Chapter 6
Hinata menghirup nafas dalam-dalam. Udara di Roppan memang sangat bagus untuk kesehatannya. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke sembilan. Untuk usia orang hamil, kandungan Hinata memang sangat besar. Tenaga medis di Roppan mengatakan bahwa bayi Hinata kembar. Hinata benar-benar tak sabar menunggu buah hatinya lahir kedunia.
Hinata mengelus perutnya pelan. Ia kembali mengingat teman-temannya di konoha. Keadaan hamil memang membuat hormon Hinata tak menentu. Apalagi Sekarang ini ia sedang harap-harap cemas menunggu kelahiran bayinya yang segera lahir. Ia tentu menginginkan dukungan orang-orang terdekat untuk melalui kecemasan dan ketakutan ketika ia melahirkan kelak. Namun apa daya, bahkan yang mengetahui kehamilan Hinata hanya Sasuke dan dokter Natsumi, oh ya Hinata sampai lupa, ada satu lagi orang yang tahu kehamilan Hinata, Naruto, ayah bayinya. Tapi Hinata tentu tidak mengharapkan Naruto mendampinginya ketika melahirkan. Mengakui ini anaknya saja, Naruto tidak mau.
Hinata menghela nafas, memikirkan Naruto Hinata jadi ingat bahwa Naruto sudah diangkat menjadi hokage hampir 3 bulan yang lalu. Naruto pasti sekarang bahagia, ia mendapatkan semua yang ia inginkan. Mulai dari tittle hokage, pengakuan orang-orang desa, dan tentu saja cinta sakura.
Mengingat sakura, Hinata kembali menenangkan diri. Jika Naruto dan sakura menikah lalu punya anak, tentu saja Naruto akan senang hati mengakui anak itu. Naruto juga pasti akan menunggui dan memberikan dukungan ketika sakura melahirkan. Naruto akan mengajari anak-anak mereka melempar shuriken, mengajarkan mereka rasengan, membela mereka jika seseorang ingin mencelakai mereka.
Mata Hinata berkaca-kaca. Ia takut masa depan anak-anaknya kelak. Apa ada yang akan memandang sebelah mata pada anak-anaknya karena mereka lahir diluar nikah?. Apa tetua Hyuga akan menghukumnya beserta anak-anaknya?, Apa anak-anaknya akan menanyakan dimana ayah mereka? Lalu apa yang harus Hinata katakan?, Memikirkan itu semua Hinata kepala Hinata semakin berdenyut-denyut.
Ia merasa bayi-bayi diperutnya menendang-nendang keras. Hinata meringis menahan sakit. Tak biasanya mereka menendang sekeras ini. Tenaga medis Roppan memperkirakan kelahiran anak-anaknya 2 minggu lagi. Tapi entah kenapa Hinata seperti merasakan kontraksi.
" Hinata sama saatnya sarapan" Hinata mendengar pelayan memanggilnya untuk sarapan. Hinata bangkit dan membuka pintu kamarnya. Ia melihat pelayan itu tersenyum dan menghampirinya untuk membantu ia berjalan menuju ruang makan. Tapi entah kenapa seketika ia melhat wajah pelayan itu pucat.
" hi...hi...Hinata sama" katanya bergetar sambil menunjukan bagian bawah tubuh Hinata. Hinata kebingungan, namun ketika ia melihat ke arah bawah kimononya yang basah , ia kembali menatap pelayan itu ketakutan.
" PANGGIL TENAGA MEDIS...HINATA SAMA AKAN MELAHIRKAN..." teriak pelayan itu panik. Beberapa pelayan membantu Hinata kembali ke kamarnya. Mereka membantu menenangkan Hinata agar tidak panik. Hinata ketakutan. Belum pernah ia ketakutan seperti ini.
###
Naruto melirik kertas-kertas yang harus di bacanya pagi itu. Paling tidak setumpuk dokumen ini harus segera diselesaikannya hari ini. Biasanya Naruto tidak akan terlalu pusing melihat dokumen-dokumen ini, bahkan kemarin dokumen yang harus Naruto urus dua kali lebih banyak dari ini. Namun entah kenapa Naruto merasa tidak tenang pagi ini. Perasaannya tidak enak.
