Ino menghela napas pelan, "Ada sebagian yang menyangka bahwa gadis itu operasi pelastik tapi aku berpikir mana mungkin? Kau tahukan Hinata adalah gadis dari keluarga sederhana jadi mana mungkin dia bisa melakukan operasi pelastik yang pembayarannya berjumlah uang gaji karyawan seperusahaan? Dan jikapun ia melacurkan diri untuk mendapatkan uang itu juga tidak mungkin, oh ayolah bentuk tubuh Hyuuga Hinata yang bulat dipenuhi timbunan lemak itu tidak akan laku bahkan untuk pria hidung belang sekalipun. Jadi kami tidak tahu apa yang sebenarnya Hyuuga Hinata lakukan pada tubuhnya itu." Hati Sakura mulai was-was, jujur saja Sakura masih tidak dapat mempercayai apa yang dilihatnya tadi pagi.

'Semoga itu hanya halusinasimu saja, ya sejauh ini tak ada kasus serius tentang pembunuhan atau apapun itu seperti permintaan Hinata kepada makhluk itukan?. Ya itu pasti hanya halusinasimu saja Hatake Sakura!' Iner Sakura berteriak meyakinkan Sakura dan Sakura yang mendengar panturan dari inernya itupun mengangguk membenarkan, walaupun...

Jujur saja hati kecilnya tak dapat dipungkiri merasa bahwa tadi pagi itu bukanlah halusinasi ataupun patamorgana.


Enjoy Reading

BAB 3


oOo—

Satu bulan sejak kejadian yang hampir membuatku gila itu, hari-hariku mulai berubah tak sama lagi seperti hari-hariku yang lalu. Sungguh aku begitu menyesal telah mengikuti Hinata masuk ke menara tinggi itu, aku selalu terbayang kedua manik merah yang menatapku tajam dan aku merasa disetiap saat gerak-gerikku seperti diawasi oleh seseorang.

Kini aku duduk termenung di kursiku, Ino ia tak masuk karena merawat Ibunya yang sedang sakit. Ayah Ino tengah sibuk di luar kota sehingga Ino khawatir jika meninggalkan Ibunya sendirian yang sedang sakit itu dirumahnya.

Ketika sedang sibuk dengan pikiranku tiba-tiba pintu kelas terbuka dan Asuma-sensei melangkah masuk ke kelas lalu mengumumkan sesuatu kepada kami dan sebuah berita mengejutkan datang dari Menma pemuda berandal yang selalu membuat onar dan tempo hari yang mengajak Hinata kencan itu tewas akibat kecelakaan dan Inazuka Kiba yang tewas akibat tenggelam, semua gempar dengan berita ini.

Awalnya aku kira kematian kedua pemuda itu wajar saja, ya karena pemuda bernama Menma itu sering sekali melakukan balap liar tak heran jika ia tewas dalam kecelakaan dan juga dengan pemuda bernama Kiba itu ia tewas karena tenggelampun itu wajar saja karena ia suka sekali berselancar, tapi saat Asuma-sensei menyampaikan berita ini di kelas tanpa sengaja aku melihat kearah Hinata yang tengah menyeringai tipis.

Deg!

Rasa takut itu kembali menjalari seluruh tubuhku, aku baru sadar dulu Menma adalah siswa yang selalu menganggu Hinata sedangkan Kiba ia adalah siswa yang pernah mempermalukan Hinata, dan belakangan ini entah mengapa mereka berdua selalu berusaha mendekati Hinata.

'Suke-kun buat aku semakin cantik dan buat semua pria yang pernah menganggu dan mempermalukanku bertekuk lutut padaku, lalu setelah itu buatlah mereka mati secara perlahan.'

Tiba-tiba aku teringat permintaan Hinata kepada mahluk yang kuyakini sebagai Vampire itu, ternyata desas-desus tentang Vampire dimenara itu memang benar adanya dan ternyata apa yang kulihat sebulan yang lalu adalah nyata, bukan halusinasi.

Baiklah aku percaya sekarang bahwa makhluk mitologi itu nyata dan aku bersumpah tidak akan pernah menginjakan kakiku lagi dimenara itu apapun yang terjadi. Mengingatnya saja membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak, tatapan mata mahluk itu selalu menghantuiku setiap saat.

.

.

.

