Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan

.

.

.

"Jangan mengganggu Sakura. Ingat itu!" ucap Ino dan bergegas berlari ke arah Sai.

Ucapan Ino membuat Karin membencinya dan semakin membenci Sakura. Ide jahat tersirat di pikiran Karin. Dia merasa jika ide ini akan berhasil dan menjauhkan Sakura dan Sasuke.


~ my neighbor ~

.

[Chapter 7]

.

Don't Like Don't Read

.

.

Tiba di depan rumah Sasuke, seperti biasa, Sakura akan membantu Sasuke membukakan pagarnya.

"Kau menjadi wakil?" tanya Sasuke.

"Uhm, mereka menunjukku."

"Ketuanya?"

"Rock Lee."

"Oh."

"Kau juga menjadi ketua yaa, pasti bakalan sibuk."

"Mungkin saja."

"Sebaiknya seminggu ini kau tidak perlu menungguku, aku akan pulang sendiri."

"Tidak apa-apa, aku akan menunggumu sampai pulang, kau tidak boleh pulang sendirian."

"Terima kasih. Tapi..., aku benar-benar tidak apa-apa kok, hanya seminggu ini saja, kau kan ketua, kau harus fokus pada kelasmu."

"Kau keras kepala seperti biasanya, baiklah, jangan memaksakan diri."

Sasuke turun dari motor dan menarik Sakura dalam pelukkannya.

"Setelah semua selesai, kita pergi jalan-jalan."

Sakura menggangguk cepat dan membalas pelukkan Sasuke.

.

.

.

Tiga hari berlalu. Kegiatan perkuliahan di berhentikan selama festival, semua mahasiswa sibuk dengan kelas masing-masing, membuat kostum, mencoba menu untuk di jual, memilih dekorasi yang bagus, membuat bazar, sebagian bekerja di halaman untuk mendekor dan membuat stand-stand makanan.

Sasuke dan Sakura benar-benar sibuk, selama tiga hari ini mereka sudah jarang bertemu, Sasuke yang kelelahan memilih tidur di rumah Shikamaru yang lumayan dekat dengan kampus, begitu juga teman-teman satu gengnya, rumah Shikamaru menjadi markas sementara sebagai tempat istirahat, Sakura kadang menginap di rumah Ino jika pulang larut.

"Aku tidak suka orang itu." Ucap Ino sambil membawa kain-kain hitam untuk dekorasi.

"Siapa?" Tanya Sakura yang sibuk mengangkat kardus berisi peralatan.

"Tuh, lihat saja."

Perjalanan mereka dari gudang menyimpanan barang menuju kelas melewati kelas Sasuke, bisa di lihat Karin yang seperti sedang meminta tolong pada Sasuke dengan sedikit manja, padahal barang yang di bawa Sakura lebih besar dari pada barang yang di bawa Karin.

"Sudahlah, mereka itu satu kelas, jadi wajar saja jika Sasuke membantunya."

"Pokoknya aku tidak suka dengannya, dia seperti tidak suka padamu."

"Dia baik kok."

"Baik dari mananya?"

"Kami sudah bertemu di rumah Sasuke saat Sasuke sedang sakit."

"Baguslah."

"Bagus?"

"Iya, biar dia sadar akan posisinya yang buruk."

"Ahk, Ino aku tidak mengerti dengan ucapanmu."

"Kau harus tetap kuat dan jangan pernah jatuh ke lubang."

"Bicara mu semakin aneh Ino, kau tidak sedang di rasuki kan? Gara-gara ide rumah hantu ini?"

Ino mencubit pipi Sakura keras-keras. "Lakukan saja apa yang aku ucapkan yaa."

"Baik-baik, aduh, sakit.."

Ino melepaskan cubitan pedisnya dari pipi Sakura.

Sasuke menyadari Sakura yang lewat dan menatap ke arahnya, dia melihat Ino yang sibuk mencubit pipi Sakura. senyum terukir di wajah Sasuke, pikirnya Sakura mengucapkan hal yang membuat Ino kesal.

"Apa yang kau lihat?" tanya Karin.

"Tidak ada, mana yang akan di bawa lagi?"

"Ini."

Sasuke mengambil kardus lain dan membawanya masuk ke dalam kelas, lagi-lagi Karin menatap tidak suka ke arah dua gadis yang sudah jauh dari kelasnya, Karin bisa melihat Sasuke tadi tersenyum jika melihat Sakura, dia sangat jarang tersenyum untuk orang lain. Wajah dingin dan cueknya selalu menghiasi wajah Sasuke.

Waktu yang berjalan sangat cepat, suasana kampus mulai gelap, lampu di gerbang, sepanjang jalan, koridor dan kelas mulai menyala, meskipun sudah malam, kampus Konoha masih ramai, mereka masih sibuk menata kelas dan halaman.

Sakura berjalan menuju keran air yang berada di samping kelasnya, air untuk mengepel dan membersihkan ruangan kelas. Tiba-tiba Sakura terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang, kebiasaan seseorang jika sudah menemukan Sakura.

"Hei nona, jangan telat pulang."

Suara bariton seseorang yang membuat Sakura ingin menyiram orang itu karena sudah mengagetkannya.

"Di larang melecehkan seorang gadis saat di kampus tuan."

"Aku tidak melecehkannya, aku hanya membuatnya hangat."

"Kau mengagetkan ku."

"Aku pikir kau menyadarinya."

"Tidak."

Sasuke tersenyum dan membenamkan wajahnya di bahu kiri Sakura. beberapa hari tidak bertemu langsung dengan Sakura membuatnya sangat rindu. Sakura menggerakkan tangannya ke atas kepala Sasuke dan mengusap-ngusapnya perlahan.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sakura.

"Uhm, hanya sedikit lelah." Ucap Sasuke.

"Kembali ke kelasmu dan istirahatlah."

"Tidak, ini tempat istirahat terbaikku."

"Kita akan di lihat mahasiswa lain."

"Aku tidak peduli."

"Sasuke."

"Hn."

"Kembali ke kelasmu."

"Sedikit lagi."

"Ya ampun, kau ini."

Karin yang mencari Sasuke mendapati Sasuke bersama dengan Sakura. matanya melebar dan kemudian wajahnya tampak sangat kesal.

Sasuke kembali ke kelasnya dan Sakura juga kembali ke kelas membawa ember berisi air. Beberapa jam berlalu, kelas Sakura sudah bersih dan mereka bersiap-siap untuk pulang.

Ino tidak pulang bersama Sai, Sai masih sibuk dan belum pulang. Ino dan Sakura berjalan menuju halte, Sakura akan menginap lagi di rumah Ino. Dia sedikit takut jika harus pulang sendirian dan bahkan Sasuke belum pulang, deretan tetangga hanya rumah Sasuke yang dekat dengan rumahnya. Sasuke sudah mengatakan untuk sementara waktu dia nginap di rumah Shikamaru bersama teman satu gengnya.

Bus berhenti, Sakura dan Ino naik ke dalam dan duduk, masih jam 8 malam suasana bus masih ramai terlihat dari beberapa kursi yang hampir penuh.

"Enaknya, bisa bermesraan padahal sedang sibuk." ucap Ino tiba-tiba.

"Siapa yang kau bicarakan?"

"Tentu saja kau, aku melihatmu dan Sasuke."

