I'm Still Your Tink?
Ino merasa tingkah Shikamaru kian hari kian menyakitinya. Sifatnya yang semakin cuek, ia yang selalu mengabaikannya, Shikamaru bahkan mengacuhkan Ino ketika gadis itu menanyakan seberapa penting dirinya bagi pemuda itu. Ino berpikir ulang, masih kah dirinya mempunyai tempat di hati pemuda yang dicintainya itu?
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Story by Lazynit Kajitani
Teenagers, Hurt/comfort, Romance.
Sequel from "You're My Tink!"
AU, OOC, Bad EyD, Threeshoot, Don't like don't flame!
.
.
BRUKK!
Sasuke dan Ino langsung menoleh ke belakang saat terdengar suara pintu dibanting. Ino membelalakkan matanya saat diketahui kalau yang datang adalah ...
"S-shikamaru?" Ino menatapnya dengan pandangan khawatir. Masalahnya tatapan kekasihnya itu benar-benar sangat menakutkan. Ia khawatir kalau-kalau Shikamaru akan berbuat kasar pada Sasuke yang ada di sebelahnya karena salah paham. Ia tak mau Shikamaru melukai siapa pun.
Sementara Sasuke menatap datar Shikamaru yang berada di pintu menatapnya dengan tatapan penuh marah. Pemuda itu tahu kalau sang Nara muda pasti marah melihatnya berduaan dengan kekasihnya. Jadi, ia hanya diam menunggu untuk Shikamaru bicara.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" Shikamaru berucap dengan suara dingin.
Ino berjalan menghampiri Shikamaru dengan blazer Sasuke yang masih tersampir pada pundaknya, menatap Shikamaru dengan pandangan memohon agar tidak melakukan sesuatu yang dapat membuat keributan. Sementara Shikamaru masih bergeming, menatap Sasuke dengan pandangan membunuh.
"Shikamaru ... aku—"
"Diam!" bentak sang Nara. Membuat Ino kembali mengatupkan bibirnya lagi. Nara muda itu tersenyum sinis pada Sasuke. "Apa yang kau lakukan, Sasuke? Mencoba merebut milikku?" tanyanya dengan nada sarkartis.
Sasuke hanya tersenyum simpul mendengarnya. "Kalau kau melepaskannya, akan kuambil dia." Jawabnya santai.
Shikamaru mendengus keras. "Jangan harap." Ucapnya tajam. "Lagipula ... apa kau masih menginginkannya?" tanya Shikamaru sambil menunjuk Ino dengan dagunya. "ah, tidak. Maksudku, kau masih menginginkan gadis yang serupa dengannya?"
Uchiha bungsu itu menatap Shikamaru dengan tajam. Iris onyx-nya mengilat marah. Sial, Nara satu ini benar-benar membuatnya geram. "Berhenti omong kosong, Shikamaru." Ucap Sasuke datar, mencoba menutupi segala emosi yang meletup di dalam dadanya.
Sang Nara mengabaikan ucapan Sasuke. Kemudian ia menatap sang gadis yang sejak tadi hanya menunduk takut. Ia mengangkat dagu Ino dengan tangannya agar gadis Yamanaka itu menatap wajahnya. "Sudah kubilang berapa kali, Tink? Jangan pernah dekati lelaki lain!" ucapnya pelan, namun tandas.
Ino hanya mengerjapkan aquamarine-nya yang sejak tadi sudah berkaca-kaca, membuat setetes airmata turun dari kelopak matanya. Gadis itu menepis tangan Shikamaru dari dagunya dengan kasar. "Aku bukan Tink-mu!" teriak Ino kencang. Airmatanya menetes kian deras. "Berhenti mengekangku, Tuan Nara! Aku muak padamu!"
Shikamaru membelalakan matanya, apa-apaan ini? Kenapa Tink-nya menjadi seperti ini? Pemuda berambut nanas itu menatap aquamarine Ino yang menatap obsidiannya lelah. Manik mata kesukaannya itu meredup, tak ada lagi sinar yang memancar dari bola mata itu.
"hey, ada apa denganmu? Kenapa kau berubah secepat ini?!" bentak Shikamaru kesal.
