika cendera mata mereka dari berbagai kota dibuang begitu saja."

"Heheh, cuman pemikiranku saja."

"Ahk, kau tidak tahu seperti apa mereka, dulu aku sempat menghilangkan cendera mata dari kota kirigakure, dan kau tahu, mereka memberiku tiket pesawat dan uang perjalanan hanya untuk membeli kembali cendera mata itu."

"Orang tuamu benar-benar masih fanatik akan cendera mata."

"Yaa begitulah, meskipun keliling kota untuk keperluan bisnis tapi mereka tidak ingin melupakan setiap kota yang sudah mereka datangi."

"Ruang tamumu lebih mirip museum."

"Baguskan, dengan begitu lebih banyak benda yang bisa dilihat."

"Kau ini terkesan seperti nenek-nenek saja."

"Jangan coba-coba cari masalah denganku. "

"Upss, Sorry"

"Baiklah, anggap saja rumah sendiri, uhmm, aku akan membuat makan siang untuk kita."

"Kebetulan aku sangat lapar, mau aku bantu?"

"Mungkin dengan duduk tenang di ruang tamu itu lebih membantuku."

"Kau tetap saja mengganggapku seperti anak kecil, hey Sakura, aku sudah dewasa."

"Aku pikir diam juga adalah ide bagus untuk membantuku."

Sasori mendengus kesal ke arah Sakura, Sakura sudah bersiap untuk membuat makan siang. Sasori memilih membaca buku sambil menunggu masakan Sakura masak.

Tok...~ tok..~

Seseorang mengetuk pintu. Sasori menghentikan bacaannya dan berjalan menuju pintu. Sasori memutar gagang pintu dan membukanya, tatapannya menjadi sangat-sangat bosan, dia bertemu lagi dengan Sasuke.

Sasuke sedikit terkejut dengan siapa yang membuka pintu, bukan Sakura, tapi anak kecil egois, itu kalimat yang terlintas dalam pikiran Sasuke.

"Aku mencari Sakura."

"Sepertinya dia sedang sibuk."

"Sibuk apa?"

"Membuat makan siang untuk kami berdua."

Sasori sangat puas dengan kalimat yang diucapkannya, dia merasa perlu memberi pelajaran untuk Sasuke yang sudah lancang menyentuh Sakuranya.

"Apa kau bisa memanggilnya?"

"Tidak bisa, aku tidak ingin mengganggunya."

Rasanya Sasuke ingin menendang Sasori sejauh mungkin. Tatapan mereka sama-sama datar tapi seperti ada kilat yang tersorot dari mata Sasuke maupun mata Sasori.

"Sasori kau menghalangi pintu."

Sasuke dan Sasori tersentak kaget dan mereka Sama-sama melihat kearah Sakura.

"Ada apa?" Sakura menjadi bingung menatap mereka.

"Aku pikir kau masih sibuk." ucap Sasori.

"Aku dengar kau berbicara dengan seseorang, aku pikir ada tamu, makanya aku ke sini."

"Oh."

"Bisakah kau kembali ke tempatmu tadi."

"Iya." Sasori berjalan dengan sedikit malas ke dalam ruangan baca tadi, padahal dia ingin sekali mengerjai Sasuke.

"Maaf Sasuke, aku tadi sedang masak, ada apa?"

"Ini, Tadi aku bertemu Ino di kampus dan dia menitipkan buku untukmu."

"Terima kasih, harusnya Ino yang membawanya sendiri. Maaf sudah merepotkanmu."

"Tidak masalah. Uhm, ngomong-ngomong, apa yang dia lakukan di sini?"

"Dia akan tinggal sampai liburan di konohanya selesai."

"Berapa lama?"

"Dia tidak mengucapkannya."

"Hn."

"Ada apa?"

"Tidak."

"Apa luka-lukamu sudah sembuh?"

"Lumayan, bengkak dan memarnya perlahan hilang, yang diperban aku belum menggantinya.

"Harusnya kau menggantinya."

"Hm, nanti. Dah."

Sasuke pamit dan bergegas pergi, kedatangan Sasori dirumah Sakura membuatnya tidak senang, terlebih lagi anak egois itu harus tinggal bersama Sakura dalam waktu yang tidak di tentu.

Pikirannya menjadi tidak tenang, memikir Sakura bersama Sasori yang satu atap.

"Ada apa? Mukamu terlihat aneh." Ucap Itachi menyadari raut wajah adiknya yang tidak seperti biasanya.

"Tidak ada." Ucap Sasuke cuek dan segera menuju kamarnya.

.

.

.

Suasana makan siang menjadi hening, Sakura tidak berbicara apapun, dia hanya makan dengan tenang.

"Kau menyukainya?" ucap Sasori tiba-tiba.

"Me-menyukai apa?"

"Menyukainya."

"Siapa?"

"Si wajah tembok itu?"

"Wajah tembok?"

"Itu tentangga wajah tembokmu."

"Sasuke?"

"Iya."

"Apa maksudmu?"

"Kau menyukainya atau tidak?"

"I-itu urusan pribadiku, untuk apa kau tahu."

"Aku ingin mengetahuinya."

"Bukan urusanmu."

"Urusanku juga."

"Kau ini kenapa sih?"

Sasori terdiam. Sakura menjadi kesal dengan sikap Sasori yang seenaknya, untuk apa dia tahu masalah pribadinya, menurut Sakura itu tidak sopan meskipun Sasori sudah seperti keluarga bagi Sakura.

"Maaf."

"Aku tidak ingin kau bertanya hal itu lagi."

Sakura sudah selesai makan dan segera membereskan piringnya.

"Aku mau keluar sebentar, tolong jaga rumah."

"Kau tidak mengajak juga ?"

"Sepertinya tidak, aku sudah janji dengan kak Itachi."

"Apa dengan si muka tembok juga?"

