'A-apa? Menara itu akan dihancurkan? Lalu kemana Suke akan pergi? Apakah dia akan musnah? Tunggu! Bukankah seharusnya aku senang? Suke ... dia akan menghilang dan aku tak perlu memenuhi keinginanya, tapi kenapa aku merasa sedih? Mengapa aku merasa sakit? Astaga! Tidak! Jangan bilang aku sudah terbiasa dengan mahluk itu! Aku tidak mungkin jatuh hati padanya, bukan? Ada apa denganku? Apa yang kupikirkan? Kenapa rasanya sangat sakit sekali mendengar Menara itu akan dihancurkan?' Sakura membatin pedih.


Enjoy Reading~

BAB 7

oOo—

Warn : Lemon inside!


Ino yang tak merasakan respon apa pun dari sahabatnya langsung melepaskan pelukannya dan menatap Sakura yang termenung dengan khawatir. "Sakura? Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?"

Sakura berkedip satu kali, lalu melepaskan tangan Ino yang mencengkeram kedua bahunya. "Aku tidak apa-apa, Ino." Ucap Sakura lirih seraya membalikkan tubuhnya.

Ino mengerenyitkan dahinya bingung. "Kau mau ke mana?"

"Ke suatu tempat," sahut Sakura tanpa membalikkan tubuhnya. "Ino, hari ini aku bolos sekolah dulu. Tolong sampaikan saja aku ada urusan. Kau mau membantuku, 'kan?" lanjut Sakura retoris. Tanpa menunggu jawaban, Sakura segera berjalan meninggalkan lapangan yang masih ramai, dan meninggalkan Ino yang menatapnya khawatir.

.

Sakura menatap menara jauh di depannya dengan tatapan kosong. Beberapa jam lagi menara itu akan dihancurkan dan ia tak tahu harus melakukan apa. Ia bimbang, antara hati dan pikirannya saling bertentangan.

Hatinya sangat ingin mencegah hal itu terjadi, namun pikiran rasionalnya segera menentang. Bagaimana bisa ia mencegah hal ini sedangkan para penduduk dan polisi sudah sepakat untuk menghancurkan menara itu? Lagi pula apa yang akan ia katakan jika para penduduk meminta alasan atas ketidaksetujuannya akan penghancuran menara ini? Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia tidak setuju hanya karena Vampire itu, 'kan? Konyol sekali.

Wushhhhh!

Angin kencang berhembus menerpa sebagian tubuhnya yang tak terlindungi pembatas atap sekolah. Ya, kini Sakura tengah berada di atap sekolah yang berhadapan langsung dengan mansion dan menara milik Uchiha. Kedua mata emerald-nya yang menatap kosong ke menara itu. Ia bahkan mengabaikan rambut merah mudanya yang tertiup angin.

Hening...

Kaca jendela yang berada di puncak menara itu terlihat gelap dan temaram. Biasanya jika Sakura berdiri di atap ini, Suke selalu ada di balik jendela itu dan mereka akan saling menatap dalam diam. Tapi sekarang ... jendela itu terlihat kosong tak berpenghuni.

Saat ini waktu seakan berhenti berputar, jantungnya seakan berhenti berdetak. Sesak! Paru-parunya seakan enggan menghirup oksigen yang berada di sekitarnya, seluruh syaraf yang ada di tubuhnya kaku seakan lumpuh total tak dapat ia gerakan, darahnya beku seakan berhenti berdesir.

Deg!

Lagi. Ya, lagi-lagi dadanya berdenyut perih. Ada apa dengannya? Kenapa melihat kenyataan Suke tak ada ... membuat jantungnya berdegup menyakitkan?

Ia mencengkeram dada bagian kirinya yang berdenyut perih. Rasanya sakit sekali ketika mendengar menara itu akan dihancurkan, dan sesosok makhluk berbeda dengan dirinya akan ikut hancur di dalamnya. Vampire dan manusia ... seperti di film, bukankah mereka tak mungkin bersatu?

"Apa yang harus kulakukan, Suke? Bukankah seharusnya aku bahagia? Tapi ... kenapa rasanya sakit sekali?" bisik Sakura lirih. Dan tanpa ia sadari liquid bening telah menganak sungai di kedua pipinya. Ia menangis.

Bangunan kokoh itu akan segera hancur. Bangunan tempat Sang Vampire bersemayam, Vampire yang membuat kehidupannya menjadi lebih baik dan Vampire yang telah membuatnya ... bingung akan perasaannya sendiri.

Sakura menatap kontener dan alat-alat berat yang akan digunakan untuk menghancurkan Menara itu dengan tatapan nanar. Semua yang ada di halaman mansion Uchiha bagai alat-alat peperangan, dan itu sangat terlihat mengerikan di iris klorofilnya.

