Chapter 2: Sasuke vs Sakura


"Dan jangan pandang aku seperti itu, wahai Uchiha,"

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

High School Life: BEGINNER © Radar Countdown

Remake 2016

.

.

.

.

"Posisiku tidak lebih rendah darimu."


Ruangan ini masih dingin, tapi hati pemuda ini sudah terbakar. Perempuan ini, dia melukai namanya. Walaupun hanya guru terpercayanya yang mendengar ini, walaupun ia membenci orang yang membuat ia terlahir sebagai Uchiha, kata-kata gadis yang kini menatap matanya tanpa rasa takut ini telah membuat harga dirinya jatuh. Hitam dan hijau bertemu, saling menusuk, adu tajam satu sama lain, sampai akhirnya salah satu dari mereka menyerah.

"Hhh," desah Sakura jengah. "Oke, pangeran Uchiha. Aku juga lupa kalau kita tidak pernah berkenalan," ujar Sakura seraya menatap datar sisi meja di hadapannya tanpa minat. Ia memutar badannya menghadap sang pemuda Uchiha, membuat office chair yang ia duduki ikut berputar. "Perkenalkan, tuan tampan. Namaku Haruno Sakura," ucap Sakura dengan nada ramah seraya mengulurkan tangannya ke hadapan Sasuke mengajak bersalaman.

Satu detik, dua detik, tiga detik. Tidak ada sambutan.

"Ck, Kakashi-sensei, lihat, dia tidak membalas jabatan tanganku!" seru Sakura gemas. Melihat itu, Kakashi hanya bisa mengedipkan sebelah matanya seraya tersenyum di balik maskernya.

"Siapa kau?"

Suara pemuda yang semakin berat seiring usianya itu memecah aksi Sakura dan senyuman Kakashi tiba-tiba. Sakura menaikkan sebelah alisnya pura pura tak mengerti. "Eh, kau tuli? Aku Haru-"

"Siapa kau sampai kau berani memintaku tidak memandang rendah dirimu, jalang?" ucap Sasuke dengan nada cukup tinggi, mengagetkan perempuan di depannya. Sasuke bisa melihat mata hijau Sakura melebar kaget.

Grep.

Sasuke terbelalak saat ia merasakan jemari Sakura mencubit—mencengkram—pipinya keras. Dalam tiga detik ia berhasil mengendalikan dirinya, kembali menjadi Uchiha, lepas dari cubitan maut Sakura, dengan pipi memerah tentunya.

"Kakashi-sensei, lihat murid SMA ini. Dia berani memanggil teman sekelasnya jalang. Hidup dimana dia?" ucap Sakura ketus—pura-pura ketus. Ia terkekeh pelan, membuat Sasuke meliriknya kesal namun penasaran. "Siapa dia sebenarnya?" pikir Sasuke.

"Hey, kawanku. Kau tahu, aku sudah membaca 30 lembar laporan tentang dirimu sebelum aku datang ke sekolah ini. Kepribadianmu, latar belakangmu, masalahmu, jabatanmu, semuanya aku tahu. Ayahmu sendiri yang menulis laporannya," jelas Sakura, lengkap dengan gestur tangan yang atraktif. Berlebihan, menurut Sasuke.

Iris hitam yang awalnya tertarik pada ucapan gadis merah muda itu pun berubah menjadi tanpa minat setelah Sakura menyebut-nyebut soal ayahnya. "Kalau ayahku yang menulisnya, berarti kau tak tahu apapun tentang aku," ujar Sasuke seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Ck. Anak ini susah sekali," pikir Sakura gemas saat melihat pemuda di depannya malah berpaling darinya. Lelah bila harus melakukan gerakan lain, akhirnya Sakura memilih untuk duduk tenang di kursinya.

"Dengar, kawan. Coba kau pikir. Seorang Uchiha Fugaku, menulis laporan tentang dirimu dengan tangannya sendiri, mengirimkannya padaku dengan kakinya sendiri, lalu memintaku untuk membantumu dengan mulutnya sendiri, apa kau pikir Uchiha Fugaku akan melakukannya pada sembarang orang? Lihat aku!" serunya pada pemuda menyebalkan tapi tampan itu.

Sasuke tetap diam, Sakura mendengus kesal.

"Oh ayolah, aku orang baik sebenarnya. Kau sombong, aku tak kalah sombong. Kau baik, aku tak kalah baik. Kau berkuasa, aku tak kalah berkuasa," ujar Sakura ringan.

Atensi Sasuke kembali tertuju pada Sakura. Hatinya kembali penasaran akan siapa dia sebenarnya.

"Aku sebenarnya menyesalkan kenapa ayahku tidak pernah menggunakan marganya. Tapi, hmmm, aku Haruno Sakura. Anak tunggal dari Senju Tsunade dan Haruno Jiraiya."

