Ya, sepertinya aku akan mencari tahu apa yang Vampire itu inginkan seraya berkencan dengan Sasori besok. Siapa tahu aku akan mendapat pencerahan di luar sana, tapi aku harus bergerak hati-hati agar Sasori-sensei tak curiga padaku. Hm, aku harus cepat tidur.
Nee selamat malam Vampire mesum ...
'Hn ...'
Enjoy Reading~
BAB 6
—oOo—
Sakura merasa ada yang tak beres selama ia masuk ke Sekolah lagi, ya lebih tepatnya hal aneh itu adalah ia tak pernah melihat Hinata lagi, kemana gadis itu? Padahal ia ingin tahu apa yang terjadi pada Hinata setelah melakukan perjanjian dengan Suke.
Sakura duduk dengan gelisah di kursinya, dengan ragu Sakura pun menoleh pada Ino. "Umm ... Ino?" ujar Sakura pada Ino yang tengah asyik dengan novelnya.
"Hm?" sahut Ino tanpa mengalihkan tatapannya dari novel yang sedang ia baca.
Sakura mengigit bibirnya gugup. "Etto ... Hinata kemana? Kenapa selama seminggu ini aku tak melihatnya? Bukankah biasanya ia selalu menjadi pusat perhatian?"
Brak!
"Apa?" Ino membanting novelnya tanpa sadar. Melihat tatapan seluruh teman sekelasnya itu menatap tajam padanya, maka Ino pun hanya mampu cengengesan seraya meminta maaf.
"Hn?" Sakura mengangkat sebelah alisnya ketika melihat tingkah Ino yang terlalu berlebihan.
Ino kembali menatap Sakura lalu menepuk jidatnya pelan. "Kau belum tahu ya? Aa—souka! Kau, 'kan tidak masuk Sekolah saat kejadian itu tersebar." Ucap Ino seraya menggeleng prihatin.
Sakura menatap Ino serius. "Kejadian apa?" Tanyanya penasaran.
"Hinata menghilang! Apartemennya pun terlihat berantakan ketika pihak kepolisian hendak menyelidiki hilangnya gadis itu di apartemennya." Ucap Ino dengan wajah serius.
Sakura sedikit membelalakan matanya, "Apa? Hilang? Bagaimana bisa?"
Ino mengedikkan kedua bahunya lemah. "Entahlah, tidak ada yang mengetahui kenapa Hinata menghilang dan di mana Hinata sekarang. Haah ... sungguh sangat disayangkan ya? Padahal ia sudah berubah menjadi gadis cantik beberapa bulan belakangan ini." Dan setelah mengatakan itu, Ino kembali membaca novelnya serius.
Sakura terdiam mematung, dan tanpa Sakura sadari kedua tangannya kini tengah bergetar hebat.
'Apakah ini adalah ulah Suke? Apa Suke yang membuat Hinata hilang? Jangan-jangan Hinata sudah ... mati? Ya Tuhan, apa Suke juga menginginkan nyawaku? Tapi tidak mungkin! Jika iya, kenapa ia tak membunuhku sekarang? Apa yang sebenarnya Vampire itu inginkan? Aku harus memastikannya!' batin Sakura penuh tekad.
Dua bulan lebih setelah melakukan perjanjian dengan Suke kehidupan Sakura mulai berubah. Ayahnya sudah kembali mendapat pekerjaan untuk membiayai hidup mereka, gaji yang didapat dari pekerjaan Kakashi sekarang juga terbilang besar dan itu bisa dijadikan sebagai biaya kuliah Sakura hingga lulus nanti.
Di Sekolah pun hubungan Sakura dan Sasori semakin dekat, tentu saja itu membuat Sakura benar-benar senang, tapi ia masih belum mengetahui apa yang harus ia berikan pada Suke untuk menebus itu semua. Padahal sudah dua bulan ini Sakura berusaha mencari di internet apa yang biasanya seorang Vampire inginkan dari korbannya, dan data yang muncul adalah sesuatu yang membuat Sakura frustasi. Bagaimana tidak? Semua data yang ia dapatkan dari internet adalah ...
'Seorang Vampire tentu menginginkan darah atau nyawa dari korbannya.'
Masalahnya yang membuat Sakura frustasi adalah ... Vampire itu sepertinya tidak menginginkan nyawanya atau darahnya! Jika iya, seharusnya Suke sudah melakukannya dari awal bukan? Karena terlalu sibuk memikirkan apa yang Suke inginkan dan sibuk dengan pelajaran Sekolahnya: mengingat dua bulan lagi ia akan melaksanakam ujian kelulusan membuat Sakura buta dengan sesuatu yang terjadi di sekitarnya.
Bahkan ia baru sadar Hinata tidak ada di kelasnya, dan jujur saja kabar hilangnya Hyuuga Hinata membuat Sakura sedikit was-was. Kini muncul pemikiran negatif di kepala Sakura, saat itu bukankah Hinata membuka seluruh pakaiannya di depan Vampire itu? Apa benar ia memberikan tubuhnya pada Suke? Tapi mengapa Hinata menghilang?
