Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan
.
.
.
Pagi yang begitu sibuk, bukan karena hari ini waktu beres-beres di hari awal musim liburan. Tapi Sasuke yang tiba-tiba masuk ke rumah Sakura dan menyuruh Sakura untuk segera mengemasi beberapa barang yang diperlukan. Mereka akan pergi ke kawasan Uchiha.
~ my neighbor ~
.
[Chapter 5]
.
Don't Like Don't Read
.
.
Sakura tergesa-gesa mengemasi barang-barangnya, sekitar jam 9 pagi mereka akan segera naik pesawat. Sasuke sama sekali tidak mengucapkan apa-apa sebelumnya, dia hanya meminta Sakura untuk bangun pagi.
Sakura meninggalkan sebuah pesan jika tiba-tiba orang tuanya akan datang dan dia berada di luar kota.
Mereka sudah berada di bandara dan menunggu untuk naik pesawat. Lagi-lagi Shisui dan Itachi mengganggu Sasuke, mereka memperlihatkan hiasan ponsel yang diberikan Sakura, ini sangat-sangat mengganggu untuk Sasuke, hanya dia yang tidak diberikan benda seperti itu. Sakura jadi merasa tidak enak. Tapi siapa peduli dengan benda itu, Sasuke tidak iri, dia hanya tidak senang jika mereka menerima hadiah dari Sakura.
Pesawat telah lepas landas mereka menghabiskan waktu 7 jam perjalanan, tiba di sebuah kota dengan bertuliskan 'kawasan Uchiha' meskipun namanya kawasan Uchiha, orang-orang yang di kota ini sudah membuar antara penduduk asli dengan penduduk pendatang, mereka hidup beriringan sejalan dengan waktu hingga ada yang bukan penduduk asli lagi, mereka kebanyakan campuran.
Mereka sudah sampai dan segera di dampingi beberapa orang yang memakai jas hitam. Sakura merasa mereka seperti orang penting, Itachi kadang berbicara dengan Sakura untuk menjelaskan situasi seperti sekarang ini, menceritakan beberapa hal tentang kawasan Uchiha.
Dua buah mobil limosin dan tiga mobil sedan berjalan beriringan menuju sebuah rumah yang berada di pinggiran kota, setiap jalanan selalu di manjakan dengan pepohonan yang rindang dan beberapa bunga yang tumbuh secara liar. Sakura tidak bosan menatap pemandangan yang disuguhkan kawasan Uchiha ini.
Kendaraan itu berhenti dan di depan gerbang yang bahkan truk besar beroda enam bisa masuk dengan leluasa. Gerbang itu lantas bergerak terbuka.
"Sakura, selamat datang di kediaman Uchiha Madara." Ucap Itachi.
"Lu-luaaaaaassnyaaaaa...!"
Itachi dan Shisui tertawa mendengar ucapan Sakura, dia begitu polos dan langsung mengucapkan kata 'luas' dengan sangat terkejut. Sasuke sedikit bosan dan menatap keluar jendela mobil, sepertinya ada yang berubah menurut Sasuke, ada beberapa bangunan baru dan pepohonan di kediaman Madara semakin besar dan tinggi.
"Menurutmu bagaimana kediaman kakekku?" Tanya Shisui.
"Seperti sebuah kompleks perumahan. Aku pikir sebuah rumah yang mewah dan besar."
"Yaah, seperti itulah Kakek, dia tidak terlalu suka akan kemewahan, dia lebih senang tinggal di sini, rumah ini sudah turun-temurun di berikan pada setiap generasi. Kakek tidak ingin meninggalkan Kediamannya. Sebenarnya dia punya banyak rumah mewah, tapi dia menyuruh anak-anak didiknya untuk menempati rumah itu." jelas Itachi
"Contohnya Kisame dan Tobi. Mereka adalah anak didik Kakek, makanya kami dari kecil sudah bersama, jika dia bertemu anak kecil dengan keinginan yang kuat dia akan langsung mengangkatnya jadi anak didiknya, sampai sekarang pun semua anak didiknya tidak ada yang pernah mengkhiati kepercayaan kakek." Tambah Shisui.
"Kadang-kadang mereka kembali ke sini, kediaman kakek seperti sebuah magnet, mau sejauh apapun mereka pergi, mereka seperti tertarik untuk kembali ke sini." Ucap Itachi.
Sakura tersenyum mendengar semua penjelasan Shisui dan Itachi. Kekeluargaan, rumah ini kental akan rasa kekeluargaan, itulah mengapa mereka masih suka datang ke sini meskipun sudah mendapat tempat yang lebih bagus dari kediaman ini.
Di dalam begitu luas dan di batasi sebuah tembok yang tinggi dan kokoh. Apa ini benar-benar sebuah rumah. Menurut Sakura, dia akan tersesat jika berada di dalam. Rumah yang masih bergaya tardisioanal jepang, tiap rumah terhubung dengan lorong-lorong yang panjang, di tengah ada sebuah bangunan yang begitu besar, mungkin itu tempat tinggal Madara, dan yang lainnya tempat tinggal beberapa orang yang sudah lama tinggal bersama Madara.
Mereka di sambut dengan ramah. Beberapa pelayan membawa mereka ke bangunan utama, pemandangan di sana membuat Sakura senang. Bahkan pelayan-pelayan di situ masih menggunakan yukata sebagai pakaian utama mereka. Madara masih menjunjung tinggi tradisional di dalam kediamannya, meskipun di sekelilingnya sudah modern dia tetap dengan gayanya sendiri.
Suasana di situ begitu nyaman, banyak pepohonan, air di kolam, ikan koi, semua membuat Sakura merasa tentram, jauh dari kebisingan dan padatnya perkotakaan.
Mereka sudah sampai ke bangunan utama dan di persilahkan duduk. Tidak lama kemudian. Seorang pria masuk ke tempat duduk paling depan yang bagaikan tahta seorang raja.
Sakura sampai tidak bisa berkedip menatap Madara. Wajahnya sudah tua namun masih terlihat berkarisma. Dia tersenyum melihat ke arah Sasuke.
"Kakek, aku pulang." Ucap Sasuke dan menundukkan kepalanya.
"Sudah lama aku tidak melihat mu, sekarang kau sudah sebesar ini."
"Maaf aku tidak pernah mengujungi mu."
"Tidak apa-apa Sasuke, kau sehat seperti ini saja aku sudah senang."
"Bagaimana kabarmu Itachi?"
"Aku baik-baik saja kakek. Maaf aku lama meninggalkan kawasan Uchiha."
"Yaa, aku sudah dengar dari Shisui kalau kau ke Konoha untuk mengunjugi Sasuke."
Tatapan Madara tertuju pada seorang gadis yang duduk bersama dengan cucu-cucunya.
"Sepertinya kita kedatangan tamu, siapa namamu?"
"Ha-haruno Sakura." Sakura gugup setengah mati, dia sampai tidak berani menatap Madara lagi.
"Aku yang membawanya kakek." Ucap Sasuke.
"Oh, Berharap kau akan betah di sini, Sakura, anggap saja rumah sendiri. uhm, sebaiknya kalian beristirahat dulu. Tolong antar mereka ke kamar masing-masing."
"Terima kasih." Ucap Sakura.
Semua pelayan bergerak dan mengantar mereka, Sasuke dan Shisui merasa tidak perlu di antar mereka masih hapal dengan kamar mereka masing-masing. Itachi meminta ijin kepada Madara untuk kembali ke rumahnya, sedangkan Sakura mengikuti para pelayan yang di suruh Madara.
Sesampainya di kamarnya, Sakura segera merebah dirinya di kasur. Meskipun terlihat tradisional dari luar, mereka menggunakan tempat tidur di semua kamar, tidak ada kasur lantai. Bahkan di kamarnya terasa begitu sejuk dan beraroma bunga, sepertinya tiap kamar selalu di isi dengan bunga segar yang terpajang di sisi ruangan itu. Ada sebuah lemari dan meja rias, Sakura membongkar kopernya dan menata dengan rapi pakaiannya di lemari yang tersedia. Pintu di dalam kamar itu berisi kamar mandi, kamar mandinya modern.
Selesai dengan kegiatan menatanya, Sakura menggesar jendela kamarnya dan kembali menghirup udara segar, padahal waktu sudah sore hari, di kediaman Madara masih terasa sejuk. Pandangan Sakura tertuju pada sebuah bangunan yang berada di seberang kamarnya. Sakura merasa melihat seseorang yang tengah duduk di sisi jendela dan menatap ke arah kolam yang ada di sisi kamar itu. Seorang laki-laki dengan yukata warna biru gelapnya, wajahnya begitu datar dan tatapannya kosong menatap kolam ikan koi. Sakura terkejut melihat wajah laki-laki itu, sangat mirip Sasuke. laki-laki itu lantas mengangkat wajahnya dan melihat seseorang yang sejak tadi menatapnya. Sakura yang takut ketahuan sudah menatap orang itu spontan menunduk.
"Sakura."
"A-aku minta maaf." Ucap Sakura, sangat kaget dengan orang yang memanggilnya tiba-tiba.
"Kau tidak apa-apa?"
Sakura berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya, ternyata hanya Sasuke, dia sampai terkejut.
"Aku tidak apa-apa. Apa kamarmu di seberang sana ?"
"Bukan, itu bukan kamarku."
"Benar kah?"
"Hn, kamar ku berada dekat dari bangunan utama."
"aku tadi melihatmu di sana." Sakura menunjuk bangunan itu.
"Kau melihatnya?"
"Iya, aku melihatnya."
"Uchiha Izuna, itu adalah namanya."
"Dia saudara kembarmu?"
"Bukan, anak dari ayahku hanya aku dan Itachi, dia anak kakek. banyak yang berpikir kami adalah saudara kembar."
"Jadi, dia pamanmu?"
"Yaah, begitulah, meskipun umurnya hampir sama dengan Itachi, dia terlihat begitu muda. Dia anak terakhir dari istri kakek yang terakhir."
"memangnya kakekmu punya berapa istri?"
"Hanya empat istri, tapi ibunya Izuna terlalu muda, dia meninggal saat Izuna berumur 5 tahun."
"Uhm..., apa dia selalu mengurung diri?"
"Dia tidak terlalu suka dunia luar, dia memilih habiskan waktu di kamarnya. Kakek tidak pernah memaksakan kehendaknya, jika dia mau seperti itu, kakek tidak akan mengganggunya."
Sakura kembali menatap kamar Izuna, masih teringat jelas tatapan Izuna, dia seperti kesepian. Tatapan kosongnya membuat Sakura merasakan kehampaan di dalam diri Izuna. Seketika Sakura terkejut. Seseorang memelukanya dari belakang.
"Sa-sasuke. nanti ada yang melihat kita."
"Tidak apa-apa. Aku sedikit merindukanmu. Kau hanya merespon kakak-kakak bodohku."
"Kau sendiri hanya diam sepanjang perjalanan, itu tidak asik."
"Kau benar, jika aku meladenimu, mereka akan lebih bahagia lagi menggangguku."
