Chapter 8

Sasuke menyesap teh khas keluarga Hyuga pelan.

" Baik saya setuju dengan syarat para tetua Hiashi san, haruskah saya memangggil anda ayah mulai sekarang?" tanya Sasuke sambil menatap Hiashi. Sasuke hanya bermaksud untuk bercanda, tetapi sepertinya Hiashi mengira ia serius. Wajah Hiashi memucat.

"Tidak perlu, kau boleh memanggilku ayah jika kau sudah resmi menjadi menantuku. Lagipula aku tak akan mengijinkan kau menikah dengan Hanabi selama Hinata belum menikah. Hanabi tidak boleh melangkahi kakaknya" jawab Hiashi ketus. Mendengar itu Sasuke hanya mengangguk.

"Kapan acara pertunangan bisa dilaksanakan Hiashi san?" tanya Sasuke sopan. Sasuke harus menjaga benar sikapnya agar calon mertuanya ini mengikhlaskan putrinya. Wajah Hiashi yang sudah pucat semakin pucat.

" KAU PIKIR PUTRIKU SUDAH CUKUP UMUR?KALAU INGIN CEPAT-CEPAT MENIKAH, SANA CARI ORANG LAIN SAJA?" amuk Hiashi, "lagi pula putriku belum tahu kalau kau adalah tunangannya, bukankah kau bilang ingin mengatakannya sendiri dengan putriku ?" tanya Hiashi lagi.

Melihat Hiashi berang Sasuke hanya diam. Heran, sampai kapan calon mertuanya ini selalu saja menatapnya dengan pandangan tidak senang dan berbicara padanya seolah ia adalah musuh klan Hyuga. saat ia berniat mendekati Hanabi, ada saja alasan Hiashi untuk menjauhkan Hanabi dari Sasuke. Ingin sekali ia menggunakan mangekyo sharingan. Tapi tentu saja itu akan ketahuan, dia kan satu-satunya pemilik sharingan. Tidak mungkin ia menyerang orang dengan mangekyo dan mengatakan orang lain yang melakukannya. Dia benar-benar di uji kesabarannya.

"Untuk sementara ini tolong rahasiakan kalau saya adalah tunangannya, saya ingin Hanabi menerima saya sebagai seorang pria terlebih dahulu. Selama ini hubungan kami hanya sebatas teman. Saya ingin kami lebih akrab sebelum memberitahukan bahwa saya adalah tunangannya." Kata Sasuke

"Baiklah...tapi jika akhirnya Hanabi tidak menyutujui pertunangan ini, aku akan membantu Hanabi untuk lepas dari pertunangan ini, walaupun aku harus melawan tetua, aku akan pastikan Hanabi tidak terjerat dengan pertunangan yang tidak ia inginkan, jadi uchiha...sepertinya kau harus berusaha dengan keras, karena seingatku minggu lalu Hanabi masih memanggilmu dengan sebutan paman" kata Hiashi sambil menyeringai. Sasuke hanya menahan kesal. Ingin sekali ia menjitak kepala calon mertuanya itu.

"Saya akan berusaha Hiashi san" kata Sasuke sambil tersenyum ala Sai, si kapten anbu. Ia tak akan mundur Cuma gara-gara calon mertua sialan seperti ini.

"Oh ya... bukankah misimu besok tempatnya dekat dengan Roppan kan?"tanya Hiashi

"Ya Hiashi san, memangnya kenapa?apa Hinata nee sama ada masalah disana?" kata Sasuke sambil melirik Hiashi.

"Tidak...tidak...aku mengirimi surat sebulan yang lalu dan memintanya untuk pulang. Kemarin sore utusan dari Roppan pulang untuk melaporkan keuangan dan keadaan bisnis di Roppan, ia mengatakan Hinata tak menitipi surat balasan untukku" jawab Hiashi datar, tapi untuk orang yang sering menyembunyikan emosinya, Sasuke tahu Hiashi sangat kecewa.

