Hmm ... Konan dan Orochimaru mati, Tou-san telah bebas ... jadi Suke menepati janjinya padaku? Tapi jika benar mengapa ia tidak menyetubuhiku? Bukan berarti aku ingin disentuh olehnya. Maksudku, bukankah Hinata juga menyerahkan tubuhnya sebagai timbal balik? Lantas apa yang Vampire itu inginkan dariku jika ia tak menyetubuhiku? Malam itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelah aku merasakan sesuatu keluar dari kewanitaanku untuk pertama kalinya selama aku hidup karena saat itu tiba-tiba semuanya gelap.

Ini benar-benar aneh. Aku harus ke menara itu lagi sekarang untuk menanyakan apa yang sebenarnya ia inginkan. Ya, aku harus kesana.


Enjoy Reading

BAB 5


oOo—

Tap!

Tap!

Tap!

Sakura melangkahkan kakinya dengan gontai di jalan sepi itu. Waktu menunjukan pukul enam pagi, gadis berhelaian softpink sepunggung itu termenung dalam perjalanan menuju Sekolahnya. Ya, Sekolahnya. Setelah sarapan bersama Ayahnya Sakura bergegas berangkat karena ia harus melakukan sesuatu.

Pikirannya berkecamuk memikirkan hal-hal yang baru saja terjadi dalam hidupnya. Pertama; ia yang hendak diperkosa oleh lima pria menjijikan, kedua; tiba-tiba saja ratusan burung gagak hitam memasuki kamarnya hingga membuat ia bisa kabur dari kekangan sepuluh tangan manusia yang menyentuh tubuhnya, ketiga; dengan bodohnya ia tanpa pikir panjang melarikan diri kearah menara yang ia yakini berpenghuni makhluk misterius ... Vampire, keempat; kebodohannya yang kedua ia dengan entengnya membuat persekutuan dengan Vampire bernama Suke itu! Bahkan ia merelakan tubuhnya dijamah oleh makhluk mengerikan itu. Dan terakhir ... entah ia harus bahagia atau apa tapi yang pasti Ibu tiri yang selama ini menekan dirinya dalam segala hal telah tiada, lalu kebebasan sang Ayah membuat gadis musim semi itu merasa ... bahagia. Ya, bahagia.

Huffftt ...

Sakura menghela napas berat. Sekarang inti dari permasalahannya adalah apa yang harus Sakura lakukan? Haruskah Sakura berterimakasih kepada makhluk itu? Tapi apa iya untaian kata terimakasih saja sudah cukup? Sakura rasa itu tak cukup. Jadi apa?

Deg!

Sakura menghentikan langkahnya tepat di depan Mansion Uchiha. Gadis itu menundukan kepalanya dalam, kedua matanya tak terlihat karena tertutupi poninya. Mencengkeram kedua sisi tas gendong yang berada di kedua pundaknya, Sakura menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

Sakura tahu di atas sana, ya di menara itu ada seseorang yang kini tengah memerhatikannya. Suke ... rasa takut dalam dirinya kini menyeruak keluar. Bulu romannya meremang, suasana sepi di sekitarnya pun terasa mencekam. Bodoh! Mengapa ia baru merasa takut sekarang? Bukankah malam itu ia tak takut? Bahkan ia membiarkan makhluk itu menyentuh setiap kulit telanjangnya. Dan apa ini? Mengapa sekarang ia merasa takut? Aneh.

Dengan gerakan perlahan Sakura mendongkakan kepalanya dan—

Siiing!

Sakura terpaku dengan cahaya netra merah dan ungu yang kini tertuju padanya. Sebuah netra merah berbentuk bintang berkaki enam dan netra ungu bergaris hitam dengan sembilan tamoe di seklilingnya.

Indah ...

Sakura menatap takjub kedua mata berbeda netra itu, rasa takut yang tadi ia rasakan menghilang entah kemana. Makhluk berkerudung yang ia yakini Suke itu kini tengah menyeringai menatapnya.

Blush!

Tanpa Sakura sadari kini wajah putih bak porselennya telah berubah warna jadi merah padam bak kepiting rebus karena melihat seringaian pemuda itu. Pemuda? Ah Sakura yakin pemuda itu bukanlah pemuda di jamannya sekarang karena Sakura sangat tahu jika Vampire itu telah hidup lebih dari ratusan tahun. Tapi walaupun begitu Suke masih pantas di sebut pemuda karena wajahnya yang demi Kami-sama sangat tampan dan juga terlihat muda.

Suke mengangkat tangannya lalu menggerakan telunjuknya maju-mundur, Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali lalu setelah mengerti bahwa Suke menyuruhnya ke sana maka dengan perlahan Sakura mengangguk lalu mulai melangkah hendak memasuki Mansion tua itu, lagi pula ia pun ingin menanyakan semuanya kepada Vampire itu. Ketika ia hendak mendorong gerbang di depannya tiba-tiba saja—

Tap!

"Sakura? Apa yang kaulakukan di sini?" Sakura terdiam mematung ketika merasakan seseorang menggenggam tangannya. Dengan pelan Sakura membalikkan tubuhnya menghadap ke belakang dan—

Deg!

Mata Sakura terbelalak lebar melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya, "S-Sasori-sensei?"

Sasori menarik lengan Sakura, lalu —bruk! "Astaga Sakura? Apa benar ini dirimu? Kemana saja kau seminggu ini? Kau tahu? Aku khawatir padamu, —merindukanmu!" ujar Sasori tanpa melepaskan dekapannya dari Sakura.

Deg!

Mata Sakura terbelalak lebar mendengar penuturan dari mulut Sensei-nya itu. Ah lebih tepatnya pria yang Sakura sukai. Jantungnya berdegup kencang, lidahnya kelu dan entah mengapa Sakura merasa ...