Sakura tertawa kecil mendengar ucapan Sasuke. Wajah Sakura sudah seperti kepiting rebus, beberapa detik berikutnya, Sasuke baru melepaskannya.
"Aku akan kembali ke kamar, jangan berkeliaran tanpa pelayan, kau akan tersesat nanti."
"Iya."
.
.
.
Malam pun tiba, Madara mengadakan perjamuan makan malam bersama. Dia terlihat begitu senang, jarang-jarang mereka semua akan berkumpul.
Ruangan yang menurut Sakura adalah sebuah aula padahal itu adalah ruangan makan, begitu luas dan besar ruangan itu sangat cocok dengan keluarga madara, Sakura melihat seluruh orang yang ada di tiga meja yang lumayan panjang, mereka tidak ada yang menggunakan jas atau pun pakaian formal semuanya memakai yukata. Pantas saja, para pelayan menyuruh Sakura menggunakan yukata yang di bawa mereka yukata berwarna softpink gradasi putih dan hiasan bunga Sakura, sangat cocok untuk Sakura.
"Sakura, kau cantik sekali." Ucap Shisui.
"Semakin cantik dengan yukatanya." Ucap Itachi.
"Gombal." Ucap Sasuke pelan.
Meskipun pelan, Sakura yang duduk di samping Sasuke bisa mendengarkan ucapannya, Sakura tersenyum mengetahui Sasuke seperti sedang cemburu.
Sakura memperhatikan di depan, meja Madara, di kiri ada seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan madara, dan di kanan ada dua wanita yang terlihat sedikit lebih muda. Mereka terlihat sangat cantik, rambut mereka hitam panjang sepantat dan di biarkan tergerai. Yukata mereka sangat indah.
"Mereka adalah istri-istri kakek." Bisik Sasuke.
"Mereka? Cantik sekali."
"Hn."
"Eh, tunggu dulu, artinya mereka itu nenek-nenekmu?"
"Iya."
"Ya ampun, umur berapa mereka menikah dengan kakekmu? Mereka terlihat lebih muda dari ibuku."
"Mereka nikah muda."
"Pantas saja, jadi terasa aneh jika mereka di panggil nenek dengan wajah yang masih terlihat masih muda."
"Begitulah. Mereka adalah wanita-wanita yang membuat kakek sampai jatuh cinta, mereka juga mencintai kakek, hanya mereka yang bisa memahami kakek."
Sasuke menunjuk beberapa orang, dan menyebutkan masing-masing dari mereka.
"Istri pertama adalah ibu dari ayah Shisui, istri kedua memiliki sepasang anak, mereka memiliki masing-masing anak, kagami dan Obito. Istri ketiga adalah ibu dari ibuku. Dan yang terakhir istri keempat, ibu dari Izuna. Selebihnya adalah anak didik kakek."
"Ramai juga yaa, kau sampai memiliki banyak nenek."
"Hn. Mereka sangat akur, istri-istri kakek bukan dari kalangan atas, mereka dari kalangan biasa yang memiliki hati seperti emas, mereka tidak mementingkan kekayaan dan tahta. Kakek benar-benar tidak pernah salah dalam memilih istri."
Sakura begitu kagum mendengar setiap pembicaraan tentang Uchiha Madara. Mereka mulai makan malam, Sesekali Sakura melihat ke beberapa orang, Sakura mencari Uchiha Izuna. Terkesan aneh, jika ini adalah jamuan untuk semua orang yang di ada kediaman bahkan yang tinggal di luar kediaman pun datang, tapi tidak dengan Izuna, dia tidak hadir. Sakura jadi penasaran dengan paman muda Sasuke.
Setelah makan malam semua terlihat bersantai dengan santapan pencuci mulut. Sakura yang di ajak Sasuke untuk menemui langsung Madara membuat Sakura gugup dan kaku, dia sampai kebingungan harus berbicara seperti apa, harus kah dia berbicara secara formal.
Sasuke dan Sakura duduk berhadapan dengan Madara. Dengan posisi yang sedekat ini, Sakura bisa melihat langsung wajah nenek-nenek Sasuke, mereka benar-benar cantik.
"Istri-istri anda sangat cantik." Ceplos Sakura dan langsung menutup mulut.
Istri-istri Madara sedikit terkejut dan detik berikutnya semua tersenyum menatap Sakura.
"Ma-maaf, aku tidak bermaksud apa-apa?"
"Hahahah, tidak perlu minta maaf." Ucap Madara.
"Kau juga cantik, nona Sakura." ucap Istri pertama Madara.
"Terima kasih." Sakura menundukkan wajahnya dengan rona merah menghiasi wajahnya.
"Kakek, aku ingin mengenalkan Sakura secara langsung pada kakek."
Madara bisa mengetahui maksud dari ucapan Sasuke. dia hanya tersenyum dan mengangguk. Sepertinya Sasuke sudah lebih dewasa dan sudah bisa mengambil keputusannya sendiri. Begitu juga para istri-istri Madara, mereka tersenyum senang melihat perubahan Sasuke.
"Jaga dia baik-baik Sasuke." ucap Istri ketiga.
"Dengan senang hati."
Sakura sedikit bingung dan tidak paham dengan percakapan mereka.
"Aku tidak mengerti." Ucapnya polos.
"Kau nanti aku memahaminya Sakura."
Sasuke dan Sakura kembali ke meja dan berbicara ringan dengan yang lainnya, Shisui membuat Sasuke kesal lagi, dia mengajak Sakura untuk di kenal ke Uchiha-Uchiha lain. Mereka terlihat senang berkenalan dengan Sakura.
Madara dan istri-istrinya bersantai dan menyantap makanan pencuci mulut mereka.
"Aku menyukai gadis itu, sepertinya dia membawa pengaruh baik untuk Sasuke." Ucap Istri pertama.
"Kami juga menyukainya." Ucap istri kedua dan ketiga.
"Yaa, aku senang jika dia berubah seperti sekarang ini, dia tidak perlu terpuruk akan masa lalunya lagi. Dia sudah bertambah dewasa sekarang." Ucap Madara.
Terasa lelah namun sangat menyenangkan, Sakura merasa sangat di terima di dalam Uchiha. Mereka baik pada Sakura, sampai-sampai Sasuke harus menahan rasa cemburunya dengan orang-orang yang lebih tua darinya. Sakura berjalan menuju kamarnya di dampingi seorang pelayan.
"Mulai hari ini, saya yang akan menjadi pelayan pribadi anda nona." Ucap seorang wanita paru baya.
"Eh, tidak perlu, aku tidak butuh pelayan pribadi kok."
"Maaf nona, tidak bisa, ini adalah perintah langsung dari tuan besar Madara, jika ada tamu yang tinggal di kediamannya dia akan menunjuk satu pelayan untuk melayani setiap keperluan tamunya. Saya senang bisa menjadi pelayan anda selama anda tinggal disini."
"Uhm, repot juga yaa, baiklah, terima kasih dan mohon kerja samanya."
"Sama-sama nona." Ucapnya pelayan itu dan tersenyum ramah.
Setelah mengantar Sakura, pelayan itu pamit dan berjalan kembali ke bangunan untuk para pelayan. Sakura langsung membuang dirinya di kasur empuknya. Dia lelah tapi matanya tidak bisa tertutup. Sepertinya dia akan sulit tidur.
Tepat tengah malam, Sakura benar-benar tidak bisa tidur meskipun menutup matanya rapat-rapat dia tidak bisa langsung merasa tidur nyenyak, Sakura bolak balik di kasurnya mencoba mencari kenyamanan namun tetap saja dia tidak bisa tidur. Akhirnya Sakura memutuskan untuk keluar kamarnya dan mencari udara, pikirnya dia akan bisa langsung tidur jika berjalan mondar mandi.
Terlintas di benaknya untuk mencari kamar Sasuke, mungkin Sasuke bisa membantunya untuk segera tidur. Suasananya begitu tenang, sama sekali tidak terdengar ada yang masih terjaga jam segini, tapi tidak dengan orang-orang yang menjaga gerbang kediaman, mereka masih asik menonton dan berbicara.
Sakura berjalan perlahan di lorong, angin berhembus perlahan, tapi terasa begitu dingin. Lampu terpasang di seluruh lorong sehingga tidak gelap. Sakura masih ingat, Sasuke bilang kalau kamarnya dekat dengan bangunan utama, Sakura berjalan mengikut jalan lorong yang dia lewati saat di antara kembali ke kamar.
Sakura merasa ada yang aneh, semua lorong dan bangunan menurutnya terlihat sama, 'tersesat', di acak-acak rambutnya dengan frustrasi, dia tersesat. Sakura mencoba berjalan kembali ke kamarnya dan tidak bisa menemukan kamarnya sendiri. Sakura semakin kebingungan. Yang terlintas di pikirannya, apa teriak saja, jika teriak mungkin Sakura akan langsung mengubur dirinya sendiri hidup-hidup, hal itu hanya akan membuatnya malu.
"Bagaimana ini?"
Sakura sudah tidak tahu harus bagaimana. Dia kembali berjalan, berjalan, dan berjalan, di ujung tidak ada lorong lagi, yang ada jalan setapak. Sakura memutar arah dan menabrak seseorang.
"A-aku minta maaf, aku minta maaf." Sakura menutup matanya dan tidak ingin melihat kedepan, dia takut yang di temuinya adalah hantu.
"Kau tersesat?"
Sebuah suara bariton terdengar di telinga Sakura, suaranya hampir mirip Sasuke, hanya saja suara bariton itu terdengar lebih lembut. Sakura membuka matanya dan menatap orang yang sedang menatapnya juga.
"Sasuke."
"Bukan. Namaku Uchiha Izuna."
"Ah, maaf, aku pikir Sasuke."
Sakura menatap Izuna begitu lama, dia memperhatikan setiap detail tubuh dan wajah Izuna, sangat mirip Sasuke, tapi tatapannya berkali-kali lebih menusuk dari pada Sasuke, ekspresi wajahnya datar, serasa Sakura ingin mengucapkan 'muka tembok', Sakura tersadar, ini rasanya menjadi Sasori yang tidak menyukai wajah Sasuke yang terkesan sangat datar dan tidak ada ekspresi, bahkan untuk tersenyum saja dia sangat pelit.
"Kau tersesat?" Izuna kembali bertanya.
Sakura menundukkan wajahnya, saat ini dia sangat malu karena ada yang mendapatinya tersesat, "I-iya, aku tersesat."
"Aku akan mengantarmu."
Sakura berjalan di samping Izuna.
"Maaf, sudah merepotkan."
"Hn, tidak apa-apa, apa yang kau lakukan?"
"Hanya berjalan-jalan karena tidak bisa tidur, aku malah tersesat. Semua lorong terlihat sama."
"Kau terlalu jauh, ini berada di bagian paling belakang Kediaman ini, kau sampai mendapat halaman kebunnya."
"Hee, ada kebun juga di sini."
Izuna terkejut melihat Sakura dan responnya, suaranya terdengar sangat nyaring.
"Kau yang bernama Sakura."