Ino tertawa sinis mendengar ucapan kekasihnya. "Sebegitu sibuk kah kamu sampai tidak menyadari perubahanku? Apa bermesraan dengan mantanmu itu sudah membuatmu lupa akan kehadiranku, hah?!" Ino kemudian jatuh terduduk. Gadis itu memegangi dadanya yang terasa sakit. Ia sangat lelah sekali menangis, namun lelaki di hadapannya ini tak hentinya membuat airmatanya terus terjatuh. Apa cinta harus begini? Menangis dan terus merasakan sakit?
"Apa maksudmu?"
"Kau tanya maksudku? Kau tak sadar dengan yang kau lakukan? Apa seorang player sepertimu selalu bertindak seperti ini jika kau sudah bosan dengan mainanmu?! Begitukah?!" Ino mendongakkan kepalanya, menatap wajah marah kekasihnya dengan tajam. Ia sudah muak terus diperlakukan begini.
Rahang Shikamaru mengeras. Telapak tangannya mengepal menahan marah. obsidiannya menatap penampilan sang Tink yang terlihat berantakan. "Lalu ... apa maumu?" suara Shikamaru memelan, mencoba memahami sang gadis. Namun sepertinya gadis bersurai pirang itu sudah tak punya sedikit pun respect terhadap Shikamaru.
Hening kemudian. Sasuke yang sedari tadi jadi tokoh pasif di antara keduanya hanya bisa menghela napas berulang kali. Tak seharusnya ia ikut campur dalam masalah hubungan pasangan kekasih ini, tapi tiba-tiba pergi juga bukan tindakan yang bijak. Jadi, ia hanya bisa diam menonton tanpa melakukan apa pun yang berarti.
Ino menundukkan kepalanya lagi. Dengan gemetar, ia melepas cincin bertahtakan berlian berwarna ungu pemberian Shikamaru dari jari manisnya. Gadis itu kembali mendongakkan kepalanya, menatap sang kekasih dengan pandangan sendu. Perlahan, Ino bangkit dari duduknya. Gadis itu berdiri berhadapan dengan Shikamaru. "Aku sudah tidak bisa berada di sampingmu lagi," kata Ino lirih.
Shikamaru memandang gadisnya dengan bingung. "Apa?"
"Jangan panggil aku Tink lagi. Aku ... ingin kau pergi dari hidupku." Ino meraih tangan Shikamaru dengan pelan, membuka kepalan tangan pemuda itu dan meletakkan cincin pemberiannya di telapak tangannya yang terbuka. "aku tidak bisa seperti ini terus menerus. Aku selalu menangis ketika berada di sampingmu. Kumohon, pergi lah!" kepalanya ditundukkan lagi. Ia tak kuat menatap obsidian Shikamaru yang terlihat kecewa menohok aquamarine-nya. Membuat dirinya makin sakit.
"Tink!" Shikamaru menggeram marah sambil menggenggam erat cincin yang ada di telapak tangannya.
"Pergi, Shikamaru! Pergi ...!" Jerit Ino kencang. Airmatanya kembali meleleh dan mengaliri pipi putihnya. Ino tak tahu ternyata melepas Shikamaru rasanya lebih menyakitkan. Rasanya lebih sakit daripada dikuliti oleh silet. Lebih nyeri daripada ditusuk dengan samurai yang tajam.
Shikamaru mengangguk pelan pada akhirnya. Pemuda Nara itu hanya tersenyum sinis pada Ino yang kini menjadi mantan gadisnya. Setelahnya, ia membalikkan badannya dan beranjak pergi dari sana.
Nona Yamanaka itu menatap punggung Shikamaru dengan sedih. Ia kembali memukul-mukul dadanya untuk meredam rasa sakit yang dideritanya. Airmatanya juga terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Isakan demi isakan terus terdengar dari bibir mungilnya yang bergetar. Rasanya sakit sekali, rasanya sangat sakit!
Sementara Sasuke hanya menatapi pemandangan menyedihkan itu dengan datar. Uchiha muda itu merasa ini seperti deja vu. Kejadian ini benar-benar menghantarkan Sasuke untuk kembali mem-flashback kenangan pahit itu. Kejadiannya benar-benar seperti ini. Yaaa ... sangat persis seperti ini...
