Chapter 12
"Paman kok cup nya nggak dimakan?" tanya Kanata polos melihat Naruto dari tadi hanya memandangi semangkuk sup katsuo yang tadi sore dibelinya. Ia melirik Hinata yang duduk dihadapannya. Muka Hinata datar, tidak menunjukkan ketidaksukaan atau kebencian. Hanya saja Naruto merasa ada aura kaku diantara mereka.
" Eh iya...ini paman mau makan" kata Naruto sambil menyendok sup tersebut. Memang benar kata pelayan tadi, makanan di Roppan memang sangat lezat. Naruto belum pernah makan sup katsuo selezat ini.
"Kaa chan, alata gak cuka pake jaket" kata Arata merajuk. Mereka memang makan malam di gazebo. Hinata sepertinya sangat protektif terhadap anak-anaknya. Arata yang sedang demam memakai jaket berlapis-lapis, belum syal dan topi rajut. Seperti musim dingin saja.
"Kalau Arata gak mau pake jaket Arata harus makan di kamar ya...kan digazebo dingin, nih kan angin malam gak baik buat Arata, nanti Arata demam lagi" kata Hinata lembut sambil mengelus rambut Arata. Naruto hanya tersenyum melihat anaknya cemberut, ternyata bukan hanya Kanata yang imut-imut, Arata pun tak kalah imut.
Naruto masih tak percaya Hinata sendiri yang datang kekamarnya bersama dengan Kanata yang tersenyum malu-malu di belakang kaa channya mengundangnya untuk makan malam bersama.
"Kapan kau pulang ke konoha hokage sama?" tanya Hinata sambil menyuapi Arata yang masih lemas dan kesusahan makan sendiri karena memakai jaket berlapis-lapis. Mendengar pertanyaan Hinata Naruto merasa terusir. Sebenarnya ia sudah mengajukan cuti 3 hari, namun ia tak tahu harus bagaimana agar Hinata menginginkan Naruto tinggal lebih lama.
"Paman cudah mau pulang?" tanya Kanata cemberut, "paman cudah janji mau ajalin Kanata lempal kunai" kata Kanata merajuk. Mendengar hal ini Hinata tersentak, ia memandang tak percaya pada Naruto. Naruto jadi salah tingkah.
"Eh...um...kau tanyakan dulu sama kaa chanmu boleh tidak latihan melempar kunai, kalau boleh nanti nanti paman tinggal disini dulu menemanimu latihan melempar kunai." Kata Naruto, ia menghindari tatapan Hinata.
"Kaa chan boleh?"kata Kanata merajuk, Hinata serba salah. Anak-anaknya pasti menanyakan kenapa Sasuke boleh melatih mereka sedangkan Naruto tidak boleh jika ia melarang Naruto melatih mereka. Sedangkan mengetahui Naruto berada dekat-dekat dengan anak-anaknya membuat Hinata khawatir. Hinata menatap Kanata yang menatapnya penuh harap, ia luluh, ia pun mengangguk.
"Holeee...yay..yay...yay..." Kanata berjingkrak melihat kaa channya mengangguk. Arata hanya cemberut.
"Paman, alata boleh ikut?" kata Arata penuh harap pada Naruto. Baru saja Naruto akan mengiyakan terdengar mangkok diletakkan dengan keras dimeja. Naruto melihat Hinata menatapnya tajam. Naruto pun tahu maksud Hinata.
" Besok tidak boleh...nanti kalau Arata sudah sembuh paman janji deh ajarin Arata lempar kunai" kata Naruto sambil tersenyum. Ingin Naruto membelai kepala Arata, tapi ia tak berani. Rasanya ia harus meminta izin pada Hinata terlebih dahulu sebelum menyentuh anak-anaknya. Hinata telah membesarkan mereka tanpa bantuanya dengan sangat baik.