"Iya, salam kenal, aku Haruno Sakura."
"Uhm."
"Apa aku harus memanggil, paman Izuna."
"Aku tidak suka di panggil paman, kau bisa memanggil namaku saja."
"Baiklah, kau benar-benar mirip Sasuke."
"Semua orang disini mengucapkan itu."
"Iya sih. Aku sampai berpikiran Sasuke memiliki saudara kembar."
"Oh."
"Uhm, bukan ikut campur sih, tapi kenapa kau tidak mengikuti makan malam bersama."
"Bukan hal yang perlu di bicarakan."
"Maaf, kalau aku salah bicara."
"Tidak perlu minta maaf."
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan malam-malam begini?"
"Aku insomnia sejak kecil."
"Parah juga yaa. Mungkin kau perlu memakan obat tidur."
"Aku tidak butuh, aku sudah terbiasa seperti ini."
"Uhm, biasanya yang aku dengar, beberapa orang kurang aktivitas saat siang hari, makanya dia akan sulit tidur di malam hari."
"Lalu?"
"Cobalah melakukan sesuatu saat siang hari, mungkin kau akan bisa tidur saat malam hari."
"Hmm."
"Di coba yaa."
Sakura berdiri di hadapan Izuna dan menatapnya, berharap Izuna akan mengucapkan 'iya' untuk sarannya tadi. Izuna terdiam menatap Sakura. mata hijaunya terlihat seperti bersinar dan memancarkan suatu yang terkesan hangat saat menatap mata Sakura. Izuna membuang mukanya dan berjalan melewati Sakura.
"Lain kali saja. Aku tidak terlalu suka melakukan apapun siang hari."
"Mungkin aku bisa membantu?"
Sakura segera berjalan dan menyamai langkahnya dengan langkah Izuna.
"Kau mau membantu apa?"
"Kita lihat saja besok."
Izuna mengerutkan keningnya mendengar ucapan Sakura. Gadis ini terlalu bersemangat membuatnya jadi semakin malas, tapi dia penasaran dengan apa yang akan di lakukan gadis ini kepadanya.
Mereka sudah sampai di sebuah kamar, Sakura berterima kasih dan pamit untuk masuk duluan.
Sakura masuk ke dalam kamarnya, suasananya begitu gelap, Sakura merasa dia sudah menyalakan lampu kecil di kamarnya, tapi ini kenapa sangat gelap. Sakura mencari saklar lampu dan menyalakannya. Tatapannya sedikit terkejut, ada seseorang yang tidur di kasurnya, siapa? Sakura sampai bingung harus melakukan apa, Di pandangnya seluruh kamarnya dan Sakura mengambil sebuah buku yang sangat tebal dan besar. Sakura bersiap-siap untuk memukul orang yang ada di balik selimutnya, mungkin saja dia adalah orang jahat yang ingin berbuat tidak senonoh kepada Sakura.
Satu pukulan keras mendarat di kepala orang itu. Sakura memukulnya berkali-kali hingga orang itu bersuara dan Sakura menghentikan aksi melindungi kasurnya, Sakura terbelalak dan melihat orang yang bangun dan selimut turun dari badan orang itu.
"Sasuke!"
"Ya ampun Sakura, apa yang sudah kau lakukan?"
Sasuke memegang kepalanya yang sakit ada luka goreng di jidatnya, buku itu seperti senjata pembunuh baginya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" ucap Sakura.
"Kamar siapa maksudmu? Ini kamarku, lihat sekelilingmu."
Sakura melihat sekeliling ruangan, terdapat benda-benda milik Sasuke dan bahkan di dinding ada foto Sasuke bersama keluarganya.
"Salah kamar."
Sakura berlari keluar kamar Sasuke dan tidak melihat Izuna, dia sudah menghilang di lorong, Sakura kebingungan, dia pikir Izuna mengantarnya ke kamarnya, malah ke kamar Sasuke. Sasuke bangun dari tempat tidurnya dan mengikut Sakura yang masih mematung di depan pintu kamarnya.
"Apa yang kau lihat?"
"Bu-bukan apa-apa, maaf, aku salah kamar."
Sakura berbalik dan melihat Sasuke.
'Blushing'
Sakura segera menutup matanya dan wajahnya sangat memerah. Pemandangan yang ada di hadapannya saat ini, Sasuke tidak memakai baju dan hanya memakai boxser hitam. Tubuh Sasuke terlihat atletis.
"Pa-pakai pakaian mu!"
"Tidak mau."
"Pakai sekarang juga, atau akan ku pukul lagi pakai ini." ucap Sakura yang masih memegang buku tebal itu.
"Iya-iya."
Sasuke berjalan ke lemari dan mengambil kaos tanpa lengannya.
"Kau pikir ini sudah jam berapa?" ucap Sasuke dan terlihat mengantuk.
"Aku tidak bisa tidur, berjalan-jalan sebentar dan akhirnya aku tersesat dan salah kamar."
Inner sakura : Apa maksudnya Izuna membawaku ke kamar Sasuke!
"Besok pagi saja kau kembali ke kamarmu, aku sangat mengantuk."
"Aku tidur dimana?"
Senyum licik terpampang di wajah Sasuke, dia menepuk-nepuk kasurnya sebagai isyarat untuk Sakura tidur di kasurnya. Sakura spontan melempar buku yang masih di pegangnya dan mengenai muka Sasuke.
"Sakit tahu!"
"Biarkan saja."
"Lihat apa yang kau perbuat." Sasuke memperlihatkan kening Sasuke yang berdarah sejak tadi, keningnya tergores dengan ujung buku yang berlapis besi dan tajam.
"Oh, Maaf."
Sakura segera mencari plester di laci yang di tunjuk Sasuke.
"Tidurlah disini, aku tidak akan melakukan hal yang aneh."
Sakura terdiam sambil memasang plester di kening Sasuke. Setelahnya, Sakura mengangguk dan mereka tidur bersama, guling menjadi pembatas antara Sasuke dan Sakura, rona di wajah Sakura tidak bisa hilang, dia begitu malu tidur bersama Sasuke. sedangkan Sasuke, sudah tertidur pulas. Detik berikutnya Sakura ikut tertidur juga, matanya sudah lelah.
.
.
.
Cahaya matahari menerobos jendela kamar yang bernuansa putih, Sasuke lebih suka dinding kamarnya berwarna putih, menurutnya itu terlihat bersih. Sasuke bangun lebih awal, Sakura belum juga bangun efek dari terlambat tidur. Sasuke belum turun dari kasurnya dan memperhatikan Sakura tidur, dia selalu saja memperhatikan Sakura saat tertidur, menurutnya Sakura terlihat begitu tenang dan cantik saat tertidur. Sasuke bergerak dan mendekati wajahnya ke wajah Sakura.
"Selamat pagi Sakura." Bisik Sasuke dan mengecup kening Sakura.
"Jangan menggangguku!" Ucap Sakura dan mendorong wajah Sasuke.
Sasuke terkejut, Sakura melakukan hal yang tidak biasanya, kadang dia akan merona dan malu-malu saat Sasuke melakukannya, Sasuke mendekati Sakura dan memanggil namanya. Sakura tidak merespon, bahkan dalam keadaan tidur dia seperti itu, Sasuke menutup mulutnya dan tertawa kecil. Ini adalah sisi lain dari seorang Haruno, selain mabuknya yang fatal, dia akan kasar jika kegiatan tidurnya terancam.
Sasuke berdiri dan berjalan keluar, melihat sekitar lorong , para pelayan mulai sibuk membersihkan.
"Nona Sakura! nona Sakura!"
Sasuke melihat seorang pelayan yang sibuk berlarian dan menyebutkan nama Sakura. Pelayan itu melewati kamar Sasuke.
"Ada apa?" tanya Sasuke
"Maaf, tuan Sasuke, Nona Sakura tidak ada di kamarnya."
"Dia berada disini."
"Di-di kamar anda."
"Tenanglah, kami tidak berbuat macam-macam, dia tersesat dan akhirnya tidur kamarku."
"Uhm, maaf atas kelancangan saya tuan. Saya tidak ada hak untuk melarang anda tidur bersama."
"Tidak usah minta maaf, kembalilah ke kamarnya beberapa menit lagi, sepertinya dia masih tertidur."
"Baik tuan."
Pelayan itu lantas berjalan pergi dan meninggalkan Sasuke yang akan kembali masuk ke kamarnya.
"Keluar dari kamarku!" teriak Sasuke saat melihat Shisui yang sedang memperhatikan Sakura tidur.
Kamar mereka bersebelahan. Sasuke yang sibuk berbicara dengan pelayan Sakura tadi, tidak menyadari Shisui yang sudah masuk ke dalam kamarnya, pelayan Sakura yang melihat Shishui, tidak mengucapkan apa-apa, Shisui menaru telunjuknya di bibirnya, mengisyaratkan kepada pelayan itu agar tidak mengucapkan kalau dia masuk ke kamar Sasuke.
"Kau curang, kau tidur bersama Sakura."
"Keluar kau!" Sasuke mencoba menarik Shisui keluar dari kamarnya.
"Aku mau membangunkan Sakura."
"Tidak perlu, biarkan dia tidur."
"Aku akan menemaninya."
"Keluar!"
"Aku mau melihatnya tidur."
"Keluar!"
Shisui dan Sasuke hanya tarik menarik, Semakin Sasuke keras menarik Shisui, shishui semakin ogah untuk pergi. Beberapa detik terbuang dengan kegiatan bodoh mereka yang sekarang ngos-ngosan. Sasuke sedikit kesulitan menarik Shisui keluar, badan Shisui lebih besar dari pada dia.
Sakura membuka matanya perlahan dan mendapati Shisui dan Sasuke duduk di lantai dengan napas tidak karuan.
"Ada apa dengan kalian?"
"Sakura, Kau sudah bangun" tanya Sasuke
"Hahaha, maaf Sakura membuatmu terbangun. Sasuka sama sekali tidak ingin berbagi pemandangan yang indah."
"Diam kau! kembali ke kamarmu." Kesal Sasuke.
"Iya-iya dasar pelit."
Shisui tersenyum di depan Sakura kembali ke kamarnya.
"Aku juga, sebaiknya kembali ke kamar."
Sakura berjalan turun dari kasur Sasuke dan berjalan keluar dari kamar Sasuke. detik berikutnya, Sakura kembali ke kamar Sasuke.
"Antar aku." Ucap Sakura dengan wajahnya yang malu-malu.
Sasuke berdiri dan berjalan menghampiri Sakura. "Dasar." Sasuke menepuk perlahan puncuk kepala Sakura.
Sekecil apapun sentuhan Sasuke, membuatnya selalu merona, terkecuali saat dia masih tidur dan merasa terganggu.
Sasuke mengambil celana kain panjang dan memakainya, terlihat tidak akan sopan jika dia keluar hanya mengenakan boksernya.
Sakura dan Sasuke sampai di depan kamar Sakura.
"Sarapan akan di bawa ke kamar, jadi tidak perlu ke bangunan utama." Ucap Sasuke.