Kini aku tengah berjalan santai di trotoar jalan menuju rumahku, waktu sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam. Dengan teliti kuhitung gajiku bulan ini dan aku bersyukur untuk bulan ini aku tak memakai uang gajiku sepeserpun, aku bersyukur karena aku masih ingat kata-kata wanita brengsek itu sebulan yang lalu jika aku tak memberikan uang gaji hasil kerja sampinganku ini seutuhnya.

'Jika kau mengurangi jatahku lagi maka jangan salahkan aku jika aku akan melemparmu ke tengah-tengah pria hidung belang!'

Cih! Dia pikir dia siapa? Aku tidak takut dengan ancamannya itu, hanya saja aku tidak ingin memperpanjang masalah. Syukurlah semua keperluanku bulan ini sudah terpenuhi jadi aku tidak perlu menggunakan sepeserpun uang gajiku dan aku akan langsung memberikan semua uang ini kepada wanita itu, finally... semuanya beres.

Tapi walaupun begitu aku tetap shock dengan kejadian tadi siang di sekolah, Vampire ternyata ada? nyata? Oh memikirkannya saja membuat seluruh tubuhku bergetar karena takut.

'Tenang saja Sakura walaupun Vampire itu nyata cukup kau diam dan Vampire itu tak akan mengganggumu asal kau tak menghampirinya!' Lagi-lagi aku tersenyum ketika mendengar iner-ku yang berusaha untuk menenangkanku.

SREK!

"KYAAAA! PENCURI!" Aku berteriak seraya mengejar orang yang berlari cepat di depanku. Karena terlalu sibuk dengan pikiranku, aku bahkan tak sadar seseorang telah merampas semua uang gajiku.

"KEMBALIKAN UANGKU!" Aku terus berteriak seraya berlari mengejar orang itu tapi naas orang itu berhasil lolos.

"Haah ... haah ... haah ... AAAA KUSO!" Aku berteriak frustasi di jalan yang sangat lenggang ini.

.

.

.

.

Dengan gontai aku memasuki rumah yang terdengar sangat bising ini, "Tadaima."

"Oh Okaeri Sakura-chan." ucap seseorang, bukan itu bukan suara Ibu tiriku melainkan kalau tidak salah bukankah itu suara pria berambut merah klimis yang dulu bersex ria disofa milikku? Entah mengapa perasaanku mendadak tidak enak.

Aku mengganti sepatuku lalu memakai uwabaki milikku, perlahan kulangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah dan APA INI? aku melihat Ibu tiriku itu tengah diserang oleh lima orang pria sekaligus.

"Kaa-san, siapa mereka?" tanyaku datar dan suaraku itu membuat mereka menghentikan aktivitasnya. Aku melihat wanita itu menghampiriku lalu menyeretku ke depan lima pria yang kini tengah menatapku bak singa yang tengah menatap lapar pada mangsanya.

"Nah Saki perkenalkan pria berambut orange ini adalah Pain, pria berambut putih itu Tobirama, lalu pria bertopeng itu Tobi, pria blonde itu bernama Deidara dan pria ini kau sudah kenalkan? yup dia adalah Nagato. Ayo kenalkan dirimu sayang!" ujar wanita itu dengan nada centil khasnya.

Aku menatap dingin lima pria dihadapanku ini, "Hatake Sakura." ujarku singkat, padat dan tak lupa dengan nada datar.

"Bolehkah aku menyerangnya sekarang Konan?" tanya pria berambut putih yang aku ketahui bernama Tobirama itu, aku menatap pria itu tak mengerti. Apa maksud pria itu?

"Eits! tidak sekarang Tobirama, kumohon kalian bersabarlah sebentar," ujar wanita itu seraya tersenyum manis, dan dapat aku lihat semua raut kecewa lima pria itu.

"Nah ... Saku-chan kau pasti bingungkan kenapa ada lima pria disini?" Aku hanya mengagguk pelan, kulihat wanita dihadapanku ini tersenyum sangat manis, "Untuk berjaga-jaga jika kau tidak memberikan seluruh gajimu, nah sekarang mana jatahku bulan ini sayang?" Aku menatap wanita itu tak percaya, jadi dia serius dengan perkataannya itu? Dan lima pria ini jangan bilang mereka adalah 'pria hidung belang' yang Ibu tiriku maksud.

