Reach You
DaeJae(boyxboy)
by : Wil-dj
Disclaimer : Homophobic just leave. if you don't like, don't read. cuma karya manusia kotor yang suka cerita ubnormal.
Sorry For Typo
"tidak mau! leon tidak mau ikut jika papa tidak ikut!" lengkingan bocah berusia empat tahun itu berdengung hebat ditengah sesenggukannya. tubuh leon di peluk erat oleh sang nenek, menahan agar cucu semata wayang nya memeluk pria manis bermarga Yoo.
"lepas dulu sayang" pinta pria paruh baya disamping leon. ia memegang bahu istrinya agar melepas tubuh mungil leon yang terus berontak.
"papa!" leon menerjang tubuh youngjae yang berdiri dengan kedua lututnya
"hei jagoan, uljima. sekarang leon ikut kakek dan nenek dulu hmm? nanti papa menyusul mu" ujar youngjae seraya menepuk lembut bahu putra nya
"kenapa? kenapa papa tidak ikut? leon mau papa ikut!" bocah itu merengek nyaring. lengan mungilnya melingkar erat pada leher jenjang youngjae
"papa harus menemani daehyun hyung dulu, kau ingat kan? dia masih tidur dan tidak ada yang menjaganya. bukankah leon sayang pada daehyun hyung?" youngjae memandang mata bulat leon. terdapat kebimbangan disana.
"kalau begitu papa bangunkan daehyun hyung dan ajak dia ke indonesia" suara serak leon mengiris hati youngjae. bocah ceria ini tidak pernah sekalipun menangis hingga seperti ini.
"ingat kata-kata mama? leon harus jadi anak baik dan turuti ucapan papa. leon tidak ingin diatas sana mama bersedih kan?" sekuat tenaga youngjae manahan buncahan kepedihan dihatinya.
hatinya masih merengek tak menerima bahwa ilas sudah berpulang pada sang pencipta. kecelakan hebat kemarin malam merenggut paksa roh ilas meninggalkan tubuhnya. menimbulkan kepedihan mendalam pada orang-orang yang menyayangi ilas.
belum lagi keadaan kritis daehyun yang ikut serta menjadi korban kecelakan beruntun tersebut.
jika ingin egois, youngjae bisa saja meninggalkan daehyun. tapi hati kecilnya mengatakan ia tak pantas melakukan itu. daehyun sendirian. ia sudah mencoba menghubungi keluarga daehyun. namun hingga saat ini belum ada kelurga daehyun yang berkunjung.
hari ini adalah saat dimana ilas akan di bawa pulang ke indonesia dan akan di kebumikan disana. leon masih merengek agar youngjae ikut bersama denganya. sebenarnya pria bermarga yoo itu juga tidak tega membiark leon pergi sendirian, tapi daehyun disini juga membutuhkannya.
"begini saja, nanti saat keluarga daehyun hyung sudah kesini, papa janji akan segera menjemput leon di rumah nenek " leon melepas pelukan youngjae, ia mengangguk kaku.
"papa harus janji. jaga daehyun hyung baik-baik. aku menunggu papa" leon mengecup lembut kedua pipi youngjae. ia melambai kecil sebelum memasuki mobil besar milik keluarga ilas.
"lupakan janji mu itu. mulai sekarang hak asuk leon ada ditangan kami" ujar pria paruh baya itu datar. youngjae terpernjat. ia berlari hendak mencekal pria tua itu, namun tubuh kecil nya dicekal oleh dua pria berbaju formal. menahannya untuk mengambil leon-nya
"brengsek! apa maksud anda! leon! leon-a! keluar! septian brengsek! kembalikan anak ku!" youngjae meraung frustasi. ia tak mengira tua bangka itu mengingkari janji nya. padahal semalam mereka bersepakat akan mengembalikan leon setelah acara pemakaman ilas.
namun raungan youngjae hanya dijawab hembusan angin. lagi-lagi hatinya hancur, hancur oleh kebodohannya sendiri.
