Chapter 7

"Arata...Kanata..." Hinata mengitari taman belakang penginapan lotus yang dikelolanya itu. Sekarang ini ia tengah sibuk mencari kedua putranya yang sudah berusia 4 tahun. Setiap pagi bukannya sarapan, kedua putranya itu malah hobi bermain ninja-ninjaan. Hal itu berawal sejak mereka berusia 3 tahun. Mereka menangkap basah kaa chan mereka tengah berlatih di tanah lapang dekat kebun belakang penginapan. Setelah itu mereka terobsesi ingin menjadi ninja. Mendengar keinginan anak-anaknya Hinata hanya mengiyakan sambil tersenyum.

" Kaa chan..." bocah berusia 4 tahun berkulit kecoklatan dengan mata khas hyuuga pun berlari memeluknya. Hinata membalas pelukan dan membelai kepalanya sayang. Hinata baru menyadari tubuh anaknya bergetar, seperti menahan tangis.

"Kenapa Arata sayang, hm? Dimana adikmu?" tanya Hinata lembut

"Ayo kaa chan ikut aku..." kata Arata seraya menarik tangan kaa channya untuk mengikutinya. Hinata berjalan menurut saja. Tiba-tiba Hinata melihat anak bungsunya yang ia cari-cari sedang berada di salah satu dahan pohon yang cukup tinggi. Raut muka anak itu ketakutan. Sepertinya ia tidak bisa turun. Hinata sebenarnya ingin tertawa saat itu juga, tapi melihat raut muka Arata dan Kanata yang begitu ketakutan ia jadi tak tega.

"Kaa chan..." teriak Kanata senang melihat Kaa channya datang. Ia mengusap air mata yang bahkan sudah membasahi bajunya. Tanpa banyak berkata-kata Hinata melepas tangan Arata dan segera menurunkan Kanata dari pohon.

"Nah sekarang kau sudah boleh membuka mata...lihat kita sudah dibawah sekarang" kata Hinata melihat Kanata menutup mata rapat-rapat dan tak mau membukanya sebelum sampai diatas tanah. Hinata terkikik melihat Kanata membuka matanya takut-takut. Anak-anaknya memang lucu-lucu.

"Makacih kaa chan" kata Kanata cadel. Kanata masih berusaha mengelap bekas-bekas airmatanya dengan kedua tangannya. Hinata menurunkan Kanata dari gendongannya agar ia bisa berjalan sendiri.

"Kenapa latihan sepagi ini?, apalagi sendirian, kan sudah kaa chan bilang latihannya harus ditemani kaa chan atau bibi ginko!" ucap Hinata tegas sambil berkacak pinggang. Arata dan Kanata hanya menundukkan kepala sambil saling melirik takut-takut. Melihat tingkah anak-anaknya itu Hinata menahan senyum. Kini Hinata berjongkok agar tingginya sejajar dengan kedua putranya.

" Lain kali kalo mau latihan bilang sama kaa chan atau bibi ginko ya..."kata Hinata sambil mengelus kedua putranya, " kalau tidak bilang nanti kaa chan sedih...kaa chan kan ingin latihan juga sama Arata...sama Kanata juga..." kata Hinata sambil memasang tampang sedih. Melihat raut wajah kaa channya, Arata dan Kanata langsung memeluk kaa chan mereka sambil menciumi pipi Hinata.

" Jangan cedih kaa chan..."rengek Kanata, sekarang mata biru Kanata sudah berkaca-kaca, takut kaa channya sedih.

" Iya kaa chan...becok kalo mau latihan kita ajak deh..." kata Arata sambil mencium pipi kanan Hinata. Hinata tersenyum penuh kemenangan, anak-anaknya ini memang tak mau membuat kaa channya sedih. Arata sebagai anak tertua memang lebih bertanggung jawab, sedangkan Kanata sangat mirip dengan ayahnya, tukang bikin onar. Hinata sudah memasukkan mereka berdua kesekolah, sekolah itu bukan untuk shinobi tentu saja. Sekolah Arata dan Kanata sekarang adalah sekolah untuk anak usia 4 sampai 6 tahun. Mereka diajari berhitung, membaca dan menulis.