"Tidak, hanya dengan kak Itachi saja. Dan jangan memanggilnya muka tembok, namanya Sasuke."

Sakura berjalan melewati Sasori dan menepuk pelan puncuk kepala Sasori. "Jadi anak yang baik dirumah yaa, nanti aku belikan es krim." Ucap Sakura dan segera menghilang dari arah pintu ruang makan.

Sasori menghentikan makannya dan memegang sejenak puncuk kepalanya, bekas tangan Sakura. dia tidak ingin Sakura menggangapnya seperti adik ataupun keluarga, Sasori ingin Sakura memanggapnya sebagai pria dewasa yang benar-benar tulus mencintainya, hanya saja Sasuke adalah penghalang terbesarnya, Sasori menyadari satu hal, Sakura menyukai Sasuke, meskipun belum bisa dibuktikan.

.

.

.

"Maaf, tiba-tiba mengajakmu berbelanja, soalnya aku tidak terlalu tahu berbelanja, biasanya ini pekerjaan wanita, hanya saja kau tahu sendiri kan, dirumah kami tidak ada seorang wanita pun." Basa basi Itachi.

Sebelumnya saat pagi hari, Itachi mengajak Sakura berbelanja bulanan, kebutuhannya dan Sasuke mulai menipis, Sasuke paling malas jika di suruh-suruh hal seperti itu, Selama ini Sasuke jarang berbelanja, makan pun dia lebih memilih diluar, tapi semenjak akrab dengan Sakura, Sasuke sudah jarang makan di luar, di tambah lagi, Itachi datang ke Konoha dan menjadi tukang masak untuk Sasuke.

"Tidak apa-apa, kebetulan aku juga ingin berbelanja beberapa barang, jadi sama-sama tertolong." Ucap Sakura.

Itachi membalasnya dengan senyum ramah, beberapa jam mereka sudah berada di dalam mobil Itachi menuju ke sebuah supermarket terbesar di Konoha, beberapa menit lagi mereka sudah sampai dan Itachi segera memarkir mobilnya dengan rapi.

Acara tidur siang Sasuke membuatnya tidak tahu kalau Itachi pergi bersama Sakura, jika sampai dia tahu, Itachi akan kena omelnya lagi.

Sakura dan Itachi turun bersamaan, mereka berjalan sambil berbicara ringan menuju pintu masuk supermarket, Sakura berjalan mengambil troli dan mendorongnya. Mereka masuk dan mencari-cari beberapa barang, mulai dari tempat bahan makanan mentah, Itachi segera mengambil beberapa sayuran, lauk-pauk, dan buah, begitu juga Sakura, sudah beberapa minggu Sakura tidak berbelanja dan sekarang dia tinggal bersama Sasori, Sakura merasa perlu membeli bahan mentah untuk sebulan.

"Apa kau perlu belanja sebanyak itu?" Tanya Itachi, melihat belanja bahan mentah Sakura yang lumayan untuk dua orang.

"Uhm, Sasori tadi siang datang, dan dia akan tinggal beberapa hari di rumahku, aku tidak mungkin membiarkannya di rumah tanpa makan kan? Jika aku sibuk."

"Oh.. pantas saja wajahnya aneh begitu?"

"Eh? Wajah aneh?"

"Oh, tidak-tidak, kau salah dengar, maksudku pantas saja belanjaanmu lumayan banyak."

"Iya, meskipun dia sedikit manja, jika di Konoha, dia harus mandiri, beda jika dia di Suna, setiap apa-apa para pelayannya yang akan melakukan semuanya."

"Kau cukup mengenal Sasori yaa, aku baru mengenalnya saat Nagato membawanya ke Kawasan Uchiha, aku suka dengan cara kerjanya, dia benar-benar berbakat dalam berbisnis."

"Yaah, mungkin karena sudah keturuannya."

"Mungkin saja, tapi Sasuke kenapa tidak ya? Padahal keluarga Uchiha itu senang berbisnis."

"Apa Sasuke tidak tertarik dengan berbisnis?"

"Sangat-sangat tidak tertarik, aku sampai bingung dia mau melakukan apa nantinya, padahal aku pikir, aku bisa dengan tenang menyerahkan seluruh perusahaan kepadanya."

"Mungkin saja dia punya rencana lain untuk kedepannya."

"Apa seperti langsung menikah saja dan membina rumah tangga?"

"Me-menikah." wajah Sakura langsung memerah, untung saja Itachi masih memilih-milih sayuran dan tidak melihat langsung ke arah Sakura.

"Hahaha, itu hanya pendapatku saja, aku sendiri benar-benar tidak bisa membaca apa yang di pikirkan anak itu."

Sakura segera menenangkan dirinya. Ucapan Itachi membuatnya sedikit terkejut.

"Kau sendiri, apa rencanamu kedepannya, Sakura?"

Itachi menaruh sayuran yang sudah di pilihnya dan menatap ke arah Sakura.

"Uhm, aku tidak begitu memikirkannya, aku ingin berjalan seperti apa adanya saja, kalau pun ada tujuan kedapannya, mungkin aku ingin kembali ke Suna dan bekerja disana."

"Kau akan meninggalkan Konoha?"

"Tidak juga, mungkin aku hanya beberapa tahun saja di Suna, aku akan kembali ke Konoha lagi, mungkin mencoba pekerjaan baru."

"Oh, semoga apapun yang kau rencanakan akan terkabul."

"Amin, terima kasih kak Itachi."

Sejam berlalu, mereka tidak sadar dengan waktu berbelanja mereka, waktu mereka habiskan dengan memilih-milih barang yang cocok atau tidak, bagus atau tidak, sampai-sampai Itachi merasa perlu mendekor ulang rumahnya, tapi niatnya tidak jadi, jika saja Sasuke mau membantunya dia akan senang sekali, tapi itu seperti hal yang mustahil menurutnya.

