Enjoy with this fic
.
.
.
Tempat yang ia jajaki nampak sepi. Kumuh dan gelap menyelimuti. Bau sampah yang busuk ikut merayapi. Namun ia enggan untuk kembali. Sebuah lampu terlihat begitu lelah menyinari. Bekerlap-kerlip seolah sebentar lagipun dia selesai dari tugas suci. Sekali lagi si pemuda menghela nafas. Enggan kembali memang, tapi bukan berarti dia mau melanjutkan langkahnya. Apalagi ketika tawa samar yang terasa dekat namun teredam deret dinding menggelitik gendang telinga. Terpikir pula olehnya, jalanan ini hanya berjalur 1, jelas saja dia bakal bertemu mulut yang menjadi sumber bunyi. Dan jujur saja dia tak mau itu terjadi.
Diruntukinya nasib baik yang membuatnya pulang selarut ini. Sepuluh malam, dan perjalananpun masih tersisa separuh. Badannya yang mungil tak mau mendukung dirinya. Apalagi fakta bahwa dia sering disangka bocah SMP, atau paling parah perempuan. Bisa habis dia jika jadi incaran para pemabuk jalanan. Padahal telah dia naikkan tinggi-tinggi rambut berjumput pirang diatas dahi kebanggaannya. Rasa-rasanya ingin sekali menghela nafas tuk kesekiam kalinya. Harusnya tadi dia terima saja ajakan pulang bersama si badan bongsor bermental TK tadi. Setidaknya badan, dan tampang sangarnya bakal membuat para pemabuk pikir ulang.
Tapi apalah daya. Nasi telah menjadi bubur. Karena alasan keranjingan latihan, si senpai pulang duluan. Tersisalah dia yang 2 anggota yang beda jalan tujuan. Mau lewat jalan yang lebih aman, mutarnya bakal menghabiskan waktu 2 jam. Habis dia kalau sampai pulang tengah malam.
Dia mengutuk dalam hati, ketika dengan cepat dia telah mencapai para berandal jalanan. Suasana yang temaram membuatnya berharap mereka tak melihat dia lewat. Tapi nasib buruk mana yang tak menempel padanya?
"Hei kau!"
Salah seorang memanggilnya, tapi ia hanya merapatkan tas yang dibawa dan melanjutkan langkahnya. Bukan berarti dia pengecut, tapi melawan 5 orang dengan nafas berbau alkohol jelas tidak mungkin.
Satu orang yang dia kenali namun tak diingat menjegal langkahnya. "Kenapa buru-buru?" tanyanya, bahkan cegukannya pun belum usai. Dia tinggi, jelas pemuda mungil itu perlu mendongak guna menatap sang pemuda. Oh dia ingat, dialah kapten tim voli yang dikalahkanya di pertandingan pertama. Ohgi Minami yang kala itu Tanaka pernah bersiteru meski jauh dari kata berkelahi. Tapi dia heran bagaimana pemuda ini mabuk saat masih sekolah atas?
"Ada apa, sialan?"
Suaranya dibuat berat. Enggan pula dia mundur untuk menjaga jarak.
Yang lain ikut andil, "Kenalanmu?" tanya pemuda lain yang tak diketahuinya. Dia tidak ingin membagi kewaspadaan hanya untuk menoleh. Tapi langkah kaki dibelakangnya membuat ketakutannya bersarang.
Pemuda didepannya menjawab, "seperti pernah melihatnya," dia terlihat berpikir. Dahinya berkerut, lalu dia berkata, "ah ... aku tahu dia. Libero Karasuno. Nomor 4."
"Lawan heh.."
Pemuda mungil itu menyerngit, "apa maumu?"
Sementara gelak tawa menjadi respons dari kelima brandal jalanan.
"Hanya berkenalan," sahut pemuda yang sejak tadi masih duduk ditempatnya, dan dengan mengangkat botol berisi liquid memabukkan dia berkata, "kau mau bergabung?"
"Tidak terimakasih," jawabnya, tak ingin terjerumus, sekaligus tak ingin mendapat masalah. "Bisa biarkan aku lewat?"
"Bisa biarkan aku lewat," cicit pemuda dibelakangnya dengan gelak tawa yang coba diredam, "lucu sekali."
Pemuda mungil menyerngit, menepis tangan yang coba menarik dagu miliknya. Namun siapa yang menyangka tangannya hanya akan berakhir pada genggaman kuat pemuda yang bercicit dibelakangnya.