" Saya akan mencoba menengoknya Hiashi san, saya akan membantu Hinata nee sama jika dia memerlukan bantuan. Anda jangan khawatir semua akan baik-baik saja." Jawab Sasuke meyakinkan. Sebenarnya Sasuke tahu bahwa Hinata tidak pulang untuk menyembunyikan kehamilannya. Sekarang Sasuke yakin calon keponakannya pasti sudah berusia sekitar 4 tahun. Walaupun tidak disuruh Sasuke memang berniat mampir untuk menengok Hinata. Ia tahu diam-diam bukan hanya Hiashi yang risau karena bertahun-tahun Hinata tak pulang, Hanabi juga cemas karena Hinata tak pulang dalam jangka waktu yang sangat lama.

" Uchiha san..."panggil Hiashi

"Ya..."sahut Sasuke sambil menatap raut muka Hiashi yang belum pernah seserius ini kecuali ketika ia meminta Hanabi dari Hiashi untuk diperistri.

" Bisakah kau katakan pada Hinata bahwa aku sakit keras?, katakan pada Hinata bahwa aku menginginkan Hinata ada disampingku" kata Hiashi, kini suara Hiashi pelan tidak seperti biasanya ketika berbicara dengan Sasuke, tajam.

"Baiklah Hiashi san" kata Sasuke menyanggupi. Ia tak tahu bagaimana Hinata akan menghindar lagi. Jika Hinata tidak mau pulang kali ini, Sasuke yakin Hiashi lah yang akan menjemput Hinata sendiri. Sasuke tahu Hiashi sangat merindukan anaknya.

####

Hinata senyum-senyum sendiri menatap kedua anaknya serius mengejakan PR mewarnai.

"Itu kok gambalnya gelap banget?" protes Kanata meliat gambar kakaknya.

" Ini lagi ujan deles" jawab Arata simpel

"Telus yang itu item-item apa?" Kanata menunjuk noda hitam di gambar Arata

" Itu pelahu...gambalku ini pantai, tapi lagi ujan deles jadi pelahunya ga kliatan, telus ini lumah, ini sekolah, ini lestolan, telus ini pacal ikan" kata Arata menunjuk bagian bagian hitam digambarnya.

" Pelahunya gak milip pelahu, telus ini juga pacal ikan juga ga milip pacal ikan, telus..telus..." Kanata sepertinya kehabisan kata untuk protes saking banyaknya protes yang ia ingin katakan.

"Ya gak milip dong kan lagi ujan..." sahut Arata membela diri. Melihat Kanata membuka mulut untuk mendebat Hinata memutuskan untuk menengahi.

" Hayo-hayo gak boleh bertengkar ya...sini kaa chan lihat gambarnya" kata Hinata sambil tersenyum. Ia melihat Kanata menggambar semangkok ramen tanpa sayur, Hinata terkikik geli melihatnya. Kanata benar-benar mirip ayahnya. Ia sangat menyukai ramen. Sekarang giliran gambar Arata yang Hinata periksa. Hinata ternganga, jika tidak mendengar percakapan kedua putranya tadi Hinata pasti tak tahu putra sulungnya ini menggambar apa. Gambar Arata gelap, langitnya mendung, lautnya juga biru tua, rumah, sekolah dan bangunan lain yang disebut Arata hanyalah bulatan-bulatan gelap di gambar itu. Hinata mengernyitkan dahi, kenapa Arata tidak menggambar sunset saja? Bukankah Hinata sering mengajak kedua anaknya melihat sunset?. Lamunan Hinata dipecahkan oleh suara pelayan yang memanggilnya dari luar kamar.

" Ya " sahut Hinata

" Ada tamu dari konoha Hinata sama" kata pelayan itu. Hinata membeku. Setiap kali ia mendengar orang dari konoha ingin menemuinya ia selalu waspada. Ia takut ayahnya yang datang. Hinata belum siap bertemu ayahya. Apa yang harus Hinata katakan jika ayahnya tahu ia telah melahirkan anak kembar tanpa suami.

" Tolong antar tamu ke gazebo saja" jawab Hinata pelan. Ia berharap itu bukanlah teman shinobi seangkatan.

" Teman kaa chan datang?" tanya Kanata cerah.

" Ya...tapi kalian harus tetap disini, karena belum tentu yang datang orang baik, masih ingat cerita kaa chan tentang shinobi jahat yang suka menyamar?" kata Hinata pada Arata dan Kanata. Hinata bisa melihat raut muka ketakutan pada kedua anaknya. Ia merasa bersalah karena harus menakuti anaknya agar tidak keluar kamar. Jika tidak demikian, mereka akan keluar kamar dan berkeliaran. Bisa saja tamu dari konoha itu bertemu dengan anak-anaknya. Hal itu tidak boleh terjadi.