"Tapi paman kan cebental lagi pulang" kata Arata sambil berkaca-kaca, "kapan alata latian?" lanjut Arata merajuk. Hinata sudah membuka mulutnya untuk mengatakan bahwa ia sendiri akan mengajari putra-putranya itu, namun Hinata kalah cepat.
"Paman janji akan sering-sering kesini mengajari kalian, bagaimana?" tawar Naruto semangat. Ia senang punya alasan untuk menemui Arata dan Kanata. Naruto bisa melihat Kanata dan Arata melonjak senang, ia melirik Hinata. Naruto dapat melihat wajah Hinata memucat. Naruto menghela nafas. Ia perlu bicara banyak dengan Hinata.
###
Naruto menghela nafas pelan, ia menunggu Hinata mengatakan sesuatu. Setelah makan malam tadi Naruto berniat untuk meditasi. Belum ada 1 jam ia bermeditasi ia mendengar Hinata memanggil namanya dari luar kamar. Ia membuka pitu kamar ragu, entah mengapa ada rasa malu ketika ia bertemu Hinata hanya berdua saja. Hinata dengan wajah datarnya mengatakan ada hal yang ingin ia katakan. Naruto pun mengikuti Hinata kembali ke gazebo dengan perasaan was-was. Ia tak siap jika Hinata meminta ia menjauh dari Arata dan Kanata.
"Terimakasih telah mengantarkan saya pulang ke Roppan hokage sama" kata Hinata sambil mengangguk hormat.
"Ah...eh...erm...sama-sama" kata Naruto gagap. Rasa malu belum hilang dari Naruto. Ia merasa malu melihat Arata dan Kanata tumbuh baik tanpa dirinya. Ia merasa malu pernah membentak-bentak Hinata. Ia merasa malu karena Hinata bisa hidup dengan baik bersama kedua anaknya sementara ia lari dan tak mau mengakui kesalahannya.
Suasana hening ini begitu menyiksa. Hinata enggan memecah keheningan, ia masih teringat terakhir kali ia bicara hanya berdua dengan Naruto bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Ia berharap tidak akan pernah lagi berbicara berdua dengan Naruto, tapi harapannya sia-sia. Sekarang ia menunggu Naruto bicara. Tak ada hal lain yang ia sampaikan selain terimakasih. Ia menahan diri untuk tidak menanyakan kenapa Naruto mendekati kedua putranya. Biarlah Naruto yang menjelaskannya.
"Erm...Hinata chan...ba..bagaimana kabarmu?" tanya Naruto gugup. Hinata mengernyit, kenapa Naruto malah tanya kabar, Hinata kira Naruto akan meminta tolong agar ia tidak kembali ke konoha, karena jika Hinata membawa Arata dan Kanata ke konoha, semua orang pasti tahu siapa ayah mereka. Arata dan Kanata terlalu mirip dengan ayahnya.
"Baik..."kata Hinata datar. Suasana kembali hening. Hinata menunggu Naruto mengucapkan sesuatu.
"Ng...erm...sepertinya kedua bayinya sehat..." kata Naruto. Hinata mengangkat alisnya. Sebenarnya apa sih yang mau Naruto sampaikan.
"Mereka bukan bayi lagi hokage sama" kata Hinata. Naruto menelan ludah, ia tak tahu harus mulai darimana.
"Yah...ng...mereka tumbuh dengan baik..."kata Naruto lagi.
"Hokage sama bisakah kita bicara langsung ke intinya, saya benar-benar butuh istirahat" kata Hinata ketus. Ia seharian mengurus Arata yang demam dan rewel. Ia lelah baik secara fisik dan emosional.
"Maafkan aku..." kata Naruto cepat. Ia tak ingin membuat Hinata marah. Apalagi Hinata memang kelihatan kelelahan, orang lelah kan mudah marah.