Beberapa saat lagi menara itu akan dihancurkan ...

Beberapa saat lagi menara itu akan dihancurkan ...

Beberapa saat lagi menara itu akan dihancurkan ...

Dan ia tak mungkin bertemu Suke lagi ... untuk selamanya.

DEG!

Tidak bertemu Suke lagi? Bahagia 'kah ia? Lega 'kah ia? Tidak bertemu Suke yang telah menolongnya ... Suke yang sering mencumbunya ... Suke yang telah membebaskan ayahnya dari penjara ... Suke yang telah membalaskan dendamnya ... Suke yang nyatanya seorang Vampire ... Vampire yang berhasil membelenggu hatinya.

Sanggup 'kah kau, Sakura Hatake?

TIDAK. Sakura tidak sanggup! Dan ia tidak mungkin membiarkan itu terjadi!

Dengan sigap ia menghapus jejak-jejak air matanya, lalu membalikkan tubuhnya dan berlari menuruni anak tangga dengan air mata yang kembali mengalir.

"Suke ... tunggu aku!" bisiknya.

.

Sasori menyandarkan tubuhnya pada dinding belakang sekolah. Kaca mata tipis frame hitam masih bertengger manis di hidungnya, ia baru saja selesai mengajar di kelasnya dan sedikit heran ketika ternyata Sakura absen pada pelajarannya kali ini.

Sasori pikir mungkin Sakura memang tidak masuk sekolah, namun sahabat Sakura yang bernama Ino itu memberitahunya jika tadi pagi Sakura datang ke sekolah.

Lamunan Sasori buyar ketika melihat bayangan Sakura melintas di koridor sekolah yang sepi. Ia segera berlari menghampirinya dan tanpa sadar ia menarik bahu Sakura.

"Sakura?"

Sakura menghapus air matanya dan berbalik menatap Sasori dengan mata memerah. "Ada apa, Sensei?" Sakura berusaha bersikap tenang, namun Sasori justru menyentuh mata Sakura yang membengkak.

"Kau menangis?" Sakur diam. Tak tahu harus berkata apa, Sasori memang lelaki jeli dan selalu benar jika menebak sesuatu. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa, Sensei," Sakura menggeleng pelan. "Jadi, ada apa?"

"Kau lupa?" Sasori menatap Sakura dalam, "aku ingin jawabanmu sekarang."

"Ah, itu ...," Sakura memejamkan matanya sesaat, lalu kembali membukanya dan menatap Sasori lurus-lurus. "Jujur aku menyukaimu, Sensei,"

Bruk!

Mata Sakura membelalak ketika tiba-tiba saja Sasori memeluknya erat. "Aku sudah tahu, kau pasti akan menerimaku. Terima kasih, Sakura. Aku mencint—"

"Tunggu!" sela Sakura cepat. Gadis itu segera melepas paksa pelukan Sasori. Ia tidak ada waktu untuk melakukan hal tak penting ini karena ia harus segera ke menara. Sebelum terlambat. "Dengar, aku memang menyukaimu, tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi, maaf aku tidak bisa, Sensei." Sakura membalikkan tubuhnya bersiap pergi, namun dengan cepat Sasori memeluk Sakura dari belakang.

"Aku mohon, Sakura, aku mencintaimu ...," bisik Sasori seraya mengecupi daun telinga Sakura. "Terimalah aku."

Sakura mencengkeram tangan Sasori yang melingkari bahunya, lalu dengan paksa ia melepaskan tangan itu dan berbalik menatap Sasori tajam.

"Aku menghormatimu sebegai guruku, bersikaplah layaknya sebagai seorang guru pada umumnya," desis Sakura dingin. "Aku akan melupakan pelecehan yang kaulakukan, Sensei, asal kau tidak menghalangi jalanku untuk pergi." Sakura membungkuk hormat dan berbalik. Kembali berlari menuju menara. Meninggalkan Sasori yang tersenyum kecil.

"Akhirnya," desahnya lega. "Tugasku berakhir sudah." Ia tersenyum lembut menatap punggung Sakura. "Semoga langkah yang kauambil tidak salah, Nona Hatake."

.

.

.

.

.

.

Setelah Sakura meyakinkan dirinya tidak terlalu bersikap kasar pada Sasori, ia terus berlari keluar gerbang sekolah menuju mansion Uchiha yang terletak tidak terlalu jauh dari sekolah.

Di sepanjang perjalanan Sakura tak henti-hentinya mengucapkan bahwa ia hanya merasa iba pada vampire itu, namun tanpa ia sadari air matanya telah menetes dengan hati yang terasa sesak ketika ia sadar telah membohongi dirinya sendiri.

