Chapter 9
Hinata menatap nanar wajah ayahnya yang santai menyesap teh yang dibawanya dari Roppan. Hinata ingin sekali bereriak-teriak marah pada ayahnya. Ia rela meninggalkan kedua buah hatinya di Roppan demi ayahnya yang katanya 'sakit keras'. Namun ketika ia tiba, ia malah melihat ayahnya dengan santai mengajaknya minum teh di gazebo belakang.
" Kau tak akan pulang jika ayah tidak sakit keras " kata ayahnya santai melihat tatapan marah Hinata. Ya, memang Hinata taK akan pulang ke konoha walaupun pain dibangkitkan dari kubur dan kembali menyerang konoha. yang Hinata pikirkan hanyalah keamanan dan kenyamanan anak-anaknya.
" Tapi tak seharusnya ayah membohongi Hinata, Hinata jadi panik ayah" kata Hinata pelan.
" Ayah tak punya cara lain agar kau pulang ke konoha" kata Hiashi keras kepala. Hinata menghela nafas. Jika sudah seperti ini ayahnya akan sulit melepasnya kembali ke Roppan, bahkan ketika 4 hari perjalanan ke konoha Hinata sudah sangat rindu pada kedua anaknya. Sasuke memang meninggalkan Manda untuk menjaga Arata dan Kanata, tapi tetap saja Hinata kangen.
"Bisnis di Roppan berjalan sangat baik, kau melakukan nya dengan baik Hinata." Kata ayahnya bangga, "Ayah yakin mereka bisa menjalankan bisnis di Roppan tanpamu, jadi kau tidak usah kembali ke roppan" lanjut ayahnya percaya diri. Hinata yang sedang meminum tehnya langsung tersedak.
"Kau kenapa?" kata ayahnya sambil menepuk-nepuk punggung Hinata meredakan batuknya. Hinata tak menghiraukan pertanyaan ayahnya, ia panik. Ia harus mencari cara untuk segera pergi dari konoha. Hal pertama yang akan dilakukannya adalah mencari Sasuke Uchiha dan menghajarnya.
####
"Ini laporannya hokage sama" kata Sasuke datar. Naruto membaca laporan berjalannya misi Sasuke sekilas. Sepertinya semuanya lancar. Naruto melirik jari manis Sasuke yang sudah tersemat cincin.
"Selamat atas pertunangannya, kau pasti sibuk sekali bahkan tidak sempat mengabariku"kata naruto ketus, "sekarang terang-terangan pamer cincin" lanjut naruto.
"Saya hanya menggunakan cincin jika keluar konoha, lagipula pertunangan ini belum di umumkan dan bisa dibatalkan sewaktu-waktu." Jawab Sasuke datar. Naruto berhenti membaca laporan dan mengernyit pada Sasuke.
"Saya tak mau memaksa seorang gadis menikah dengan saya, saya akan memastikan gadis itu bersedia sebelum mengumumkan pertunangan. Cincin ini saya pakai karena calon ayah mertua saya tak mau saya 'bermain' dengan gadis lain selama misi" lanjut Sasuke melihat tanda tanya di wajah naruto. Naruto kembali menelusuri laporan Sasuke.
Naruto mengernyit melihat ada kejanggalan.
" Disini tertulis kau bisa menyelesaikan tugas 5 hari, kenapa baru sekarang kau pulang?" tanya Naruto.
"Saya ada urusan pribadi hokage sama" kata Sasuke
"Oh..ayolah Sasuke, jangan memanggilku hokage sama jika kita hanya berdua seperti ini" kata Naruto merajuk.
" Calon mertuaku minta aku menjenguk calon kakak iparku" kata Sasuke masih datar. Sebenarnya Sasuke sudah tidak sabar datang ke kompleks Hyuga,ia ingin meminta maaf pada Hinata, ia yakin Hinata sangat marah dengannya.
"Erm...kau bertemu dengan Hinata?" tanya Naruto gugup. Sasuke bisa melihat raut muka Naruto yang tadinya kekanak-kanakan berubah serius.
"Hn...anakmu kembar" jawab Sasuke santai. Ia bisa melihat raut muka Naruto yang terkejut.
"Jangan terkejut seperti itu...sejak awal aku tahu Hinata nee pergi karena kau hamili" sahut Sasuke ketus. Naruto memucat.
"Kau tidak pernah mengatakan apapun" kata Naruto.