Hening. Hinata tak mengatakan apapun. Ia sudah tak ingin membahas tentang masa lalu mereka. Hinata masih bisa mengingat kata-kata menyakitkan yang Naruto ucapkan saat ia diusir dari apartemen Naruto. Menjebak katanya, Hinata tersenyum kecil. Ia bahkan merelakan jika Naruto menikah dengan Sakura, buat apa menjebak. Toh Hinata juga akan tersiksa jika Naruto menikahinya tapi masih memikirkan wanita lain. Begini lebih baik. Naruto bisa menikah dengan Sakura dan Hinata bisa bahagia dengan membuka kehidupan yang baru.
Naruto yang melihat Hinata lekat-lekat heran melihat Hinata malah tersenyum. Ia mengharapkan makian atau bentakan Hinata. Namun Hinata tak melakukan itu. Sekarang mata indah Hinata tengah menatapnya.
"Sudahlah hokage sama, itu sudah masa lalu, tidak usah dibahas lagi" kata Hinata pelan. Naruto menghembuskan nafas lega. Ia tahu Hinata adalah orang pemaaf tapi tak ia sangka Hinata sepemaaf ini. Sekarang ia lebih dewasa, ia bermaksud memikul tanggung jawab yang seharusnya ia lakukan bertahun-tahun yang lalu. Ia tak sabar di panggil ayah oleh Arata dan Kanata. Mungkin ia bisa mengenalkan mereka dengan hikari.
"Anda sudah memutuskan untuk tidak mengakui mereka sebagai anak anda hokage sama, saya mengerti itu akan menjatuhkan reputasi anda...begini lebih baik...kami tidak akan mengganggu kehidupan anda yang sempurna" kata Hinata sambil tersenyum. Naruto ternganga, bukan itu maksudnya. Lagi pula sejak kapan Hinata bisa tersenyum palsu seperti itu.
"Hinata, bukan itu maksudku...aku hanya..."
"Saya akan mencari cara agar kami tidak perlu datang ke konoha, tenang saja, tak perlu khawatir. Tidak akan ada yang tahu anda punya anak yang tidak di inginkan" kata Hinata memotong Naruto
"Hinata...aku mohon dengarkan dulu apa yang ingin aku katakan..." kata Naruto memohon. Hinata tak mengindahkan perkataan Naruto. Ia tak akan mengijinkan Naruto mengatakan sesuatu yang pada akhirnya hanya akan menyakitinya.
"Dan masalah pura-pura tak mengenalmu jika bertemu...saya rasa saya tak bisa melakukannya...teman-teman tentu bertanya-tanya jika saya melakukannya." Kata Hinata masih sambil tersenyum.
"Hinata...aku mohon..."kata Naruto memelas. Kenapa sekarang sulit sekali bicara dengan Hinata.
"Sudah malam namikaze san...sebaiknya anda kembali ke kamar" kata Hinata sambil mengangguk pamit, ia meninggalkan Naruto yang masih duduk terpaku.
Naruto seperti mengalami de javu. Malam Sebelum Hinata pergi ke roppan saat Naruto mengunjungi Hinata, Hinata juga mengatakan hal yang sama.
'Hari sudah malam Namikaze san sebaiknya anda pulang'
Kepala Naruto berdenyut. Malam itu Hinata juga menyuruhnya pulang. Dan perlu waktu hampir 5 tahun Naruto bisa bertemu kembali dengan Hinata. Ia tak akan melakukan kesalahan yang sama. Ia tak akan membutuhkan 5 tahun lagi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Naruto segera berlari menyusul Hinata. Tanpa peringatan Naruto segera melempar Hinata ke bahunya. Ia masih sempat melihat mata Hinata terbelalak terkejut,namun ia tak menghiraukannya Dan segera pergi dengan hiraishinnya.
