Chapter 13
Naruto tertawa senang. Hari sudah beranjak siang tapi Kanata masih saja semangat melempar kunai. Arata yang ikut melihat Kanata berlatih di belakang penginapan lotus Cuma bisa cemberut karena tidak bisa berlatih melempar kunai. Arata hanya membawa buku untuk latihan menulis, tapi sepertinya ia lebih tertarik melihat adiknya melempar kunai daripada berlatih menulis.
Naruto mendekati Arata. Ia penasaran dengan anak sulungnya yang masih saja berpakaian ala musim dingin itu.
"Bagaimana latihan menulisnya?ada yang bisa paman bantu?"kata Naruto tersenyum.
"Paman...panas...alata mau copot jaketnya" kata Arata merajuk. Naruto jadi kasihan. Matahari begitu terik, tapi anak sulungnya dipaksa oleh ibunya memakai pakaian berlapis-lapis.
"Jangan...Arata kan masih sakit" bujuk Naruto. Arata Cuma cemberut. Pakaian yang dipakai begitu menyiksa.
"Cebental caja paman..."kata Arata membujuk, bibirnya bergetar bersiap-siap menangis. Naruto panik. Ia belum pernah menghadapi anak kecil menangis. Tapi jika ia menuruti Arata lalu ketahuan oleh Hinata, mungkin Hinata akan menghajarnya seperti ia menghajar sasuke.
"Arata harus sabar ya...kan biar cepat sembuh..katanya mau latihan melempar kunai sama paman?" kata Naruto sambil berdoa dalam hati supaya Arata tidak menangis. Naruto menghela nafas lega ketika melihat Arata mengusap matanya.
"Kapan paman mau pulang?" tanya Arata polos.
"Ng...mungkin nanti malam" kata Naruto sambil membelai kepala Arata.
"Oh..."Arata kelihatan sedikit kecewa
"Kenapa? Kau ingin paman tinggal lebih lama?" Naruto mengernyit
"Alata ingin paman celita tentang ninja, paman kan teman kaa chan" kata Arata pelan
" 2 minggu lagi paman akan datang, sebenarnya paman ingin datang minggu depan tapi paman sedang sibuk"kata Naruto lembut sambil terus membelai Arata, "tapi kalau minggu depan paman ada waktu senggang, paman janji akan meyempatkan datang ke sini ok?jadi kau harus cepat sembuh" lanjut Naruto ketika melihat wajah Arata yang kecewa karena harus menunggu 2 minggu untuk berlatih. Seperti yang Naruto perkirakan, wajah Arata langsung cerah mendengar ada kemungkinan minggu depan ia sudah bisa berlatih melempar kunai.
"Baiklah...sepertinya sebentar lagi waktu makan siang..." kata Naruto keras. Kanata yang sedang sibuk melempar kunai menghentikan kegiatannya.
"Bental lagi paman" rajuk Kanata cemberut.
"lho...Kanata kan sudah belajar dari pagi...ayo sekarang istirahat...nanti kalau kecapekan kaa chanmu bisa marah dengan paman" Naruto tersenyum melihat semangat Kanata. Sedangkan Arata sudah memberesi peralatan menulisnya. Arata malah kelihatan senang, mungkin karena penderitaannya menonton sang adik latihan segera berakhir.
Naruto mengangkat Arata dan Kanata dalam gendongannya.
"Paman Kanata nggak cakit...nggak ucah digendong.."
"Paman alata udah cembuh..."
Naruto mendengar protes Kanata dan Arata bersamaan. Naruto hanya tersenyum. Ia ingin menggendong putra-putranya selagi ia bisa. Aneh rasanya menggendong Kanata dan Arata di depan ibunya. Mengingat dulu ia bersikeras tidak mau mengakui keberadaan janin yang dikandung ibunya.
"Paman tak ingin kalian lelah...nanti kaa chan kalian marah pada paman " kata Naruto sambil mencium pipi Kanata dan Arata bergantian.
"Kaa chan..." Arata memanggil setengah berteriak. Naruto yang sibuk senyum senyum memperhatikan Kanata dan Arata bersandar dalam gendongannya melihat kearah gazebo. Ia melihat Hinata tengah menyiapkan makanan. Hinata tersenyum kearah mereka, atau lebih tepatnya kearah Arata dan Kanata. Senyum Hinata yang dulu sangat manis ketika tersenyum padanya sepertinya sekarang bukan miliknya lagi. Hinata begitu dingin dan menjaga jarak, walaupun masih tetap saja sopan apalagi jika ada Arata dan Kanata. Tapi jika hanya berdua dengan Naruto walaupun hanya berpapasan dikoridor, Hinata hanya mengangguk kecil dan menundukkan wajahnya menghindari menatap Naruto. Naruto hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kaa chan...kata paman naluto Kanata pintal main kunai..."Kanata semangat berlari kearah ibunya setelah Naruto menurunkan dari gendongannya.
Hinata hanya tersenyum sambil terus menata makanan.
"Kaa chan...alata panaaaaaaaaass" mata Arata kini berkaca-kaca. Panas matahari sungguh menyiksanya.
"Sayang...anginnya kencang...nanti kalau jaketnya dilepas Arata bisa demam lagi..." kata Hinata sabar. Mendengar alasan ibunya Arata hanya bisa cemberut. Hinata memandang ke arah Arata kasihan.
"Cuci tangan dulu sebelum makan Kanata sayang" tegur Hinata galak ketika ia melihat tangan Kanata bersiap menjamah tempura yang sudah disiapkannya. Kanata cemberut, berlatih dengan kunai membuat dirinya lapar.