"lagi-lagi Kau mengambil semua nya.. tidak cukupkah Kau mengambil orang tua ku?" rintih youngjae dalam hati
haruskah orang yang ia sayangi direnggut dengan cara yang sama? orang tua nya.. ilas, dan sekarang leon?
kenapa takdir harus setega ini pada youngjae?
Reach You
pintu putih ruangan beraroma khas rumah sakit terkuak pelan. menampilkan sosok youngjae yang kalut. ia mendekati ranjang berisikan tubuh lemah daehyun. youngjae menggenggam tangan kiri daehyun yang bebas dari gips namun tersulut sebuah infus. wajah tampan itu nampak pucat. luka-luka kecil menggores kulit mulus nya. sebuah mask masih bertengger menutupi mulut dan hidung daehyun. membantu ia bernafas dengan benar.
"cepatlah bangun dae..." lirih youngjae. mungkin yuongjae harus bersyukur karena daehyun sudah melewati masa kritisnya. kabar yang didapatnya beberapa menit lalu membuat youngjae menghembuskan nafas lega. setidaknya ia sudah bisa menggenggam tangan lebar daehyun. youngjae merasa dejavu. dulu ia juga pernah mengalami hal yang sama. ketika ayahnya pergi liburan dengan sang ibu namun diperjalan pulang ayah dan ibunya mengalami kecelakaan beruntun. sang ayah tewas di tempat sementara ibunya harus dirawat intensif selama beberapa hari sebelum akhirnya menyusul sang ayah.
dalam diam nya youngjae tak henti mendo'akan keselamatan daehyun. mendo'akan keselamatan pria yang sudah menyita hatinya.
tiba-tiba salah satu daun pintu ruang inap terbuka kasar. wanita cantik sedikit dengan surai disanggul anggun berjalan cepat menghampiri tubuh lemah daehyun. jari lentiknya bergerak mengusap lembut sisi wajah daehyun. isakan kecil lolos dari bibir tipis nya.
perlahan, youngjae undur diri memberikan waktu pada wanita cantik tersebut. dari apa yang ia lihat. youngjae yakin wanita itu adalah ibu dari daehyun. karena mereka pernah bertemu secara tak sengaja saat penerimaan siswa baru.
.
.
.
.
"minum dulu bi" ujar youngjae. ia menyerahkan coffee hangat pada wanita cantik tersebut. kedua matanya nampak memerah dengan kantuk mata terlihat bengkak
"terima kasih"
"siapa namamu?" youngjae menoleh, ia tersenyum tipis "yoo youngjae, saya wali kelas daehyun"
"ah. jadi kau" gumam wanita tersebut.
"maaf?" dahi youngjae mengeryit tak mengerti.
"aku dengar istri mu tidak bisa diselamat kan? aku mewakili keluarga Jung turut berduka cita" genggaman hangat youngjae rasakan di punggung tangan kanannya. ia hanya mengangguk pelan. ingin menjawab tapi takut suaranya terdengar serak menahan sesak.
keheningan menjebak youngjae serta ibu daehyun. hanyut dalam fikiran masing-masing
"youngjae-ah.. aku titip daehyun ne. ada hal yang harus aku kerjakan" nyonya jung berdiri dari duduknya. membenahi baju nya yang kusut.
"tapi... apa anda tidak ingin menunggu daehyun siuman? atau sekedar menemani nya" youngjae ikut berdiri. dahinya mengkerut tak suka. bukannya youngjae tidak ingin menemani daehyun. tapi apa pantas seorang ibu pergi begitu saja melihat putra nya baru saja melewati masa kritis?
terlebih penampilan wanita didepannya ini terlihat seperti wanita karir. jangan bilang ia meninggalkan daehyun hanya untuk setumpuk pekerjaan di kantornya?
"aku yakin dia akan segera bangun. aku hanya ingin mengembalikan apa yang seharusnya ada pada tempatnya" penjelasan singkat nyonya jung menimbulkan rautsan cabang pertanyaan dibenak youngjae. belum sempat ia menanyakan apa yang ia fikirkan, wanita itu sudah melenggang pergi meninggalkan youngjae dalam kebingungan mendalam.
