chapter 2 niiiiiii

####

#####

######

Hiashi melirik putri pertamanya yang masih saja menunduk didepannya.

" Apa keputusanmu sudah bulat?" tanya Hiashi datar

" Ya ayah..." Hinata menjawab mantap

"Apa kau ada masalah disini sehingga kau ingin melarikan diri dari sesuatu?" Hiashi dapat melihat muka Hinata memucat.

"Jika memang ada masalah sebaiknya selesaikan terlebih dahulu, seorang Hyuga tidak boleh lari dari masalah" mendengar Hiashi berkata seperti itu muka Hinata makin memucat. Hening beberapa saat.

Karena Hinata hanya diam maka Hiashi kembali berkata " Pergi dan selesaikan masalahmu jika masalahmu sudah selesai baru pikirkan baik-baik keputusanmu ini".

Hinata pun memberi hormat dan berniat pergi dari ruangan ayahnya. Jika ayahnya sudah menggunakan nada yang satu itu maka keputusannya sudah tidak bisa diganggu gugat.

"gubrak..." Hinata mundur secara reflek.

"Hanabi!" Hinata berseru sambil berkacak pinggang.

Bisa- bisanya adiknya itu menguping pembicaraan dia dan ayah mereka di balik pintu. Hanabi yang merasa dalam keadaan terjepit melihat pelototan mata kakaknya hanya berdeham.

"Aku hanya akan mengajak ayah berlatih tapi tadi nee san sedang berbicara jadi ya aku menunggu di luar" Hanabi berusaha agar suaranya datar seperti biasa. Suara itu mungkin akan terdengar datar jika yang mendengar adalah orang selain ayahnya dan Hinata. Hiashi dan Hinata sama-sama tahu bahwa Hanabi memang menguping pembicaraan mereka berdua.

"Kalau memang mau menunggu ya menunggu saja, kau tidak harus menempelkan telingamu ke pintu, jadi kalu pintunya dibuka kau idak akan jatuh" nasihat Hinata yang satu ini membuat Hanabi sedikit memerah.

" Aku tidak menempelkan daun telingaku ke pintu, aku hanya lelah menunggu lama, jadi aku bersender di pintu" tukas Hanabi membela diri.

Sepertinya mereka berdua sudah lupa kalau di dalam ruangan itu masih ada ayah mereka. Wajah Hiashi kini sudah memerah.

" HANABI ! HINATA ! " wajah Hanabi dan Hinata kontan memucat. Mereka cepat-cepat menunduk meminta maaf. Hinata segera saja keluar dari ruangan sementara Hanabi menemui ayah mereka.

###

Entah sudah keberapa puluh kali Hinata menghembuskan nafas keras-keras. Entah alasan apa yang nanti Hinata kemukakan kepada ayahnya agar ia di izinkan ke Roppan. Klan Hyuga bukan hanya terkenal karena byakugan nya yang diwariskan turun temurun. Tidak semua klan Hyuga menjadi ninja, sebagian dari mereka ada yang memutuskan menjadi saudagar dan berkutat dengan keuangan klan Hyuga. Mereka meyebar ke berbagai penjuru wilayah dan berinvestasi diberbagai bidang. Ada yang membangun pabrik pakaian, mengolah perkebunan teh, membuka hotel atau restoran dan lain sebagainya.

Kali ini ayahnya berniat membuka hotel di wilayah Roppan, wilayah itu memang jauh, sangat jauh malah. Jika ninja saja membutuhkan waktu 5 hari untuk mencapai Roppan maka orang biasa biasa membutuhkan waktu 10 sampai dengan 12 hari untuk sampai kesana.

Bagi Hinata tentu saja ini merupakan hal yang sangat bagus, ia bisa menyembunyikan kehamilannya pada keluarganya. Walaupun Hinata tidak akan menjadi satu satunya hyuga disana, Hinata yakin orang-orang itu akan membantu menyembunyikan kehamilannya. Kebanyakan orang yang memutuskan menjadi Hyuga non shinobi adalah orang-orang yang berasal bukan dari klan utama Hyuga. kebanyakan dari mereka sangat menghargai dan menghormati Hinata karena memikirkan nasib mereka yang selalu dibawah keluarga utama. Hinata juga tetap menghormati orang-orang tua walaupun mereka bukan berasal dari keluarga utama. Oleh karena itu Hinata yakin mereka akan membantunya.