"Dulu itu bukan urusanku" sahut Sasuke
"Dan sekarang jadi urusanmu?" tanya Naruto lagi
"Sekarang dia calon kakak iparku" jawab Sasuke lugas. Naruto hanya menghela nafas.
"Apa mereka baik-baik saja?"tanya Naruto ragu. Aneh rasanya ia bertanya pada seseorang tentang Hinata dan anaknya.
"Hm... aku bersyukur paling tidak satu diantaranya kalem seperti ibunya, sedangkan yang satu benar-benar membuatku pusing. Hinata sial sekali anak bungsunya benar-benar mewarisi sifat dan fisik ayahnya" kata Sasuke. Sasuke merogoh bajunya, ia mengeluarkan selembar kertas. Ia memberikannya pada Naruto.
" Kau simpan saja, aku masih punya yang lain" kata Sasuke. Naruto membelalakkan matanya melihat foto dua anak berambut blonde seperti dirinya dan seorang wanita cantik berambut biru tua sedang piknik di taman bunga. Saat Naruto ingin berterimakasih pada Sasuke, Sasuke sudah pergi dari hadapannya.
###
" BERANI-BERANINYA KAU..."kata Hinata menahan amarah. Sekarang Hinata tengah berusaha men-jyuuken Sasuke, sedangkan Sasuke hanya menghindar.
"Maaf-maaf Hinata nee, aku hanya melakukan apa yang ayahmu inginkan" kata Sasuke sekarang mundur melihat Hinata mengambil kunai.
"kau...aghhhhhh..." kata Hinata sebal, ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi saking sebalnya, matanya menatap marah Sasuke sambil berkaca-kaca.
"Hinata chan!" tiba-tiba Hinata mendengar namanya dipanggil. Hinata memalingkan wajahnya mencari orang yang memanggilnya. Ia dan Sasuke memang berada di tempat latihan yang letaknya paling jauh dan paling dekat dengan hutan.
Hinata bisa melihat Ino, Sakura, dan Shikamaru mendekat kearah mereka. Mata Ino membelalak melihat Hinata berjongkok sambil berkaca-kaca.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Ino pada Sasuke. Sasuke Cuma melirik Hinata. Sakura melirik Hinata dan Sasuke ingin tahu. Shikamaru hanya geleng-geleng kepala.
"Tidak apa-apa Ino chan, Sasuke hanya membuatku kesal itu saja" kata Hinata lembut, ia menghapus air matanya yang hampir jatuh dengan anggun. Kini Ino menghambur kepelukan sahabatnya yang bertahun-tahun pergi. Ino dan Hinata hanya bertukar kabar lewat surat.
"Hiks...hiks...aku kangen sekali Hinata chan...kau tak tahu kesepiannya aku ketika kau pergi hiks..." isak Ino. Hinata hanya memeluk Ino sambil menepuk nepuk bahunya menenangkan.
"Hei...aku kan sudah pulang"kata Hinata lembut. Sakura hanya bisa melihat kedua sahabat itu melepas rindu. Kepergian Hinata tak lantas membuat Ino menjadi dekat dengannya. Ino bahkan bersikap dingin dan sangat sopan pada Sakura pada awal-awal kepergian Hinata.
"Kami tadi mau pergi untuk makan tapi mendengar ada orang bertarung dan sepertinya serius, kami datang untuk memeriksa" kata Shikamaru
"Biar aku check lukamu Sasuke kun "kata Sakura melihat lebam di pipi Sasuke yang sangat kentara. Sasuke menghindar tangan Sakura yang bersiap memegang pipinya.
"Tak usah...biar nanti ku kompres saja...aku berhak mendapatkannya" kata Sasuke sambil melihat Hinata dengan muka yang berteriak 'maafkan aku'. Sakura hanya menatap heran pada Hinata dan Sasuke. Sakura berpikir Sepertinya Sasuke benar-benar menyukai Hinata. Ia rela dipukul Hinata karena merasa bersalah pada gadis itu.
"Kapan kau datang ke konoha Hinata?" tanya Ino setelah tangisannya reda
"Kemarin pagi" jawab Hinata
"Kenapa tidak mengunjungi teman-temanmu ini?" tanya Ino merajuk
"Aku baru akan mengunjungi kalian ketika aku sudah selesai dengan Uchiha" kata Hinata sambil melirik ganas saat mengatakan Uchiha. Shikamaru, Ino dan Sakura hanya melongo melihat gadis lembut baik hati seperti Hinata bisa bersikap seperti itu pada Sasuke. Sementara Sasuke hanya membuang muka.