Ia benar-benar telah jatuh cinta pada Vampire itu. Ya Tuhan.

Sakura menghentikan langkahnya ketika ia telah sampai di depan gerbang mansion, ia segera bersembunyi ketika melihat salah seorang dari puluhan para pekerja terlihat mengawasi situasi di sana.

Beberapa menit Sakura menunggu, akhirnya ketika para pekerja mulai lengah, ia segera berlari kecil memasuki halaman mansion. Lalu dengan hati-hati Sakura melangkah masuk ke menara, dengan tergesa Sakura menaiki tangga melingkar menuju ruangan Suke. Entah mengapa Sakura merasa anak tangga itu kian bertambah banyak setiap kali ia melangkah, namun Sakura tidak menyerah untuk cepat sampai ke atas sana.

Peluh mulai membanjiri tubuhnya, napasnya pun mulai tersengal tak beraturan. "Suke, tunggu aku. Jangan pergi!" gumam Sakura lirih.

Sakura tersenyum masam ketika merasa dirinya memang sudah benar-benar gila karena telah menyukai mahluk itu. Suke, seorang Vampire.

.

Akhirnya!

Sakura berdiri dengan napas tersengal menatap pintu di depannya, lalu tanpa membuang waktu lama Sakura segera mendorong pintu itu kasar.

Sakura menatap nanar Suke yang tengah duduk bertopang dagu di kusen jendela besar itu. Ia memakai jubah bergambar awan merahnya, wajahnya yang memang pucat itu tak terlihat karena ia menutupinya dengan kerudungnya.

Suke bergeming. Ia bahkan seolah tuli akan suara pintu yang jelas terdengar nyaring di telinganya.

Sakura berjalan menghampiri Suke dan berdiri tepat di samping Suke. "Suke ... ayo kita pergi dari sini, menara ini akan dihancurkan." Ucap Sakura pelan. Suke tetap bergeming tanpa mendongakkan kepalanya, ia masih dalam posisi semula.

"Untuk apa kau ke sini?" suara itu terdengar sangat dingin dan menyeramkan di telinga Sakura, namun gadis itu tak memedulikannya.

Sakura berlutut tepat di depan Suke untuk melihat wajah pria itu dan tanpa Sakura sangka kini Suke tengah menatapnya tajam dengan iris kanannya yang berwarna merah pekat berbentuk pola bintang, dan iris kirinya yang berwarna ungu dengan pola garis-garis vertikal serta sembilan titik tamoe di maniknya.

Sakura berkedip dan tanpa memedulikan tatapan sarkastik yang Suke tunjukkan padanya, Sakura menarik tangan kanan Suke yang tersembunyi di balik jubah lalu ia menggenggamnya hangat. Ini adalah sentuhan pertama yang Sakura lakukan, karena selama ini Suke 'lah yang selalu menyentuhnya.

"Untuk apa aku di sini? Tentu saja membawamu pergi dari sini! Kumohon ayo ikut denganku," ucap Sakura memohon agar Suke mau ikut dengannya.

Suke tersenyum sinis. "Untuk apa kau melakukan ini semua, Sakura? Tidak 'kah kau merasa senang? Sebentar lagi aku akan lenyap, maka dengan otomatis hidupmu akan selamat."

Sakura menggigit bibir bawahnya keras. "Aku,"

Suke mencengkeram kedua bahu Sakura. "Katakan!"

Iris klorofil Sakura terpendar oleh cahaya temaram dari jendela berkaca hitam itu. "Suke, aku tidak tahu. Aku hanya—"

"Hn, sudahlah!" Suke melepaskan tangannya dari bahu Sakura, lalu ia berdiri menghadap jendela. Membelakangi Sakura yang masih berlutut kaku. "Aku tidak bisa meninggalkan menara ini, ini tempatku."

Sakura berdiri dengan kepala menunduk dalam. "Dasar bodoh!"

Suke membalikkan sedikit tubuhnya dan menatap Sakura dari ekor matanya. "Berani sekali kau—"

"KAU BODOH, SUKE!" teriak Sakura tanpa mendongakkan kepalanya. Kedua telapak tangannya terkepal erat di kedua sisi tubuhnya.

Suke kembali menghadapkan tubuhnya ke jendela dan menatap langit yang tiba-tiba mendung di luar sana di balik kerudung yang menutupi kepalanya. "Hn, terserah apa katamu. Pergilah." Ucap Suke dingin.

Bruk!