###

"Hei Naruto! Kau ini kenapa sih...bukannya membantu malah bersungut-sungut seperti itu" bentak Sakura galak. Sasuke yang sedang melihat baju bayi bergambar katak berwarna hijau hanya membolak balik baju itu tanpa minat.

"waaaaaaah baju itu lucu Sasuke kun..." mata Sakura mengerjap-erjap senang. "aku rasa anak Kurenai sensei pasti lucu sekali memakai baju ini" Sakura segera menyambar baju kodok warna hijau yang sedang di bolak-balik Sasuke.

" aku rasa itu baju yang aneh " Sasuke menimpali melihat melihat mata Sakura berkilat-kilat mengerikan seakan akan ia berkata "aku akan beli semua yang lucu lucu disini kyaaaaaaaaa..." Sasuke sendiri merinding membayangkannya.

Sakura memang sengaja mengajak Naruto, Sasuke dan Kakashi untuk menengok anak Kurenai sensei yang dilahirkan beberapa waktu yang lalu. Karena kesibukan mereka dan keadaan yang memang setelah perang membutuhkan banyak tenaga maka mereka belum sempat menengok Kurenai sensei. Sakura memaksa mereka semua meluangkan waktu untuk shopping dan menengok Kurenai sensei sore itu.

Naruto tidak menyangka bahwa "memberi beberapa bingkisan" yang dimaksud Sakura adalah shopping tanpa ampun ke toko perlengkapan bayi. Saat pertama kali Naruto menginjakan kaki disini wajahnya memucat. Ia kembali teringat kertas hasil pemeriksaan yang diserahkan Hinata 2 minggu yang lalu.

Ia kembali mengingat raut muka Hinata saat ia melontarkan perkataan-perkataan yang menyakitkan itu. Tapi mau bagaimana lagi, ia benar- benar panik umurnya kan baru 17 tahun. Apalagi ia belum pernah merasakan bagaimana rasanya punya ayah. Apa yang harus seorang ayah lakukan pun ia tidak tahu.

Ia kembali mengingat sosok gadis yang sedang mengandung anak pertamanya sekarang, dia memang gadis yang baik, manis, cerdas, lembut dan masih banyak kelebihannya yang lain. Apalagi dia juga berasal dari keluarga terpandang. Keluarga Hyuga.

Naruto kembali tersenyum kecut mengingat keluarga Hinata. Ia heran mengapa belum ada orang yang mendobrak pintu apartemennya untuk meminta pertanggungjawaban.

"Narutoooooo... kau ini bagaimana?kenapa kau melamun saja" Sakura kembali membentak Naruto ketika melihat Naruto belum beranjak dari tempatnya yang sangat dekat dengan pintu keluar.

"Lihat bahkan Sasuke sudah menemukan beberapa barang bagus, kau juga harus membantu" Sakura semakin menampakkan wajah beringasnya.

"Aku kan laki-laki, aku tidak tahu soal beginian" tukas Naruto membela diri

"Memangnya kau pikir aku tahu beginian, aku memang perempuan tapi aku juga belum pernah punya bayi" balas Sakura galak.

"Hitung-hitung latian, kau kan suatu saat nanti juga akan menikah dan punya anak"lanjut Sakura sambil tersenyum. Sakura tidak menyadari wajah Naruto semakin pias mendengar perkataannya. Sementara Sasuke yang melihat wajah Naruto, hanya mengernyit heran.

"kau sakit dobe?"

"se...se...sepertinya aku lupa makan siang, aku cari makan dulu" tanpa menoleh lagi Naruto langsung berlari keluar dari toko. Toko itu merupakan siksaan baginya. Mengingatkannya akan hal yang harus ia lakukan tapi tak mau ia lakukan.

###

"Kau ini kenapa sih Naruto? Kau tidak perlu menjadi pendiam Cuma gara-gara 5 bulan lagi kau akan diangkat menjadi rokudaime hokage" Sakura melirik Naruto kesal melihat Naruto tidak mengeluarkan sepatah kata pun saat perjalanan kerumah Kurenai sensei.