####

####

####

"Sasuke kun" Hinata tanpa sadar memanggil laki-laki yang sedang menunggunya sambil minum teh. Ia menengok kearah Hinata begitu mendengar namanya disebut.

" Hinata nee sama" Sasuke membungkuk hormat.

"Nee sama?" kata Hinata mengernyit. Sasuke tidak menjawab dan hanya tersenyum sambil memamerkan jarinya manisnya yang sudah tersemat cincin.

"Wow...aku tak tahu kalau akhirnya ini bisa terjadi secepat ini." Kata Hinata kagum. Kini ia tengah duduk berhadap-hadapan dengan Sasuke.

"Para tetua Hyuga menerimaku dengan persyaratan tertentu" kata Sasuke. " bukan persyaratan yang sulit, aku bisa menerimanya" lanjut Sasuke lagi. Hinata ikut senang mendengarnya.

"Paling tidak aku tahu Hanabi akan bahagia bersamamu" Hinata mengeluarkan pernyataan tapi Sasuke bisa mendengar ini adalah sebuah pertanyaan.

"Aku akan berusaha semampuku" jawab Sasuke mantap. Hinata tersenyum senang, paling tidak Hanabi dan calon keponakannya nanti memiliki tempat berlindung yang kuat seperti Sasuke.

" Hiashi san sakit keras" kata Sasuke datar. Seketika itu juga Hinata membeku. " beliau minta kau pulang" kata Sasuke lagi. Hinata bingung. Dia tak mungkin meninggalkan anak-anaknya, namun lebih tidak mungkin lagi ia membawa anak-anaknya ke konoha.

" Hinata sama maaf mengganggu, tapi makan malam sudah siap" kata pelayan hormat,

" Oh ya...terimakasih, tolong tambah makanannya, uchiha sama akan makan bersama kami" kata Hinata sambil tersenyum.

" Ayo Sasuke kun...makanan disini enak-enak lho" kata Hinata, Sasuke hanya tersenyum samar. Sementara pelayan tadi, belum beranjak dari tempatnya berdiri, ia masih sambil melihat Sasuke dan Hinata.

" Ada apa?" tanya Hinata heran

" Ng... apa uchiha san akan makan bersama erm..."kata pelayan itu ragu-ragu melanjutkan kalimatnya. Melihat itu Hinata tersenyum.

" Ya...uchiha san akan makan bersama tuan muda Arata dan Kanata" kata Hinata. Melihat Hinata begitu mantap pelayan itu langsung pergi menyiapkan makan malam.

"Anakku kembar" kata Hinata ketika melihat tanda tanya diwajah Sasuke.

####

###

"Ayo sini sayang kenalan dulu sama paman Sasuke" bujuk Hinata lembut melihat kedua anaknya hanya malu malu mengintip dari balik pintu. Sasuke seperti melihat dua Naruto mini memandangnya malu-malu. Setelah Sasuke memberikan senyum, kedua kloningan Naruto itupun masuk dan duduk disamping Hinata.

" Nah Sasuke... ini yang ganteng Arata Hyuga sedangkan yang imut-imut ini Kanata Hyuga" kata Hinata memperkenalkan kedua putranya, "ayo bilang halo sama paman Sasuke...paman Sasuke ini shinobi hebat lho..."kata Hinata semangat. Sasuke melihat keduanya mengatakan halo malu-malu.

Selama makan malam Hinata mengobrolkan beberapa hal dengan Hinata. Mereka mengobrol tentang teman-teman mereka. Sasuke tidak menyinggung sama sekali soal Naruto. Sasuke bisa melihat kedua anak Hinata diam-diam meliriknya ingin tahu. Roppan memang bukan desa shinobi, tidak akan ada akademi ninja disini. Mereka pasti penasaran sekali tentang shinobi, apalagi jika Hinata sering menceritakan tentang shinobi pada mereka. Ironis sekali, padahal mereka putra shinobi terkuat yang ada.