Kedua bola mata berbeda warna milik Suke terbelalak lebar ketika merasakan sepasang lengan kecil melingkari pinggangnya erat. Astaga! Sakura memeluknya? Benarkah?

Iris Suke perlahan melirik kedua tangan kecil yang gemetar itu tercengang. "Kau ...," Suke tak melanjutkan kalimatnya ketika merasakan punggungnya basah. Sakura menangis.

"Kau tidak tahu rasanya ketika aku sama sekali tidak mendengar kabarmu selama dua hari kemarin, aku sakit Suke! Tidak 'kah kau mengerti? Satu detik saja tidak mendengar suaramu yang selalu terngiang di kepalaku sudah membuatku sesak, dan kau tahu betapa sesaknya aku ketika dua hari kemarin kau tidak mengatakan apa pun padaku?!" bisik Sakura di sela isak tangisnya.

Suke mendengus semar. "Kau sendiri yang tidak menghampiriku ke sini karena kau sibuk dengan kekasih merahmu itu. Berhentilah menangis, itu tidak ada gunanya. Pergilah, Sakura." Ucap Suke tak acuh, lebih tepatnya berusaha tak acuh.

Sakura menggeleng keras di punggung Suke. "Tidak, tidak! Aku tidak mau!"

Rahang Suke mengeras. "Pergi—!"

"Tidak!" potong Sakura cepat, "aku menyukai Sasori-sensei dan ternyata Sasori-sensei juga menyukaiku. Harusnya aku bahagia dan mudah untuk mengatakan 'ya' ketika Sasori-sensei memintaku menjadi kekasihnya, tapi ...," Sakura menggigit bibirnya pelan. "Tapi aku tidak bahagia, aku tidak bisa ... ditambah dengan kenyataan menara ini akan dihancurkan,"

"..." Suke diam.

"Dan sekarang, kau tahu apa yang sudah kulakukan? Aku menolak Sasori-sensei! Semua ini karenamu! Kau sudah menjebakku! Kau membuatku tidak bahagia!" suara jeritan Sakura terendam dalam punggungnya. Dan ucapan Sakura sukses membuat Suke tersenyum masam.

"Hn," Suke melepaskan tangan Sakura dari pinggangnya dan dengan perlahan vampire itu berbalik. Menyentuh bahu rapuh Sakura lembut. "Karena hari ini adalah hari terakhir aku hidup, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku akan mengucapkan sesuatu yang tidak pernah kuucapkan," Suke mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sakura yang menunduk dalam. "Maafkan aku."

Sakura segera mendongak dan menatap Suke nanar. "Suke,"

Suke mengecup dahi Sakura lembut. "Maafkan aku, Hatake Sakura." Suke kembali menatap Sakura dalam setelah melepaskan kecupannya. "Pulanglah, aku membebaskanmu."

"Kenapa?" Sakura menggigit bibirnya dan menatap Suke marah. "Kenapa kau selalu bersikap seenaknya begitu? Hah?!"

Suke menatap Sakura datar. "Apa maksudmu? Seenaknya? Bukan 'kah ini yang kauinginkan? Kebebasan?"

Sakura menggelengkan kepalanya kuat dan mencengkeram dada kirinya. "Aku benci hidupku, aku bahkan benci takdir. Takdir telah merenggut nyawa ibuku, takdir telah membuat ayahku merasakan dinginnya jeruji besi, takdir telah membuat tubuhku tersentuh oleh sepuluh tangan kotor, takdir telah mempertmukan aku denganmu dan takdir telah ...," suaranya tercekat. Sakura melangkah mundur dengan wajah pesakitan dan tentu saja membuat Suke merasa sesak

"Sakura—"

"Membuatku mencintaimu!" lanjut Sakura.

JGERR!

Mendadak petir menggelegar dan angin berhembus cepat di ruangan itu menerbangkan helaian rambut merah muda Sakura dan membuat kerudung jubah Suke terbuka menampilkam rambut raven mencuatnya. Aneh memang, mengingat jendela tidak terbuka. Lantas dari mana angin itu berasal?

Suke membeku. Menatap tak percaya pada gadis manusia di depannya. "Apa?"

"Kaudengar aku? Aku mencintaimu, Suke! Mencintaimu! Entah bagaimana caramu membuatku mencintaimu, dan kini kau dengan mudah menyuruhku pergi setelah apa yang kaulakukan padaku? Kau—"

Sakura tak mampu melanjutkan kalimatnya ketika dengan kecepatan penuh Suke berlari ke arahnya dan mendorongnya hingga membentur dinding di belakangnya.

Napas Sakura tak beraturan ketika Suke memenjarakannya di antara dinding dan dada bidang vampire itu yang menghimpit dadanya.

