Book

Summary : Nishinoya harus menyelesaikan Deadline-nya. Bahkan harus begadang segala, namun bagaimana bisa Tsukishima mendukung sambil mengacaukan pikirannya?

TsukixWriter!Nishinoya

Sudut pandang : Orang ketiga

Genre : Romance

Rate : T

Jenis : AU semi Canon

Warning : Saya tidak membeta tulisan ini karena capek. e.e jadi penuh typo. Ini BL. Crack Pair, dll

Declaimer : Haikyuu adalah milik sensei yang membuatnya dan saya lupa namanya. Dan Fic ini milik saya.

Catatan penulis : Saya tidak begitu menyesali keberadaan fic ini, meski absurd sih.

Happy Reading

Matanya meredup, kemudian secara cepat terbuk, namun tak lama kembali meredup. Kepalanya terkantuk-kantuk, dan tangannya masih mencoba mengetik deretan huruf yang semakin kacau. Saat kepalanya benar-benar terantuk keyboard laptop dia mengerjap. Tak lupa mengumpat, dan menatap deretan huruf e yang tak sengaja ia buat. Segera menghapusnya sebelum mengacaukan naskah yang harus di berikan kepada editornya besok.

Pemudia itu—yang bekerja semalaman—berdiri. Mengambil gelas kosong untuk diisi kembali dengan iquid hitam pekat yang pahit. Sejujurnya ia tak menyukai minuman itu, hanya saja tubuhnya sekarang takkan mampu terjaga tanpa cairan berkafein yang disimpannya untuk saat saat seperti ini.

Sambil meracik dia bergumam, menyanyikan sebuah lagu yang tak ia hafal liriknya sepenuhnya. Kemudian memasukkannya kedalam mesin pembuat kopi. Dia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi disebelah dapur kecil apartemennya. Berniat membasuh wajah, siapa tahu matanya akan sedikit terjaga.

Setelah membasahi wajah, menggosok gigi, dan bercermin sebentar dia kembali ke dapur hanya untuk mendapati mesin pembuat kopinya masih bekerja setengah jalan. Dia menghela nafas, memutuskan untuk menunggu sembari melanjutkan naskah miliknya.

Dengan cekatan ia membaca kembali naskah yang ditulisnya beberapa hari belakangan, sudah ada 180 halaman, dan jika disesuaikan dengan perjanjian ada sekitar 20 halaman lagi, atau mungkin lebih karena dia tanpa sengaja memberikan terlalu banyak konflik di dalam ceritanya. Namun nasi telah menjadi bubur. Menghapusnyapun hanya akan merusak jalannya cerita. Dia yang selalu menghubungkan satu persatu konflik dengan lainnya takkan bisa menghilangkan konflik yang telah terlanjur dia buat.

Sebenarnya dia ingin meminta waktu guna memperpanjang deadline-nya, tapi melihat kesibukan mereka saat dia telat memberikan naskah beberapa bulan yang lalu, dia jadi tak tega. Alhasil ia harus mengorbankan dirinya tak tidur beberapa hari belakangan, bahkan dia sampai absen sekolah.

Beberapa paragraf mulai dia garap, handphone di sebelah laptopnya berkedip tanda pesan masuk. Dia tak pernah memberikan ringtone pada handphonenya hanya kedip singkat untuk penanda pesan yang masuk, dan getaran untuk telepon. Ia mengambil handphone-nya untuk mendapati nama orang yang menjadi adik kelasnya tertera sebagai nama pengirim.

From : Tsukishima

Sub : None

Hee ... Nishinoya-san masih belum tidur rupanya?

Perempatan siku-siku imajer tercetak jelas di dahinya. Dengan sedikit tekanan kuat pada keypad layar sentuhnya ia membalas Tsukishima yang entah bagaimana membuatnya kesal. Bisa dia bayangkan adik kelas tukang nyindir itu memasang wajah super duper menyebalkan dengan nada yang tak kalah membuatnya emosi pula.

To : Tsukishima

Sub : Re None

Tsukishima sialan, kenapa kau tahu aku belum tidur?!

Kembali ia letakkan handphonenya di tempat semula, kemudian melanjutkan menyusun naskah yang semenjak tadi ia kerjakan.

Sesekali pikirannya melenceng jauh dari jalan cerita yang dia garap. Beberapa kali mendesah lelah, dan kemudian menerawang masa lalu. Siapa yang menyangka dari semua orang yang dikenalnya Tsukishimalah yang memergoki kerja sampingannya? Padahal dia sudah mati-matian berbohong pada Sugawara-san yang begitu lembut—yang hampir membuatnya mengaku—saat ia bertanya kenapa Nishinoya sering sekali membolos latihan. Atau bahkan ia merelakan diri dimarahi habis-habisan oleh Daichi-san yang memaksanya untuk jujur. Tapi kenapa Tsukishima? Kenpa saat dia teledor Tsukishima lah yang memergokinya? Saat dimana dia tanpa sengaja membawa buku karyanya yang baru saja diterbitkan.

Kala itu ia hanya bisa melongo saat Tsukishima—tanpa sengaja—ia tabrak karena ia terlalu girang setelah selesai mengonfirmasi bahwa buku nya telah terbit. Ia menerima satu, dan berniat untuk mengobservasi ulang hasil karyanya. Dia tahu seharusnya ia tak membawanya kesekolah, apalagi saat buku miliknya belum berada di pasaran. Penerbit yang menangani bukunya ada di Tokyo tentu saja buku itu belum beredar di Miyagi. Meski begitu telah ada poster yang menunjukkan cover bukunya, itulah kenapa pasti ada satu dua orang penggemar bukunya yang berada di Miyagi telah tahu covernya.