Deg!
Jantung Sakura berdebar kencang dan keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Akhirnya Sakura mengambil kesimpulan bahwa Hinata salah mengartikan keinginan Suke dan akhirnya Suke menghilangkan Hinata.
Benarkah?
Sakura melirik ke seluruh penjuru kelasnya yang entah mengapa terasa sangat mencekam dengan tatapan was-was. 'Aku harus memastikannya.' Batinnya gelisah.
.
.
.
.
.
Sore harinya Sakura kembali mendatangi menara itu untuk menemui Suke, ya ia ingin tahu lebih jauh apa yang terjadi pada Hinata.
Brak!
Sakura membuka pintu tempat Suke dengan kasar. Tanpa menghiraukan tatapan dingin yang Suke berikan, Sakura berjalan cepat ke arah Suke dan kini telah berdiri tepat di depan Suke yang tengah duduk di sofa.
"Apa yang terjadi pada Hinata? Aku tahu kau yang membuatnya menghilang bukan? Apa yang kaulakukan padanya? Dan di mana Hinata sekarang?" tanya Sakura tajam.
Tep!
Bruk!
"Eh?" Sakura sedikit terkejut ketika tiba-tiba Suke menarik pergelangan tangannya hingga kini Sakura jatuh tepat di pangkuannya. Wajah Sakura sedikit merona ketika menyadari posisinya sedikit ekstrim, bagaimana tidak? Kini Sakura tengah duduk mengangkang di pangkuan Sang Vampire, dan kembali rona merah itu bertambah ketika Sakura merasakan sesuatu yang besar menekan permukaan kewanitaannya yang masih terlapis oleh celana dalamnya.
Suke melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sakura erat. "Hn, aku tidak suka kau datang tanpa sebuah salam pembuka Nona Hatake." Ujar Suke dingin seraya menatap gadis musim semi itu tajam.
Sakura hanya mampu mendengus seraya memalingkan wajahnya jengah. "Itu tidak penting—Akh!" Sakura sedikit meringis ketika Suke mencengkeram sisian pinggang rampingnya erat.
Wajah Suke mengeras dan kedua manik matanya yang merah berubah menjadi semakin merah pekat, dan jujur Sakura merasa takut sekarang.
Suke mencengkeram dagu Sakura erat dan mendekatkan wajah Sakura padanya. "Kau harus tahu satu hal Sakura. Salam pembuka itu sangat penting untukku! Apalagi jika itu keluar dari mulutmu—gadis milikku. Dan lagi aku takkan melupakan bahwa kau sedang dekat dengan pria merah itu, kau tahu dengan peringatanku dulu bukan?" Desis Suke penuh amarah. Sakura mengangguk kaku seraya menatap dalam kedua manik Suke.
Deg!
Deg!
Deg!
Kembali Sakura merasakan dadanya berdebar kencang setiap ia berada tepat di dekat Suke, sungguh Sakura tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Mungkinkah ia—tidak! Itu pasti tidak mungkin. Pikirnya tak percaya.
"Nee Suke-sama ... aku datang untuk menemuimu. Maafkan aku, dan Sasori-sensei dia hanya ingin berteman denganku, kami tak memiliki hubungan apapun." Ujar Sakura pelan.
Suke menyeringai tipis, lalu kembali memeluk pinggang Sakura posesif. "Hn." Sahutnya seperti biasa.
Sakura melirik wajah Suke yang berada sepuluh senti tepat di depannya itu ragu. "Jadi, apa yang terjadi pada Hinata?"
Suke menatap wajah Sakura dalam. "Itu bukan urusanmu, di mana gadis itu dan apa yang kulakukan pada gadis itu bukanlah urusanmu. Yang pasti, gadis itu telah menerima resiko karena ia tak bisa memenuhi keinginanku." ucap Suke datar seraya membelai pipi Sakura dengan tangan kanannya lembut.
Deg!
Sakura berusaha menelan salivanya dengan susah payah. "Gadis? Hinata masih seorang gadis? Bukankah ia sudah memberikan tubuhnya padamu?" tanya Sakura sedikit tercekat.
"Hn, tidak. Dia memang memberikan tubuhnya padaku, tapi sudah kukatakan bukan? Aku tak akan menyetubuhi korbanku jika ia tak memberikan jiwanya dengan tulus padaku," ucap Suke menatap Sakura dalam, "aku tak pernah meniduri gadis itu." Lanjut Suke penuh penekanan.
Entah mengapa Sakura merasa lega ketika mendengarnya, perlahan Sakura menyentuh kedua bahu Suke dan menatap wajah Suke kosong. "Sebenarnya apa yang kauingankan? Kau tidak meminum darahku ataupun menyetubuhiku. Aku bingung, sebenarnya apa yang kauinginkan? Katakan padaku!" lirih Sakura pelan.