"Ya sudah...sekarang kalian mandi, lalu sarapan, lalu berangkat sekolah, hm?" kata Hinata. Arata dan Kanata tidak menjawab Hinata, mereka malah berlomba lari ke kamar mandi. Hinata hanya terkikik geli melihat tingkah lucu mereka berdua. Bertahun-tahun Hinata hidup bersama Arata dan Kanata, Hinata merasa sangat bahagia. Ia memberikan begitu banyak cinta pada anak-anaknya dan anak-anaknya juga membalas rasa cintanya dengan begitu besar. Baru kali ini Hinata merasakan cinta yang tak bertepuk sebelah tangan. Hampir seluruh hidupnya ia memberikan banyak cinta, ayahnya, adiknya dan ayah anak-anaknya. Namun cinta Hinata seperti angin lalu untuk mereka. Sekarang ketika Hinata merasakan cintanya terbalas. Ia tak akan mampu kehilangan itu. Bagi Hinata, kebahagiaan Arata dan Kanata adalah hidupnya.

###

Hinata sibuk menata sarapan di gazebo belakang. Ia memang lebih suka makan di gazebo belakang daripada di ruang makan. Ia juga mengawasi dan membantu pelayan-pelayan untuk masak makanan yang akan Arata dan Kanata makan. Hinata tak mau jika sampai anak-anaknya kekurangan nutrisi.

'Sekarang tinggal menunggu Arata dan Kanata' kata Hinata dalam hati. Anak-anaknya memang tidak mau dibantu memakai baju oleh Hinata. Mereka beralasan ninja harus bisa memakai baju sendiri, Hinata hanya senyum-senyum mendengarnya. Jadi ia meninggalkan anak-anaknya setelah mandi untuk ganti baju dikamar. Sebenarnya Anak-anaknya juga tak ingin dibantu mandi, namun jika tidak diawasi mereka akan main air seharian.

"Kaa chan..."terdengar suara Kanata dan Arata memangilnya bebarengan.

" Ayo sini...nanti makanannya keburu dingin, kan kalian harus cepat-cepat pergi sekolah" kata Hinata riang.

Hinata melihat anak-anaknya makan dengan lahap. Ia tersenyum senang.

"eh kenapa tadi Kanata bisa diatas pohon seperti itu?" tanya Hinata mengawali percakapan.

"Kaa chan kan bica jalan di pohon telus lompat-lompat dipohon, jadi Kanata coba deh" celoteh Kanata riang.

"Tapi Kanata ga bica tulun " sahut Arata sambil menjulurkan lidahnya

" Bialin yang penting udah bica naik, dalipada alata nii chan, ga bisa naik pohon bu...kalo aku, nanti tulunnya kaa chan yang ajalin ya..."rengek Kanata manja, Arata hanya manyun gara-gara diejek tidak bisa naik pohon. Hinata hanya geleng-geleng kepala, entah apa yang akan dilakukannya jika salah satu anaknya jatuh dari pohon. Mungkin ia akan menangis ketakutan atau pingsan jika melihat anaknya terluka jatuh dari pohon.

ia kembali teringat surat ayahnya yang datang kemarin sore. Ayahnya memintanya pulang ke sudah 4,5 tahun Hinata tak pulang ke konoha. Ia tidak merasa perlu menghindari Naruto lagi sekarang ini. Toh terakhir kali ia bicara dengan Naruto, Naruto sudah memutuskan dimana ia berdiri dikehidupan arata dan Kanata. Sekarang ini, Ia Cuma berat meninggalkan Arata dan Kanata. Dulu ketika ayahnya memintanya pulang, Hinata beralasan manajemen hotel masih perlu banyak perbaikan, sehingga tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Namun alasan itu tentu tidak bisa lagi ia gunakan, karena hotel mereka sekarang adalah salah satu hotel terkemuka di Roppan. Selain itu restourant yang Hinata dirikan juga menjadi restourant yang terkenal, masakannya bahkan terdengar sampai luar Roppan. Hinata bingung bagaimana menjawab surat ayahnya. Ia masih berat meninggalkan anak-anak yang menurutnya masih kecil.