Wajah Sakura memerah dan segera saja Sakura menundukkan kepalanya, Ino mendapatinya bersama Sasuke di tempat keran air.

"D-dia tiba-tiba datang."

"Iya-iya, tidak perlu di jelaskan, yang penting kalian sudah bertemu kan, mungkin Sasuke sangat merindukkanmu."

Sedikit lagi wajah Sakura akan meledak karena malu plus senang mendengar ucapan Ino.

"Sai terlalu jauh, dia jadi susah menemuiku, tapi dia sempat mengirim pesan padaku."

"Syukurlah, itu tandanya dia masih mengingatmu."

Ino mengangguk senang. Meskipun sedikit cemburu, tapi wajar saja, Sasuke dan Sakura satu fakultas, hanya beda kelas saja.

Sehari sebelum festival di mulai. Sakura duduk di kursi dan menopang jidatnya. Dia terlihat sangat lelah, tugas sebagai wakil membuatnya tidak bisa beristirahat, semua yang ada di kelas pun mempunyai tugas masing-masing, Sakura tidak enak jika mengganggu tugas mereka atau sekedar meminta tolong.

"Sakura kau baik-baik saja?" tanya Lee.

"Aku tidak apa-apa."

"Sebaiknya kau menemui kak Shizune dulu."

"Tidak perlu, sebentar lagi aku akan baik dengan sendirinya."

"Jangan memaksakan diri."

"Iya."

Lee kembali membantu teman-teman kelasnya untuk mendekor, tinggal sedikit lagi kelas mereka berubah menjadi rumah hantu yang seram.

"Sakura." Ino menghampiri Sakura yang terlihat tidak baik-baik saja.

"Tidak usah khawatir Ino. Aku baik-baik saja."

"Apa perlu ku panggil Sasuke."

"Jangan. Kau akan mengganggunya, aku bukan anak kecil lagi Ino yang harus di bantu terus menerus oleh Sasuke."

"Iya. Tapi yang di katakan Lee benar, kau harus menemui kak Shizune."

"Oke-oke, jika pergi ke kak Shizune akan membuat tidak khawatir lagi aku ke sana sekarang."

Sakura berjalan keluar kelas menuju UKS, setidaknya hal itu membuat Ino sedikit lega, dia tidak ingin Sakura sakit di hari festival.

Sakura mengetuk beberapa kali dan Shizune mengucapkan 'masuk' Sakura membuka pintu dan mendapati Shizune sedang membalut luka Karin. Sakura berjalan cepat dan berdiri di samping Shizune.

"Karin, apa yang terjadi?" tanya Sakura.

"Seseorang tidak sengaja menjatuhkan perlengkapan berat dan mengenai lenganku."

"Aku harap lenganmu cepat sembuh."

"Terima kasih."

"Ada apa Sakura?" tanya Shizune di tengah kegiatannya membalut luka Karin.

"Mau kah kau memeriksaku?"

"Berbaringlah dulu, setelah ini aku akan ke situ."

"Baik."

Sakura berjalan ke ruangan tempat berbaring dan segera berbaring. Suara pintu terbuka dan seseorang terdengar tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan UKS.

"Kau baik-baik saja?"

"Setidaknya kau ketuk pintu dulu, Sasuke."

Sakura sedikit terkejut mendengar Sasuke yang masuk ke ruang UKS. Sakura hanya terdiam di ruangan berbaring dan tidak menengok keluar.

"Aku lupa."

"Dasar kau ini."

"Bagaimana keadaan Karin?"

"Yaa, cedera di bagian lengan kanan, sementara ini dia tidak bisa melakukan apa-apa dulu."

"Aku baik-baik saja Sasuke. maaf jadi tidak bisa membantumu."

"Tidak apa-apa, kau istirahat saja, biar Naruto yang membantuku."

"Aku jadi bikin susah."

"Tidak masalah, selama ada yang bisa menggantikanmu."

"Terima kasih Sasuke."

"Sebaiknya kau pulang saja."

"Aku masih ingin di sini."

"Ya sudahlah, terserah kau saja."

Shizune selesai membalut luka Karin, Sasuke dan Karin pamit kembali ke kelas mereka.

Shizune berjalan dan mendapati Sakura berbaring dengan posisi meringkuk ke arah kanan.

"Sakura."

Sakura berbalik dan menatap Shizune.

"Yang tadi Sasuke kan?"

"Iya, kau tidak menyapanya?"

"Tidak perlu, aku akan membuatnya khawatir lagi kalau dia melihatku di ruangan ini."

"Kau gadis yang terlalu mementingkan perasaan orang lain."

"Bisa periksa aku sekarang? Aku tidak enak meninggalkan kelas."

Shizune memeriksa Sakura, Sakura yang terlalu memaksakan diri membuatnya terkena anemia, dia tidak boleh kerja apa-apa selama aniemanya belum hilang.

"Minum obat ini dan banyak-banyak minum air putih, ingat jangan tidur larut malam lagi." Ucap Shizune dan memberikan pil penambah darah pada Sakura.

"Tidak bisa, aku wakil di kelasku untuk festival tahun ini."

"Pokoknya tidak boleh, cari orang lain untuk menggantikanmu, jika kau memaksakan diri lagi, saat festival nanti kau hanya akan berada di rumah sakit."

"Kak Shizune, tidak ada cara lain?"

"Ada, kau pulang ke rumah dan tidurlah."

"Sepertinya itu bukan ide yang bagus."

"Sakura, ini hanya festival biasa, tahun depan lagi kau bisa mengikutinya."

"Tapi... cuman tahun ini aku yang menjadi wakilnya, tahun-tahun berikutnya mungkin orang lain."

"Kalau kau masih keras kepala, aku akan memanggil Sasuke, agar dia yang akan membawamu pulang."

"Jangan. Baiklah, aku akan di kelas dan tidak melakukan apa-apa, aku akan menurutimu kak Shizune, asal jangan ucapkan tentang keadaanku pada Sasuke."

"Nah, itu baru bagus."

Sakura berjalan gontai menuju kelasnya, dia benar-benar seperti pajangan di sudut kelas yang di jadikan tempat untuk tempat make up nantinya. Lee dan Ino datang menghampiri Sakura.

"Apa kata kak Shizune?" tanya Ino.

"Aku kena anemia."

"Istirahat di sini dan jangan berkeliaran." Ucap Lee.

"Tapi, kau akan sendirian bekerja."

"Jika kau pingsan itu akan lebih merepotkan."

"Lee benar, Sakura, lagi pula aku bisa membantu Lee."

"Maaf sudah merepotkan. Aku seperti tidak berguna saja."

"Lebih baik, dari pada kau tiba-tiba pingsan."

"Tenang saja, semuanya sudah selesai, kita akan pulang cepat Sakura."

"Iya, semangat."

Lee dan Ino kembali membantu teman-teman mereka untuk menata benda-benda agar suasana di ruangan itu terkesan horor.

Terlintas sejenak di pikiran Sakura tentang Sasuke yang datang ke ruang UKS, meskipun tidak melihatnya, suara Sasuke terkesan khawatir akan luka di lengan Karin. Membuatnya sedikit cemburu, Karin dan Sasuke semakin dekat saja.

.

.

.

Hari pertama festival tahunan kampus Konoha.