"Apa makan bersama hanya saat makan malam?"
"Iya, disini sudah lama seperti itu, sarapan dan makan siang akan di antar ke kamar masing-masing. Pagi adalah waktu yang sangat sibuk di sini, makanya untuk mempermudah saja, dan makanan harus selalu habis, kakek akan marah besar jika tahu ada yang tidak menghabiskan makanannya."
"Uhmm. Kakek Madara sangat menghargai makanan yaa."
"Kebiasaan dari dulu. Oh iya, Sakura, mungkin beberapa hari ini kita tidak akan bertemu siang harinya, aku di ajak kakek untuk melihat-lihat perusahaan. Apa kau tidak apa-apa?"
"Tenang saja, aku akan baik-baik saja disini, kakek Madara sudah memberiku pelayan pribadi, jadi tidak akan tersesat lagi, hehehe."
"Hn, baguslah."
"Sampai ketemu malam hari."
"Iya. Uhm. Sasuke."
"Hn?"
Sakura berjinjit dan mencium pipi Sasuke. "Semangat untuk hari ini, yaa"
"Ah." Sasuke tersenyum.
'Blush'
Senyum Sasuke membuat Sakura deg-degan. Sakura tidak ingin memberi komentar tentang senyumnya, nanti Sasuke akan langsung kembali berwajah datar. Sasuke sudah kembali menuju kamarnya, Sakura segera masuk dan bersiap-siap untuk mandi.
"Nona Sakura, sarapan."
"Masuk saja."
Pelayan itu membuka pintu Sakura dan menata Sarapan di meja pendek yang tersedia di kamar itu, Sakura sudah selesai mandi dan berjalan keluar kamar mandi.
"Oh, jadi gunanya meja ini untuk makan, aku pikir meja untuk apa." ucap Sakura yang mendapati meja itu sudah tertata sarapan di atasnya.
"Iya, nona Sakura, setiap kamar sudah di siapkan meja seperti ini. apa tuan Sasuke sudah memberitahukannya?"
"Dia hanya bilang kalau sarapan akan di antar. Bagaimana kalau sarapan bersamaku?"
"Maaf, nona, saya sudah sarapan, semua pelayan makan lebih dulu. Ini sudah seperti kebiasaan pelayan-pelayan di sini. tuan besar Madara tidak ingin ada yang kerja tanpa sarapan terlebih dahulu."
"Kakek Madara benar-benar memperhatikan apapun. Meskipun hal itu sangat kecil. Berbeda dengan di kotaku, kalau pelayan harus melayani majikannya dulu."
Pelayan itu hanya tersenyum mendengar ucapan Sakura. dia berdiri dan menggeser lebar-lebar jendela kamar Sakura, terlihat kolam dan beberapa tanaman bonsai yang tertata rapi di pinggir kolam.
"Mungkin anda akan lebih suka jika sarapan sambil melihat pemandangan."
"Terima kasih, rasanya jadi seperti makan di restoran bergaya tradisional."
"Sama-sama Nona."
"Kalau begitu bisakah, aku bertanya beberapa hal?"
"Silahkan, tapi anda harus sambil makan yaa."
"Iya. Sudah berapa lama bibi kerja disini?"
"Sejak kecil nona."
"Umur bibi sekarang?"
"45 tahun nona. Orang tua saya sudah lama bekerja disini, mereka sangat senang tinggal disini sampai akhir hayat mereka. Mereka merasa tidak perlu bekerja di tempat lain lagi. Tidak orang sebaik tuan besar Madara."
"Ahh, aku jadi tambah kagum dengan kakek Madara. Jadi semacam turun temurun yaa."
"Iya, seperti itulah nona Sakura."
"Bagaimana Sasuke waktu kecil? Aku ingin mendengar semua tentang Sasuke."
"Tuan Sasuke, dia begitu lugu dan polos, sedikit pemalu juga, sampai-sampai dia tidak mau melepaskan tuan Itachi, dimana tuan Itachi pergi dia akan ikut, dia tidak mau jauh-jauh dari tuan Itachi. Saat masih kecil, dia jarang ke kediaman, tuan Sasuke tinggal bersama orang tuanya dan tuan Itachi di perkotaan."
"Padahal sekarang dia seperti sangat membencinya."
"Iya, gara-gara insiden tuan Fugaku dan Nyonya Mikoto meninggal."
"Uhm, Sasuke sudah menceritakannya."
"Saya rasa ada yang menyabotase hal ini."
"Ahk, pemikiran kita sama, aku pikir juga seperti itu."
"Tuan Itachi sangat menyanyai tuan Sasuke, dia bahkan selalu melindungi tuan Sasuke."
"Bagaimana setelah orang tua Sasuke meninggal?"
"Tuan Sasuke di bawa ke kediaman dan tinggal bersama tuan besar Madara, dia tidak ingin tinggal dengan Itachi, dia sangat marah, bahkan sewaktu tuan Itachi datang menjemputnya, dia mengamuk tidak mau kembali ke rumahnya dan menyerang tuan Itachi dengan menggunakan pisau, ada luka tusuk di bagian perut tuan Itachi, entah dari mana tuan Sasuke mendapatkan pisau itu. Tuan besar Madara sangat marah atas sikap tuan Sasuke, dia di kurung selama berminggu-minggu di dalam ruangan kurungan yang berada di bawah tanah bangunan utama..."
Sakura terlihat serius mendengar setiap ucapan pelayannya, selama ini Sasuke mempunyai masa lalu yang menurut Sakura sangat berat untuk di jalani seorang anak sekecil di masanya masih anak-anak.
"Lalu? Sasuke tidak di bebaskan?"
"Hampir sebulan tuan Sasuke di kurung, tuan besar Madara hanya ingin tuan Sasuke memperbaiki sikapnya yang seperti anak kecil yang sangat liar. Setelahnya tuan Sasuke di keluarkan, pandangannya berubah dia tidak seperti anak kecil umur 11 tahun. Tatapannya begitu tajam, dia selalu menghabiskan waktu di kamarnya. Kadang tuan Shisui mengajaknya bermain, hal itu membuat tuan Sasuke sedikit berubah, tapi tuan Shisui, tuan tobi, dan tuan Kisame, selalu berbuat jahil padanya. Pernah sekali, mereka mendandani tuan Sasuke seperti seorang gadis, mereka bosan tidak ada anak perempuan di kediaman, mereka kebanyakan adalah anak pelayan, dan mereka di marahi tuan Madara jika mengganggu anak perempuan pelayan."
Sakura tertawa kecil mendengar Sasuke pernah di dandan menjadi seorang anak gadis. Pantas saja Sasuke sangat membenci mereka.
"Setelah tuan Sasuke berumur 17 tahun, dia berubah lagi."
"Berubah? Seperti apa?"
"Sikapnya menjadi aneh, dia selalu meminta pelayan wanita untuk ke kamarnya."
Sakura menghentikan makannya.
"Ahk, maaf, sebaiknya saya tidak menceritakan hal itu, saya minta maaf, tolong nona Sakura lupakan apa yang saya ucapkan tadi."
"Tidak apa-apa, mungkin sebaiknya aku tidak perlu tahu apa-apa tentang masa lalunya."
"Tolong jangan katakan jika saya sudah menceritakan hal ini."
"Tenang saja, aku tidak akan mengatakan apapun. Terima kasih sudah menceritakannya padaku, aku jadi bisa tahu bagaimana Sasuke dulunya."
"Tapi saya rasa tuan Sasuke jauh lebih baik sekarang, tatapan tuan Sasuke jadi lembut. Dia sepertinya sangat menjaga anda nona Sakura."
"yaa, sepertinya dia berubah. Uhm.. aku sedikit penasaran dengan Izuna."
"Tuan Izuna?"
"Apa dia selalu begitu? Mengurung diri?"
"Tuan Izuna, dia seperti itu setelah nyonya keempat meninggal."
"Kenapa istri keempat Kakek Madara bisa meninggal?"
"Sejak menikah dengan tuan besar Madara dan masuk ke kediaman ini, Nyonya keempat tidak pernah mengeluhkan apapun, dia sangat baik seperti nyonya-nyonya lainnya dan yang paling muda. Sampai setelah dia melahirkan tuan Izuna, dokter mengatakan kalau nyonya mengidap penyakit kanker darah. Bahkan tuan besar Madara sendiri tidak tahu, nyonya tidak ingin membuat tuan besar Madara khawatir, dia menyembunyikan sampai tuan Izuna berumur 5 tahun. Setelah meninggal, tuan Izuna mengurung dirinya, dia merasa ini kesalahan tuan besar Madara yang tidak menyadari penyakit ibunya."
Akhirnya semua pertanyaan yang muncul di kepala Sakura terjawab semua, itulah kenapa Izuna tidak pernah keluar kamar dan kakek Madara tidak pernah memaksakan apapun pada Izuna. Kakek Madara menghargai apa yang dipikirkan Izuna, dia merasa bersalah tidak mengetahuinya lebih awal.
Sakura sudah selesai dengan sarapannya yang sedikit lama gara-gara ceritanya dengan pelayan pribadinya. Pelayan itu pamit dan keluar dari kamar Sakura.
Sakura berjalan ke terasnya, melakukan peregangan dan menghirup dalam-dalam udara di pagi hari. Di tatapnya kamar yang berhadapan dengan jendelanya. Izuna sepertinya belum bangun. Jendelanya masih tertutup rapat.
Sakura duduk di teras dan menunggu jendela itu terbuka. Pukul 10 tepat. Sakura berbaring, menunggu jendela Izuna terbuka membuatnya bosan. Dia tidak melakukan apapun, Sasuke sudah pergi bersama Madara. Tidak ada orang yang terlihat di sepanjang teras maupun lorong, Sakura berguling kesana-kemari seperti anak kecil, lantai yang terbuat dari kayu lebih terasa lunak dibandingkan lantai yang terbuat dari semen maupun tegel.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Sakura terkejut dan menghentikan kegiatan konyolnya dan segera bangun, kembali duduk dengan benar, Izuna sedang menopang dagunya di jendela kamarnya.
"Hehehe, bukan apa-apa. Kau sudah bangun?"
"Hn. Kenapa? kau menungguku?"
"Aku menunggumu, kau lama sekali, setidaknya kau harus cepat bangun kalau ada janji dengan orang lain."
"Aku rasa aku tidak punya janji dengan siapa pun."
"Kemarin kita sudah janji kan, cepat sana siap-siap."
"Apa yang akan kita lakukan?"
"Berolahraga."
"Lupakan saja, aku mau kembali tidur."
"IZUNA, BODOH!"
"Kau berani memanggilku bodoh?"
"Iya, kau memang bodoh."
"Tunggu di situ. Kau jangan kemana-mana."
Kemudian.
"Berhenti kau Sakura!"
"Tidak akan."
Baru pertama kali ini ada yang mengejek-ngejek Izuna dan membuatnya sangat kesal. Mereka berlarian di sepanjang lorong dan hampir menabrak beberapa pelayan yang tengah berjalan. Sakura berhenti sejenak, Istri pertama Madara sedang berjalan-jalan dengan dua pelayan mendampinginya.