"Kau tahu?" Suke menunduk, menatap Sakura tajam. "Kau terlalu banyak bicara." Bisiknya dingin.

Sakura mengerenyitkan dahinya putus asa. "Aku hanya ingin kau keluar bersamaku dari sini, Suke! Aku mencintai—"

"Sial! Berhentilah berbicara!" Suke mengerang sebelum memiringkan kepalanya dan membungkam bibir Sakura buas dengan bibirnya.

Sakura mencengkeram bahu Suke dan ia pun ikut melahap bibir Suke ganas. Suke membawa kedua kaki Sakura dan melingkarkan kedua kaki itu di pinggulnya. Sakura sendiri hanya menikmati apa yang Suke berikan padanya.

"Anghh!" Sakura mendesah di sela pagutan bibir itu ketika merasakan Suke meremas pantatnya dan mendorong pantatnya kian merapat pada pangkal paha Suke.

"Shh, ah! Ah! Mpphh—!" wajah Sakura memerah, matanya mulai berair dan tubuhnya tesentak-sentak ke dinding di belakangnya ketika Suke menggesek bukti gairahnya yang mengeras di balik celana kainnya pada permukaan kewanitaan Sakura yang masih terbalut celana dalamnya. Sakura bahkan tak sadar ketika rok sekolahnya tersingkap hingga pinggang.

Suke mengerang dan segera menggigit bibir Sakura ketika merasakan Sakura ikut menggesekkan pinggulnya dan mengetatkan apitan kakinya di pinggul Suke sehingga tak ada jarak sedikit pun di antara mereka.

Mereka terus berpagutan liar, saling menyesap bibir, bertarung lidah, dan ciuman itu berakhir dengan kecupan lembut. Suke melepaskan bibirnya dan menatap Sakura dalam. Ia masih tetap menggesekkan alat vitalnya dengan intens pada permukaan kewanitaan Sakura.

"Ngghh, ah, ah, ahmm! S-Suke-aahh!" Sakura memekik ketika Suke menyampirkan tungkai kakinya di siku dalamnya dan melebarkan paha Sakura. Lalu Suke kembali menggesekkan kejantanannya yang masih terbalut celananya ke kewanitaan Sakura.

Tubuh Sakura tersentak-sentak ketika merasakan klitorisnya yang membengkak digesek kasar oleh gundukkan Suke di bawah sana. "Ahh, ahhn, ah! Ah! Sukeee! NGGHHH!"

Suke menggeram dan menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher Sakura ketika merasakan celananya basah. Ya, basah oleh cairan Sakura.

"Suke ...," lirih Sakura ketika Suke menurunkannya.

"Sakura," Suke menatap Sakura yang masih bersandar lemas di di dinding dengan tatapan lembut. "Mau 'kah kau bercinta denganku?"

"Ya," Sakura balas menatap Suke dalam. "Ayo bercinta, Suke-kun."

Suke tersenyum tipis dan segera menggendong Sakura. Ia melangkah mendekati ranjang besar berseprai hitam itu dan dengan lembut Suke merebahkan Sakura di tengah ranjang itu.

Sakura menyamankan dirinya di sana dan menatap Suke yang mulai melepaskan jubah tanpa melepaskan tatapan matanya dari Sakura.

Suke menjentikkan jarinya dan dengan sendirinya gorden hitam ruangan itu mulai menutupi kaca jendela hingga kini hanya api kecil dari lilin-lilin yang menyala sendiri di sisi ranjang. Setelah itu Suke membuka celananya.

Kini tubuhnya telah telanjang bulat di bawah sinar temaram ruangan itu. Ia berdiri telanjang bulat di tepi ranjang, tubuhnya begitu kokoh, berwarna putih pucat bak porselen(seperti kulit vampir pada umumnya) dengan permukaan dada yang bidang, bahu tegap dan otot perut yang terpahat sempurna. Bentuk tubuh ideal ciptaan Tuhan yang begitu indah dipandang. Sakura bahkan lupa caranya untuk bernapas dan berkedip.

Suke menyeringai kecil dan mulai merangkak ke atas tubuh Sakura. "Suka dengan apa yang kaulihat?" Bisiknya di telinga Sakura sensual.

Sakura segera memeluk leher Suke agar vampire itu tidak melihat wajahnya yang merona. "Jangan menggodaku," bisiknya lirih. Suke hanya terkekeh kecil dan mengecup bahu Sakura. "Shh, kulitmu dingin," bisik Sakura. Ya, seperti biasa tubuh Suke memang selalu dingin bagai es.