Suasananya begitu ramai, di depan gerbang ada yang bertugas membagikan brosur, kebanyakan orang umum yang datang untuk menikmati festival tahunan ini, beberapa kelas sangat ramai sampai-sampai mereka harus antri jika masuk.

Sakura sangat sibuk di depan pintu kelasnya sebagai penjual tiket. Lee juga sibuk membagikan brosur dan berlari kesana kemari jika teman-teman mereka membutuhkan properti lagi. Ino dan beberapa orang yang bisa make up berwajah seram, sibuk memperbaiki make up beberapa teman mereka.

Di kelas Sasuke, mereka membuat cafe, Sasuke tidak ingin menjadi pelayan, dia tidak terbiasa melakukan pekerjaan itu, Sasuke hanya berdiri di depan pintu, ide dari teman-teman kelasnya, sebenarnya mereka menjadikan Sasuke sebagai daya tarik, tapi Sasuke tidak terlalu pusing dengan hal itu, dari pada dia menjadi pelayan, dia tidak sudi melakukan hal seperti itu.

Karin hanya menjadi pengawas bahan-bahan menu, jika ada kekurangan Karin yang akan melaporkan ke bagian bahan-bahan. Melihat Sasuke memakai jas dan dasi kupu-kupu, membuatnya semakin tampan, Karin sampai tidak bisa berkedip menatap Sasuke yang sedang berwajah dingin dan cueknya di depan pintu, beberapa wanita juga memandangnya dengan tatapan malu-malu.

Festival di hari pertama sukses, pintu gerbang kampus sudah di tutup dan lainnya mulai bersih-bersih untuk besoknya lagi. Sakura merasa agak mendingan dengan meminum obat dari Shizune. Sakura kembali dari ruangan percetakan mengambil tiket baru untuk besok.

"Sakura."

Seseorang memanggil Sakura dari arah belakang, Sakura berbalik dan melihat Karin yang tengah berdiri.

"Karin, ada apa?" ucap Sakura dan berjalan lebih dekat ke hadapan Karin.

"Bagaimana kelasmu?"

"Sangat ramai, sampai-sampai tiket hari ini habis terjual, kau sendiri?"

"Sama, kami sampai kehabisan bahan-bahan."

"Lukamu bagaimana?" Tanya Sakura saat melihat lengan Karin yang masih di perban.

"Bisa di bilang belum sembuh."

"Oh, semoga cepat sembuh."

"Uhm, anu, ada yang ingin aku ucapkan."

"Apa?"

"Aku, uhm... aku menyukai Sasuke."

Sakura menarik napasnya dalam-dalam saat mendengarkan Karin mengucapkan hal itu.

"Aku pikir, aku bisa bersamanya, dia sangat baik padaku."

Sakura masih terdiam, dia ingin mendengar semua ucapan Karin sebelum dia mulai berbicara.

"Sebenarnya, saat awal ketemu Sasuke aku pikir dia tidak memiliki pacar, makanya aku berniat untuk mendekatinya, tapi ternyata dia sudah memiliki pacar. Kenapa kalian merahasiakannya di kampus?"

"Itu privasi Sasuke, dia tidak terlalu suka jika hal privasinya di ketahui orang lain, tapi jika ada yang sudah tahu, dia akan diam saja. Dia memang seperti itu."

"Mungkin kalau aku dengan Sasuke, kami bisa lebih baik. Kau tahu kan, kami selalu bersama saat di kampus."

"Aku tahu."

"Kau marah?"

"Tidak, wajar jika kalian selalu bersama karena sekelas."

"Aku berharap bisa menjadi yang spesial untuk Sasuke."

"Maaf, aku tidak bisa."

"Kenapa?"

"Aku tidak bisa melepaskan Sasuke begitu saja, dia sangat berarti bagiku."

"Bagiku Sasuke juga sangat berarti. Mungkin kau akan lebih baik dengan pria lain, yang lebih baik dari Sasuke, kau itu baik dan cantik, kau bisa mendapatkan yang lebih, Sakura."

"Aku tidak bisa."

"Bisakah kau meninggalkan Sasuke untukku?"

"Tidak, Karin."

"Aku mohon padamu, aku sungguh-sungguh mencintai Sasuke."

Sakura terdiam, dia menahan rasa sakit hatinya gara-gara Karin, menurutnya Karin sudah keterlaluan, memaksanya untuk meninggalkan Sasuke yang sejak lama mereka bersama, itu sangat mustahil bagi Sakura.

"Aku tidak akan melepaskan Sasuke." tegas Karin.

Ucapan dan tatapan Karin berubah, dia terlihat kesal dan tetap ingin menyuruh Sakura meninggalkan Sasuke untuknya.

"Sudah cukup Karin, aku tidak ingin membicarakannya, aku tetap tidak akan memberikan Sasuke padamu."

"Apa! Memangnya kau siapa? Kau tidak ada hak untuk melarang Sasuke melakukan apapun."

"Kau benar, aku tidak punya hak apa-apa, itulah sebabnya aku tidak pernah melarang Sasuke untuk bergaul dengan siapa pun."

"Aku kira kau akan menjadi gadis penurut yang mau mendengarkan ucapanku, kau harus meninggalkan Sasuke, kau tidak tahu bagaimana perasaan Sasuke, dia akan lebih baik jika bersamaku!"

Plaakk.!

Karin terkejut, Sakura menamparnya dengan sangat keras.

"Aku sudah muak mendengarnya." Kesabaran Sakura habis.

"Cukup Sakura."

Sakura terkejut. Sasuke melihatnya, melihat Sakura menampar Karin. Sasuke tidak mendengarkan ucapan Karin sebelumnya, dia hanya melihat Sakura menamparnya.

"Aku pikir kau tidak pernah melarangku untuk bergaul dengan siapa pun, tapi kalau kau kesal jika gara-gara Karin dekat denganku, kau tidak perlu melukainya. Aku kecewa padamu, Sakura."

Sasuke mengajak Karin kembali ke kelas mereka dan meninggalkan Sakura begitu saja. Mereka sudah jauh, Sakura masih mematung, dia menggigit bibir bawahnya dan air matanya yang sudah membendung jatuh begitu saja.

"Kau salah paham, Sasuke." Ucapnya perlahan.

Hari kedua. Sakura masih bertugas menjual tiket. Meskipun perasaannya sedang kacau dia tidak bisa menyia-nyiakan usaha teman-temannya untuk mensukseskan kembali rumah hantu mereka.

Gerbang kampus tertutup menandakan hari kedua selesai, di dalam kelas Sakura sangat ribut dengan suara tertawa teman-temannya yang berperan menjadi hantu, mereka menceritakan beberapa orang yang ketakutan bahkan ada yang sempat modus dengan pacarnya saat di dalam, membuat seakan-akan pria itu pahlawan namun saat hampir finish pria itu malah lari meninggalkan pacarnya karena hantu yang tidak di sukainya muncul.

Sakura terlihat baik-baik saja, dia tidak ingin Ino sampai membaca pikirannya saat ini, Ino paling ahli jika tahu Sakura mendapat masalah.

"Baiklah, ayo kita pulang Sakura."

"Iya. Hari ini menyenangkan sekali yaa, tiket kita habis terjual lagi."