OOooOO
Bel pulang sekolah sudah berdering, namun di tempatnya Ino masih tetap bergeming. Aquamarine-nya menatap kosong lantai putih ruang kesehatan yang menjadi pijakannya. Menghela napas berat, Nona Yamanaka itu tetap enggan beranjak dari tempatnya duduk dan pulang ke rumah. Ah, bukannya tidak mau, gadis itu hanya tidak sanggup berjalan sekarang. Seluruh tubuhnya serasa mati rasa, sama seperti hatinya.
Sasuke yang sejak pertengkaran hebat tadi masih tetap di samping Ino, terdiam tanpa melisankan satu kata pun. Ia sendiri punya permasalahan sendiri yang kini berkecamuk dalam otaknya. Sehingga Uchiha berambut raven itu enggan melontarkan beberapa kata untuk menghibur Ino saat ini.
"Pig! Apa kau baik-baik saja?" tiba-tiba Sakura menyeruak masuk dan terkejut melihat keadaan sahabat karibnya yang sangat berantakan, terlebih ada Uchiha Sasuke di sebelahnya. Gadis bersurai merah muda itu bingung kenapa ada Sasuke di sini, ia sangat yakin kalau sahabat blonde-nya ini tak kenal dekat dengan sang ketua OSIS. "Sebenarnya ada apa?" tanya gadis Haruno itu bingung.
Ino mendongakkan kepalanya pelan dan menatap sahabatnya dengan pandangan kosong. Sakura sendiri ngeri melihat penampilan sahabatnya yang sangat perfeksionis itu berubah menjadi carut-marut begitu.
"Kau kenapa, Pig? Kenapa matamu bengkak sekali? Ah, kau juga sangat pucat! Kudengar dari Tenten katanya kau disuruh ke ruang kesehatan oleh Asuma-sensei karena keadaanmu yang sangat berantakan ini? Hey, Pig! Apakah kau sakit? Jawab aku, Pig!" cerocos Sakura panjang lebar. Gadis itu sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya.
"Berisik!" gerutu Sasuke kesal. Pemuda itu menatap si pinkish dengan risih, membuat yang ditatap hanya bisa meringis pelan.
"Aku ... tak apa, Sakura-chan," kata Ino lirih. Ia tersenyum kecil pada sahabatnya yang menatap dirinya dengan pandangan khawatir. Lalu, ia mengalihkan atensinya pada pemuda yang berada di sebelahnya. "terima kasih, Uchiha-san. Kau mau menemaniku di sini. Maaf kalau kau harus ikut campur ke dalam masalahku,"
Sasuke mengangguk pelan. "Tak masalah." Ia menghela napas berat. "kau pulanglah. Jika kau terus berada di sini kurasa kau akan mati." Ucap Sasuke sambil tersenyum. Tangannya ia ulurkan untuk mengusap pelan surai pirang gadis di sebelahnya. Ia menegakkan tubuhnya, berdiri dari posisi duduknya dan pamit pada kedua sahabat karib itu.
Ino mengangguk tanpa menoleh pada Sasuke yang sudah berjalan keluar ruangan. Sementara Sakura kembali dikejutkan dengan kelakuan Sasuke pada Ino. Setelah dirasanya Sasuke sudah cukup jauh dari ruangan ini, Sakura berseru kencang sambil menatap Ino dengan mata terbelalak. "Hey, Pig! Apa kalian ada hubungan khusus?! Kenapa si Ketua OSIS bersikap begitu padamu?!"
Ino menghela napas mendengar ucapan sahabatnya. Ia beranjak dari tempatnya, berdiri dengan lemah sambil meraih tas gendong ungunya. "Antarkan aku pulang ya, Forehead." Kata Ino pelan. Gadis itu berjalan keluar dengan langkah gontai mendahului Sakura.
Sakura mendengus melihat sahabatnya yang bertingkah seenaknya. Ia buru-buru berjalan menghampiri si pirang yang jalannya seperti zombie. "Aku antarkan kau pulang, tapi sebagai bayarannya kau harus ceritakan padaku kenapa kau jadi seperti mayat hidup begini!" ucapnya sambil merangkul pundak sahabatnya.