Wusssssssshhhh!

Tiba-tiba saja angin berhembus kencang kearah mereka berdua. Sasori tak bergeming, ia tetap memeluk tubuh Sakura erat dan sesekali mengecup helaian merah muda gadis itu seakan tak memerdulikan aura di sekitarnya yang berubah mencekam. Sedangkan Sakura hanya diam mematung seraya menatap menara di depannya dengan tatapan kosong.

Deg!

Deg!

Deg!

Jantungnya berpacu semakin cepat ketika melihat makhluk Vampire di atas sana menangkap seekor burung gagak hitam lalu—

Ckrekks!

Kkkaakk!

Sluuurrrp!

Sakura menahan napas ketika menyaksikan dengan matanya sendiri makhluk Vampire bernama Suke itu mencekik burung tersebut hingga kepalanya putus dan tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Sakura, Suke menghisap habis darah burung itu dengan penuh napsu.

Entah mengapa Sakura bisa mendengar dengan jelas suara-suara mengerikan dari kegiatan Suke di atas sana, padahal jarak antara mereka sangat jauh. Tubuhnya gemetar hebat ketika Suke menatapnya nyalang seraya menjilat bibirnya sendiri.

'Kau milikku Hatake Sakura! Ingat itu baik-baik, jangan pernah melirik pria lain atau pria itu akan menjadi ... santapanku selanjutnya!'

Wush!

Deg!

Mata Sakura terbelalak lebar ketika mendengar bisikan di telinganya yang Sakura yakini adalah suara Suke dan setelah membisikan kalimat itu sosok Suke menghilang di atas sana dengan kepulan asap hitam yang mengelilingi tubuhnya.

"Sa—!"

"..."

"—kura!"

"..."

"SAKURA!"

DEG!

Sakura mengerjapkan matanya ketika Sasori meneriakan namanya seraya mengguncang kedua bahunya sedikit kencang.

"Astaga kau kenapa Sakura? Kau menangis?" ujar Sasori khawatir ketika melihat wajah Sakura yang dipenuhi airmata dan terlihat pucat.

Tap!

Sakura menangkap kedua tangan Sasori yang hendak menyentuh pipinya, "Kenapa? Kenapa kau berbicara seolah kau perduli padaku sensei? Bukankah aku hanyalah muridmu?" ujar Sakura seraya menatap pria bersurai merah di depannya itu dengan sendu.

Sasori sedikit membelalakan matanya lalu detik selanjutnya Sasori menundukan kepalanya sehingga Sakura tak dapat melihat ekspresi pria itu karena tertutupi oleh poninya.

"Kau tahu Sakura? Awalnya aku memang hanya menganggapmu sebagai murid kesayanganku karena kau sangat pintar dalam pelajaranku, tapi ..." Sasori mengangkat wajahnya dan hazel-nya langsung menatap keindahan cahaya emerald di depannya itu tajam, "setelah seminggu kau tak berada di ruang lingkup jangkauan jarak pandangku, aku merasa ... kehilangan. Kau tahu? Bahkan aku merasa sangat khawatir padamu! —Merindukanmu!"

Deg!

Sakura menatap sensei mudanya itu tak percaya, "S-sensei—"

Tap!

Tap!

Tap!

Sasori melangkah semakin mendekati Sakura yang berdiri kaku di depannya. Dan—

Tep!

Sasori mengelus pipi kiri Sakura lembut dan mulai mendekatkan wajahnya, "Aku ... mencintaimu Hatake Sakura!" lirih Sasori tepat 8 sentimeter di depan wajah Sakura yang menampilkan raut shock yang kentara sekali. Sasori kembali memajukan wajahnya, kedua belah bibirnya telah terbuka sedikit bersiap melumat bibir merah mungil di depannya itu jika saja—

"Tidak!"

Bruk!

Sakura mendorong dada Sasori menjauh darinya, napas gadis musim semi itu terengah-engah tak beraturan. Sasori yang terdorong beberapa langkah dari tubuh Sakura kembali menundukan kepalanya hingga poninya menutupi kedua matanya dan Sakura bisa melihat Sasori yang tengah menggigit bibirnya.

"S-sensei aku—"

"Haha sudahlah Sakura-chan. Aku tahu ini terlalu cepat untukmu, maka dari itu bagaimana jika kita berteman dulu untuk mengenal pribadi masing-masing?" Sakura menatap pria yang tengah mengulurkan tangannya itu dengan senyuman lembut tercetak sempurna di wajah pria itu tak percaya.

"..."

Sakura menatap tangan besar di depannya itu kosong. Rasanya sangat aneh, harusnya ia bisa menerima pria yang sangat ia sukai itu dengan mudah karena ia juga memiliki perasaan yang sama. Tapi ... entah mengapa rasanya berat sekali, seperti—

"Baiklah, kita berteman!" ujar Sakura berusaha terdengar seriang mungkin seraya menyambut lengan di depannya lalu menatap pria di depannya itu dengan senyuman tipisnya. Sasori tersenyum tipis lalu mengusap helaian merah muda gadis itu lembut.

"Hm, ayo kita ke Sekolah. Ini sudah jam setengah tujuh pagi!" ujar Sasori seraya menggenggam tangan Sakura. Sakura hanya mengangguk dengan wajah merona —dan mereka pun melangkah pergi menjauhi Mansion tua itu meninggalkan sesosok manusia yang tengah menyandar di depan sebuah mobil mewah dengan tangan yang bersedekap dada.

"Hn, menarik bukan baka Otouto?" gumam seseorang itu seraya menyeringai tipis.

'Hn, aku benci serangga merah brengsek itu menyentuh milikku!'

"Bodoh!" dan seseorang itu pun menatap kearah menara dengan tatapan mengejek.

