Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan

.

.

.

'Bruuuk'

kesadarannya menghilang seketika, Sakura jatuh begitu saja ke lantai dan tidak sadarkan diri.

Sasori terkejut dan segera bangun, dia merasa seperti ada sesuatu yang jatuh di lantai atas.

Sasori bergegas naik ke lantai dua dan membuka pintu kamar Sakura. matanya membulat dan menatap Sakura tergeletak di lantai kamarnya.


~ my neighbor ~

.

[Chapter 4]

.

Don't Like Don't Read

.

.

Pikirannya mulai panik, Sasori sampai bingung harus berbuat apa, dia sudah mengangkat Sakura ke atas tempat tidur, namun Sakura tidak sadarkan diri meskipun namanya dipanggil berkali-kali.

Dengan tergesa-gesa Sasori berlari keluar rumah dan masuk begitu saja ke dalam rumah Sasuke.

"SASUKE! SASUKE!" Teriak Sasori.

Sasuke yang masih berada di kamarnya terkejut mendengar seseorang meriaki namanya dan suara itu sangat tidak asing. Sedikit malas namun sepertinya itu penting, Sasuke segera bangun dari kasurnya dan berlari keluar kamar menuruni tangga.

"Kau pikir ini lapangan, kenapa berteriak seperti itu."

Sasuke terkejut, Sasori menampakkan wajah ketakutan dan sangat panik.

"Tolong, Saku-."

Tanpa menunggu Sasori menyelesaikan ucapannya, Sasuke sudah berlari menuju rumah Sakura, tergesa-gesa menaiki tangga dan membuka pintu kamar Sakura.

"Sakura."

Sasuke berjalan menghampiri Sakura, dia seperti tertidur, apa yang membuat Sasori sampai harus berteriak-teriak di rumahnya sepagi ini. Sakura terlihat baik-baik Saja.

"Hoaam...~ kalian berdua ini, masih pagi sudah bikin ribut saja." Ucap Itachi yang datang bersama dengan Sasori.

"Ada apa dengan Sakura?" ucap Sasuke kepada Sasori.

"Dia tiba-tiba pingsan, aku tidak tahu harus berbuat apa?"

Sasuke ingin sekali tertawa melihat wajah dan sikap Sasori, dia benar-benar seperti anak kecil yang kebingungan, tapi itu bukan hal yang bagus, Sasuke terdiam menunggu Itachi memeriksa keadaan Sakura.

"Sepertinya Sakura abis meminum minuman beralkohol."

Tatapan tajam Sasuke mengarah ke arah Sasori. "Apa yang sudah kau berikan padanya?"

"Bukan aku, dia sendiri yang salah, dia tidak sadar dan mengambil minumanku." Sasori membela diri.

"Jika saja terjadi sesuatu pada Sakura-"

"Kalian keluarlah! Berisik sekali."

Sasori dan Sasuke di usir keluar dengan paksa dari kamar Sakura. Mereka berdua hanya membuat Itachi ikut-ikutan sakit kepala.

"Sakura." ucap Itachi perlahan.

Itachi mencoba membangunkan Sakura. akhirnya Sakura mulai sadar meskipun dia tidak membuka matanya, Sakura bisa berbicara perlahan.

"Kepalaku Sakit."

"Tidak perlu memaksakan dirimu, kau bisa membuka mulutmu? Aku akan memberimu ramuan."

Sakura mengangguk dan Itachi menyuapinya beberapa sendok ramuan penghilang mabuk. Sepertinya efek alkohol semalam belum sepenuhnya hilang membuat Sakura harus tumbang kembali.

Sementara itu di luar kamar Sakura.

"Apa yang kau pikirkan? Berbuat yang macam-macam pada Sakura?" ucap Sasuke, perasaannya saat ini masih sangat kesal.

"Kau pikir aku akan melalukan hal itu."

"Tentu saja."

Hening. Mereka berdua terdiam sejenak. Sasuke berdiri bersandar ke tembok dan Sasori memilih duduk, saat panik tadi sampai sekarang, kakinya berasa gemetaran dan lemas.

"Aku, uhm..., aku hampir melakukannya."

Sebuah tangan kekar meremas kerah baju Sasori, membuat Sasori berdiri dengan terpaksa, di tatapnya orang yang meremas bajunya dengan sangat kasar, marah, dia benar-benar marah, tangan satunya seperti bersiap-siap jika satu ucapan keluar lagi, kepalang tangan itu akan mendarat di pipi Sasori. Sasori membuang mukanya dan tidak menatap mata Sasuke.

"Maaf, aku hanya terbawa suasana."

Sasuke mendorong Sasori ke lantai, dia tidak perduli lagi kalau Sasori akan marah dengan tindakannya, tapi Sasori tidak berniat untuk marah dan membalas Sasuke. Sasuke benar, dia tidak seharusnya mengambil kesempatan saat Sakura tidak berdaya seperti semalam.

"Apa kau sudah puas?" ucap Sasuke. tangan kanannya masih mengepal dengan sangat keras.

"Aku tidak pernah berpikiran jahat terhadap Sakura, aku, aku benar-benar terbawa suasana, lagi pula Sakura tidak pernah memiliki perasaan yang sama denganku, kau tidak akan tahu rasanya kalau kau baru bertemu dengannya! Kau pikir kau siapa? Aku dan Sakura sudah lama bersama, Sakura hanya milikku!"

Satu pukulan keras mendarat di pipi kiri Sasori. Sasuke sudah tidak bisa menahan amarahnya.

"Berisik."

"Cukup sampai disitu, Sasuke. kalian ini tidak bisa di tinggal bersama sebentar yaa." Ucap Itachi.

Setelah selesai memberi Sakura ramuan, Itachi keluar dan mendapati Sasuke memukul Sasori. Wajah Sasuke masih marah, dia berjalan melewati Itachi dan memilih untuk pulang.

"Kau tidak apa-apa Sasori?"

Sasori hanya terdiam, pukulan Sasuke membuatnya sedikit tersadar akan sikap egoisnya selama ini. Itachi membantu Sasori berdiri dan memperhatikan pipi Sasori yang sedikit merah dan sudut bibir Sasori sedikit robek, Sasuke memukulnya dengan sangat keras.

"Sebaiknya kau mengompres pipimu."

"Apa Sakura baik-baik saja?"

"Iya, dia akan segera sadar, tenanglah, dia tidak apa-apa, hanya masalah mabuknya, Sakura harus di jauhi dari minuman seperti itu, dia bukan tipe yang akan cepat terbebas dari mabuknya."

"Uhm, terima kak Itachi."

"Baiklah, sebaiknya aku pulang dan jangan lupa, pipimu harus di kompres yaa."

"Hmm."

Itachi berjalan meninggalkan Sasori yang masih mematung.

Sasuke sudah berada dikamarnya dan berbaring, mencoba menenangkan pikirannya yang sangat kacau, dia sudah memukul Sasori, apa dengan memukul Sasori dia sudah merasa lega? Sepertinya tidak, Sasuke hanya emosi dan emosi membuatnya hilang akal, dia tidak seharusnya memukul Sasori.

"Apa kau masih marah?" Itachi bersandar di sisi pintu masuk Sasuke.

"Jangan menggangguku."

"Minta maaf padanya."

"Aku tidak ingin berbicara apapun."

"Kau harus minta maaf padanya, terserah kapan kau akan minta maaf." Ucap Itachi dan pergi dari kamar Sasuke.

"Cih. Aku tidak peduli."

.

.

.

Sakura membuka matanya perlahan, diliriknya jam di dinding kamarnya, pukul 14:10, dia tertidur cukup lama. Kali ini ramuan dari Uchiha membantunya lagi. Sakit kepalanya hilang begitu saja dan tubuhnya terasa ringan. Sakura berjalan menuruni kasurnya menuju kamar mandi, mencuci mukanya dan mengosok gigi.

"Gawat, ini sudah siang, aku tidak sempat membuatkan sarapan dan makan siang, apa Sasori baik-baik saja?"

Sakura menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi dan bergegas keluar kamar, menuruni tangga dan mencari Sasori.

"Sasori, kau dimana?"

Sakura mencari Sasori dan tidak menemukannya di dalam rumah. Rumahnya begitu sepi.

"Apa dia keluar untuk makan?"

Sakura mempercepat langkahnya menuju pintu, di putarnya gagang pintu dan seseorang berdiri dihadapannya.

"Sakura."

"Sasuke."

"Kau sudah sadar?"

"Iya, Apa kau melihat Sasori?"

"Dia berada di rumahku sedang makan siang."

"Aku pikir dia keluar ke restoran."

"Itachi mengajaknya ke rumah. Aku pikir kau mungkin sudah sadar, jadi aku kesini untuk mengajakmu juga."

"Maaf sudah merepotkan kalian, gara-gara aku tertidur anak itu jadi tidak sarapan dan makan siang, terima kasih sudah menolongku."

"Tidak perlu, dan bukan aku yang memintanya ke rumah."

"Kau seperti biasa, masih tidak suka anak itu."

"Cepatlah, kau harus segera makan juga."

Sasuke berjalan lebih dulu dan Sakura mengikutinya dari belakang, tidak begitu lama mereka sudah berada di ruang makan. Meja makan yang biasa hanya ada dua orang, Itachi dan Sasuke, sekarang bertambah dengan Sasori dan Sakura.

"Kau baik-baik saja?" ucap Sasori masih dengan wajah khawatirnya.

"Aku tidak apa-apa kok, lagi-lagi aku yang salah mengambil minuman, jangan berwajah seperti itu." Ucap Sakura dan mengelus perlahan puncuk kepala Sasori.

Sasori menundukkan kepalanya. Membiarkan Sakura membuatnya tenang. Sasuke yang melihat ke arah mereka menatap tidak suka. Itachi hanya tersenyum menatap Sasuke yang tengah cemburu.

"Baiklah, kalian harus makan." Ucap Itachi.

"Sasori, wajahmu kenapa?" tanya Sakura. melihat wajah Sasori sedikit lebam dan luka robek di sudut bibirnya.

"Wajahku, uhm.. hahah itu, tadi terjatuh, tapi sudah baikkan kok, kau ini tidak perlu khawatir juga."

Sasuke melirik Sasori sepintas, Sasori tidak mengatakan yang sebenarnya. Apa dia ingin melindungi Sasuke, apa Sakura akan marah besar jika tahu Sasuke yang membuat pipi Sasori sampai lebam begitu. Sepertinya Sasuke tidak mau ambil pusing, terserah Sasori jika dia ingin mengatakan yang sebenarnya atau berbohong.

"Kau harus hati-hati."

"Iya."

Suasana makan siang yang sangat tenang dan damai, tidak ada yang ingin berbicara apapun. Setengah jam berlalu, Sasori dan Sakura sudah kembali ke rumahnya.

Sasuke turun dari kamarnya dengan pakaian yg rapi. baju kaos putih, jins hitam dan jaket kulitnya.

"Mau kemana?" ucap Itachi yang tengah bersanti di ruang tamu, dengan buku tebalnya dan secangkir teh.

"Kau tidak perlu tahu."

"Kau akan pulang larut?"

"..."

"Ya sudah, hati-hati di jalan."

