Chapter 5
"hoekkk...hoek..." Hinata mengelap mulutnya pelan. Kepalanya benar-benar pusing. Ia kembali ke futonnya. Ia benar-benar lemas. Natsumi, ninja medis yang memeriksa Hinata kemarin mengatakan agar Hinata tidak boleh banyak pikiran. Bagaimana mungkin ia tidak banyak pikiran? Sekarang ia tidak hanya memikirkan masa depannya, ia sekarang juga harus memikirkan masa depan bayinya.
Hinata mengelus pelan perutnya.
" Hinata sama, waktunya sarapan..." tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu kamar.
" Bisakah kau membawakan makanannya kemari" sahut Hinata masih sambil berbaring.
"Eh...apa anda baik-baik saja Hinata sama? Boleh saya masuk?" tanya pelayan dari luar pintunya.
" Masuklah" sahut Hinata, masih belum beranjak dari futonnya. Pelayan itu memasuki kamar Hinata, melihat Hinata yang selalu rajin bangun pagi dan berlatih sebelum makan pagi meringkuk di futon dengan wajah pucat, pelayan itu melupakan tatakrama dan langsung berlari memeriksa kening Hinata. Wajahnya panik seketika. Tanpa mengatakan apapun ia segera berlari dari kamar Hinata. Para bunken memang menyayangi Hinata.
Sementara Hiashi sedang berbaring dikamarnya, ia telah mengatakan bahwa ia sedang sakit dan ingin makan okonomiyaki buatan Hinata. Kepala pelayan sudah mengatakan akan menyampaikan pesannya untuk Hinata bahwa ia ingin dibuatkan okonomiyaki.
"Badannya panas sekali kageru"
"Tapi Hiashi sama juga sakit, kau tahu kan bagaimana Hiashi sama jika sakit? Semua keinginannya harus dikabulkan?"
"Tapi tidak mungkin kita memaksanya kageru, wajah Hinata sama pucat sekali...aku tak tega...lagipula Hiashi sama aneh sekali...ia sakit kenapa minta makan okonomiyaki?...aku yakin Hinata sama pasti mau membuatkan okonomiyaki untuk Hiashi sama, tapi bangun dari tempat tidur saja ia tak sanggup kageru"
Hiashi mendengar bisik-bisik diluar kamarnya. Awalnya ia hanya mengira hanya masalah biasa saja. Namun ketika mendengar nama putri pertamanya disebut, tubuhnya kaku.
Ia segera bangkit.
" Hinata sakit?" tanya Hiashi dingin, ia tak menghiraukan tatapan kaget pelayan-pelayannya itu ketika ia tiba-tiba membuka pintu.
"Se...sepertinya begitu Hiashi sama, saya tadi memeriksa kamar Hinata sama karena ia tidak hadir makan pagi, waktu saya cek dikamar, Hinata sama masih berbaring di futon, wajahnya pucat dan saat saya cek temperaturnya, Hinata sama panas sekali" jelas pelayan itu.
Tanpa pikir panjang Hiashi segera berlari kearah kamar Hinata, ia berpapasan dengan Hanabi di koridor.
"lho ayah bukannya sedang sakit?" seru Hanabi, tapi teriakan Hanabi sama sekali tidak dihiraukan oleh Hiashi.
Hiashi segera mengecek kening Hinata dengan panik melihat wajah pucat Hinata. Kenangan buruk tentang Hinata waktu kecil berkelebat dalam bayangannya. Ia masih ingat, ketika kecil Hinata sempat sakit seperti ini. Awalnya Cuma panas dan wajahnya pucat seperti ini. Namun akhirnya ia sempat kritis selama 3 hari.
" Hinata...Hinata...ini ayah...bisakah kau membuka matamu nak..." Hiashi mengguncang-guncangkan Hinata dengan panik. Rasa takut benar-benar menjalarinya.
Hinata membuka matanya pelan. Melihat wajah ayahnya tepat berada di depan wajahnya.
" Maaf ayah...Hinata sedang tidak bisa berlatih...bisakah kita latihan besok saja?" tanya Hinata lemah. Hiashi sedikit senang mengetahui Hinata sadar.