"Kau tidak usah sok berwibawa, kau malah aneh kalau diam seperti itu " Sasuke juga ikut-ikutan menimpali. Sasuke heran sekali pada perubahan sikap Naruto. Dia pikir setelah perang selesai dan semua harapan Naruto terkabul, Naruto akan sering pamer padanya.

Sasuke jadi ingat, bukankah 2 minggu kemarin Naruto kencan dengan Sakura, namun ia belum pernah mendengar Naruto koar-koar pada orang lain. Padahal Sasuke penasaran juga ingin melihat perkembangan kisah cinta Naruto dan Sakura.

Banyak orang yang mengira bahwa ia dan Sakura akan menjalin kasih ketika ia memutuskan kembali ke konoha. Tentu saja hal itu tidak akan terjadi, ia tidak pernah memiliki perasaan khusus pada Sakura. Apalagi sekarang ia sudah menjatuhkan pilihannya pada gadis cantik bermarga hyuga. Ia berdoa semoga ayah gadis itu tidak waras, karena jika ayah gadis itu waras ia tidak mungkin mengijinkan anak gadisnya menjalin kasih dengan Sasuke. Mungkin Sasuke harus menggunakan genjutsu agar ia diijinkan kencan dengan anaknya. Sasuke menyeringai sendiri, apapun yang terjadi gadis itu akan menjadi miliknya.

Sementara Sakura yang juga diam-diam mulai menaruh hati pada Naruto, kembali merasa cemas. Ia pikir Naruto akan senang sekali ketika minggu kemarin ia menerima ajakan kencan Naruto. Namun ketika berkencan Naruto lebih banyak diam. Sehingga suasananya malah canggung. Sakuralah yang terpaksa bercerita ini itu untuk mencairkan suasana. Bahkan sampai sekarang Naruto belum pernah mengajaknya kencan lagi.

Awalnya Sakura berpikir Naruto menjadi pendiam untuk membuat ia terkesan pada saat kencan. Namun Sakura sama sekali tidak menyangka bahwa sikap diam Naruto akan bertahan sampai sekarang.

"aku tidak sok berwibawa, aku hanya kecapekan belajar tatakrama dan politik tadi" Naruto membuat suaranya kekanak-kanakan sambil melirik Sasuke dan Sakura. " aghhhhh... kakiku kram semua gara-gara duduk seharian di tatami tadi" Naruto memijat-mijat kakinya.

Sasuke, Sakura dan Kakashi hanya tersenyum melihat tingkah Naruto, sepertinya si blonde itu memang hanya kelelahan.

Tak terasa mereka sudah berada didepan rumah Kurenai sensei. Naruto segera saja dengan semangat mengetuk pintu. Ia takut teman-temannya semakin curiga dengan tingkah lakunya. Ia akan berusaha seceria mungkin malam ini.

" jangan mengetuk pintunya keras-keras bodoh..." Sakura menjitak kepala keras-keras

"aduh Sakura chan..."

" bisa aja bayinya sedang tidur kan " Sakura memperlihatkan aura kebuasannya.

" hehehe maap maap ..." Naruto nyengir sambil menggaruk-garuk belakang lehernya.

Tiba- tiba pintu rumah Kurenai perlahan terbuka, melihat sosok yang membukakan pintu cengiran naruto perlahan menghilang.

" na... na...ruto kun..." wajah Hinata memucat.

####

#####

######

Horeeeee akhirnya chapter 2 gw upload jg

Gw nggak nyangka lho banyak yg review

Soalnya biasanya gw ogah upload crita2 gw, berhubung kmrn harddisk gw rusak dan bnyak data ilang jadi gw putuskan buat member di ff, kalo gatel pengen bwt ff mw gw langsung upload aja

Daripada ilang lg hehehe

Mksh bwt smw yang udah review ya...jangan bosen2 ok

Makasih jg yang udah kasih kritik n saran

Maap kalo banyak tanda baca yang salah or salah ketik *maklum gw tersiksa bgt pelajaran bhs indonesia pas bagian2 eyd n kata2 baku gt*

Oh bwt al jangan panggil pake san...gw berasa umur 40 an hehehe

Panggil zale or lea gt *jadi nyesel milih nama bunga ini, susah nama panggilannya :p*