Si pemuda Ohgi Minami mendekat, "aku ingat namamu Nishinoya Yuu, benar?"
Nishinoya masih terus mencoba menarik tangannya, sambil mendesis sinis dia berkata, "aku tak tahu kau mengingat semua nama pemain yang kau lawan."
"Hanya Karasuno," akunya.
Pergelangannya memanas ketika ditarik paksa hingga ia harus berjinjit. Nishinoya menatap ngeri pada orang yang menjadi penarikan, "jadi mau kita apakan dia? Awalnya kupikir dia perempuan. Tapi sebagai lelaki tubuhnya bagus juga."
Nishinoya mendesis bengis, ditendangnya daerah kebanggaan orang yang menarik tangannya. Mengundang teriakan marah, dan reflek memegangi miliknya. Nishinoya segera menarik tangannya. Terhuyung-huyung meninggalkan tempat, tapi pemuda Ohgi Minami mencekal tangannya kembali, yang dengan segera membuatnya terjepit antara dinding dan pemuda itu.
Dia menyerngit, napas pemuda ini benar-benar bau, pikirnya. Sudah berapa botol dia tenggak? Dan lihat saja matanya yang telah berkabut diantara kesadaran, dan ketidak sadaran.
"Lepaskan aku," desis sang libero.
Pemuda Ohgi Minami hanya tertawa, sedangkan ya.g baru saja ditendangnya meraung kesal. "Berikan dia padaku. Akan kutunjukkan bagaimana benda yang baru saja ditendangnya menusuk pantatnya."
Nishinoya meringis kecil. Nafasnya memburu, dan peluh meluncur menurun dari dahinya. Bukan hanya tangannya yang sakit, atau pun punggungnya yang ngilu karena bertabrakan dengan tembok bata, ketakutan akan ancaman tak main-main pemuda tadi cukup untuk membuatnya terbelalak, dan bergetar. Apalagi ketika segala upaya untuk memberontaknya tak juga membuahkan hasil.
"Oh tenanglah, Bob!" katanya, yang kemudian dengan sensual dia menjilat belahan bibirnya, "dia -,"
"Milikku."
Sebuah suara yang berat menginterupsi perkataan pemuda Ohgi Minami. Nishinoya ikut menatap siapa yang berani memotong ucapan. Dan ketika ia mendapati siapa orang itu, napasnya tercekat.
Menutupi temaram bulan, sosok itu terasa menjulang tinggi. Sepasang mata yang dibingkai kacamata berkilat atas kemarahan. Tangannya mencengkram hingga buku-buku jari memutih siap di terjangkan. Kaki jenjangnya melangkah dengan suara yang terdengar mengerikan.
Seorang pemuda setingkat lebih rendah dari Nishinoya namun puluhan centi lebih tinggi darinya. Dan juga lebih kuat pula.
"T-tsukishima?" Nishinoya bercicit dalam rasa syukur. Sementara Tsukishima menjawab dengan kepala yang dimiringkan, serta nada mengejek yang amat kental akan tetapi amarah masih terselip meski tersembunyi amat sempurna. "Kau dalam masalah, Nishinoya-san?"
"Sialan kau."
Sekonyong-konyong yang lain mengerubungi. Meninggalkan satu orang yang bertugas menjaga makan malam mereka tak meninggalkan tempat.
Tsukishima tersenyum, tidak menyeringai. "Akan kuselesaikan ini cepat."
"Jangan berlagak."
Baku hantam tak terelakkan. Tsukishima dengan mudah mengalahkan. Namun juga dikalahkan. Beberapa kali dia terhuyung mundur akibat pukulan, tapi dia dengan cepat membalas dengan tendangan. Saat 4 orang tumbang, pemuda Ohgi Minami melapaskan pegangannya. Dan Nishinoya hanya bisa memegangi pergelangannya, dan menatap pemuda itu sejauh matanya bisa menangkap.
Matanya menatap pada Tsukishima yang mendengus meremehkan. "Bagaimana bisa kau pulang selarut ini?"
Nishinoya bungkam. Tak tahu harus menjawab apa. Rasanya seperti keluar kandang singa, masuk kandang buaya. Di makan oleh 5 orang, atau 1 makhluk namun akan membuatnya tak bisa berjalan beberapa hari.
"Aku ingin membunuh mereka, tapi ... "
Satu tangannya ditarik paksa, namun jauh lebih lembut dibanding tarikan yang tadi. Tangan Tsukishima yang lain menangkup dagunya, membuatnya mendongak hanya untuk membiarkan bibirnya diraup dalam lumatan kasar. Tangan Nishinoya yang bebas coba untuk mendorongnya, dan benar Tsukishima memundurkan dirinya.