Troli sudah penuh dan mereka harus mengambil troli baru. Mereka seperti sedang memborong supermarket itu, Setelah menyelesaikan antrian, kasir segera mentotal biaya barang-barang mereka.

"Bayarnya mau digabung atau dipisah?" tanya kasir itu melihat dua troli.

"Digabung saja."

"Eh, tapi-"

"Ini untuk tanda terima kasihku, Sakura."

"Aku jadi tidak enak."

"Tidak apa-apa."

Itachi segera menyerahkan kartu kreditnya dan membayar semua belanjaan yang mereka beli.

"Tolong pisahkan kantongannya saja." Ucap Itachi.

Kasir itu menggesek kartu kredit Itachi dan meminta Itachi untuk memasukkan nomer pinnya, setelah pembayaran berhasil, Itachi mengambil kartu kreditnya dan menunggu pria yang bertugas memasukkan belanjaan pembeli, memisahkan barang-barang Itachi dan Sakura di kantong yang berbeda.

Berbelanja selesai, Itachi mendorong troli yang lebih banyak belanjaannya dan sakura mendorong troli yang belanjaannya sedikit.

Sakura membantu Itachi memasukkan kantong belanjaan di bagasi mobil, setelah semua kantong masuk dan memastikan tidak ada yang tertinggal, Mereka segera masuk ke dalam mobil dan menuju jalan pulang.

Sedikit lelah dengan mendorong troli yang penuh dengan barang, Sakura memandang lurus kedepan dan tidak memulai pembicaraan apapun.

"Kau lelah?"

"Sedikit."

"Uhm."

"Eh, tidak-tidak, maksudku aku tidak lelah."

"Kau melamun?"

"Tidak kok, pokoknya hari ini terima kasih banyak, aku sampai bingung bagaimana membalas semuanya."

"Tenang saja Sakura, aku tidak pernah meminta balasan apapun, kau pikir aku orang seperti itu?"

"Tidak tahu. Kakak Itachi baru beberapa minggu mengenalku dan kita sudah sangat akrab seperti ini."

"Apa aku merepotkan? Apa kau keberatan jika tiba-tiba saja aku meminta tolong?"

"Bukan seperti itu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan orang seperti kak Itachi, sangat baik, aku jadi merasa tidak enak, aku benar-benar tidak merasa direpotkan jika kak Itachi perlu sesuatu."

"Hahahah, sudahlah, kau ini lucu sekali, Sakura. aku sudah menganggapmu seperti adik bagiku, kau sendiri tahu, adikku yang dirumah itu susah jika di ajak seperti ini, palingan aku akan dicuekinnya."

Sakura tersenyum mendengar ucapan Itachi, dia seperti membuat Sasuke terlihat seperti orang pemalas.

Mobil mereka sudah berada di depan pagar rumah Sasuke. Itachi mematikan mesin mobilnya dan turun dari mobil, Sakura sudah turun dan mulai membuka pintu bagasi, menurunkan beberapa barang dan Itachi membantunya.

"Mau aku bantu bawakan?" tawar Itachi melihat barang bawaan Sakura lumayan banyak.

"Aku bisa sendiri."

"Biar aku bawakan." Sasori sudah tepat berada di belakang Sakura.

"Sasori. Kau disini" ucap Sakura, kaget , Sasori tiba-tiba datang begitu saja.

"Hai, kakak Itachi, apa kabarmu?"

"Aku baik, kau sendiri?"

"Aku juga baik-baik saja. Sepertinya aku harus membantu nona ini."

"Silahkan."

Sasori segera mengambil semua kantongan Sakura dan membawanya, meskipun berat, dan Sasori orang yang jarang mengangkat barang yang berat-berat, tetap memaksakan dirinya mengangkat semua kantongan itu.

Sakura yang tidak tahu mau mengangkat apa, memilih membantu Itachi, mereka berjalan masuk ke dalam rumah dan Sakura mulai meletakkan barang-barang yang isinya bahan mentah di dapur.

"Apa perlu aku menatanya di kulkas?" Tanya Sakura.

"Tidak perlu. Nanti biar aku saja yang meletakkannya." Ucap Itachi sedang menata perlangkapan di gudang penyimpanan.

"Baiklah."

"Sebaiknya kau beristirahat, dan terima kasih Sakura."

"Sama-sama kak Itachi."

Sakura berjalan keluar dapur dan seseorang menghalanginya. Sasuke dengan wajahnya yang baru bangun tidur, seperti biasa akan terlihat kusut dan rambut dongkernya sedikit berantakan.

"Sasuke? kau sudah bangun?"

"Hn, apa yang kau lakukan di dapur?"

"Membantu kak Itachi, aku hanya menaruh barang."

"Dia pergi berbelanja?"

"Iya."

"Oh, apa kau mau pulang?"

"Iya."

"Hn."

Sasuke berbalik dan perlahan berjalan meninggalkan sakura.

"Tunggu."

Sasuke berbalik dan menatap Sakura.

"Apa perbanmu sudah di ganti?"

"Aku lupa. Mungkin besok saja."

"Dasar, aku pikir kau sudah menggantinya."

"Aku tidak bisa melakukanya sendiri dan-"

"Iya-iya, aku tahu, dan kau malas untuk menyuruh kak Itachi untuk membantumu. Cepat ambil perban baru, aku yang melakukannya."

Sasuke berbalik arah ke kotak penyimpanan obat. Sakura berjalan menuju ruang tamu dan menunggu Sasuke.

"Sakura, kau tidak pulang?" tanya Itachi, setelah selesai dengan kegiatan menata barang digudang.

"Aku mau membantu Sasuke mengganti perbannya."

"Oh, dasar anak manja."

"Aku tidak manja, hanya susah untuk melakukannya sendiri." Sasuke sudah datang dengan kotak obat di tangannya.