Ino hanya mengangguk pelan pada sahabat pinkish-nya. Sepertinya ia perlu mencurahkan seluruh permasalahan ini pada seseorang.
"Hey, Shikamaru!"
Pemuda yang dipanggil namanya menoleh ke belakang dan menemukan Sabaku no Temari yang berlari ke arahnya. Senior bersurai pirang yang dikuncir empat itu tersenyum melihat wajah sang mantan kekasih yang berwajah suram. Pasti dia bertengkar dengan kekasihnya, pikir gadis itu.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Bertengkar dengan Tink-mu lagi, eh?" gadis itu menyenggol pelan lengan Shikamaru, yang dibalas dengan gerutuan kesal dari sang pemuda.
"Mendokusai,"
Temari menghela napas saat trademark andalan pemuda itu dilontarkan. Gadis itu menepuk-nepuk punggung Shikamaru, mencoba memberi semangat. "Shikamaru yang seorang player tidak seperti ini, kan? Pasti cukup mudah untukmu mengendalikannya. Iya, kan?" gadis itu terkekeh pelan saat melontarkan kalimat itu. "bahkan kau bisa dengan mudah mengendalikanku. Sial, aku tak tahu kenapa bisa terjebak oleh player sepertimu, Baka!" gerutu Temari sambil nyengir saat dilihatnya Shikamaru hanya menatap malas ke arahnya.
Pemuda itu menyenderkan tubuhnya ke dinding kelas, helaan napas berat terdengar saat ia mendongakkan kepalanya guna menatap langit kelabu di atas sana. "Mengendalikannya sangat sulit. Di saat aku sudah bisa mendapatkannya, aku malah tidak bisa mempertahankannya," ucap Shikamaru dengan suara pelan.
"Hm? Kau putus dengannya?" tanya Temari dengan alis yang tertaut, tanda ia bingung.
"Irisnya kelabu, tidak lagi biru. Aku melihat matanya saat itu, dan ia terlihat sangat terluka. Seperti warna langit itu," Shikamaru menatap awan gelap itu dengan pandangan datar, tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari sana. "Apa ... aku sejahat itu?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Gadis Sabaku itu ikut menyenderkan tubuhnya di dinding kelas, sedikit berjarak dari tempat sang mantan kekasih. Menghela napas pendek, ia tersenyum sambil memandangi wajah datar pemuda di sebelahnya. Lalu, iris jade-nya ia alihkan pada langit yang gelap, ikut menatap apa yang sejak tadi pemuda Nara itu tatap. "Apa kau baru sadar kalau kau jahat?" celetuk Temari. Membuat sang pemuda yang bersangkutan menoleh ke arahnya. "Aku tidak bercanda mengatakan itu. Serius, kau memang jahat." Katanya sambil melempar senyum pada Shikamaru.
Shikamaru mengalihkan kembali arah netranya pada langit mendung itu. Temari tersenyum lagi, ia baru pertama kali melihat Shikamaru sehancur ini. Ketika ia putus dengannya, Shikamaru tak seberantakan ini. Kali ini ia melihat ada cinta yang cukup besar yang terpancar dari bola mata coklat Shikamaru untuk sang gadis Yamanaka, namun ia yakin kalau pemuda ini tidak menunjukkannya dengan tepat. Mungkin kekasihnya kesal dan memutuskannya. Iya, mungkin karena itu. Gadis bersurai pirang itu tak berpikir kalau penyebab hancurnya hubungan sang mantan kekasih adalah karena dirinya.
Shikamaru menegakkan tubuhnya. Menoleh pada Sabaku sulung itu dan beranjak pergi tanpa pamitan. Temari hanya tersenyum maklum melihatnya. Ia sudah paham benar dengan tingkah Nara muda tersebut.
Sambil menatap punggung Shikamaru yang mulai menjauh, Temari bergumam, "Kau benar-benar mencintainya ya, Shikamaru?"
...