Hyuga Hinata. Nama itu terus menerus berputar-putar dalam kepala Naruto. Padahal Naruto sudah mati-matian untuk mengalihkan perhatiannya dengan bekerja tanpa henti, namun usahanya sia-sia.
Naruto kembali teringat peristiwa sekitar 7 bulan yang lalu. Setelah ia menjenguk Hinata malam itu, Naruto membiarkan Hinata tenang sejenak. Ia bermaksud untuk mengunjungi Hinata 1 atau 2 minggu kemudian, ia ingin kembali menawarkan bantuan untuk membiayai dan memberikan perlindungan pada Hinata dan anak yang dikandungnya. Naruto benar-benar merasa bersalah telah mengacaukan masa depan Hinata.
Naruto tidak menyangka setelah 2 minggu ia membiarkan Hinata tenang, saat ia berkunjung ke kediaman Hyuga, penjaga mengatakan bahwa Hinata sudah pergi untuk mengurus bisnis keluarga Hyuga. Naruto sempat menanyakan kemana Hinata pergi, namun penjaga menolak memberitahukannya pada Naruto. Mereka mengatakan bahwa itu urusan keluarga Hyuga, jika ia teman Hinata, maka ia pasti dipamiti oleh Hinata ketika Hinata akan pergi.
Naruto benar-benar panik. Ia tidak tahu bahwa Hinata bisa sampai mengambil keputusan sejauh itu. Rasa bersalah, lega, cemas dan takut bercampur jadi satu. Karena itulah Naruto memutuskan untuk mencari teman-temannya yang kira-kira akrab dengan Hinata.
Naruto akhirnya melihat Ino sedang bersiap makan takoyaki bersama sakura dipinggir jalan. Saat Naruto bertanya tentang keberadaan Hinata, Ino hanya mengangkat alisnya. Ino menyangka bahwa Naruto sudah dipamiti, Cuma tidak hadir untuk mengantar Hinata pergi. Mendengar itu tidak hanya Naruto yang kaget, sakura juga kaget karena Hinata tak pamit padanya. Naruto masih ingat reaksi Ino saat mendengar kekagetan keduanya, Ino mengatakan 'bagaimana kalau kita menghentikan kepura-puraan ini. Naruto, kau tahu Hinata menyukaimu kan? Aku tahu aku tak berhak memaksamu menyukai Hinata, namun melihatmu bersama sakura tentu akan menyakiti Hinata. Apalagi kau bersikap sangat dingin padanya. Kau tahu Hinata tak salah apapun, jadi mengapa kau begitu membencinya? Jadi biarkan Hinata membuka lembaran baru ditempat yang lain, mungkin suatu saat nanti jika Hinata kembali, dia bisa melihatmu bersama sakura tanpa merasakan sakit hati'.
Mendengar kata-kata Ino, Naruto dan sakura hanya diam. Ino pergi tanpa memakan takoyakinya, ia beralasan kehilangan nafsu makan.
Naruto kembali menghela nafas, rasa gelisahnya semakin bertambah. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
" Masuk" sahut Naruto.
Naruto melihat Kiba dan Shikamaru masuk bersama 3 anak didik Kiba.
" Bagaimana misinya?" tanya Naruto ramah pada Kiba dan anak didiknya.
" Baik hokage sama, semua berjalan sesuai rencana. Kami akan menyerahkan laporan resminya besok" jawab bocah berambut hitam jabrik senang. Naruto bisa melihat wajah bahagia murid-murid Kiba yang berhasil menjalankan misi keluar desa untuk pertama kalinya.