"Soalnya penjaga tiketnya gadis cantik sih, tunggu Sampai Sasuke tahu, banyak pengunjung yang sibuk bertanya nama dan meminta nomer ponselmu."

Sakura seperti melamun saat mendengar Ino mengucapkan nama Sasuke.

"Sakura. Hei, Sakura."

"Eh, ja-jangan katakan padanya, dia akan marah padaku."

"Hahaha, kau ini, Aku penasaran bagaimana kalau Sasuke cemburu."

"Kau sampai tidak akan mengenalnya."

"Hee, benar kah? Sasuke akan seperti itu."

"Uhm."

"Merepotkan juga yaa."

"Sudahlah."

"Yosh, besok hari terakhir, kita harus lebih semangat lagi, saat hari terakhir acara di kelas akan cepat selesai dan semuanya akan berkumpul di lapangan dan bakar-bakar kembang api, pasti akan sangat menyenangkan, meskipun bukan tahun baru kita akan melihat kembang api."

"Iya, aku tidak sabar untuk besok."

.

.

.

Keesokan harinya, semua kelas sukses dengan acara mereka masing-masing, festival di tutup dengan pembakaran kembang api di lapangan, seluruh mahasiswa berjalan menuju lapangan dan berkumpul. Lapangan yang luas mampu menampung seluruh mahasiswa yang ada di kampus Konoha.

Hitungan mundur dan seluruh kembang api di luncurkan. Mereka berseru senang dan melihat langit yang penuh dengan kembang api warna warni.

"Indahnya." Ucap Ino.

"Iya, indah sekali."

Sakura terdiam, dia melihat ke sebarang arah, Karin dan di samping Karin ada Sasuke, Sasuke hanya menatap langit dan tidak melihat lainnya, sesekali Karin memanggilnya untuk berbicara dan pandanganya ke arah Karin.

"Aku pulang duluan yaa."

"Kenapa, acara kembang apinya belum selesai."

"Hehehe, kau sendiri tahu kan, beberapa hari ini aku jarang kembali ke rumah, baju kotorku sudah numpuk loh, dan pasti rumahku sudah berdebu."

"Kau bisa membersihkannya saat hari libur."

"Tidak Ino, aku harus pulang, dan kak Shizune menyuruhku untuk istirahat lebih banyak."

"Tidak apa-apa kau pulang sendiri?"

"Tidak apa-apa kok."

"Mau aku panggilkan Sasuke untuk mengantar mu."

"Jangan, sama saja kau mengganggu tugasnya, kegiatan ini belum sepenuhnya selesai. Besok masih ada rapat ketua dan wakil lagi."

"Oh, ya sudah, hati-hati di jalan."

"Iya, tolong sampaikan maaf ku pada Lee yang hanya sedikit membantunya."

"Iya, akan ku sampaikan."

Sakura berjalan meninggalkan keramaian dan menuju kelas untuk mengambil tasnya. Tatapannya datar selama di bus, Sakura turun dan singgah sejenak di mini market untuk membeli minuman dingin dan beberapa cemilan.

Pintu rumah Sakura terbuka, tangannya sibuk mencari saklar dan menyalakan lampu ruang tamunya, ruang tamunya tetap rapi saat dia tinggalkan, tidak ada yang perlu di bereskan, Sakura hanya memasukkan baju kotornya dan membiarkan mesin cuci membersihkannya, setelahnya Sakura berjalan menuju ruang tv, menaru beberapa cemilan di meja, menyalakan layar tv dan menonton dengan segelas es krim coklat di pegangnya, membuatnya sedikit bersantai untuk hari ini. Di liriknya sejenak ke jendela yang bisa melihat rumah Sasuke, terlihat masih gelap, Sasuke belum pulang juga atau mungkin dia akan menginap di rumah Shikamaru lagi.

Jujur saja, dia sangat merindukan Sasuke. kembali teringat akan sikap Sasuke, kadang membentaknya, kadang marah padanya, kadang seperti bukan Sasuke, tapi Sakura tahu ada sebabnya jika Sasuke seperti itu, meskipun beberapa kali hanya gara-gara masalah sepeleh, Sakura merasa sedikit sakit mendengar ucapan Sasuke, dia kecewa padanya.

Sakura masih tidak bisa tenang, mungkin kata-kata Karin benar, dia harus melepaskan Sasuke meskipun berat baginya. Entah apa yang di pikirkan Sakura, dia segera berlari ke kamarnya, mengambil koper dan mengisi beberapa barangnya. Waktu orang tua Sakura datang, mereka memasang telepon rumah agar Sakura bisa menghubungi mereka, Sakura masih tidak ingin memegang ponsel jika nantinya akan sia-sia di tangannya, Sakura merasa tidak keberatan dengan telepon rumah, itu akan lebih baik karena dia tak perlu membawanya dan membuatnya terjatuh. Sakura menelpon untuk memesan tiket penerbangan ke Suna. penerbangan hari ini jam 10 malam, sekarang masih jam 8 lewat 15 menit, dia masih sempat mendapatkan penerbang itu, Sakura segera memesan tiket, menelpon taksi dan segera ke bandara.

Sakura mematikan lampu rumahnya, memastikan semua jendela dan pintunya terkunci, tak lupa membawa barang-barang penting, Sakura menarik kopernya keluar dan mendapati taksi sudah sampai di depan pagarnya, sedikit helaan napas dari Sakura, dia siap untuk meninggalkan Konoha sejenak, dia merasa perlu menenangkan diri, supir taksi itu keluar dan menyimpan koper Sakura di bagasi dan segera berangkat sebelum Sakura telat untuk cek in jadwal penerbangannya.

.

.

.

Acara penutupan festival tahunan kampus Konoha, para ketua dan wakil mengadakan rapat untuk menyampaikan beberapa pendapat tentang festival tahun ini. meskipun terlihat tenang, wajahnya memang selalu tidak terbaca oleh siapapun, dia sedikit khawatir, bahkan rapat ketua dan wakil, Sakura tidak ada, hanya Lee sendirian. Sasuke merasa dia tidak perlu berbicara seperti itu pada Sakura, mungkin Sakura tidak sengaja atau ada ucapan Karin yang membuat Sakura marah.

Rapat selesai, Sasuke tidak mengindahkan panggilan Karin, Sasuke sudah berlari ke arah UKS, pikirnya Sakura sakit atau kelelahan lagi.

"Sasuke? ada apa?" tanya Shizune.

"Apa Sakura ada di sini?"

"Tidak, dia tidak kesini, hanya beberapa hari yang lalu sebelum festival."

"Kapan itu?"

"Saat Karin juga ada di sini."

Sasuka terdiam, Sakura berada di ruang UKS dan dia tidak tahu sama sekali.

"Apa yang dia lakukan di sini?"

"Dia kelelahan dan terkena anemia, aku hanya menyuruhnya untuk istirahat."

Lagi-lagi Sasuke terdiam, dia tidak menyadari semuanya, Sakura sedang sakit dan dia tidak ada di sampingnya, dia malah mengucapkan kata-kata yang mungkin membuat Sakura sedih.

"Terima kasih, Shizune."

Sasuke kembali berlari menuju kelas Sakura dan di kelasnya tidak ada. hanya ada Ino yang sibuk dengan ponselnya, Sasuke berjalan menghampiri Ino dan memanggilnya.

"Ada apa?"

"Sakura dimana?"

