jeng jeng jeng... chapter 3
" Eh Hinata kau sedang di sini juga" suara Sakura mengagetkan Hinata yang tengah berdiri mematung dan bertatap-tatapan dengan Naruto.
"Eh i...iya " Hinata tergagap "Kalian mau menengok Daichi chan ?" Hinata berucap sambil tersenyum. Ia membuka pintu lebar-lebar mempersilakan tim 7 beserta senseinya masuk.
Naruto yang sudah berjanji dalam hati untuk bersikap seceria mungkin, merasa keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Apa Hinata sudah menceritakan apa yang dilakukannya pada teman-temannya, apakah mereka akan membencinya, Naruto bertanya-tanya dalam hati.
" Oy Naruto, sini..." Naruto tiba-tiba merasa diseret oleh seseorang. Ia menoleh dan melihat Sakura sedang menyeretnya kearah kerumunan. Ternyata bukan hanya Hinata yang datang, ia melihat Kiba, shino, chouji dan akamaru juga terlihat sedang berkumpul di rumah Kurenai sensei.
"Hinata... aku bingung apa yang harus dimasukan dulu, sayurnya atau dagingnya?" Ino tiba-tiba datang keruangan dengan nada panik.
Tanpa mengatakan apapun Hinata segera menghilang keruangan lain, diikuti oleh Ino. Kurenai sensei yang sedang menggendong bayi tersenyum kearah mereka
"Sepertinya ruang tamunya sudah tidak muat, ayo pindah saja keruang tengah" kata Kurenai sensei ramah.
Segera saja mereka semua pindah ruangan. Naruto mengikuti rombongan itu pindah dengan berat hati. Ia berpikir bahwa malam ini akan menjadi siksaan baginya. Dari ruang duduk ia bisa melihat ruang makan dan dapur. Ia bisa melihat Hinata dan Ino sibuk memasak. Naruto bisa mencium Aromanya yang lezat.
" Hinata tolong tambah makanannya ya, kita kan kedatangan 4 orang tambahan." Kurenai sensei berseru sambil membenarkan gendongan Daichi, "apalagi ada pahlawan konoha disini" Kurenai melirik jahil kearah Naruto. Sementara Naruto hanya tersenyum kaku.
" Baik sensei" terdengar suara Hinata yang lemah lembut dari dapur.
Semua orang diruangan itu pasti menyangka Hinata akan memerah dan salah tingkah mendengar apa yang dikatakan senseinya, tapi Naruto yakin wajah Hinata pasti langsung pucat mendengarnya. Wajah pucat itu lah yang menjadi mimpi buruknya akhir-akhir ini.
"Sebaiknya aku bantu mereka sensei" Sakura segera beranjak dari duduknya.
" Tidak usah! " kontan mereka semua mencegah Sakura. 'keahlian' Sakura memasak sepertinya sudah menjadi rahasia umum dikalangan mereka. Sementara Sakura mengernyit ketika melihat beberapa wajah teman-temannya memucat, bahkan Shikamaru sudah memegang tangan Sakura agar tidak beranjak dari tempat duduknya.
" Kalian kenapa sih? Kalian membiarkan Ino memasak tapi aku tidak boleh memasak, kemampuanku dengan Ino dalam hal memasak kan tidak kalah jauh " Sakura mendelik kearah teman-temannya.
" Jangan samakan aku denganmu jidat...aku sekarang sudah ahli memasak" Ino mengerling kearah Sakura. " Tentu saja semua ini berkat engkau pahlawanku"lanjut Ino sambil menghadap kearah Hinata menangkupkan tangan dengan dramatis. Sementara Hinata bolak-balik membawa makanan kearah meja makan sambil tersipu-sipu malu.
" Kami memang tim paling beruntung" ucap Kiba bangga, "Kami tak pernah makan makanan tidak enak jika menjalankan misi bersama Hinata " Kiba sekarang berjalan ke arah Hinata yang sedang mengaduk sup.
" Ooooooh...Hinata chan jadilah istriku" sekarang Kiba malah mempraktikan adegan-adegan film saat melamar seseorang. Semua orang yang melihat adegan itu tertawa, kecuali Naruto tentu, sementara Hinata hanya tersenyum sambil menahan malu.