GLEK!

Susah payah aku menelan ludahku sendiri, oh ayolah apa yang harus kulakukan sekarang? uangku tidak ada dan sehebat apapun ilmu karateku tetap saja aku tak bisa melawan lima pria dewasa sekaligus.

Aku menatap wanita dihadapanku ini ragu, "Emh ... Uang gajiku dicuri Kaa-san ...,"

"APA?! DASAR BODOH!"

PLAK!

"NAGATO, kuserahkan gadis mungilku yang manis ini padamu! terserah apa yang ingin kalian lakukan padanya! Oh ya kalian harus membayarku mahal karena dia masih gadis! aku pergi, dan kau Saki selamat bersenang-senang! Jaa ne." Setelah mengatakan hal itu, wanita itu pergi meninggalkanku yang mematung tak percaya.

.

.

.

"Gadis manis ayo kita bersenang-senang!" Nagato menghampiri tubuh Sakura yang terdiam kaku lalu membopongnya dan berjalan menuju kamar diikuti empat pria lainnya.

Sakura tersentak ketika dirinya diangkat, "Kyaaaa ... turunkan aku paman! Kumohon! Jangan!" Jerit Sakura seraya memukul punggung pria berambut merah klimis itu.

PLAK!

"Akhh!"

"Sttt ... diamlah manis!" ujar Nagato setelah menepuk pinggul Sakura tak lupa tangan nakal pria itu sedikit meremasnya dan itu membuat Sakura sedikit mengerang.

BRUK!

Setelah sampai di kamar Nagato melempar tubuh Sakura keatas ranjang hingga membuat rok seragam Sakura tersingkap keatas menampilkan sepasang paha mulus yang membuat lima pria itu semakin bergairah, lalu tanpa pikir panjang Nagato langsung menindih tubuh Sakura.

"Minggir dari tubuhku paman! MINGGIR!" Sakura terus berteriak dan memukul dada Nagato keras berusaha untuk menyingkirkan tubuh pria itu dari atas tubuhnya, namun semua itu sia-sia karena sudah hukum alam sekuat apapun tubuh seorang perempuan tidak akan melebihi kekuatan laki-laki.

"Tenanglah Saki nikmatilah apa yang akan kulakukan pada tubuhmu ini," ujar Nagato mulai menciumi leher Sakura buas.

"Kyaaa ... tidak! lepaskan aku BRENG-Akhhh!" Sakura menjerit kesakitan ketika ada sepasang lengan lain meremas kedua dadanya kasar.

Nagato menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menatap pria yang duduk di sampingnya itu tajam, "Apa yang kaulakukan Tobirama?"

Tobirama hanya menatap Nagato datar, "Apa yang kulakukan? Aku hanya melakukan ini."

"Kyaaahh ... ahh ... ap-apa yang kau lakukanhh ... nghh ..." Sakura menjerit ketika kedua tangan Tobirama kembali meremas kedua dadanya kencang.

"Hey kau tak berencana mengklaim gadis itu sendiriankan Nagato? Biarkan kami menyentuhnya juga!" ujar pria bertopeng yang tengah melipat kedua tangannya itu menatap Nagato tajam.

"Ya Nagato, kami juga ingin merasakannya!" sahut pria blonde yang tengah menyandarkan tubuhnya dipintu kamar.

"Hn, mana bisa kau melakukan hal tidak adil seperti itu Nagato?" ujar pria berambut Orange yang tengah duduk di sofa itu santai seraya mengepulkan asap rokoknya.

Nagato melirik kearah Sakura yang tengah memejamkan kedua matanya erat lalu setelah itu Nagato menganggukan kepalanya.

"Yare-yare, kita akan menyentuhnya bersama-sama." ujar Nagato pasrah.

Ketiga pria yang lainnya itupun tanpa membuang-buang waktu menghampiri ranjang dan mulai mengelus setiap inci tubuh gadis belia itu.

Sakura menutup kedua matanya pasrah, sentuhan demi sentuhan mulai ia rasakan. Kedua telapak tangannya terkepal erat ketika merasakan tangan seseorang yang mengelus area selangkangannya, ditambah lima lidah yang ia rasakan disetiap titik sensitive-nya, ditelinga, leher, betis, jari tangan dan jari kakinya yang terasa tengah dikulum oleh mulut seseorang.