Suke tersenyum datar. "Aku tak butuh apapun darimu, yang pasti yang kuinginkan bukan hanya tubuhmu sayang," ujar Suke seraya menatap wajah Sakura dalam dan wajah Sakura sontak saja merona ketika mendengar panggilan —Sayang— yang Suke tunjukkan padanya, "tapi aku juga butuh ini." Lanjut Suke seraya menunjuk dada Sakura.
Sakura terdiam di pangkuan Suke, ya gadis itu mencoba mencerna setiap perkataan Suke dan sialnya Sakura tak dapat menebak teka-teki yang Vampire tampan itu berikan.
Menghela napasnya sebentar, Sakura pun melepaskan tangannya dari bahu Suke. "Sampai kapan batas waktuku untuk menemukan apa yang kauinginkan?" Tanya Sakura serius.
Suke membelai rambut merah muda sepunggung Sakura lembut. "Hn, aku selalu memberikan batas waktu sampai 100 hari dari perjanjian itu dibuat. Ini sudah dua bulan tiga minggu dari janji yang telah kita buat, maka satu minggu lagi adalah batas waktumu untuk menemukan apa yang kuinginkan Sakura, dan kuharap kau berhasil menemukannya."
Setelah mengatakan itu, Suke dengan wajah dinginnya mulai membuka 3 kancing teratas kemeja Sakura.
Chup!
Vampire itu mulai mengecup dan mencium leher jenjang Sakura lembut, melingkarkan lengannya semakin erat di pinggang ramping Sakura sesekali lengannya turun meremas bokong sintal Sakura dan Sakura pun hanya diam menikmati segala sesuatu yang Suke lakukan padanya.
Ya, sentuhan Suke sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Sakura setiap ia mengunjugi mahluk Vampire itu, setiap ia datang pasti akan berakhir dengan sebuah sentuhan fisik yang Suke lakukan padanya, walaupun Sakura hanya bertindak pasif dalam artian Sakura hanya diam tak menolak atau pun membalas. Suke tetap tak pernah absen melakukan skinship pada gadis musim semi itu.
-oOo-
.
.
.
.
-oOo-
Tuk, tuk, tuk!
Sakura menopang dagunya seraya mengetukkan jari lentiknya di meja kasir. Waktu telah menunjukkan pukul enam petang, dan kini ia tengah menunggu toko buku Jiraya yang terlihat lenggang itu.
Puk!
"Eh?" Sakura terkejut ketika sebuah tangan besar menepuk kepalanya.
"Hey, Nona. Mengapa kau melamun, hm?" dan ternyata pemilik tangan itu adalah Jiraya.
Sakura tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku tidak melamun Paman Jiraya," elak Sakura.
Jiraya mengambil kemoceng lalu membersihkan rak-rak buku itu. "Kau tak bisa berbohong pada Pamanmu ini Sakura, katakan saja apa ada yang mengganggu pikiranmu?" ujar Jiraya seraya mendudukkan dirinya di bangku tepat di seberang meja kasir.
Sakura menatap bos-nya ragu, lalu akhirnya gadis itu menghembuskan napasnya panjang. "Begini, paman tahu, 'kan kalau aku sangat suka cerita mitos?" tanya Sakura pelan.
Jiraya mengerutkan alisnya bingung. "Maaf, tapi aku tidak tahu itu Sakura."
Sakura mengigit bibirnya gugup. Ya, kau tak pandai berbohong Nona.
"Um, anggap saja Paman tahu itu, oke?" paksa Sakura.
Jiraya terkekeh geli, lalu mengangguk. "Baik-baik, lalu?"
"Um, begini aku pernah membaca buku mitos tentang seorang Vampire yang mengajukan kesepakatan dengan seorang manusia yang membutuhkan pertolongannya ..." Sakura meremas kaos yang dikenakannya, lalu menatap Jiraya ragu, "Isi kesepakatannya adalah: Vampire itu bersedia menolong manusia itu, tapi manusia itu harus mengorbankan sesuatu sebagai imbalannya." Lanjut Sakura pelan.
Jiraya menatap gadis muda di depannya itu penasaran, "lalu?"
Sakura meletakan telapak tangannya di meja kasir, lalu memutar jari telunjuknya dengan pola-pola abstrak. "Manusia itu menyanggupinya, dan Sang Vampire memberikan waktu 3 bulan dari perjanjian itu pada manusia tersebut untuk memberikan apa yang Vampire itu inginkan," Sakura menatap ke luar jendela dengan tatapan lelah, "dan selama hampir 3 bulan manusia itu tak juga berhasil memberikan apa yang Vampire itu inginkan. Vampire itu tidak menginginkan nyawa, tubuh atau darah manusia itu." Lanjut Sakura dengan lirih.
Jiraya mengelus dagunya dan menatap Sakura tajam. "Jadi ... kau belum mendapatkan apa yang Vampire itu inginkan?" tanya Jiraya serius.
Sakura mengangguk lemah. "Ya,"
1 detik...
.
.
5 detik...
.
.
7 detik...
.
.
DEG!
Sakura menatap Jiraya horor. "Bukan! Bukan aku Paman! Tapi tokoh di dalam cerita itu!" teriak Sakura histeris. Oh tidak! Jangan sampai rahasiamu terbongkar, Nona Hatake.