Sasuke tidak membalas ucapan Itachi dan pergi begitu saja. Itachi merasa Sasuke akan kembali seperti dulu. Ini sangat merepotkan baginya. Gara-gara masalahnya dengan Sasori membuatnya menjadi tidak tenang, emosian dan selalu saja akan melampiaskan ke tempat yang sebenarnya tidak layak untuk dia datangi. Itachi kembali membaca buku tebalnya. Dering ponsel Itachi membuatnya berhenti kembali untuk membaca bukunya.

Nagato calling...

"Halo, ada apa Nagato?"

"Apa kau pernah melihat Sasori?"

"Sasori, memangnya dia kenapa?"

"Hufff..., anak itu kabur dari kediamanku dan sudah beberapa hari ini aku tidak menemukannya."

"Kabur?"

"Iya, sekitar beberapa hari yang lalu dia pergi secara diam-diam tanpa pamit bahkan barang-barang dikamarnya kosong, aku pikir dia kembali ke Suna, tapi dari Suna pun bilang dia belum kembali. Dasar anak nakal itu. Bukannya menyelesaikan tugasnya malah kabur."

Itachi terdiam sejenak. Selama ini Sasori berbohong untuk tinggal bersama Sakura.

"Dia sepertinya suka sekali seperti itu jika berada di Konoha."

"Iya, dia selalu saja kabur dari tanggung jawabnya. Awas saja anak itu kalau ketemu. Baiklah, jika kau bertemu dengannya segera menghubungiku ya."

"Iya. Nanti akan ku hubungi."

Percakapan mereka berakhir. Apa yang timbul dipikiran Itachi. Apa dia akan menghubungi Nagato lagi dan mengatakan kalau Sasori berada di rumah Sakura atau memaksa Sasori kembali ke kediaman Nagato. Setelah memikirkannya Itachi berjalan menuju rumah Sakura.

Tok..tok..

"Kak Itachi. Ada apa?" Ucap Sakura.

"Sasori dimana?"

"Uhm, dia sedang beres-beres, katanya dia mau kembali ke rumah Nagato."

"Kembali ke rumah Nagato? Kenapa sangat mendadak?"

"Entahlah, aku pikir dia merasa bersalah akan masalah mabukku kemarin, padahal aku tidak terlalu memikirkannya."

"Dia tidak mengatakan sesuatu?"

"Sasori hanya mengatakan dia akan segera balik ke Suna makanya dia akan ke rumah Nagato dan segera menyelesaikan pekerjaannya."

"Hoo."

"Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa Sakura, aku memang harus kembali ke Nagato, hehehehe, maaf sudah merepotkanmu." Ucap Sasori yang sudah siap dengan koper dan tas ranselnya.

"Kau seperti terburu-buru ingin kabur dari rumahku."

"Iya, rumahmu terlalu ramai, aku tidak cocok tinggal disini."

"Apa maksudmu!"

"Hahah, bercanda."

"Apa tidak besok pagi saja kau pulang."

"Tidak, aku pulang sekarang saja. Eh, kak Itachi. Aku akan balik ke Nagato."

"Kenapa begitu cepat kau kembali?"

"Urusanku dengan Nagato belum kelar, aku harus cepat-cepat menyelesaikannya."

"Kau pekerja keras seperti biasanya, mungkin lain waktu kita bisa jadi rekan bisnis."

"Benarkah, waah...aku tidak sabar jika nantinya mengembangkan saham yang berkerja sama dengan Uchiha."

"Aku tunggu itu."

"Sip, semua sudah beres, aku pergi yaa, tolong jaga dirimu, biar bagaimana pun kau itu seorang gadis Sakura, kalau kau ada apa-apa kau harus meminta tolong Kak Itachi dan...," Ucapan Sasori terputus, seperti berasa enggan untuk mengucapkan sebuah nama, tapi dia ingat ketika sedang panik dan sudah menyebutkan nama orang itu dengan benar bahkan dengan berteriak. "...Sasuke. lain kali aku akan mengerjainya lagi." Sambung Sasori.

"Oh.. jadi akhirnya kau bisa menyebutkan namanya dengan benar."

"Bahkan dia sudah meneriaki namanya." Itachi membuka aib terbesar Sasori.

Wajah Sasori memerah. "I-Itu karena aku panik!" Protes Sasori.

Sakura memeluk Sasori. "Hati-hati dijalan."

"Janji, saat aku kembali ke Suna kau harus ada di bandara mengantarku." Ucap Sasori membalas pelukan Sakura.

"Iya-iya."

Sasori sudah memasukkan kopernya ke dalam mobil. Sasori pamit kepada Itachi dan Sakura yang tengah berdiri di depan pagar. Detik berikutnya mobil Sasori sudah berada di jalanan.

"Seminggu pun belum cukup, tapi dia sudah kembali. Meskipun dia kadang menyebalkan tapi rumah jadi tidak sepi. Sekarang sepi lagi."

"Jangan seperti itu, kalau kau merasa kesepian main-main saja ke rumah."

"Jadi tidak enak selalu saja merepotkan Kak Itachi."

"Hee, tidak kok, aku tidak repot."

"Sasuke mana?"

"Dia pergi."

"Pergi?"

"Iya, biasanya dia memang suka seperti itu."

"Uhm,"

"Apa kau khawatir?"

"Ti-tidak. Aku tidak khawatir kok, aku pikir itu adalah haknya mau pergi kemana saja yang di sukainya."

"Hoo. Jadi tidak khawatir yaaa." Ucap Itachi mengusap-usap dagunya dan menatap Sakura.

"Se-sebaiknya aku masuk ke rumah. Sampai jumpa besok kak Itachi."

Sakura sudah ngacir masuk ke dalam rumahnya, dia tidak ingin kak Itachi membuat wajahnya meledak lagi gara-gara membahas Sasuke.

Itachi hanya tersenyum menatap pintu rumah Sakura yang tertutup. Mengganggu Sakura tidak ada bedanya dengan mengganggu adiknya. Hanya saja adiknya merespon dengan terlalu cuek, Sedangkan Sakura akan segera salah tingkah.

Itachi berjalan menuju ruang tamu dan mengambil ponselnya, mencari nomer kontak Nagato dan menghubunginya.

"Dia akan segera kembali, tunggu saja."

"Benar kah? Terima kasih Itachi."


Kediaman Nagato

"Akhirnya kau pulang. Aku sampai bingung harus mencarimu kemana." Ucap Nagato memeluk Sasori seperti habis kehilangan adik tersayang.

"Maaf."

"Maaf katamu."

Wajah Nagato menjadi serius dan terlihat sangat-sangat marah.

"A-Aku minta maaf."

"Mulai besok kau harus kerja pagi dan lembur, ingat itu. Kau akan segera kembali ke Suna dan tugas-tugasmu belum kelar. Kau pikir di Konoha kau liburan, ingat Sasori kau bukan berlibur, tapi kerja."

"Ahh, ya ampun, dia mulai lagi." Ucap Sasori.

"Dengarkan apa yang ku ucapkan Sasori."

"Baik-baik."

Sasori diceramahi habis-habisan oleh Nagato. Meskipun begitu dia tidak mendengarkannya, pikirannya berada di tempat lain, dia mengingat saat Sakura mengucap 'jatuh cinta' pada Sasuke. dia merasa benar-benar kalah. Jika Sasuke orang yang tepat untuk Sakura. dia akan merelakan Sakura. jika Sakura memilihnya, dia akan kembali memperjuangkan Sakura. mengingat hal itu membuatnya sakit kepala, di tambah lagi Nagato masih mengoceh.

"Eh, ngomong-ngomong selama ini kau berada dimana?"

"Aku berada di rumah Sakura."

"Kau tinggal di rumah Sakura tanpa meminta ijin padaku."

"Heheh, aku pikir kau akan mengijinkanku."

"Tidak akan, kau tidak mengganggu Sakura kan?"

"Tidak, kau pikir adik sepupumu laki-laki liar."

"Jadi ke bar bersama wanita-wanita tidak jelas itu bukan liar namanya."

"Hanya kadang-kadang kok, dan aku tidak melakukan aneh-aneh dengan mereka, aku hanya minum-minum."

"Kau ini, masih muda tapi kelakuanmu kayak om-om."

"Aku menghargai Sakura. dia sangat berarti untukku."

"Ahk, aku bosan mendengar hal itu. Cepat sana tidur, besok kau harus kerja."

"Iya-iya."

"Sekedar info, di mejamu tumpukkan berkas-berkas sudah seperti gunung, selamat bekerja kembali Sasori sayang."

Ucapan Nagato yang sengaja dimanis-maniskan membuat Sasori jadi merinding dan menepuk jidatnya.


Pukul 01-00

Sasuke mendorong pagar rumahnya dan memasukkan motornya, Dia baru pulang, Itachi tidak mengunci pintu, dia sudah hapal dengan Sasuke yang akan pulang selarut ini. Sasuke berjalan masuk dan menyimpan kunci motornya di meja ruang tamu. Minuman beralkohol hanya membuatnya bertambah haus. Sasuke berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air putih, meneguknya sampai habis dan kembali mengisi gelasnya.

"Kau sudah pulang?" Itachi berdiri didepan pintu masuk dapur.

"Hn."

"Sasori sudah kembali ke Nagato."

Sasuke menghentikan kegiatan minumnya sejenak dan kembali melanjutkannya.

"Apa yang sudah kalian bicarakan? Apa ada sesuatu sampai dia harus kembali ke Nagato?"

Sasuke berhenti minum dan memain-mainkan gelasnya, dia malas jika harus bertatapan langsung dengan Itachi. "Aku tidak tahu, dia tidak mengatakan apapun."

"Uhm, aku pikir kau memukulnya karena mengatakan sesuatu."

"Dia hanya membuatku kesal."

"Hoo, apa kau ke bar?"

"Iya, kenapa?"

"Sepertinya Sakura tadi mengkhawatirkanmu."

"Hn."

Sasuke menyimpan gelasnya di westafel dan berjalan melewati Itachi. Jika Itachi ingin berargumen dengannya sekarang, bukan waktu yang tepat. Sasuke benar-benar malas untuk membahas apapun.


Itachi sedang berada di luar, bertemu dengan beberapa teman bisnisnya yang tinggal di Konoha. Masih ada banyak waktu untuk menyelesaikan tugas dari Iruka, mereka berdua sepakat untuk menyelesaikannya sekarang di rumah Sakura. kenapa bukan di rumah Sasuke, sebelumnya mereka adu suit, yang menang yang memutuskan kerja dimana, Sakura kalah dan Sasuke berhak memilih, mereka berlesehan di ruang baca milik Sakura. Sasuke meminta Sakura untuk menulis, menurutnya tulisan Sakura lebih bagus dari padanya. Sasuke sibuk membaca buku satu persatu untuk mencari jawaban dari pertanyaan di selembaran yang Shikamaru bagikan.

"Jadi anak itu benar-benar kembali ke Nagato?"

"Yaah begitulah."

"Apa kau berharap dia tidak usah kembali?"

"Uhm.., sebenarnya sih iya, aku senang jika dia tinggal disini."

"Oh."

"Kau sendiri bisa merasakannya kan?"

"Apa?"

"Rumahku jadi sepi, memang yaa, kalau tinggal bersama orang cerewet itu tidak akan bosan."

"..."