.

.

.

.

.

Sakura dan Sasori kini tegah berdiri 20 meter dari gerbang Sekolah yang telah ramai.

Tep!

Dengan perlahan Sakura melepaskan tangannya dari genggaman Sasori dan tentu saja membuat Sasori menatapnya heran. Sakura tersenyum lalu memgerling kearah kumpulan siswa-siswi yang berlalu-lalang di depan sana.

"Kurasa cukup sampai di sini saja sensei, aku tak mau mereka salah paham. Baiklah aku pergi duluan ya sensei?" setelah mengatakan itu Sakura pun ber-ojigi kepada Sasori dan dengan cepat Sakura berlari meninggalkan Sasori yang kini tengah menatap punggungnya datar.

Tap, tap, tap, tap!

Sakura terus berlari menuju kelasnya dengan perasaan tak karuan dan membuat siswa-siswi menatapnya aneh, tapi Sakura tak perduli akan hal itu karena pikirannya kini tertuju pada satu masalah. Oh ayolah! Bukankah tujuan awal Sakura pergi ke Sekolah pagi-pagi adalah untuk menemui Suke di menara? Tapi dengan bodohnya Sakura justru pergi meninggalkan menara bersama Sasori tadi.

'Haaah baiklah lain kali aku akan datang ke Mansion itu lagi!' batinnya pasrah.

Tap!

Kini Sakura berdiri tepat di depan pintu kelasnya, —Haaah ... huufftt~ Sakura menghela napas pelan untuk menetralkan deru napasnya yang tak beraturan. Setelah merasa cukup Sakura pun mulai melangkahkan kakinya memasuki kelasnya, namun baru saja ia selangkah berjalan tiba-tiba—

Tep, bruk!

"Eh?!" Sakura sedikit menjerit ketika ada seseorang yang menarik tangannya ke depan dan memeluk tubuhnya erat.

"Kyaaaaaaa forehead! Kemana saja kau? Hikss aku merindukanmu bodoh!" Sakura dapat menghela napas lega sekarang karena yang memeluknya dengan lancang ternyata sahabat pirangnya. Gadis musim semi itu dengan pelan melepaskan pelukan sahabatnya itu lalu dengan pasti Sakura pun membawa Ino ke tempat duduknya karena tak enak acara dramatis tadi dilihat oleh beberapa pasang mata.

Setelah duduk di kursi mereka Sakura hanya bisa terkekeh geli melihat Ino yang masih menangis sesenggukan. "Hey Ino sudahlah jangan menangis oke? Kau ini berlebihan sekali sih? Aku, 'kan hanya tidak masuk Sekolah tiga hari!" ujar Sakura santai seraya mengelus pundak Sahabatnya itu.

Ino melotot ngeri mendengar penuturan dari sahabat pink-nya itu. "Tiga hari pantatmu! Apa kau tak sadar? Kau tidak masuk satu minggu Sakura, SEMINGGU! Aku khawatir padamu, aku tahu kau pasti masih terpukul dengan kepergian Ibu tirimu itu 'kan? Bahkan kau tak masuk selama seminggu." Lirih Ino membuat Sakura terdiam mematung.

"Satu minggu—? Bukankah hanya tiga hari?" gumamnya pada diri sendiri.

Deg!

"Astaga Sakura? Apa benar ini dirimu? Kemana saja kau seminggu ini? Kau tahu? Aku khawatir padamu, —merindukanmu!"

"setelah seminggu kau tak berada di ruang lingkup jangkauan jarak pandangku, aku merasa ... kehilangan. Kau tahu? Bahkan aku merasa sangat khawatir padamu! —Merindukanmu!"

Seminggu ...

Seminggu ...

Seming—

Deg!

Mata Sakura terbelalak lebar ketika menyadari hal ganjil yang Sasori ucapkan tadi. Ya, ternyata dia tak masuk Sekolah selama seminggu. Tapi, bukankah Ayahnya bilang ia tak sadarkan diri selama tiga ha—

Deg!

Sakura menghela napas lelah ketika menyadari siapa dalang dari keganjilan ini. 'Haah, dasar Vampire pantat ayam suka seenaknya sendiri! Berhentilah membuatku bingung bodoh! jelek! Bokong unggas menyebal—'

'Hn, aku dengar itu pinky!'

Deg!

'—kan ...' inner Sakura melotot ketika mendengar suara familiar yang masuk ke dalam kepalanya.

'Jangan tampilkan raut bodohmu itu pinky! Dan apa maksudmu memanggilku pantat ayam, bokong unggas?'

Sakura kembali memghela napas ketika Vampire itu kembali membuatnya bingung dengan telepati mendadak itu.

'Dengar wahai Vampire terhormat! Bisakah kau tidak melakukan sesuatu tanpa membuatku bingung? Dan masalah pantat dan bokong itu salahkan model rambutmu yang berbentuk tak lazim seperti bentuk bokong!' jawab inner Sakura sopan namun terkesan mengejek. Sebenarnya Sakura terkejut dengan keberaniannya mengejek Vampire itu, tapi entah mengapa ini rasanya sungguh sangat ... —menyenangkan.

'Hn, terserah padamu!'

"Hahaha ternyata dia kalah berdebat denganku eh? Hahaha!" Dan Sakura pun tanpa sadar tertawa penuh kemenangan dan semakin lama akhirnya Sakura pun menghentikan gelak tawanya ketika semua teman sekelasnya termasuk Ino —yang entah sejak kapan telah berhenti menangis pun— menatapnya aneh.

"Hey Saki? A-apa kau sakit?" tanya Ino sedikit menjauhkan tempat duduknya dari Sakura.

"Ah-haha aku tidak sakit Ino, hanya mengingat film parody tadi malam!" sahut Sakura gugup seraya menggaruk pipinya yang tak gatal. Ino hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir.