"Jadi, kau putus dengan si Pemalas itu, Pig?" Sakura tak bisa tidak berseru kencang saat Ino menyudahi ceritanya. Gadis bermarga Haruno itu terkejut bukan main, ia benar-benar tak percaya kalau akhir dari kisah cinta pertama sahabatnya akan berakhir semengenaskan ini. Bukannya hiperbola atau apa, sebenarnya wajar saja sih kalau suatu hubungan kalau di terpa dengan masalah yang cukup pelik begini pasti akan hancur. Tapi, Sakura tak menyangka kalau Ino mau melepaskan Shikamaru. Begini, ya, Ino itu termasuk orang yang akan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya, tak peduli kalau ia harus babak belur sekali pun. Makanya, Sakura langsung kaget saat ia mendengar dari mulut sahabatnya kalau ia sudah memutuskan Shikamaru.
Ino sendiri hanya menyembunyikan wajahnya di bawah bantal, ia kembali menangis meratapi kisah cintanya yang berakhir seperti ini. Dan juga ia meratapi dirinya yang makin hancur saat ia harus melepas pemuda yang sangat dicintainya itu.
Sakura menatap sahabatnya yang tengah menangis sampai sesegukan. Ia tahu perasaan sahabatnya, saat memutuskan hubungannya dengan Naruto dulu, ia pun sama seperti Ino. Rasanya sangat sakit dan menyesal. Beruntung Naruto masih mau memperjuangkannya kembali saat itu, jadi sekarang dirinya bisa kembali lagi dengan pemuda rubah itu. Tapi ... kalau kasusnya Ino dengan Shikamaru begini, Sakura tak yakin kalau Shikamaru mau bertindak sama seperti yang dilakukan kekasihnya. Tentu saja tidak mungkin! Shikamaru tipikal lelaki yang cuek bahkan terhadap Ino sekali pun. Ia pun punya reputasi sebagai player di sekolahnya. Tentu saja putus dengan Ino, bukan masalah yang terlalu penting baginya. Pemuda Nara itu pasti dengan mudah mendapatkan pengganti Ino. Sakura menganggukkan kepalanya. Pasti Shikamaru akan berbuat begitu!
Sakura berdecak kesal melihat Ino yang terus menangis seperti itu. Ia tak menyalahkan Ino, tapi ia menyalahkan sikap Shikamaru yang begitu tega menyakiti hati gadis pirang itu. Ia sungguh tak tega melihatnya, namun ia tak bisa berbuat banyak.
"Ino-chan ... melepasnya mungkin sangat menyakitkan, apalagi jika kau sedang cinta-cintanya. Tapi, jika kau terus bertahan, apa kau yakin kau akan bahagia? Rasa sakitnya mungkin begitu menggerogotimu, tapi setiap kesedihan, pasti akan ada kebahagiaan setelahnya, bukan?" Sakura tersenyum saat melihat Ino menegakkan tubuhnya, menatap Sakura dengan mata basah. "satu yang kutahu, kalau memang Shikamaru adalah jodohmu, kalian pasti akan dipersatukan kembali oleh Kami-sama bagaimana pun caranya. Yang harus kau lakukan adalah ... kembali berjalan dan lupakan semua yang menyakitkan ini. Life must go on,"
Ino tersenyum mendengar kata-kata yang dilontarkan Sakura. Meski tak yakin kalau kesedihannya ini akan segera menguap, tapi ia percaya dengan ucapan Sakura. Kesedihannya pasti akan hilang, secara pelan-pelan ...
...
Memang, semuanya berjalan dengan baik secara perlahan. Meski kesedihan juga masih tetap terasa saat dirinya kembali teringat tentang hal itu. Tentang masa lalu pahit yang membuat hatinya mati rasa. Ia tak serta-merta mencari pengganti untuk menanggalkan luka lama, semuanya tak semudah itu. Butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa melepasnya secara ikhlas. Rasa sakit yang juga masih dirasanya, tak jua membuatnya patah semangat. Hatinya memang hancur, tapi hidupnya tak boleh hancur juga, kan?