####
"APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN NAMIKAZE? SUDAH KUBILANGKAN AKU TIDAK AKAN MENGGANGGU KEHIDUPANMU?APALAGI YANG KAU INGINKAN DARIKU?" Hinata berang. Kemarahan yang ia pendam bertahun-tahun ia muntahkan begitu saja. Ia berpura-pura 'semua baik-baik saja' didepan Naruto. Tapi akhirnya ketika Naruto menggendongnya dan membawanya ke pinggir pantai dengan hiraishin, Hinata kalap.
Naruto menghembuskan nafas lega. Inilah yang ia tunggu. Ia ingin Hinata mengeluarkan kemarahannya. Ia malah bingung jika Hinata tersenyum dan bersikap ramah terhadapnya. Ia bukanlah seseorang yang harus di hormati Hinata. ia tak akan marah jika Hinata memakinya, bahkan jika Hinata ingin memukulnya, ia akan terima degan senang hati.
Sekarang mereka bertatapan dalam. Naruto bisa melihat rasa sedih, kecewa, marah, dan lelah bercampur jadi satu di mata Hinata. mata Hinata berkaca-kaca. Naruto menyadari benar bahwa semua emosi itu dia lah biang keladinya.
"Aku minta maaf Hinata...sunggguh...kau tidak tahu betapa paniknya aku ketika kau tiba-tiba pergi ke negara antah berantah ketika aku datang ke kediaman Hyuga, kau tidak tahu teman-teman sempat menjauh dan bersikap dingin padaku karena menyebabkan kau pergi, kau tidak tahu betapa aku mencemaskan kalian setiap hari, aku bahkan selalu menanyakan kabarmu setiap aku bertemu dengan Shino, Kiba atau Ino karena aku tahu hanya kepada merekalah kau berkirim surat." Kata Naruto memohon. Hinata hanya memalingkan wajah, enggan melihat pandangan memohon Naruto.
"Hinata..." Naruto menggamit tangan Hinata, Hinata berusaha melepaskannya. Tapi kelelahan membuat ia tak bertenaga. Hinata tak tahan lagi ia Cuma ingin hidup tenang bersama-sama dengan anaknya. Kenapa sekarang ayah anak-anaknya tiba-tiba datang tak di undang.
"Kami Cuma ingin hidup tenang namikaze san...tolong...jangan usik kehidupan kami..." kata Hinata dingin. Ia sudah tak punya tenaga untuk berteriak.
"Hinata...aku mohon jangan begini...aku tak akan membuat hidup kalian susah...aku tahu aku belum lama mengenal kedua putraku...tapi aku menyayangi mereka...tolong izinkan aku mengenal mereka Hinata...aku mohon..." Naruto mengenggam erat tangan Hinata, sambil berdoa agar ia bisa diberi kesempatan oleh Hinata.
"Anda sudah memutuskan untuk tidak mengakui mereka putra anda namikaze san, mengapa tiba-tiba anda datang meminta kesempatan...apa yang sebenarnya anda inginkan?" tanya Hinata kini menatap tajam Naruto.
"Aku hanya ingin melihat mereka tumbuh dan hidup bahagia Hinata...tidak ada tujuan lain" kata Naruto memelas.
"Mereka tumbuh dan hidup bahagia...tenang saja anda tak perlu khawatir" kata Hinata ketus.
"Hinata...aku mohon...tak bisakah kau beri aku satu kesempatan?" kata Naruto memohon.
"Saya sudah memberi kesempatan pada anda hokage sama, apa anda lupa?" Kata Hinata sambil tertawa mengejek," mungkin saya harus mengingatkan anda, malam itu saya datang kerumah anda dengan kertas hasil pemeriksaan, anda membentak-bentak saya dan menuduh saya menjebak anda, anda menuduh saya sebagai orang yang hanya menginginkan tittle nyonya namikaze, apa anda lupa anda mengusir saya karena...em..apa ya...saya agak lupa...oh ya...karena anda sudah muak dengan wajah memelas saya kan?" kata Hinata dingin.