"Aku akan menghangatkanmu dengan sentuhanku," Suke segera menelanjangi Sakura dan setelah itu, ia kembali merangkak menindih tubuh polos di bawahnya dan memeluk Sakura posesif. Tanpa melakukan apa pun. "Apa kau yakin akan merelakan keperawananmu untukku?" Suke bertanya seraya mengecupi bahu Sakura lembut.

"Kenapa kau bertanya lagi?" Sakura mengelus punggung kokoh Suke pelan dan mengecup rahang lelaki itu ringan. "Aku yakin, dan tidak akan menyesal."

"Benarkah?" Suke memijat buah dada Sakura dan menyelipkan satu jarinya di lipatan kewanitaan sempit gadis itu.

Sakura mendesah pelan dan mengangguk. "Ya—ahhh! Ah, ah, ahhhm!" Suke tersenyum kecil dan segera melesakkan lidahnya ke dalam mulut Sakura dan mengamuk liar di sana.

Suke semakin mempercepat gerakan jarinya dan pijatan lembutnya pada buah dada Sakura ketika merasakan lorong sempit di bawah sana berkedut hebat menjepit jarinya.

"Aghhhh!" Sakura melesakkan kepalanya di bantal ketika klimaksnya datang.

Suke menarik jarinya dan menjilatinya hingga kering, lalu ia kembali menindih Sakura—memeluk gadis itu lembut. Setelah menetralkan napasnya, Sakura balas memeluk Suke dan mengecup hidung lelaki itu. "Lakukanlah dengan lembut," bisik Sakura. "Ini yang pertama untukku,"

"Aku tahu," Suke tersenyum menenangkan. Lelaki itu melebarkan sedikit paha Sakura dan mulai memasukkan ujung kejantanannya.

"Eungghh!" Sakura memegang erat bahu Suke. Menggigit bibir bawahnya kuat hingga terasa keram, namun Sakura tak memedulikannya, yang ia pedulikan saat ini adalah sesuatu yang keras tengah mencoba menembus tubuh bagian bawahnya.

"Bersiaplah," bisik Suke, dan detik berikutnya Sakura menjerit ketika kejantanan Suke telah tertanam sempurna di dalam lorong kewanitaannya.

Sakit. Itu 'lah yang Sakura rasakan. Seperti tubuhnya telah sukses dirobek menjadi dua.

"Sakit ...," tangis Sakura pecah. Demi Tuhan, rasanya sakit sekali. Batinnya.

Suke mengelus pipi Sakura dan mencium bibirnya lembut. "Rasa sakitnya akan segera hilang." Dan dengan itu Suke mulai menggerakkan kejantanannya keluar masuk. Mulanya pelan dan sangat lembut, namun seiring berjalannya waktu gerakan Suke bertambah cepat dan sangat cepat.

Sakura mulai merasakan nikmatnya dan tak segan gadis yang telah menjadi wanita itu mulai mendesah hebat. "Ahh, S-Suke-aahh! Ah, ah, ahhh!"

Suke memegang paha Sakura dan membantu Sakura untuk ikut bergerak bersamanya. Kepalanya menunduk melihat bagaimana kejantanannya yang sudah terlumuri cairan dan darah kesucian Sakura itu bergerak keluar masuk dengan cepatnya di kewanitaan Sakura.

Sakura menggelengkan kepalanya menahan rasa. "Aah ... aahhh ... Suke-kunhh! Aaahhh,"

"Hmmhh, Sakurah, kau benar-benar luar bisa." Suke menguburkan wajahnya di balik bahu mungil Sakura.

Dengan sekali hentakan, Sakura dapat merasakan cairan hangat masuk ke rahimnya. Ia mendesah lega. "Ahh, hangat."

Dengan napas yang masih memburu, tiba-tiba Suke mengangkat tubuh Sakura hingga Membuatnya terduduk di pangkuan Suke.

"Suke-kun," Sakura menyandarkan kepalanya pada bahu lebar makhluk vampire itu, "Aku masih lelah,"

"Hn, aku masih menginginkanmu," Suke membelai rambut Sakura lembut. "Tapi aku tidak akan memaksa jika—"

"Lakukanlah!" Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Suke lembut, "aku juga masih menginginkanmu, Suke-kun." Sakura memutar pinggangnya hingga membuat kejantanan Suke terasa dipijat memutar dan dengan spontan menemukan sweet-spot Sakura.

"Aahh!" mereka mendesah berasamaan karenanya.

Suke mengelus kedua pantat Sakura lembut. "Kalau begitu, bergeraklah."

Sakura segera mencium bibir Suke dan menggerakkan pinggangnya naik-turun di atas pangkuan Suke. Ia pun melingkarkan kakinya di pinggang Suke membuat kejantanannya semakin mudah menusuk ke dalam kewanitaan Sakura.