Naruto melirik Kiba, wajah Kiba datar-datar saja. Naruto tahu Kiba masih menyalahkannya atas kepergian Hinata. Ia mengatakan bahwa Hinata pergi karena Naruto pamer hubungannya dengan sakura. Padahal Naruto hanya pergi kencan 1 kali dengan sakura, itu pun sudah berbulan-bulan yang lalu. Sekarang hubungan Naruto dan Kiba tak seakrab dulu. Kiba sering menghindarinya, jarang menemuinya jika tidak ada kepentingan yang mendesak.
" Apa ada peristiwa penting yang harus kuketahui?" tanya Naruto lagi. Naruto melihat ketiga bocah itu mengerutkan kening mencoba mengingat-ingat misi mereka.
" Tidak ada hokage sama" kata Kiba tiba-tiba.
" Baiklah kalau tidak ada kalian boleh pergi" kata Naruto berat. Ia merindukan Kiba yang dulu. Cara Kiba memanggil 'hokage sama' padanya membuatnya seperti baru mengenal Kiba. Kiba dan murid-muridnya pun keluar dari ruangannya. Sekarang Naruto menoleh pada Shikamaru.
" Ada masalah apa Shikamaru?" Naruto bertanya pada penasehatnya.
" Tidak ada masalah, aku hanya ingin mengajukan izin keluar desa" kata Shikamaru santai
"Eh...kau mau izin?" tanya Naruto panik, " kau kan belum 3 bulan jadi penasehatku?kenapa kau minta izin?, TIDAK BOLEH!" tolak Naruto.
"Ini urusan pribadi dan sangat mendadak. Aku tidak bisa menunda atau mengabaikan masalah ini" kata Shikamaru.
"Eh...apa masalahnya parah sekali?, tapi masa tidak bisa ditunda?kalau kau pergi bagaimana dengan nasibku?" rajuk Naruto," lagipula apa sih urusan yang lebih penting dari pada membantuku mengurus desa" lanjut Naruto. Shikamaru menghela nafas pelan.
" Temari hamil" kata Shikamaru
" Hah...waaaah... temari hamil ya, sepertinya 6 bulan lalu ketika ia berkunjung ke desa, dia baik-baik saja" kata Naruto sambil tersenyum, " astaga Shikamaru...jika 6 bulan lalu temari belum hamil berarti sekarang hamilnya kan belum terlalu besar, jangan menengok sekarang...nanti saja kalau sudah lahir...aku juga pasti akan menengok...kita tengok sama-sama saja" kata Naruto semangat. Mendengar komentar Naruto Shikamaru hanya menepuk dahinya.
" Naruto, temari itu hamil anakku!" sahut Shikamaru gemas.
" Wah... sela...APA? HAMIL ANAKMU?" Naruto membelalakan matanya.
" Ya... tadi pagi aku mendapatkan surat dari kazekage, sebenarnya temari sudah tahu ia hamil sejak usia kandungannya 3 bulan. Tapi ia tidak mau memberitahuku. Surat kazekage saja dikirim tanpa sepengetahuan temari, makanya aku akan ke suna untuk bertanggung jawab" kata Shikamaru
"Oh..." peristiwa yang dialami Shikamaru mirip sekali dengan peristiwa yang dialaminya. Ia merasa tersindir mendengar Shikamaru menyinggung kata tanggung jawab.
"Apa ibumu sudah tahu?" tanya Naruto pelan
" Ya...ibuku yang pertama membaca surat itu. Kazekage mengirim surat resmi, dan itu ditujukan pada pemimpin klan nara. Tentu saja ibuku khawatir melihat surat seperti itu. Saat ia membukanya ia langsung mencariku sambil berteriak-teriak senang. Ia mengatakan ia senang akhirnya ada wanita yang mau hamil anakku" kata Shikamaru sambil geleng-geleng kepala mengingat tingkah ibunya. "Bahkan sore ini ia berencana akan shopping perlengkapan bayi." Lanjut Shikamaru sambil menggaruk kepalanya bingung. Ia kira ibunya akan mengamuk setelah tahu Shikamaru menghamili gadis diluar ikatan pernikahan. Apalagi gadis yang dihamilinya merupakan kakak kazekage.