Berulang kali netranya mengkhianati keinginan otaknya. Menatap sang pemuda walau hanya sebentar, mencoba menghilangkan rindu yang sudah menggebu. Memangnya ... jika tidak begitu, ia bisa apa? Di saat sang pemuda tak ada niat untuk memboyongnya kembali ke sisinya, harapan yang bersarang di sudut kecil hatinya sudah menguap entah ke mana. Mungkin pemuda itu sudah tak mencintainya lagi, ia selalu melisankan kata keramat itu saat harapan kecilnya tiba-tiba muncul. Ia tahu, ia tidak bisa terus seperti ini. Tapi apa boleh buat ... kadang hatinya tak bisa diajak kompromi. Otaknya memerintahkan untuk melupakannya, namun hatinya bertindak sebaliknya.
Dan ... pada saat hujan turun seperti ini, memori-memori itu datang tanpa bisa dicegah. Ia sangat mencintai hujan, namun pemuda yang sedang dipikirkannya membencinya. Ia sangat suka bermain hujan, tapi pemuda itu tidak menyukainya.
Haaaah. Ia menghela napas berat. Kalau begini, mungkin ia akan berbalik membenci hujan. Karenanya, ia terus-terusan menangis dan terus menangis. Hujan ... mungkin benar. Kalau tetesan-tetesan air yang jatuh dari langit itu adalah lambang kesedihan ...
...
Ajikdo ireon nal saenggakhanayo
Geudael himdeulge seulpege apeuge han nal
Chwihaetdaneun geu iyuro saenggageobsi jeonhwahan nainde*
...
Ia tak tahu kalau dengan akhir begini, gadis itu tak merasakan kesedihan lagi. Dari jauh, ia bisa melihat senyuman gadis itu mengembang dengan manisnya. Menatap diam-diam dari atas atap sudah menjadi kebiasaannya setelah mereka tak lagi bersama. Ia sangat merindukan ocehan berisik saat gadis itu menemaninya. Tingkah merepotkan dari sang gadis juga tak pelak membuatnya kesal. Namun, ia bersyukur ketika itu ia masih bisa merasakan intensitas sang gadis di dekatnya. Kini, ia merasakan kehilangan. Ia menyesal karena ketika gadis itu masih di sisinya, ia mengabaikannya. Dulu ia merasa kalau gadis itu sudah pasti akan terus di sampingnya, takkan pernah meninggalkannya. Tapi ... semua pemikiran entengnya itu malah jadi bumerang. Ia hancur di sini, ia menyesal karena telah membuat gadis itu pergi dari sisinya.
Di sudut kecil hatinya, ia mengharapkan yang tidak pantas untuk diharapkan. Ia berharap kalau gadisnya akan kembali ke dekapannya. Oh, tentu saja ia akan menerimanya dengan senang hati! Tapi ... itu tetap tidak mungkin, kan? Ia hanya berdiam diri di sini, tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Apa pantas ia mendapatkan kembali gadisnya?
Jawabannya ... tidak! Itu telak. Karena Tuhan berkata, setiap hambanya yang berusaha dan berdoa padanya dengan keras, hal itu mungkin akan menjadi nyata. Namun, apa ia melakukan sesuatu? Tidak, kan? Lantas ... apa yang diharapkannya?
Menemui mantan gadisnya dengan keadaan mabuk dan membuat gadis itu ketakutan bukanlah sesuatu yang bisa disebut sebagai usaha, kan?
Hey, Sayang. Apakah kau masih memikirkanku seperti aku yang selalu memikirkanmu? Apakah kau mengingatku ... mengingat tentang orang yang selalu membuatmu sedih dan terluka?
Apa ... masih ada namaku di hatimu yang penuh sayatan itu?
...
Enam bulan berlalu, dan ia masih hidup. Ya, tentu. Memangnya patah hati menyebabkan kematian? Ino tertawa saat ia teringat akan hal itu. Ia pikir, setelah lepas dari sang mantan, ia tak akan cukup kuat untuk hidup barang sebulan, ia akan mati bunuh diri karena derita patah hati, dan sekarang mungkin ia sudah tak ada. Tapi nyatanya, tak semengerikan itu. Ia hiperbola, tentu saja. Ia sekarang masih bernyawa, dan masih menikmati hidupnya walau terkadang perih bekas luka yang lalu masih terasa.