Raut wajah Sasuke berubah, Sasuke masih tidak menyukai Sasori.

"Maaf kalau tidak suka dengan pembicaraanku."

"Itu urusanmu, aku tidak terlalu memikirnya."

"Uhm, Kemarin. Kau kemana?"

Sasuke berhenti membaca buku dan menatap Sakura. tatapan mereka bertemu. Sasuke menatap datar ke arah Sakura.

1 detik

2 detik

3 detik

Sakura segera menutup wajahnya dengan buku yang ada di hadapannya. Sakura tidak bisa berlama-lama menatap wajah Sasuke dengan keadaan seperti itu, membuatnya terpesona.

"Ke-kenapa? Ja-jangan menatapku seperti itu!"

Wajah Sakura sudah merona dan tingkahnya tidak karuan, Sasuke membuatnya gugup setengah mati. Sasuke masih menatap Sakura yang tidak juga menurunkan bukunya sambil menopang dagu.

"Apa kau berencana melakukannya lagi?"

"Melakukan apa?"

"Tiba-tiba aku teringat seseorang yang menarikku dengan kasar keluar dari bar."

"Aku, uhm.. aku kan hanya menolongmu."

Sakura merasakan Sasuke mendekat dan mencium buku yang masih menutup wajahnya. Perlahan Sakura menurunkan buku yang menutupi wajahnya dan menatap Sasuke.

"Maaf, sudah membuatmu khawatir," ucap Sasuke dan tersenyum.

Sakura menarik napasnya dalam-dalam dan melebarkan matanya, Sasuke tersenyum. Perasaannya menjadi tidak karuan lagi, rasanya detak jantungnya menjadi lebih cepat. Tersenyum membuat wajah Sasuke semakin terlihat tampan dan Sakura harus menahan dirinya untuk tidak pingsan. Semburat merah menghiasi wajah Sakura dan Sasuke bisa melihatnya. Mereka bertatapan dan hening beberapa detik. Angin berhembus perlahan dari arah jendela rumah Sakura. Serasa waktu sedang berhenti di antara mereka.

"Aku menyukaimu!" Ucap Sakura.

"Apa?"

"Aku menyukaimu saat kau tersenyum. Bisakah kau tersenyum lagi?"

"Tidak." Sasuke membuang mukanya dan tidak ingin menatap Sakura.

"Ha! Kenapa kau sangat pelit untuk tersenyum?"

"Malas."

"Sasuke, ayo tersenyum lagi."

"Tidak akan."

Sasuke segera berbalik dan membelakangi Sakura, Sakura membuatnya menjadi malu, tidak biasanya dia akan tersenyum seperti tadi, tersenyum dengan begitu tulusnya, sampai-sampai dia tidak ingin mengulanginya lagi.

"Sasuke."

"Tidak."

Sakura menempelkan keningnya di punggung Sasuke. Sasuke tidak bergerak dan membiarkan Sakura seperti itu.

"Aku menyukaimu, Sasuke."

"Jika itu karena untuk tersenyum, aku tidak akan tersenyum lagi."

"Tidak, bukan karena itu. Sejak awal aku selalu kepikiran jika ini benar atau salah, setiap kali melihatmu, aku benar-benar susah untuk mengendalikan diri, aku pikir aku benar-benar menyukaimu."

"Seperti sukamu pada Sasori?"

"Bu-bukan, Bukan seperti itu, Melebihi Sasori."

Sasuke mencoba berbalik namun kedua tangan Sakura mencengkram lengan atas Sasuke dengan kuat, Sakura tidak membiarkan Sasuke berbalik.

"Tetaplah seperti itu, jika menatapmu lagi aku akan semakin malu."

Benar saja wajah Sakura sekarang sangat merona. dia tidak mengubah posisinya dan tidak ingin Sasuke melihat wajahnya lagi.

"Aku tidak suka saat wanita-wanita di bar itu menyentuhmu. Sekarang kau sudah tahu, apa kau akan benci padaku?"

Sasuke masih terdiam dan tidak mengucapkan sepatah katapun, ini seperti Sakura sedang mencoba menyatakan perasaannya kepada Sasuke.

"Aku tidak akan benci padamu. Sakura, apa kau ingin berjalan seperti apa adanya?"

Sakura mengangguk. Dia merasa tidak perlu ada perubahan antara dia dan Sasuke. Sakura hanya ingin Sasuke tahu perasaannya selama ini kepadanya. Dia tidak ingin menyimpannya lagi. Sakura menurunkan tangannya perlahan dan menjauhkan kepalanya dari punggung Sasuke. Sasuke berbalik dan menatap Sakura yang masih menundukkan wajahnya.

"Hei, kau baik-baik saja?" Sasuke mengusap-ngusap perlahan puncuk kapala Sakura.

"Ha-habisnya aku malu sekali." Ucap Sakura dan mengangkat wajahnya yang sudah di banjiri air mata.

Sasuke memejamkan matanya sejenak, menghelas napas dan kembali menatap Sakura.

"Kau seperti anak kecil saja." Ucap Sasuke dan mengusap air mata Sakura.

"Ini air mata bahagia."

"Baiklah, tapi jangan ucapkan apa-apa pada Itachi, aku tidak ingin di ganggunya."

"Kau masih tidak suka padanya?"

"Itu sudah jelaskan."

"Uhm, Apa kau tidak sadar akan sesuatu."

"Apa?"

"Kau menjadi dekat dengan kak Itachi."

"Sebenarnya, aku pernah memimpikan kalau Itachi bukan pelakunya, tapi tetap saja, aku tidak mendapatkan bukti apapun, itu hanya mimpi dan tidak bisa di anggap sebagai bukti yang logis."

"Bagaimana kalau itu sebagai pertanda? Kalau memang kak Itachi bukan pelakunya. Apa orangnya yang di tahan dulu?"

"Bukan, dia orang yang berbeda, meskipun terasa asing, aku sepertinya pernah bertemu dengannya."

"Uhm.. begitu yaa."

"Sampai kapan kita akan cerita?"

"Eh, maaf."

Mereka kembali melanjutkan tugas mereka yang sempat tertunda.

Pukul 16:10

Sasuke masih sibuk membaca-baca buku yang tertumpuk di hadapannya sedangkan Sakura, dia tengah tertidur. Tugas mereka sudah kelar beberapa menit yang lalu. Sakura yang membaringkan kepalanya sejenak malah tertidur begitu saja. Sasuke melirik ke arah Sakura. dia tertidur begitu damai, merasa sayang sekali jika harus membangunkannya. Sasuke bergeser dan mendekati Sakura, dikecupnya perlahan kening Sakura.

"Aku mencintaimu, Sakura." Sasuke membisikkan hal itu dan kembali pada posisinya.

Sakura tidak juga bangun atau bergerak sedikit pun, tidurnya begitu nyenyak. Dia tidak mendengarkan ucapan sakral dari Sasuke.

"Hei, bangun, kepalamu akan sakit jika tidur seperti itu."

Sasuke memaksa Sakura untuk segera bangun, Sakura membuka matanya dan yang pertama diliriknya adalah jam.

"Berapa lama aku tertidur?"

"Setengah abad."

"Apa! Selama itu." Sakura melempar buku ke arah Sasuke. "Bercandamu kelewatan." Sambungnya lagi.

"Aku lapar, bisakah kau memasakan sesuatu."

"Oh jadi sekarang kau menjadi tukang memerintah yaa, ingat ini rumahku, aku yang berkuasa disini tuan Uchiha."

"Aku tamumu, tamu adalah raja."

"Sejak kapan tamu menjadi raja?"

"Sejak aku yang mengucapkannya."

"Pufff, hahahahaha." Sakura tertawa dan segera menutup mulutnya. Apa Sasuke sedang mencoba menjadi pelawak.

Sakura berjalan menuju dapur dan mencari bahan makanan apa yang bisa di masaknya sekarang.

"Mau nasi goreng?"

"Terserah saja."

Sakura mulai mengambil beberapa bahan untuk membuat nasi goreng. Sasuke membantunya mengambil nasi untuk dua porsi.

"Kak Itachi belum pulang?"

"Sepertinya, aku tidak mendengar suara mobilnya dari tadi."

"Oh, mungkin kalau dia pulang sekarang, kita bisa makan bersama."

"Dia akan pulang malam."

Beberapa jam telah berlalu, Sasuke sudah kembali ke rumahnya dengan perut yang kenyang dan menonton Tv.

Suara mobil berhenti di depan pagar rumah Sasuke. sepertinya itu Itachi. Sasuke hanya melirik ke arah jendela dan melihat Itachi membuka pagar untuk memasukkan mobilnya. Pintu ruang tamu terbuka, Itachi berjalan masuk dan segera duduk di sofa, dia melonggarkan dasinya dan membuka jasnya, Itachi terlihat lelah.

"Ada apa?" Tanya Sasuke saat berjalan ke ruang tamu dan mendapati Itachi merebah dirinya di sofa.

"Ada yang berbuat ulah dia perusahaan. Haaa~ aku harus memperbaiki beberapa kerugian akibatnya. Dia berhasil membobol rahasia perusahan dan membuat perusahaan itu rugi."

"Perusahaan dimana?"

"Di Iwagakure."

"Negara itu terlalu jauh dari Konoha."

"Tadi aku sudah bertemu mereka, mereka sampai harus jauh-jauh kemari untuk melaporkan semuanya, terpaksa aku menggunakan ruanganku yang ada di bangunan perusahan Nagato. Nagato sampai ikut membantuku membereskannya."

"Apa pelakunya sudah di tangkap?"

"Tidak, dia hilang jejak, kita tidak bisa menemukannya."

"Uhm. Sebaiknya kau kembali ke Kawasan Uchiha dan melaporkannya pada kakek."

"Tidak perlu, aku akan menemukan pelukanya."

"Terserah kau saja."

"Sasuke."

"Apa?"

"Aku bertemu Sasori juga, kau dapat salam darinya."

"Anak itu masih hidup aja."

"Jangan begitu, kau masih berutang maaf padanya."

"Aku tidak peduli."

"Sasuke."

"Apa lagi?"

Itachi berdiri dan menatap Sasuke, Itachi memicingkan mata dan tetap menatap wajah Sasuke.

"Apa yang kau lakukan?" ucap Sasuke risi di tatap seperti itu.

"Ada yang aneh."

"Apa?"

"Apa kau sudah melakukan sesuatu?"

"Apa maksudmu?"

"Wajahmu..."

"Wajahku kenapa?"

"Berseri-seri."

"Mati saja kau."

Sasuke pergi dengan kesal dari hadapan Itachi.

"Hei tunggu dulu, aku benar-benar melihatnya di wajahmu, apa yang sudah kau lakukan, wajahmu berseri-seri."

"Diam kau!"

Sasuke bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan keras.

"Ya ampun, adikku yang satu ini."

Di kamar Sasuke memperhatikan wajahnya di cermin, rasanya tidak ada yang aneh atau ada yang berubah, berseri-seri apanya. Menurutnya Itachi hanya mengada-ngada akan wajahnya sekarang. Tiba-tiba wajah Sakura terlintas. Mata Sasuke melebar. Wajahnya merona.

"Ahk, sial." Sasuke segera membuang dirinya di kasur dan menutup wajahnya dengan bantalnya.