"Hinata...aku sedang kacau..saat itu...aku benar-benar sedang kacau" kata Naruto mencoba membela diri.
"ANDA PIKIR ANDA KACAU?LALU BAGAIMANA DENGAN SAYA?SAYA BAHKAN TAK TAHU BAGAIMANA SAYA BISA HAMIL, ANDA PIKIR SAYA TIDAK KACAU?SAYA KACAU NAMIKAZE...SAYA BAHKAN TAK TAHU HARUS BAGAIMANA...SATU-SATUNYA YANG SAYA TAHU ADALAH DIMANA SAYA BISA BERLINDUNG BERSAMA DENGAN BAYI SAYA, DAN ORANG PERTAMA YANG SAYA PIKIRKAN ADALAH AYAHNYA" teriak Hinata yang entah dari mana mendapat supply energi setelah mendengar pembelaan Naruto.
"Aku tahu Hinata...kau tidak tahu betapa menyesalnya aku..."kata Naruto sekarang ia sudah berkaca-kaca. Ia tahu ia sangat bersalah pada gadis yang cintanya tidak ia balas ini.
"Saya memang tidak tahu anda menyesal atau tidak hokage sama...dan saya tidak peduli...saya Cuma ingin hidup tenang bersama dengan anak-anak." Sahut Hinata, suaranya makin meninggi di setiap kata.
"Hinata...aku tahu bagaimana rasanya tidak punya ayah...aku tak mau anak-anakku mengalami hal yang sama" Naruto menatap intens Hinata.
"Mereka tak membutuhkan ayah yang mengakui keberadaan mereka dengan terpaksa hokage sama.."sahut Hinata sengit. Naruto hanya meringis. Ia tak tahu lagi bagaimana membujuk Hinata. kata-katanya dulu benar-benar menjadi bumerang baginya saat ini.
"Jika kau tak menginginkan aku menjadi ayah mereka paling tidak bisakah aku mengunjungi mereka?bukan untuk hal-hal serius...Cuma melakukan hal-hal kecil seperti mengajari mereka melempar kunai atau rasengan, atau berjalan di pohon atau diatas air dan semacamnya?" kata Naruto tak menyerah. Tak apa mimpinya dipanggil ayah kandas. Kebahagiaan Hinata dan anak-anaknya lebih penting. Hinata mengorbankan keluarga, teman dan karirnya. Sedangkan Naruto sebagai ayah yang seharusnya melindungi mereka tidak melakukan apapun. Naruto akan malu pada diri sendiri jika hal itu terjadi.
Ia melihat Hinata diam agak lama.
"Baiklah...tapi...jangan pernah mengatakan pada mereka bahwa kau adalah ayahnya" kata Hinata berat. Sebenarnya Hinata ingin menolak mentah-mentah permintaan Naruto. Tapi jika ia menolaknya, Arata dan Kanata terlanjur mengenal dan menyukai Naruto. Mereka memang tak memiliki figur seorang ayah. Laki-laki yang bisa dekat dengan mereka hanyalah Sasuke, dan tentu saja Sasuke tidak bisa sering-sering datang ke roppan karena jarak yang sangat jauh. Berbeda dengan Naruto yang punya hiraishin, Naruto bisa menempuh jarak konoha roppan dengan waktu kurang dari setengah hari. Ia bisa melihat wajah Naruto yang sumringah ketika ia mengijinkan Naruto mengunjungi putra mereka. Tuhan...apakah ia salah menjauhkan Arata dan Kanata dari ayah mereka demi keegoisannya semata. Hinata menutup mata menahan rasa sakit di dadanya
"Er...sebaiknya kita pulang ke penginapan" kata Naruto takut-takut.
"Ya..."kata Hinata sambil menghindari tatapan Naruto. Baru saja Hinata bergerak ke arah jalan menuju penginapan, tiba-tiba tangan Naruto menggamitnya.