Kadang kala, harapan untuk bisa kembali pada sang pemuda datang. Pada saat itu pula, ia matikan lagi harapan itu. Jangan, jangan berharap lagi. Ia terus merapalkan kata-kata itu setiap saat, seperti mantra.
Tapi, apa yang terlihat tak selamanya sesuai dengan apa yang terjadi di dalam, kan? Ino mungkin saja kembali menjadi gadis periang, terlihat sudah move on dan kembali membuka hati. Padahal, semua itu hanya tameng. Tameng seorang Yamanaka Ino agar tetap terlihat baik-baik saja, yang sebenarnya di dalam sana masih remuk redam.
Tenanglah, Ino. Kau pasti sudah terbiasa, kan? Sudah sejauh ini, seharusnya kau bisa lepas darinya. Iya, kan?
How are you? Do you think of me from time to time?
In this long night, I close my eyes again
I think of you, I can't sleep, this is how I'm doing.**
Shikamaru tahu ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Melepas gadis yang begitu berharga, hanya karena keegoisannya semata.
Ia tahu, kenapa sikap sang gadis menjadi seperti itu. Itu salahnya. kebodohannya. Dan sekarang ia hanya bisa meratap, memangnya ia bisa apa?
Meminta sang gadis untuk kembali bersamanya? Hell, bahkan ia yakin kalau sang gadis sudah enggan melihatnya, atau mungkin sudah membencinya? Hahaha, kau bodoh, Shikamaru. Sangat bodoh! Ia bahkan sudah mulai dekat dengan bungsu Uchiha itu. Sudah bisa tersenyum dan tertawa bersama pemuda itu, lain halnya dengan dirimu yang hanya bisa membuatnya sedih dan menangis.
Dan ... di sinilah ia sekarang. Di atap rumahnya sambil terpejam. Merasakan dinginnya malam dalam kesedihan yang makin menyesakkan. Dengan secangkir cairan hitam berkafein, ia terjaga dari kemungkinan ia jatuh tertidur dan kembali bermimpi yang indah-indah dan pada saat terbangun nanti, ia akan menelan pil pahit kalau ia hanya bermimpi. Biar saja begini, terserang insomnia akut selama enam bulan, daripada kebanyakan bermimpi yang pada akhirnya membuatnya depresi dan gila.
Heh, kau memang benar-benar menyedihkan, shikamaru. Tidak pernah menyangka ya kalau kau bisa sedemikian stresnya karena kehilangan seorang gadis?
Beberapa saat kemudian, ia tiba-tiba membuka matanya perlahan. Menatap rumah yang berhadapan dengan kediamannya, yang semula terang benderang karena cahaya lampu dari tiap ruangan, kini gelap sempurna. Ah, dia sudah tidur rupanya. Baguslah, ia tak perlu merasa tersiksa seperti dirinya.
Hey, Tink. Hiduplah dengan baik. Maka aku akan merasa kau akan lebih baik dengan keadaan ini. Tak apa, aku sungguh tak apa.
Ya, Tink. Tersenyumlah dan tampakkan langit biru yang cerah itu lagi.
Ino tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Di hadapannya ada seseorang yang ia harapkan untuk tak pernah ia temui, apalagi sampai diajak bicara. Haah, sebenarnya alasannya memang sungguh kekanakan. Di hadapannya ini mantan dari mantan kekasihnya, seseorang yang membuat hubungannya dengan Shikamaru kandas, dan seseorang yang ... ugh! Ino sudah tidak bisa lagi mendeskripsikannya karena hal itu sama saja seperti membuka luka lama yang bahkan belum mengering sekali pun.
"Yamanaka-san, ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu."
Ya, Sabaku sulung itu yang mengajaknya kemari, ke taman belakang sekolah dan membuatnya harus berada di situasi yang benar-benar dibencinya. Ino tetap diam, menunggu seniornya itu untuk mengucapkan apa yang jadi masalah. Tapi gadis itu tak juga membuka suara. Haah, Ino jengah dibuatnya.
"Ada apa, Sabaku-san? Sebentar lagi bel masuk, aku tak mau kalau sampai terlambat masuk kelas dan diomeli oleh Anko-sensei," ia akhirnya membuka mulut. Tak betah berlama-lama dalam keheningan.