Jiraya tertawa hebat. "Hahaha! Kau terlihat panik sekali, Sakura. Aku hanya bercanda. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?"
Sakura menghembuskan napas lega. "Um, cerita itu ... aku belum membaca kelanjutannya karena edisinya sudah terjual habis di toko." Bohong Sakura, ya tentu saja ia bohong. Bagaimana tidak bohong? Sakura bahkan tidak tahu bagaimana kehidupannya selanjutnya, akankah ia menemukan apa yang Suke inginkan? Atau lebih parahnya, apakah ia akan bernasib sama seperti Hinata yang hilang bak ditelan bumi.
"Oh, begitu." Jiraya menganggukkan kepalanya mengerti.
Sakura menggigit bibir bawahnya pelan, lalu gadis itu menatap Jiraya ragu. "Um, Paman ... menurutmu apa yang diinginkan Vampire itu pada Sang korban?"
Jiraya melipat tangannya di dada, lalu menatap Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sesuatu yang tulus Sakura, semua makhluk tak sempurna seperti Vampire menginginkan sesuatu yang tulus yang hanya dimiliki oleh manusia untuk menyempurnakan kaum mereka." Lalu Jiraya pun mengacak poni Sakura pelan, dan pria paruh baya itu melangkah meninggalkan Sakura yang tengah merenung.
Sesuatu yang tulus?
Yang hanya dimiliki oleh manusia?
Apa itu?
.
.
.
.
.
.
Cklek!
"Tadaima ..." ujar Sakura setelah menutup pintu rumahnya.
"..."
Hening...
Sakura mengerenyitkan dahinya bingung ketika tak ada sahutan dari Ayahnya.
"Tou-san?" panggilnya seraya memasuki rumah lebih dalam lagi.
Di kamarnya, tidak ada. Di kamar Sakura juga tidak ada. Lalu Sakura melangkahkan kakinya menuju dapur dan Ayahnya juga tidak ada di sana.
Ia sandarkan tubuhnya di pantry dapur dan melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul sembilan malam.
Gadis itu meraih gelas kaca yang tergantung di atas pantry, lalu ia tuangkan air putih ke dalamnya dan ia pun meminum air itu hingga habis.
Tak!
Sakura meletakkan gelas itu di atas meja. "Tou-san kemana ya?" gumamnya pada diri sendiri.
Ia langkahkan kakinya hendak menuju kamarnya, biarlah Ayah pasti lembur malam ini. Pikirnya.
Tapi, tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika Sakura melihat secarik kertas yang tertempel di lemari es.
"Sakura, malam ini Tou-san ada urusan mendadak. Tou-san mungkin akan pulang tengah malam, jadi kuncilah semua pintu dan Tou-san sudah menyiapkanmu makan malam. Tou-san menyayangimu..."
Ah, ternyata begitu. Batinnya. Baiklah sebaiknya Sakura harus segera mandi, makan malam dan tidur.
"Hoaaam! Tubuhku rasanya ingin remuk saja. Kegiatan Sekolah, bekerja di kedai Naruto, dan di toko Paman Jiraya membuat tubuhku sangat lelah." Gumam Sakura seraya melangkahkan kakinya menuju kamar.
Setelah sampai di kamarnya, Sakura langsung membuka seluruh pakaiannya hingga kini Sakura telah telanjang bulat.
Ia meraih bathrobe dan mulai melangkah menuju kamar mandi, namun langkah kakinya terhenti tepat di depan cermin.
Sakura melepaskan bathrobe yang membungkus tubuhnya ke lantai, lalu Sakura melangkahkan kakinya mendekat ke arah cermin.
Ia menyentuh bayangan dirinya yang telanjang bulat di balik pantulan cermin itu.
"Wajahku lumayan cantik, dan tubuhku juga lumayan seksi dengan kedua buah dadaku yang walaupun kecil tapi terlihat padat, perutku yang ramping, pinggulku yang berisi dan kedua pahaku yang menggoda. Kenapa Suke tak menginginkan tubuhku?" gumamnya lelah.
Ya, ia lelah dengan semua ini. Sakura ingin segera menuntaskan masalahnya dengan Vampire itu, tapi ia bingung sebenarnya apa yang Vampire itu inginkan?
Grep!
"Akhh!" Sakura tersadar dari lamunannya ketika sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang.
"Sudah kukatakan berapa kali Sakura? Aku tak hanya butuh tubuhmu, tapi juga ini." Ujar sesosok pria berjubah itu seraya menekan dada Sakura bagian kiri.
Sakura menatap pantulan sosok di cermin yang tengah menumpu dagu tegasnya di bahu Sakura itu dengan tatapan horor. "S-Suke?" Sakura segera menolehkan wajahnya, namun Suke tak ada.
Sakura kembali melihat ke cermin dan ternyata Vampire itu masih ada. Ya, hanya ada di pantulan cerminnya saja. "Apa yang sedang kaulakukan di sini?" lirih Sakura pelan.