" Apa yang sakit Hinata? Katakan pada ayah hm?" kata Hiashi lemah lembut. Hanabi yang tadi mengikuti ayahnya berlari kekamar Hinata hanya ternganga.
'Sejak kapan ayahnya bisa bersikap lemah lembut seperti itu ' batin Hanabi.
" Hanya pusing ayah" kata Hinata sambil kembali meringkuk ke futonnya.
" Kageru panggil dokter Taka kemari untuk memeriksa Hinata, sekarang" perintah Hiashi tegas.
" Baik Hiashi sama" sahut kageru.
" Jangan..."erang Hinata pelan melihat kageru beranjak pergi.
"Kau harus diperiksa Hinata..." bujuk Hiashi lembut. Hinata terlalu ketakutan untuk memperhatikan kelemahlembutan Hiashi. Ia takut akan ketahuan hamil jika dokter Taka memeriksanya lalu melaporkannya pada ayahnya. Tapi ia tahu bahwa ayahnya pasti akan memeriksakannya, apapun yang terjadi.
"Bisakah kau memangggilkan dokter Natsumi saja" pinta Hinata sambil menatap ayahnya.
" Dokter Taka adalah dokter terbaik yang dimiliki klan hyuga Hinata, ayah percaya kemampuannya" terang Hiashi.
" Hinata tahu ayah, Hinata hanya lebih nyaman jika yang memeriksa dokter perempuan, lagipula tadi malam Hinata sudah periksa, dokter Natsumi sudah memberikan Hinata vitamin" jawab Hinata pelan. Melihat Hinata yang keras kepala Hiashi akhirnya mengalah.
"Baiklah...kageru kau dengar kan?bawa dokter Natsumi kemari" perintah Hiashi.
"Biar Hanabi saja ayah, biar lebih cepat" tawar Hanabi, Hiashi hanya mengangguk mengiyakan.
####
####
Bruk...!
"Maaf" kata Hanabi tanpa menoleh, ia segera meninggalkan tempat itu dan mencari dokter Natsumi.
" Hei tunggu dulu" orang yang ditabrak Hanabi menahan tangannya ketika Hanabi akan melangkahkan kakinya. Hanabi membalikkan badannya.
"Eh...paman?" seru Hanabi kaget, Sasuke langsung menaikkan alis tanda tak suka
"Sudah kubilang jangan panggil aku paman" kata Sasuke galak. "Lihat apa yang kau lakukan..! mochi ku jatuh semua!" Lanjut Sasuke, "Sekarang gantian kau yang harus membantuku membuat mochi" katanya jahil sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hanabi.
Sasuke baru menyadari Hanabi tidak marah atau membalas pernyataannya,namun Hanabi hanya diam dengan mata berkaca-kaca. Sasuke langsung menghentikan candaannya.
"Hei...apa terjadi sesuatu?" tanya Sasuke pelan
"A...aku mencari dokter Natsumi...tapi ketika ku cek ke rumah sakit, ia sedang tidak berjaga bagaimana ini?" kata Hanabi hampir menangis. Sasuke hanya mendekati Hanabi sambil mengelus pundaknya, ia sebenarnya ingin memeluk Hanabi, tapi ia tak punya keberanian.
" Aku tak pernah melihat ayah berlaku selembut ini pada Hinata nee chan...pasti Hinata nee chan sakit serius" lanjut Hanabi sambil terisak. Seketika Sasuke ingat bahwa Natsumi adalah dokter yang memeriksa Hinata tadi malam. Kebetulan sekali dokter itu tinggal di bawah apartemennya.
"Ayo aku antar ke rumah dokter Natsumi" Sasuke berkata sambil menggendong Hanabi di pudaknya.
"Hei hei hei..." Hanabi berteriak kaget ketika Sasuke melompat dari atap bangunan yang satu keatap bangunan yang lain.
####
Hiashi menunggu didepan pintu kamar Hinata dengan cemas. Peristiwa Hinata kritis saat masih berusia 3 tahun kembali berkelebat dibayangannya. Ia masih ingat waktu ia harus menenangkan istrinya yang berkali-kali pingsan melihat kondisi Hinata pada saat itu. Ia bahkan tak sempat memberikan pandangan tajam pada bocah Uchiha yang datang bersama Hanabi dan dokter Natsumi.