Sasuke kembali terbelalak. Tentu saja tak ada orang yang menduga bahwa marga Jiraiya adalah Haruno. Jiraiya adalah seorang wirausaha sukses, kekayaannya mampu menyamai keluarga Uchiha yang sudah kaya sejak dulu. Sedangkan keluarga Haruno sebelum Jiraiya adalah keluarga biasa.

"Dan tolong bisakah kau tidak bersikap seperti itu, ketua? Teman-teman kita tidak bodoh seperti yang kau bilang. Tuan Fugaku memilih setiap kepala yang akan berada di dekatmu dengan hati-hati, ia punya alasan dan tujuan tersendiri. Sikap angkuhmu itu menjijikkan, kau tahu? Kau memicu sifat aroganku keluar saja. Bersikaplah sesuai keadaan, kau sudah dewasa. Aku sama sepertimu. Aku juga akan memimpin perusahaan ayahku selanjutnya, aku adalah pemimpin semua unit perusahaan di luar Jepang, aku juga punya banyak beban dan tanggung jawab, aku juga tidak tidur nyenyak, sama sepertimu. Ayahmu memintaku mengorbankan waktuku untuk pergi ke sekolah ini, untuk membantumu belajar."

"Sekarang kau mengerti?" tanya Sakura kepada pemuda yang masih menampakkan raut kaget di wajahnya.

Sakura menyeringai, Kakashi terkekeh pelan.


Ruangan dengan lantai kayu dan dinding putih gading itu menjadi saksi kebosanan tiga orang pemuda yang kini duduk di sofa setengah lingkaran, menghadap televisi layar lebar. Si rambut nanas tertidur—padahal hanya menutup mata. Si rambut pirang mengerucutkan bibirnya seraya berbaring beralaskan karpet bulu berwarna abu-abu. Si pemuda hoodie pun duduk dengan tenang seraya menonton televisi.

"Hey, Kiba!" seru Naruto dengan nada malas. "Apa kakiku bau?" tanyanya tanpa dosa sambil mengarahkan telapak kakinya ke arah Kiba.

Aksi Naruto itu sukses merebut perhatian Kiba. Kiba balas uluran kaki Naruto dengan mendorongnya dengan kakinya sendiri. Adu kaki, ceritanya. "Kenapa Sasuke dan Sakura belum dateng juga?" tanya Kiba heran, dengan telapak kakinya yang masih saling menempel dengan milik Naruto.

"Tak tahu," jawab Naruto singkat.

"Padahal hampir mau makan siang, terus Sasuke juga belum sarapan," ucap Kiba seraya menghela napas pelan.

Hati Naruto tergelitik melihat kawan barunya yang satu ini. Ia lelaki tapi sangat perhatian. Parahnya, pada sesama laki-laki juga. "Hah! Sejak kapan kau jadi perhatian seperti ini?" ejek Naruto, bersikap seakan ia telah mengenal Kiba sejak lama. Ia tendang telapak kaki Kiba yang sedari tadi menempel pada telapak kakinya.

"Hey, kau gatau gimana rasanya hidup sendirian dari kecil. Aku suka di sini, yaa baru sebentar sih aku ada di sini. Tapi gatau kenapa hati aku nyuruh buat baik sama kalian. Rasanya kayak akhirnya aku hidup bareng keluargaku sendiri," ujar Kiba sambil tertawa canggung.

Merasa segan, Naruto pun bangun dari posisinya semula. "Hmm, Kiba, bagaimana kau bisa bertahan hidup saat itu?" tanyanya penasaran.

"Aku? Ya, aku tidur di jalan, ngamen, nge band. Aku terkenal di daerahku dulu. Yaa... hasilnya lumayanlah buat numpang tidur. Aku juga pernah ditawarin buat dilatih biar bisa debut. Tapi, mmm, aku kabur. Mereka ga baik, itu yang aku tau," jelas Kiba dengan pandangan mata kosong.

Naruto memandang Kiba dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. Di dalam hatinya ada sedikit rasa kasihan sekaligus bangga memiliki teman sekuat Kiba. "Bagaimana kau bisa masuk ke sekolah ini?" tanya Naruto.

"Kibaa? Sakura bilang ia dan Sasuke tidak bisa pulang untuk makan siang. Jadi ia minta kita siapkan sekarang saja, tidak usah menunggu mereka. Oh iya, Sakura bilang jangan masak ramen lagi untuk Naruto," ucap Ino seraya menuruni anak tangga. Rambutnya yang dikuncir tinggi ikut terayun seiring langkahnya. "Aku harus mengawasi Kiba memasak agar makanannya memenuhi standar dietku," pikirnya.

Naruto dan Kiba kembali bertemu pandang setelah sempat direbut perhatiannya oleh Ino. "Kenapa kau melihatku seperti itu, hah? Tidak usah jawab pertanyaanku tadi, pergilah! Aku lapar," ujar Naruto seraya mengibaskan tangannya untuk mengusir Kiba.