"Aku tidak tahu, mungkin dia tidak ke kelas hari ini, kau tidak tahu yaa, kalau dia sedang kena anemia, sepertinya dia sedang beristirahat, kak Shizune sudah memarahinya untuk tidak memaksakan diri."

"Hmm, baiklah."

"Kau mau ke rumahnya?"

"Hn."

"Sampaikan salamku padanya, moga cepat sembuh."

"Akan aku sampaikan."

Sasuke sedikit terburu-buru menuju parkiran motornya untuk segera pulang.

"Sasuke"

"Ada apa Karin?"

"Kau mau kemana?"

"Pulang."

"Tapi kelas belum berakhir."

"Aku serahkan padamu, aku harus segera pulang, Sakura sedang sakit, aku tidak ingin dia sendirian."

"Apa dia sangat berarti bagimu?"

"Tentu, sampai kapan pun itu, dah."

Sasuke segera melajukan motornya, dia tidak peduli lagi dengan kecepatan motornya, yang ada di pikirannya saat ini, dia ingin bertemu dengan Sakura dan meminta maaf atas ucapannya.

Karin menatap sedih ke arah Sasuke yang sudah jauh. Dia tidak bisa mendapatkan Sasuke dengan mudah, Sakura sudah menjadi orang yang sangat penting baginya. Karin berjalan ke kelas dengan hati yang sangat sakit.

Rumah Sakura terlihat kosong, pagarnya terkunci rapat, bahkan lampu terasnya sudah mati. Sasuke berjalan pulang ke rumahnya dan masuk, Sasuke berbaring di sofa dan memijat pelan pelipisnya, Sakura juga tidak ada di rumah, tidak di kampus, dan tidak bersama Ino. Sasuke bingung harus mencari Sakura kemana.

.

.

.

Sakura membuka matanya perlahan, di tatapnya sekeliling ruangan, ini adalah kamarnya di Suna. Di tariknya lagi selimut dan Sakura menutup matanya, dia sedang memikirkan tindakannya saat ini, salah atau benar, dia bingung harus bagaimana untuk mengendalikan dirinya sendiri, rumahnya kosong, orang tuanya belum pulang, mereka selalu menaru pesan di kulkas. Mereka akan kembali sebulan lagi. Berada di Suna maupun di Konoha sama saja, Sakura selalu sendirian.

Sakura berjalan turun ke arah dapur, mengambil sebotol susu dan gelas, menuangkan susu itu di gelas dan mengembalikan botolnya ke dalam kulkas. Sakura mencari-cari bahan untuk membuat sandwich. Beberapa detik Sakura sudah siap dengan sarapannya. Dia merasa tidak enak dengan meninggalkan Ino tanpa mengabarinya. Sakura berjalan menuju ruang tengah, mengangkat gagang telpon dan menekan-nekan tombol.

Rumah Sakura calling...

Ino merasa bingung dengan kontak yang muncul di layar ponselnya, itu adalah nomer rumah Sakura di Suna. Ino yang penasaran segera mengangkat ponselnya.

"Halo?"

"Ino, ini aku."

"Sakura? kau, kau di Suna?"

"Kau masih menyimpan nomer ini?"

"Tentu, aku bisa menghubungimu kapan saja jika kau ke Suna. Tu-tunggu dulu, jawab pertanyaanku tadi, kau di Suna?"

"Iya, aku ke Suna?"

"Kau pulang begitu saja tanpa mengabariku dan kau membolos hari ini."

"Maaf, ada sesuatu yang penting yang harus ku lakukan di sini, aku terburu-buru pulang dan lupa mengabarimu."

"Benar kah?"

"Iya, aku akan segera kembali kok."

"Sasuke mencarimu, dia terlihat khawatir saat menemuiku."

"Bisakah kita tidak membahasnya."

"Kenapa? Kalian bertengkar, apa gara-gara kalian bertengkar kau kembali ke Suna?"

"Bu-bukan, bukan karena Sasuke, pokoknya kami tidak bertengkar."

"Mencurigakan sekali."

"Jangan katakan apa-apa pada Sasuke, aku tidak ingin dia tahu aku ada dimana."

"Sepertinya kalian memang sedang bertengkar, apa karena si kepala merah itu? Biar aku yang beri dia pelajaran."

"Ino, jangan membuatnya bertambah rumit, kau harus tenang, aku tidak peduli lagi dengan dia atau siapalah, aku tidak ingin kau terlibat. Bisakah kau menghargai pendapatku?"

"Kau selalu saja mengendalikanku setiap aku ingin melabrak seseorang."

"Aku senang kau bisa menghargai pendapatku, aku hanya tidak ingin kau terlibat terlalu jauh dan membuat mereka mengganggumu."

"Terima kasih atas kekhawatiranmu Sakura, aku paham maksud ucapanmu."

"Terima kasih kembali, Ino."

"Sampai kapan kau akan di sana?"

"Sampai aku bisa mengendalikan emosiku, aku sudah menapar Karin."

"Hebat, aku salut padamu Sakura."

"Dan itu mendatangkan kesalahpahaman Sasuke, dia pikir aku iri atau benci pada Karin karena mereka selalu terlihat bersama."

"Dasar lelaki datar itu, mungkin dia yang harus ku pukul juga."

"Ino, ingat kendalikan diri."

"Iya-iya, tapi saat itu dia khawatir, jangan-jangan dia sudah menyadari kesalahannya."

"Aku tidak mengetahui apa-apa saat ini, lagi pula aku sedikit rindu rumah di sini."

"Lain kita akan berbicara, pak Iruka akan segera masuk."

"Uhm, iya, dah."

Ino menatap layar ponselnya sejenak dan menyimpannya di tas, setidaknya dia sudah mendapat kabar dari Sakura, dia tidak perlu cemas dan waktunya membiarkan Sasuke bingung mencari Sakura, dia merasa perlu sedikit memberi pelajaran pada Sasuke yang sudah membuat sahabatnya sedih sampai harus kembali ke kota asalnya.

Sakura menutup teleponnya dan merebah dirinya di sofa. Ucapan Ino kembali terdengar di telinganya, Sasuke terlihat khawatir, namun Sakura segera menghilangkan pikiran itu, dia ingin bersantai di Suna. Sakura segera mandi dan bersiap-siap.

Beberapa menit kemudian, Sakura sudah rapi dan bergegas menuju sebuah rumah yang tidak jauh dari rumahnya. Sebuah rumah yang lebih mewah dari rumahnya dengan halaman yang luas dan pengawal di mana-mana.

"Seperti biasa rumah ini tidak ada yang berubah."

"Nona Sakura?" salah seorang penjaga pintu masih mengenal Sakura.

"Anda masih mengenalku?"

"Tentu Nona."

"Aku pikir penjaga baru."

"Di rumah ini hanya pembantu di dalam yang baru, tuan Sasori terlalu menyeleksi pembantu barunya." Bisik penjaga itu agar hanya Sakura yang mendengarkannya.

Yang terlintas di pikiran Sakura, pembantu yang cantik, dewasa dan seksi, selera Sasori dari saat mereka sudah masuk SMA.

"Apa dia ada di rumah?"

"Iya, biar saya yang mengawal anda masuk, mungkin beberapa penjaga baru tidak mengenal anda."

"Terima kasih."