Suke membuka tudungnya, lalu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Sakura yang telanjang. "Hn, aku hanya ingin berkunjung." Gumam Suke seraya mengecupi leher Sakura lembut.
Sakura menatap tubuh telanjangnya yang tengah dipeluk Suke itu dengan wajah merona. Keringat mulai muncul di pori-pori Sakura ketika kedua tangan Suke mulai beraksi.
Tangan kanan Suke merambat naik ke atas dan langsung meremas dada kanan Sakura pelan, lalu tangan kiri Suke mulai merambat ke bawah dan jari telunjuknya langsung tenggelam dalam lipatan kewanitaan Sakura.
"Angghhh, ouhhh! H-hentikanh Sukee!" rintih Sakura seraya menjambak rambut Suke ketika merasakan jari telunjuk Suke mulai memainkan sesuatu berbentuk seperti biji kacang di dalam kewanitaannya itu intens.
Suke mengangkat wajahnya dari ceruk leher Sakura dan memberikan sebuah seringaian licik pada pantulan wajah Sakura yang tengah menatapnya sayu di depan cermin itu. "Hn, nikmati saja Nona Hatake."
Slap!
Dan dengan itu tanpa aba-aba Suke langsung menusukkan jari tengahnya pada lorong segama milik Sakura.
"Kyyaaaah! S-Sukeeeh!"
.
.
.
.
.
"Silahkan ..." ujar seorang wanita muda dengan pakaian maid itu setelah meletakan tiga cangkir minuman.
"Hn, kembalilah Ayame." Ujar seorang pria dengan kemeja hitam itu.
Maid itu mengangguk mengerti, lalu mambalikkan tubuhnya dan mulai melangkah meninggalkan ruang tamu menuju dapur.
"Jadi, bagaimana kabarmu hari ini, Tuan Hatake?" tanya pria itu seraya menyilangkan kedua kakinya.
Kakashi Hatake dengan balutan jas kantor itu tersenyum simpul. "Hari ini kabar saya baik, Tuan Uchiha." Sahutnya sopan.
Pria bermarga Uchiha itu mengangguk mengerti. "Hn, lalu bagaimana dengan putrimu?"
Kakashi menatap pria tampan di depannya itu kalem. "Sakura baik-baik saja, Tuan."
Pria itu tersenyum lembut. "Tolong jaga putrimu dengan baik, aku ingin semuanya baik-baik saja sampai tiba waktunya."
Kakashi mengangguk mantap. "Tentu, semuanya akan saya laksanakan dengan baik. Sekali lagi terima kasih atas kebaikan anda yang membantu saya bebas dari penjara, Tuan Uchiha dan Tuan Sasori." Ujar Kakashi penuh rasa terima kasih.
Pria bermanik onyx itu tersenyum simpul. "Itu bukan masalah, bukan begitu Sasori?"
Pria dengan wajah bak bayi baru lahir yang sedari tadi diam itu akhirnya tersenyum manis dan mengangguk sopan. "Tuan Uchiha benar, anda tidak perlu sungkan Tuan Hatake. Kami pun bergantung pada putri anda untuk melancarkan rencana kami, hanya putri anda yang mampu." Jelas Sasori kalem.
Kakashi tersenyum tipis dan mengangguk setuju. "Ya, terima kasih."
Pria dengan helaian hitam ikat rendah itu mengulurkan tangannya ke atas meja. "Silahkan diminum, Tuan Hatake."
Kakashi mengangguk dan meraih gelas minuman itu.
Tak!
Kakashi kembali meletakkan cangkir itu setelah meminumnya sedikit, lalu pria berhelaian perak itu melirik jam di pergelangan tangannya yang telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Hm, ini sudah malam. Sebaiknya saya pulang," ucap Kakashi membuat tubuh kedua pria di depannya itu menegang.
"Um, tunggulah sebentar lagi Tuan Hatake. Ada yang ingin Tuan Uchiha sampaikan padamu," ujar Sasori mencoba melarang Kakashi pulang. 'Ya, tunggulah sampai Vampire itu selesai dengan kegiatannya bersama putrimu.' Lanjut Sasori di dalam hatinya seraya menyeringai tipis.
.
.
.
.
.
Bruk!
Tubuh polos Sakura terhempas di atas ranjang. Sakura menatap sayu sesuatu yang tengah berada di antara pangkal pahanya itu.
Sakura merasa ngeri sendiri ketika tak melihat apapun di antara kedua pahanya yang mengangkang, padahal jelas-jelas gadis itu bisa merasakan belaian benda lentur tak bertulang yang tengah bergerak naik turun menggoda klitoris-nya itu intens.
Sakura menolehkan kepalanya dan menatap langsung cermin yang menampakkan wujud Suke yang sedang menggagahi kewanitaannya dengan lidahnya itu.
"Kau membuatku merasa aneh, Sukeehh ... bisakah kau menampakkan wujudmu? Ahh, aku merasa sedang dicumbu oleh hantu jika kau tak menampakkan, ngghhh ... wujudmu ..." ujar Sakura di sela rintihannya akibat perlakuan Suke di bawah sana.