"Tenang ayah...Hinata nee sama pasti hanya sakit biasa, mungkin ia kelelahan" kata Hanabi menenangkan.
"Hiashi sama" Hiashi menolehkan wajahnya dan melihat bahwa dokter Natsumi yang memanggilnya. Sepertinya dokter Natsumi sudah selesai memeriksa Hinata.
" Bagaimana keadaan Hinata? Apa dia baik-baik saja? Apa yang harus kulakukan? Dia tidak sakit parahkan?" cecar Hiashi tidak sabar
" Maaf saya tidak bisa memberikan data secara detailnya Hiashi sama. Anda bisa menanyakan langsung pada Hinata sama. Yang bisa saya katakan, Hinata sama harus dijaga dengan baik, ia tidak boleh punya pikiran terlalu banyak, hal itu bisa mengakibatkan stress. Saya sudah memberikan vitamin dan beberapa obat, saya yakin Hinata sama akan baik-baik saja" kata Natsumi sambil tersenyum. Mendengar bahwa Natsumi menolak memberitahukan apa penyakit Hinata Hiashi marah, ia hampir saja berteriak-teriak didepan Natsumi.
Hiashi menahan diri, ia akan mencoba membujuk Hinata untuk menceritakan segala yang ia pendam padanya. Ia tahu itu akan sedikit sulit, mengingat ia sama sekali tak akrab dengan putri pertamanya itu. Dulu ketika putrinya masih kecil, ia sangat memanjakannya, saat putrinya berumur 5 tahun Hiashi mulai melatihnya untuk menjadi shInobi.
Begitu melihat Hinata yang takut untuk menyakiti orang lain, Hiashi marah. Bagaimana bisa menjadi shInobi jika takut menyakiti orang lain. Sejak saat itu, Hiashi tak segan-segan membanting Hinata ke lantai saat berlatih bertarung dengan Hinata. Ia masih ingat mata Hinata yang terbelalak saat pertama kali Hiashi membanting Hinata kelantai, Hinata begitu tak percaya melihat ayahnya yang biasa menggendong dan memanjakannya tega membantingnya kelantai.
Sejak saat itu semua berubah, Hinata tak lagi memandang matanya jika bertemu dengannya, ia hanya memberi hormat dengan menundukan wajahnya, Hinata tak pernah meminta gendong lagi padanya, Hinata juga tak pernah lagi mengucapkan selamat pagi sambil mencium pipinya. Minggu-minggu pertama Hinata melakukan itu, Hiashi ingin sekali meminta maaf dan memeluknya. Namun ia menahan diri karena ia ingin Hinata menjadi shInobi yang kuat, ia ingin kelak ketika Hinata menjadi ketua klan, tidak ada yang berani meremehkannya walaupun Hinata adalah seorang perempuan. Ia ingin Hinata biasa menjaga dirinya ketika ia sudah tak bisa menjaganya. Hiashi pun bersikap dingin dan pura-pura tak peduli.
Hiashi mengucapkan terimakasih pada Natsumi lalu masuk kekamar Hinata. Ia duduk disebelah Hinata yang kini tengah bersiap makan bubur yang telah disiapkan pelayan.
" Apa kau suka buburnya? Bagaimana perasaanmu? apa ada yang terasa sakit?" ucap Hiashi lembut. Hinata membelalakkan matanya mendengar suara Hiashi yang begitu lembut. Hinata kembali teringat akan ayah yang disayanginya bertahun-tahun yang lalu.
"Mmmmm Hinata baik-baik saja ayah...tak perlu cemas" jawab Hinata pelan. Ia menunduk dan sibuk bermain dengan buburnya. Hiashi menghela nafas kecewa, walaupun Hinata sudah bertambah kuat sebagai shInobi, ia masih saja menundukkan kepala jika berbicara dengannya.
" Sebenarnya kau sakit apa? Dokter Natsumi menolak memberitahukan penyakitmu pada ayah" tanya Hiashi masih dengan suara yang lembut.