Mobil sedan ini melaju dengan kecepatan sedang di jalan utama. Sasuke terjebak di mobil ini setelah Sakura dengan ucapannya yang selalu membuat Sasuke kalah berdebat. Gadis itu langsung memaksa Sasuke pergi bersamanya, sesaat setelah kepala Sasuke mendingin. Pemuda itu tak punya pilihan lain karena ia merasa bahwa Sakura memang orang yang dapat ia percaya, dan tidak bisa ia remehkan.

Atmosfer di dalam mobil itu ringan-ringan saja, namun tidak dengan pikiran pemuda Uchiha itu. Sedari tadi pikirannya kacau, terlalu banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada gadis itu. Apa benar ayahnya melakukan semua yang gadis itu bilang? Apa tujuannya? Bukankah ayahnya tidak pernah peduli padanya? Kenapa sekarang malah sebaliknya? Apa ia melakukan kesalahan dalam pekerjaannya sehingga ayahnya meminta Sakura untuk melatihnya dengan menjadi ketua di asrama barunya? Terlalu banyak pertanyaan namun bibirnya tak mau untuk membuka.

Sakura melirik pemuda di sampingnya, ia lihat raut wajah kusut itu semakin kusut. Sakura lemparkan seringai jahil pada Sasuke. "Ne... Uchiha, apa kau mau mengatakan sesuatu? Wajahmu seperti ingin buang air," guraunya sambil memalingkan wajah ke arah pemuda yang ia ajak bicara.

Sasuke melempar pandangannya ke sejauh mungkin dari Sakura, berusaha menjaga image Uchihanya. Dengusan kesal terdengar setelahnya. "Aku tidak yakin ayahku melakukan semua yang kau bilang tadi," ucap Sasuke dingin.

Sakura menaikkan sebelah alisnya, lalu merubah posisi duduknya menyamping, menyenderkan pipinya ke sandaran punggung jok belakang mobil. "Mengapa kau tak yakin?" tanyanya dengan tatapan polos.

"Jangan pura-pura tidak mengerti. Kau tahu kami berdua saling membenci. Mengapa kakek tua itu bisa berubah tiba-tiba?" tanya Sasuke dengan nada sedikit tinggi. Matanya menatap tajam emerald di sampingnya.

"Oh, ummm.. Itu..." Sakura melarikan diri dari tatapan pemuda Uchiha itu dengan agak gugup. "Ah! Nanti aku jawab. Kita sudah sampai. Ayoo..." ajak Sakura seraya menarik tangan Sasuke untuk segera keluar dari mobil.

"Di mana ini?" tanya Sasuke heran. Ia rupanya tak menyadari lengannya yang dirangkul erat oleh Sakura.

"Cafe favoritku, catat ini. Karena kita mungkin akan sering datang kemari, hihihi," ucap Sakura seraya terus menyeret Sasuke masuk ke cafe pilihannya.

Cafe dengan nuansa hangat itu menyambut mereka dengan aroma khas roti panggang. Setelah melihat meja favoritnya—di mana ia selalu duduk setiap kali datang ke cafe itu—tidak diisi orang lain, Sakura langsung melanjutkan langkahnya. Dan Sasuke rupanya masih tidak keberatan—atau belum sadar—dengan tangan Sakura yang terus menyeretnya.

"Taraa... duduklah," titah Sakura setelah sebelumnya melepaskan gaetan tangannya dari Sasuke dan merentangkan tangannya seakan mempersembahkan makanan yang sudah ia pesan melalui telepon sebelumnya. "Apa kau pernah kesini sebelumnya?" tanya Sakura setelah duduk di kursi favoritnya.

"Langsung saja, jawab pertanyaanku," ucap Sasuke dingin dan tajam, tak mau membuat perhatiannya kembali teralihkan.

Sakura yang sedang menyuapkan sesendok es krim vanilla ke mulutnya saat Sasuke melemparkan pandangan tajam ke padanya itu hanya bisa terkekeh pelan. Matanya bergerak kesana kemari, berpikir apa yang harus ia katakan. Namun, ia tiba-tiba menghela napas kasar. "Oke, jujur saja, ya. Begini ceritanya," ucapnya seraya menarik napas panjang, mempersiapkan diri untuk menceritakan cerita yang tak kalah panjang.

"Pada suatu malam, seorang gadis pink pergi menemui kakek tua yang dibenci anaknya sendiri bersama sang ayah. Awalnya, pertemuan itu hanya pertemuan reuni biasa. Namun, melihat gadis pink yang sebaya dengan anaknya, kakek tua itu pun mulai menceritakan kisah tentang anak lelaki bungsunya itu," terang Sakura, diselingi dengan menyuapkan es krim vanilla ke mulutnya. Sasuke yang mendengar penjelasan Sakura itu pun hanya bisa mendengus pelan saat ayahnya dijelaskan sebagai 'kakek tua yang dibenci anaknya sendiri'.