"Sakura."
"Hai nyonya cantik, eh, maaf aku pergi dulu nyonya cantik."
Sakura membungkuk perlahan dan bergegas berlari, Izuna hampir dekat, Izuna lagi yang berhenti, dia merasa tidak sopan jika langsung melewati istri pertama Madara.
"Maaf bu, aku sedang terburu-buru." Izuna kembali berlari.
"Nona Sakura! tuan Izuna! jangan berlarian di lorong!" teriak pelayan-pelayan istri pertama Madara.
"Sudah, biarkan saja mereka." Ucap Istri Madara.
"Tapi nyonya, mereka berlari seperti anak kecil."
"Tidak apa-apa. Kalian tidak menyadarinya, Izuna selalu saja mengurung dirinya, tapi ini tidak. Aku tidak tahu apa yang di perbuat Sakura sampai dia seperti itu."
Sebuah senyum terukir di wajah istri pertama Madara mengingat Izuna memanggilnya Ibu.
"Nyonya benar. Maafkan kami nyonya."
Istri pertama Madara hanya tersenyum dan menatap sejenak bekas tempat mereka berlari. Ucapan Sakura pun membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum. 'nyonya cantik' Sakura ceplos mengucapkannya.
Seperti sedang lari marathon, tenaga mereka habis dan membuat mereka berhenti dan hanya ngos-ngosan.
"Tarik kembali kata-katamu dan cepat minta maaf padaku. Kau ini seorang gadis tapi mulutmu kasar juga yaa."
"Hahahahaha."
"Apa yang kau tertawakan."
"Aku berhasil membuatmu berlari pagi."
Izuna tersadar melihat kebelakang, mereka jauh dari bangunan utama. Izuna menutup matanya dan menghebuskan napasnya terasa berat akibat berlari, dia berjalan menghampiri Sakura dan Menyentil dengan keras jidat Sakura.
"Oh ya ampun, itu sakit!" umpat Sakura.
"Kita impas." Ucap Izuna.
Sakura mengosok-gosok jidatnya yang sudah terlihat merah, Izuna terlalu keras menyentil jidatnya.
Izuna berjalan ke arah berlawanan dari lorong, jalanan setapak di ujung lorong, hanya ada pepohonan di situ.
"Mau kemana?"
"Ikut saja."
Sakura mengikuti Izuna, melewati jalan setapak yang rumputnya sudah di potong. Setelah melewati pepohonan, Sakura melihat sebuah kebun yang luas, di sisi lainnya ada hamparan bunga-bunga.
"Indahnya."
"Ini kebun di kediaman ini."
"Kebun produksi?"
"Iya, tapi hanya untuk di konsumsi pribadi, mereka di rawat dan menjadi sumber bahan masakan di sini."
"Enaknya, jadi tidak harus membeli sayuran dan buah."
"Iya."
Sakura berlarian melihat-lihat sekeliling kebun. Menurutnya ini bukan seperti kompleks perumahan, tapi kediaman ini seperti satu desa. Luas bahkan ada kebun dan taman bunga.
"Tu-tuan Izuna, ada perlu apa?" ucap salah satu tukang kebun.
"Tidak ada, aku hanya melihat-lihat saja."
"Oh, kalau anda perlu sesuatu tinggal panggil kami."
"Uhm."
Mereka kembali bekerja sambil berbisik tentang Izuna yang jarang keluar kamar, bahkan dia sudah jarang pergi ke kebun, hanya pada saat ibunya ada dan menemaninya ke taman bunga.
"Izuna!" teriak Sakura yang sudah berada di taman bunga.
"Jangan memetik bunga sembarangan, ayahku akan memarahimu."
"Tidak akan, aku hanya melihat-lihat."
Akhirnya Sakura mengetahui dari mana bunga-bunga yang di tata di kamarnya setiap hari. Semua bunga yang di tanam mengeluarkan bau yang khas, seperti aroma terapi menurutnya.
Jam makan siang, mereka kembali berjalan ke lorong.
"Besok kita pergi keluar."
"kemana?"
"Jalan-jalan, ajak aku berkeliling kawasan Uchiha."
"Membosankan, suruh pelayan-pelayan saja yang menemanimu."
"Tidak. Tuan rumah yang harus menemaniku."
"Kau ini keras kepala."
"Iya, kepalaku memang keras, tuan muda."
"Akan aku pikirkan dulu."
"Okey.
Mereka berpisah, Sakura mulai hapal dengan kamarnya dan Izuna kembali ke kamarnya, dia perlu mandi karena keringatan. Sakura berhasil membuatnya keluar dari kamar siang ini. meskipun sedikit risih dengan ucapan kasar Sakura. Izuna orang yang cepat tersinggung dan tidak senang jika di ejek, padahal itu hanya umpan dari Sakura agar dia mau keluar kamar bahkan sampai membuatnya berlari.
.
.
.
Udara sore hari membuat Sakura tertidur. Dia kelelahan, berlari membuatnya capek, tapi dia sangat senang, orang yang selalu saja mengurung diri akhirnya bisa keluar. Sakura berharap malam ini Izuna bisa tidur nyenyak dan tidak bangun di malam hari.
"Sakura."
Sebuah suara membangunkan Sakura. Sakura membuka matanya dan menatap perlahan siapa yang membangunkannya.
"Kau sudah pulang, selamat datang kembali Sasuke." ucapnya dan tersenyum.
Sasuka membelai perlahan rambut Sakura dan membuat Sakura kembali menutup matanya, merasakan sentuhan jari-jari tangan Sasuke di rambutnya.
"Hei, Jangan tidur lagi, udah hampir jam makan malam."
"Hmm." Sakura hanya bergumam.
"Aku ke kamar dulu. Sampai ketemu di ruang makan."
"Iya."
Sakura menggeliat begitu senang di kasurnya. Sasuke sampai repot-repot langsung ke kamarnya cuman untuk memperlihatkan kalau dia sudah pulang.
.
.
.
Semua orang sudah datang dan makan malam di mulai, Sakura terlihat sedang mencari seseorang.
"Ada apa?" Sasuke memperhatikan Sakura yang telihat gelisah.
"Tidak."
"Sakura, kakek memanggilmu." Ucap Shisui.
"Aku?"
"Iya. Cepat kesana."
"Ba-baik."
Sakura berjalan menuju meja makan Madara dan duduk.
"Kenapa kakek memanggilnya?" tanya Sasuke.
"Mana aku tahu. Mungkin mau di suruh pulang."
"Apa maksudmu?"
"Kata para pelayan, tadi siang Sakura membuat sedikit keributan di lorong."
"Keributan?"
"Iya, dia berlari di sepanjang lorong dan di kejar Izuna."
"Izuna keluar kamar? Tidak biasanya."
"Yaa, aku tidak tahu, apa yang Sakura lakukan sampai membuat Izuna harus mengejarnya."
Sasuke melihat ke arah meja makan Madara, tatapannya jadi terlihat kebingungan, Madara dan istri-istrinya tertawa mendengar ucapan Sakura.
"Apa yang mereka bicara?" ucap Sasuke.
"Sakura mungkin sedang melawak."
Di meja makan Madara, Sakura meminta maaf atas kelakuannya tadi siang, dia memberikan alasan kenapa sampai mengganggu Izuna dan membuat Izuna sangat kesal. Madara hanya tertawa mendengar setiap ucapan Sakura. hanya gara-gara ucapan konyol membuat Izuna mengejarnya, Namun tujuan awalnya untuk menghilang penyakit insomnia Izuna. Di tambah lagi istri-istri Madara terlihat senang mendegar Izuna memanggil 'ibu' di istri pertama Madara dan 'nyonya cantik' dari Sakura. Sakura tertunduk malu, keceplosannya tidak mau hilang.
Sakura kembali ke mejanya dan menyelesaikan makannya. Sasuke sudah selesai dan menunggu Sakura makan. Orang yang sejak tadi di cari Sakura adalah Izuna, padahal dia berharap jika Izuna ikut bergabung di ruang makan bersama yang lain.
Makan malam selesai, mereka kembali ke kamar masing-masing, Sasuke meminta pelayan Sakura untuk membiarkannya yang mengantar Sakura.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Tadi? Dengan kakek?"
"Uhm."
"Oh, itu, aku meminta maaf sudah mengganggu Izuna dan memaksanya keluar kamar."
"Kau mengganggu Izuna?"
"Sebenarnya tidak ada niat mengganggunya, aku hanya ingin membantunya menghilangkan insomnianya dengan sibuk di siang hari, aku malah membuatnya berlari dengan wajah kesal."
"Hn."
Sasuke menahan tawanya, Sakura selalu saja membuat aksi-aksi super heronya yang selalu terkesan maksa menurutnya tapi sebenarnya niat Sakura baik. Sasuke menggenggam tangan Sakura, tangan mereka saling berpegangan membuat Sakura tersipu malu.
"Besok kau akan pergi lagi?"
"Iya. Kakek bahkan menyuruhkan mencoba mengerjakan beberapa berkas, membuatku sakit kepala."
"Oh, kasiaan."
"Aku harap punya sekretaris cantik nantinya."
"Semoga dia tidak menggodamu."
"Tidak kok, aku yang akan menggodanya."
Sakura mendengus kesal mendengar ucapan Sasuke.
"Soalnya calon sekretarisku sedang berada di sampingku."
"Aku tidak mau menjadi sekretarismu."
"Kenapa?"
"Akan terasa bosan jika harus melihatmu setiap hari."
"Nanti aku akan bergonta-ganti muka biar kau tidak bosan."
Sakura tertawa kecil mendengar ucapan Sasuke. Mereka Sampai di depan kamar Sakura.
"Selamat malam." Ucap Sakura.
Sasuke menundukkan wajahnya sejajar dengan Sakura dan menyentuh-nyentuh pipinya dengan telunjuk. Sasuke meminta ciuman di pipinya.
"A-apa? Aku tidak mau."
"Padalah tadi pagi kau sudah melakukannya degan mudah."
"Itu tidak sengaja."
"Kalau begitu tidak sengaja lagi."
"Tidak mau, itu memalukan."
"Memalukan apanya?"
"Po-pokoknya memalukan."
"Hmm, ya sudah, aku kembai ke kamarku."
Sakura menarik perlahan baju Sasuke, wajahnya tertunduk, dia sangat malu jika bersama Sasuke seperti ini.
"Jangan paksakan jika kau tidak mau."
Sakura semakin menundukkan wajahnya karena malu. Mencium Sasuke bukan hal yang mudah baginya, dia harus mengumpulkan keberaniannya itu melakukannya. Sasuke hanya tersenyum menatap Sakura, mau seribut atau seliar apapun dia saat mabuk, dia tetap gadis polos di mata Sasuke.
"Sakura."
Yang di panggil mengangkat wajahnya, Sasuke mengecup bibir Sakura sepintas.
"Selamat malam."
