.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
High School Life: BEGINNER © Radar Countdown
Remake 2016
.
.
.
"Kau sendiri yang bilang bahwa kakek tua itu ingin aku tidak seperti dia, kan? Jadi, mungkin aku harus sedikit mendengarkan ayahmu agar aku bisa membuktikan pada kakek tua itu bahwa aku lebih baik daripada dirinya," ucap Sasuke seraya memainkan cangkir teh kosong di hadapannya.
Sakura menyeringai di balik jemari yang menutupi mulutnya. Sebelah alisnya menaik geli. "Kelihatannya anak muda ini sudah mulai menerima si kakek tua, ya? Syukurlah," ujar Sakura seraya membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegap. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum.
"Aku?"
"Menerima kakek tua itu?"
"Hah, yang benar saja. Aku hanya ingin menekankan bahwa aku akan lebih baik darinya," ucap Sasuke disertai dengusan kesal. Matanya menatap tajam gadis pink di hadapannya yang kini malah makin berusaha keras menggodanya dengan raut wajahnya itu.
"Kau ini bertingkah seperti sudah mengenalku sejak dulu saja," sambung Sasuke dengan nada ketus.
"Hey hey hey, aku juga tahu kau hanya berbicara seperti ini hanya jika kau sudah mengenal baik lawan bicaramu. Jadi sekarang siapa yang sok dekat, hah?" tanya Sakura dengan nada menantang.
Sasuke mendengus keras mendengar ucapan Sakura yang memang benar menurutnya. Ia segera menarik ancang-ancang untuk pergi dari hadapan Sakura. "Aku selesai," pamitnya dingin.
"HEI. Maksudmu aku yang harus mencuci mangkukmu ini?" ujar Sakura tak terima.
"Hn," gumam Sasuke seraya berjalan santai ke arah lorong kamar para lelaki.
Sakura hanya bisa menatap kepergian Sasuke dengan wajah yang masih terlihat kesal. Ia memalingkan wajah seraya mendengus, hingga tatapannya tertuju pada dua mangkuk di hadapannya. Rasa kesalnya menguap seketika saat mengingat apa yang telah Sasuke katakan. Semua yang terjadi pagi ini adalah kemajuan besar di matanya.
Gadis bermata pucat itu menatap bayangannya di cermin sekali lagi, memastikan ia tidak melewatkan apapun sebelum bertemu dengan seseorang-di lantai bawah. Seragam barunya kini melekat dengan pas, begitu pula perasaan baru yang kini mulai melekat di hatinya. Sudah lama ia tidak merasakan hal seperti ini. Sudah lama ia tidak merasa bahwa ia harus tampil sesempurna mungkin di hadapan seseorang. Ya, dulu ia pernah merasakan hal ini. Tetapi rasa itu datang dan pergi dengan cepat, membuat Hinata merasa bahwa perasaan ini akan sedikit berbeda, karena orang yang membuat ia berdebar kini dan dua tahun ke depan akan selalu ada bersamanya-di bawah kamarnya.
Jemari mungil itu perlahan merapikan anak rambut yang kurang sedap dipandang. Senyum mengembang bersama dengan semburat merah di wajahnya. Ia sudah siap, dan ia tak boleh malu-malu lagi.
Iris hijau Sakura menyambut Hinata saat ia keluar dari kamarnya. Dilihatnya wakil ketua asramanya baru saja selesai membangunkan Tenten yang entah kenapa bangun terlambat pagi ini.
"Selamat pagi," salam Hinata sembari sedikit menundukkan kepalanya ke arah Sakura.
Sakura yang mendengar salam Hinata pun membalas dengan salam yang sama. "Hhh, andaikan semua penghuni disini tak pernah sulit untuk bangun sendiri," keluh Sakura setelah menutup pintu kamar Tenten. "Oh ya, kau lihat, aku bahkan belum sempat menyiapkan diriku sendiri. Bisakah kau bangunkan si Naruto pemalas itu? Aku akan terlambat bila harus berurusan dengannya sekarang. Oke, Hinata?" ujar Sakura seraya memberikan cengiran terbaiknya demi membujuk gadis bangsawan yang kini malah membelalakkan matanya.
"Eh, bu-bukannya ada Sas-sasuke?" tanya Hinata gugup setengah mati. Pikirannya berusaha menyangkal bahwa Sakura menyuruhnya membangunkan Naruto pagi ini. Matanya berkedip-kedip tak percaya seraya bergerak mengikuti arah Sakura yang kini sudah berjalan menuju kamarnya.