"Dasar! Ah ya, cepat ceritakan kondisimu selama seminggu ini! Dan kudengar Paman Kakashi sudah bebas ya? Bagaimana keadaannya? Hey lihat wajamu terlihat lebih cerah dan berbinar tak seperti biasanya. Kau pasti bahagia 'kan Saku? Aku senang dan bla, bla, bla ..." cerocos Ino tanpa jeda dan akhirnya waktu menjelang bel pertama berdenting pun Sakura habiskan menceritakan kondisinya selama seminggu itu dan tentu saja dengan diberi sedikit bumbu kebohongan karena bagaimanapun dekatnya Sakura dengan Ino, Sakura tak mungkin menceritakan perihal Vampire itu bukan? Hm, biarkanlah itu hanya akan menjadi rahasia antara dia dan Suke si Vampire penghuni menara itu.

-oOo-

.

.

.

.

-oOo-

Keesokan harinya

Tap ... deg!

Tap ... deg, deg!

Tap ... deg, deg, deg!

Tubuh Sakura mulai berkeringat dingin, kedua kakinya yang menaiki anak tangga yang menjulang melingkar itu sedikit gemetar. Ya, saat ini Sakura tengah berada di dalam menara dan kini Sakura dalam perjalanan ke kamar Vampire di atas menara tersebut dan entah mengapa setiap kakinya melangkah maka saat itu pula detakan jantungnya semakin meningkat drastis.

Ya, saat ini Sakura baru saja pulang Sekolah dan seperti perkataannya kemarin Sakura akan datang ke menara ini jika ia memiliki waktu luang. Jam telah menunjukan pukul tiga sore dan sepertinya Sakura masih sempat mengunjungi Vampire itu.

Sakura terus menghela napasnya agar tetap teratur. Huh, Sakura mulai merasa bodoh sekarang, seminggu yang lalu ia bahkan tak merasa takut atau pun canggung ketika tubuh telanjangnya dijamah oleh Vampire itu dan kemarin pun dengan terang-terangan ia berani mengejek Vampire itu walaupun secara tak berhadapan. Tapi tetap saja, 'kan? Haah ... sekarang ia harus bersikap bagaimana kepada Vampire yang sialan Sakura akui sangat tampan itu? Pertemuan pertama mereka mungkin Sakura bisa bernapas lega karena saat itu ia sedang kalut, tapi sekarang? Ia harus bersikap bagaimana dalam kondisinya yang normal seperti ini? Ah! Sakura mulai mengacak rambutnya frustasi dan—

Tap!

Deg!

Mata Sakura terbelalak lebar ketika tanpa ia sadari kini ia telah berdiri tepat di pintu kamar sang Vampire.

Haaah ... huffft ~

Sakura kembali menghela napasnya pelan lalu, —cklek! Sakura pun memutar kenop pintu tersebut dan, —kriet! Pintu berwarna hitam yang entah mengapa sangat bersih itu pun terbuka.

Tap!

Brug!

Setelah Sakura memasuki ruangan itu, gadis musim semi itu pun kembali menutup pintunya.

"Hn." Suara trendmark Vampire tampan itu membuat Sakura mendongkakan kepalanya yang sedari tadi menunduk dan —deg! Sakura sedikit terpana melihat penampilan Suke yang hanya terbalut kemeja hitam tanpa lengan dengan tiga kancing yang sengaja tak dikancingkan dan celana kain panjang dipadu dengan sepatu kain berwarna hitam pula.

Penapilan yang sangat err ... membuat Sakura sedikit merona. Oh ayolah! Vampire berkulit putih bak porselen itu memakai pakaian serba hitam tanpa jubah awan merahnya dan tentu saja membuat aura ketampanannya semakin kuat.

Sakura memejamkan matanya sejenak untuk menghalau pikiran konyolnya itu, lalu Sakura kembali membuka matanya dan menatap sepasang mata berbeda warna di depannya itu tajam.

"Apa kau yang melakukan semua ini padaku? Maksudku, kebebasan Ayah dan kematian Konan Ibu tiriku lalu Orochimaru juga apa semua ini kau yang melakukannya?" tanya Sakura dengan suara sedikit tercekat. Sakura masih berdiri di depan pintu yang tertutup itu, ya ia tak berani menghampiri Suke yang tengah berdiri membelakangi kaca jendela menara jauh di depannya.

"Apakah kau harus bertanya kembali? Tanpa bertanya pun aku yakin kau sudah tahu jawabannya bukan? Ini semua adalah sesuai permohonanmu Hatake Sakura, apa kau puas sekarang?" Ucap Suke seraya melangkah mendekat pada Sakura.

Tap!

Tap!

Tap!

Deg, deg, deg!

Semakin Suke mendekat maka saat itu pula jantung Sakura kian lama berdentum cepat dan semakin cepat. Napas Sakura pun semakin lama semakin terasa sesak karena detakan jantungnya yang di atas rata-rata itu.

Tap!

Kini Suke telah berdiri tegap menujulang tepat di depan Sakura, Sakura mendongkakkan kepalanya untuk melihat wajah Suke. Perbedaan tinggi badan mereka mengharuskan Sakura untuk mendongkak. Ya, tinggi tubuh Sakura hanya mencapai bahu Suke.

"Belum Suke, masih belum cukup! Bagaimana dengan lima pria bajingan yang telah menjamah tubuhku waktu itu?!" tanya Sakura dengan nada yang naik satu oktaf. Ya, Sakura masih sangat marah dengan lima bajingan busuk tersebut.

Suke menyeringai keji, "Mereka telah aku makan Sakura, kau bisa tenang sekarang. Kau puas?"

Deg!