"Kumohon hentikan ... hikss ..." Kelima pria itu tak menghiraukan tangisan Sakura, sebaliknya pria-pria itu semakin buas. Entah sejak kapan hujan mengguyur bumi disertai angin dan kilatan petir, bahkan alam-pun menangis menyaksikan kelakuan lima pria brengsek kepada gadis belia itu.

BREK!

Nagato mulai menyobek seragam sekolah Sakura hingga kancingnya terlepas semua dan menampilkan tubuh Sakura yang topless dengan bra hitam berjaringnya.

'Kumohon siapa saja tolong aku ... Tou-san ... Saki taku ... hikss ...' Batin Sakura berteriak pilu.

Wuuuushhh ... BRAK!

Tiba-tiba saja jendela kamar itu terbuka lebar setelah terdorong angin besar, kelima pria itu sejenak menghentikan aktivitas mereka lalu menatap jendela yang terbuka itu dalam hening, sampai ...

Kkaak! Kkaak! Kkaak!

Kkaak! Kkaak! Kkaak!

Kkaak! Kkaak! Kkaak!

Ratusan burung gagak hitam masuk melalui jendela dan mulai menyerang kelima pria itu dengan ganas, Sakura membuka matanya dan melihat kelima pria itu lengah karena sibuk melawan burung-burung gagak itu. Tanpa membuang kesempatan, Sakura berlari sekuat tenaganya keluar dari rumah itu seraya terisak.

"HEY! MAU KEMANA KAU SAKURA?!" Sakura terus berlari tanpa mengindahkan suara pria blonde itu, Sakura bahkan tak perduli dengan pakaiannya yang tak terkancing dan Sakura sama sekali tak memperdulikan air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.

Perasaan jijik, terhina dan benci tercampur aduk dihatinya saat menyadari tubuhnya telah dijamah oleh pria-pria brengsek itu, walaupun kegadisannya tidak sempat terenggut Sakura tetap merasa dirinya kotor sekarang, ingin rasanya Sakura membunuh kelima pria bejat dan Ibu tirinya itu dengan tangannya sendiri, tapi Sakura sadar dirinya terlalu lemah untuk melakukan itu.

Tanpa sadar Sakura berlari kearah Mansion tua itu, lalu dengan keadaan hampir sekarat Sakura mulai menaiki anak tangga melingkar itu menuju ujung menara tinggi.

KRIET!

BRAK!

Sakura membuka pintu diujung menara tinggi ini dengan kasar dan terlihat dengan jelas tubuh makhluk berjubah awan merah itu tengah berdiri membelakanginya, makhluk itu tengah menatap keluar jendela yang menampilkan kilatan petir dan hujan lebat.

"Hn." Makhluk itu hanya bergumam tanpa membalikkan tubuhnya, Sakura mengatur napasnya perlahan.

"Kau makhluk Vampire dapat mengabulkan permintaanku bukan?" ujar Sakura penuh keputusasaan, matanya memandang kosong lantai yang ia pijak.

Makhluk itu membalikan tubuhnya lalu menghampiri Sakura, "Akhirnya kau datang juga nona Hatake, bukankah kau tidak akan pernah datang kemari apapun yang terjadi?" sahut makhluk itu datar dan terkesan menyindir gadis di depannya itu.

Sakura mendongkakan kepalanya dan menatap sepasang mata merah itu tajam, walaupun Sakura masih tidak dapat melihat bagaimana rupa makhluk di hadapannya itu, "Aku tarik sumpahku itu dan kumohon ... kabulkan keinginanku. Sungguh aku sudah sangat lelah hikss ...," ujar Sakura seraya terisak lirih.

Makhluk itu menyeringai licik, "Hn, Aku adalah Vampire yang akan mengabulkan permohonanmu, tapi kau tahu bukan? kau harus memberikan sesuatu sebagai imbalannya, apa kau bersedia?" tanya Makhluk itu dingin dengan seringaian yang tak pernah hilang dari sudut bibirnya.

"Ya aku bersedia! Apapun itu akan aku berikan dan kau harus mengabulkan keinginanku!" sahut Sakura tanpa keraguan sedikit pun.

"Hn." Makhluk itu menyeringai penuh kemenangan lalu Makhluk bernama Suke itu melangkah lebih mendekat lagi kearah Sakura.