"apa-apaan..." desah youngjae tak habis fikir. ia memilih mendekati ranjang daehyun dan menatapi wajah pucat pujaan hatinya.
"cepatlah bangun jung daehyun..."
Reach You
jari berbalut kulit tan bergerak pelan. menunjukan tanda-tanda kehidupan yang hendak bangkit dari fase hibernasi. kelopak pucat itu tak ingin kalah dari jemari yang tadi bergerak memicu ratusan syaraf berkerja dengan semestinya. dahi sang pasien yang terbaring lemah mengeryit saat merasakan sinar bohlam besar ruangan serba putih itu berburu masuk memenuhi retina matanya.
sunyi
itulah yang pertama kali di rasakan oleh pria berstatus pasien disana. iris hitam itu mengedarkan pandangannya. menyusuri ruangan serba putih tersebut yang diisi satu set sofa mahal berwarna biru. dipojok ruangan terdapar lemari mungil ditemani kulkas satu pintu. disisi kanan ruangan terdapat pintu coklat. sementara tepat beberapa meter dari ranjang pasien ada dua daun pintu bercat putih dengan kaca buram di tengah masing-masing pintu.
saat asik memandangi pintu setengah kaca itu, salah satu daun pintu terbuka pelan menampilkan pria manis mengenakan sweater merah marun pas body, tangan kirinya menenteng sekantong plastik dan tersampir coat panjang.
hazel indah si pria manis membola takjub ketika sepasang mata elang pasien di ranjang sana menatap nya heran
"daehyun-a! " ia menjerit tertahan dan sedikit tergopoh mendekati si pasien bernama daehyun.
"sejak kapan kau siuman?!" ia bertanya tak sabar. daehyun sendiri sangat ingin menjawab. namun tenggorokannya sulit diajak kompromi. mungkin tenggorokan miliknya sedang merajuk minta dialiri seteguk air.
pria manis itu seakan mengerti apa yang dibutuhkan daehyun. ia meraih segelas air di atas nakas. memberikan nya pada daehyun menggunakan sendik kecil. hati daehyun tentu saja begitu senang mendapat perhatian sedemikian rupa dari gurunya. ya, pria manis bersweater merah itu adalah wali kelasnya yang ia cintai.
"apa perlu aku panggilkan dokter?" youngjae bertanya pada daehyun, namun belum sempat objek yang ia tanya memberikan suara, youngjae terlanjur menekan tombol merah yang tergantung di kepala ranjang.
"tunggu sebentar ne, biar dokter memeriksa keadaan mu dulu"
Reach You
sesi periksa memeriksa sudah berakhir beberapa menit lalu, bahkan treagedi mengenaskan dua pekan lalu sudah youngjae ceritakan pada murid kesayangannya itu. murid pintar dan mudah bersosialisasi namun selalu memasang tembok tinggi untuk membatasi kedekatan mereka berdua. dia terlalu dingin jika berhadapan dengan youngjae.
"jadi...? istri saem..." pertanyaan daehyun menggantung di udara
"uhm. kau benar, istri ku telah berpulang. satu pekan lalu baru saja dibawa ke negara kelahirannya"papar youngjae sedikit serak
daehyun hanya bisa membisu, ingin rasanya ia mengatakan kalimat menenangkan untuk gurunya. namun ia kesulitan merangkai kata. mendadak otaknya tidak bisa di gunakan.
mengikuti naluri, tangan kiri daehyun yang tidak di gips mengusap punggung tangan youngjae. berusaha menyalurkan sedikit kekuatan.
"kau tenang saja, aku yakin ilas sudah tenang disana. maafkan ilas hm.. andai saja dia tidak memaksa mengantar mu, kau pasti baik-baik saja" youngjae berucap lirih
"tapi jika aku tidak bersamanya, aku tidak mungkin mengetahui tentang kalian yang sebenarnya" daehyun menerawang jauh. mengingat cerita panjang terakhir yang dipaparkan gadis bernama ilas.