Sakura berjalan masuk bersama salah seorang penjaga Sasori yang sudah lama bekerja. Penjaga itu hanya mengantar Sakura sampai ke depan pintu kamar Sasori, suasana yang masih pagi, Sasori masih belum keluar dari kamarnya, dia masih tidur, pikir Sakura.

Sakura merasa tidak perlu mengetuk atau memanggil Sasori, sejak umur Sakura 5 tahun dan Sasori 3 tahun, Sakura sudah sering mendatangi kamar Sasori dan mengganggunya tidur.

Sakura membuka pintu kamar Sasori yang tidak terkunci, di dalam sangat gelap dan dingin, Sasori belum mematikan AC kamarnya, tidak menyalakan lampu bahkan gordennya masih tertutup rapat.

Sakura segera berjalan ke jendela, membuka gorden Sasori lebar-lebar dan membuat seseorang di kasur menggeliat tidak senang mendapati sebuah cahaya berada pas di wajahnya.

"Aku sudah bilang! jangan menggangguku hari ini! aku ingin tidur!" teriak kesal Sasori.

"Selamat pagi tuan Sasori yang manja."

Sasori terkejut dan melihat seseorang yang sedang berdiri di depan jendela dengan senyum mengejeknya, dia berhasil lagi mengganggu Sasori. Sasori langsung membuang dirinya kembali ke kasur.

"Kau selalu saja tidak membiarkan ku tidur nyenyak di pagi hari."

"Lain kali dengan senang hati aku akan menggunakan air beserta es batu untuk membangunkan mu."

"Berhenti berperan menjadi kakak yang jahat, kau tidak berniat menjadi kakak yang baik untuk adikmu yang imut ini."

"Tidak sudi."

"Hahahah." Sasori berguling-guling di kasurnya.

Beberapa menit kemudian. Sakura dan Sasori yang sudah mandi dan berganti pakaian duduk di kursi yang tersedia di kamar Sasori, Sakura meneguk segelas teh hangatnya dan Sasori sedang sarapan.

"Apa kamarmu bertambah luas?"

"Sedikit, dinding di samping sudah di hancurkan dan di bangun sedikit lebih jauh, soalnya di sebelahnya hanya ruangan yang tidak terpakai."

"Oh."

"Lalu, apa tujuanmu ke Suna, aku pikir kau sedang kuliah."

"Aku bolos."

"Sejak kapan kau menjadi orang yang suka bolos-bolos?"

"Saat aku rindu ke sini."

"Kau kan bisa kembali saat liburan."

"Liburan masih lama, aku ingin segera ke sini."

"Kau tidak sedang bertengkar dengan si muka tembok kan?"

"Sedikit."

"Sudah ku duga, kau itu tidak cocok dengannya, makanya sekarang juga putuskan dia dan jadian denganku."

"Bisa saja gelas yang aku pegang ini mendarat di wajahmu?" urat-urat kesal muncul di kening Sakura.

"Aku hanya bercanda. Mau menceritakannya padaku?"

Sakura mulai bercerita hingga sarapan Sasori selesai. Sasori melap mulutnya dan menggeser sedikit tempat sarapannya.

"Oh, hanya salah paham, sainganmu berat juga yaa, sampai-sampai terang-terangan memintanya padamu tanpa malu. Gadis yang luar biasa."

"Kau membelanya?"

"Tidak juga, aku hanya terkesan dengan tingkah nekatnya. Dan sekarang Sasuke sibuk mencarimu, kau kabur entah kemana, itu yang ada di pikirannya, apa itu tidak jahat?"

Sakura terdiam mendengar ucapan Sasori.

"Hahah, kau ini kan memang jahat, selalu jahat padaku, kali ini kau jahat pada si muka tembok mu, aku jadi penasaran bagaimana wajah frustasinya saat tidak menemukanmu."

"Apa aku salah?"

"Tentu saja. Kau harus menjelaskannya pada si muka tembok."

"Dia akan mempercayaiku?"

"1000 persen, dia akan percaya."

"Bagaimana kau tahu?"

"Aku bisa tahu saat melihatnya, jika tidak aku tahu tidak mungkin menyerahkanmu padanya."

"Masih bertingkah sebagai adik yang melindungi kakaknya?"

Tiba-tiba Sasori berjalan ke arah Sakura dan menguncinya, tangan Sasori berada di sisi kiri dan kanan Sakura. menatap Sakura dengan serius, jarak mereka hanya 30 senti.

"Kau lupa sesuatu Sakura, saat ini kau berada di kamar seorang pria bukan anak kecil berumur 3 tahun."

"Maaf, jika membuatmu tersinggung." Ucap Sakura dan langsung mengacak-acak rambut Sasori.

"Jangan lalukan itu." Sasori menjauh dan duduk di samping Sakura. "Kau ini selalu tenang jika menghadapiku." Sambungnya sambil merapikan rambutnya yang sudah di acak-acak Sakura.

"Aku sudah terbiasa denganmu."

"Karena kau sudah di sini, mau jalan-jalan? aku hari ini libur dan bosan kalau hanya di rumah."

"Uhm..., Baiklah."

.

.

.

Sasuke masuk ke dalam rumahnya dan membuang tasnya ke lantai, mengambil minuman dingin di kulkas dan duduk di ruangan tv. Wajahnya terlihat lelah meskipun hari ini dia tidak terlalu sibuk, memikirkan Sakura membuatnya tidak fokus melakukan apapun saat ini.

Sasuke mengambil ponselnya dan mengusap layarnya, Sasuke terus memperhatikan wallpaper ponselnya. Dia tiba-tiba ingat sesuatu dan mencari sebuah kontak yang ada di ponselnya. Sasuke menelpon seseorang yang sepertinya bisa membantunya menemukan Sakura.

"Ada apa? Kau merindukanku?"

"Berisik."

"Hahahaha, tumben kau menelpon."

"Aku perlu bantuan mu, Shisui."

"Tidak mau!."

Tuuutt.. tuuutt... tuuut...

Shisui mematikan ponselnya, wajah Sasuke berubah menjadi kesal dengan tingkah Shisui yang seenaknya mematikan ponselnya dan mengucapkan 'tidak mau' membantunya.

Ponsel Sasuke berdering.

Shisui calling.

"Sialan kau Shisui!"

"Hahahaha, maaf-maaf jangan marah begitu, aku hanya bercanda."

"Jangan membuatku bertambah kesal."

"Baik-baik, aku akan membantumu dengan satu syarat."

"Apa?"

"Biarkan aku kencan dengan Sakura yaa."

"Mati saja kau!."

Tuuutt.. tuuutt... tuuut...

Kali ini Sasuke yang mematikan ponselnya, meminta tolong pada Shisui hanya membuatnya menjadi sakit kepala dan sangat-sangat kesal.

Shisui calling.

"Kau ini tidak bisa di ajak bercanda yaa, jadi apa yang perlu ku bantu?"

"Sakura menghilang."

"Ahk! Sakura menghilang! kau lupa menarunya di mana? Coba cari baik-baik."

"Kau pikir Sakura benda, jangan main-main, aku sedang serius."

"Heheh, oke."

"Cari keberadaannya dimana, dia sepertinya tidak berada di Konoha."

"Baiklah. Jangan matikan ponselmu."

"Hn."