Sasuke berjalan kembali ke kamarnya, meninggalkan Sakura, dia mematung dengan wajah memerahnya. Sakura segera masuk dan membuang dirinya di kasur, mengambil satu bantal dan menutup wajahnya, suara jantungnya tak karuan.
"Tenanglah Sakura, tenang Sakura, dia kan pacarmu, kau harus terbiasa dengannya." Sakura menenangkan dirinya sendiri.
Mau berapa kali pun Sakura menenangkan diri saat di sentuh Sasuke, tetap saja dia akan selalu merasa sangat malu dan gugup.
Pukul 11:25
"Kau sudah siap."
"Merepotkan."
"Harusnya kau bersemangat."
"Membosankan."
Sakura menatap kesal ke arah Izuna yang terlihat sangat malas untuk keluar dari kediaman.
"Kalian mau pergi?"
"Eh, nyonya cantik. Iya."
"Panggil nyonya besar nona Sakura." ucap pelayan istri pertama Madara.
"Maaf."
"Tidak apa-apa."
Istri pertama Madara mendatangi Sakura dan Izuna yang tengah bersiap-siap untuk keluar.
"Mau kemana?"
"Jalan-jalan di kota."
"Uhm, Izuna kau ikut?"
"Dia memaksaku untuk pergi."
"Aku tidak memaksa, aku kan cuman mengajak."
"Sama saja."
Istri Madara hanya tersenyum melihat mereka berdua.
"Sakura."
"Iya."
"Bisakah aku menata rambutmu."
"Bo-boleh, boleh."
Sakura di ajak ke ruangan istri pertama Madara, Sakura duduk di depan meja rias yang di depannya terpajang kaca yang besar. Istri Madara mulai menata rambut Sakura, rambut Sakura yang sudah sepinggang di kepangnya ke samping,
"Wah...aku tidak pernah membuat rambutku seperti ini, biasanya aku hanya mengikatnya." Ucapnya senang dengan rambutnya sekarang.
"Kau tampak cantik Sakura. Dari dulu aku ingin mengepang rambut anak gadis, hanya saja aku hanya memiliki anak laki-laki, dan anaknya juga laki-laki"
Sakura tersenyum mendengar ucapan Istri pertama Madara, "Terima kasih."
"Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih."
"Eh?"
"Kau sudah mau mengajak Izuna keluar, dia sama sekali tidak pernah keluar kediaman sejak ibunya meninggal."
Sakura terdiam, cerita pelayan pribadinya kembali terngiang di telinganya, Sakura terlihat murung.
"Jangan berwajah seperti itu Sakura. ayo cepat Izuna pasti sudah menunggu."
"Iya."
Mereka kembali ke teras yang berhadapan dengan pintu gerbang.
Izuna memakai celana jins putih dan baju koas biru tuanya dan jaket tipis tak berlengan. Sakura melihatnya seperti Sasuke, sangat mirip. Sakura mengenakan long dress selututnya bermotif bunga mawar kecil.
"Kami pergi dulu." Ucap Sakura pamit kepada Istri Madara.
"Hati-hati."
Izuna berjalan menghampiri istri Madara dan pamit. "Aku keluar dulu, ibu."
Senyum kembali terukir di wajah wanita itu, kali ini Izuna lebih jelas memangginya ibu.
"Iya, hati-hati yaa."
Izuna berjalan mengikut Sakura yang sudah duluan masuk ke dalam mobil sedan. Mereka berangkat di kawal dengan satu mobil sedan yang mengikuti mereka dari belakang.
"Kita akan pergi kemana?" Tanya Sakura.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu."
"Aku baru ke sini dan tidak tahu dimana tempat yang bagus."
"Kalau begitu kita pulang."
"Jangan, kok langsung pulang."
"Kau salah ajak orang jika ingin berkeliling kawasan Uchiha."
"Siapa lagi yang akan aku ajak, Sasuke pergi, semua orang yang di kediaman kerja."
Izuna menghela napas, Sakura membuat banyak alasan hanya untuk mengajaknya keluar.
"Antar kami di mall terbaik kawasan Uchiha." Ucap Izuni kepada pengawal yang mengawal mereka hari ini.
Dua mobil sedan terparkir di tempat parkir VIP, mereka turun dan mulai berjalan masuk ke sebuah mall terbesar di kawasan Uchiha, begitu besar, luas, dan sangat ramai, beberapa orang sibuk berbelanja dan beberapa cafe di lantai bawah.
"Seperti mall di Konoha, hanya saja ini lebih besar."
"Oh."
Izuna mulai terlihat malas, dia tidak suka jalan-jalan, kamar adalah tempat terbaiknya.
Beberapa orang menatap ke arah Izuna dan Sakura. Mereka terlihat seperti tamu penting yang di kawal oleh 5 orang berjas hitam dan memiliki badan yang bisa di bilang cocok untuk pengawal.
Izuna terlihat cuek dan beberapa wanita menatap ke arahnya, wajah Izuna menarik perhatian mereka. Kulit putihnya, mata onyxnya, dan rambut hitamnya. Sangat cocok dengan pakaian yang di kenakannya sekarang. Izuna terlihat seperti seorang artis.
Tidak dengan Sakura yang merasa sangat risih, para pengawal itu berjalan di belakang, dia tidak leluasa berlarian kesana kemari. Padahal Sakura ini mengajak Izuna berkeliling tanpa pengawal, mereka sangat mencolok.
"Izuna." Sakura memanggil Izuna dan membisikkan sesuatu.
"Memangnya bisa?"
Sakura hanya tersenyum lebar dan mengangkat jarinya berbentuk V di hadapan Izuna. Izuna memutar bola matanya, tidak pusing dengan rencana aneh Sakura.
Mereka berjalan masuk, Sakura melihat kesekeliling mall itu, tatapannya tertuju pada sebuah lif yang tidak jauh dari mereka.
"Sekarang!"
Sakura berlari sambil menarik tangan Izuna menjauh dari para pengawal, para pengawal terkejut namun tidak sempat mengikuti mereka, pintu lif sudah tertutup dan akhirnya mereka terpisah dari para pengawal.
"Hahahahahah, mereka sampai tidak bisa mengikut kita."
"Bodoh, memangnya kau bisa lari dari mereka, mereka akan segera menemukan kita."
"Tidak akan."
Sakura kembali berlari mencari lif untuk turun dan segera keluar dari mall itu, sementara para pengawal sibuk mencari mereka di lantai atas.
Mereka sampai di pusat kota yang ramai, Sakura berjalan-jalan dan memperhatikan setiap bangunan dan toko yang ada di pusat kota, ramai seperti di Konoha. Bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, toko-toko yang ramai dengan pengunjung dan banyak cafe dengan menu yang menggiurkan. Izuna hanya mengikuti Sakura, sudah lama dia tidak ke pusat kota, semakin berkembang dan ramai.
Sakura berhenti di depan toko oleh-oleh, dia berjalan masuk begitu saja, Izuna yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengikuti Sakura masuk.
"Selamat datang Nona, anda perlu sesuatu?" ucap pemilik toko.
"Boleh aku melihat-lihat dulu."
"Tentu nona, silahkan."
Sakura berjalan memperhatikan setiap rak-rak kaca dan terlihat begitu banyak benda.
"Selamat datang tuan, tuan Sasuke?"
"Bukan, aku Uchiha Izuna."
"Ah, maaf-maaf, tuan Izuna, saya pikir tuan Sasuke."
"Hee, anda mengenal Sasuke?"
"Seluruh toko yang ada disini mengenal keluarga Uchiha dengan baik."
"Uhmm, pantas saja. Izuna dan Sasuke sangat mirip yaa."
"Iya, nona, saya hampir pikir dia adalah tuan Sasuke."
"Mereka tidak mengenalku." Ucap Izuna.
Izuna memasang wajah datarnya, untuk kesekian kalinya, banyak yang salah memanggilnya.
"Saya benar-benar minta maaf."
"Sudahlah, jangan di masukin ke hati hanya gara-gara mereka salah memanggilmu paman Izuna."
Izuna menyentil jidat Sakura.
"Aduh. Jangan lakukan itu lagi." Sakura mengusap-ngusap jidatnya.
"Sekali lagi kau memanggil ku paman, akan ku buat jidatmu menghilang."
Sakura menatap ngeri ke arah Izuna.
Sakura membeli sebuah benda dari bahan keramik berlambangkan kipas, ciri khas dari kawasan Uchiha. Setelah mereka kembali berjalan-jalan, Sakura baru menyadari sesuatu dengan keadaan kota ini, banyak sekali simbol berlambang kipas.
"Kenapa Uchiha di lambangkan sebagai kipas?"
"Uhm, karena cerita jaman dulu."
"Apa?" Sakura penasaran.
"Bisakah kita mampir di satu tempat, aku sudah capek."
"Kita ke cafe yang itu, dari tadi aku mengincarnya."
"Terserah kau saja."
Mereka menyeberang dan masuk ke dalam sebuah cafe yang dindingnya semua terbuat dari kaca. Di dalam sangat sejuk, lantai kayu dan banyak bunga yang di tata di beberapa sudut ruangan. Mereka segera duduk dan memesan beberapa makanan dan minuman.
"Ayo ceritakan, aku sedikit penasaran."
"Hanya dongeng biasa."
"Tetap saja aku penasaran."
"Kau ini sudah keras kepala, tukang maksa lagi."
"Ceritakan saja, kenapa sih."
"Iya-iya. Katanya nenek moyang clan Uchiha itu berasal dari seorang putri yang jatuh cinta dan menikah dengan seorang mahkluk yang berasal dari dunia lain. King of tengu katanya, anak mereka di beri nama Uchiha, contohnya Izuna no Uchiha, artinya Izuna anak kipas, kipas maksudnya benda sakti yang selalu di bawa tengu itu, mungkin mereka berharap anak mereka akan sekuat benda saktinya itu."
"Oh." Sakura terlihat kagum dengan cerita Izuna.
"Itu hanya dongeng. Jangan menganggapnya terlalu serius."
"Iya...~"
Pesanan mereka sudah sampai dan mereka mulai menyantapnya.
Sementara itu.
"Maaf, tuan besar, tuan Izuna dan nona Sakura kabur."
"Apa maksud kalian! Cepat cari mereka!" Madara menahan tawanya dan sengaja membuat suaranya terdengar marah.
"Ba-baik."
Madara menutup telponnya dan tawanya meledak mendengar ucapan pengawal yang mengawal Izuna dan Sakura keluar.
"Apa lagi yang di perbuat Sakura?" ucap istri pertama Madara.
"Sepertinya Sakura membawa kabur Izuna, mereka sampai repot mencari mereka."
Istri pertama Madara hanya menutup mulut menahan tawanya. Sakura bisa lolos dari pengawal-pengawal terbaik Madara.
"Gadis itu sangat berani, aku jadi menyukainya, biarkan saja mereka sampai pusing mencari, masa di kalahkan seorang gadis."
Madara kembali tertawa, sedangkan istrinya hanya tersenyum melihat suaminya yang sedikit mengancam para pengawalnya, kenyataannya dia mengerjai mereka gara-gara tidak bisa mengatasi Sakura.