"Sebenarnya, saat anaknya masih bayi, ia sangat menyayangi anaknya itu. Ia sering menghabiskan waktunya bersama sang anak. Ia bahkan menyerahkan wewenang untuk mengurus perusahaan besarnya kepada adiknya, agar ia bisa menghabiskan waktunya bersama sang putra bungsunya itu. Mereka banyak mengabadikan momen bersama. Sampai suatu saat, ketika putra bungsunya berumur dua tahun, krisis besar melanda perusahaan keluarganya yang sudah berjaya sedari dulu. Tak mau warisan dan tanggung jawab dari leluhurnya roboh begitu saja, ia beserta keluarganya yang lain berusaha keras untuk mempertahankan perusahaan mereka. Ia meninggalkan putra bungsunya sendirian bersama para pelayan, karena istrinya pun ikut bekerja berjuang menyelamatkan perusahaan, sedangkan putra sulungnya sudah berada di asrama sekolah dasar sejak setahun setelah anak bungsunya lahir. Putra yang selama ini ia kasihi pun hidup di dalam kehidupan yang hampa dan sepi. Ia cemburu dan marah kepada ayah dan ibunya yang hanya datang kepadanya sesekali," jelas Sakura.

"Ah, andaikan aku main ke rumahnya saat itu, dia pasti tidak akan kesepian," ujarnya seraya menatap es krim di hadapannya dengan pandangan sedih.

"Keluarga kakek itu pun sampai menjual rumah mereka, lalu pindah ke rumah yang lebih kecil. Foto-foto dan kenangan lainnya yang mendokumentasikan hubungan ayah, ibu, dan anak bungsunya itu pun tersimpan di dalam gudang, membuat si anak tidak punya kesempatan untuk mengingat apa yang ia lakukan di masa lalu bersama ayah dan ibunya. Rumah yang lebih kecil, artinya lebih sedikit pula pelayan di dalamnya, maka lebih kesepian pula lah anak mereka sekarang. Anak kakek itu pun tumbuh tanpa kenangan apapun tentang orang tuanya, kecuali kehadiran mereka yang bahkan tak pernah anak itu sadari," lanjut Sakura.

"By the way, kemampuan story telling-ku bagus kan? Hahaha, tidak rugi ternyata mendengarkan ayah setiap hari," gurau Sakura pelan. Matanya lalu bertemu iris hitam tajam yang seakan memaksanya untuk kembali pada topik pembicaraan. Menyadari itu, Sakura pun kembali menarik napas panjang.

"Tiga tahun kemudian, mmmmm berarti anak si kakek sudah lima tahun saat itu, akhirnya perusahaan pulih total, kembali seperti sedia kala. Namun, saat si kakek pulang untuk berbahagia bersama anak bungsunya, yang ia dapatkan ternyata aura kebencian yang begitu kuat. Anak itu selalu menolak untuk didekati ayah dan ibunya. Mereka terlihat begitu asing bagi anak itu. Kakek tua dan istrinya pun sadar bahwa mereka meninggalkan putra bungsu mereka terlalu cepat, saat anak itu belum bisa memahami sekitarnya, atau setidaknya mengingat bahwa ia pernah memiliki memori indah bersama keluarganya. Sehingga akhirnya kebencian dari putra bungsunya tak dapat dibendung lagi. Beruntung, istri si kakek bisa mendapatkan kembali perhatian anaknya walaupun dengan usaha yang cukup keras. Namun, tidak dengan si kakek. Dia tidak bisa barang berbicara baik-baik dengan anaknya yang satu itu. Hatinya selalu merasa bersalah saat melihat anaknya. Ia merasa menjadi orang tua yang gagal. Ia ingin memperbaikinya, namun hatinya tak mampu. Hingga akhirnya ia hanya bisa memendam rasa cintanya, seiring dengan anaknya yang tumbuh besar dengan rasa benci yang malah ikut bertumbuh besar. Hah, aku juga tak tahu bagaimana rasanya jika aku menjadi anak itu," jelas Sakura.

"Lalu kenapa sekarang ia bersikap terang-terangan?" tanya Sasuke yang membuat Sakura sedikit tersentak kaget. "Kukira anak ini akan tetap diam seperti tadi," pikir Sakura.

"Aisshhh... Aku belum selesai berbicara, tampan," ucap Sakura jengkel.