###

" Apa masih ada pekerjaan lain Naruto kun?" tanya gadis cantik yang luar biasa ramping dihadapan Naruto. Naruto memijit dahinya. Ini sudah kelima kalinya ia ganti sekertaris tahun ini. Naruto bisa melihat Shikamaru menyeringai dari belakang sekertarisnya.

"Tak ada, kau boleh pergi" kata Naruto ketus. Sekertaris Naruto mengabaikan nada ketus Naruto dan memberikan Naruto kedipan mata sebelum ia pergi. Naruto memberikan lirikan tajam melihat seringaian Shikamaru makin lebar.

"Kau senang ya melihatku menderita?" tanya Naruto sarkatis.

" Tidak, aku senang melihat temanku punya banyak penggemar" jawab Shikamaru santai. " oh ya aku mau izin keluar desa lagi" kata Shikamaru. Naruto mengerutkan dahinya.

" Bukannya 2 minggu yang lalu kau baru izin ke suna?" tanya Naruto.

" Hikari demam...aku menerima pesan pagi ini dari Temari. Katanya Hikari terus mengigau minta ayahnya" kata Shikamaru.

" Sakit?sakit apa?"

" Hanya demam biasa, sepertinya diam-diam ia bermain hujan" kata Shikamaru, "kaa chanku langsung menyuruhku ke suna, ia tidak ingin cucunya kenapa-napa." Lanjut Shikamaru.

" Oh...begitu, kapan kau akan mengajak Temari dan Hikari pindah kekonoha?" Naruto melirik Shikamaru.

"Aku sudah mengajaknya berkali-kali, tapi Temari masih belum mau menikah. Jadi ia masih berstatus penduduk suna. Jika ia ingin tinggal di konoha dalam waktu yang lama ia harus mengurus izin yang sangat merepotkan" lanjut Shikamaru.

"Oh... begitu, baiklah aku izinkan...tapi jangan lama-lama ya...kita masih banyak urusan, jika kau tidak kuat berpisah dengan Temari atau putrimu, ajak mereka kemari, aku akan membantu izinnya agar Temari bisa tinggal lumayan lama disini." Kata Naruto.

"Ya..ya...hokage sama saya mengerti" kata Shikamaru sambil memberi hormat dan berbalik ke luar ruangan.

Naruto tahu Shikamaru sangat menyayangi Hikari, ia rela bolak-balik konoha suna setiap bulan, bahkan kadang seminggu sekali jika luang, demi menengok Hikari. Naruto sering menggoda bahwa Shikamaru rela bolak-balik bukan untuk menemui Hikari tapi untuk menemui kaa channya. Shikamaru menyangkal, ia mengatakan bahwa Hikari sangat manja padanya, jika ia tidak datang sesuai jadwal maka Hikari akan sakit. Temari sebagai ibunya, tentu saja langsung mengamuk Shikamaru.

Mengingat Hikari, Naruto kembali teringat dengan Hinata. Ketika Hinata pergi, Naruto yakin cepat atau lambat Hinata pasti akan kembali. Di saat itulah Naruto yakin Hinata akan membutuhkan bantuannya. Setelah melihat bagaimana Shikamaru dan Temari, Naruto berniat melakukan hal sama dengan Hinata.

Awalnya Ia kaget begitu tahu Temari hamil anak Shikamaru. Shikamaru pun menawarkan diri untuk menikahi Temari. Temari menolak mentah-mentah lamaran Shikamaru. Ia bilang ia belum mau menikah. Akhirnya dengan diskusi yang sangat alot, Shikamaru setuju untuk tidak menikahi Temari dengan syarat Hikari harus menyandang nama nara. Temari tidak keberatan dengan hal itu.