"Baiklah, kau menang Sasuke." Itachi segera pergi ke dapur dan kembali sibuk menata.

"Kemarilah." Ucap Sakura setelah mencoba menahan ketawa saat Sasuke membela dirinya.

"Apa itu lucu?"

"Aku pikir itu lucu, kau benar-benar seperti adik kecil yang suka protes pada kakaknya."

"Itu tidak lucu."

"Ok, itu tidak lucu."

Sakura tersenyum sejenak dan mulai membuka perban lama Sasuke, membuang perban lama dan menganti dengan perban baru.

"Mungkin beberapa hari lagi tidak usah di perban, sebaiknya dibiarkan begini saja, sampai lukanya benar-benar kering."

"Apa kau tidak kepikiran untuk mengganti jurusanmu?"

"Jurusan?"

"Mungkin sebaiknya kau menjadi perawat saja."

"Aku rasa tidak perlu."

"Kenapa? Kau sepertinya berbakat."

"Aku tidak berpikir seperti itu, ini hanya kebiasaan saja kok."

"Aku sudah menunggumu dari tadi, ternyata kau disini, bisakah kau pulang sekarang."

Sakura dan Sasuke segera melihat ke arah suara tadi. Sasori masuk ke rumah Sasuke begitu saja tanpa permisi atau pun mengetuk pintu. Sasuke menjadi risih dengan kedatangan Sasori. Lihat tingkahnya, seperti anak kecil yang meminta ibunya segera pulang.

"Apa kau tidak bisa menunggu sebentar." Ucap Sakura.

"Tidak bisa, hari sudah mau gelap. Aku ingin kau segera pulang."

"Tuan Sasori, apa kau punya sedikit sopan santun jika masuk ke rumah orang?"

"Tentu aku sudah mengetuk tapi sepertinya tidak ada yang mendengarnya."

Urat-urat dikening Sasuke bermunculan, hanya Sasori yang bisa membuatnya sekesal ini.

"Sasori aku akan menyusul, tolong nyalakan lampu teras, ruang tamu dan tutup jendela, bisa kan," ucap Sakura sambil memasang senyumnya.

"Baiklah, setelah ini kau cepat pulang yaa."

"Iya, aku akan segera pulang."

Sasori pulang dan Sakura bernapas legah. Berteriak atau memarahi Sasori bukanlah hal yang tepat. Sasori bukan anak yang penurut, dia sedikit membangkang, Sakura memilih menghadapi Sasori dengan tenang dan lebih sabar.

"Kenapa kau tidak mengirim anak itu ke Suna saja, aku pikir dengan kiriman kilat akan lebih bagus."

Sakura tertawa mendengar ucapan Sasuke, sepertinya kesabaran Sasuke sudah habis, dia terlihat sangat kesal dengan Sasori.

"Dia memang seperti itu, kau harus ekstra bersabar jika menghadapinya."

"Kau harus mengajarinya untuk bersikap lebih dewasa."

"Aku akan sangat senang jika kau orangnya yang mengajarinya."

"Tidak akan."

Sakura tertawa lagi dan menutup mulutnya sambil memegang perutnya yang sedikit keram karena ketawa akibat pernyataan Sasuke yang blak-blakan.

Sakura sudah selesai dengan perban baru Sasuke. Sakura berjalan ke arah pintu keluar di temani Sasuke dari belakang. Sakura berbalik dan menatap Sasuke.

"Uhm, yang kemarin terima kasih."

"Hn?"

"Itu, saat di bus, sebenarnya ada yang sedang menjahiliku."

"Aku sudah tahu."

"Kau mengetahuinya?"

"Hm, sikapmu menjadi aneh."

"Sekali lagi terima kasih."

Wajah Sakura sedikit memerah, dia sangat senang dengan tindakan Sasuke, seperti melindunginya.

"Apa setiap hari seperti itu?"

"Uhm, tidak, itu baru terjadi padaku."

"Aku akan mengantarmu."

"Eh, tidak perlu."

"Jangan pergi ke kampus jika aku tidak mengantarmu besok."

"Maaf, Karena Sasori tinggal bersamaku, dia sudah mengucapkannya terlebih dahulu, dia yang akan mengantarku selama dia di Konoha."

"Oh, baiklah."

"Uhm, sampai jumpa besok."

"Dah."

Sakura sudah berjalan keluar pagar Sasuke, tersenyum singkat dan segera menghilang di depan pagar.

"Sayang sekali, tawaran adik kesayanganku di tolak." Ucap Itachi yang sudah berdiri di samping Sasuke.

Sasuke menatap kesal ke arah kakaknya dan tidak berkomentar, dia memilih masuk ke dapur dan meminum segelas air demi menjernihkan sedikit pikirannya. Sasori mendahuluinya.


Sebuah mobil merah menepih di samping gerbang kampus. Sakura turun dan pamit kepada Sasori.

"Jam berapa kau akan pulang?"

"Aku tidak tahu, biasanya ada jam matakuliah yang tiba-tiba dipindahkan."

"Hubungi aku jika kau sudah pulang."

"Tidak perlu, aku akan pulang sendiri."

"Kau ini keras kepala juga."

"Tenang saja, aku bisa pulang sendiri."

"Sakuraa..." teriak Ino dan bergegas meghampiri Sakura.

Ino melirik ke arah mobil dan melihat siapa yang megendarai mobil merah itu.

"Oh. ternyata kau, aku pikir siapa." Ucap Ino.

"Kau masih mengenalku?"

"Tentu saja, tuan muda Sasori."

"Hahahah, apa kabar Ino, sepertinya kau semakin cantik?"

"Aku baik-baik saja dan terima kasih atas pujiannya, Kau masih ada di Konoha?"

"Iya, aku belum selesai dengan pekerjaanku di sini."

"Uhm.., maaf, yaa kami harus segera masuk."

"Ok, tolong jaga Sakura yaa."