"Tidak ada penyakit ayah, Hinata Cuma banyak pikiran, Hinata akan berusaha agar tidak terlalu memikirkannya" jawab Hinata masih dengan menunduk. Hiashi merutuk dalam hati. seharusnya ia tidak berubah bersikap dingin pada putrinya dulu, jika ia menjelaskan bahwa ia membanting-banting Hinata dulu untuk melatih Hinata agar menjadi kuat tentu Hinata akan mengerti. Hinata tak akan menjauh seperti ini.
" Apa ada yang bisa ayah lakukan agar bisa membuatmu lebih baik?" tanya Hiashi lembut "Apa kau ingin makan sesuatu? Atau kau ingin bantuan ayah untuk meyelesaikan masalahmu?" tanya Hiashi lagi ketika melihat Hinata hanya diam.
"Terimakasih ayah atas perhatiannya, Hinata sungguh tidak apa-apa" jawab Hinata lemah. Mendengar suara Hinata yang lebih lemah dari biasanya membuat Hiashi makin panik.
" Hinata hanya ingin sendiri ayah...Hinata hanya ingin berpikir sejenak" lanjut Hinata. Hiashi hanya menghembuskan nafas pelan. Hinata sepertinya telah membangun benteng yang sangat kokoh yang tidak bisa ditembus oleh sembarang orang.
" Baiklah...jangan terlalu memaksakan diri...jika ada yang bisa ayah lakukan katakan saja...ayah akan melakukannya" kata Hiashi lembut. Hiashi masih sempat melihat raut muka Hinata yang luar biasa terkejut saat Hiashi mengecup kening Hinata lembut.
Hiashi melihat Hanabi dan bocah Uchiha menunggu diluar kamar Hinata.
" Apa nee sama baik-baik saja ayah?" tanya Hanabi
" Ya...dia perlu waktu istirahat, sebaiknya kalian jangan masuk dulu" Hiashi melirik Sasuke dingin.
"Uchiha san yang membantuku mencari dokter Natsumi ayah...tadi dokter Natsumi tidak sedang jaga dirumah sakit jadi aku harus kerumahnya, ternyata dokter Natsumi tinggal di apartemen di bawah apartemen Uchiha san" terang Hanabi begitu melihat ayahnya melirik galak pada Sasuke.
Hanabi heran, beberapa bulan yang lalu ketika perang berakhir Hiashi tidak pernah ada masalah dengan Sasuke. Bahkan ia bersimpati ketika mendengar apa yang sebenarnya terjadi dengan klan Uchiha. Namun entah mengapa akhir-akhir ini Hiashi menunjukkan rasa tidak sukanya pada Sasuke, bahkan kadang ia menyebut 'si bocah Uchiha' ketika membicarakan Sasuke.
" Aku berterimakasih atas bantuannya Uchiha san" kata Hiashi dingin.
" Tak masalah Hiashi san" kata Sasuke sambil tersenyum samar.
"Oh ya ayah...Hanabi minta ijin ke tempat Uchiha san...tadi Hanabi tidak sengaja menabrak Uchiha san dan mochi yang Uchiha san beli jatuh semua" kata Hanabi sambil memberi hormat, ia menggamit tangan Sasuke untuk pergi dari situ.
"TIDAK BOLEH!" tiba-tiba Hiashi berteriak. Matanya mendelik kearah tangan Sasuke dan Hanabi yang masih bertautan. Hanabi hanya ternganga melihat ayahnya tiba-tiba marah. Sementara Sasuke hanya menahan senyum, entah karena digandeng Hanabi atau karena merasa lucu melihat reaksi panik Hiashi yang melihat keakraban putri bungsunya dengan pemuda yang lebih tua 5 tahun.
"Eh..tapi ayah kue mochinya..."
" Saya minta maaf soal kue mochinya Uchiha san...saya akan menyuruh pelayan kami mengantarkan kue mochi yang baru kerumah anda" kata Hiashi dengan sorot mata tajam menantang kearah Sasuke. Sasuke hanya mengangguk setuju, ia mengerti Hiashi tahu perasaannya pada Hanabi, karena itulah Hiashi bersikap dingin padanya.