Sakura hanya bisa mendengus lelah mendengar pertanyaan Hinata. "Membangunkan yang lain, atau membuat jadwal makan, atau mengantar laundry, atau lainnya dan lainnya sama sekali bukan tugasnya, Hinata-ku sayang. Aku bersiap dulu ya, bye," pamit Sakura seraya segera menutup pintunya untuk menghindari pertanyaan Hinata selanjutnya.
Dan Hinata pun mematung sendirian.
Ah, tidak.
.
"I-ino, bisakah kau membangunkan Naruto?"
"Eh? Ya? Ups, ya ampun roll nya longgar sekali. Ah, maaf Hinata aku masih bersiap," jawab Ino yang kedua tangannya kini sedang melaksanakan empat tugas dalam proses penataan rambutnya. Hinata pun hanya bisa memandang kagum kemampuan multi-tasking Ino dari balik pintu.
"Ah, iya maaf mengganggumu."
.
"Tenten, bisakah kau membangunkan Naruto?"
'Zrrssshhhhhh'
Ah ya, Tenten juga baru saja bangun.
.
"Kiba-"
'Sreng tok tok tok srengg' ya, begitulah kira-kira suara wajannya. "Iya Hinata?" respon Kiba ditengah kesibukannya menyiapkan sarapan.
"Ah, umm... Tidak ada apa-apa kok, hehe," ujar Hinata canggung.
.
"S-Shikamaru?" kepala kecil Hinata menjulur ke dalam kamar Shikamaru. Namun, tak terlihat sama sekali kepala nanas itu. Hinata kembali memastikan dengan memendarkan pandangannya, namun tak terlihat juga. Ia lalu menyerah dan kembali menutup pintu kamar Shikamaru.
"Ada apa?"
Suara berat di belakangnya sontak saja langsung membuat tubuh Hinata sedikit melompat kaget. Ia lalu menegakkan kepalanya dengan cepat, dan sekali lagi tubuhnya melompat ke belakang saat tahu Sasuke ada di hadapannya. "A-a-a-aku, y-ya a-aku-" ujar Hinata gelagapan. Tangannya bergerak tak terkendali. Ah sial, kenapa ia takut sekali pada Sasuke.
Sasuke yang baru saja selesai bersiap itu hanya bisa menaikkan sebelah alisnya saat melihat Hinata hampir masuk ke kamar Shikamaru, dan ditambah sekarang gadis itu gemetaran. "Apa?" ucapnya dingin, dengan pandangan malas namun tajam.
Ah sial, Hinata menyesal datang ke lorong ini. "A-aku mau meminta S-shikamaru membangunkan Na-na-na-nar-naruto," dan kini ia ingin mengubur dirinya karena terlampau gugup saat mengucapkan nama Naruto.
"Hn, kemana Sakura?" tanya Sasuke seraya mulai berjalan menuju kamar Naruto.
"Umm, Sakura masih sibuk bersiap," ujar Hinata sambil mengikuti langkah Sasuke. Seketika Sasuke teringat ramen instan yang sukses membuat pencernaan mereka bermasalah lima belas menit kemudian. Apalagi, Sakura punya banyak pekerjaan asrama yang harus diselesaikan pagi-pagi buta. Ah, ramen sialan.
Sasuke lalu membuka kamar Naruto, dan terlihatlah pemuda kuning yang posisi tidurnya tidak dapat dideskripsikan tersebut. Sasuke menggapai bantal yang terjatuh ke lantai, mengambil ancang-ancang, lalu melemparkannya tepat ke arah perut Naruto yang terekspos karena piyamanya yang beberapa kancingnya bahkan sudah terbuka.
'Bugh!'
"Akkk-" erang Naruto kaget, membuatnya langsung mengambil posisi duduk. Iris birunya mulai tampak meski sayu. Butuh sepuluh detik bagi Naruto untuk memproses bayangan cahaya yang masuk ke matanya. "Ah, kau..." ujarnya lesu, lalu berkedip tak kalah lesu. "Kenapa aku tak dibangunkan oleh Sakura seperti biasanya? Kau kejam," ucap Naruto dengan suara yang masih serak.
"Memangnya bagaimana Sakura membangunkanmu, hah?" tanya Sasuke dingin.
Naruto spontan memajukan bibirnya yang mengerucut. "Cup, muach."
'BUAGH.'
Dan bantal itu pun dengan cepat mendorong Naruto hingga membentur dinding tepat di wajahnya. "UGGGHHHH!" raung Naruto kesakitan.
Hinata yang sedari tadi hanya menguping dari luar, kini mulai menengok ke arah kamar Naruto. Terlihat oleh matanya, Naruto yang terlihat memegangi kepalanya yang sakit. Tak sengaja, Naruto dan Hinata akhirnya bertemu pandang.