" Jangan menggodanya Kiba... kau akan gendut dalam hitungan bulan jika Hinata menjadi istrimu " kata Shikamaru menggoda. "Paling tidak kau bisa minta tolong Hinata untuk mengajari calon istrimu memasak agar kau bisa makan dengan layak" lanjutnya.
" Aku bisa mengajari Temari san memasak Shikamaru kun" balas Hinata kalem. Mendengar Hinata membalas komentar Shikamaru semua orang tertaw, apalagi sekarang wajah Shikamaru sudah memerah. Sebenarnya Shikamaru bisa saja menggoda Hinata soal Naruto, tapi Shikamaru dapat melihat interaksi Naruto dan Hinata tidaklah bagus.
Sejak berakhirnya perang Shikamaru dapat melihat Naruto menghindari Hinata, Hinata lah yang berusaha tampil biasa. Ia tahu Hinata juga menyadari Naruto menghindarinya. Shikamaru menduga bahwa Hinata sudah menyatakan perasaannya, namun ia tak tahu bagaimana tanggapan Naruto. Yang pasti pernyataan Hinata tidak diterima. Jika tidak ditolak pasti pernyataannya belum dijawab. Saat 2 minggu yang lalu ia mendengar Naruto dan Sakura pergi kencan, ia menduga Hinata pasti ditolak. Ino sempat marah karena menganggap Sakura tidak punya empati sebagai sesama perempuan. Namun Hinata hanya tersenyum dan menenangkan dengan wajah pucat. Sejak saat itu mereka sangat hati-hati menjaga perasaan Hinata. Mereka menghindari menyebut nama Naruto jika didekat mereka ada Hinata.
Malam ini Shikamaru melihat interaksi keduanya makin aneh. Bukan hanya Naruto yang menghindar, Hinata juga berusaha sejauh mungkin dari Naruto. Menghindari kotak mata dan wajah Hinata yang akhir-akhir ini makin pucat, tadi juga bukannya makin cerah malah bertambah pucat secara drastis setelah Naruto datang. Baru kali ini juga Shikamaru melihat wajah Naruto pucat.
" Oooooh jadi kau sering mengajari Ino masak ya Hinata? " Sakura melayangkan senyumnya kearah Hinata. Sejujurnya ia juga merasa sedikit bersalah melihat Hinata. Ia tahu Hinata sudah menyukai Naruto sejak bertahun-tahun yang lalu, tapi 2 minggu yang lalu dia malah kencan bersama Naruto.
" Kalau tidak ada misi biasanya kami menjenguk Daichi kun Sakura, kan Daichi kun anak sensei Ino juga " kata Hinata sambil menyuguhkan senyum manisnya, melihat senyum Hinata, Sakura makin merasa bersalah. " lagi pula hanya itu yang bisa kami lakukan untuk membantu sensei agar tak kerepotan mengurus Daichi kun sendirian" lanjutnya masih sambil tersenyum.
"Hinata ini jamurnya diapakan?" teriak Ino panik, Hinata yang melihat Ino panik segera meninggalkan meja makan yang tengah ditatanya.
"Di sate saja Ino chan" kata Hinata sambil mengeluarkan sutuk sate dari lemari makan.
"Sate jamur " seru Kiba sambil berkaca-kaca, sementara Ino hanya melongo melihat Hinata mulai menyiapkan bumbu.
"Memang bisa?" tanya Ino heran
" Bisa kok, aku menemukan resep ini waktu menjalankan misi dengan tim 8, waktu itu kita hanya punya jamur dan tidak punya air yang cukup untuk dibuat sup, tapi hasilnya enak kok... Kiba saja masih sering minta dibuatkan" kata Hinata sambil tertawa.
"Sebentar lagi makanan siap, jamurnya tidak perlu dimasak lama-lama...kalian semua siap-siap makan saja dulu" kata Hinata melihat kearah teman-temannya.
"Baiklah kalian makan saja dulu...Daichi kun juga perlu minum asi" kata Kurenai sambil beranjak ke kamar untuk menyusui putranya.