"Pakai hiraishin saja...kau sudah lelah" kata Naruto lembut. jika saja Naruto bersikap lembut bertahun-tahun yang lalu, Hinata pasti akan sangat tersanjung. Berbeda dengan sekarang, Hinata selalu berpikir Naruto menginginkan sesuatu darinya. Hinata tahu Naruto orang baik dan sering membantu orang lain tanpa mengharapkan balasan. Namun entah mengapa Hinata sulit membayangkan bantuan Naruto akan tulus jika menyangkut dirinya.
"Tidak perlu hokage sama, saya masih bisa berjalan...anda bisa menggunakan hiraishin, saya akan berjalan saja" kata Hinata tak acuh. Naruto tahu masih sulit bagi Hinata untuk menerima bantuannya.
"Aku temani..."kata Naruto
"Tidak perlu hokage sama...saya juga ninja...saya bisa membela diri jika di serang...saya bukan orang lemah..."kata Hinata ketus.
"Aku tahu...tapi aku laki-laki...aku tidak akan membiarkan seorang wanita berjalan malam-malam sendirian"kata Naruto sambil tersenyum. Hinata hanya menghela nafas. Ia ingin menghindari Naruto untuk berpikir, Naruto malah nempel tak mau pergi.
Mereka berjalan beriringan dalam diam. Hanya suara ombak berdeburan yang memecah keheningan malam. Untung malam itu bulan purnama jadi Hinata tak perlu menggunakan byakugan untuk pulang. Pantai ini memang gelap, tidak ada rumah penduduk maupun penginapan disekitar pantai. Yang Hinata takutkan adalah jalan menuju penginapan setelah pantai, terus terang saja Hinata agak bersyukur Naruto bersikeras menemaninya pulang. Ia akan ketakutan karena setelah pantai ia harus melewati jalan sejauh 500 meter yang berisi pepohonan dan semak yang rimbun. Sudah pasti akan gelap gulita karena sinar rembulan tak akan bisa menerobos rimbunnya pepohonan.
Hinata sempat berhenti melangkah ketika akan memasuki kawasan rimbun itu. Naruto yang berjalan di sampingnya hanya mengernyit heran.
"Ada apa?" tanya Naruto
"Ng...tak ada apa-apa" kata Hinata sambil buru-buru berjalan. Naruto hanya tersenyum mengerti, ia bisa melihat Hinata ketakutan.
Hinata bisa merasakan tangannya berkeringat dingin. Ia bisa merasakan angin yang berhembus tiba-tiba terasa aneh. Tanpa ia sadari ia mendekati Naruto. Naruto hanya senyum-senyum. Lucu sekali Hinata yang merupakan Shinobi kuat bisa takut gelap.
Kresek...srek srek...
Sekarang Hinata tak peduli dengan harga dirinya. Ia memeluk tangan Naruto dengan panik.
"Tenang saja...kau tinggal disini..aku akan memeriksanya..."kata Naruto sambil mengamati semak-semak yang bergoyang.
"A...aku i...ikut..."kata Hinata panik. Jalan ini terkenal dengan keangkerannya. Bahkan salah satu orang hyuga, pernah bersumpah pernah melihat sadako disini. Ia makin memegang tangan Naruto erat.
Naruto menghela nafas. Bagaimana ia memeriksa dengan benar jika Hinata memegang erat tangannya seperti koala. Bukannya ia mengeluh, ia bersyukur Hinata bisa dekat dengannya seperti ini tapi keadaan meminta Naruto untuk waspada.
Naruto mengambil kunai hati-hati. Naruto bisa mendengar suara desahan dan rintihan. Sepertinya ada yang terluka. Mungkin ia tak perlu memeriksa ala ninja.
"SIAPA DISANA...?" teriak Naruto lantang. Naruto bisa merasakan Hinata makin merapat. Sial...pikirannya tambah tidak fokus jika Hinata makin merapatkan tubuhnya seperti ini. Apalagi Naruto adalah satu-satunya orang yang ingat betul bagaimana proses Arata dan Kanata dibuat.