"Iya-iya."

Ino dan Sakura segera berjalan meninggalkan Sasori. Mobil merah milik Sasori sudah melaju di jalanan. Ino yang tadinya terburu-buru kini memperlambat jalannya.

"Kenapa berbohong? Kita belum terlambat." Ucap Sakura.

"Tadi aku melihatmu turun dari mobil itu, pikir ada pria lain yangmengantarmu. Termyata anak itu. Kau tidak bersama Sasuke?"

"Tidak, mulai beberapa hari ini, Sasori yang akan mengantarku."

"Kenapa?"

"Dia tinggal di rumahku."

"Apa? Tinggal bersama! Terus bagaimana tanggapan Sasuke?"

"Datar."

"Ini tidak bagus."

"Apanya?"

"Sasori akan memisahkanmu dari Sasuke."

"Ino, jangan ngomong yang aneh-aneh, aku dan Sasuke tidak ada aoa-apa, sedangkan Sasori, aku hanya menganggapnya teman."

"Apa kau pikir Sasori menganggapmu teman? Tidak Sakura, dari sikapnya saja dia menyukaimu."

"Biarkan saja, aku tidak memiliki perasaan seperti Sasori."

"Bagaimana suatu saat nanti akhirnya kau menyukainya juga, apa kau akan meninggalkan Sasuke?"

"Jika itu memang yang tebaik, akan aku lakukan."

"Sakura."

"Tidak usah dipikirkan, kita lihat saja nantinya seperti apa, kau tidak usah khawatir Ino."

"Aku tidak khawatir, hanya saja aku pikir kau dan Sasuke itu cocok."

Sakura hanya membalas ucapan Ino dengan tersenyum, Sakura tidak memikirkan siapa yang pantas untuknya saat ini, dia masih ingin seperti sekarang ini, mungkin ada saatnya jika dia segera memutuskan orang yang tepat untuk dirinya.

Mereka sudah berada di kelas, Sakura sepintas melihat ke arah Sasuke, seperti biasa dia kan dikerumuni teman-temannya, tapi wajahnya terlihat sedikit aneh pagi ini, seperti baju yang belum di setrika, kusut, tapi teman-temannya tidak menyadari hal itu, mungkin dipikiran mereka itu sudah wajah Sasuke seperti biasanya, tapi tidak untuk Sakura yang mulai sedikit demi sedikit bisa membaca raut wajah Sasuke. Sakura terkejut, sejak kapan dia mulai bisa membaca perubahan raut wajah Sasuke.

"Ada apa Sakura?" ucap Ino.

"Uhm, tidak apa-apa." Ucap Sakura dan segera mengikut Ino menuju kursi mereka.

Pelajaran di mulai, dosen Iruka yang masuk dan meminta mereka berkelompok sesuai yang dia sebutkan untuk mengerjakan tugas yang di berikan.

"Kelompok berikutnya. Yamanaka Ino dan Shikamaru nara." Ucap Iruka.

"Apa! Pak, biasakah aku satu kelompok dengan Sakura saja?" Protes Ino.

"Kau mau sekelompok dengan Sakura atau nilai E yang kau dapat, silahkan pilih."

"Ba-baiklah."

"Tidak apa-apa kok Ino." Bisik Sakura.

"Berikutnya. Uzumaki Naruto dan akamichi Chouji."

"Astagaa.., aku dapat bencana!" Teriak frustrasi Naruto.

"Jangan ribut Naruto!" teriak kesal Iruka.

"Kau pikir aku bencana?" ucap Chouji tidak terima dengan ucapan Naruto.

"Ma-maaf, bu-bukan begitu, kita kan teman, jadi harus selalu bersama."

"Nah itu baru benar."

Naruto menghela napas panjang, padahal dia ingin di pasangkan dengan Sasuke atau Shikamaru, setidaknya yang bisa di andalkan.

"Berikutnya, Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke."

Sakura tersentak kaget dan melirik ke arah Sasuke, yang diliriknya hanya tenang menatap ke arah Iruka.

"Hey. Apa ini artinya kalian berjodoh." Bisik Ino.

"Ini hanya kebetulan Ino." Bantah Sakura.

"Apa sudah semuanya?"

"Iya."

"Shikamaru tolong bagi selebaran tugas ini dan ingat aku hanya beri waktu kalian dua minggu untuk tugas ini, jika tidak tepat waktu saat di kumpul, aku bisa jamin, nilai E lah yang akan tersenyum pada kalian. Paham."

"Baik pak."

Shikamaru selesai membagikan selebaran kertas dan kembali ke tempat duduknya, Iruka tidak memberikan pelajaran dan segera keluar dari kelas.

"Sasuke...Shikamaru... kalian jangan lupa membantuku yaa." Naruto memohon.

"Datang saja ke rumahku, nanti kita kerjakan sama-sama, tapi mungkin Sasuke tidak akan ikut, dia kan harus bersama Sakura."

"Jangan melupakanku, kau satu kelompok denganku Shikamaru." Ucap Ino yang sudah berdiri di samping mereka dan mendengar percakapan mereka.

"Iya-iya, kau bisa ke rumahku?"

"Tentu, ini hanya demi tugas, tidak apa-apakan kalau Sai ikut."

"Terserah kau saja."

"Oke. Kabari aku kapan ke rumahmu yaa dan kau tuan Uchiha, jaga Sakura baik-baik yaa."

"Memangnya aku akan menculiknya." Ucap Sasuke.

"Bisa saja seperti itu."

"Ino, apa yang kau ucapkan sih." Sakura menghampiri Ino merasa namanya di sebut tadi.

"Aku akan merindukanmu Sakura." ucap Ino dan memeluk Sakura.

"Ino, kita masih ada kuliah besok dan besok, kau pikir kita tidak akan bertemu hanya karena tugas."