Ia sama sekali tidak tersingggung atau marah pada Hiashi. Ia mengerti sebagai seorang ayah pasti ia menginginkan yang terbaik untuk puterinya. Karena itulah Sasuke akan berusaha menunjukan bahwa ia memang pemuda yang baik dan pantas bersanding dengan Hanabi.
" Baiklah...mari saya antar kedepan Uchiha san" kata Hanabi
" Saya pamit Hiashi san" kata Sasuke, Hiashi hanya mengangguk hormat. Kepalanya berdenyut-denyut melihat putri bungsunya mengantarkan seorang Sasuke Uchiha.
###
Hiashi berjalan dengan kepala berdenyut-denyut menjelang makan malam. Ia terkejut begitu melihat Hinata ikut duduk bersama Hanabi dimeja makan.
" Hinata..? apa kau baik-baik saja? Kenapa memaksakan diri?makanlah ditempat tidur" bujuk Hiashi cemas.
"Tak apa ayah... Kiba kun dan shIno kun menjenguk Hinata tadi sore...mereka membawa banyak sekali buah-buahan...rasanya segar sekali..sekarang Hinata sudah merasa lebih baik" kata Hinata sambil tersenyum. Hiashi menghembuskan nafas lega, ia dapat melihat Hinata sudah tak sepucat tadi pagi.
Mereka pun makan dalam diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Selesai makan Hiashi menyuruh Hinata ikut keruangannya. Sekarang ini Hiashi hanya berdua dengan Hinata. Ia menatap Hinata yang menunduk dihadapannya.
" Hinata, aku masih ingat bahwa beberapa hari yang lalu kau mengajukan diri untuk pergi ke Roppan, apakah kau masih ingin kesana?" tanya Hiashi. Hinata mendongak menatap ayahnya. Sorot mata Hinata penuh harap.
" Ya ayah...Hinata ingin sekali kesana" jawab Hinata sungguh-sungguh. Melihat sorot mata Hinata, Hiashi pun semakin mantap mengijinkan Hinata pergi.
" Baiklah ayah izinkan..." kata Hiashi sambi tersenyum.
" Benarkah ayah?"tanya Hinata tak percaya. Hiashi hanya mengangguk. Mata Hinata berkaca-kaca sambil mengucapkan terimakasih. Melihat reaksi Hinata, Hiashi terkejut, betapa tersiksanya Hinata saat ini dikonoha. Itu pasti ada kaitannya dengan Naruto uzumaki. Hiashi sendiri tak habis pikir kenapa ada pemuda yang bisa menolak Hinata. Putrinya begitu menarik, bahkan setiap tahun Hiashi selalu sibuk menolak pinangan dari banyak keluarga yang ingin menjadikan Hinata sebagai istri untuk putra mereka.
" Kalau begitu Hinata kekamar dulu ayah" kata Hinata sambil tersenyum. Hiashi ikut tersenyum melihat ia bisa meringankan beban Hinata sedikit.
" Hinata" panggil Hiashi ketika Hinata membuka pintu ruangannya, "Suatu saat nanti Naruto Namikaze pasti akan menyesal karena tidak memilihmu" lanjut Hiashi. Sesaat Hiashi melihat raut muka Hinata yang terkejut, lalu kemudian Hinata hanya tersenyum dan beranjak pergi.
###
Hinata sedang sibuk membereskan barang-barangnya untuk dibawa ke Roppan. Besok pagi ia akan berangkat ke Roppan bersama rombongan hyuga yang lain.
Ayahnya sudah memastikan bahwa mereka akan menempuh perjalanan dengan kereta kuda. Ayahnya tidak mengijinkan Hinata melakukan perjalanan dengan berjalan ataupun perjalanan ala shinnobi. Ayahnya bilang wajahnya masih pucat, ia tak ingin Hinata sakit karena kelelahan.
Hinata tentu saja tidak membantah, kehamilannya membuat ia mudah lelah. Ia tentu saja tak ingin mempersulit kehamilannya.