"Setelah mendengar cerita si kakek, si gadis pink tiba-tiba marah! Ia memarahi si kakek yang terkenal tegas dan menyeramkan itu di hadapan semua orang yang ada di rumahnya. Hahaha, gadis pink itu juga tidak tahu mengapa ia melakukan hal itu tiba-tiba. Tapi gadis pink itu merasakan semua perasaan, amarah, cemburu dan benci anak si kakek itu terserap masuk ke hatinya, dan hal itu harus ia luapkan. Gadis itu memaksa si kakek untuk mulai mengungkapkan kasih sayangnya. Si kakek lagi lagi ragu, lalu bertanya apa yang harus ia lakukan untuk melakukannya. Ia tidak bisa jika harus ia sendiri yang mengungkapkannya. Lalu, aku, eh maksudku gadis pink itu berkata, 'Apapun yang akan kakek lakukan, aku ada disampingmu!'" ujar Sakura sambil tak sadar memalingkan wajahnya lalu mengangkat tangannya ala pose binaragawan yang sedang menunjukkan otot lengannya.

Krik. Krik.

Sasuke yang melihat itu hanya mengangkat sebelah alisnya, heran dengan ekspresi gadis itu yang berlebihan. Sekarang ia tak yakin bahwa Sakura adalah anak dari Jiraiya yang sukses itu.

"Ehem, nah, lalu... apa, ya? Oh, kakek itu lalu berkata pada gadis pink itu, bahwa ia tidak ingin anaknya nanti akan menjadi pengecut di depan keluarga, seperti dirinya. Ia ingin anaknya bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah, bahkan masalah antar keluarganya yang paling parah sekalipun. Bukan hanya permasalahan formal seperti di kantor, tapi masalah yang menyangkut hati kita, terutama pada keluarga kita sendiri. Dan sepertinya kakek tua itu serius dengan harapannya yang ini," terang Sakura dengan ekspresi wajah terharu dengan ceritanya sendiri.

"Itu lah alasan kenapa aku di sini, kenapa kau di sini, kenapa Naruto, Hinata, Ino, Shikamaru, Tenten dan Kiba ada bersama kita. Ayahmu itu sangat pintar memprediksi, ia memilih mereka karena ia yakin mereka akan mempunyai masalah di masa depan. Ia ingin mengungkapkan cintanya padamu dengan memberikan pengalaman ini. Yaa.. bocoran ceritaku tadi sih bonus saja, hihihi," jelas Sakura diiringi tawa pelan. Ia lalu menyangga kepalanya dengan tangannya di atas meja, seraya memperhatikan Sasuke yang kini telah melemparkan pandangannya ke arah lain. Sakura hanya bisa tersenyum.

Sasuke kini menyelami bagian terdalam di pikirannya. Ia ingin percaya ini semua, tetapi hatinya tak sudi. Semua yang ayahnya lakukan kepadanya pantas mendapatkan balasan. Sasuke mengusap wajahnya kasar. Terlalu banyak kejutan yang ia alami hari ini.

"Bagaimana kau bisa yakin kakek tua itu mencintai anaknya?" tanya Sasuke tajam dan datar.

"Hahahahaha, ya ampun kau ini rumit sekali ya, kawan?" ejek Sakura, sesaat sebelum wajahnya kembali melembut.

"Darimana kutahu bahwa ia sungguh-sungguh? Dari penyesalannya. Dari matanya yang seakan merasa lapang setelah menceritakan hal itu padaku. Kau tak akan bisa menyadari cinta itu. Tidak akan pernah bisa, sebelum kau merobohkan dinding bertuliskan 'Aku benci manusia terkutuk yang kusebut ayah' di hatimu. Bagaimana kau bisa melihatnya? Tembok itu tidak tembus pandang, ayahmu tidak cukup tinggi untuk menggapai puncaknya, serta tidak cukup kuat untuk merobohkannya seperti yang ibumu lakukan. Dan akhirnya ayahmu memanggilku, memintaku untuk melelehkan kembali perekat yang membuat tembok itu berdiri kokoh. Agar saat ia bertemu denganmu lagi nanti, sedikit usaha pun akan membuat tembok itu roboh sempurna," jelas Sakura dengan nada yang mengalun lembut, merasuki telinga Sasuke hingga menenangkan hatinya. Sakura mendesah lelah saat melihat Sasuke yang masih mematung di hadapannya.

"Aku tahu kau sedang berpikir keras, tapi makanlah makanan di depanmu, kau belum makan sejak pagi," ujar Sakura seraya kembali memakan es krimnya yang sudah mulai mencair.

Sasuke akhirnya mulai memakan makanannya yang sudah dingin itu tanpa selera. Walaupun pikiran dan hatinya tengah dihujani banyak masalah, namun entah mengapa sulit baginya untuk tidak menurut pada gadis merah merah muda yang baru ia kenal itu.


Halo, saya Sakura Haruno.

Saya dididik oleh orang tua saya sejak kecil,

untuk menebarkan rasa cinta.

Kepada siapapun,

kapanpun.

Saya berbicara,

untuk menjelaskan apa yang tak mampu diungkapkan.

Dan saya mendengarkan,

untuk mengerti apa yang tak pernah mau didengar.