"Waaaaaaa, selamat pagi Hinata-chaaaaannnn!" mimik wajah Naruto langsung berubah saat melihat gadis mungil yang mengintip di balik pintu. Sontak, wajah Hinata memerah padam. Hinata hanya bisa spontan melarikan diri dari tempat itu.
Naruto lalu mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke. "Kenapa dia?" tanya Naruto heran.
'Buagh!'
Dan bantal pun kembali melayang.
Aku merasa senang.
Aku merasa memiliki.
Aku merasa dimiliki.
Aku merasa bahwa keputusanku untuk menerima tawaran orang asing yang mendatangiku di pinggir jalan tidaklah salah. Karena, mereka sekarang sama sekali tak terlihat asing di mataku. Melihat mereka saat biasanya aku bangun sendiri, aku merasa memiliki. Melihat mereka makan makanan yang biasanya aku makan sendiri, aku merasa memiliki. Dan mendengar mereka memanggilku saat aku berjalan agak terlambat dari mereka, aku merasa dimiliki.
Aku suka ada disini.
Hatiku yang terpecah kini mulai menyatu.
Aku tak mau ada hal apapun yang membuat hati ini kembali terpecah.
Tapi, apa ini?
Kiba menatap kosong layar smartphone-nya.
Ia tak tahu harus melakukan apa.
Pukul tujuh malam, semua orang sudah kembali ke asrama. Dan Sasuke kini berkutat dengan kemeja dan setelan jas nya. Sudah lama sejak ia mempersiapkan kepindahannya ke sekolah ini, ia tidak memakai setelan seperti ini. Haruno Jiraiya. Uchiha Fugaku. Sungguh, ia sendiri benar benar penasaran akan orang tersebut. Dan kini, tak dapat ia sangkal bahwa ia sendiri sudah mulai penasaran tentang ayahnya lebih jauh. Namun, melihat dari perilaku Sakura, membuat ia makin ingin mengenal Haruno Jiraiya lebih dalam. Ia merasa bahwa keluarga Haruno memiliki faktor x yang tidak dimiliki oleh keluarganya. Sebagai keluarga pembisnis, ayahnya pasti sudah lebih dahulu menyadari potensi kerja sama yang luar biasa diantara keluarga ini. Namun, ia lebih penasaran tentang faktor x dari keluarga Haruno yang ber-impact kuat terhadap keluarga Uchiha bukan hanya dalam bidang bisnis, namun juga dalam hal yang selama ini tak pernah dijajal oleh seorang Uchiha. Ya, sebagai penerus Uchiha yang baik, Sasuke ingin mempelajari hal tersebut dari seorang Haruno. Peran keluarga Haruno dalam hidupnya sekarang, mampu mengubah pola pikir Sasuke perlahan.
"Kau akan ditertawakan oleh ayahku bila kau mengenakan pakaian itu untuk menemuinya," ujar Sakura dengan kepala menjulur, mengintip dari balik pintu Sasuke. "Oh iya, etika. Hmmm," desah Sakura malas.
Suara Sakura sukses membuat pikiran Sasuke teralihkan. Dilihatnya lewat ekor mata, Sakura yang kini sedang berjalan ke arahnya. "Kau sendiri, apa yang kau pakai?" tanyanya sinis. Alisnya sedikit mengernyit saat melihat Sakura yang mengenakan celana denim gelap, t-shirt putih dipadu jaket bomber hitam.
"Hey, aku akan menemui ayahku sebagai ayah, bukan sebagai holang kaya atau apalah itu," elak Sakura seraya berdiri di samping Sasuke dan menatap bayangannya di cermin. "Ternyata jidatku memang lebar," gumamnya seraya menutupi kening miliknya yang terekspos. Matanya bergerak mencari sesuatu di wardrobe milik Sasuke, dan topi hitam sukses menarik perhatiannya. "Ha, lebih baik," ujar Sakura setelah mengenakan topi Sasuke. Ia lalu berpose bak agen detektif dengan mimik wajahnya yang dibuat cool. Sasuke hanya bisa menaikkan alisnya setinggi mungkin-heran dengan anak holang kaya di sampingnya.
"Kukira perempuan bangsawan hanya suka memakai gaun," ujar Sasuke menanggapi aksi Sakura yang sedari tadi ia perhatikan.
"Heh, aku bukan bangsawan. Hinata iya," ucap Sakura seraya bersiap keluar dari kamar Sasuke. "Aku hanya anak biasa yang terlahir dari anak seorang petani yang punya pikiran gila," ujar Sakura seraya bersandar di daun pintu. "Ayolah cepat, tuan pangeran," Sakura mendengus saat melihat Sasuke masih saja membenahi penampilannya.
"Yang lain sudah makan malam?" tanya Sasuke sambil menutup pintu kamarnya.