"maksud mu?" dahi mulus youngjae mengeryit bingung.
"youngjae-ah" panggil daehyun tak sopan. dan itu berakibat pada degup jantung youngjae yang berdetak menggila seakan bisa meledak dalam hitungan detik
"aku tau, tidak sepantasnya berbicara seperti ini bahkan ketika makam mendiang istrimu masih basah. tapi yang perlu kau tau adalah. aku sangat mencintai mu. ku mohon jangan salah artikan sikap dingin ku pada mu jae. aku hanya berusaha membatasi diriku agar tidak merebut mu dari ilas noona dan menghancurkan keluarga kecil kalian" iris elang daehyun memerangkap keindahan hazel youngjae dalam belenggunya. membuat youngjae tidak bisa tenggelam dalam iris sekelam malam itu.
jangan lupakan dentum jantung mereka berdua yang bergemuruh riuh.
sebelum kecelakan na'as itu terjadi, daehyun menangkap berita besar yang tidak pernah terlintas difikirannya. wanita bipolar itu menceritakan setiap kisah hidupnya yang pahit namun memiliki sahabat sebaik youngjae. pria manis itu jugalah yang rela menjadi tameng hitam untuk menutupi kelakuan bejat kekasih tak bertanggung jawab ilas.
kisah hidupnya nyaris seperti drama yang kerap kali di tonton ibu daehyun.
kekasih ilas menitipkan sperma pada ilas dan tumbuhlah segumpal daging yang berkembang menjadi makhluk setampan leon. orang tua ilas marah tentu saja. mereka bahkan meminta ilas untuk mengugurkan calon cucu mereka. namun ilas bersikeras mempertahankan anaknya. sepasang manusia berstatus orang tua itu akhirnya menuruti kemauan ilas dengan syarat ia harus memiliki pria yang mau menikahinya. dalam waktu dua hari.
dan selanjutnya, seperti yang kalian tebak. youngjae dengan baik hatinya menawarkan diri menjadi suami si wanita bipolar. ia merelakan kebebasannya demi menjaga sang sahabat serta calon anaknya.
masih segar dalam ingatan daehyun ketika ilas menekan setiap kata bahwa antar dirinya dan youngjae tak pernah terbesit sitetes cinta. -mungkin.
daehyun tersenyum sekilas mengingat kenangan singkat nya dengan ilas "apa aku harus memanggil dokter lagi?" youngjae bertanya khawatir.
"apa?" sebelah alis tebal daehyun terangkat. gagal paham dengan suku pertanyaan youngjae
"mungkin saja dokter terlalu erat merekatkan syaraf senyum mu. dari tadi kau tidak berhenti tersenyum. dan itu mengganggu ku bocah" -' lebih tepatnya membuat ku kembali jatuh cinta pada bocah ingusan ini! oh ilas! maaf kan suami tak tau diri mu ini'- youngjae hendak berdiri guna menekan tombol merah diatas ranjang daehyun. namun ia mengehentikan gerakan nya mendengar kekehan ringan daehyun. ia segera memejamkan matanya. merapalkan ratusan kalimat agar tidak terpesona oleh tawa pelan daehyun.
"youngjae-a kau pernah melihat ilas noona telanjang?" setelah menghentikan kekehannya, daehyun melontarkan pertanyaan vulgar.
"tentu saja. sangat sering- hei! kenapa kau menanyakan hal privasi seperti itu?"
"dan kau tidak terangsang melihat tubuhnya? kau jahat sekali jae. kau membuat ilas noona merasa aura cantiknya tak mempan untuk mu" daehyun tertawa senang melihat wajah kesal youngjae
"hubungan suami istri rasa sahabat kalian membuat ku cemburu. tapi itu terjadi sebelum aku tau kebenarannya. aku berhutang banyak pada istri mu itu... dan sayangnya dia pergi sebelum aku sempat mengatakan terima kasih" tutur daehyun lirih. ia tersenyum sedih menyadari bahwa calon rivalnya pergi begitu saja.
yah, ilas memang menaruh sedikit rasa pada youngjae karena kebaikan pria manis tersebut. wanita mana yang tidak luluh akan kelembutan hati pria manis ini?