Suke yang mencoba memasukkan lidah panjangnya ke dalam lorong kewanitaan Sakura pun mengurungkan niatnya. Suke mendongkak dan menatap Sakura melewati cermin.
"Hn, asal kau tahu Nona: aku tak bisa menampakkan wujudku jika di luar menara. Maka dari itu, sekarang kau hanya bisa menatapku dari cermin." Dan setelah mengatakan itu, Suke kembali menenggelamkan wajahnya di pangkal paha Sakura dan langsung menusukkan lidahnya ke dalam lorong kewanitaan Sakura.
"Haaah, hiyaa! Ah, S-Sukehh ..." Sakura menutup matanya dan menjambak helaian rambut tak kasat mata milik Sasuke erat. "K-kau terlalu c-cepath!" desah Sakura semakin menjadi ketika Suke menusukkan lidahnya berulang kali di bawah sana dengan gerakan cepat dan dalam.
Suke mengabaikan Sakura, dengan cepat Suke menangkup kedua buah dada Sakura yang bergoyang hebat itu dengan tangannya dan meremasnya intens.
"Aaah! Tidak, oh Tuhan! S-Sukeehhh ..." tanpa sadar Sakura mulai menggerakkan pinggulnya berlawanan arah dengan gerakkan lidah Suke di lorong segamanya.
Suke tersenyum licik ketika merasakan lorong kewanitaan Sakura yang telah banjir dan membengkak itu mulai berkedut hebat menjepit lidahnya.
Ah, tak dapat dipungkiri sesuatu yang berada di antara kedua pahanya mulai mengeras. Ingin rasanya Suke memasukkan kejantanannya ke dalam lorong sempit itu dan menumbuk lorong itu buas tanpa henti dan merasakan klimaks bersama gadis itu, namun Suke tahu ... ini belum waktunya untuk menyatukkan diri dengan Sakura. Ya, belum waktunya.
Suke semakin meremas dada Sakura kuat dengan kedua ibu jari dan telunjuknya memainkan puting susu gadis itu, dan lidahnya pun semakin cepat keluar-masuk di lorong itu. Kedutan itu semakin kencang dan Sakura pun semakin mendesah hebat, hingga—
"Sukeeeeeeeeeehhhh!"
—klimaks.
Sakura bernapas terengah dan mencoba untuk menetralkan napasnya, sedangkan Suke masih sibuk membersihkan cairan di bawah sana dengan serius dan menjilatinya hingga kesat dengan lahap.
Chup!
Suke mengecup bibir Sakura ringan, dan melumatnya sekilas. Lalu Suke menatap Sakura melewati cermin dan Sakura pun balas menatapnya.
"Ingat, waktumu tinggal tiga hari lagi Sakura. Jangan mengecewakanku, aku pergi." Suke memakai kerudung hitamnya kembali, dan bayangan Suke di cermin itu menghilang dengan ratusan burung gagak yang mengerumuninya.
Sakura menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. "Tiga hari lagi ya? Sebenarnya apa yang kauinginkan Suke?" Gumam Sakura lirih.
.
.
.
.
.
Kriiiiiiiiingggg!
Bel sekolah telah berdering nyaring.
Dengan tergesa Sakura membereskan peralatan sekolahnya.
Puk!
Ino menepuk bahu sahabatnya itu pelan. "Hey! Kenapa kau terburu-buru begitu, forehead?"
Tubuh Sakura menegang, namun dengan cepat Sakura menguasai tubuhnya kembali.
Perlahan Sakura menggendong tasnya, lalu menatap Ino biasa. "Ah, aku ada urusan. Jadi aku harus cepat pulang," ujar Sakura seraya melangkahkan kakinya keluar kelas diikuti Ino di sampingnya.
Ino memeluk buku paketnya seraya menatap Sakura bingung. "Memang kau mau kemana?"
Bruk!
"Ah, maafkan aku senpai." Ujar seorang gadis berambut coklat sebahu itu pada Sakura ketika ia tak sengaja menabraknya.
Sakura tersenyum simpul, "hm, tidak apa-apa." Lalu Sakura dan Ino kembali melangkahkan kakinya di koridor yang ramai itu.
"Sakura! Kau belum menjawab pertanyaanku." Ucap Ino kesal.
Sakura menoleh dan tersenyum hingga kedua matanya menyipit lucu. "Aku ada kencan dengan Sasori-sensei." Lalu Sakura berlari meninggalkan Ino yang tengah melongo.
"Sasori-sensei? APA? HEY SAKURA TUNGGU! KAU BERHUTANG PENJELASAN PADAKU!" teriak Ino keras membuat para murid di koridor menatapnya tajam, namun gadis barbie itu mengabaikannya.
Di ujung koridor Sakura hanya mampu terkekeh kecil, lalu melambaikan tangannya dan sosok Sakura pun menghilang di balik dinding koridor.
.
.
.
.
.