Sasuke sudah bersiap-siap akan pergi ke kampus. Di bukanya pintu dan mendapati seseorang yang baru akan menekan bel rumahnya.

"Sasuke, lama tak jum-."

"Pulang sana!" Sasuke menutup pintunya dengan membantingnya keras-keras.

"Sasuke, Kalau kau membanting pintu seperti itu, dia akan rusak loh." Ucap Itachi yang kaget dengan suara keras dari arah pintu.

"Apa kau yang menyuruhnya datang kemari?"

"Siapa?"

"Dia!"

"Dia siapa?"

"Hei Sasuke, aku tahu kau di dalam, cepat buka pintu." Teriak orang itu dari luar pintu sambil menggedor-gedor pintu.

Itachi menatap ke arah Sasuke, suara orang di luar tidak terdengar asing. Sasuke segera berlari ke arah pintu belakang. Saat ini Sasuke tidak ingin menemui orang itu lagi. Salah satu dari ketiga orang yang selalu berbuat jahil padanya dan membuat Sasuke tidak bisa melupakan perlakuan mereka.

Itachi membuka pintu dan memastikan siapa yang datang, pantas saja Sasuke langsung kabur. Uchiha Shisui. Dia datang ke Konoha.

"Shisui?"

"Yoo, aku datang mengunjungimu, Itachi."

"Pantas saja."

"Kenapa?"

"Tidak, ayo masuk."

"Sepertinya tadi aku melihat Sasuke."

"Dia sudah pergi."

"Sayang sekali. Aku ingin melepas rindu padanya."

"Apa kau pikir dia akan menyambutmu dengan ramah."

"Hehehe, aku pikir tidak. Dia pasti akan menjauhiku."

"Itu karena ulah kalian, dia jadi tidak suka padamu sampai sekarang."

Di luar rumah. Sasuke mendorong motornya keluar pagar agar suara motornya tidak terdengar.

"Sasuke."

Sasuke kaget dan melihat ke arah suara tadi. Ternyata hanya Sakura.

"Kau baik-baik saja?"

"Hn. Sebaiknya kita cepat nanti terlambat."

Sasuke sudah menyalakan mesin motornya dan Sakura sudah naik ke atas motor Sasuke dan mencengkram tas Sasuke kuat-kuat.

"Sakura."

"Iya?"

"Kau tahu, jika mencengkram tasku seperti itu, rasanya tasku bertambah berat, bisakah memegang yang lain?"

"Ma-maaf."

Sakura memindahkan tangan dan mencengkram jaket Sasuke yang tepat berada di bagian pinggang Sasuke. meskipun bukan melingkarkan lengannya, menurut Sasuke itu jauh lebih baik dari pada dia harus merasa tasnya lebih berat.

.

.

.

Shisui datang ke Konoha untuk membicarakan beberapa berkas bisnis yang seharusnya Itachi selesaikan, karena ada beberapa hal Kisame tidak bisa selesaikan, wewenang Kisame belum bisa menggantikan posisi Itachi, meskpun Itachi hanya mengatakan untuk Kisame mengambil alih, tapi tetap saja, berkas-berkas resmi harus di tanda tangani oleh Itachi.

"Sampai kapan kau akan di Konoha?"

"Aku belum mau pulang, apa terjadi masalah di sana?"

"Tidak ada, semua berjalan dengan baik, tapi kau tahu sendiri kan, beberapa petinggi saham masih tidak mempercayai Kisame."

"Dasar para orang tua botak-botak itu. Padahal Kisame itu sudah bekerja lama meskipun masih muda, dia termasuk orang terbaikku."

"Haa~ Kau pikir mereka akan mendengarkanmu begitu saja, dan mereka hanya dua orang yang botak."

"Yang dipikirkan mereka hanya keuntungannya sendiri. Bagaimana kabar Tobi?"

"Sibuk seperti biasanya. Dia harus mengatur banyak jadwal dan pertemuannya dengan beberapa orang dari luar kota."

"Uhm, apa kau sudah membaca pesan dariku?"

"Sudah, tentang seseorang yang membobol perusahan di Iwagakure."

"Kau bisa melacaknya?"

"Mungkin akan butuh waktu yang lama, tapi akan aku usahakan."

"Aku mengandalkanmu Shisui."

"Tapi setelah sampai di sini, aku ingin berlibur sejenak. Bisa kan?"

"Berliburlah sesukamu, asal pekerjaanmu tetap jalan."

"Iya, dan ingat kau harus menyelesaikan semua berkas-berkas yang aku bawa."

"Dimana?"

"Semua ada di dalam koperku."

Itachi melirik ke arah koper Shisui yang lumayan besar.

"Se-sebanyak itu?"

"Hei, kau pikir sudah berapa hari kau tidak kerja ha?"

"Padahal aku sedang cuti."

Shisui malah menertawakan Itachi dan di balas tatapan kesal dari Itachi.

"Tolong rahasiakan ini dari kakek. Aku tidak ingin dia turun tangan."

"Baiklah. Hei, aku dengar-dengar Sasuke sedang mendekati seorang gadis yaa, siapa? siapa? Beri tahu aku."

"Dia akan membunuhmu jika kau mengetahuinya."

"Yaah, tidak asik."

"Beristirahatlah, ada kamar kosong di lantai dua. Aku akan menyelesaikan berkas-berkas ini dengan cepat."

Itachi berjalan sambil menarik koper yang di bawa Shisui, berat, isinya hanya kertas-kertas dan membuatnya sangat berat.

"Biar aku bantu."

"Oh, ok"

Shisui dan Itachi mendorong koper itu ke ruangan kerja Itachi yang sudah lama tidak digunakan di rumah itu. Setelah membantu Itachi, Shisui naik ke lantai dua membongkar koper satunya lagi yang berisi pakaiannya, beberapa detik berlalu dan Shisui sudah tertidur di kasurnya, perjalanannya ke Konoha dengan membawa koper berisi berkas-berkas membuatnya kelelahan.


Sasuke dan Sakura tiba di kampus dan tidak ada yang berubah dari mereka berdua, mereka masih menjaga privasi masing-masing, seperti biasa Sakura akan masuk duluan ke kelas dan Sasuke sedang memarkirkan motornya.

"Pagi Ino." Sapa Sakura

"Pagi...~" balas Ino dengan nada sedikit lesu.

"Kau kenapa?"

"Kau Tahu, kemarin aku ke rumah Shikamaru dan mereka tidak bisa tenang, Chouji dan Naruto, mereka hanya main game dan tidak menyelesaikan apa-apa, bahkan Sai ikut-ikutan main game. Aku pikir aku sudah tamat."

"Shikamaru?"

"Terlalu banyak membaca buku dia malah tertidur."

"Tenanglah, Shikamaru pasti akan menyelesaikannya, masih ada banyak waktu kok."

"Bagaimana dengan tugasmu?"

"Uhm, itu, anu."

"Apa?"

"Sudah selesai, hehehehe."

"Kau bersama orang yang serius, tentu saja akan cepat selesai. Enaknya, setelah itu kalian bisa bersenang-senang."

"Tidak juga, masih ada tugas yang lain kan."

"Iya-iya. Eh, apa ada terjadi sesuatu saat kalian hanya berdua? Ayo ceritakan."

"Ce-ceritakan, cerita apa?"

"Kalian hanya berdua, tidak mungkin tidak melakukan apa-apa kan?"

"Kami hanya mengerjakan tugas kok."

"Benar kah?"

Wajah Ino berubah serius, dia menatap Sakura menunggunya mengucapkan kebenarannya, Sakura merasa terdesak, diliriknya ke arah Sasuke dan Sasuke meliriknya balik. Sakura seperti membuat sebuah isyarat 'Ino mau tahu semuanya, apa yang harus aku lakukan?'. Sasuke mengangguk, jika itu Itachi dia akan langsung melarangnya.

"Tapi jangan ribut yaa."

"Iya-iya."

"Janji?"

"Janji!"

"Kemarilah." Sakura berbisik.

"APA!" teriak Ino.

"Ino, diamlah."

Seluruh orang yang ada di kelas itu menatap Ino dan Sakura.

"Hahaha. maaf-maaf" ucap Ino kepada seluruh orang yang ada dikelas, detik berikutnya mereka kembali ke kesibukan masing-masing.

Sakura menundukkan wajahnya dan sekali lagi melirik ke arah Sasuke. Sasuke tidak melihatnya balik, apa dia marah.

"Aku senang sekali, akhirnya." Bisik Ino.

"Uhm, mungkin di rahasiakan saja, sepertinya Sasuke kurang suka hal privasinya di ganggu."

"Tentu saja. Aku tidak akan mengatakan apapun."

Ino memeluk Sakura dengan begitu senang.

.

.

.

Kelas berakhir. Teman-teman Sasuke sudah keluar lebih dulu. Sasuke berjalan menghampiri kursi Sakura, Ino dan Sakura masih sibuk membereskan bukunya.

"Aku tunggu di depan gerbang."

"Uhm."

Setelahnya Sasuke menghilang dari arah pintu kelas.

"Kyaaaaaa...~ kalian manis banget." Ucap Ino

"Shhttt... Ino."

"Abisnya kalian itu lebih romantis."

"Bukannya kau lebih lebih romantis jika bersama Sai."

"Jangan membahasnya sekarang, aku sedang menghukumnya gara-gara dia juga ikut-ikutan Naruto dan Chouji."

"Sedang marahan yaa."

"Tidak juga, pokoknya dia harus menerima akibatnya."

"uhm..., jangan telalu lama, nanti kau sendiri merasa kesepian."

"Sakura, harusnya kau mendukungku."

"Abisnya, jika seperti itu dengan Sai. Kau akan curhat sepanjang hari, jelas-jelas itu ada kesalahanmu."

"Kau memang sahabat terbaikku, sampai harus menegurku akan masalah ini."

"Ya sudah, aku duluan yaa."

"Dah."

"Dah."

Sakura berjalan menuju gerbang dan mendapati Sasuke sudah menunggunya.

"Lama, apa yang kau lakukan?"

"Ino menahanku tadi."

"Hn."

"Apa kau marah?"

"Marah?"

"Iya."

"Tidak, lama kelamaan orang juga akan tahu."

"Aku pikir kau marah."

Sakura naik ke atas motor Sasuke, sepertinya dia tidak perlu sungkang untuk merangkul pinggang Sasuke, Sasuke hanya tersenyum merasa lengan Sakura suka melingkar manis di pinggang.

Mereka sudah sampai, Sakura turun dan berjalan menuju rumahnya. Sasuke mendorong Pagar rumahnya dan memasukkan motornya, setelah memarkir motornya, Sasuke berjalan masuk mendapati ruang tamu kosong, Itachi biasanya berada di ruang tamu, mungkin ada di kamar, pikir Sasuke. detik berikutnya Sasuke merasa ada menatapnya, bulu kuduknya merinding.

"Saa..~Suu..~kee...~" suara yang sengaja di hororkan dan sebuah tangan memegang bahu Sasuke.

"HUUUAAAAAAHHHHH...!"

Sasuke sangat terkejut, sampai-sampai dia berteriak, imagenya yang cool hancur begitu saja.

"Ada apa Sasuke?"