Kembali ke cafe, mereka sudah menyelesaikan makan mereka, Sakura dan Izuna kembali berjalan-jalan di pusat kota.
Siang yang sangat terik, Izuna yang terbiasa di kamar dan jarang keluar membuatnya merasa kelelahan. Izuna sudah tidak bisa jalan lagi, dia berhenti dan bersandar di tembok yang tidak terkena sinar matahari.
"Kau tidak apa-apa?"
"Terlalu panas. Kau saja yang jalan, aku sudah tidak kuat lagi."
"Dasar manja."
Lagi, jidat Sakura menjadi sasaran.
"Aku sudah bilang jangan lakukan itu!" Sakura mengusap-usap jidatnya.
"Kita tunggu mataharinya hilang."
Sakura mengerutkan alisnya mendengar ucapan konyol Izuna.
"Kalau begitu tunggu disini."
"Kau mau kemana?"
"Tunggu saja."
Sakura berlari dan mencari-cari sebuah toko, saat menemukannya Sakura masuk dan membeli dua benda, setelah membayar, Sakura kembali berlari ke arah Izuna yang sudah berjongkok.
"Pakai ini."
Sakura memberikan topi hitam kepada Izuna dan membuka payung yang baru di belinya.
"Setidaknya ini akan menghalangi sinar matahari."
"Mungkin aku pakai saja topi ini, aku tidak mau memakai payung itu!"
Izuna membuang payung dengan motif bergambar beruang yang lucu.
"Hee, kenapa? Ini lucu kok."
"Tidak akan, kau saja yang pakai."
"Dasar, tidak menghargai pemberian orang."
"Seharusnya kau memilih payung yang polos saja, tidak perlu dengan motif yang seperti anak kecil yang akan menggunakannya." Protes Izuna.
"Ah..~ Aku pikir anak kecil akan menggunakan."
Sakura segera kabur sebelum jidatnya mendapat serangan lagi.
Mereka kembali berjalan-jalan, Sakura memakai payung yang di belinya dan Izuna berjalan sedikit menjauh dari Sakura, dia tidak suka dengan payung itu.
"Itu mereka!"
"Ahk, gawat."
Sakura segera berlari berlainan arah, mereka menemukan Izuna dan Sakura. Sakura menutup payungnya dan mempercepat larinya. Izuna hanya mengikutinya begitu saja meskipun dia sudah sangat lelah, tapi terasa asik saat berlari dari pengawal-pengawal itu.
"Tuan Izuna! Nona Sakura! berhentilah!"
"Ayo kita ke sesuatu tempat."
"Kemana?"
"Rahasia."
Izuna menggenggam tangan Sakura dan menariknya berlari melewati beberapa jalan sempit, jalan besar dan menyebarang. Pengawal-pengawal itu sampai bingung mereka lewat dimana, mereka sembunyi sejenak dan kembali berlari menjauh.
Sakura hanya tertawa melihat wajah-wajah pengawal itu yang kelelahan mencari mereka.
Setelah melewati sebuah jalan, mereka sampai di dermaga. Sakura melebarkan matanya dan menatap laut luas yang ada di hadapannya.
"Laut."
Izuna melepaskan Sakura dan membiarkannya berlari di sepanjang dermaga, dia sudah sampai pada batasnya, Izuna segera mendudukkan dirinya dia sangat kelelahan.
"Untuk mu."
Sakura memberinya minuman kaleng yang dingin.
"Terima kasih."
Sakura duduk di samping Izuna dan meminum minumannya.
"Aku tidak abis pikir, kita bisa sampai ke dermaga."
"Pusat kota dan dermaga tidak terlalu jauh. Kau hanya perlu melewati jalan yang dekat menuju ke sini."
"Aku pikir kau tidak akan hapal jalan di kota."
"Aku pernah berkeliaran sendirian di pusat kota dan akhirnya menemukan jalan menuju dermaga.
"Uhm..."
"Bisakah kita istirahat. Aku benar-benar kelelahan."
"Silahkan tuan Izuna."
Sakura kembali berjalan-jalan, melihat beberapa kapal yang singgah di dermaga, bercerita dan bertanya-tanya dengan beberapa orang yang sedang membersihkan kapal mereka.
Izuna sudah tidak sadar lagi, dia tertidur di bawa sebuah pohon. Sedikit samar-samar, tapi Izuna bisa mendengar suara teriakkan Sakura.
"Izuna lari!"
Izuna membuka matanya dan mendapati seorang pengawal membangunkannya dan tiga orang pengawal berjaga-jaga di sekelilingnya. Di alihkan pandangannya ke arah suara tadi, Sakura di ikat dan di angkat oleh seorang pengawal.
"Tuan Izuna, anda baik-baik saja?"
"Uhm, aku hanya mengantuk."
"Sebaiknya kita pulang."
"Baiklah."
Mobil yang mereka naiki sudah berjalan pulang. Izuna hanya menutup mulutnya menahan tawa. Tubuh Sakura penuh dengan lilitan tali, dia diikat agar tidak lari lagi.
"Sampai kapan aku di kasih begini?" Protes Sakura.
"Maaf, nona Sakura, sampai tiba di kediaman anda akan kami lepas."
"Mereka pikir kau menculikku, kau harus di ikat nona." Ucap Izuna.
"Aku tidak sudi menculikmu, paman Izuna. Aduh!"
"Panggil paman lagi."
"Oh, jidatku. Bisakah kau berhenti melakukannya?"
"Tidak, sampai kau tidak memanggilku 'paman' lagi."
Sakura mendengus kesal dan tidak ingin melihat ke arah Izuna, dia membuang mukanya dan hanya menatap keluar jendela mobil.
Sesampainya.
Seluruh pengawal turun dan satu orang mengangkat Sakura. mereka berjalan menuju bangunan utama di mana Madara sudah menunggu mereka.
Sakura di turunkan dan mereka duduk berjejer di belakang Izuna dan Sakura.
"Kami berhasil menangkap nona Sakura tuan."
"Bagus. Hahahahahah"
Madara tertawa. Seluruh pengawal, Izuna dan Sakura terkejut melihat Madara tertawa. Para istri Madara berjalan masuk ke ruangan Madara. Istri pertama berlari ke arah Sakura yang di ikat.
"Kau tidak apa-apa Sakura."
"Aku tidak apa-apa."
Istri pertama Madara meminta mereka membuka ikatan Sakura.
"Kau hebat juga Sakura, bisa lari dari pengawal-pengawal terbaikku." Ucap Madara.
"Maaf, lagi-lagi aku melakukan hal yang buruk. Aku tidak terbiasa di kawal saat berjalan-jalan." Ucap Sakura tertunduk malu.
"Tidak usah minta maaf. Bagaimana, kau suka kawasan Uchiha?"
"Uhm, aku senang sekali bisa keliling-keliling di pusat kota."
Madara hanya tersenyum dan menyuruh seluruh pengawal untuk kembali ke tempatnya. Izuna dan Sakura pamit untuk kembali ke kamar mereka.
"Terima kasih untuk hari ini." ucap Sakura.
"Hn. Terima kasih atas penculikan dadakannya."
"Hehehe, maaf."
Mereka tiba di depan kamar Sakura dan mendapati Sasuke yang baru akan mengetuk pintu kamar Sakura.
"Sasuke." ucap Sakura
Sasuke berbalik dan melihat Sakura bersama Izuna. Mereka terlihat abis pergi bersama.
"Kau sudah pulang?" Sakura berjalan ke arah Sasuke.
"Hn, kau dari mana?"
"Tadi abis berjalan-jalan dengan Izuna."
"Uhm."
Tiba-tiba Sakura menarik Izuna dan mendekatkannya bersampingan dengan Sasuke.
"Waah, benar-benar mirip, hanya beda model saja."
Izuna menyentil jidat Sakura.
"Aduh! Oh ya ampun... jangan jidatku lagi." Sakura mengusap-ngusap jidatnya.
"Aku mau ke kamarku." Ucap Izuna dan berjalan meninggalkan Sasuke dan Sakura.
"Sakura aku perlu bantuanmu." Ucap Sasuke.
Sasuke mengajak Sakura ke bangunan yang tidak terlalu besar, hanya ada pilar-pilar yang menyangga bangunan itu. Bangunan itu di kelilingi dengan kolam ikan koi dan beberapa bunga teratai yang mengapung.
Sasuke menyuruh Sakura duduk dan Sasuke berbaring di atas pangkuan Sakura. wajahnya terlihat lelah.
"Kau capek?"
"Hn, dan aku bertemu Itachi."
"Kau bertemu kak Itachi."
"Dia hanya datang menggangguku."
Sakura hanya tersenyum.
"Kau pergi kemana?"
"Ke pusat kota. Kau tahu, aku di kira menculik Izuna hanya gara-gara aku membawanya lari menjauh dari para pengawal, mereka sampai mengikatku dan membawaku ke ruangan kakek Madara."
"Oh, lalu?"
"Kakek malah tertawa. Dia bilang aku gadis yang terlalu kuat untuk para pengawalnya."
"Kakek benar, kau gadis yang buas yang bisa saja memakan orang."
Sakura menepuk jidat Sasuke. "Kau pikir aku monster."
Sasuke menutup mukanya dengan tangannya dan tertawa.
"Itu tidak lucu."
"Iya, tidak lucu, tapi lucu."
"Sasuke!" geram Sakura.
Sasuke tertidur di pangkuan Sakura hingga jam makan malam tiba. Sakura yang tidak ingin membangunkan Sasuke membiarkannya, alhasil membuat kaki Sakura keram dan kesemutan.
Mereka berpisah saat Sakura masuk ke kamarnya, Sakura ingin mandi sebelum ke ruang makan.
Saat di ruang makan. Lagi-lagi Sakura tidak melihat Izuna. Dia tidak juga ikut makan malam bersama. Sakura jadi terlihat murung, dia pikir Izuna akan makan malam bersama.
"Hei Sakura. Aku dengar kau sampai membuat para pengawal kewalahan mencarimu yaa." Ucap Shisui yang tiba-tiba duduk samping Sakura.
Sasuke makan dengan tenang dan mendengarkan pembicaraan Shisui dan Sakura.
"Kami berlari ke pusat kota."
"Jadi benar, Izuna keluar dari kediaman?"
"Iya, aku memaksanya keluar."
"Kau hebat sekali, kau tahu sudah lama sekali dia tidak pernah keluar dari kediaman."
"Iya, aku tahu."
"Jadi? Apa dia tidak langsung pulang?"
"Tidak, bahkan Izuna mengajakku ke dermaga."
"Kau seperti mengubah Izuna."
"Hehehe, tidak juga, aku hanya tidak suka dengan orang yang selalu mengurung diri."
"Oh, dia terlihat seperti Sasuke."
"Uhm, sangat mirip, kau tidak akan percaya kalau mendekatkan mereka berdua."
"Cepat habiskan makanmu." Ucap Sasuke.
"Uhm,Iya."
"Cieee, yang cemburu."
Sasuke cuek menanggapi pernyataan Shisui.
.