" Oh... begitu baiklah aku izinkan, selamat Shikamaru, semoga urusanmu disana lancar" kata Naruto pelan. Setelah Shikamaru meninggalkan ruangan, Naruto kembali berpikir jika ibunya masih hidup apakah ibunya juga akan senang jika mengetahui Naruto menghamili gadis diluar nikah. Jika ibunya masih hidup, apa yang akan ibunya lakukan jika Naruto lari dari tanggung jawab seperti ini. Naruto menjambak rambutnya keras-keras, mendengar apa yang akan Shikamaru lakukan membuat kegelisahan yang tadi ia rasakan menjadi berkali-kali lipat sekarang.
####
" Selamat Hinata sama...bayi anda keduanya laki-laki, semua sehat" kata tenaga medis yang membantu persalinan Hinata. Hinata tersenyum melihat kedua bayinya sehat dan lucu-lucu.
" Anda harus memberikan nama Hinata sama" kata pelayan yang menggendong anak bungsunya. Sementara Hinata menggendong anak sulungnya.
Hinata menatap anak sulungnya lembut. ia sungguh lucu. Anak sulungnya sungguh pendiam, ia hanya menangis ketika dilahirkan. Ia hanya merengek sedikit jika merasa tidak nyaman. Anak sulung Hinata mempunyai rambut blonde seperti ayahnya, kulitnya juga kecoklatan seperti ayahnya. Ia mewarisi mata byakugan dan bibir tipis Hinata. Berbeda dengan adik kembarnya,adik kembarnya juga mewarisi rambut blonde Naruto beserta mata birunya. Warisan Hinata yang dimiliki oleh sang adik hanya kulit putih serta bibir tipisnya. Mereka berdua memang kembar fraternal, tetapi mereka sangat mirip.
Hinata tersenyum senang, ia belum pernah sebahagia ini. Ia akan melakukan apapun untuk membuat anak-anaknya bahagia. Jika perlu, ia akan mengorbankan kebahagianya agar anak-anak bahagia.
" Hinata sama...anda belum memberikan nama untuk mereka" kata pelayan mengingatkan melihat Hinata terpaku menatap putra-putranya.
" Arata..., nama anak tertuaku Arata Hyuga, sedangkan nama adiknya Kanata, Kanata Hyuga" kata Hinata pelan, ia masih kelelahan setelah melahirkan. Para pelayan di ruangan itu saling berpandangan. Mereka tidak berani menanyakan kenapa bayi-bayi itu tidak menggunakan nama belakang ayah mereka.
Hinata melihat Arata merengek, Hinata membelai-belai kepala Arata yang baru ditumbuhi rambut blonde tipis.
" Sepertinya ia haus Hinata sama" kata pelayan melongok ke arah Arata. Melihat Hinata ragu dan bingung untuk menyusui tenaga medis dari Roppan membantu Hinata sambil memberikan instruksi pada Hinata bagaimana cara menyusui.
Hinata melihat Arata menyusu dengan rakusnya. Ia tersenyum. Suatu saat Arata pasti akan menjadi shInobi yang kuat. Sekarang saja Hinata bisa merasakan kuatnya Arata menyusu pikir Hinata sambil tersenyum kecil.
####
Hei hei hei smw...
Ni chapter 6 keluar lg...
Makasih bwt Ayzhar and Rae Rim yang udah usul nama ya...maaf nama yang kalian usulkan ga bisa dipake coz gw nyari nama yang akhir suku katanya 'ta', sama kaya ibunya hinata gt
makasih jg udah pada review, berkat review kalian gw jd tahu apa pikiran kalian pas mbaca fic gw...
bwt yang tanya ini fic happy or sad ending gw blm memutuskan coz gw lg asik-asik nulis chapter2, baru mpe chapter 11
waktu kecil emang punya cita-cita jadi penulis, nah...ni fic gw, gw anggap sebagai latihan nulis aja gt...
jadi kalo kalian ada yang mau kasih kritik ato saran...silahkan bgt ngereview or pm gw...
so jngan lupa review ya...