Itachi berlari ke arah Sasuke, melihat Itachi datang menghampirinya, Sasuke spontan berlari dan bersembunyi di belakang Itachi, Sasuke melirik ke depan dari bahu Itachi dan melihat Shisui yang sudah tertawa terbahak-bahak. Sasuke melupakan Shisui yang masih berada di rumahnya.

"Shisui, apa yang kau lakukan?" tanya Itachi.

"Hahahaha, kau melihatnya tidak, wajah Sasuke tadi, hahahaha"

"Diam kau!" protes Sasuke yang masih tetap pada posisinya, bersembunyi di belakang Itachi.

"Sudah lama sekali aku tidak mengerjainya."

"Kau ini, ingat umur, kau bukan anak kecil lagi." kesal Sasuke

"Hahaha, habisnya, kau yang masih terlihat seperti anak kecil."

"Pergi kau dari sini!"

"Aku tidak mau."

"Atas wewenang Itachi, aku menyuruhmu pulang."

"Hei-hei meskipun dalam pekerjaan Itachi adalah atasanku, tetap saja dalam keluarga, aku yang lebih tua darinya. Wewenangnya tidak akan berlaku padaku. Hahahah."

"Kalau begitu aku akan menelpon kakek, biar dia yang menyuruhmu pulang." Sasuke tersenyum licik.

"Oke-oke, aku menyerah, jangan menelpon kakek. Aku tidak akan mengganggumu."

Itachi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Shisui masih saja suka memulai perangnya dengan Sasuke.

"Bagus, kalau begitu pulang sekarang."

"Aku akan pulang kalau Itachi sudah menyelesaikan semua berkasnya."

"Berkas apa?"

"Heheheh, ada banyak berkas yang Kisame tidak bisa kerjakan, jadi aku harus menyelesaikannya." Ucap Itachi dan menunjuk ruang kerjanya yang terbuka dan tumpukkan kertas menggunung yang terlihat di atas mejanya.

"Kalian berdua pulang sana." Kesal Sasuke.

Itachi dan Shisui hanya tertawa melihat tingkat Sasuke.

"Oh iya, aku tidak datang hanya untuk Itachi, kakek juga menyampaikan pesan padamu."

"Apa?"

"Dia menyuruhmu untuk kembali ke kawasan Uchiha."

"Aku sibuk, aku tidak akan pulang."

"Saat kau liburan kau harus pulang."

"Tidak akan."

"Kalau begitu aku akan mengadu pada kakek kau tidak akan pulang."

"Sial."

"Ya ampun... kalian berdua ini."

Itachi kembali ke ruangannya, Shisui dan Sasuke membuatnya tambah sakit kepala. Dia harus segera menyelesaikan berkas-berkas penting itu.

Kakek mereka, Uchiha Madara, orang yang paling berkuasa di kawasan Uchiha. Meskipun dia tidak menjalankan apapun secara langsung, dia tetap terus mengawasi semua perusahan milik Uchiha. Satu-satunya orang yang paling di takuti oleh semua orang di clannya. Walaupun Sasuke dan Shisui sangat dekat dengan Madara, mereka tetap mematuhi Madara. Madara adalah tipe orang tegas, dia tidak segan-segan jika mengambil keputusan. Sasuke pernah sekali di kurung di ruangan kurungan yang ada di kediaman Madara beberapa minggu gara-gara menyerang Itachi.

"Sasuke."

"Apa? jangan menggangguku lagi."

Shisui mendekati Sasuke dan berbisik.

"Itachi bilang kau sedang mendekati seorang gadis yaa, kenalkan padaku."

"Tidak ada."

"Bohong."

"Bukan urusanmu."

"Tidak mungkin tidak ada gadis yang mendekatimu. Saat kau di kawasan Uchiha kemana-kemana kau selalu di kerumuni wanita-wanita cantik. Bahkan saat tinggal di kediaman kakek. Mereka seperti mainanmu saja, hahaha."

"Sudah cukup, aku tidak ingin mendengar masa lalu."

Sasuke berjalan naik ke lantai dua menuju kamarnya. Dari pada Itachi, Shisui yang juga tinggal di kediaman Madara lebih mengetahui Sasuke. bahkan saat Sasuke terpuruk sekali pun, hanya Shisui yang mengetahuinya. Rencana Shisui yang ingin menghibur Sasuke berubah menjadi menjahilinya.

Bel pintu rumah Sasuke berbunyi, Sasuke sudah berada di kamarnya, Itachi sibuk dengan kertas-kertasnya, Shisui yang membukakan pintu.

"Apa Sasuke ada ?"

Seorang gadis dengan rambut softpinknya, kulit putihnya, warna matanya yang hijau, benar-benar ini pemandangan yang indah bagi Shisui.

"Anda siapa?"

"Aku Haruno Sakura, tetangga Sasuke, dan anda sendiri?"

"Aku Uchiha Shisui, aku kakak sepupu Sasuke."

Sakura menatap Shisui, menurutnya apa semua clan Uchiha berwajah tampan, ini untuk pertama kalinya Sakura melihat Uchiha lain. Dia begitu terlihat dewasa hampir sama dengan Itachi, hanya saja dia tipe yang ceria.

"Salam kenal."

"Salam kenal juga, tunggu yaa, akan aku panggilkan Sasuke."

"Mungkin tidak usah. Aku hanya ingin menitipkan ini, tolong berikan kepada Sasuke."

"Baiklah."

Sakura memberikan dua buku tebal kepada Shisui dan pamit untuk pulang.

Sasuke baru turun dari kamarnya dan mendapati Shisui dengan wajah merona dan mematung di ruang tamu.

"Oi, Susi, apa yang kau lakukan disitu?"

"Jangan ubah namaku seenaknya. Aku tadi abis melihat bidadari."

"Apa kau sedang geger otak?"

"Tidak Sasuke, ini benar-benar seorang bidadari."

Sasuke melirik ke arah meja ruang tamu dan mendapati buku yang sepertinya dia pernah memintanya dari Sakura.

"Dari mana buku-buku itu?"

"Itu tadi, bidadari yang cantik itu yang membawakannya."

Sasuke memasang wajah tidak suka. Shisui sudah bertemu Sakura.

"Namanya Haruno Sakura, seperti orangnya, dia bagaikan bunga Sakura."

Sasuke mengambil buku-buku dan menatap Shisui.

"Jangan mengganggunya."

"Kenapa?"

Sasuke terdiam, kemudian membuang mukanya dan memasang muka datar, bergegas pergi dari hadapan Sasuke.

"Tunggu Sasuke."

Sasuke berhenti namun tidak berbalik menatap Shisui.

"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?"

"Aku tidak akan waktu akan hal itu."

"Aku rasa kau akan suka dengan kesepakatan ini."

"Apa maumu?"

"Kenalkan aku pada Sakura, dan aku akan memberitahu hasil informasi yang ku dapat tentang pembunuh orang tuamu."

Sasuke terlihat sedang berpikir akan tawaran Shisui. Untuk masalah Informasi, Shisui tidak bisa di anggap remeh, dia seorang hacker yang terpercaya di dalam Uchiha, Mata-matanya banyak dan semuanya menghormati Shisui, jika ada yang berkhianat, hukuman mati berlaku pada mereka.

"Bagaimana? selama ini kau penasaran kan, apa benar Itachi yang melakukannya atau tidak."

Itachi yang ruangannya kedap suara, tidak mendengar apapun dari ruang tamu, dia kini tengah sibuk membaca satu persatu berkas dan segera menandatanganinya jika berkas itu perlu di sahkan.

"Aku akan terjebak dengan mereka beberapa hari ini, dasar kalian orang tua botak-botak, bikin repot saja."

Itachi meghela napas panjang dan kembali membaca tumpukkan berkasnya.

"Bagaimana Sasuke?"

"Besok jam 1 di cafe, kita akan bertemu di sana."

"Okey."


Shisui sudah menuggu di Cafe, tempat dimana dia akan bertemu dengan Sasuke. Sudah lewat 10 menit namun Sasuke belum juga muncul. Di edarkannya pandangnya di cafe itu, terlihat banyak gadis-gadis cantik.

'Ini surga'

Hal yang terlintas di pikiran Shisui, sebenarnya dia bukan tipe playboy, dia hanya suka melihat yang indah-indah, dan dia bukan tipe yang suka membuat gombal manis pada gadis manapun, dia hanya suka melihat mereka.

Tanpa sadar Sasuke sudah berdiri di hadapannya dan menatap cuek ke arah Shisui, Sasuke bisa membaca pikiran Shisui sekarang.

"Akhirnya kau datang juga." Tatapan Shisui mengarah ke belakang Sasuke. "Sakura, selamat siang." Matanya berbinar-binar menatap Sakura.

"Selamat siang kak Shisui."

"Ayo silahkan duduk, jangan sungkan." Shisui hanya menawarkan pada Sakura. "Kau mau pesan apa? Aku akan mentraktirmu." Lanjut Shisui.

"Minggir kau."

Sasuke mendorong Shisui menjauh dari Sakura. Sakura tampak bingung melihat tingkah Sasuke yang tidak biasanya.

Sasuke sudah duduk di samping Sakura dan Shisui duduk berhadapan dengan Sasuke.

"Apa tidak apa-apa mengajak Sakura?"

"Tidak apa-apa, dia sudah tahu."

"Oh. Eh..! kau menceritakan masalah keluargamu kepadanya?"

"Memangnya kenapa?"

"Tapi-tapi-"

"Sudahlah, Sakura bukan orang yang suka membongkar aib, kau tenang saja, lalu informasi apa yang kau ketahui."

"Aku menemukan ini."

Shisui memperlihatkan sebuah foto seseorang dengan rambut silvernya dan kacamatanya.

"Namanya kabuto. Apa kau pernah mendengarnya?"

"Kayaknya aku pernah mendengar namanya, apa dia salah satu orangnya Itachi?"

"Bisa dibilang, dia asisten pribadi teman Itachi. Namanya Orochimaru."

"Orochimaru? Aku pernah bertemunya sekali saat dia, ayah dan Itachi bertemu di kantor perusahaan ayah."

Sakura dengan tenang mendengar percakapan Shisui dan Sasuke.

"Oh, kau sudah pernah bertemu. Aku mencurigai Kabuto sebagai pelakunya, apa kau masih ingat orang yang ada di TKP?"

"Rambutnya berwarna hitam, dan dia mirip Itachi."

"Aku pikir dia menyamar sebagai Itachi. Bisa saja."

Sasuke terdiam dan mulai mencerna dengan baik kemungkinan-kemungkinan yang di ucapkan Shisui.

"Ngomong-ngomong, sekarang dia dimana?"

"Dia menghilang, bahkan di beberapa kota besar aku tidak menemukannya."

"Kau tidak mencarinya di kota-kota kecil? Atau di kota yang bahkan tidak tersetuh oleh klan Uchiha?"

"Ide bagus. Otakmu benar-benar encer, pantes saja kakek sangat menyukaimu." Ucap Shisui dan mengusap-ngusap kepala Sasuke.

"Hentikan itu." Sasuke menepis tangan Shisui dari kepalanya.

"Selanjutnya." Shisui bergeser ke hadapan Sakura. "Sesuai janji. Nah Kita bertemu lagi nona Sakura."

"Eh, I-iya."