"Demon Lord sialan," desisnya sembari mengusap saliva disudut bibirnya.
Bukannya tersinggung, Tsukishima malah tertawa. Seolah ucapan Nishinoya adalah hiburan untuknya, "Jadi apa aku terlambat?"
Nishinoya menyerngit, "tidak," katanya, "tapi jika ancaman orang bernama Bob itu termasuk kategori terlambat kurasa Ya."
Tsukishima mengerling pada pemuda yang dimaksud. "Maksudmu aku boleh membunuhnya?"
"Tidak."
"Sesuai keinginanmu."
Tsukishima mempertemukan belahan bibir mereka kembali. Lebih lembut, namun menuntut. Lidahnya masih tak ingin ikut andil, tapi tubuhnya terlihat tak sabar. Dia ingin mencengkram pemuda 159 cm itu, tapi melihat tubuhnya bergetar Tsukishima tak cukup tega untuk melakukannya. Dia tak ingin mengguncang keadaan manusia kecil yang telah dia klaim semenjak pertemuannya beberapa hari lalu.
Setelah menyudahi lumatannya, dengan suara berat dia bertanya di sebelah telinga yang lebih kecil, "mereka menyentuhmu dimana saja?"
Nishinoya menggeliat tak nyaman, "t tidak dimanapun?" Dan merutuki jawaban yang terkesan seperti pertanyaan.
Pemuda pirang terkekeh. Menikmati reaksi lawan bicaranya yang selalu berubah total ketika berhadapan dengannya. "Kau mengundangku hmm?"
Satu tangan Tsukishima memeluk pinggang ramping Nishinoya. Mendorongnya untuk lebih dekat padanya. Tanpa jarak, dan menempel. Hangat, pikir Noya. Tapi dia tahu semuanya akan berakhir dengan panas.
"Tsukishima, hentikan ini," protesnya sedikit tak nyaman.
"Tapi kau menyukainya," tukas Tsukishima yang kemudian menjamah leher jenjang pemuda dipelukannya. Dan tersenyumtipis ketika Nishinoya menahan erangannya, "lihat? Kau terlihat menikmatinya."
"Tidak," tukasnya dengan nafas putus-putus, dan ia segera mencoba mengalihkan perhatian sang Demon, "Kupikir kau sudah pulang."
"Ya, memang." Tsukishima menjauhkan dirinya, "tapi saat melihat mereka, aku memutuskan untuk menunggu." Dia menunjuk para pemuda brandal dengan dagunya. "Aku tahu kau tidak akan mau mengambil jalan memutar yang lebih aman."
Nishinoya menggeleng, "kau benar. Well ... terimakasih." ungkapnya sungguh-sungguh, "tapi jangan lakukan hal itu sekarang, aku lelah."
Tsukishima melemparkan senyum tipis, "kalau begitu tidurlah, aku yang akan mengantarmu pulang."
Nishinoya tahu, Tsukishima menggunakan keahlian menyebalkanya lagi. Badannya yang terasa lemas, dan matanya yang berat menjadi buktinya. "Bisa kau berhenti membuatku lemas setelah menciumku?"
"Tidak," ucap Tsukishima dengan senyum puas. "Ada hal yang harus kulakukan dan tidak boleh kau lihat."
Sang pemuda mungil tersenyum, menutup matanya, dan menyenderkan diri pada dada bidang lelaki didepannya. Sementara tangan yang ada dipinggangnya semakin memeluk erat, semakin merapat, tanpa jarak. Dibiarkannya ketidak sadaran mengambil alih. Dibiarkannya dirinya berada dalam kendali penuh pemuda berkaca mata. Setidaknya malam ini dia takkan bernasib seperti malam-malam sebelumnya.
Tsukishima takkan melakukannya saat dia tak sadar, kan?
End
Apaan nih /muka horor/
Ini awalnya ingin kubuat fantasy, action, eh malah jadi kiss di tenga jalan begini '-' yah sudahlah /oi
Anggap ini sebagai bonus, untuk yang B aku masih bingung. Mau bikin Beast, atau Block. Atau ntar ada kata lainnya, Brengsek atau apa gitu /dibejek/
Oke mari kita hentikan ocehan saya, dan biarkan saya mengucapkan Thanks For Read.
I still wait any review '-'