Sakura sedikit membelalakan matanya namun detik berikutnya Sakura tersenyum tipis penuh kelegaan.

"Ya, aku sangat puas terimakasih Suke-sama. Aku tahu untaian kata terimakasih saja belum cukup bukan? Jadi apa yang kauinginkan dariku Suke-sama?" ujar Sakura dengan nada sopan. Ya, setidaknya ia harus berlaku sopan pada Tuannya bukan?

Suke menatap Sakura tajam. "Hn, kau harus cari tahu sendiri apa yang kuinginkan." Ujar Suke datar tanpa ekspersi dan ucapannya itu membuat Sakura mengerutkan kedua alisnya heran.

"Apa? Kau memintaku mencari tahu sendiri apa yang kauinginkan? Mana bisa seperti itu? Aku bukan seorang peramal Tuan Vampire yang terhormat! Dan aku pun bukan seorang Vampire yang bisa membaca pikiranmu! Aku hanya manusia biasa, jadi katakan apa yang kauinginkan?" sahut Sakura dengan nada sedikit kesal.

'Ha! Presetan dengan kesopanan! Vampire pantat ayam ini sungguh menyebalkan!' Inner Sakura berteriak berapi-api.

"Hn, aku tahu apa yang sedang kaupikirkan sekarang dan tidak ada bantahan! Kau harus cari tahu apa yang kuinginkan karena itu sudah menjadi tugasmu!" ujar Suke dingin.

Sakura hanya melongo tak percaya dan sebelum Sakura menyerap maksud dari ucapan Vampire tersebut tiba-tiba saja Sakura dikejutkan dengan tindakan Suke selanjutnya.

Ya, Suke mulai menunduk dan mendekatkan wajahnya ke arah Sakura. Kedua belah bibirnya mulai terbuka dan —chup! Suke telah berhasil menawan bibir mungil Sakura dengan bibir tegasnya. Suke mulai melumat bibir Sakura bergantian atas-bawah dengan lumatan lembut. Ya, ciuman ringan tanpa belitan lidah.

Chup!

Suke melepaskan bibir Sakura setelah ia menghisap dalam bibir bawah gadis musim semi itu. Kini Suke menempatkan bibirnya di sebelah pipi ranum merona milik Sakura. Setelah mengecup-ngecup ringan pipi Sakura, dengan perlahan tapi pasti Suke mulai menjulurkan lidah panjangnya dan—

Slurrrrp!

Tubuh Sakura serasa tersengat ribuan aliran listrik ketika Suke menjilati pipinya dengan gerakan sensual, membasahi permukaan pipi Sakura dengan saliva hangatnya. "Ahh ..." Sakura tanpa sadar mulai mendesah ketika Suke menjilat ujung bibirnya tanpa berniat menjilat permukaan ranum bibirnya dan tentu saja membuat Sakura merasa geli. Suke kembali menjilat pipi, dagu, dan lidah berujung runcing lembut itu turun menuju leher Sakura.

"Engh—!" hah, Vampire itu ternyata benar-benar membuat seorang Hatake Sakura terbuai dengan sentuhannya.

Tiba-tiba saja Sakura membuka matanya yang sedari tadi tertutup karena terlalu terbuai. "Tunggu Suke! Ano ... apa yang kaulakukan padaku selama seminggu sejak kejadian itu?"

Suke menghentikan aksinya dan kembali berdiri tegak, lalu ia memandang Sakura datar. "Tak ada. Hanya membuatmu tidur dan melakukan ritual pembersihan agar pikiranmu tenang dari beban-beban yang beberapa tahun ini kautanggung sendiri."

Sakura menatap Suke ragu, "Benarkah?"

"Kenapa? Apa kaukira aku telah menidurimu selama itu? Dengar baik-baik Hatake Sakura! Aku tidak akan pernah meniduri seorang gadis dengan sembarangan, karena aku akan meniduri seorang gadis yang sepenuhnya milikku! Bukan hanya raganya, tetapi jiwanya pun harus ia berikan padaku dengan tulus! Kau mengerti?"

"..." Sakura hanya diam menatap Suke dengan tatapan sulit diartikan.

Tanpa memerdulikan Sakura yang terdiam, Suke kembali melumat bibir Sakura dengan penuh gairah. Ya, tidak seperti ciuman tadi ... kini nafsulah yang mengambil alih.

Sakura hanya diam. Tak menolak dan tak membalas perlakuan Vampire tampan itu, ia hanya memejamkan matanya dan membiarkan Suke melahap bibirnya sepuas yang Suke inginkan. Ya, sepertinya mulai sekarang Sakura harus membiasakan diri dengan ciuman penuh gairah yang mungkin akan Suke lakukan setiap ia datang kemari.

Dua jam berlalu ...

Err, sepertinya dugaan Sakura salah. Sakura kira hanya akan mendapat ciuman saja tetapi lihatlah sekarang. Duduk mengangkang di sofa hitam dengan seragam sekolah yang sudah tak terkancing, bra hitam bercorak bintangnya telah tersingkap ke atas menampilkan kedua bongkahan sintal dengan kedua puting kecoklatan yang telah berdiri tegak dan jangan lupa dari leher hingga bawah pusar telah berhiaskan kissmark merah keunguan menandakan bahwa gadis itu telah memiliki sang pemilik.

Rok Sekolahnya masih terpasang apik dengan sesuatu bergerak-gerak di balik rok tersebut, kaos kaki hitam selututnya masih terpasang di kedua belah betisnya yang tengah memeluk bahu tegap di bawah sana. Di sisi tubuhnya terlihat sebuah kain hitam tipis berbentuk segitiga telah teronggok tak berdaya.

"Mmhh, nghh—ahh!" Sakura terus mendesah untuk yang kesekian kalinya. Kepalanya yang berada di sandaran sofa hitam itu mendongkak hingga tubuh topless-nya melengkung membentuk sebuah busur.