"Soalnya kita selalu mengerjakan tugas bersama, tapi gara-gara tugas kelompok ini kita harus berpisah."

"Dasar wanita merepotkan juga." Ucap Kiba tiba-tiba, dia sendiri merasa tidak keberatan dengan tugas kelompok ini, tentu saja, dia bersama orang di posisi ketiga, Neji Hyuga.

"Kau sendiri sih enak, harus bersama Neji." Ucap Naruto.

Kalau pun Naruto juga ingin bersama Neji, meskipun dia dan Neji kurang akrab. Hanya gara-gara masalah sepeleh. Naruto menaksir adiknya, Hinata Hyuga. Meskipun Neji tahu kalau adiknya juga menaksir Naruto tapi tetap saja dia tidak ingin Naruto yang menurutnya bodoh, harus bersanding dengan adik perempuannya.

"Memangnya kau mau bersama Neji juga, atau bersama adiknya." Ucap kiba sambil menyenggol-nyenggol Naruto.

"Hehehehe. Aku lebih pilih bersama Sasuke atau Shikamaru sih, kalau bersama adiknya itu lain lagi ceritanya, hehehehe."

"Uhuk."

Naruto langsung bungkam dan berlari keluar kelas.

"Maafkan aku."

Neji sudah berdiri di belakang Naruto dan mendengar percakapannya dengan Kiba.

"Eh, Neji, aku tidak bermaksud apa-apa kok."

"Aku tidak akan membahas itu, kau ingin mengerjakannya dimana?"

"Sebaiknya dirumahmu saja. Rumahku terlalu banyak peliharaan, mereka akan menggaggu kita."

"Baiklah, akan ku hubungi nanti. Uhm, dan sampaikan salam dari Hinata untuk Naruto. Dasar anak itu, bikin repot saja."

"Tentu."

Mereka terkejut dengan ucapan Neji, apakah Neji mulai menyetujui perasaan Naruto terhadap adiknya. Mungkin saja, Neji sudah tidak bisa menghalangi Hinata yang sudah semakin jatuh cinta pada Naruto.

Kelas sudah berakhir, beberapa orang sudah keluar dari kelas termasuk Shikamaru dan teman-temannya, Sakura masih memberes-bereskan bukunya. Ino sudah selesai dengan memasukkan buku-bukunya, dia mulai mengetik beberapa kalimat di ponselnya dan mengirim pesan kepada Sai.

"Apa kau akan pulang bersama Sasori lagi?"

"Tidak, aku sudah menolak ajakannya."

"Hoo, jadi, apa kau akan pulang bersama Sasuke."

"Tidak juga. Aku naik bus saja."

"Padahal ada kesempatan bersama Sasuke."

"Tidak Ino, aku tidak ingin merepotkannya lagi. Baiklah, aku duluan, sampaikan salamku pada Sai yaa. Dah"

"Iya, Dah, hati-hati di jalan."

Sakura berjalan lebih dulu, jika dia semakin lama bersama Ino dia kan ketinggalan bus untuk sore ini.

Sakura berjalan menuju halte bus. Tiba-tiba perasaannya jadi enak, seperti ada yang mengikutinya. Masih ada beberapa meter lagi ke halte. Sakura mulai panik dan berlari secepat mungkin, dia tidak sadar berbelok ke arah yang salah. Langkahnya mulai terhenti saat dia sudah berada di jalan buntu, begitu sepi bahkan hanya ada gedung antara gedung yang ada. Sakura berbalik arah dan mendapati seorang pria memakai topi berjalan ke arahnya.

"Apa kau tersesat nona?" ucap pria itu.

Sakura mencoba mengatur napasnya yang berat. Dia berlari terlalu cepat sampai hilang arah. Di tatapnya wajah orang itu, wajahnya seperti ingin berniat jahat padanya.

"A-aku tidak tersesat, aku hanya sedang menunggu teman."

"Oh, menunggu teman, apa dia akan datang?"

"Tentu saja, bisakah anda pergi saja dari sini."

Orang itu tidak mengindahkan ucapan Sakura, dia malah mempercepat langkahnya dan langsung mencengkram tangan Sakura.

"Mau apa kau!"

Sakura mencoba melepaskannya tapi itu sangat mustahil, orang yang ada dihadapannya ini lebih kuat.

"Kau melupakanku? Sebelumnya kita pernah bertemu di dalam bus."

Sakura sangat terkejut. Orang yang mencoba menjahilinya adalah orang yang sekarang berdiri di hadapannya.

"Ternyata selain tubuhmu yang bagus, wajahmu juga cantik ya, nona."

"Lepaskan! To-"

Segera saja pria itu membungkam mulut Sakura dengan tangan Satunya lagi, mendorong Sakura hingga ke dinding dan mengunci pergerakan Sakura.

Sakura tidak bisa berteriak, mulutnya di tutup dengan tangan yang kekar. Air matanya mulai mengalir, satu-satunya yang ada dipikirannya saat ini.

'Sasuke'

Sakura mengucapkan namanya dalam hati. Serasa dia ingin Sasuke mendengar panggilannya meskipun itu tidak mungkin.

"Jangan menangis nona, ini tidak akan Sakit. Bagaimana kalau kita mulai seka-"

Satu hantaman keras mengenai kepala pria itu, dia langsung jatuh dan pingsan begitu saja.

Pupil Sakura membulat. Yang ada di hadapannya adalah Sasuke dengan balok kayu. Tubuh Sakura gemetar dan masih tidak bergerak dari tempatnya. Dia sedikit syok dengan perlakuan pria tadi. Sasuke memegang tangan Sakura dengan lembut dan menariknya ke dalam pelukannya.

"Kau tidak apa-apa?"

"Uhm."

Sakura membalas pelukan Sasuke begitu erat. Sasuke Sadar dia begitu ketakutan saat ini.