"Ayo...kalian berdua kok diam saja ?"tanya Hinata pada putranya yang kelihatan malu-malu. " paman Sasuke itu shinobi yang sangaaaaaaat kuat, kalian bisa tanya apa saja sama paman Sasuke" kata Hinata.

"paman cacuke pelnah bedalah-dalah gak paman?" akhirnya Kanata polos, Sasuke berasa Naruto versi mini bertanya padanya. Apalagi menurut Sasuke anak yang bertanya Cuma beda warna kulit dengan Naruto. Nah... Sasuke yang biasa menjawab pertanyaan seadanya kini harus menjawab dengan hati-hati, jika tidak Hinata pasti mengamuk karena anaknya dibuat nangis Sasuke.

"Mmm... pernah, tapi nggak sering-sering kok berdarahnya, kan langsung disembuhin sama dokter" kata Sasuke sambil berharap ia menggunakan bahasa yang benar.

"Paman cacuke ajalin lempal kunia dong" kata Arata malu-malu. Sementara Sasuke bingung dengan apa yang dimaksud kunia.

" Kunai Arata sayang, bukan kunia..." kata Hinata halus. Sementara Arata hanya ber-oh dan mengangguk angguk. Sasuke untuk pertamakalinya menggaruk kepalanya bingung. Mengajari murid Kiba waktu Kiba sedang sakit dulu saja Sasuke ketakutan, apalagi mengajari anak-anak yang baru berusia 4 tahun.

"Iya paman cacuke...ayo becok pagi kita latian lempal kunai"kata Kanata semangat. Melihat wajah Sasuke yang kebingungan Hinata hanya tersenyum.

"Besok katanya mau ikut bibi ginko panen strawberi " kata Hinata mengingatkan. Hinata bisa melihat raut kekecewaan dimuka kedua anaknya. Hinata memang belum mengajarkan mereka melempar kunai karena menurut Hinata itu terlalu berbahaya. Maka dari itu anak-anaknya ingin memanfaatkan kehadiran Sasuke sebaik mungkin.

"Kalau begitu sehabis memanen strawberi saja nanti paman ajari bagaimana?" tawar Sasuke. Tak tega rasanya melihat raut muka Arata dan Kanata yang kecewa. Mereka mengingatkan Sasuke waktu Sasuke masih kecil, selalu menunggu kakaknya pulang dari misi lalu mengajak kakaknya latihan melempar kunai.

" Eh...apa tidak merepotkan Sasuke kun?" tanya Hinata ragu, Hinata sempat melihat raut muka Sasuke ketika Arata minta diajari melempar kunai. Ia tak tahu kenapa Sasuke malah menawarkan diri.

" Tak apa...toh misiku sudah selesai...tinggal menunggu keputusanmu" jawab Sasuke. Hinata kembali tersentak, ia harus kembali memikirkan apa yang harus ia lakukan. Ayahnya sakit keras sementara anak-anaknya masih kecil dan membutuhkannya. Hinata benar-benar bingung, apa yang harus ia lakukan.

####

haloooooo...guys

ini dia chapter 8...

btw kalian jangan terlalu seneng gue update cepet terus ya...

gw update cepet soalnya pas idul adha kemaren banyak libur n gw kalah rebutan remot tv ma adek gw yang bawel...

so daripada gw nganggur mending gw ngetik...

gw jamin abis chapter 11 mesti updatenya ga sekilat ini hehehe

ni update kilat gara-gara gw tinggal ngedit doang hehehe...soalnya kalo ga di edit hasilnya kayak chapte :P

bwt Ayzhar...sori dek *km kayaknya msh smp kan?*...harddisk laptop gw kan abis rusak...biasanya gw remember paswordnya...giliran ni laptoop rusak gw mw masuk fb udah lupa paswordnya, mana gw lupa lagi dulu dftr fb pake email yang mana *maklum gw punya banyak email* kalo mw kontak lewat email ini or pm aja :) gw bakal bls kok.

da bwt semua yang review...makasiiiiiiiiih... ni yang minta update kilat udah gw update...

yang mw liat naruto ktm ma anaknya sabar ya mreka ktm di chpter *gw cek dulu* 11...sabar ya...2 chapter lg kok...

so...dont forget to tell me what do u think bout this chapter...ok :)