Deg!

Jantung Sakura berdebar hebat ketika melihat rupa makhluk itu, rupa makhluk Vampire itu begitu rupawan dengan sepasang mata yang tajam, hidung mancung, bibir merah tipis namun kissable dengan kedua taring dikedua sudut bibirnya dan bentuk rahang yang tegas.

Dengan perlahan jari Vampire itu mulai menyentuh rambut Sakura lembut lalu merambat kearah kening, mata, hidung, pipi, bibir dan terakhir ibu jari makhluk itu mengelus dagu Sakura lalu menekannya pelan kebawah.

Setelah bibir Sakura sedikit terbuka karena tekanan didagunya, perlahan makhluk berkerudung itu mendekatkan wajahnya lalu menjulurkan lidahnya yang panjang dan langsung saja makhluk itu membenamkan lidah panjangnya ke dalam mulut Sakura yang sedikit terbuka.

Slurrrpp!

Mata Sakura terbelalak lebar ketika merasakan sebuah benda lunak tak bertulang itu mengusap deretan giginya yang rapi satu persatu, lalu sejurus kemudian benda lunak tak bertulang milik makhluk itu membelit dan menarik ulur lidah Sakura dengan gerakan seduktif.

"Nghh ... khaahh ... haah ... emh ... hnnh ..." Suara aneh itu mulai terdengar dari kedua belah bibir yang tengah dicumbu mesra itu, wajah Sakura mulai memerah matanya-pun berkaca-kaca ketika menerima cumbuan makhluk itu, Sakura merasakan sensasi aneh karena sentuhan dari Vampire tampan itu.

Setelah puas mengadu lidah, Suke mulai melumat bibir bawah Sakura pelan penuh kelembutan namun semakin lama lumatan itu semakin ganas, Sakura menutup kedua matanya mulai menikmati ciuman itu.

"Hn ... Ahh ...," Suara desahan itu lepas dari mulut Suke ketika melumat bibir Sakura semakin intens, Suke mulai mengeliminasi jarak diantara keduanya dan kini tubuh mereka begitu melekat intim apalagi dengan keadaan Sakura yang hampir topless.

Tanpa melepaskan ciumannya Suke mulai melucuti baju seragam Sakura yang tak terkancing lalu menjatuhkannya dilantai, setelah itu kedua tangan Suke menyentuh kedua pundak Sakura yang terekspos jelas, kini Sakura hanya memakai bra hitam berjaring menampilkan perut rata tanpa lemaknya dan rok sekolah yang masih utuh melekat dipinggulnya.

Ciuman Suke mulai merambat ke pipi lalu menjalar ke leher putih Sakura, mengecup leher itu lembut dan sedikit menggigitnya pelan meninggalkan tanda kepemilikkan mutlak bahwa Sakura hanya milik Suke. Kini ciumannya beralih ke pundak Sakura, melumat kulit bahu itu lembut, kecupan itu mulai turun ke tulang selangka dan berakhir dibelahan dada Sakura.

Tiba-tiba kedua mata Sakura terbuka serta tubuhnya menegang ketika tangan nakal Suke menyentuh dadanya lalu meremasnya pelan, Suke kembali melumat bibir Sakura guna untuk menenangkan gadis itu dari keterkejutan akan sentuhannya.

Sakura kembali menutup matanya dan menikmati sentuhan demi sentuhan yang ia terima, entah mengapa Sakura pasrah begitu saja ketika seluruh tubuhnya dijamah oleh pemuda Vampire itu, tak ada rasa takut seperti ketika ia menerima pelecehan dari lima pria bajingan tadi.

"Biarkan aku membersihkan tubuhmu dari sentuhan pria-pria bajingan itu nona Hatake." Makhluk itu berbisik mesra tepat di telinga Sakura, bagai terhipnotis Sakura hanya mengangguk tanpa membuka kedua matanya.

Suke mengangkat tubuh Sakura yang dingin ke ranjang yang berada diruangan itu, lalu membaringkan tubuh ringkih Sakura di ranjangnya dengan perlahan, "Nikmatilah sentuhanku hime." Setelah mengatakan itu, Suke mulai melucuti semua pakaian yang Sakura kenakan.