Saya dan keluarga saya meyakini satu hal,

bahwa konflik besar berasal dari masalah kecil.

Itu karena Anda tidak mau bicara,

atau tidak mau mendengar,

atau keduanya.

Maka perbaikilah.


Hujan rintik yang mulai turun tepat setelah Sakura dan Sasuke sampai di asrama, kelihatannya semakin deras saja sekarang. Hawa dingin sekaligus lembab terbawa ke ruangan besar ini dengan cepat, membuat orang-orang yang berkumpul di sana harus mengenakan pakaian yang sedikit tebal dari biasanya. Mereka menonton siaran televisi bersama, dan terlihat juga Hinata yang sedang membaca novel di sudut sofa.

"Kalau udah dingin begini, aku boleh nyalain perapian ga?" ujar Kiba dengan nada sedikit gugup.

Beberapa dari mereka sontak melirik Kiba dengan pandangan heran. "Kau yakin butuh perapian? Ini kan hanya dingin hujan biasa," tanya Naruto mengungkapkan keheranannya. Pemuda pirang itu akhirnya rela mengalihkan perhatiannya dari acara favoritnya.

"Hhhhh.. Kau gak tau, baru pertama kali ini aku liat perapian. Biasanya aku liat di tv doang, aku kan pengen nyoba kali-kali," bela Kiba dengan wajah masam.

"Eh, lalu jika musim dingin tiba, bagaimana nasibmu? Apa kau membakar koran sambil memeluk dirimu sendiri?" tanya Tenten yang kini sedang berbaring di sofa dengan kepala di dekat Hinata dan kaki di dekat Kiba.

"Huwahahaha, memeluk diri sendiri ya? Seperti ini? Hummpp!" Naruto memeluk dirinya sendiri sambil menggembungkan pipinya. Tindakannya itu disusul tawa gadis yang juga berambut pirang di sampingnya. Tanpa mereka sadari iris mata lavender memandang keduanya iri.

"Kalau model akan melakukannya seperti ini," ucap Ino disusul dengan pose memeluk diri sendiri—dengan anggun, tidak seperti Naruto yang memaksakan diri untuk menjadi imut—yang sebenarnya bertujuan untuk memamerkan punggung sang model.

"Whoaa.. Aku lupa kau ini model! Ayo selfie," ajak Naruto, lalu dengan cepat membuka aplikasi kamera di smartphonenya. Naruto dan Ino pun mulai berpose di depan kamera. "Uh uuuhhh... No duck-face, please," sela Naruto tiba-tiba saat melihat pose Ino di kamera. Ino hanya bisa mendengus kesal, namun dengan cepat mengganti posenya dengan menjulurkan lidah serta melebarkan mata.

Raut wajah Hinata yang ia sembunyikan di balik novelnya, semakin murung dengan pasti. Di dalam hati ia coba meyakinkan diri bahwa mereka hanya berteman. Tapi, selalu tak bisa. "Padahal, tadi pagi..." pikirnya kacau.

"Hahaha, kalau aku bakar koran, nanti rumah sewa aku ikut kebakaran. Aku paling cuman pake hairdryer, itu juga waktu di rumah temen. Kalau di rumah sendiri nanti mahal bayar listrik," jelas Kiba kepada Tenten, mengabaikan Naruto dan Ino yang bercanda di dalam dunia mereka sendiri—dunia para rambut pirang, sepertinya.

"Ah sudahlah, Kiba. Daripada perapian, menurutku membuat ramen pedas adalah ide yang lebih baik, hehehe," ucap Naruto dengan cengiran lebar.

"Oh, ya?" seru Sakura yang tiba-tiba sudah ada di belakang sofa, tepat di belakang Kiba. Sakura pun menepuk bahu Kiba dari belakang dengan pelan. "Naruto tidak makan siang dengan ramen, kan?" tanyanya kepada sang pemilik bahu. Kiba yang merasa ditanya pun menenggak ke arah Sakura sambil mengangguk. "Baguslah," ucap Sakura.

"Oh iya Sakura-chan, ada apa dengan Sasuke teme? Dia aneh sekali, mengurung diri di kamarnya begitu," tanya Naruto penasaran.

"Ah... sebenarnya, hhhh..." nada suara Sakura yang tiba-tiba berubah menjadi sedih pun sukses menarik perhatian kawan-kawannya. Sakura berjalan ke arah ujung sofa yang lain. "Geser," titah Sakura kepada Shikamaru. Shikamaru yang juga penasaran pun tak bisa menolak. "Tadi itu... celana Sasuke sedikit robek di depan umum. Jadi dia berusaha mati-matian menutupinya sampai celana barunya datang. Yaa, aku juga paham betapa terlukanya nama Uchiha yang ia sandang. Ia pasti depresi sekarang."

Krik. Krik.

"Hahahaha. Lucu sekali. Lucu sekali."

"Bodoh."