"Aaah, c-cukuph ... a-akuhh! Oaahhh!"

"..."

Makhluk Vampire di bawah sana tetap tak mengacuhkan rintihan yang keluar dari gadis yang tengah dia manjakan. Ya, Suke masih asik mengeluar-masukan lidah runcing nan panjangnya itu di sebuah gua hangat berkedut-kedut di depannya, tak lupa hidung mancung sang Vampire digunakan untuk menggesek sesuatu benjolan berbentuk biji jagung itu intens. Kedua tangan kekar Suke kini tengah mencengkeram dua bongkahan yang sedari tadi tak henti-hentinya bergerak gelisah.

"Astagahh, ohhh le-lebih dalamh Suke-kun! Ohhh —mhhh! Kyaaah!"

Tanpa sadar tangan Sakura terus menekan helaian raven mencuat itu ke paha dalamnya dan kembali tanpa sadar Sakura menggoyangkan bagian bawah tubunya berlawanan arah dengan sodokan lidah hangat di bawah sana dengan gerakan cepat sehingga membuat kedua dadanya bergoyang naik-turun. Tubuhnya menggenjang dan bergetar lalu tanpa sadar Sakura menyebutkan sebuah nama yang membuat sang Vampire tercengang.

"Aaaaaah Sasuke-kun!"

Deg!

Vampire itu terdiam sesaat mendengar gadis yang tengah dilanda orgasme untuk yang kesekian kalinya itu menyebutkan sebuah nama yang membuatnya tersenyum sendu.

'Aku merindukan nama itu ...' lirih Suke dalam hatinya getir.

Suke menggelengkan kepalanya lalu mulai menghisap buas cairan putih kental yang keluar dari lubang di depannya itu bagai orang yang kehausan.

Slurrrpp!

"Ahhhhh," setelah dirasa lubang kewanitaan itu telah kering akhirnya dengan perlahan Suke pun menurunkan kedua belah betis Sakura yang sedari tadi mengapit bahunya lalu Suke mulai mengeluarkan kepalanya dari balik rok Sekolah Sakura dan—

Slurp!

"Ahh!" Sakura kembali mengerang ketika Suke menghisap kedua putingnya bergantian dengan hisapan keras.

Plop!

Setelah melepaskan kedua puting itu Suke pun kembali berdiri dan melangkah menuju jendela dengan langkah santai. "Bersekanlah penampilanmu dan pulanglah, hari mulai petang!" ujar Suke datar tanpa menoleh kearah Sakura yang tengah memakai CD-nya dengan napas tak beraturan. Setelah CD-nya terpasang, Sakura mulai menurunkan bra-nya dan mulai mengancingkan seragam Sekolahnya.

Tap!

Kini Sakura telah berdiri tepat di ambang pintu dengan posisi membelakangi Sasuke yang tengah membelakanginya pula. "Aku pulang dulu Suke-ku—sama ..." dan Sakura pun pergi meninggalkan Suke yang tengah menatap langit senja dengan tatapan kosong.

"Hn."

.

.

.

.

.

Tap, tap, tap!

kulangkahkan kaki ini dengan susah payah menuju rumahku dengan langkah gontai. Hari mulai menggelap karena waktu memang telah menunjukan pukul enam sore lebih lima belas menit. Tubuhku rasanya masih sedikit bergetar karena mungkin akibat dari bagian bawah tubuhku yang paling sensitif telah berorgasme lebih dari tiga kali dalam waktu kurang lebih dua jam oleh makhluk Vampire itu dan jujur saja kewanitaanku terasa sedikit perih.

Haah ...

Lagi dan lagi aku hanya bisa merutuki kebodohanku yang kembali terbuai dalam setiap sentuhan yang Suke lakukan padaku. Jujur saja aku merasa tak keberatan ia melakukan itu padaku karena bagaimanapun ia berhak melakukan itu pada korbannya bukan? Hanya saja kurasa ia terlalu berlebihan, maksudku aku ini adalah gadis polos yang benar-benar polos.

Dia menyentuhku terlalu jauh, dia membuatku merasakan apa itu rasanya bercumbu dan berorgasme. Ya, walaupun kami tak melakukan hingga tahap bercinta tapi tetap saja rasanya aneh untukku. Oh ayolah bahkan aku tak pernah melakukan masturbasi dan kini aku telah diserang dengan serangan memabukan yang Suke berikan padaku bertubi-tubi. —Haah ... rasanya aku benar-benar sudah gila sekarang.

Tap!

Kini aku telah berdiri tepat di depan rumah yang terlihat rapi dan ... —deg! Aku sedikit membelalakan kedua mataku ketika melihat rumahku kembali di cat dengan warna hijau cerah dengan warna putih susu di bagian kusennya. Rumah ini kembali terlihat seperti rumahku dulu ketika Kaa-san masih hidup.

Ah ... pasti ini semua Tou-san yang melakukannya.

Tanpa pikir panjang aku pun berlari masuk ke halaman rumahku yang terhias banyak vas bunga dengan bunga lavender yang tertata rapi itu setelah aku melewati gerbang rumahku dan menutupnya kembali.

Dengan senyum bahagia aku pun membuka kenop pintu rumahku dan—

Cklek!

Brug!

Aku kembali menutup pintunya dan setelah itu aku pun mengganti sepasang sepatu putihku dengan uwabaki berwarna biru pucat milikku.

Tap!

"Tadaima!" ujarku dengan suara nyaring ketika aku telah selesai memakai uwabaki.