Hinata dan Ino hilir mudik menyiapkan makan sementara para lelaki mengobrol tentang misi yang baru-baru ini tim Shikamaru lakukan. Sakura benar-benar merasa aneh hanya ikut duduk bersama para Shinobi itu. Sakura melirik Naruto yang kelihatan mendengarkan penjelasan Shikamaru, tetapi jelas sekali bagi Sakura pikiran Naruto sedang berada entah dimana. Sakura kembali memperhatikan Ino yang kompak sekali dengan Hinata saat menyiapkan makanan sambil sesekali mengecek jamur yang dibakar. Baru sekarang ia menyadari ia dan Ino tidak seakrab dulu. Awalnya karena mereka berebut Sasuke, tapi sekarang entah kenapa ketika Sakura ingin memperbaiki hubungan mereka, jarak mereka sudah terlalu jauh. Ia memandang iri Hinata, hampir semua orang menyayangi Hinata, bahkan sekarang Ino lebih terlihat akrab dengan Hinata daripada dengan Sakura.
Mereka semua benar-benar menikmati masakan Hinata dan Ino. Bahkan mereka tidak malu-malu minta tambah.
" Itu yang masak Ino chan sendiri lho..." kata Hinata sambil melirik Ino yang tampak malu-malu begitu Kiba minta tambah sup aburage yang sudah Hinata ajarkan berkali-kali pada Ino.
" Benarkah?" tanya Sakura tak percaya, ia yang berniat minta tambah, begitu tau yang membuat Ino, ia langsung mengurungkan niatnya.
" Bagus Ino sebentar lagi kau pasti punya pacar" kata Kiba asal
"Kau kira aku tidak laku?" Ino mendelik sebal pada Kiba.
"Kau kan minta diajari memasak supaya cepat punya pacar kan?"
" Aku belajar memasak karena menurut ayah ku seorang laki-laki lebih suka punya istri yang bisa masak dan mengurus rumah, daripada istri yang hanya bisa membanting suaminya kelantai, lihat Temari saja sudah punya Shikamaru tapi kalau sedang dikonoha pasti mencari Hinata untuk belajar masak" Ino bekata panjang lebar sambil menuangkan kuah sup aburage tanpa mengikut sertakan aburagenya. Ia pikir biar saja Kiba kembung karena terlalu banyak makan kuah supnya. Sementara itu Pipi Shikamaru memerah mendengar kata-kata Ino.
" Kenapa tidak ada dadar gulung?" tanya Shikamaru santai sambil berusaha mengontrol rona pipinya.
" Hinata tidak tahan bau telur, kau mau tanggung jawab kalau Hinata hampir pingsan lagi gara-gara kau memaksa membuat dadar gulung seperti kemarin" sekarang Ino mengarahkan sorotan matanya yang galak pada Shikamaru. " kalau mau dadar gulung, sana minta temari buatkan dadar gulung, dulu waktu kau ajak temari kemari kami sudah mengajarkannya" semprot Ino galak.
"hhhh... merepotkan" dengus Shikamaru
Sementara Naruto yang diam-diam mendengarkan percakapan itu merasa heran, apa itu karena kehamilan Hinata pikir Naruto. Naruto dulu sekali pernah mendapatkan misi untuk membelikan oden (makanan rebus untuk musim dingin), padahal saat itu sedang musim panas ( sebenarnya ia ingin menolak misi itu, tapi karena nyonya yang meminta adalah istri orang penting, ia tak bisa menolak). Setelah Naruto susah payah mendapatkannya, saat sang nyonya akan memakan oden, baru mendekati oden itu dan mencium baunya saja nyonya itu langsung menutup hidung dan pergi muntah-muntah dikamar mandi. Naruto hanya melongo. Saat ia bertanya pada nenek Tsunade katanya orang hamil memang jadi sensitif.
###
" Hati-hati dijalan" Kurenai melambaikan tangan ketika ia mengantarkan tamu-tamunya pulang.
Sementara Naruto merasa bahwa rencananya untuk seceria mungkin hari itu gagal total. Ia bahkan hanya mengucapkan sepatah dua patah kata malam itu.
" Oy Naruto, kau yang mengantar Hinata pulang ya...apartemenmu kan searah dengan mansion hyuga, lagi pula kemarin saat kau mabuk, Hinata juga yang membantumu pulang." Kata Kiba enteng.
seluruh tubuh Naruto langsung kaku, sementara Hinata entah kenapa wajahnya semakin pucat. Naruto bingung mencari alasan untuk menghindar, ia tak menemukan satu alasan pun untuk menghindari Hinata.