"Siapa yang depresi karena hal itu?"

Sakura akui alasannya memang tak lucu sama sekali. Tapi ia lebih tahu bahwa masalah Sasuke lebih baik hanya ia yang tahu. Karena itu, saat Shikamaru mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan menginterogasi, Sakura hanya bisa mencubit pipi pria nanas itu. Dan Sakura yakin Shikamaru akan mengerti.


Tok. Tok. Tok.

Pemuda Uchiha ini tak bergerak sama sekali, meskipun suara ketukan di pintunya dapat ia dengar dengan jelas. Tak lama setelah mengetuk, pintu kamar pemuda ini pun dibuka.

Klik.

Gadis merah muda yang kini sudah mengenakan piyamanya ini menekan saklar lampu, sehingga kamar bernuansa abu-abu ini tak lagi gelap seperti tadi. Dilihatnya pemuda yang hanya berbaring terlentang di kedua tangan di dahinya, sedangkan kedua matanya tertutup. "Aku tahu kau tak bisa tidur sebelum pukul sebelas malam," ujar Sakura sambil mengambil posisi duduk di pinggir tempat tidur Sasuke.

"Sampai kapan kau akan berpikir?" tanya Sakura seraya menghela napas berat.

"Sampai esok pagi, mungkin," jawab Sasuke tanpa membuka matanya.

"Kau bahkan tidak ke toilet sepanjang hari," keluh Sakura khawatir.

"Hn. Memang tak ingin," jawab Sasuke seadanya. Walaupun seadanya, tapi Sasuke sendiri tetap merasa aneh karena dirinya yang biasanya selalu tidak peduli kepada orang lain—terutama perempuan—mendadak jadi bersahabat seperti ini.

Sakura pun beranjak dari kamar Sasuke, membiarkan pemuda yang hari ini telah dikejutkan oleh banyak hal itu.


Kamar dengan nuansa beige menyambut sang pemilik mata emerald di pagi-pagi buta. Setelah meeting via video call—sekaligus temu kangen—dengan ayah dan ibunya sampai pukul satu dini hari, tubuhnya harus bersiap untuk kegiatan pengenalan club di sekolah barunya pagi ini. Ia melangkah pelan menuju pantry untuk membuat teh hijau, sebagai minuman rutinnya di pagi hari. Sambil berjalan, gadis itu merapikan rambutnya dengan menyanggulnya. Tiba-tiba dirinya tersentak saat melihat Sasuke sedang memasak di pantry. "Tunggu, aku tidak bangun terlambat, kan?" pikir Sakura seraya melihat jam dinding di ruang tengah. Ah, nampaknya tidak. Masih pukul setengah lima pagi, jam bangunnya setiap hari.

"Apa yang kau lakukan pagi buta begini?" tanya Sakura heran, seraya melangkah untuk menyiapkan teh paginya. Dilihatnya Sasuke hanya bergumam tak jelas dan tetap berkutat dengan pekerjaannya. Entah apa yang sedang pemuda itu lakukan. Sakura akhirnya memutuskan untuk fokus memanaskan air hingga suhu yang paling pas. Setelah selesai dengan tehnya, Sakura duduk di salah satu kursi dan mulai membaca berita di smartphonenya.

Tuk.

Sontak Sakura mengangkat kepalanya saat semangkuk ramen diletakkan tepat di depannya. Sebelah alisnya naik secara otomatis saat melihat Sasuke tiba-tiba berbalik, hendak merapikan alat masak yang sudah ia gunakan, tanpa mengatakan apapun padanya. "Apa ini?" tanya Sakura heran.

Terdengar Sasuke berdecak pelan disela kegiatannya. "Makanlah. Hanya itu yang bisa aku buat sendiri," ujar Sasuke datar—err, gugup?

"Apa ini, ayo?" tanya Sakura sekali lagi, namun dengan nada menggoda yang sukses membuat Sasuke tak bisa mengendalikan rasa malunya. "Bicaralah, tuan muda. Aku ini bawahanmu, kan?" ujar Sakura seraya memperhatikan semangkuk ramen panas seadanya itu. Namun, Sakura tahu Sasuke sangat tidak bisa memasak. Jadi ia yakin membuat ini saja pemuda itu butuh banyak usaha.

Sasuke lalu melangkah ke hadapan Sakura, berdiri dengan kedua tangannya menyangga tubuhnya di meja. Kepala dan pandangannya berpaling ke arah lain, berusaha lari dari sepasang mata hijau di hadapannya. Sakura bahkan bisa mendengar suara gigi gemeletuk Sasuke.

"Hn. Teriiima kasih?" ucap Sasuke canggung. Pemuda itu masih tidak berani menatap lawan bicaranya.

"Heh. Seperti itu gaya bicara seorang Uchiha? Kalau kau datang kepadaku melamar pekerjaan dengan gaya bicara seperti itu kau tak akan pernah kuterima. Mana etikamu?" ujar Sakura—pura-pura—ketus.