"Okaeri Sakura!" sahut suara baritone rendah dari dalam sana. Tak lama aku pun mendengar suara derap langkah kaki yang menuju kearahku dan di sana terlihatlah Ayahku yang berpakaian kaos hitam tanpa lengan dengan sebuah celana training hitam panjang yang membalut kaki jenjangnya tengah berjalan kearahku dengan senyuman menawannya.

"Tou-san ..." lirihku pelan.

Kulihat Ayah merentangkan tangannya dan tanpa pikir panjang aku pun berlari kearahnya lalu —bruk! Kupeluk tubuh Ayahku ini erat.

"Nee Sakura kenapa kau baru pulang hm?" tanyanya lembut seraya mengelus rambutku pelan.

"Aku ada kegiatan eskul Tou-san." Maafkan aku yang telah berdusta padamu Ayah.

"Hn, yasudah cepat bersihkan tubuhmu dan kita makan malam bersama oke? Tou-san sudah memasakan makanan favoritmu!" aku hanya bisa tersenyum haru ketika pada akhirnya aku pun bisa hidup dengan normal dan mendapat sambutan hangat seperti saat ini.

Terimakasih Suke-kun ...

Kulepaskan pelukanku lalu menatap Ayah dengan raut bahagia, "Ya Tou-san kalau begitu aku ke kamar dulu ya?"

Kulihat Ayah terkekeh geli lalu —Gyuuuuut! "Aaaawh sakit Tou-san—!" aku merintih kesakitan ketika Ayah mencubit kedua pipuku gemas.

"Haha ya sudah sana pergi ke kamarmu! Tou-san mau membuatkanmu susu dulu oke?" pada akhirnya aku hanya mengangguk patuh lalu aku pun melangkahkan kakiku menuju kamarku yang berada di lantai dua.

.

.

.

.

.

Bruk!

Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidurku dengan helaan napas lelah. Setelah membersihkan diri lalu menyantap makan malamku dan sedikit berbincang-bincang dengan Ayah aku pun pamit untuk istirahat.

Haaahh ...

Kutatap plafon kamarku dengan tatapan kosong. Hidupku sudah sangat damai sekarang. Sumber penderitaanku telah tiada, Ayah yang telah bebas dan mendapatkan pekerjaannya kembali, Sasori-sensei yang ternyata memiliki perasaan yang sama padaku lalu apalagi yang kurang? Seharusnya aku merasa bahagia bukan? Tapi —tidak! Ya, aku tidak akan pernah bisa hidup damai sebelum aku memberikan apa yang Vampire itu inginkan.

Ya, aku harus cepat mencari tahu apa yang Suke inginkan dan setelah itu aku akan menjalin hubungan dengan Sasori-sensei lalu hidup bahagia selamanya! Tanpa sadar aku tersenyum lebar dengan rencana hidupku itu. Hm, mulai besok aku harus berusaha mencari tahu apa yang diinginkan Suke.

Drrtt, drrtt, drrtt!

Aku sedikit terlonjak dari khayalan tingkat tinggiku ketika mendengar getaran ponselku dan ketika aku melihat layar ponselku ternyata—

From : AkaSasori

To : CherryHaruno

Subjek : Kencan?

Hai, Sakura. Ini aku Sasori ... hm, apakah besok kau ada acara? Mau keluar bersamaku?

—Mataku terbelalak lebar melihat isi Email tersebut dan— "Kyaaaaaaaaa Sasori-sensei mengajaku kencan!" aku menjerit kecil lalu tanpa buang-buang waktu aku pun membalas pesannya.

From : CherryHaruno

To : AkaSasori

Subjek : re : Kencan?

Hai juga sensei. Besok aku tak ada acara dan baiklah aku mau keluar bersama sensei.

Klik! dan —Email successfully sent!

Setelah melihat laporan pengiriman aku pun meletakan ponselku di nakas dan mulai memeluk guling kesayanganku bersiap menuju wonderland.

Ya, sepertinya aku akan mencari tahu apa yang Vampire itu inginkan seraya berkencan dengan Sasori besok. Siapa tahu aku akan mendapat pencerahan di luar sana, tapi aku harus bergerak hati-hati agar Sasori-sensei tak curiga padaku. Hm, aku harus cepat tidur.

Nee selamat malam Vampire mesum ...

'Hn ...'

.

oOo—


A/N : Ciyeeeeeee Misaki balik sama fict Vampire nih :D oke Readers-san, sebenarnya fict ini sudah selesai sejak tiga hari yang lalu. Well, karena Saya tahu para readers lagi pada ujian maka Saya publish hari ini deh :) Udah pada kelar 'kan? Ya, Saya juga lagi sibuk tugas Sekolah sih sebenernya, tapi Saya relain luangin waktu buat lanjut bikin cerita buat kalian loh ... dan semoga puas ya? Tuh Saya cekokin SasuSaku moment with lime-nya juga. Semoga asem ya? Wkwkwk —Terimakasih.

Sign, with love

UchiHaruno Misaki Isterinya Mbah Madara.

.

.

.

.

Balasan Review :

Manda Vvidenarint : Ciyeee yang seneng Konan udah mati :D Wahh maaf ya ga bisa dipanjangin lagi wordsnya T.T Review lagi?

Animea-Khunee-Chan : Masalah Suke yang pinjem tubuh orang lain itu karena ... nanti jawabannya di chapter depan :) Review lagi?

sgiariza : Ahaha maaf ya kalo kependekan, tapi Saya ga bisa perpanjang words-nya lagi. Maaf ya :3 Review lagi?

HazeKeiko : Ciyeeee yang lagi seneng karena kematian Konan :D Haha iya ini udah update, maaf telat ya ^^

Fitria Exo'L Hunhan Pyromaniac : Wahh makasih atas pengertiannya ya :') Ini udah Saya update dan semoga suka :D

rainy de : Kisah Suke akan diceritakan detail di chapter-chapter terakhir :) Suke minum darah ko, itu buktinya darah Konan dihisap habis sama dia hanya saja Saya tidak menjelaskannya secara detail ^^ Dan masalah fict Saya yang lain, ini juga lagi Saya usahain update ko :) Review lagi?