" Sudah lah...apa kalian ada waktu?" ayo makan siang bersama, aku traktir"ajak Hinata semangat, ia memang kangen pada teman-temannya.
"Eh...sayang sekali kau menawarkan makan gratis ketika ada orang lain yang akan mentraktir kami Hinata" kata Shikamaru. Hinata hanya melempar tatapan bertanya pada Ino.
" Naruto sepertinya sedang punya mood baik, ia mengajak teman-teman kita makan-makan bersama, dia bilang sudah lama ia tidak makan bersama kita" kata Ino. Mendengar nama Naruto disebut Hinata mati-matian menjaga agar raut wajahnya biasa saja. Sungguh Hinata tak ingin lagi berurusan dengan orang itu. Tidak...Hinata sama sekali tak membencinya, ia hamil ketika berusia 17 tahun, wajar Naruto ketakutan untuk bertanggung jawab. Ia sama sekali tak memendam dendam pada Naruto. Ia hanya ingin berada sejauh mungkin dari pemuda bernama Naruto Namikaze itu.
" Ayo Hinata kau ikut..."ajak Ino, "yang lain pasti juga kangen padamu"lanjut Ino bersemangat.
"Eh...erm...Naruto kan tidak mengundangku"tolak Hinata halus. Ino menatap Hinata seolah ia tahu apa yang Hinata pikirkan.
" Naruto pasti tidak keberatan...aku yakin dia menyesal bersikap dingin padamu dulu... kau tahu, dulu Naruto menanyai kita semua ketika kau pergi, kau pergi kemana, bersama siapa, pergi naik apa, apa kau masih sakit tidak bla..bla..bla.." kata Ino lagi. Naruto mencari tahu tentang dia. Hinata mengernyit. Mau apa Naruto mencarinya. Naruto kan sudah memutuskan untuk tidak mengakui Arata dan Kanata.
" Tetap saja Ino... aku tidak diundang" Hinata bersikeras menolak ajakan Ino. Ia tak ingin bertemu dengan ayah anak-anaknya itu.
"Oh...ayolah Hinata jika Naruto tak mau mentraktirmu aku juga akan pergi saja dari sana, kita makan saja berdua, girls time" bujuk Ino. Sepertinya Ino lupa bahwa ada 3 wanita disana. Sakura hanya memandang iri kearah Ino dan Hinata. Sementara Shikamaru melirik Sasuke ingin tahu, otaknya yang jenius mencium ada yang tak beres disini. Sementara Sasuke pura-pura sibuk mengelus pipinya yang bengkak sambil menghindari tatapan menyelidik dari Shikamaru.
Setelah bujukan gencar dari Ino akhirnya Hinata luluh dan ikut bersama rombongan untuk makan bersama. Hinata berjalan amat pelan ia tak tahu harus bersikap bagaimana jika bertemu dengan Naruto nanti
###
Naruto bersiul-siul senang, ia memandang foto anak-anaknya pemberian Sasuke. Mereka sangat lucu. Ia sudah menyebar anbu untuk mengundang teman-temannya makan. Sebenarnya Naruto mentraktir teman-temannya sebagai perayaan karena ia lega Hinata dan anak-anaknya baik-baik saja. Bertahun-tahun ia dilanda perasaan bersalah dan cemas memikirkan Hinata dan anak yang dikandungnya. Apa anak itu selamat?apa Hinata ketahuan hamil?apa mereka baik-baik saja?apa mereka mendapatkan tempat yang layak sebagai tempat tinggal? Beribu-ribu pertanyaan di benak Naruto ketika ia mendengar Hinata pergi dari konoha. ia merasa Hinata berada di luar jangkauannya. Ia yang membuat Hinata hamil dan ia seakan lari dari tanggung jawab. Padahal ia tak bermaksud lari dari tanggung jawab itu.
Naruto bertanya dalam hati apa anak-anak itu pernah menanyakan ayahnya?apa yang dikatakan Hinata jika mereka menanyakan ayahnya.
Naruto menghela nafas. Jika saja ia bisa menemui Hinata, ia akan memberikan apapun yang Hinata minta sebagai permintaan maaf. Hinata hamil memang salahnya. Ia mengakui fakta itu.