Terdengar suara panik dan keributan. Naruto merengkuh Hinata dan mengajaknya memeriksa lebih dekat. Hinata yang masih kaku menurut saja sambil berdoa agar ia tidak melihat sadako.
Naruto membulatkan mata.
"A...ap..apa... ya...yang kalian lakukan?" kata Naruto sambil membulatkan mata. Disampingnya Hinata terbelalak tak percaya.
Naruto bisa melihat Shinobi dari suna yang ia temui sore tadi bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Ia bersama seorang perempuan yang hanya mengenakan pakaian dalam.
"Ho...hokage...sa...sama...er...kami...er..."muka Kojiro memerah melihat seorang hokage memergokinya.
"Astaga...aku pasti sudah gila..."kata Naruto sambil memijit kepalanya. Hinata disampingnya menundukan wajah, Naruto yakin wajah Hinata pasti sudah seperti kepiting rebus.
"Ke...kenapa kalian melakukan...melakukan...hal seperti ini... DISINI?"kata Naruto tak percaya, "Memangnya kalian tidak punya ranjang dirumah?...INI TEMPAT UMUM!" teriak Naruto histeris.
"erm...kami mencari suasana baru hokage sama..."kata Kojiro kini sambil nyengir tak bersalah, "saya rasa hokage sama juga melakukan hal yang sama kan?"lanjut Kojiro sambil melirik Hinata.
"Ap...tentu saja tidak...kami akan melakukannya di ranjang" kata Naruto ketus . Wajah Naruto kontan memerah menyadari apa yang baru saja ia katakan.
"Sudahlah hokage sama...mari kita pulang..."kata Hinata membujuk, ia tak ambil pusing dengan komentar Naruto barusan.
"Tidak bisa seperti itu...Kanata bilang kau sering mengajak mereka piknik ke pantai saat bulan purnama...bagaimana jika anak-anak melihat..."sahut Naruto emosi. Membayangkan anak-anaknya yang polos melihat proses bagaimana mereka dibuat membuat Naruto bergidik ngeri.
"Maafkan kami hokage sama lain kali kami akan hati-hati" kata Kojiro sambil membungkuk.
"KAU!bukannya berjanji tidak akan mengulangi malah berjanji akan hati-hati...apa semua Shinobi suna seperti ini?aku akan bicara dengan Gaara untuk mengajari bawahannya sopan santun"kata Naruto ketus. Hinata bisa melihat wajah laki-laki di depannya memucat. Ia jadi kasihan.
"Sudahlah hokage sama... saya yakin Shinobi ini tidak akan mengulanginya" kata Hinata membujuk. Kojiro memandang Hinata penuh terimakasih.
"Tap..."
"Sudah lah ayo kita pulang...anda sudah berjanji dengan Kanata dan Arata akan mengajari melempar kunai besok, anda butuh istirahat agar bisa bangun pagi" kata Hinata kembali formal ketika bicara dengan Naruto. Naruto pun luluh. Apalagi melihat Hinata yang kelelahan, kini wajahnya mulai pucat
"Baiklah..." kata Naruto sambil melirik sebal pada Kojiro. Secepat kilat Naruto menggendong Hinata ala bridal style dan pulang ke penginapan dengan hiraishinnya. Ia tak mau bertemu lagi dengan peristiwa macam itu.
####
.
.
.
.
####
yuhu...sepertinya alamat email ga bisa di tulis disini...
padahal udah gw tulis bener...tapi keluarnya angka 26 doang...ya udah...kalo mw kontak pm aja
gw rasa ini udah lmyn panjang kan hehehe
makasih udah review...maaf ga bisa bls review satu-satu...ni aja ngeditnya kilat...
well dont forget to tell me baout this chapter ok...
see u in the next chapter :P...