Sakura sedikit terkejut, di alihkan pandangnya ke arah Sasuke yang masih terlihat tenang, dan kembali melirik ke arah Shisui yang sudah tersenyum manis di hadapannya.

"Ternyata kau teman Sasuke yaa. Apa kalian sudah lama ketemu?"

"Iya, lumayan lama."

"Kalau di lihat sedekat ini, Sakura sangat cantik yaa."

Tiba-tiba buku menu mendarat di muka Shisui.

"Cepat pesan sesuatu, aku lapar." Ucap Sasuke, sedikit, ralat sangat kesal.

"Dasar kau Sasuke. tidak bisa lihat orang senang."

Akhirnya mereka bertiga memesan makan dan minuman yang ada di cafe itu. Seperti kata Shisui dia yang akan mentraktir mereka. Setelah beberapa menit pesanan mereka sudah datang. Cafe ini adalah salah satu cafe yang terkenal di Konoha, dan hanya cafe ini yang membuat kue yang sesuai dengan lidah Sasuke, mereka membuat beberapa kue khusus untuk orang-orang yang tidak terlalu suka yang manis.

"Aku baru tiba kemarin dari Konoha, Sakura, maukah kau menemaniku berkeliling di Konoha?"

"Aku menolak." ucap Sasuke.

"Hei, Sasuke, aku bertanya pada Sakura."

"Kau mau cari gara-gara denganku?"

Tatapan mereka seperti ingin menyerang satu sama lain, jika nama Uchiha tidak melekat pada mereka, cafe itu sudah hancur akibat perkelahian mereka. klan Uchiha selalu menjaga image saat di luar.

"Apa selalu seperti ini?" ucap Sakura melihat mereka saling tatap tidak suka.

"Tidak juga kok, hanya kadang-kadang saja." Ucap Shisui dan tersenyum, Shisui mengalihkan pandangannya dari Sasuke.

"Sakura, cepat selesaikan makanmu dan kita segera pulang."

"Apa? Langsung pulang? Kau saja yang pulang biar aku yang mengantar Sakura."

"Kau ini."

Sakura segera menutup mulutnya jika saja bukan karena tertawanya sudah meledak. Selain Sasori, ternyata masih ada orang yang lain lagi yang bisa membuat Sasuke semarah ini. Shisui ikut-ikutan tertawa melihat tingkah Sasuke, dia terlihat sangat cemburu. Sasuke menopang dagunya dan mengalihkan pandanganya dari kedua orang yang kompak menertawainya saat ini.


Sudah tiga hari Itachi masih bergelut dengan lembaran-lembarannya, masih ada satu tumpukkan lagi, dia harus segera menyelesaikannya.

Tok! tok!

Seseorang mengetuk pintunya dan Itachi mempersilahkan orang itu masuk, terlihat Sakura dan sebuah nampang yang di bawanya berisi puding coklat.

"Aku pikir kak Itachi akan suka dengan puding coklat ini." ucap Sakura.

"Terima kasih Sakura. Apa kau tidak sibuk hari ini? sampai-sampai repot membuatkan puding."

"Hari ini aku libur, jadi aku ada waktu untuk membuatnya."

"Apa kau sudah bertemu dengan Shisui?"

"Sudah."

"Bagaimana?"

"Dia orang yang baik dan humoris, Sasuke sampai kewalahan menanganinya."

"Mereka memang seperti itu. Meskipun begitu, hanya Shisui yang bisa mengerti setiap keadaan Sasuke."

"Oh, gitu ya."

"Mereka dimana?"

"Sedang berada di ruang tamu dengan puding mereka sendiri."

Sementara itu di ruang tamu.

"Kau sudah mengambil jatahmu! Ini punyaku!" ucap Sasuke.

"Rasanya enak, aku mau lagi, berikan punyamu Sasuke."

"Tidak akan! Pulang sana."

"Apa-apaan itu, selalu saja menyuruhku pulang."

"Kau hanya pengganggu di rumahku."

"Pokoknya berikan pudingmu."

Mereka bertengkar cuma gara-gara sebuah puding.

Kembali ke ruangan Itachi. Sakura berjalan masuk dan menaruh puding Itachi di mejanya. Sakura mengambil beberapa kertas dan membacanya, semuanya berisi berkas-berkas penting tentang perusahaan Uchiha.

"Bisa membantuku?"

"Aku tidak terlalu pintar dalam masalah berkas bisnis."

"Kau hanya perlu membacanya, jika menurutmu itu perlu di setujui aku akan menandatanganinya."

"Aku akan mencoba sebisaku."

"Terima kasih, Sakura."

"Mungkin kak Itachi makan dulu pudingnya."

"Iya."

Beberapa menit berlalu, mereka berdua duduk di sofa ruang tamu, Sasuke menatap kesal ke arah Shisui yang berhasil mengambil separuh pudingnya. Sasuke membaca bukunya dan Shisui hanya mengotak-atik ponselnya.

"Bagaimana kalau mengajak Sakura ke kawasan Uchiha?"

Sasuke menghentikan bacaannya dan menatap Shisui.

"Untuk apa?"

"Mengajaknya liburan di sana."

"Kau merencanakan sesuatu?"

"Kau ini, selalu saja berpikir negatif tentangku, kau perlu mengenalkannya pada kakek, siapa tahu kakek menyukainya."

"Aku tidak peduli."

"Oh, baiklah, terserah kau saja, tuan muda."

Tiga jam berlalu, Sasuke sedikit penasaran, apa Sakura masih ada berada di dalam ruangan Itachi, ini sudah terlalu lama jika dia masih di sana. Tanpa mengetuk Sasuke masuk dan melihat ruangan itu. Tampak Sakura sedang membaca beberapa berkas di kursi yang berada di sudut ruangan dan Itachi masih menstempel dan menandatangi beberapa berkas.

"Kau menahan Sakura dengan berkas-berkasmu?"

"Hehehe, maaf, akan lebih mudah jika ada yang membantuku."

"Kau seharusnya yang menyelesaikannya sendiri. Sakura sebaiknya kau pulang."

"Sebentar lagi, aku tidak apa-apa kok."

"Itachi, kau membuatnya repot lagi."

"Maaf-maaf, Sakura jika sudah capek, kau bisa pulang kok."

"Tinggal sedikit lagi, tanggung, aku ingin ini juga kelar, menurutku sedikit menyenangkan bisa membaca beberapa berkas ini, memikirkannya saja membuatku sangat tertarik. Apa aku harus memberi mereka lahan baru, apa aku harus mengganti produk mereka, bagaimana aku bisa menekan anggaran yang ada di perusahan, apa aku harus memberi pinjaman baru, atau apa aku harus mempulangkan mereka yang sudah tidak bisa bekerja dan memberi kompenisasi, sebagai pemegang saham ternyata berat juga, banyak hal yang harus kau lakukan untuk mendapatkan kesuksesan."

"Kau benar Sakura. ahk, rasanya aku pengen punya sekertaris sepertimu."

"Kau sudah punya Kisame, Tobi, dan Shisui, kau tidak butuh sekertaris lagi."

"Kata-katamu jahat juga Sasuke."

"Aku akan membantu, jika sudah selesai, kau segera pulang."

"Iya." Ucap Sakura

Sasuke berjalan menghampiri Sakura dan duduk di sampingnya, Membantu Sakura membaca beberapa berkas dan setelahnya memberikan berkas yang layak untuk di setujui.


Hari ini Sasori akan kembali ke Suna, dia sudah menyelesaian pekerjaannya di Konoha, di bandara terlihat Sasuke dan Sakura, sesuai janji, Sakura datang, Nagato yang masih ada kesibukan, sudah pulang lebih dahulu, hanya ada dua pengawalnya yang menjaga Sasori sebelum naik pesawat.

"Aku pikir kau akan lupa."

"Tidak akan, aku sudah janji padamu."

"Dan ku pikir kau akan datang sendirian, malah mengajak si muka tembok ini."

Sasuke hanya memasang wajah datar, dia sudah tidak perlu meladani anak egois ini lagi, sesuai pesan Sakura, dia harus lebih bersabar.

"Ada yang ingin ku bicarakan denganmu Sasuke."

Sasori berjalan menjauh dari Sakura dan di ikuti Sasuke.

"Apa yang ingin kau katakan?"

"Aku pernah bilang, kalau aku hampir melakukan itu pada Sakura..."

Sasuke terdiam, menunggu Sasori menyelesaikan ucapannya, meskipun tidak suka dengan pembicaraan Sasori yang kembali mengulang ucapan yang membuatnya naik darah dan tidak bisa mengontrol diri.

"...Sakura, mengucapkan namamu, padahal dalam keadaan mabuk, dia masih bisa menyebutkan namamu dengan baik, aku rasa aku benar-benar sudah kalah darimu."

"Oh, jadi sekarang kau sudah menyadari kekalahanmu."

"Cih, aku akan selalu membencimu."

"Terserah kau saja."

"Tolong jaga Sakura."

"Hn. Sasori."

"Apa?"

"Maaf. Sudah memukulmu."

Sebuah senyum terukir di wajah Sasori. Dia sudah memaafkan Sasuke saat sudah memukulnya. Menurut Sasori, itu adalah hal yang membuatnya sadar akan sikapnya.

Mereka kembali dan Sasori bersiap-siap untuk naik pesawat. Sasori pamit kepada Sakura dan Sasuke.

"Apa yang kalian bicarakan?"

"Bukan masalah penting."

"Apa itu?"

"Ini rahasia antara sesama pria."

"Menyebalkan. Jadi sekarang kau menganggapnya sebagai seorang pria?"

"Tidak juga, dia masih anak-anak yang perlu didikan sopan santun dan tata krama yang baik dan benar."

Sakura tersenyum mendengar ucapan Sasuke. cara memberi perhatian Sasuke kepada Sasori terasa seperti Sasuke membecinya, padahal Sasuke tidak membencinya, hanya pandangan berbeda dari keduanya.


Jadwal kuliah yang berbeda membuat Sasuke sedikit malas di dalam rumah, Sakura sekarang berada di kampus dan dia hanya berbaring di sofa ruang Tv menggonta-ganti channel tv, sesekali Sasuke melirik ke arah ponselnya.

Sasuke terbangun dan menatap layar ponselnya, tanggal 25 maret, Sasuke melirik ke arah tanggal lain dan sebuah senyum terukir di wajahnya.

Suasana rumahnya sedikit tentram dengan Shisui berada di kamarnya dan juga belum turun. Itachi masih ada di ruangannya, dia sedang menata berkas-berkasnya yang sudah selesai. Sasuke datang berdiri di depan pintu ruangan Itachi.

"Ada yang ingin ku tanyakan." Tanya Sasuke

"Apa?" Itachi tidak menghentikan kegiatannya dan menunggu Sasuke berbicara.

"Kira-kira hadiah apa yang bagus untuk seorang gadis?"

"Hadiah untuk seorang gadis? Uhm.. apa yaa, ahk, menurutku yang bagus itu adalah sebuah pernikahan."

"Mati saja kau!"

Sasuke pergi dan membanting pintu ruangan Itachi, wajahnya sangat memerah, mana mungkin dia langsung melakukan hal itu. Dia butuh banyak persiapan.

"Dia jadi marah begitu, padahal aku hanya bercanda."