Sakura melepaskan pagutan bibirnya dan memeluk leher Suke erat ketika ia semakin mempercepat gerakan pinggulnya. "Aahh, ohh, Suke-kunh ... mmhh, ahh!" desah Sakura erotis di telinga Suke.

Suke menarik wajah Sakura dan menyumpal mulut wanita muda itu dengan bibirnya. Membawanya dalam ciuman liar yang memabukkan.

Sakura mencengkeram bahu Suke dan semakin mempercepat gerakannya ketika pencapaiannya telah di ambang batas.

"Ngghh, hmmpp! NGGHH!" Sakura mendesah panjang di sela pagutan bibir mereka diikuti geraman rendah Suke.

Kepala Sakura lunglai di bahu Suke dengan mata terpejam. Napasnya masih memburu, berbeda dengan Suke yang masih bernapas normal. Ah, tidak aneh mengingat Suke bukanlah manusia, melainkan seorang vampire.

Sakura membuka matanya saat merasa benda lembut menyentuh punggungnya. Suke kembali membaringkan tubuh Sakura. Tanpa melepaskan penyatuan mereka.

"Aku masih menginginkannya," ucapan Suke membuat Sakura tersenyum kecil lalu mencium hidung Suke.

"Lakukanlah sesukamu, Suke-kun. Bahkan aku tidak ingin hari ini berakhir," lirih Sakura sendu.

Suke mengecup dagu Sakura. "Hn, aku juga." Dengan itu lagi-lagi secara tak diundang Suke kembali menggerakkan kejantanannya.

Mulutnya tak tinggal diam, ia mengulum nipple Sakura gemas, lalu lidahnya melilit nipple Sakura dan menjilat puncaknya. Terkadang ia menggigit pelan nipple Sakura.

"Aaahh ... l-lebih c-cepathh, Suke-kun! Mmmhhh!"

Semakin Sakura mendesah gerakan Suke semakin brutal. Sakura bahkan tak tahu sudah berapa kali orgasme. Suke semakin gencar melukis kiss mark di leher Sakura dan tangannya yang nakal menggesek-gesek klitoris wanita muda itu.

Sakura hanya bisa mendongakkan kepalanya. Menatap langit-langit ruangan dengan dahi mengerenyit pasrah. Ia menikmatinya.

"Emmh, ahh ... ahh ... Suke! Aaahhh!"

Suke menyambar lagi bibir Sakura yang telah membengkak karena ia menciumnya terlalu keras saat mereka berdua orgasme bersamaan.

.

"Anggghhhh!" Sakura menggenggam sprai kasur dengar erat. Suke berkali-kali menjilati bibir kewanitaannya, dan itu sukses membuat sarafnya melemah.

Sial!

Sakura pikir Suke akan berhenti setelah klimaksnya yang terakhir, tapi ternyata vampire itu masih menginginkannya. Terbukti ketika Suke melepaskan kejantanannya dan segera mencumbu kewanitaan Sakura yang basah dan membengkak. Sakura tak dapat berbuat apa-apa selain menikmatinya.

"Aahh! Suke-kunh! Ohhnn!"

Suke melebarkan kaki Sakura dan memasukkan lidahnya ke lorong kewanitaannya. Meliuk-liuk dan mengeksplor tiap bagian di sana dengab liar.

Sakura merasa meleleh karena sentuhannya. Sakura bahkan tak sadar kapan Suke memasukkan sekaligus dua jarinya ke dalam lorongnya juga. Ia menggerakkan jarinya seraya menghisap kuat kewanitaan Sakura.

Sakura mendongakkan kepalanya ke atas. Ia seperti terbang ke langit ke tujuh ketika ia kembali klimaks entah untuk yang ke berapa kalinya.

"Suke, nghhhhh!"

Napasnya memburu. Dadanya naik turun tak karuan. Ia memandang vampire itu sayu saat Suke menelan semua cairannya dan menjilatnya hingga habis. Setelah itu, Suke kembali mencium bibirnya dan membuatnya merasakan cairannya sendiri.

Tanpa Sakura sadari, Suke kembali memasukkan kejantanannya ke dalam lorongnya dengan sekali hentakkan.

"Nggh, akh!" Sakura merintih pelan, lalu menatap Suke dalam. "Kau bersemangat sekali, Suke-kun ...," ucap Sakura lembut seraya memainkan rambut raven Suke.