Naruto ingin menawarkan hal serupa pada Hinata. Ia akan mengakui anak yang Hinata kandung, tapi hubungan mereka berdua tidak berubah. Mereka akan menjadi teman biasa. Mereka akan saling membantu untuk mengurus anak mereka. Naruto yakin Hinata akan setuju. Lagipula Hinata bukan lagi pewaris klan, jika para tetua marah, Naruto yakin bisa membujuk mereka.

Naruto bisa melihat kebahagiaan Shikamaru ketika Hikari berkunjung ke konoha bersama paman dan kaa channya. Diam-diam Naruto iri. Akankah ia bahagia jika dulu ia mau bertanggung jawab dan mengakui anak yang Hinata kandung.

Pasti berat sekali menjadi Hyuga Hinata. Gadis itu sama sekali tak tahu apa-apa. Ia bahkan tidak akan mengingat apa yang sudah terjadi malam itu sehingga ia bisa hamil. Hinata bahkan terpaksa pergi jauh dari keluarga dan teman-temannya agar tak ketahuan hamil.

Ia pernah mengutus orang untuk mencari tahu tentang Hinata di Roppan pada awal-awal Hinata pergi dari konoha. Naruto memang tak mencintai Hinata. Namun Hinata tetaplah salah satu sahabatnya. Ia tentu khawatir dengan keadaan Hinata. Namun shinobi yang diutus Naruto, tidak bisa melaporkan apapun pada Naruto karena kediaman Hyuga disana juga sangat ketat. Sepertinya Hiashi menunjuk beberapa orang Hyuga yang berbakat untuk menjaga Hinata disana. Sehingga utusan Naruto tidak bisa menyusup kekediaman Hyuga di Roppan.

Naruto menghembuskan nafas keras, semakin bertambahnya umur, ia bisa melihat makin banyak gadis-gadis desa, baik shinobi maupun bukan, berlomba-lomba menggodanya. Bahkan sekertarisnya sudah ganti hampir 5 kali. Mereka Naruto pecat karena tidak bisa bekerja. Bukannya bekerja mereka malah sibuk cari perhatian pada Naruto. Sekertaris pertama tahun ini bisa sampai 7 kali dalam 1 jam menawarkan kopi, sambil mengerling genit pada Naruto. Sekertaris kedua sangat hobi menggunakan rok mini yang ketat bahkan hampir transparan, dia juga tak bisa mengurus dokumen, bukannya mengurus dokumen malah mengurus kuku-kukunya, belum yang ketiga dan keempat. Sekarang sekertaris yang kelima sepertinya tidak berbeda jauh. Kepala Naruto berdenyut-denyut.

Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Naruto berdoa dalam hati semoga yang masuk bukan sekertarisnya yang menawarkan kopi atau teh atau apapun.

"Masuk" kata Naruto malas.

Naruto segera menegakkan badan ketika melihat siapa yang datang.

"Ah...Hiashi san ada masalah penting apa sampai-sampai kau datang sendiri kekantorku" tanya Naruto sopan. Latihannya saat itu sepertinya ada gunanya. Naruto bisa melihat raut muka Hiashi yang suram.

" Aku ingin kau mengganti jounin yang akan menemani misi putriku" kata Hiashi tanpa basa basi. Naruto mengernyit heran. Ia tak tahu kalau Hiashi punya masalah dengan Sasuke.

" Maaf Hiashi san, guru jounin putri anda sedang sakit, ia tidak akan mampu mengemban misi ini. Jadi saya menyuruh Sasuke Uchiha untuk menggantikannya." Jawab Naruto

" Ganti jounin yang lain, Uchiha tidak aman untuk putriku" jawab Hiashi keras kepala. Kepala Naruto yang berdenyut-denyut makin sakit sekarang.