Sebuah senyum terukir di wajah Itachi, sangat lucu jika mengganggu Sasuke. Itachi kembali sibuk merapikan ruangannya.

Sasuke berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air minum, rasanya percuma jika yang dimintai pendapat itu adalah kakaknya.

Shisui masuk ke dalam dapur dan mencari beberapa cemilan di kulkas. tidurnya yang sangat lama membuatnya lapar.

"Aku sarankan pintu-pintu yang ada di rumahmu ini harus terbuat dari besi." Shisui menyinggung Sasuke yang tadi membanting pintu ruangan Itachi.

"Sebaiknya kau segera bereskan barang-barangmu, Itachi sudah menyelesaikan berkas-berkas bodohnya." Sasuke tersenyum mengejek di depan Shisui.

"Sayang sekali, aku sudah minta ijin di kakek dan dia bilang aku boleh pulang saat kau berlibur, jadi kita bisa pulang sama-sama, ide yang bagus kan."

"Berisik."

"Yeey, kita akan bersama-sama sebulan ini."

Sasuke pergi meninggalkan dapur, Shisui membuatnya bertambah kesal.

"Hei Sasuke. kalau hadiah yang bagus untuk seorang gadis, mungkin kencan yaa."

"Aku tidak butuh saranmu."

"Bisakah kau mendengarkan sedikit perkataan orang yang lebih tua darimu?"

Sasuke sudah menghilang dari dapur dan sedang menuju kamarnya.


Tanggal 28 maret, hari kamis.

Sasuke mengutuk tanggal yang tidak tepat dengan harinya, dia ingin jika tanggal 28 itu adalah hari minggu. Apa yang dia lakukan sekarang. Berbaring malas di sofa. Kamis itu adalah hari di mana jadwal kuliahnya dan Sakura berbeda, Sakura akan pulang jam 4 sore. Membuatnya sedikit frustasi dan sangat-sangat kesal, jika saja Shisui mengganggunya hari ini, besok adalah hari pemakaman Shisui, untung saja dia sedang keluar dengan Itachi. Sasuke memikirkan apa yang bisa di lakukannya dengan Sakura untuk sore hari ini, ke taman bukan waktu yang bagus. Terlintas sejenak di pikiran Sasuke.

'makan malam'

Menurutnya itu ide yang bagus, meskipun tidak bisa menghabiskan waktu bersama Sakura seharian ini, dengan makan malam sudah cukup, Sasuke segera mengambil ponselnya dan memesan tempat yang akan di datanginya.

Menunggu bukan hal yang paling gampang di lakukan Sasuke. membuatnya tidak bisa menahan kantuk dan dia tertidur.

Pukul 20:35

Sasuke membuka matanya dan suasana ruangan yang gelap. Sasuke tertidur dan lupa menyalakan lampu rumahnya. Dengan sedikit malas, Sasuke bangun dari sofa, berjalan mencari saklar lampu dan menyalakan lampu ruangan. Kamar Itachi dan Shisui masih kosong, sepertinya mereka belum pulang. Sasuke kembali ke sofanya tadi dan melirik ponselnya. Detik berikutnya wajahnya berubah menjadi sangat-sangat kesal, dia lupa akan jadwal makan malamnya hari ini. dengan sedikit tergesa-gesa, Sasuke berlari ke arah rumah Sakura, beberapa kali mengetuk pintu Sakura dan si pemilik rumah keluar.

"Sasuke?"

"Ahk, sudahlah, tidak jadi."

Sasuke menjadi malas dan mengutuk dirinya sendiri yang melupakan hari ini.

"He? Ada apa Sasuke."

"Tidak ada, aku hanya sedang kesal akan sesuatu."

"Hoo, uhm, Sasuke, mau menemaniku sebentar?" ucap Sakura, matanya tidak ingin menatap Sasuke, dan memilih menatap lantai dan sedikit terlihat merona di wajahnya.

Kalau pulang pun, dia hanya akan mendapati rumah yang kosong, mungkin sebaiknya dia menemani Sakura. kebetulan ini adalah hari spesialnya. Sasuke berjalan masuk dan duduk di ruang tamu.

"Tunggu di sini yaa."

Sasuke mengangguk perlahan dan menunggu Sakura yang berjalan menuju dapur.

Sakura pikir, Sasuke melupakan hari ini. walaupun begitu, Sakura ingin menarayakan hari ulang tahunnya bersama Sasuke. sebelumnya dia selalu merayakannya sendiri. Kadang Ino menemaninya, tapi saat di kampus Ino sudah memberinya kejutan dengan kue yang akhirnya dimakan bersama satu kelas. Sakura berjalan ke ruang tamu dengan kue dan dua botol soda.

"Aku ingin merayakannya bersamamu."

"Maaf, aku tidak lupa, hanya saja rencana yang kulakukan hari ini aku tidak bisa melakukannya."

"Tidak apa-apa, aku lebih suka seperti ini."

Sakura meletakkan kuenya dan menunggu Sasuke menyalakan lilin yang menghiasai setiap pinggir kue yang tertutupi dengan krim coklat dan beberapa buah stroberi di atasnya. Setelah semua lilin menyala, Sakura mengucapkan permohonannya dan meniup semua lilin.

"Happy birthday to you...~ happy birthday to you..~ happy birthday to you, Sakura.. happy birthday to you...~"

Itachi dan Shisui masuk begitu saja dan menyanyikan lagu untuk Sakura.

"Kak Itachi, kak Shisui."

"Maaf, terlambat, kami sampai bingung harus memberimu apa."

Shisui dan Itachi ikut bergabung. Menaru beberapa kotak pizza dan menambah minuman bersoda, hari ini mereka pergi mencari hadiah untuk Sakura. mereka keluar tanpa memberitahukan Sasuke.

"Oh, jadi kalian sengaja melakukan ini, pura-pura tidak tahu hari ini dan meninggalkanku di rumah."

Sasuke terlihat sangat kesal, jika saja ada yang tinggal di rumah, ada yang bisa membangunkannya.

"Sudah, jangan bertengkar, terima kasih, kalian mau merayakannya bersamaku," ucap Sakura senang.

Sasuke masih merasa kesal dan memilih pulang. Melihat Sasuke pulang, Itachi dan Shisui menyuruh Sakura mengejarnya, biar mereka yang menata makanan.

"Dia marah besar." Ucap Shisui.

"Biarkan saja, dia memang selalu begitu kan."

Sasuke sudah berada didepan pagar Sakura.

"Sasuke, tunggu."

"Masuklah, kau harus merayakan ulang tahunmu."

"Kau juga harus ikut."

"Aku malas jika ada mereka."

"Bisakah kalian akur sejenak."

"Tidak akan."

Sakura memegang lengan Sasuke dengan kuat.

"Untuk hari ini saja. Aku mohon"

Sasuke menghela napas panjang dan menatap Sakura. yang di tatap malah merona. Sasuke tidak bisa menolok jika Sakura yang memohon padanya.

"Lain kali aku akan mengajakmu pergi."

Sakura mengangguk.

"Happy brithday Sakura."

Sasuke mengecup sepintas bibir Sakura. Pupil mata Sakura melebar dan wajahnya semakin merona. 'first kiss' Sakura sudah di ambil Sasuke. merasa seperti mimpi Sakura mencubit pipinya. Wajah Sasuke berubah datar menatap Sakura mencubit sendiri pipinya.

"Apa? Apa kau pikir ini mimpi. Haruskah aku mengulanginya lagi."

"Hee! ti-tidak perl-"

Ucapan Sakura terpotong. Sasuke mencium bibirnya lagi dan sedikit lebih lama dari yang pertama. Setelahnya Sakura langsung memeluk Sasuke. Sasuke membalas pelukan Sakura.

"A-aku rasa ini bukan mimpi." Ucapnya gugup dan wajahnya masih merona.

Sakura terlihat begitu senang, Meskipun Sasuke belum memberinya hadiah apa-apa, di pikirannya bersama Sasuke sudah seperti sebuah hadiah.

Mereka kembali ke dalam rumah Sakura dan mendapati Itachi dan Shisui sudah sibuk dengan makanan dan kaleng-kaleng soda yang kosong berserakkan di lantai, demi Sakura mereka tidak membawa minuman beralkohol akan fatal jadinya jika Sakura kembali salah minum.

"Kalian ini, setidaknya sopanlah sedikit di rumah orang." Ucap kesal Sasuke.

"Tidak apa-apa, nanti kami yang akan membersihkannya." Ucap Itachi.

"Oh iya, ini hadiah dari kami." Ucap shisui

Shisui memberikan sebuah kotak kepada Sakura.

"Apa ini?"

"Buka saja." Ucap Itachi.

Sakura duduk di karpet dan mulai membuka kotak berwarna hijau tosca itu. Di dalamnya terdapat sebuah cangkir berwarna hitam dengan ukiran bunga Sakura di sisi-sisi cangkir itu.

"Terima kasih, maaf sudah merepotkan kalian."

"Tidak apa-apa, kami bingung mau memberikan apa, saat keluar tadi, kami bertemu dengan teman lama, seorang pengrajin terkenal, secara khusus dia memberikan cangkir yang di buatnya sendiri beberapa bulan yang lalu, menurutnya cangkir ini akan terlihat lebih cantik jika seorang gadis seperti mu yang menggunakannya." Ucap Itachi.

"Dasar gombal." Ucap Sasuke.

"Memangnya apa yang kau berikan kepada Sakura ha?" senggol-senggol Shisui.

Wajah Sakura berubah menjadi merah. mungkin sedikit bodoh, tapi sakura pikir ciuman pertamanya dengan Sasuke adalah hadiah.

"Sakura wajahmu merah." ucap Itachi.

"I-itu, eh, bu-bukan apa-apa, wajahku tidak apa-apa kok."

"Wah beneran memerah, hei Sasuke, hadiah apa yang kau berikan?" Shisui semakin penasaran dengan tingkah Sakura yang salah tingkah dan Sasuke yang malas menanggapi pernyataannya.


"Akhirnya semua tugas selesai dan tidak perlu repot lagi dengan tugas-tugas itu." Ucap Ino, terlihat sangat senang.

"Iya, akhirnya tidak ada tugas yang menggunung lagi."

"Bagaimana kalau kita rayakan, kita pergi nonton atau jalan-jalan, bagaimana? Sudah lama kita abiskan waktu bersama. Ayolah, ayolah."

"Iya-iya."

Ino dan Sakura membuat janji untuk pergi nonton bersama dan menghabiskan waktu bersenang-senang.

.

.

.

Tiba saat janjian. Ino menatap malas ke arah dua orang pria yang ngotot ingin ikut.

"Aku sudah bilang, ini acaraku dan Sakura." Protes Ino.

"Kebetulan aku mau nonton film yang sama." Ucap Sai.

Sasuke cuek tidak ada respon, kalau di terjemahkan, dia mau menemani Sakura.

"Kalian berdua pulang!"

"Su-sudahlah Ino, mungkin bagusnya kita nonton sama-sama saja." Sakura menenangkan Ino.

Menyuruh mereka pulang pun akan sia-sia, Ino mengikuti ucapan Sakura. akhirnya mereka pergi bersama dan jadi kencan ganda.