Beberapa menit berlalu. Sasuke melaporkan pria itu kepada polisi dan mengantarkan Sakura pulang.

Sesampainya, terlihat Sasori dengan muka kesalnya menunggu depan pagar rumah Sakura. Sakura turun dari motor dan Sasuke ikut turun.

"Kau dari mana saja? Aku sudah menunggumu dari tadi." Ucap Sasori.

"Masuklah, aku akan menyusulmu." Ucap Sakura tenang.

Sasori sedikit terkejut. Sakura tidak seperti biasanya, dia terlihat sangat tenang bahkan senyumannya pun seperti menghilang, apa sedang terjadi sesuatu pada Sakura.

"Ada apa Sakura? kau terlihat aneh."

"Aku tidak apa-apa kok."

"Apa karena tuan tembok ini?"

"Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan Sasuke."

"Oh, jadi sekarang selain tidak punya sopan santun, mulutmu juga tidak punya kosa kata yang baik yaa."

"Apa-apaan kau!"

"Sasori. cukup!"

Seketika Sasori terkejut. Tidak biasanya Sakura membentaknya. Sepertinya memang ada yang terjadi, tapi Sakura tidak ingin mengucapkan apapun.

"Baik, aku akan masuk."

Sasori pergi meninggalkan Sakura dan Sasuke begitu saja. Meskipun sangat kesal dia tidak ingin membuat Sakura marah, dia ingin Sakura selalu tersenyum, tapi tidak untuk hari ini, Sakura tidak menampakkan senyumnya, bahkan saat menegurnya.

Sakura menghela napas panjang, Sasori benar-benar seperti seorang anak kecil yang cepat ngambek akan masalah sepeleh.

"Mungkin dia sedang lapar jadi seperti itu." Ucap Sasuke.

"Sekarang kau lebih memahaminya."

"Tidak."

Sakura tersenyum, Sasuke mencoba membuat Sakura menjadi tenang dan mengembalikan senyum Sakura seperti biasanya. Mungkin Sakura masih tertekan dengan kejadian tadi, Sasuke berharap Sakura segera melupakan hal itu.

"Terima kasih."

"Hn. Bisakah kau berhati-hati. Kau membuatku khawatir." Sasuke meletakkan tangannya di puncuk kepala Sakura dan mengelusnya perlahan.

Sakura terdiam, untuk pertama kalinya Sasuke melakukan hal itu padanya, bahkan Sasuke mengatakan 'khawatir' padanya. Apa ini benar-benar Sasuke, Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke, wajah Sasuke datar tapi matanya tidak bisa berbohong, Sakura melihat sosok lain dari wajah datar Sasuke, dia benar-benar sangat khawatir. Wajah Sakura memerah, Sakura lupa menyembunyikan wajahnya. Dia sudah tidak sadar lagi dengan tatapan matanya yang langsung bertemu dengan mata Sasuke.

"Ehem."

Sakura terkejut dan Sasuke langsung menurukan tangannya.

"Ka-ka-ka kak Itachi." Sakura gugup setengah mati.

Sasuke melirik ke arah lain dan menutup setengah wajahnya dengan tangannya, mungkin Sasuke sangat malu, Itachi memergokinya melakukan hal yang tidak biasanya pada seorang gadis.

"Maaf aku menganggu kalian, eheheh" Itachi pergi setelah membuat Sakura mendapat serangan jantung mendadak.

"Masuklah, anak merah itu akan keluar lagi jika kau tidak segera masuk." Ucap Sasuke.

"Iya, sekali lagi terima kasih."

"Hn."

Sakura berjalan ke arah rumahnya, Sasuke mendorong pagar rumahnya dan memasukkan motornya.

.

.

.

Suasana makan malam Sakura dan Sasori begitu tenang, Sasori tidak ingin membuat Sakura marah lagi dan membentaknya.

"Apa kau sakit? Tanya Sakura.

Sasori yang biasanya sedikit cerewet menjadi tenang.

"Tidak."

"Kenapa tidak seperti biasanya?"

"Seperti biasanya?"

"Iya, kau itu kan tidak bisa diam."

"Uhk, kau pikir aku orang cerewet."

"Tepat sekali."

"Uhm, yang tadi aku minta maaf sudah membuatmu marah."

"Aku tidak marah padamu, aku hanya tidak ingin kalian memulai pertengkaran. Aku juga minta maaf sudah membentakmu."

"Aku pikir kau sedang marah, apa yang terjadi, raut wajahmu benar-benar aneh."

"Seseorang ingin berbuat mesum padaku."

"Siapa?! Dimana orang itu!"

"Tenang dulu, dia sudah di bawa ke kantor polisi. Sasuke yang menolongku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi jika dia tidak datang."

"Oh, untung saja ada muka tembok itu. Kau tidak terluka kan?"

"Tidak, kapan kau akan memanggil namanya dengan benar."

"Tidak akan, aku tidak sudi memanggil nama si muka tembok itu."

"Kau seperti anak kecil saja."

"Terserah, aku tetap tidak akan memanggil namanya."

"Iya-iya."

Sasori dan Sakura menghabiskan makanan mereka dan bersantai di ruang Tv. Lampu sengaja di matikan dan mereka berdua sedang nonton film divergent. Meskipun film lama, Sakura masih menyukainya, dia sangat suka dengan tokoh Tris yang ada di film itu.

"Apa kau melanjutkannya sampai Insurgent?"

"Kalau aku tidak lelah, heheheh. Kalau hari ini tidak bisa di nonton sampai kelar, mungkin besok lagi kita nonton."

"Baiklah, aku ambil minuman dingin yaa."

"Okey."

Beberapa detik berikutnya Sasori sudah kembali dengan dua kaleng minuman. Sasori membukakan minuman Sakura dan minumannya.

Sampai di pertengahan film Sakura mulai terlihat lelah, matanya sayup-sayup dan dia tidak bisa menonton dengan baik.