" Hiashi san saya bisa jamin bahwa Sasuke sekarang berada dipihak konoha. Ia tidak akan membunuh putri anda ditengah misi" jawab Naruto agak kasar. Entah kenapa masih banyak orang yang meragukan kesetiaan Sasuke pada desa. Ya, hal itu wajar karena Sasuke pernah berkhianat, tapi hampir lima tahun Sasuke mengabdi untuk desa. Mengapa penduduk konoha masih ada yang belum bisa menerima. Naruto menatap tajam kearah Hiashi, sementara Hiashi bingung untuk mengatakan apa yang ada dipikirannya.

" Dengar hokage sama, aku sama sekali tidak meragukan kesetiaan Sasuke Uchiha pada desa, aku hanya mengkhawatirkan putriku" jawab Hiashi.

"putri anda akan aman Hiashi san, saya bisa jamin. Sasuke ninja yang kuat. Saya yakin dia bisa melindungi putri anda" jawab Naruto mantap. Hiashi berang. Bagaimana mungkin anak yang lambat berpikir ini bisa jadi hokage. Sepertinya Hiashi harus menggunakan cara langsung.

" Hokage sama, yang saya maksud adalah, bagaimana jika putri saya melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh orang yang belum menikah bersama Uchiha san" kata Hiashi lugas. Naruto diam beberapa saat untuk mencerna perkataan Hiashi. Ia membelalakan matanya begitu tahu apa yang Hiashi maksud.

" Tap...sasu...dia..." Naruto kehilangan kata-kata.

" Bagaimana hokage sama?apa jouninnya bisa diganti?" tanya Hiashi

"Ng...sepertinya anda salah sangka Hiashi san, Sasuke sama sekali tidak sedang tertarik wanita manapun saat ini" jawab Naruto, "jadi anda tidak perlu khawatir, saya sahabat baiknya Hiashi san, saya pasti tahu jika Sasuke dekat dengan wanita" lanjut Naruto.

" Sahabat baik yang kau maksud hokage sama, telah menemuiku tadi malam untuk meminta ijin menikahi putri bungsuku ketika usianya menginjak 18 tahun" kata Hiashi dingin. Naruto hanya membuka dan menutup mulutnya tanpa mengeluarkan suara. Ia benar-benar bingung mau mengatakan apa. Ia kembali melihat detail misi yang akan dijalankan hanya berdua oleh Sasuke Uchiha dan Hanabi Hyuga. Sepertinya ia harus membuat ini misi solo.

"Baiklah...sepertinya putri anda batal dalam misi ini, Sasuke bisa melakukan misi ini sendiri." Kata Naruto sambil tersenyum

" Terimakasih hokage sama...saya Cuma tidak mau putri saya hamil diluar nikah" jawab Hiashi sambil pamit.

Naruto hanya duduk terpaku, ia merasa ia masih bisa mendengar gema suara Hiashi mengatakan kalimat terakhirnya.

'Saya Cuma tidak mau putri saya hamil diluar nikah'

####

Heloo...semua...

Ini chapter 7 gw update...

Makasih bwt semua yang udah review...

Oh ya bwt arti anaknya hinata itu kanata = far away kalo arata = new/fresh *baru aja googling hehe* pas milih nama gw jg ga tau artinya.

Tu nama gw ambil dari anime kesukaan gw, kanata gw ambil dr ufo baby, kalo arata gw ambil dr anime chihayafuru.

And... kalo pertanyaan2 lain di review sori ga bisa gw jawab. Kalo gw jawab nanti ga seru lagi bc ni fic hehehe.

Pokoknya makasih bwt smw yang udah dukung fic ini.

Jangan lupa review ya, menerima saran dan kritik kok...gw kan baik hati *ceilah muji diri sendiri* jadi gak bakal marah kalo di kritik. sapa tahu kritik kalian bikin ni fic tambah bgs.

Kalo mw kasih saran jg boleh bgt.

Ok...sampe jumpa di chapter selanjutnya...

Jangan lupa review ya