Sesampainya di bioskop Ino yang memilih film. Ino memili film gendre romance yang membuat Sasuke sampai tertidur dan Sai antusias. Film berakhir dan Sakura membangunkan Sasuke yang tertidur sepanjang film.

"Kau ngantuk?" tanya Sakura

"Tidak, aku hanya bosan dengan film tadi."

Sakura tertawa kecil mendengar ucapan Sasuke. Sai dan Ino sudah berjalan keluar, Sasuke dan Sakura mengikuti mereka.

Ino mengajak Sakura ke toko-toko pakaian dan aksesoris. Semua toko di masuki bahkan toko pakaian dalam wanita yang membuat Sai dan Sasuke sedikit merinding saat di dalam, yang ada di sana hanya wanita dan menatap mereka seperti menatap pria hidung belang.

"Ino, bisakah kita cepat keluar dari sini." Ucap Sai.

"Tunggu di situ dan jangan bergerak." Ucap Ino yang masih asik memilih pakaian dalam bersama Sakura.

Sai menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan Sasuke tetap dengan pandangan cueknya. Mereka menatap ke sekeliling ruangan dan apa yang mereka lihat. Tatapan gadis-gadis, wanita-wanita, ibu-ibu bahkan beberapa nenek-nenek mematung menatap mereka berdua.

"Hei, Sasuke apa penampilanku ada yang aneh." Bisik Sai.

"Tidak. Kalau aku?"

"Tidak juga, tapi kenapa tatapan mereka berubah menjadi seperti singa lapar yaa."

"Aku tidak tahu, tenanglah, jangan membuat tindakan gegabah."

Sejam kemudian, Sakura dan Ino selesai dan membayar di kasir. Ada sedikit suara gaduh di dalam ruangan itu. Sakura dan Ino yang penasaran berlari dan mendapati sebuah kerumunan para wanita, mereka seperti sedang memburu pakaian dengan harga diskon yang tinggi. Samar-samar namun Sakura dan Ino bisa mendengar teriakan 'minta tolong' dari para lelaki yang mereka bawa.

Kegaduhan berhasil di redam oleh pemilik toko, dan mereka kembali berbelanja dengan tenang, mereka pikir Sasuke dan Sai adalah pegawai dan mereka berebutan untuk di layani oleh dua pria yang sangat tampan dan akhirnya kacau.

"Kau terluka?" Tanya Sakura menatap Sasuke dengan pakaiannya kusut dan rambutnya sedikit berantakan.

"Aku tidak apa-apa."

"Syukurlah."

Sakura merapikan rambut dan pakaian Sasuke. Sasuke hanya terdiam dan sedikit menundukkan kepalanya agar Sakura sampai.

"Aku sudah bilang untuk tidak bergerak, kau pasti sudah memancing mereka." Ucap Ino.

"Hee? Aku tidak melakukan apapun, mereka yang memburu kami seperti melihat santapan yang enak."

"Aku tidak percaya. Cepat sini, rambutmu acak-acakkan." Ino sedikit emosian tapi dia tetap khawatir dengan keadaan Sai yang tidak jauh beda dengan Sasuke.

Setelah insiden di toko pakaian dalam mereka memasuki sebuah cafe dan beristirahat sejenak.

"Huff..~ aku pikir kita akan mati Sasuke." ucap Sai.

"Mereka terlalu banyak."

Sakura tertawa mendengar percakapan mereka dan Ino tersenyum, mereka berusaha keras untuk keluar dari kerumanan itu tapi malah semakin tertarik, ada beberapa ibu-ibu dengan badan yang besar yang tidak bisa di tandingi oleh Sasuke dan Sai, mereka terpaksa tenggelam begitu saja dengan para wanita-wanita itu.

"Jangan remehkan para wanita."

"Lain kali kami tidak akan ikut ke sana, mungkin hanya menunggu di luar saja."

"Saran yang bagus. Sejak awal aku sudah bilang, aku ingin bersenang-senang dengan Sakura. kalian sendiri yang sibuk ingin ikut."

"Uhuk, aku di paksa Sai." Ucap Sasuke dan melirik kesembarang arah.

"Oi-oi, aku pikir ini ide kita bersama."

"Jangan libatkan aku."

Lagi-lagi Sakura tertawa. Mereka begitu akrab. Meskipun tidak selalu bertemu. Ino menghela napas tapi sedikit senang dengan tingkah mereka, begitu lucu sampai-sampai Sakura tidak bisa menahan tawanya.

Kembali ke jalan-jalan setelah perut mereka kenyang. Kali toko pernak-pernik. Mereka memperhatikan tiap barang yang ada di toko itu, begitu banyak barang, dari perhiasan sampai aksesoris untuk benda.

Sasuke berdiri di samping Ino dan membisikkan sesuatu. Ino langsung segera menarik Sasuke dan menyarankan beberapa barang untuk Sasuke. Sakura sejak tadi memperhatikan hiasan ponsel, Dia tidak memiliki ponsel, bukannya tidak bisa beli, Sakura malas menggunakannya, ponsel terakhirnya saat masih sekolah jatuh dan rusak, itu tidak terjadi hanya sekali. Beberapa kali Sakura tidak sengaja menjatuhkannya, dia sedikit cereboh dan susah untuk menjaga barang. akhirnya dia tidak ingin menggunakan barang itu lagi, dia tidak ingin barang itu rusak sia-sia di tangannya.

"Ini adalah hiasan ponsel terbaru dan terbatas nona, hanya ada satu tiap warnanya, anda mau?"

Pegawai di toko itu mengambil satu hiasan ponsel dengan tali kulitnya sepanjang 7 senti dan lebar 3 sinte berwarna hitam dan ada sebuah lonceng berwarna emas yang menggantung di rantai perak bersampingan dengan tali kulitnya, mungkin terkesan sederhana, tapi Sakura menyukainya, loncengnya terdengar merdu jika berbunyi.

"Bahannya kuat dan tahan lama, ini tidak akan mudah rusak nona."

"Aku mau tiga."

"Baik nona, anda mau warna apa?"

Sakura memilih tali hitam dengan lonceng emas, tali putih dengan lonceng merah, dan tali merah dengan lonceng perak. Sakura segera membayar dan mencari Mereka. Sakura berjalan mencari-cari dan mendapati Sai dan Ino.

"Mana Sasuke?"

"Sedang membayar." Ucap Ino.

"Dia membeli apa?"

"Aku tidak tahu, dia tidak memberi tahukan ku." Ucap Ino, jelas-jelas dia adalah orang yang menyarankan Sasuke untuk membelinya.

Kegiatan jalan-jalan mereka selesai pada sore hari, Karena sejak awal Ino dan Sakura pergi dengan naik bus, kali ini mereka harus berpisah, Sai dan Sasuke memarkir motor mereka tidak jauh dari pusat kota. Mereka segera berpisah. Walaupun menurut Ino, Sasuke dan Sai adalah pengganggu tapi dia cukup senang untuk hari ini, mereka jadi bisa bersama-sama, mereka berpisah setelah Sai dan Ino duluan pergi.

Sasuke mengambil kunci motor di sakunya dan membuka jok motor untuk mengambil helmnya dan helm untuk Sakura.

"Apa yang kau beli?"

"Nanti juga kau akan tahu."

Sakura tidak bertanya lagi, dia segera naik dan melingkarkan lengannya di pinggang Sasuke. Sakura merasa tidak perlu lagi menjaga jarak dengan Sasuke, dia takut Sasuke berpikiran kalau Sakura tidak suka menyentuhnya.

Setengah jam perjalanandan mereka berdua sudah sampai di depan rumahnya. Mereka turun dari motor.

"Terima kasih untuk hari ini."

"Hn."

"Dah, sampai jumpa besok."

"Sakura."

"Iya."

"Agak telat, tapi semoga kau suka."

Sasuke memakaikan Kalung dengan liontin berbentuk tetesan air berwarna biru muda, terlihat berkilau dengan rantainya berwarna peraknya.

"Aku suka, sebenarnya aku tidak peduli dengan hadiahnya, bersamamu saja aku senang."

"Hn. terima kasih, Sakura."

"Oh Sakura..~ mau kah kau menerima kalung ini?" ucap Itachi.

"Terima kasih Sasuke...~ aku suka dengan kalung ini." ucap Shisui.

"Mau kah kau menjadi pasangan hidupku selamanya?" ucap Itachi.

"Aku sih yes." Ucap Shisui.

Sasuke langsung menendang pagar yang lumayan dekat dengan shisui dan Itachi, pagar bergerak dan sukses memantul di kepala Shisui dan Itachi.

"Berisik kalian."

"Ya ampun Itachi, anak ini kemasukan setan apa sih." Shisui memegang jidatnya yang sakit.

"Setan Susanno mungkin." Itachi juga memegang jidatnya.

"Sepertinya kepalaku benjol nih."

"Sebaiknya kita menelpon kakek dan mengadu kalau Sasuke hampir membunuh kita."

"Setuju-setuju."

"Kalian membuat kesabaranku habis!" Sasuke memperlihatkan wajah super duper kesal di hadapan Itachi dan Shisui dan ingin melempar helmnya ke arah mereka.

"Ampuni kami tuan Sasuke, hahahahaha" serentak ucap Itachi dan Shisui.

Itachi dan Shisui kabur begitu saja dan masuk ke dalam rumah.

"Sial." Sasuke menendang lagi pagar melampiaskan kekesalannya.

Sakura terlihat begitu senang dan tertawa melihat tingkah Shisui dan Itachi yang sudah bukan pada umurnya.

"Enak yaa, punya saudara."

"Tidak sama sekali."

"Hahaha, baiklah, aku masuk yaa,"

"Hn."

Sakura berjalan menuju pagarnya, berbalik sebentar dan melambaikan tangan kepada Sasuke dan kembali berjalan. wajahnya terlihat begitu bahagia.


Pagi yang begitu sibuk, bukan karena hari ini waktu beres-beres di hari awal musim liburan. Tapi Sasuke yang tiba-tiba masuk ke rumah Sakura dan menyuruh Sakura untuk segera mengemasi beberapa barang yang diperlukan. Mereka akan pergi ke kawasan Uchiha.

~ TBC ~

.

.

=Penting untuk di baca=

Ya ampun, ada sedikit kesalahan dalam penulisan nama salah satu tokoh uchiha di sini, kalau ada yang masih ingat chapter 2, tapi sudah aku perbaiki, yang tertulis Usui Uchiha, sebenarnya Shisui Uchiha, aku keliru menuliskan namanya. *author mojok* pantes saja, pas cari di om google tidak menemukannya.

Di chapter ini aku sudah memperbaikinya, kalau ada yang mau lihat wajah Shisui silahkan googling yoo, heheheheh

=Balas review =

Sashicchi : Hai juga, ahk, iya kadang suka nggk lihat typo, *maaf* padahal sudah di edit masih ada aja yang kelewatan. aku juga penasaran, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca, review lagi yoo.

embun,adja1 : Terima kasih, Update! *semangat*

Younghee Lee : Update..! update..!

Chichak Deth : mau jawab reviewnya tapi udah terjawab oleh chapter ini, ehehehe, silahkan, terima kasih *semangat*

hanazono yuri : update...! *Bahagia*

.

Chapter selanjutnya akan segera update. Terima kasih sudah mau mampir untuk membaca dan mereview.

Review lagi yoo...~