Hening sejenak, Shisui dengan mencari data dan informasi tentang Haruno Sakura. untung saja saat ini Shisui dengan libur kerja dan hanya mengurung diri di dalam kamarnya.

"Nona Haruno Sakura, mengambil penerbangan ke Suna."

"Kapan itu?"

"Hari rabu, jadwal penerbangan jam 10 malam."

Sasuke terdiam, hari rabu, hari penutupan festival tahunan kampus Konoha.

"Sakura ke Suna? Bukannya itu tempat asalnya?"

"Iya."

"Ada apa? Apa kalian sedang bertengkar?"

"Aku sendiri tidak tahu."

"Hee, kau harusnya memahami Sakura, sekarang dia kembali ke Suna dan tidak mengucapkan apa-apa padamu, dia mungkin sangat marah, apa yang sudah kau lakukan pada-"

Tuut...tuut... tuuut.

Sasuke langsung mematikan ponselnya, yang penting dia sudah tahu keberadaan Sakura.

.

.

.

Sasori mengantar Sakura sampai depan rumahnya, Sakura terlihat begitu senang, sudah lama sekali dia meninggalkan Suna, kota kelahirannya ini semakin berkembang, terlihat dari gedung-gedung yang bertambah, toko-toko baru dan lain-lainnya.

Sasori turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Sakura.

"Kita sudah sampai nona Haruno."

"Terima kasih tuan Sasori."

Sakura turun dan berjalan menuju depan pagar rumahnya.

"Kau terlihat bersenang-senang hari ini."

"Iya, sangat menyenangkan tadi."

"Mungkin sebaiknya kau kembali ke Konoha, seseorang pasti sudah menunggu mu di sana atau sedang sibuk mencarimu."

"Aku tidak ingin membahasnya."

"Kalau begitu kita jadian."

"Tidak akan."

"Pulang ke Konoha atau kau jadi pacarku?"

"Tidak keduanya."

"Kau memang gadis yang keras kepala."

"Sebaiknya kau pulang, terima kasih untuk hari ini."

"Ah~ baiklah, berbicara padamu tak ada gunanya juga. Selamat malam Sakura."

"Selamat malam, dah."

Sasori mengangguk dan segera masuk ke dalam mobilnya, mobil Sasori memutar dan sudah menghilang dari pandangan Sakura.

Sakura menghela napas sejenak dan membuka kunci pagarnya dan masuk, menyalakan saklar ruangan dan masuk ke kamarnya, Sakura mengganti pakaiannya, mencuci muka dan menggosok gigi, setelah semuanya selesai, Sakura segera merebah dirinya di kasur, seharian dia hanya menghabiskan untuk berkeliling bersama Sasori.

Menyibukkan diri tidak membuat Sakura akan lupa dengan Sasuke, kadang-kadang wajah Sasuke yang terlintas di pikirannya, Sakura merindukannya meskipun baru beberapa hari di Suna dia sudah merasa seperti bertahun-tahun tidak bertemu dengan Sasuke, Sakura merasa bersalah, dia terkesan seperti anak-anak yang takut jika miliknya di ambil orang lain dan akan merengek jika hal itu terjadi, dia kabur dari Sasuke, karena ucapan Sasuke yang membuatnya sakit, tapi kata-kata Sasori benar, Sakura tidak seharusnya pergi tanpa menjelaskan apapun pada Sasuke, itu sama halnya membuat seakan-akan Sasuke benar-benar salah sepenuhnya. Sakura berusaha tidur, berharap perasaannya akan lega esok harinya.

Pukul 07:10

Seseorang memencet bel rumah Sakura, Sakura menggeliat tidak senang dengan tamu di pagi hari, matanya perlahan terbuka dan menatap jam dinding kamarnya, pukul 07:10, siapa yang bertamu sepagi ini, jika itu Sasori, Sakura sudah siap untuk memukulnya sangat keras, Sakura pikir Sasori balas dendam karena hanya Sakura yang tidak pernah di ganggu tidur paginya.

Sedikit malas menuruni tangga, Sakura hanya sempat mencuci muka dan menggosok gigi, rambutnya di sisir tidak begitu rapi. Sakura berjalan menuju pintu dan memutar kuncinya, membuka pintunya sedikit dan mengintip siapa yang datang, seseorang yang tengah berdiri membelakangi pintu, Sakura membuka pintu dengan lebar dan mematung, dia masih menatap orang itu yang belum juga berbalik.

"Sasuke."

Yang di panggil berbalik, dia masih tidak bergerak dan juga seperti Sakura, mematung menatap Sakura yang baru bangun tidur, sangat cantik bagi Sasuke.

"Apa kau marah padaku?"

Sakura menggelangkan kepalanya, dia tidak marah hanya sedikit sakit.

"Aku akan pulang, mungkin kedatanganku tidak membuatmu senang."

"Tunggu!"

Sakura berlari dan memeluk Sasuke. "Jangan pergi."

"Terima kasih atas hukumanmu, kau membuatku frustasi beberapa hari ini."

Suara cekikan muncul dari Sakura mendengar ucapan Sasuke, kepergiannya dari Konoha serasa seperti hukuman berat bagi Sasuke.

"Aku tidak bermaksud seperti itu."

"Kau baik-baik saja? Shizune sudah memberitahukanku semuanya."

"Aku baik-baik saja berkat obat dari kak Shizune."

Mereka masih berpelukkan dan seperti tidak ingin melepaskan satu sama lain.

"Kau tidak mengajakku masuk?" ucap Sasuke.

Sakura melepaskan pelukannya dan menarik lengan Sasuke dengan manja untuk masuk.

"Selamat datang di Suna, ini adalah rumahku."

"Lebih besar dan lebih luas di sini."

"Iya, karena ini rumah utama, yang ada di Konoha hanya rumah sementara, tapi orang tua ku tetap menyukai rumah itu dan masih mempertahankannya. Silahkan duduk. Mau minum apa?"

"Tidak perlu, kau di sini saja."

Sakura duduk di sofa dan Sasuke tidur di pangkuan Sakura.

"Penerbangan jam 3 pagi membuatku sangat ngantuk."

"Mau ku antar ke kamar?"

"Ke kamarmu?"

"Bo-bodoh, ke kamar tamu maksudnya."

"Di sini saja, aku ingin kau menemaniku dan menceritakan yang sebenarnya."

"Tentang apa?"

"Kenapa kau menampar Karin?"

"Heeee! Aku tidak mau menceritakannya, i-itu sangat memalukan."

"Memalukan? Ceritakan saja."

"Intinya kau salah paham, hanya itu."

"Aku ingin penjelasan."

"Aku...uhm." Sakura menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum mulai berbicara." Aku...Aku tidak ingin melepaskanmu, bagaimana pun caranya, aku tidak ingin melakukannya, dia memaksaku dan membuatku marah, dia pikir kau seperti sebuah barang yang seenaknya di kasih orang lain, aku tidak bisa mengendalikan emosi-"

Sasuke menurunkan kepala Sakura perlahan hingga bibir Sakura menyentuh bibirnya. Sakura yang terkejut langsung menarik diri dan mendorong Sasuke. Sasuke jatuh dari sofa dan kepalnya terbentur di lantai.

"Kau mau membunuhku?" ucap Sasuke sambil mengusap-ngusap kepalanya yang sakit.