"aku yakin, diatas sana dia mendengar apa yang kita bicarakan." youngjae tersenyum meneduhkan.
"ah iya, leon. kapan dia kembali ke korea? " daehyun baru ingat bocah menggemaskan itu masih berada di indonesia. daehyun tau dari kronologi yang youngjae paparkan mengenai prosesi pemakaman istri nya yang dilaksanakan di negeri asal ilas.
"aku akan segera membawa nya pulang" ujar youngjae pelan
daehyun memandang youngjae tak suka. ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan guru manisnya "jangan bilang, mereka menahan leon dan akan meminta hak asuh nya?"
youngjae tersenyum tipis -senyum menyedihkan- "tepat sekali"
"youngjae-a, apa ponsel ku terselamatkan?" daehyun bertanya jauh sekali dari pembahasan berat barusan. meski youngjae sedikit kecewa karena daehyun terlihat tak begitu peduli dengan keadaan leon, ia hanya menyodorkan benda pipih yang tersimpan di dalam laci.
"ibu mu membelikan yang baru, beliau baru saja pulang. aku belum mengabari beliau karena takut mengganggu istirahatnya. dia seharian menjaga mu disini" jelas youngjae tanpa diminta.
daehyun hanya tersenyum tipis dan mengangguk. ia tak menyangka setelah kejadian pengusirannya setahun lalu ibunya yang baik hati itu masih begitu perhatian padanya.
ceritanya klise seperti kisah hidup ilas. bedanya, daehyun diusir karena tidak mau meneruskan perusahaan ayahnya itu. daehyun terlalu malas berhadapan dengan tumpukan dokumen. ia lebih suka bernyanyi dari cafe ke cafe.
jari kaku daehyun mendial nomor satu. menghubungi orang penting yang sudah dipastikan bisa membantu dirinya membawa kembali leon. bocah tampan kesukaannya.
"aku mau meneruskan perusahaan ayah, dengan syarat. bawa pulang leon ke korea. " setelah berkata demikian, daehyun memutuskan sambungan secara sepihak. ia tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang siapa itu leon. karena daehyun yakin ayahnya itu selalu memonitor kehidupan si bungsu.
tidak sekali dua kali daehyun mendapati pengawal sang ayah berkeliaran di sekitarnya. dan sudah bisa dipastikan tuan besar jung tahu perihal siapa itu leon ataupun youngjae.
mungkin daehyun harus bersyukur untuk satu hal ini. ayah nya tidak terlalu ambil pusing masalah orientasi seksual nya. bisa dibilang pria gila kerja itu sedikit masa bodoh perihal jodoh yang akan dibawa si bungsu nya.
"kau... apa ya- "
.
"PAPA!"
***TBC***
***Mind to Review?***
***^V^***
Makasih yang udah R&R di chapter lalu ^^. meski di next, kayaknya tiap part gak bisa panjang-panjang TT
apa dichapter ini masih gak jelas status youngjae ilas yang sebenernya? atau gimana perasaan masing-masing cast?
maaf ya kalo chapter kemaren masih ngebingungin (dan sekarang pun masih sama TT). tadi nya kefikiran mau di hapus terus kapan-kapan di publish ulang kalo udah di benerin. ada saran?
aku sadar kok tulisan nya makin kacau ^x^' feel nya gak ada pula. hihi tapi masih aja maksain nulis. cerita ini gak bakalan panjang-panjang kok. maaf juga alur ceritanya berantakan dan masih pake ide itu-itu aja.
mmm.. omong kosong nya kepanjangan ya? haha sorry^^'
see you next chap^^
hope you enjoy