Viona Uchiha : Iya ini udah Saya lanjut ko :) Semoga suka ya :D Review lagi?

azizaanr : Hahaa maaf ga ada scene Saku jadi Vampire :3 Lihat saja kelanjutan ceritanya oke? :) Review lagi?

heni lusiana 39 : Makasih ya :) Eh maaf ya Saeng ngga bisa aku panjangin lagi wordsnya T.T Review lagi?

Ncriticts : Iya ini udah update :) Review lagi?

May : Iya ga papa asal review aja itu udah lebih dari cukup :) Ini udah update, maaf ya ga bisa ngebut T.T Review lagi?

dewaz : Sakura masih Virgin ko :) Tenang aja nanti Saya buatin hilangnya ke-virginan Sakura detail tanpa skip xD Review lagi?

guest : Maaf ya ngga bisa dipanjangin lagi T.T Haha iya Sasuke mesum xD Review lagi?

Tiara Blackpearl : Ahahaha makasih udah review 4 chapter sekaligus ya Tiara-san :D Aouhh maaf ya kalo kamu ngga suka lemon Mbah kece xD Mau lemon SasuSaku? Tuh udah Saya bikinin. Ya, walaupun hanya lime ... semoga kamu suka ya ^^ Review lagi?

Y O G : Iya ini udah lanjut :) Jangan nangis xD Review lagi?

cherryl sasa : Suke suka sama Sakura? Entahlah xD Ini udah Saya lanjutin :) Review lagi?

mira cahya 1 : Wahh makasih ya udah suka sama fict ini dan ya sama-sama. Saya akan dengan senang hati terus bikin SasuSaku fict :) Iya nanti Itachi akan muncul dan untuk akhir dari cerita ini masih Saya pertimbangkan. Entah itu akan Happy ending atau Sad Ending atau bahkan Gantung Ending xD Haha becanda :p Review lagi?

yosikhan amalia : Iya yang bunuh Mbah Oro itu Suke tapi dianya pinjem tubuh Ten-ten :) Iya Sasori sama Ten-ten manusia dan ini udah lanjut, ikuti terus ceritanya oke? :D Review lagi?

kim la so : Buat nama Suke itu Saya punya alesan ko kenapa pake nama itu :) Nanti akan dijelaskan di chapter-chapter terakhir :D Ah dan siapa Sasori sebenarnya pun akan dijelaskan nanti, maka dari itu ikutin terus ceritanya ya ^^ Review lagi?

Tsurugi De Lelouch : Iya Sakura udah ngga papa Kak :) Aku ngga mau bikin konflik yang terlalu dalem buat fict ini :D Ehehe si Suke ngga ngapa-ngapain Saku ko ... dia cuma rape Saku dikit xD Makasih ya Kak :) Review lagi?

Hydra Hillaeira : Haha iya-iya! Tuh udah aku cekokin SasuSaku moment buat kamu Hilla! Sekalian tuh limenya juga, semoga berhasil buat kamu panas dingin ya! xD Oke review lagi ya!

ikalutfi97 : Makasih ya :) Ini udah update, review lagi?

palvection : Maaf ya kalo Sakuranya sedikit di chapter kemarin :') Ini udah Saya usahakan full SasuSaku, semoga suka :D Review lagi?

Aeni : Iya ini udah update, maaf ya lama :') Review lagi?

Haruka no Tsuki : Iya ngga papa ko asal tetap tinggalin jejak ya? Ini udah dilanjut :) Review lagi?

Haruka Smile : Haha iya ini udah dilanjut, tapi maaf Saya ngga bisa update kilat T.T Review lagi?

Rei Hanna : Haha ngga ko. SasuSaku ngga ngelakuin 'itu' Suke cuma mencumbu tubuh Sakura doang tidak bercinta xD #Plak! Oke review lagi?

Restychan : Iya ini udah dilanjut :) Review lagi?

nurulita : Makasih :) Maaf ya ga bisa update kilat T.T Review lagi?

Najiha Hizaki Anzu : Aku di tingkat akhir senior Kak, iya pasti Sekolah nomor satu dong :D Maaf baru update ya Kak, aku baru kelar dari UAS kemarin dan sekarang pun aku lagi fokus buat UN dan mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi di Universitas yang kuinginkan. Iya makasih ya Kak, insya Allah aku akan tetap semangat nulis walau disibukan tugas Sekolah :D

eci nindy : Iya ini udah dilanjut dan tuh Saya kasih lime SasuSaku juga. Ya, walau ga hot :3 Semoga suka ya :D Iya ga papa baru review juga asal kamu tetap meninggalkan jejak walau telat :) Review lagi?

Mademoisellenna : Haha iya :) Bingung? Wah maaf ya udah bikin kamu bingung tapi tenang ... nanti semuanya akan terungkap di chapter-chapter terakhir ko :D Dan maaf ya, untuk lemon di chapter ini ada walau lime xD Nah nanti juga bakalan ada Lemon SasuSaku yang Explicit di chapter depan :D Review lagi?

mii-chanchan2 : Ini udah update :) Maaf ya Saya lagi sibuk tugas Sekolah jadi ga bisa update cepet ^^ Review lagi?

yuura brena : Wahahahaaa iya-iya makasih ya udah suka sama fict Saya yang satu ini :D Iya ga papa baru review juga yang penting itu kamu ninggalin jejak walau telat :) Ah, buat nama Suke iya nanti ada penjelasannya ko di chapter-chapter terakhir :D Dan maaf ya baru update sekarang T.T Review lagi?