" Hinata nee-sama" tiba-tiba Hinata medengar suara Hanabi memanggil dari luar
" Ada apa Hanabi chan?" sahut Hinata
" Ini ada tamu ingin menjenguk" jawab Hinata. Hinata menaikkan alisnya. ShIno dan Kiba langsung menjenguknya 3 hari lalu ketika mendengar Hinata sakit, sedangkan Ino dan Chouji menjenguk Hinata hari berikutnya. Mereka mengatakan bahwa Shikamaru menitipkan salam, Shikamaru sedang ada urusan di sunagakure. Hinata menebak-nebak kira- kira siapa yang menjenguknya. Ia tak begitu akrab dengan shInobi lain.
" Antar ke gazebo belakang saja Hanabi chan" ucap Hinata pelan.
"Baik nee-sama"
###
Hinata berjalan menuju gazebo belakang rumahnya. Ia telah mengepak semua barang-barangnya yang akan dibawanya besok pagi. Di rappon nanti Hinata berjanji akan memulai hidup baru bersama anaknya. Sekarang ia bukan pewaris ketua klan, ia tidak akan diawasi seketat dulu.
Hinata terpaku melihat seseorang yang menunggunya di gazebo.
" Naruto- kun" Hinata bergumam pelan.
Naruto tampak kikuk melihat Hinata berjalan kearahnya. Sekarang ketika Hinata duduk diam dihadapannya, suasananya benar-benar canggung. Naruto bingung ingin memulai percakapannya darimana. Sementara Hinata kembali teringat terakhir kali ia berbicara dengan Naruto, kata-kata Naruto yang menyakitkan kembali muncul dalam ingatannya. Padahal ingatan itulah yang ingin ia lupakan. Hinata berusaha duduk sejauh mungkin dari Naruto.
"Ng...aku dengar dari Sasuke kau sakit" kata Naruto mengawali percakapan. Hinata hanya mengangguk sambil menunduk. Rasanya Hinata tak sanggup melihat wajah Naruto. Ia masih ingat ingat wajah dingin Naruto ketika mengusirnya dari apartemen Naruto.
" Ini aku bawakan ramuan herbal...katanya baik untuk er...kondisimu" lanjut Naruto ketika ia menyadari bahwa Hinata tak berniat mengeluarkan sepatah kata pun.
Suasana kembali hening. Naruto baru pertamakali ini tidak bisa berkata-kata banyak, padahal ia tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Sementara Hinata sudah memutuskan hanya akan mendengarkan apa yang akan pemuda itu katakan. Sekarang prioritasnya adalah anak yang dikandungnya. Ia tak ingin stress, itu akan membahayakan bayi yang dikandungnya. Hinata mendengar Naruto menghembuskan nafas keras-keras.
" Dengar Hinata...bisakah kita membicarakan masalah ini dengan kepala dingin?" tanya Naruto gugup, Hinata tau masalah yang dimaksud adalah anak mereka.
" Aku tahu bahwa aku kasar sekali waktu itu, aku panik Hinata...kumohon mengertilah...baru satu bulan aku diumumkan akan menjadi pengganti baa-chan, orang-orang desa juga baru menerimaku, lalu saat kau datang waktu itu aku sedang bersiap-siap pergi kencan dengan Sakura-chan...aku benar-benar panik...aku mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak kukatakan" Naruto terdiam sejenak, ia mengamati raut muka Hinata. Hinata hanya diam, raut mukanya sama sekali tidak berubah.
"Hinata kumohon katakan sesuatu..." kata Naruto memohon, setelah beberapa saat ia menunggu Hinata tak juga bersuara.
" Apa anda sudah selesai bicara Namikaze-san?" jawab Hinata datar, kini Hinata mendongak menatap Naruto datar sedatar wajahnya. Sepertinya latihan sebagai calon pemimpin klan hyuga berguna juga digunakan saat ini.
Naruto tersentak mendengar Hinata memanggilnya dengan sebutan Namikaze-san
"Hinata..." kata Naruto memohon
" Dengar Namikaze san...angin malam tidak baik untuk wanita hamil...bagaimana kalau kau bicara langsung keintinya saja" kata Hinata tegas. Naruto hanya menghela nafas, ia tak menyangka bahwa Hinata, gadis manis, lemah lembut dan pemaaf, bisa sedingin ini pada orang yang dicintainya. Naruto yakin, ia pasti telah menorehkan luka yang amat dalam jika Hinata sampai bersikap seperti ini.