"Kau tahu?" Suke bergerak pelan sekali seakan sangat menikmati gesekan lembut di bawah sana. "Aku tidak pernah merasa puas dalam segala hal," Sakura mendesah kecil ketika Suke merubah gerakannya menjadi memutar, "dan bercinta denganmu adalah hal yang tidak akan membuatku merasa puas, sehingga aku menginginkannya lagi dan lagi,"

"Mesum!" Sakura memukul dadanya pelan dan menerima tawa renyah darinya.

Suke masih bergerak pelan ketika Sakura kembali membuka mulutnya. "Apa yang akan terjadi setelah ini, Suke? Apa kau akan membiarkan mereka menghancurkan menara ini?"

"Hn," Suke menciumi alis Sakura lembut, "aku tidak bisa melarang mereka melakukannya."

"Lalu bagaimana denganmu?" Sakura menatap Suke nanar, tanpa memedulikan gesekan nikmat di kewanitaannya.

Suke menengelamkan wajahnya di leher Sakura dan menggigit kecil kulit leher itu sehingga meninggalkan jejak merah kebiruan di sana.

"Suke?" Sakura mengangkat wajah Suke dari lehernya, dan menatap iris berbeda warna itu dalam, "kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau akan tetap di sini dan hancur bersama menara ini?"

"..." Suke hanya diam. Masih menggerakkan pinggulnya pelan.

Mata Sakura mulai berair ketika mendengar para pekerja di luar sana menghancurkan menara ini sedikit demi sedikit. Ia tak tahu sudah berapa lama ia memadu kasih dengan Suke, hingga ia tak menyadari jika sekarang sudah saatnya menara ini akan dihancurkan.

"Baiklah," Sakura menutup matanya sejenak dan kembali membukanya, menatap Suke penuh tekad. "Jika kau memang tidak akan pergi, maka aku juga akan tetap di sini bersamamu."

Suke hanya tersenyum mendengarnya, tapi tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Ia kembali menggerakkan pinggulnya cepat.

Kaki Sakura reflek melingkar di pinggang Suke dan itu telah memudahkan Suke untuk bergerak cepat.

"Kenapa Tuhan tidak adil padaku, Suke? Ahhn,"

Suke hanya diam. Ia fokus pada lorong lembut basah di bawah sana yang memanjakkan alat vitalnya.

"Kenapa aku harus bertemu denganmu jika pada akhirnya kita harus berpisah? Nghh, ahh, hikss," air mata Sakura mulai mengalir di tengah desahannya. Tanpa memedulikan tubuhnya yang tersentak-sentak akibat gerakan Suke yang semakin beringas, Sakura kembali membuka mulutnya. "Kenapa aku harus mencintai sesosok vampire yang jelas tidak mungkin bisa bersatu denganku? Seorang manusia! Angggh!"

Mendengar hal itu, tatapan Suke mendingin dan gerakannya semakin brutal. Namun Sakura tak memedulikannya, karena kini ia sibuk menyentuh tubuh Suke. Barangkali ia tak dapat menyentuhnya lagi nanti setelah ajal menjemput mereka. Beberapa saat lagi.

Mereka terus melakukannya. Saling menyentuh dengan emosi berkecamuk, namun penuh perasaan dan terkontrol. Di bawah atap menara, dengan cahaya lilin temaram dan di ranjang lembut terbalut kelambu yang menutup mereka dengan perlahan. Satu cinta dan penyatuan membuat seseorang yang terjebak dalam kutukan selama ratusan tahun lamanya akhirnya terbebas dan ... menghilang.

"Terima kasih, Hatake Sakura." Bisik Suke setelah ia membuahi rahim Sakura untuk yang kesekian kalinya.

Setelah mengecup kening Sakura, Suke segera memeluk tubuh Sakura yang tak sadarkan diri dengan sayap bercakarnya ketika menara itu hancur.

.

.

.

.

.

.

BRUAK!

Suara nyaring datang terdengar memekakan telinga diikuti hancurnya sedikit demi sedikit bangunan kokoh itu dan akhirnya memporak porandakan menara yang dikabarkan angker tersebut.

Para pekerja tak menyadari jika masih ada seseorang terjebak bersama vampire di dalam sana.

Seorang gadis muda bernama Hatake Sakura.


To be continue


A/N : Oh astagaaaaa! Akhirnya Sasa bisa juga apdet nih fic yang udah Sasa abaikan selama beberapa bulan ini. Welllll, nah chapter ini full LEMON ya! Maaf kalo ga asem-asem amat xD Buat masa lalu Sasuke kita liat chapter depan oke? Dan maaaf ya Sasa lagi-lagi ga bisa bales review. Ngejar waktu nih, paket internet abis jam 5, jadi yah sekali lagi mohon dimaklumi ya. Terima kasih.

Salam sayang,

UchiHaruno Misaki.