Sakura berdiri tegak di depan gerbang Mansion Uchiha. Ya, tadi itu Sakura hanya berbohong pada Ino. Ia tidak mungkin mengatakan akan menemui seorang Vampire pada Ino, 'kan?
Waktu Sakura tinggal dua hari lagi, dan Sakura panik luar biasa karena ia belum tahu apa yang diinginkan Vampire itu. Maka di sinilah Sakura, ia ingin melakukan negosiasi dengan makhluk itu, ya itupun jika berhasil. Tapi sebaiknya mencoba daripada tidak sama sekali bukan?
Ketika Sakura hendak membuka gerbang itu, tiba-tiba...
Grep!
"Sakura? Apa yang sedang kaulakukan di sini?"
Sakura membalikkan tubuhnya dan tubuhnya terasa sangat kaku ketika melihat siapa yang tengah mencengkeram tangannya erat.
"S-Sasori-sensei?"
.
.
.
.
.
Sakura dan Sasori duduk di caffe dengan dua gelas jus di meja mereka.
Sakura menundukkan kepalanya tak berani menatap Sasori. Ya, setelah ia dipergoki Sasori tadi, pria itu langsung menyeret Sakura untuk jalan bersamanya. Dan Sakura pun hanya bisa pasrah.
"Sakura, sebenarnya apa yang kaulakukan di Mansion itu? Kulihat kau sering ke sana." Ujar Sasori datar seraya menatap Sakura tajam.
DEG!
Satu pertanyaan dari Sasori membuat Sakura terkejut luar biasa. Ia tak menyangka pria itu mengetahui ia sering memasuki Mansion kosong itu.
Sakura menatap Sasori dengan wajah sedikit pucat. "Ah? Tidak, bukan apa-apa. Aku ke sana hanya untuk mencari tumbuhan langka untuk tugasku saja, Sensei. Lagipula aku juga suka di sana, walau terlihat tak terurus tapi Mansion itu sangat nyaman untuk dijadikan tempat pelepas lelah." Jawab Sakura seraya tersenyum kaku. Oh semoga Sasori percaya, Tuhan. Batin Sakura.
Sasori menatap Sakura curiga. "Hm, kau aneh sekali. Aku pernah masuk ke sana dan kau tahu? Di sana sangat menyeramkan, aku juga pernah masuk ke dalam menara itu dan di dalam sana sangat lembab, basah dan gelap. Tak ada apapun di sana yang menarik." Ujar Sasori kalem.
DEG!
Ucapan Sasori membuat Sakura semakin terkejut. "Um, kau pernah masuk ke Menara itu?" Tanya Sakura sedikit was-was. Astaga! Apa Sasori bertemu Sasuke? Pikir Sakura kalut.
"Ya. Aku pernah masuk ke sana karena aku sangat penasaran, tapi ternyata aku tak menemukan apapun di sana. Hanya ada ruangan kosong penuh debu." Jelas Sasori dengan raut kecewa.
Sakura menghembuskan napas lega. "Oh, begitu."
Sasori menatap Sakura lekat, "ya, hm ... Sakura bagaimana dengan pernyataanku? Apa kau bisa menjawab sekarang? Kita sudah semakin dekat, jadi adakah perasaan khusus untukku?"
Sakura menatap Sasori kalut. "Um, maaf aku belum bisa menjawabnya." Lirih Sakura pelan.
Sasori tersenyum lembut. "Baiklah, aku tunggu kau lusa di belakang Sekolah dan saat itu kau harus menjawabnya. Bagaimana?"
Sakura mengangguk ragu. "Ya,"
Ada apa denganku? Mengapa hanya untuk menjawab saja rasanya sulit sekali? Aku yakin aku menyukai Sasori-sensei, tapi ... ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Batin Sakura gusar.
.
.
.
.
.
Dua hari berlalu...
Sakura melangkahkan kakinya memasuki gerbang Sekolah dengan gontai. Hari ini adalah hari terakhirnya dalam perjanjiannya dengan Suke, tapi ia belum tahu apa yang Suke inginkan.
Jam dua belas malam ini Sakura tahu mungkin hidupnya akan berakhir karena gagal memenuhi keinginan Vampire itu. Sakura pasrah.
Dan lagi setelah pertemuannya dengan Sasuke tiga hari yang lalu, Sakura tak pernah bertemu dengan Vampire itu ataupun berkomunikasi dengan Vampire itu di dalam pikirannya.
Biasanya suara Vampire itu akan selalu muncul di kepalanya, tapi tiga hari ini suara Vampire itu tak pernah muncul. Vampire itu bagai hilang bak ditelan bumi.
Sakura juga belum sempat mengunjungi menara itu karena belakangan ini Sasori selalu menempel dengannya, jadi ia tak bisa ke menara itu.
Entah mengapa ... Sakura merindukan makhluk itu. Sakura berpikir mungkin ia sudah tidak waras, tapi tak dapat dipungkiri ingin rasanya Sakura bertemu dengan Suke.
Tap!