Sabaku no Temari mengangkat wajahnya, menampakkan wajah cantik yang terlihat dewasa. Ia tersenyum singkat, "Kembalilah pada si bodoh itu," katanya pelan. "kalian ini pasangan yang aneh, saling sayang tapi bertingkah seperti ini. Kekanakkan sekali," tambahnya lagi.
Ino tersentak mendengarnya. Apa katanya tadi? Kembali pada si bodoh itu? Tingkahnya kekanakan? Apa maksudnya itu? Apa ia tak tahu kalau hubungannya dan Shikamaru kandas karena dirinya? Oh astaga!
"Apa? Aku tak mengerti yang kau katakan," ucap Ino dingin.
Temari tertawa pelan. "Yamanaka, kau tak tahu kalau si bodoh itu urung-uringan semenjak putus denganmu. Ah, tidak. Ia berubah jadi kasar dan makin dingin. Itu aneh karena biasanya setelah ia putus dengan kekasihnya, ia akan dengan mudah mendapatkan penggantinya. Tapi sekarang, ia tak begitu. Jadi kusimpulkan ia benar-benar mencintaimu,"
"Kau yang tak tahu apa-apa!" Ino berteriak, ia marah karena gadis de depannya ini bertingkah sok tahu segalanya. "omong kosong. Berhenti ikut campur, Sabaku-san. Aku benar-benar tak ingin membahas masalah ini," ucapnya tajam. Ia melangkahkan kakinya, berniat meninggalkan Temari yang masih bingung karena sikap lawan bicaranya yang tiba-tiba berubah.
Temari menahan tangan Ino, meminta gadis itu untuk tidak pergi. "Aku tahu. Makanya aku berbicara seperti ini. Jangan keras kepala, Yamanaka. Dia mungkin tak tahu bagaimana cara memperlakukan perempuan dengan baik, tapi dari matanya ia benar-benar tulus mencintaimu. Maafkanlah dia dan kembali padanya."
Argggh benar-benar! Ino menatap tajam jade di hadapannya, dihentakkannya tangan gadis itu, "kubilang jangan sok tahu!" teriaknya lagi.
Temari meringis saat melihat lawan bicaranya ini sangat keras kepala. Ia menggelengkan kepalanya pelan, ia jadi merasakan bagaimana sulitnya Shikamaru menghadapi gadis di hadapannya ini. "Yamanaka, kau—"
"Diam! Apa kau benar-benar tahu apa sebenarnya yang jadi masalah kami berdua?!" Ino mendengus pelan sebelum ia melanjutkan kata-katanya. "Itu karena kau, Sabaku-san. Karena kau yang seenaknya saja berpelukan dengan si Bodoh itu!"
"A-apa?"
TBC.
Oh astaga kenapa tbc ini jadinya :" *nangesh*
Gomen teman-teman yang mungkin emang nungguin fic abal ini, 2 tahun nggak dilanjut, sekalinya dilanjut malah dibikin kayak gini. Pelis ini emang niatnya bikin twoshoot doang, ngapa malah jadi tbc lagi ya? *nangis kejer*
Sebenernya udah lama kelar sebagiannya, tapi berhubung lagi kena webe akut, jadi terabaikan deh. Mendadak amnesia sama yang namanya perfanfic-an /apa coba/ trus emang waktu itu kan posisinya emang nggak ada waktu juga buat pegang laptop *nangis lagi* nah berhubung sekarang lagi nganggur, jadinya dicoba lanjut walaupun pada akhirnya gagal bikin ending. *showeran*
Untuk beberapa lirik lagu yang keselip/?:
*Yong Junhyung ft BtoB (Men in Black) – After Time Passes
** Beast – Midnight
Oh iya, mungkin bacanya bisa sambil dengerin After time Passes-nya MIB. Karena feel sama liriknya cukup ngena juga. Wkwk /apaan/ ost Monstar yang galaunya setengah mampus kalo menurut nit kkkkk~
Okay, sampai bertemu di chapter selanjutnya ~ *ditimpuk*
Sign,
Lazynit Kajitani (still) The Sugar of CSIF.