"a...ano Kiba kun, aku ada janji dirumah sakit" kata Hinata halus
" eh...kau masih bantu-bantu dirumah sakit Hinata?kok tidak pernah ketemu?nanti coba aku cari jadwalku, aku bisa tukar dengan ninja medis lain biar bisa satu shift denganmu bagaimana?" cecar Ino semangat. Sementara Sakura heran, ia sering sekali satu shift dengan Ino, tapi Ino biasa-biasa saja.
" Ng... tidak, aku Cuma mau priksa saja, Cuma kurang enak badan sedikit"
"Kau sakit...? memang kau kelihatan pucat, kenapa tidak bilang dari tadi?aku kan bisa memeriksamu?" tawar Sakura ramah. Sakura bertekad ingin bergabung ke persahabatan Ino dan Hinata. Naruto dan Sasuke memang sahabat yang baik, tapi kadang ada hal-hal bisa dibicarakan oleh perempuan. Ia salah..., di masa lalu ia hanya fokus menjadi kuat sehingga bisa membawa pulang Sasuke ke konoha, ia lupa berinteraksi dengan teman-teman yang lain. Memang mereka masih teman, namun kedekatan Ino dan Hinata membuat Sakura iri.
"Tidak usah Sakura san, kau pasti lelah sudah bekerja seharian lagipula aku sudah punya janji di rumah sakit, trimakasih atas tawarannya" Hinata menolak halus. Sakura merasa agak kecewa mendengarnya.
" Biar aku antar" kata Sasuke datar
" Tidak usah Sasuke kun, aku tidak mau merepotkan"
" Aku memang ingin mengantarmu" Sasuke berkata tegas.
" Sasuke aku benar-benar bertrimakasih kau mau mengantarku, tapi aku bisa berjalan kesana sendiri " suara Hinata juga tak kalah tegas. Yang lain hanya diam dan melongo melihat interaksi Sasuke dan Hinata. Sasuke dan Hinata kini saling menantang dengan pandangan matanya.
" Hinata sudahlah...Sasuke sudah berbaik hati ingin mengantarkanmu" bujuk Kiba, "bisakah kau mengantarnya juga pulang ke rumah Sasuke, wajahnya pucat sekali, aku takut ia pingsan dijalan" Kiba bertanya pada Sasuke.
" Tak masalah " jawab Sasuke datar
Sakura melihat kejadian tak biasa ini berusaha sekuat tenaga menahan rasa cemburu dan sakit hati. Bertahun-tahun ia berteman dengan sasuke tak pernah sekali pun sasuke menawarkan diri mengantarnya pulang. Ia memang kencan dengan Naruto 2 minggu lalu, namun bukan berarti rasa sukanya pada Sasuke yang sudah bertahun-tahun ada bisa tiba-tiba menghilang begitu saja.
Sementara itu, Naruto tengah sibuk menghindari pandangan menuduh teman-temannya. Ia tahu bahwa penolakannya mengantar Hinata memang sangat kentara. Teman-temannya memang tidak terang-terangan menunjukannya. Tapi Naruto yang bertahun-tahun menerima berbagai macam pandangan dari orang-orang desa karena ia jinchuriki, bisa merasakannya.
####
###
###
haloooo semua ni gw update lg
hm... gak terlalu keliatan si konfliknya
gw cm mw ngegambarin gimana interaksi mereka setelah perang
btw kemaren-kemaren kan ada yang protes tuh kenapa umur 17...soalnya ini setting abis perang, pas perang aja naruto umur 16 jalan ke 17, masa perangnya mpe 3 taonan. itu juga kenapa naruto bisa keliatan jahat
gini deh logika aja misal ada anak pinter bgt, sekolah rangking satu paralel, ayahnya punya rumah sakit, anak tunggal, trus dia ngehamilin cewek. mending kalo dia suka ma ni cewek, masalahnya cewek itu cm temen biasa. nah menurut lo2 pada ni anak dengan senang hati mau tanggung jawab gak?
crita diatas mirip2 ma sikon naruto kan?
oh ya ada yang tanya kenapa updatenya cepet...soalnya critanya udah ada, blm selesai si, chapter 3 ma 4 udah ada, tinggal di edit2 doang. chapter lima jg udah jalan...makanya ni gw update (trauma harddisk rusak data-data ilang semua, makanya kalo udah diedit langsung update)
ok jangan lupa review y... ^_^