Kini Sakura tengah berbaring pasrah di bawah kungkungan pemuda Vampire itu dengan keadaan polos tanpa busana sedangkan Suke masih memakai jubahya bahkan kerudungnya-pun masih setia membungkus kepalanya, Sakura yang sadar seragamnya telah terlepas semua hanya diam menunggu, tubuhnya tak lagi terasa dingin akibat air hujan yang mengguyurnya tadi nyatanya tubuh Sakura kini terasa panas karena sentuhan demi sentuhan yang Suke berikan padanya.

Suke tengah asik melumat kedua puncak dada Sakura yang sedari tadi telah menegang, tangannya tak dibiarkan menganggur begitu saja karena nyatanya kini kedua tangan Suke tengah sibuk memainkan sesuatu berupa gumpalan daging kecil yang berada diantara selangkangan Sakura dan tentu saja itu membuat Sakura mengerang hebat.

Setelah merasa cukup dibagian dada, ciuman Suke terus merambat turun ke bawah menjilati perut rata Sakura lembut lalu menggoda pusar Sakura dengan lidahnya, kepala Suke kini berada tepat di depan sesuatu yang menganga dipangkal paha Sakura, wajah Sakura semakin memerah malu ketika melihat Suke yang tengah menatap intens sesuatu di bawah sana.

Sejurus kemudian Sakura mencengkram bed cover dibawahnya erat ketika kepala Suke tenggelam diantara kedua pahanya, benda lembut tak bertulang itu mengobrak-abrik sesuatu di bawah sana ganas dan itu membuat Sakura tak henti-hentinya berteriak, mengerang dan mendesah, beberapa menit kemudian Sakura merasakan tubuhnya menegang, miliknya berkedut hebat dan akhirnya sesuatu mengalir dari bawah sana.

.

oOo

.

AT SUSAN'O CORP

Tok! Tok! Tok!

Suara pintu diketuk membuat seorang pemuda yang tengah duduk santai dikursi kerjanya seraya memandang keluar jendela melirik tajam kearah pintu itu, "Hn, masuk." ujarnya datar.

Seorang pria beramanik hazel memasuki ruangan itu dan membungkuk sopan, "Permisi tuan, saya sudah mendapatkan semua informasi tentang gadis itu." ujarnya sopan kepada seseorang yang kini tengah duduk membelakanginya.

Pemuda onyx itu melirik sang anak buahnya dari sudut matanya tanpa membalikkan posisinya, "Bagus, lakukan semua yang aku perintahkan. Pastikan Hatake Kakashi menerima permintaanku sebagai imbalannya," ujar pemuda berambut hitam panjang yang diikat rendah itu tajam tak lupa seringaian penuh arti yang tersungging diujung bibirnya.

Pria berambut merah itu mengangguk mengerti, "Baik, saya mengerti." Ketika pria itu hendak pergi tiba-tiba saja sang pemuda onyx menghentikannya.

"Tunggu, jangan lupa berikan cincin itu pada Hatake Kakashi dan tuntaskan tugasmu dengan gadis itu, setelah selesai aku akan mengijinkanmu berbulan madu ke Hawai dengan Ten-Ten Istrimu Akasuna no Sasori," ujar pemuda itu datar masih tanpa membalikkan posisinya.

Pria bernama Akasuna no Sasori itu menyeringai lebar, "Tentu saja Uchiha-sama, arigatou." Lalu pria itupun pergi meninggalkan sang atasan yang kini tengah menatap langit dengan tatapan sendu.

'Sebentar lagi, aku yakin sebentar lagi kau bebas dari kutukan itu.'

.

oOo—


A\N : What apa ini? -,- maaf jika chapter ini gaje dan mengecewakan, maaf juga typo masih mencintai saya, EyD masih selalu menyayangi saya dan maaf saya tidak bisa membalas review karena lagi banyak tugas deadline ... emh untuk lemon SasuSaku mungkin nanti di chapter depan atau bisa depannya lagi. xD Saya ga janji.

SPECIAL THANKS TO :

ikalutfi97 || Haruka no Tsuki || Guest || dewaz || Restychan || cherryl sasa || Aeni || azhuichan || hanazono yuri || Iwasaki Ifha || Manda Vvidenarint || Viona Uchiha || intan sept || rainy de || airis chun || Y O G|| kim la so || Animea-Khunee-Chan || Rei Hanna || Silent Readers.