"Yang lain apanya? Kita juga makan malam di sini," ujar Sakura seraya menengok ke arah pantry. "Sudah kubilang kau tak usah memakai setelan lengkap, toh di sana kita tidak makan malam bersama."
Sasuke melirik Sakura dengan sedikit kaget. "Kapan kau bilang begitu?" ucap Sasuke seraya kembali ke kamarnya dengan cepat untuk mengganti pakaian. Sakura yang melihatnya hanya mendesah lelah, lalu menghampiri kawan-kawannya di meja makan.
Hal yang pertama ditangkap Sakura adalah sorot mata Kiba yang terlihat kosong, meski tangannya bergerak sigap menuangkan sup yang telah ia buat ke dalam mangkuk besar di hadapannya. Tidak ada raut bahagia yang biasa tergambar di wajahnya saat memasak. Ada yang aneh dengannya hari ini,
"..."
"...ba,"
"Kiba,"
"Kiba?"
"Eh?" Kiba memalingkan wajahnya ke kanan, menghadap Sakura yang menatapnya khawatir.
Ada yang aneh dengannya hari ini, dan Sakura sadari itu.
"Aku baru ingat resep yang baru kubaca pagi ini, aku ingin mencobanya. Kau duduklah bersama yang lain," ujar Sakura sedikit berbohong. Gadis itu segera mengambil alih tempat Kiba, memaksa Kiba menuruti perintahnya.
Kiba mundur dengan keadaan setengah sadar. Lamunan masih mengakuisisi kepalanya. "Ya," gumamnya pelan, seraya beranjak ke arah kursi terdekat. Gelak tawa Naruto, desahan Shikamaru, kekehan malu Hinata, dan bunyi lain yang tercipta di ruangan ini hanya terdengar samar bagi Kiba.
Alis Sasuke mengernyit pelan saat melihat Sakura yang tengah mengambil bahan makanan di pantry. Lebih aneh lagi, saat ia melihat Kiba yang tertunduk di kursi makan. "Mengapa kau yang memasak?" tanya Sasuke tepat di atas kepala Sakura yang menunduk untuk menggapai sebotol minyak zaitun di rak bawah.
"Hm?" gumam Sakura seraya berdiri untuk memulai kembali acara memasaknya.
"Ada apa dengan Kiba?" tanya Sasuke sekali lagi.
"Nanti kita bicarakan," ujar Sakura yang melihat raut-sedikit-khawatir Sasuke. Tangannya dengan cekatan memotong ikan segar di hadapannya. Sasuke mencoba memahami Sakura yang menghindari topik yang ia tanyakan.
Sementara itu, di meja makan Naruto sibuk membahas club-club yang dibahas di sekolah siang tadi. "Tenten, apa kau nanti saat masuk club karate akan mulai sebagai pelatih atau murid? Kudengar kau sudah banyak memenangkan kompetisi, kan?" tanya Naruto kepada Tenten yang berada di seberangnya.
"Kau harus tau sehebat apa Tenten dulu, Naruto. Hampir setiap bulan pasti ada satu piala yang ia sumbangkan untuk sekolah," ujar Ino menanggapi pertanyaan Naruto. "Oh iya, Tenten, kudengar ada kakak kelas yang menjadi atlet karate andalan di sini. Kau harus mencoba bertarung dengannya suatu saat. Kudengar dia bahkan berhasil mendapat rekomendasi untuk berkompetisi di tingkat SMA saat ia SMP. Wah, kau benar-benar harus mencoba bertarung dengannya nanti."
Tenten hanya bisa mengusap kepalanya saat mendengar ucapan Ino. Bukannya ia tidak tahu mengenai hal itu, ia bahkan sudah mengetahuinya sejak hari pertamanya di sini. Namun, entah mengapa Tenten merasa enggan membicarakan orang yang ia prediksi akan menjadi rival terbesarnya di masa depan itu. "Pasti, ia satu club denganku. Namun kudengar ia tidak terlalu aktif di club. Jadi, kurasa sulit untuk mendapatkan kesempatan mengalahkannya di pertandingan latihan."
"Ah iya, kau pasti mendaftar di club karate. Aku juga mendaftar di club itu," ujar Naruto antusias.
"Hah? Kau tidak memiliki wajah atlet karate sama sekali, kau tahu," tanggap Tenten bercanda seraya terkekeh pelan.
Naruto langsung mengubah raut wajahnya menjadi masam saat mendengar tanggapan Tenten. "Sebenarnya aku mendaftar di semua club," ucap Naruto.
Ino memalingkan wajahnya cepat ke arah Naruto. "Serius? Memangnya kau tidak ada bidang yang ingin kau tekuni, heh?"