"Kenapa aku ngantuk sekali?"

Sakura membaringkan badannya di sofa. Kepalanya sedikit pusing dan terasa berat.

"Sakura, kau kenapa?"

"Tidak tahu, kepalaku sakit."

"Kepalamu sakit? Bagaimana Cuma minuman bersoda bisa membuatmu sakit kepala?"

Sasori mengecek menuman Sakura, hanya soda biasa, tapi ada yang aneh, sejak tadi Sakura minum tapi kenapa kalengnya tetap berat, Sasori mengecek minumannya, Kosong, Sakura salah minum, meskipun bir dengan kadar alkohol rendah Sakura sudah mabuk.

"Ya ampun, Sakura, kau mabuk, kenapa harus minum punyaku." Ucap Sasori.

"Aku tidak mabuk!"

Sakura mulai mengamuk tidak jelas, Sasori segera bertindak, memantikan Tv dan membawa Sakura naik ke atas kamarnya.

"Kepalaku sakit sekali, bisakah kita usah jalan."

"Diam kau, kau harus segera ke kamar."

"Kau berani membentakku! Memangnya siapa kau ahk!"

"Aku malaikat mautmu kalau kau tidak diam sekarang."

"Aku tidak percaya padamu!"

Dengan susah payah Sasori berhasil membawa Sakura kedalam kamarnya dan segera membaringkan Sakura di kasur. Wajah Sakura begitu merah dan terlihat sangat cantik. Wajah Sasori ikut merona, baru kali ini dia melihat Sakura secantik ini.

"Aku seperti melihat bintang-bintang." Sakura masih merancung.

Tanpa sadar tubuh Sasori bergerak dan menindih Sakura. Sakura tidak bergerak atau merontah, dia terdiam, apa karena mabuknya.

"Kau terlihat sangat cantik Sakura jika seperti ini." ucap Sasori dan perlahan ingin mencium leher putih Sakura.

"Sasuke, jangan."

Sasori berhenti dan menjauhkan dirinya dari Sakura. bahkan dalam keadaan mabuk pun dia masih bisa mengucapkan nama Sasuke dengan benar. Sasori turun dari kasur dan duduk di sisi ranjang menatap Sakura. dia belum tidur.

"Apa kau menyukai Sasuke?"

"Aku? Menyukai Sasuke, uhm... mungkin saja, aku jatuh cinta padanya."

Sasori tertunduk, jika mabuk seperti ini Sakura akan blak-blakan.

"Bagaimana dengan Sasori?"

"Sasori? Aku menyukainya, Dia sangat baik padaku, meskipun sedikit egois dan seperti anak kecil, aku bersyukur bisa bertemu dengannya."

Teringat akan kenangan masa lalu, Sasori kembali mengingat sejak kapan dia bersama Sakura.


Sejak kecil aku sendirian, aku anak tunggal di keluarga Haruno, orang tuaku sibuk, bahkan mereka tidak ingin memberikan ku seorang adik. Saat sendirian berdiri didepan pagar rumahku, seorang anak kecil dengan rambut merahnya, mukanya yang sangat imut dan menggemaskan, membuatku tidak bisa tahan untuk mencubit pipinya, dia marah padaku dan langsung mencakarku dan memanggilku dengan sebutan 'kakak gila', lantas aku marah dan mengejarnya tapi larinya begitu cepat, dia menghilang. keesokan harinya aku bertemu lagi dengannya, bukan di depan pagar rumahku, tapi pertemuan orang tua yang melakukan bisnis, kami berada disebuah restoran mewah milik orang tuanya, mungkin dia masih marah padaku, tapi aku mencoba minta maaf dan dia mau memaafkanku, tetap saja sebutannya untukku tidak bisa hilang, dia masih memanggilku sampai kami masuk sekolah. dia berhenti memanggilku dengan 'kakak gila' dia memanggil dengan nama depanku, Sakura. meskipun di sekolah yang sama dia selalu menjadi juniorku. Kami selalu bersama sampai di pikir sebagai pasangan. Itu tidak bertahan lama sampai aku harus meninggalkan Suna. Kami berpisah, namun Sasori tetap dengan keinginannya akan kembali menemuiku suatu saat nanti.


"Dasar muka tembok, ternyata aku sudah kalah."

Sasori menaikkan selimut Sakura, dia sudah tertidur pulas. Sakura benar-benar mengerikan saat mabuk. Sasori mencium perlahan kening Sakura dan berjalan keluar kamar Sakura, menuruni tangga dan masuk ke kamarnya, merebah dirinya di kasur empuknya dan mencoba melupakan semua perasaannya kepada Sakura. Sakura tidak akan menjadi miliknya, hati Sakura sudah ada pada orang lain.

.

.

.

"Sejak kapan aku tertidur?"

Sakura melirik ke sekeliling ruangan, ini kamar miliknya, dia tidak ingat kapan dia naik ke kamarnya, yang terakhir diingatnya dia menonton film bersama Sasori. Sakura bangun dan menuruni kasur, dia berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya dan

'Bruuuk'

kesadarannya menghilang seketika, Sakura jatuh begitu saja ke lantai dan tidak sadarkan diri.

Sasori terkejut dan segera bangun, dia merasa seperti ada sesuatu yang jatuh di lantai atas.

Sasori bergegas naik ke lantai dua dan membuka pintu kamar Sakura. matanya membulat dan menatap Sakura tergeletak di lantai kamarnya.


~ TBC ~

update lagi...! semoga tidak bertambah bosan dengan cerita ini., maaf kadang suka salah dalam menulis, tapi aku harap itu tidak mengganggu jalan ceritanya hehehehehe.

balas reveiw ::

Dolphin sudah tahukan siapa yang di sukai sakura. hooa, terima kasih untuk tetap pembacanya, ini baru update lagi

mohon reveiwnya...~