Dan itu lah masalahnya. Dia tak menduga Tsukishima adalah salah satu orang yang menggemari bukunya. Bahkan telah menunggu terbitnya jilid selanjutnya. Tepat saat ia menabrak Tsukishima isi tasnya berhamburan. Buku yang ingin ia cari tahu kesalahannya saat jam istirahat menampakkan diri. Canggung. Tsukishima menunduk menatap lekat buku yang dia kenal betul sampulnya, sementara Nishinoya tak tahu harus bilang apa.

"T tsukishima ini ..."

"Heee bukankah ini buku miliki Yukina-sensei?"

Nishinoya Yuu berkeringat dingin. Apalagi ketika pen name yang dia sembunyikan tersebut oleh bibir milik pemuda dengan tinggi yang berlebihan. Sebuah tegukan kasar terdengar oleh kedua pasang telinga. Pikiran Nishinoya berspekulasi, apakah Tsukishima hanya akan menganggapnya sebagai fans kelewat berat, atau dia mulai curiga?

"Tapi bukankah seharusnya buku ini belum ada di Miyagi?"

Nishinoya gelagapan.

"Bagaimana bisa Nishinoya-san mendapatkannya."

"A Ah itu ..."

Mata Nishinoya menggerayang sembarangan. Kemanapun asal jangan pada sepasang iris dengan pemilik yang menundukkan dirinya mengintimidasi. Beberapa orang terlihat berjalan tak peduli, padahal mereka berada di tengah lorong sekolah. Nishinoya bahkan berharap kepala sekolah akan datang dan membuat Tsukishima undur diri.

Tapi ...

"Atau mungkin kaulah pembuatnya? Itu adalah satu-satunya kemungkinan yang ada."

Kapan dewi fortuna berpihak kepadanya?

Sial ...

Reflek ia menarik tangan Tsukishim, menjauhkannya dari kerumunan dan menjelaskan segala hal padanya. Yang dilatari seringai Tsukishima di sepanjang dia bercerita.

Nishinoya menghela nafasnya untuk yang entah berapa kali. Kemudian menatap enggan handphone yang berkedip. Tanpa dilihat pengirimnya pun Nishinoya tahu siapa yang mengiriminya pesan.

From : Tsukishima

Sub : Re Re None

Aku menunggu karya terbaikmu Yukina-sensei.

Yang dikirimi pesan menggeram kesal. Kemudian menutupnya kembali tanpa ada niatan untuk membalas. Kemudian melanjutkan aktivitasnya sampai kerlipan dari handphone miliknya kembali menarik atensinya.

From : Tsukishima

Sub : Peringatan

Tapi jangan memaksakan diri!

Ia heran bagaimana bisa berkirim pesan dengan Tsukishima menjadi rutinitas sehari-harinya? Ia juga bingung bagaimana bisa dia mendapat semangat karena pesannya. Bagaimana bisa ia tersenyum ketika melihatnya.

Ketika ia hampir menjawab, sebuah pesan telah mendahuluinya.

From : Tsukishima

Sub : None

Karena aku tak ingin kau sakit.

Dan ia tak mengerti kenapa pesan dari Tsukishima membuat wajahnya memanas.

Semua berawal dari buku, dan berlanjut dengan buku.

.

.

.

END

A/N

Maaf nggak nyambung atas dan bawah, oh maafkan daku maafkan daku.

Ini singkat banget ya? Maaf kan daku #lagi

Oh ya ngomong ngomong ini promt ke 2, yang nggak memuaskan. Semi AU, dan disini Nishinoya sebagai penulis buku dengan Pen Name Yukina. Silahkan dinikmati.

Ngomong-ngomong saya masih suka pair ini, semakin tergila gila dengan seiyuu Noya, meski saya sedikit nggak suka dengan Seiyuu tsukishima, tapi karena Tsukishima kakkoi megane, jadi nggak masalah #jadiituyanglulihat?

A ahem ... mari kita selesaikan A/N ini dan pamit.

Thanks for Read,

RnR?

Oh bonus Omake

.

.

.

Bukunya yang ia kejakan mati-matian beberapa malam yang lalu telah selesai. Telah dicetak, dan telah beredar di seanteri Miyagi. Nishinoya pun sekarang telah bisa mengikuti kegiatan klubnya, dan ia belum membuat tanggal rilis buku selanjutnya. Dan karena sebentar lagi kejuaraan voli Haruko akan datang, Nishinoya rasa ia akan cuti dari dunia kepenulisan sementara.

Namun satu hal yang membuatnya segan untuk berhenti.

"Yukina-sensei."

Nishinoya berbalik menatap pemudia berkaca mata kemudian mendesis kejam, "Jangan memanggilku dengan nama itu!"

Tsukishima menyeringai jahil, "Kalau begitu," kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Nishinoya sembari berkata, "Aku menunggu kelanjutan karyamu, Yu-sensei."

Ada seseorang yang selalu membuat wajahnya semerah kepiting rebus ketika berkata ia menunggu karyanya.

Oh Tsukishima Sialan.