Sasuke mengacak-acak rambutnya frustasi seraya menggeram kesal. "Kau ini sulit sekali, sih?!" geram Sasuke putus asa.

"Seharusnya yang mengatakan itu adalah aku, tuan tampan," ujar Sakura santai. "Kau mau bicara dengan jelas atau menghabiskan tenagamu dengan marah-marah?" tanya Sakura seraya menyeringai pada Sasuke yang masih frustasi di depannya.

Terdengar helaan napas berat dari pemuda itu. Sepertinya pikirannya sudah mendingin sekarang. "Itu tanda terima kasih. Kau sudah membantu ayahku dan aku. Aku sudah berpikir semalaman, sekarang aku mengerti," jelas Sasuke dengan nada yang lebih tenang, walaupun masih lari dari tatapan Sakura.

Suasana hening selama beberapa saat. Sebelum akhrinya Sakura kembali bergumam menggodanya. "Mmmmmm... pagi pagi buta aku dapat hadiah manis sekali, hahaha," ujar Sakura sambil tertawa pelan. "Tapi, kenapa kau membuat ramen? Kau tahu kan aku sensitif terhadap makanan instan, sama sepertimu?" ucap Sakura sedikit keberatan.

"Sudah kubilang aku hanya bisa memasak ini. Naruto sering memasaknya di rumahku, jadi aku tahu. Hhh, bisakah kau hargai upayaku? Aku sudah rela bangun pukul empat pagi agar tidak ada yang melihatku memasak untuk membuat ini," bela Sasuke.

"Kalau begitu, duduklah. Makan ini bersamaku. Setidaknya jika aku sakit, maka kau juga," ujar Sakura bersemangat dan segera beranjak mengambil mangkuk lainnya, lalu dengan cekatan membagi porsi ramen itu sama rata.

Sasuke hanya bisa mengernyitkan alisnya saat melihat ramen setengah porsi sudah ada di hadapannya. Tak mau berdebat lagi, ia pun memulai memakan ramen buatannya sendiri itu.

UHUK.

Kedua orang itu tersedak bersamaan. "KAU MASUKKAN BUBUK CABE SEBANYAK APA, HAH?!" teriak Sakura seraya langsung menenggak tehnya yang sudah dingin. Sementara itu, Sasuke sudah berlari kelabakan menuju lemari es, mencari susu tawar. "Jangan tanya aku," ujar Sasuke lemas seraya duduk di lantai kayu, menyandarkan punggungnya ke lemari es.

Setelah mengendalikan diri, Sasuke pun kembali beranjak ke tempat duduknya. Tatapan tajam Sakura menyambutnya dengan segera. Merasa bertanggung jawab atas alasan kemarahan Sakura, pemuda Uchiha itu pun hanya bisa tertawa tertahan. "Ayolah, kau yang bilang padaku jangan marah-marah," goda Sasuke canggung sambil mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding.

"Kau ini tampang tanpa dosa sekali, ya ampun," ucap Sakura sinis. "Marahku ini beralasan, tahu."

"Hmm.. ayolah, mmmm cantik? Hehehehe," Sasuke bersumpah meniru kebiasaan Sakura memanggilnya tampan dengan santai ternyata sangat tidak cocok dengannya. Sementara Sasuke merutuki dirinya sendiri, Sakura masih menatap Sasuke tajam.

"Aaaa... aku tadi ingin bicara," ujar Sasuke masih dengan salah tingkah yang sama. "Aku ingin menemui ayahmu," ucap Sasuke dengan nada yang mulai serius.

Kata-kata Sasuke mampu membuat Sakura lupa kemarahannya. "Untuk apa?" tanyanya penasaran.

Mata Sasuke akhirnya mampu menatap Sakura tanpa ragu. Helaan napas ringan terdengar.

.

.

"Aku ingin belajar dari ayahmu."


Chapter selanjutnya: Sasuke vs Jiraiya

Kayanya 12 chapter ga akan cukup deh. Jadi mungkin akan ditambah jadi 2 chapter untuk 1 masalah.

Btw, cerita ini itu temanya kenakalan remaja gitu. Mulai dari masalah sama orang tua, premanisme, bullying, cyber bullying, mencari jati diri, persaingan tidak sehat, termasuk persaingan peringkat di sekolah juga. bisa diliat di spoiler di chap 1 kan, ya? Nah, kalau ada sekiranya pembaca yang berbaik hati mau ngasih inspirasi, ide cerita, atau bahkan kisah nyata di sekitar kalian, bisa review atau langsung PM aja. ide sekecil apapun pasti membantu banget. suer deh.

Kalau ada salah atau yang kurang berkenan komen aja, diterima sangad.

Makasih buat yang baca, review, fav, follow, makasih pisun.

Love yaaaaa~~~~~