"Uuugghh," desah Naruto berat seraya menundukkan kepalanya hingga hidungnya menyentuh permukaan meja makan. "Jangan tanya padaku hal itu, aku tak suka, aku tak pernah bisa menjawabnya."
Hinata mempertajam fokus perhatiannya saat mendengar Naruto mengatakan hal itu. Ia yang sedari tadi diam diam mendengarkan ocehan Naruto turut sedih saat melihat Naruto yang lesu. Ia menarik jemarinya yang sedari tadi mengetuk ngetuk gugup, saat mengetahui orang yang menarik perhatiannya belakangan ini ternyata tengah mengalami krisis jati diri.
"Jangan terlalu memikirkannya. Kau sudah melakukan hal yang tepat," ujar Shikamaru.
Naruto yang mendengar Shikamaru bicara pun mengangkat kepalanya. "Kau terdengar seperti orang yang berpengalaman, Shikamaru."
"Tentu saja, seharusnya aku lulus SMA tahun depan," ucap Shikamaru datar.
Naruto dan Ino membulatkan mata mereka terkejut. "Itu artinya kau terlewat dua tahun? Bagaimana bisa? Mengapa kau melakukan itu?" tanya Ino.
"Hn. Hanya bosan," ujar Shikamaru dingin.
"Itu artinya kau seharusnya kakak kelasku?" tanya Naruto.
Shikamaru terlihat menghela napas lelah. "Secara jenjang iya, namun jika dilihat dari umur aku sama seperti kalian. Dulu aku tidak masuk taman kanak-kanak dan sekolah dasarku dipercepat setahun."
"Ooohhh," ujar Naruto dan Ino bersamaan seraya mengangguk laksana paham akan apa yang Shikamaru ucapkan. "Apa yang kau lakukan selama dua tahun kemarin?" tanya Naruto penasaran.
Shikamaru pun mengganti posisi duduknya menghadap Naruto. "Seperti kau, aku mencari hal yang ingin kudalami," ujar Shikamaru lesu.
Mata Naruto pun berbinar saat mendengar ucapan Shikamaru. "Benarkah? Apa kau menemukannya?"
"Hm?" alis Shikamaru meninggi seakan berpikir. "Tidak," ujarnya singkat disertai gelengan pelan. "Sulit sekali menemukannya. Aku tak pernah merasa tertarik untuk melakukan apapun."
Naruto otomatis mencetak ekspresi cemberut di wajahnya. "Ternyata kau juga sama," ujarnya dongkol.
Tuk.
Sup dengan uap yang masih mengepul kini tersaji di hadapan mereka, disusul dengan beberapa lauk yang Sakura masak di akhir. "Selamat makan semua," ucap Sakura setelah menata piring piring berisi makanan di meja makan. Semua orang pun mulai mengambil sajian yang dihidangkan setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih bersama.
"Aku dan Sasuke akan pergi setelah ini, dan kemungkinan kami akan pulang larut malam. Sesi wali kelas akan tetap diadakan dan nanti Kakashi-sensei akan datang kemari. Jangan sampai dia mengomel karena melihat barang-barang yang berantakan di sini, ya," jelas Sakura seraya mengambil makanannya.
"Ada urusan apa, Sakura-chan?" tanya Naruto dengan mulut penuh.
"Hanya sedikit pekerjaan membosankan," jawab Sakura seraya sedikit terkekeh.
Hinata yang melihat Kiba yang seakan tidak sadar sedari tadi mencoba berinisiatif mengambilkan makanan untuknya. "Kiba-san," panggil Hinata pelan. Ia mulai merekahkan senyumnya saat melihat Kiba akhirnya berpaling padanya. "Makanlah makan malammu," ujarnya seraya menggeser piring penuh makanan ke arah Kiba. Lelaki berambut cokelat itu hanya mengangguk kecil seraya membisikkan terima kasih kepada Hinata. Hinata yang menyadari hal aneh pada Kiba pun hanya bisa diam, memberikan ruang kepada Kiba untuk fokus pada apa yang ia pikirkan.
Dan makan malam itu pun berlangsung di tengah keheningan.
Angin malam berhembus mengganggu helai rambut merah muda yang tadi tertata rapi. Sakura terlihat bersemangat menuruni tangga menuju mobil putihnya yang terparkir di depan halaman asrama. "Biar aku yang menyetir," ujar Sakura seraya langsung bergerak ke arah kursi kemudi.
Grep.
Tangan Sasuke menahan bahu Sakura pelan. "Siapa yang bilang setuju?" ucap Sasuke datar. Lelaki yang kini mengenakan setelan mirip perempuan di sampingnya itu berjalan menuju ke arah kursi kemudi.
"Ayolah aku paling suka mengemudi saat malam," ujar Sakura memelas.