.
.
Sasuke terlihat sibuk di kamarnya, Madara memberinya beberapa berkas untuk di bacanya.
"Boleh aku masuk?" tanya Shisui.
"Apa maumu? Aku sedang sibuk."
"Hanya bercerita saja."
Shisui masuk dan langsung membuang dirinya di kasur Sasuke.
"Hei, mau dengar gosip-gosip yang ada di kediaman?"
"Aku tidak suka mendengar gosip."
"Ini tentang Sakura dan Izuna loh."
Sasuke terdiam dan melanjutkan kerjanya, meskipun kertas berada di hadapannya, dia tidak membacanya, dia hanya mendengar apa yang ucapkan Shisui.
"Mereka semakin akrab. Saat kau sibuk di perusahaan, Sakura selalu bersama Izuna, Izuna sudah jarang berada di kamar siang harinya, dia akan pergi bersama Sakura. Apa kau tidak cemburu? Bisa-bisa Izuna mengambil Sakura."
"Aku tidak perduli."
"Yang benar? Kau tidak perduli."
"Ngomong-ngomong, bagaimana penyelidikanmu? Kau sudah menemukannya?"
"Jangan alihkan pembincaraan."
"Apa kau sudah menemukan orang yang bernama Kabuto?"
"Belum, sangat sulit, aku akan mencobanya lagi."
"Uhm."
"Ya sudah, aku sudah ngantuk."
Shisui keluar dari kamar Sasuke dan menutup pintu, Sasuke membuang kertas-kertas yang di pegangnya ke meja dan berbaring di kasur. Dia tidak suka mendengarkan kata-kata Shisui. Ada rasa tidak sukanya saat Izuna bersama Sakura.
Sakura, Izuna, bersama istri ketiga Madara pamit ke istri-istri lainnya, mereka akan berkunjung dua hari ke villa yang berada di puncak bukit, jauh dari perkotaan dan kediaman, terletak di desa Uchiha. Istri ketiga Madara juga ingin ke sana.
Setelah barang-barang mereka sudah di masukkan ke dalam mobil, mereka segera berangkat, Sakura tidak sempat pamit ke Sasuke dan Madara, lagi-lagi Sasuke di ajak Madara. Dan mereka akan kembali besoknya.
.
.
.
Sasuke sudah pulang bersama Madara, orang yang saat ingin di temui adalah Sakura. Sasuke berjalan menuju kamar Sakura.
"Tuan Sasuke, nona Sakura sedang keluar kota." Ucap seorang pelayan yang akan membersihkan kamar Sakura.
"Dia kemana?"
"Nona Sakura, tuan Izuna dan nyonya ketiga mereka pergi ke Villa."
"Kapan mereka akan pulang?"
"Besok tuan."
"Hmm."
Sasuke berjalan kembali ke kamarnya. Sakura pergi, dia harus bersabar sampai besok untuk bertemu dengan Sakura. Kenapa saat mendengar nama Izuna, rasanya ada yang aneh. Sasuke merasa tidak tenang, Izuna juga pergi bersama mereka.
Keesokan harinya. Izuna, Sakura, dan istri Madara yang ketiga sudah pulang. Istri ketiga Madara pamit untuk kembali ke ruangannya. Izuna dan Sakura berjalan bersama menuju kamar Sakura, mereka terlihat sedang berbicara dan sesekali membuat Sakura tertawa, Izuna hanya memasang wajah datarnya.
"Kau sudah pulang?" ucap Sasuke yang sudah berdiri di hadapan Sakura.
"Sasuke!" Sakura refleks memeluk Sasuke.
Izuna yang terlihat sedikit kelelahan dengan perjalanan jauh, memilih meninggalkan mereka berdua.
"Aku senang sekali, akhirnya kita bertemu." Ucap Sakura.
Sasuke melonggarkan pelukan Sakura, membuat Sakura melepaskannya. Sasuke bahkan tidak membalas pelukkannya.
"Neeh, aku baru tahu kalau villa keluarga dekat air terjun, air terjunnya sangat tinggi."
"Oh."
"Kapan-kapan kau ajak aku kesana yaa."
"Hn, nanti."
Sasuke terlihat bosan dan tidak ingin berbicara dengan Sakura.
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak, aku sedikit mengantuk, aku kembali ke kamar dulu."
"Uhm iyaa"
Sasuke pergi meninggalkan Sakura. meskipun Sakura merasa sangat senang, tetap saja ada yang merasa mengganjal di hati Sakura, Sasuke tidak seperti biasanya. Dia terlihat lebih cuek.
Jam makan malam. Semua orang sibuk di mejanya masing-masing, beberapa menit kemudian, semua orang mematung, bahkan bunyi piring dan sendok pun tak terdengar, pandangan mereka ke arah pintu ruang makan, Izuna datang bergabung. Izuna berjalan menghampiri Madara.
"Aku ingin makan bersama."
"Silahkan, kau ingin duduk di sini nak?" ucap Madara.
"Tidak, aku mau bergabung dengan Sakura saja."
"Uhm. Terserah kau saja."
Madara dan istri-istrinya terlihat senang, akhirnya Izuna mau bergabung dengan mereka.
Izuna berjalan dan menghampiri Sakura, dia duduk di samping Sakura. jika di lihat Sakura yang membatasi antara Sasuke dan Izuna.
"Paman, kau ikut makan bersama?" ucap Shisui.
sentilan keras mendarat di jidat Shisui.
"Aku sudah bilang, jangan memanggilku paman."
"Maaf-maaf."
"Lagi pula, kau lebih tua dariku Shisui."
"Hehehe, tapi tetap saja dalam keluarga kau adalah pa-"
Shisui berhenti mengucapkan 'paman' saat Izuna mau kembali menyentil jidatnya.
"Kau datang?" ucap Sakura.
"Uhm, aku tidak ingin mendengar seseorang yang ngotot memaksaku datang ke ruang makan ini."
"Aku kan hanya memberi saran, sekali-kali kau harus makan bersama keluarga."
Shisui yang duduk di hadapan mereka memperhatikan tingkah Sasuke yang sibuk dengan makannya, Sakura dan Izuna sibuk berbicara sambil makan.
"Kak Shisui kau mau lihat sesuatu?" ucap Sakura.
"Apa?"
"ini."
Sakura berdiri dan mendorong Izuna bersampingan dengan Sasuke.
"Bagaimana?"
"Ini untuk pertama kalinya aku melihat mereka bersamaan seperti ini, seperti saudara kembar yaa."
"Aku sudah selesai." Ucap Sasuke dan pergi begitu saja meninggalkan meja makan.
"Sasuke cemburu tuh." Ucap Shisui.
Sakura terdiam dan segera menghabiskan makannya.
.
.
.
Jam 11 malam. Sakura masih terjaga dan tidak bisa tidur, Sakura kepikiran dengan sikap Sasuke yang tiba-tiba seperti menjauh darinya.
Sakura memutuskan untuk berbicara langsung dengan Sasuke. Sakura berjalan keluar kamarnya. Padahal sudah tengah malam, pikirnya Sasuke mungkin belum tidur.
Sakura sudah hapal jalan ke kamar Sasuke, di ketuknya beberapa kali namun tak ada jawaban, Sakura membuka pintu kamar Sasuke dan tidak terlihat Sasuke, dia tidak ada kamar.
Sakura berjalan ke samping kamar Sasuke dan mengetuk beberapa kali kamar Shisui. Shisui yang belum tidur membukakan pintu dan melihat Sakura.
"Ada apa Sakura?"
"Sasuke tidak ada di kamarnya, apa kau tahu dia dimana?"
"Dia tidak ada di kamarnya? Aku pikir dia sudah tidur."
"Dia tidak ada, uhm.. coba tanya pelayan atau pengawal yang ada di depan gerbang mungkin mereka tahu."
"Baiklah."
"Mau aku temani?"
"Tidak usah, aku bisa sendiri."
"Okey."
Sakura berjalan pergi dan Shisui kembali ke kamarnya, mengambil ponselnya dan mencari nomer Sasuke.
Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkuan.
"Anak itu kemana sih."
Sakura sudah sampai di teras depan gerbang dan menanyakan ke pengawal yang berjaga di sana, mereka mengatakan kalau Sasuke keluar dengan motor dan tidak ingin di kawal, ada yang dengar Sasuke pergi ke bar. Mendengarnya Sakura segera berlari ke arah kamar Izuna, entah mengapa orang yang bisa menolongnya saat ini hanya Izuna.
Izuna membuka pintu kamar dan melihat raut wajah Sakura yang cemas.
"Ada apa Sakura?"
"Temani aku ke bar."
.
.
.
Salah satu bar di kawasan Uchiha yang benar-benar ketat di jaga, tidak sembarangan orang bisa masuk.
Sakura dan Izuna berjalan masuk tanpa di tahan, mereka mengizinkan masuk orang dengan mempunyai tanda khsusus seperti Izuna.
Sakura mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan cahaya yang sedikit redup, suara musik yang sangat kencan dan beberapa orang sudah terlihat mabuk. Tatapan Sakura tertuju pada seorang laki-laki dengan kaos hitamnya dan celana jinsnya, dia duduk dekat bartender dan kerumuni wanita-wanita dengan pakaian seksi. Pupil Sakura melebar dan tubuhnya terasa membeku. Salah seorang wanita mencium bibir Sasuke. air mata menetes di pipi Sakura. dia berjalan menerobos orang-orang yang sibuk berjoget. Sampai ke hadapan Sasuke.
"SASUKE!" teriak Sakura sekeras mungkin.
~ TBC ~
Maaf bersambung dulu, biar penasaran, *di gebukin rame-rame*
Beberapa konflik muncul lagi, soalnya kalau alurnya itu-itu aja bikin bosan. Eheheheh. Masih ada beberapa hal yang belum terungkap, baru membahas dikit masa lalu sasuke dan izuna, mungkin di chapter berikutnya , semoga saja, heheheh. meskipun sudah berapa kali di edit, masiiih aja ada typo yg kelewatan, maaf kalau typo bertebaran... *stress sumpah*
Uchiha Izuna benar-benar mirip Sasuke loh, cuma beda model rambut, coba deh lihat di om google. hehehehe
.
=Balas Review=
Mantika mochi : makasih, hehehe, sengaja di buat lambat biar pelan-pelan di rasain kisahnya, hahayy, semoga masih tetap mau di baca yoo,
Hanazono yuri : update..! XD, maaf kalau chapter yg ini banyak seriusnya. (Takut sama si kakek Madara), heheheh
Sashicchi : memang tuh Uchiha-uchiha yang kurang kerjaan. Tunggu aja kelanjutannya lagi, soalnya rahasia Itachi belum terungkap, heheheh, sedang konflik niih Sasu-saku. Mungkin chapter berikutnya bahas Itachi lagi.
Chichak Deth : Sasu-saku memang always so sweet, update! Update!
Moydini : update..! *semangat*
Guest : Lanjuutt...~ *semangat*
.
Terima kasih yang sudah review. Akhir kata review lagi... sampai jumpa di next chapter...