###
"Sering-sering saja kau traktir kita begini Naruto" kata Chouji sambil memakan dimsum dengan lahap
"Dimana kekasihmu aku belum melihatnya?" tanya Kiba datar. Naruto mengernyit.
"Aku belum punya kekasih" sahut Naruto sewot. Biasanya ia akan menanggapi sindiran-sindiran Kiba dengan halus karena rasa bersalah. Tapi melihat Hinata dan anak-anaknya kelihatan bahagia difoto, rasa bersalahnya sedikit berkurang.
" Kau setiap akhir pekan makan berdua dengan Sakura" kata Kiba
"Itu bukan kencan, itu kebetulan kami bertemu saja" sahut Naruto panas.
"Sudah-sudah...Naruto kencan kan bukan urusanmu Kiba" kata Temari sambil mengelap saus yang belepotan di mulut Hikari, "Dimana sih kepala nanas itu? Katanya hanya memeriksa sebentar tapi lebih dari setengah jam belum juga muncul?" omel Temari. Naruto kembali mendelik kearah Temari, entah sudah berapa kali ia bilang bahwa ia tidak berkencan dengan Sakura. Ia terlalu sibuk mengurus desa sehingga tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain seperti percintaan.
"Memangnya kemana Shikamaru, Ino dan Sakura?" tanya Naruto sambil terus mengunyah makanannya.
"Ada orang bertarung serius di tempat latihan dekat hutan, Shikamaru cemas ada apa-apa, Ino dan Sakura menemaninya memeriksa. Si kepala nanas itu tak mengijinkan aku ikut karena aku membawa Hikari" omel Temari kesal, tapi Naruto bisa tahu dibalik sikap Temari yang pura-pura kesal Temari sedang mencemaskan tunangannya itu.
"Hei semua!" terdengar suara Sakura. kontan semua pasang mata melihat serombongan Shinobi masuk. Naruto bisa melihat Shikamaru, Sakura, Sasuke dan Ino yang menggandeng seorang gadis manis berambut biru tua. Naruto melongo, jangan-jangan Ino membawa pasangannya, jangan-jangan Ino lebih tertarik pada perempuan daripada laki-laki. Naruto memang membolehkan masing-masing temannya membawa pasangan. Tak pernah ia sangka Ino akan menggandeng perempuan. Cantik sih...tapi sayang sekali jika tidak doyan dengan pria ganteng sepertinya.
"hi...Hinata" Kiba yang duduk berhadapan dengan Naruto sudah berdiri dari kursinya, ia bisa melihat raut muka tak percaya Kiba.
Naruto kembali memperhatikan muka gadis yang digandeng Ino. Ia terbelalak begitu tahu bahwa gadis itu memang ibu dari anak-anaknya.
.
.
.####
yuhu...ini dia chapter 9
romance started here ...
gw kan udah pernah bilang kalo chapter 1 mpe 8 tuh cuma kaya prolog kan
nah setelah ini gw usahain *gak berani janji* banyak romance di chapter selanjutnya
btw bwt Ayzhar ...km bener msh smp? ampun deh... sapa lagi anak smp yang baca fic gw? *panik*
kalo banyak... ni ada yang harus gw perbaiki nih di chapter 12...takut dituduh mencemarkan pikiran adek-adek yang masih polos...ceilah
bwt Ayzhar ato cp aja yang mau kirim email boleh dikirim ke 26 and gw g punya twitter hehehe
bwt amu-b : gw buat mereka cadel berdasarkan pengamatan soalnya sodara gw yang umur 5 tahun msh cadel, teman smp gw dlu jg ga bs ngomong 's' trus ade gw sekarang udah smp jg blm bs ngomong 'r'. gw malah baru tau kalo anak 4 tahun udah ga cadel, tp lo keren loh... msh inget masa kecil usia 4 tahun...gw aja ga gt inget dulu udah ga cadel mulai umur berapa *gw cm inget nyuri2 es di pagi buta sampe kena radang amandel wkwkw itu pun umur 7 taon*
makasih jg bwt readers and reviewers...
yang pada minta di panjangin...aduh gw bingung ni...mw dipanjangin gmn...gw usahain deh...tp gak janji ya, soalnya gw nulis fic tergantung mood hehe
ok segini aja...jangan lupa review... ;)