"Dan kau tidak tahu seburuk apa penglihatanmu saat malam," ucap Sasuke seraya langsung duduk di kursi kemudi. Sakura hanya bisa setengah hati menurut lalu duduk di kursi sebelah Sasuke.
Kendaraan yang mereka tumpangi pun mulai melaju ke arah gerbang utama. "Belok kanan atau kiri?" tanya Sasuke, sementara Sakura tengah fokus kepada sosok perempuan yang tampak berdiri menundukkan kepalanya dengan pakaian lusuh di sebelah kanan gerbang.
"Kanan," jawab Sakura tanpa sadar. Perempuan itu tampak sudah berdiri dalam waktu yang lama. Kepalanya tampak mendongak saat seseorang lewat di hadapannya, namun kembali menunduk saat ia lihat orang tersebut hanya berlalu darinya. Seperti menunggu seseorang.
Sakura pun akhirnya terbebas dari fokus pada gadis tadi, dan mulai menyadari sekelilingnya. "Mengapa kita lewat jalan ini? Seharusnya kan ke arah sana," ujar Sakura seraya menunjuk arah yang berlawanan.
"Kau yang bilang sendiri tadi," ucap Sasuke seraya mendesah berat. Tangannya segera memutar balik kemudi. Tapi, perempuan yang sama menarik perhatian Sasuke. "Siapa itu?" tanya Sasuke saat melihat gadis misterius itu menunduk melihat handphonenya.
Sakura berpaling cepat ke arah pandang Sasuke. "Iya, kan? Aku juga heran mengapa ada orang yang menunggu di tempat itu," ujar Sakura seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Sasuke agar bisa melihat gadis misterius tadi lebih jelas.
Sasuke mengernyit ketika melihat kepala merah muda itu malah mengganggu pandangannya. Aroma buah dari shampoo yang Sakura pakai mengingatkannya pada saat ia memandikan keponakannya dulu. "Terlalu dekat, cantik," ucapnya seraya mendorong dahi lebar Sakura menjauhi kepalanya.
Sementara itu Sakura hanya menampilkan wajah sebal dengan dua jari Sasuke tetap di dahinya. "Tapi benar kau lihat perempuan itu juga kan? Kukira tadi yang kulihat itu hantu," ucap Sakura sedikit panik.
"Hn. Perempuan itu memegang handphone tadi. Tenanglah," ujar Sasuke seraya melepaskan dorongannya dari dahi Sakura.
"Jadi sekarang kemana?" tanya Sasuke saat menyadari mereka sudah sampai di perempatan jalan.
"Aish. Kiri," desah Sakura setengah sebal. "Sudah kubilang aku saja yang menyetir."
"Heh, aku hanya menguji kemampuan menghafal jalanmu," ujar Sasuke santai, sementara Sakura yakin 100% Sasuke memang tidak tahu jalannya.
Bangunan tinggi menjulang di antara gedung-gedung lainnya pun menyambut kedua anak manusia yang sepanjang jalan tak henti saling menghina ini. Entah mengapa, Sasuke si Tuan tahu segalanya itu kini malah menampilkan gerak gerik gugup yang kentara terlihat oleh Sakura. "Santai saja," ucap Sakura menenangkan pria yang terus mencoba untuk terlihat cool di sampingnya.
"Kukira Tuan Jiraiya berada di apartemennya. Apa ia tidak istirahat?" ujar Sasuke penasaran.
Sakura hanya mengendikkan bahunya. "Tanya dia saja nanti," ucapnya singkat.
Mereka pun sampai di depan pintu yang dihiasi papan nama cantik bertuliskan 'Haruno'. Sakura membuka pintu itu dengan santai, lalu masuk ke dalam ruangan yang kini gelap tersebut, diikuti Sasuke di belakangnya. Satu satunya sumber cahaya yang ada di ruangan tersebut adalah televisi yang menerangi seorang lelaki paruh baya berambut putih yang tengah memeluk popcorn diselimuti selimut berbulu tipis. Lelaki tersebut sukses kehilangan fokusnya, lalu menatap putri semata wayangnya sumringah.
"Heeey, akhirnya kau berkunjung, nak," salamnya seraya merentangkan tangan menunggu pelukan dari sang putri.
Sakura pun bergegas menyambut pelukan sang ayah. "Ibu dimana?" tanyanya tak kalah bersemangat.
Seketika raut sebal muncul di wajah Jiraiya. "Sudah tidur, tuh," ujarnya seraya menunjuk ranjang di pojok ruangan. "Wah, wah, lihat ternyata ada anak Uchiha di sini."
Mendengar sapaan Jiraiya membuat Sasuke hanya bisa mengangguk kikuk. "Maaf mengganggu waktu malam Anda," ujarnya.