" Aku ingin minta tolong..." Naruto ragu-ragu, " jika kau ketahuan hamil...bisakah kau merahasiakan bahwa ayah anak itu adalah aku" lanjut Naruto. Seketika Naruto bisa melihat wajah Hinata memucat.
" Aku akan membantu kau membiayai anak itu tentu, aku juga akan melindungi kalian jika ada tetua hyuga atau orang lain mengganggu kalian" kata Naruto cepat-cepat.
Setelah mengatakan apa yang ada dipikirannya Naruto terdiam. Sementara Hinata sibuk menenangkan diri agar air matanya tidak jatuh dihadapan ayah anaknya ini.
" Namikaze san terimakasih telah menawarkan uang atau pun perlindungan" kata Hinata datar, "tapi maaf saya tidak bisa menerimanya" lanjut Hinata. Hinata bisa melihat raut muka Naruto yang terkejut.
" Saya memang bukan calon pemimpin klan hyuga, namun bukan berarti saya tidak punya uang. Saya jamin anak ini tidak akan kekurangan soal materi. Dan masalah perlindungan...anda tenang saja, saya tidak akan diawasi seketat dulu karena saya bukan lagi seorang calon pemimpin hyuga. Ya...mungkin akan ada masalah karena saya hamil diusia 17 tahun dan tidak punya suami, tapi saya akan mencari jalan keluar sendiri" Hinata menatap Naruto tajam.
"Hinata..." Naruto memohon, ia juga merasa bersalah jika menghamili seseorang lalu lari dari tanggung jawab begitu saja. Jika Hinata mengijinkan ia membantunya, maka rasa bersalah Naruto tentu akan jauh berkurang.
" Sekarang sudah malam Namikaze san, sebaiknya anda pulang, saya perlu istirahat yang cukup" kata Hinata dingin seakan-akan Hinata sama sekali tidak mendengar nada memohon ketika Naruto memanggil namanya. Hinata berdiri untuk mengantar Naruto ke gerbang depan. Naruto ingin sekali membujuk Hinata, namun sekarang ini Hinata sepertinya sedang tidak bisa dibujuk. Mungkin beberapa hari lagi ia akan berkunjung untuk membujuk Hinata.
Hinata dan Naruto berjalan kearah gerbang kediaman hyuga dalam diam.
" Hinata..." panggil Naruto ketika mereka sudah didepan gerbang, "bisakah paling tidak kita tetap menjadi teman?, panggil aku Naruto seperti biasa, rasanya aku sudah tua sekali saat kau memanggilku dengan Namikaze san " kata Naruto sambil memaksakan senyum. Ia melihat raut wajah Hinata tak berubah sedikit pun.
" Hari sudah malam Namikaze san sebaiknya anda pulang" kata Hinata. Naruto hanya mengangguk lemah. Hinata melihat Naruto berjalan gontai kearah apartemennya.
'mungkin suatu saat jika luka ini sudah sembuh...kita bisa berteman lagi Naruto kun...untuk sekarang aku tak sanggup...karena melihat wajahmu saja, rasanya sudah sangat menyakitkan' setelah melihat punggung Naruto menghilang di tikungan, Hinata baru bisa meneteskan airmatanya.
####
####
####
hai hai hai berjumpa lag dengan gw disini
nih gw update lagi...soalnya emang crita ini udah ampe chapter 8
setelah gw pikir2 kayaknya chapter 1 mpe 8 tu cuma prolog deh coz romancenya baru mw gw buat di chapter 9 *digebukin pembaca*
makasih yg udah pada review ya
and tell me what do you think bout this chapter
oy oy 1 lagi yang ketinggalan ada yang punya nama bgs gak bwt anaknya hinata...gw g terlalu yakin ma nama pilihan gw, kali aja readers skalian punya nama unik, nanti kalo ada yang cocok gw pake ok ^_^