Sakura mengerenyitkan dahinya ketika melihat beberapa mobil polisi terparkir di halaman Sekolahnya. Para murid pun terlihat berkumpul di lapangan upacara.
"Ada apa ini?" gumam Sakura bingung.
Dengan cepat Sakura berlari menuju kumpulan para murid itu ketika melihat sahabatnya di sana.
Tap!
Sakura menghentikan langkahnya di samping Ino dengan napas terengah. "Ada apa ini, Ino?" tanya Sakura ketika napasnya telah teratur.
Ino menghapus air matanya yang tengah mengalir itu, lalu dengan cepat Ino memeluk tubuh Sakura.
"Sakura, hikss ... Hinata sudah meninggal." Gumam Ino di sela isak tangisnya.
DEG!
Tubuh Sakura menegang. "A-apa?"
Ino melepaskan pelukannya lalu mencengkeram bahu Sakura erat. "Kerangka tubuh Hinata ditemukan di puncak menara Mansion Uchiha itu Sakura! Demi Tuhan! Aku tak percaya jika Vampire itu benar-benar ada!" ujar Ino dengan suaranya yang panik seakan tak percaya.
DEG!
Sakura terdiam mematung. "A-apa? Vampire?"
Ino mengangguk mantap. "Ya, salah seorang peramal yang para polisi itu bawa ternyata melihat sesosok Vampire di Menara itu." Jelas Ino antusias, dan mengabaikan tubuh Sakura yang terdiam bagai patung.
"..."
DEG!
"Vampire itu tidak bisa keluar dari Menara..."
DEG!
"..."
"Para polisi dan warga bersepakat untuk menghancurkan Menara itu untuk kebaikan kita semua."
DEG!
Kedua bola mata Sakura terbelalak lebar. "A-apa?" lirihnya pelan.
Ino memeluk tubuh Sakura erat. "Ya, Menara itu akan dihancurkan." Bisik Ino penuh syukur.
DEG!
DEG!
DEG!
Sakura terdiam kaku dengan mata emerald-nya yang menatap kantung mayat yang ia yakini berisi kerangka tubuh Hinata di depan sana dengan tatapan kosong.
'A-apa? Menara itu akan dihancurkan? Lalu kemana Suke akan pergi? Apakah dia akan musnah? Tunggu! Bukankah seharusnya aku senang? Suke ... dia akan menghilang dan aku tak perlu memenuhi keinginanya, tapi kenapa aku merasa sedih? Mengapa aku merasa sakit? Astaga! Tidak! Jangan bilang aku sudah terbiasa dengan mahluk itu! Aku tidak mungkin jatuh hati padanya, bukan? Ada apa denganku? Apa yang kupikirkan? Kenapa rasanya sangat sakit sekali mendengar Menara itu akan dihancurkan?' Sakura membatin pedih.
.
.
.
.
.
/To be continue/
A/N : Hallllloooooooo! Aaaaa! Adakah yang ingat dengan fanfic ini? Maafkan Sasa yang super telat update fic ini ya? Oke ga banyak curcol, langsung balas review sajalah xD Yang log in, cek PM ya!
Balasan review :
eci nindy : Haaii :D Wah makasih ya udah mau nunggu fic Sasa. Oke ini udah update.
Question : Tidak. Sepertinya kamu harus baca lebih teliti lagi deh. Yang menyerahkan tubuh itu adalah korbannya sendiri, bukan Suke yang minta. Dan Menara itu terbuka hanya untuk kaum wanita saja, TIDAK untuk laki-laki. Lebih jelasnya lagi nanti akan diceritakan di chapter terakhir.
sami haruchi 2 : Ya, ngga papa. Ini udah update.
mii-chanchan2 : Iya, makasih.
Kasuga Fugu Y : Oke.
Guest : Boleh ko baca lime penuh penghayatan, tapi jangan ditiru ya! xD
Aeni : Skinship SasuHina itu cuma sebatas ciuman aja ko. Suke ngga pernah bercinta dengan Hinata. Maaf ya ngga bisa update kilat.
Intan sept : Um, ya nanti ada jawabannya di chapter depan.
Guest : Haha sip deh!
dewaz : Ngga, Suke sama Hinata belum pernah ML. Mereka cuma sebatas bercumbu doang, ngga lebih.
cherryl sasa : Haha tenang. SasuSaku nanti juga bahagia ko(mungkin) xD
Uchiha Sakura : Masalah Sasori ... itu masih rahasia HAHA xD Dan untuk SH. Mereka ngga pernah bercinta ko, mereka cuma bercumbu doang, ngga lebih. Jadi tenang aja oke? Suke masih perjaka loh #Wink. Dan Itachi memang selalu misterius, 'kan? Hoho.
u s : Iya akan Sasa lanjut sampe tampat ko :D
mitsuki uchiha : Oke, ini udah lanjut.
fafa haruno : Haha, iya sabar. Ini udah update.
Saysay : Yosh! Ini udah update, semoga suka ya.
UchihaRen : Haha oke makasih ya. Ini udah update, semoga suka.