"Ini masih siang, belum terlalu malam, hahaha," gurau Jiraiya seraya bergerak mencari remote untuk menyalakan lampu.
"Maaf jika saya tidak sopan, namun mengapa Tuan tidur di kantor? Apa pekerjaan Tuan begitu banyak sampai tidak sempat pulang?" tanya Sasuke to the point karena ia sangat penasaran akan hal itu.
"Aku hanya ingin bersama cucu pertamaku, ia sudah besar sekarang," ujar Jiraiya seraya menyediakan tempat lapang di sofanya untuk Sakura dan Sasuke duduk.
"Cucu pertama?" ucap Sasuke cepat. Ia terheran karena yang ia tahu Jiraiya hanya punya seorang putri dan Sakura terlihat tidak pernah menikah sebelumnya.
"Hahahaha. Buang wajah heran itu Sasuke. Ini adalah cabang perusahaan pertama yang aku dirikan dari awal sendirian. Di sini kami memanggil setiap perusahaan sebagai anak kami. Jadi jika ini adalah anakku, maka ini adalah cucu pertama ayahku. Begitulah," jelas Sakura seraya memilih channel di televisi yang tadi ayahnya tonton. Sepertinya Sasuke hanya bisa menunjukkan ekspresi wajah yang masih terheran akan interaksi keluarga ini.
"Jadi," sela Jiraiya ditengah usahanya membuat sandwich malamnya. "Apa kau ingin punya banyak anak? Atau ada tujuan lain kau kemari?" tanya Jiraiya ringan.
Entah mengapa kata kata 'punya banyak anak' tiba-tiba memunculkan semburat merah di pipi Sasuke. Matanya sontak tertuju pada Sakura yang terlihat enteng menggantikan posisi ayahnya di sofa tadi. Ia juga tak tahu mengapa ia malah melihat Sakura saat itu.
"Aaa, itu, tentang ayahku," ujar Sasuke terbata-bata seraya membenahi posisi duduknya.
Jiraiya memalingkan wajahnya cepat ke arah Sasuke. Ia langsung tergesa-gesa menyelesaikan pembuatan sandwich-nya, lalu berjalan cepat ke arah sofa di mana Sakura dan Sasuke duduk-bahkan cenderung berlari. Saat jarak antara kaki dan sofa semakin dekat, Jiraiya bertolak untuk melompat dan akhirnya mendarat dengan sukses dalam posisi duduk di antara Sakura dan Sasuke. Lelaki tua itu menghadapkan tubuhnya ke arah Sasuke dengan sebelah lengan menyangga kepalanya di atas sofa. Tangan yang satunya menyuapkan sandwich ukuran sedang itu ke mulutnya, lalu ia gigit dengan ekspresi sebal.
Kedip.
Kedip.
Kedip.
Keheningan tercipta hingga akhirnya Jiraiya berkata sesuatu seusai menelan gigitannya.
"Apa kau sudah baikan dengan ayahmu?"
Pandangan Sasuke langsung berbelok ke arah lain saat mendengar pertanyaan itu. "Ah, saya tidak bermaksud-"
"Oh jadi belum ya," sanggah Jiraiya cepat.
Tangan Jiraiya mengambil sedikit bagian sandwich lalu mengarahkannya ke arah mulut Sasuke. Pemuda itu hanya bisa menampilkan wajah kaget seraya menjauhkan wajahnya beberapa inchi. "Buka mulutmu," titah Jiraiya yang akhirnya dituruti Sasuke.
"Apa tugas dari seorang ayah?" tanya Jiraiya seraya memandang lurus Sasuke yang sibuk mengunyah suapan Jiraiya. Sasuke yang tidak pernah diperbolehkan berbicara saat sedang makan hanya bisa berdiam sambil menunggu makanannya tertelan. "Jawab saja disini kau bebas," ujar Jiraiya tak sabar.
"Tugas seorang ayah adalah membesarkan anaknya dengan baik," jawab Sasuke pelan.
"Apakah menurutmu suapanku tadi termasuk kegiatan dalam proses membesarkanmu?" tanya Jiraiya agak rumit.
"Ya, kau memberiku makan," ujar Sasuke.
"Tapi aku bukan ayahmu. Kau benar, tugas seorang ayah adalah membesarkan anaknya dengan baik. Tapi ada hal lain, yang menjadi alasan mengapa seseorang disebut ayah. Karena kau tahu, anak jalanan saja bisa tetap tumbuh besar dengan normal. Tapi tetap, hanya tumbuh, tanpa seorang ayah, bagaimana rasanya."
"Sama sepertimu. Aku tak pernah menganggap Fugaku adalah seorang ayah dari Sasuke sampai saat ini."
Sontak Sasuke kaget mendengarnya. Ia kira Jiraiya akan membela sahabatnya tersebut, tapi ternyata tidak.