"Ma-maaf, kau sendiri melakukan hal yang tiba-tiba, membuatku kaget saja."

"Aku mencintaimu."

Mata Sakura melebar dan satu tarikan napas panjang, untuk pertama kalinya Sasuke mengucapkannya langsung padanya.

Sasuke berlutut untuk sejajarkan posisinya dengan Sakura yang masih duduk di sofa, menggenggam kedua tangan Sakura dan menatap matanya. Wajah Sakura merona, dia rindu menatap Sasuke seperti ini.

"Ulangi lagi." Sakura tersenyum dan menundukkan wajahnya.

"Tidak ada siaran ulang." Ucap Sasuke dengan wajah datarnya.

"Ulangi lagi, tadi aku tidak mendengarkannya dengan jelas." Sakura memaksa.

"Tidak akan."

"Pelit."

"Menikahlah denganku."

"Bukan yang itu, aku ingin mendengar yang pertama tadi."

"Sakura." ucap Sasuke dengan lembut dan sedang menunggu jawaban Sakura.

Sakura terlihat sedikit gelisah, jantungnya berdetak sangat cepat, dia harus menjawab apa, dia sendiri bingung, dia ingin menjawab 'iya' tapi apa dia sudah siap dengan semua konsekuensinya.

"Ka-kau yakin?"

Sasuke mengangguk pasti, dia tidak sedang bercanda atau menguji Sakura. Dia benar-benar ingin menikahi Sakura.

"Apa tidak terlalu cepat?"

"Tahun depan, bagaimana?"

Sakura langsung memeluk Sasuke. "Iya, aku mau."

Sasuke tersenyum dan membalas pelukan Sakura. mereka saat ingin tengah berbahagia, tidak ada lagi penghalang bagi Sakura, dia sangat percaya kalau Sasuke tidak akan meninggalkannya.

'Ehem'

Seseorang sedang menonton Sasuke dan Sakura tengah berpelukan. Mereka segera berpisah dan melihat siapa yang datang.

"Padahal aku ingin mengganggunya tidur, ternyata sudah ada duluan yang datang."

"Sasori." Ucap Sakura.

"Woi, muka tembok, jangan sentuh Sakuraku!" teriak Sasori dan di balas dengan lemparan bantal sofa tepat di muka Sasori.

"Dia milikku selamanya." Ucap Sasuke dan merangkul Sakura.

Sasori terdiam dan dia tertawa, dia sedang bercanda dengan Sasuke, membuat Sasuke sedikit kesal dengan ucapannya. Sakura sudah mematung dengan wajah memerahnya, Sasuke merangkulnya di depan Sasori.

"Jadi? Apa kau akan membawanya pulang?" tanya Sasori.

"Hn, aku akan membawanya sekarang." Ucap Sasuke.

"A-apa sekarang?" Sakura masih tidak ingin pulang namun di paksa Sasuke.

"Kemasi barang-barangmu dan kita pulang."

"Baiklah."

Sakura pasrah dan segera naik ke kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya, sementara itu, Sasori berjalan dan duduk di sofa, begitu juga dengan Sasuke.

"Baru ku tinggal sebentar saja, kau sudah membuatnya marah dan sedih."

"Aku tidak tahu jika dia sedang marah."

"Sakura memang seperti itu, kadang lebih mementingkan perasaan orang lain dari pada perasaannya."

"Kau lebih mengenalnya, aku hanya belum terbiasa dengan sikap Sakura yang tiba-tiba berubah tanpa ku sadari."

"Tentu, aku sudah lama bersamanya. Kalian harus sering berbicara, mungkin kau perlu memaksanya sedikit agar mau berbicara jujur. Kau tahu sendiri kan, dia itu keras kepala."

"Siapa yang kau bilangi keras kepala?" protes Sakura yang sudah turun dengan koper dan tasnya.

"Kau yang keras kepala." Ucap Sasori dan Sasuke bersamaan.

"Kalian berdua jahat."

Sasori hanya tertawa dan Sasuke mengusap perlahan kepala Sakura. mereka tidak bermaksud mengejek Sakura dengan mengucapkannya keras kepala, tapi itu memang kenyataan sih.

Sasori yang tadinya ingin mengajak Sakura berjalan-jalan, malah jadi mengantar Sasuke dan Sakura ke bandara. Sakura dan Sasuke kembali ke Konoha.

Mereka mulai dari saling percaya satu sama lain, tidak ada hal yang mesti mereka sembunyikan, jika masing-masing dari mereka punya masalah, mereka akan saling berbagi dan meminta saran untuk menyelesaikan masalah mereka.

.

.

.

"Aku mencintaimu, Sasuke."

"Hn."

"Bisakah kau membalas ucapanku dengan benar?"

"Hn."

"Sasuke!"

"Hn."

Cup!

Satu ciuman singkat mendarat di bibir Sakura.

"Aku sangat mencintaimu, istriku."

Yang di cium mematung dengan wajah memerah.

"Cepatlah, apa mau ku tinggal sendiri di rumah dan aku yang pergi berbulan madu sendirian."

"Ahhk! Tu-tunggu, Sasuke, tunggu."

"Jangan panggil aku Sasuke mulai hari ini."

"Lalu?"

"Panggil aku, suami."

"I-Itu memalukan."

"Hn? Apanya yang memalukan? kita kan sudah resmi menikah."

"Pokoknya memalukan."

"Cepatlah, aku ingin mendengarnya. Kau tidak boleh masuk ke mobil kalau kau tidak mengucapkannya."

"S-s-su...aah! tidak usah, kapan-kapan saja, aku belum terbiasa."

Sasuke masih menunggu dan bersandar tepat di depan pintu mobil

"Aku menunggu." Sasuke tidak berniat pindah atau membiarkan Sakura masuk ke dalam mobil.

"B-Bisa kah kau minggir dari situ, suamiku." Ucap Sakura, wajahnya menunduk dan terlihat malu-malu menatap Sasuke.

"Dengan senang hati, istriku."


~TAMAT~

.

.

.

Akhirnya..., terima kasih banyak untuk para readers yang sudah sempatkan diri untuk membaca dan mereview ffn sasukefans yang alur ceritanya biasa-biasa saja ehehhee.., *terharu* kalian menjadi motivasi author untuk melanjutkan cerita ini sampai kelar. maaf untuk chapter terakhir, sebenarnya ini hanya bonus. Ide ceritanya hanya sampai chapter ini. maaf kadang-kadang ada yang alurnya kayak lari marahton, sedikit terburu-buru dan kadang kelupaan sama typo yang berhamburan dimana-mana.

=balas review=

Sashicchi : terima kasih *terharu* iya, maaf kyk orang yang sedang di kejar hantu, sedikit terburu-buru pas mau kelarin chapter 5.

mantika mochi : terima kasih atas info typonya, pasti kelewatan pas ngedit. Updatetan terakhir.

ayuua : udah lanjut *semangt*

azriel kanhaya : hehehe, maklum lah, pasangan kadang suka di uji, syukurlah, mereka bisa melalui semua ujian itu untuk menjadi pasangan yang bahagia, terima kasih sudah mau membaca dan mereview *senang*

echaNM : *ikutan dukung Sakura*

mohon review untuk keseluruhan cerita.

Terima kasih banyak.

"Author Sasukefans"