"Tapi, semua berubah saat kunjunganku ke rumahmu kemarin. Seperti yang sudah kau tahu, Fugaku ingin merubah segalanya. Sejak saat itu aku akui dia sebagai ayahmu."
"Aku, tidak yakin," ujar Sasuke lirih.
Grep.
Sontak Sasuke terbelalak saat merasakan jeweran keras pada telinganya.
"Sekarang hanya ada satu hal yang harus kau lakukan," ucap Jiraiya seraya melepas jewerannya lalu menepuk kedua bahu Sasuke keras.
"Bercerminlah."
Satu kata yang membuat otak Sasuke mengalami korsleting di detik yang sama.
Jiraiya tiba-tiba memeluk Sasuke yang ekspresi wajahnya tidak bisa dideskripsikan lagi. Korsleting menyebar ke setiap sel otaknya seketika.
"Lihatlah dirimu, maka kau bisa melihat ayahmu. Seperti inilah Fugaku, seperti inilah rasanya saat aku memeluk dirinya. Kaku. Gugup. Tegang. Panik. Ia selalu seperti ini kepada siapapun. Ia selalu seperti ini saat sesuatu berhasil menorehkan kesan di hatinya. Otaknya pintar, hatinya bebal."
"Mungkin kau membela, kau gugup hanya karena aku asing bagimu. Sekarang, coba pikirkan bahwa aku adalah kakek pelayan yang sedari dulu menemanimu dewasa."
Entah mengapa Sasuke terbawa fokus dan mendengarkan dengan seksama setiap perkataan Jiraiya. Kakek pelayannya memang sangat baik, ia sangat setia menemaninya, dan ia tetap bertahan walaupun sempat diberi upah kecil saat masa-masa bangkrut keluarga Uchiha. Sasuke sangat menyayangi kakek pelayannya yang selalu sabar menghadapi kemarahannya sedari kecil.
"Dan sekarang lemaskanlah tubuhmu. Peluk kakek pelayanmu ini."
Sasuke hanya bisa tersenyum kecil membayangkan kakek pelayan yang selalu menunggu di depan kamarnya saat ia marah kepada semua orang. Tapi tubuhnya tak bergerak sama sekali. Entah mengapa rasanya sulit. Semanis apapun kenangan yang ia bayangkan, tak menciptakan apapun selain senyuman di bibirnya saat ini.
"Sulit kan?" ujar Jiraiya seraya melepas pelukannya terhadap Sasuke.
"Sekarang bayangkan ayahmu. Kau, anaknya, adalah orang yang asing baginya. Saat ia berusaha memperlakukan orang asing seakan-akan orang tersebut ada bersamanya sejak dahulu, tak menghasilkan apapun. Ia hanya bisa menaruhnya dalam pikiran, lalu menyimpannya sebagai niat dalam hati. Tapi ia tak mampu melakukan apa-apa selain itu. Ia tak bisa bergerak maju, tapi niat di dalam hatinya tak pernah membiarkan ia mundur."
"Kau rasakan sendiri sulitnya melakukan hal itu. Sekarang, kukirimkan Sakura untuk mengubahmu, agar kau tak menjadi seperti ayahmu. Aku tak bisa mengubah kalian berdua. Salah satu dari kalian harus berubah agar niat ayahmu bisa terwujud. Kami memutuskan untuk mengubahmu karena harapanku kepadamu jauh lebih besar daripada harapanku pada sahabat tuaku itu. Kau sendiri yang harus mengendalikan semuanya."
Tepukan ringan di bahu Sasuke seakan mengakhiri runyam di kepalanya. Tatapan pemuda itu kosong. Punggungnya bersandar lemas di sofa. Pikirannya penuh, tapi entah mengapa rasanya tenang. Seakan-akan setiap pemikiran yang ada tahu kemana harus pergi. Kekehan kecil Sasuke memecah suasana di ruangan tersebut. Senyum lebar merekah di wajahnya. Sasuke bergerak untuk berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia membungkuk sebagai penghormatannya kepada Jiraiya.
"Terima kasih, Tuan."
Jiraiya hanya tersenyum lalu terkekeh pelan. Ia turut berdiri lalu menepuk dahi Sasuke. "Kau masih muda. Dan sebuah perubahan yang baik tidak akan menghasilkan apapun kecuali membuatmu semakin luar biasa. Jadilah harapan para Uchiha. Sebaik apapun citra Uchiha dalam dipikiranmu saat ini, jadikanlah mereka lebih baik lagi di masamu nanti."
Senyum ketiga manusia yang masih terjaga di malam itu, menjadi saksi titik awal bagi semua perubahan yang akan terjadi di masa depan.