"Yaaa..."sahut Kanata malas, Kanata dan Arata kini berjalan gontai untuk mencuci tangan. Naruto hanya senyum-senyum melihat tingkah laku kedua putranya.
Kini hanya tinggal mereka berdua di area itu. Naruto merasa sedikit canggung karena ditinggal berdua dengan Hinata.
"Apa perlu ku bantu Hinata chan?" tawar Naruto ramah.
"Tidak perlu hokage sama...sudah hampir selesai...lebih baik anda juga cuci tangan, nanti mereka protes jika mereka harus cuci tangan dan anda tidak" jawab Hinata sambil tersenyum melirik Arata dan Kanata yang kini malah bermain air.
Mendengar apa yang Hinata katakan Naruto jadi teringat sekarang ia sudah menjadi seorang ayah, ia harus memberikan contoh yang baik pada anak-anaknya. Walaupun anak-anaknya tidak tahu bahwa ia adalah ayahnya.
Naruto pun segera berjalan kearah kedua putranya untuk mencuci tangan sekaligus melerai kedua putranya yang tengah berebut sabun.
Ia tahu pasti masih sulit bagi Hinata untuk menerimanya dikehidupan kedua putranya namun bukan berarti ia akan menyerah dan menghilang dari kehidupan kedua putranya. Ia akan berusaha membahagiakan mereka semua walaupun bukan sebagai seorang ayah.
#####
Konoha
Sakura menatap bayangannya dicermin dengan seksama. Sepertinya ia sudah rapi, ia membeli bando baru berwarna orange, ia tersenyum melihat pantulannya di cermin. Kira-kira apa yang akan Naruto katakan jika melihat bando baru miliknya ya.
Sakura kembali menyemprotkan parfum baru beraroma cherry blossom, dulu Naruto pernah memuji kalau Naruto suka bau parfum cherry blossom yang ia pakai. Namun pada saat itu ia masih menyukai sasuke jadi ia segera membuang parfum yang ia pakai waktu itu dan menggantinya dengan parfum yang baru. Waktu itu ia menyemprotkan parfum barunya banyak-banyak agar Naruto tahu bahwa ia sudah ganti parfum dan tak peduli akan pendapat Naruto. Naruto suka parfumnya atau tidak, ia tak peduli. Sakura berharap mendengar rajukan Naruto bahwa parfum cherry blossom yang lama jauh lebih baik dari parfum barunya, namun Naruto sama sekali tidak berkomentar soal parfum waktu itu. Sekarang ia kembali memakai parfum beraroma cherry blossom, ia ingin tahu apa komentar Naruto soal ini.
Sakura kembali memeriksa laporan tentang rumah sakit yang akan ia berikan pada Naruto, banyak sekali berkas yang harus ditandatangani. Sebenarnya bisa saja ia menyuruh asistennya atau salah satu suster untuk mengantar berkas itu ke kantor hokage. Namun ia ingin mengantarkannya sendiri, lagipula Naruto sendiri yang meminta begitu, Naruto sempat ngambek padanya ketika ia menyuruh salah satu perawat mengantarkan berkas pada Naruto, Naruto bilang ia mengirim utusan yang tak tahu sopan santun. Utusan itu tidak bisa bicara tanpa mendesah. Waktu itu Sakura menggoda Naruto bahwa sekarang penggemarnya jauh lebih banyak daripada penggemar sasuke, Naruto malah cemberut. Sakura juga mati-matian menahan agar pipinya tidak begitu merona ketika Naruto bilang ia tak akan membukakan pintu kantornya jika bukan Sakura yang datang. Sejak saat itu Sakura selalu datang sendiri.
Sakura berjalan agak cepat ke gedung hokage, ia tak sabar menceritakan kegiatannya di rumah sakit selama seminggu. Ia juga telah menemukan penawar racun yang menyerang yamato taichou yang minggu lalu terluka karena menjalankan misi kelas S. Naruto pasti senang.
Beberapa kali Sakura mengangguk dan tersenyum kepada penduduk desa yang menyapanya. Sepertinya mereka sudah tahu bahwa ia dan Naruto sangat dekat. Kadang Wajah Sakura hanya memerah ketika mendengar mereka berbisik-bisik tentang hubungannya dengan Naruto ketika ia pergi berbelanja atau sekedar membeli jajanan untuk camilan. Bahkan ayah dan ibunya sudah menyuruh Sakura membawa Naruto kerumah untuk berkenalan lebih jauh dengan mereka. Sakura malah bingung menanggapinya. Hubungannya dengan Naruto memang rumit. Naruto sibuk sebagai hokage dan ia sibuk sebagai kepala rumah sakit. Memang mereka sering kencan paling tidak seminggu sekali, tapi tidak ada ucapan apapun dari Naruto seperti 'aku mencintaimu' atau 'aku merindukanmu' atau 'kapan kau ingin menikah' atau ucapan-ucapan lain yang menggambarkan keinginan Naruto untuk melanjutkan hubungan mereka kearah yang lebih serius. Bahkan mereka berpacaran pun tak ada kata dari Naruto 'jadi kita pacaran ya' atau kata kata lain semacamnya.
Sakura memang berharap Naruto jauh lebih 'aktif' dalam mengutarakan perasaan. Dulu ketika mereka masih kecil Naruto tak segan-segan mengungkapkan apa yang ia pikirkan, ia bahkan berteriak keras-keras ketika mengajak ia berkencan. Namun sekarang Naruto hanya mengungkapkan rasa cinta dengan perbuatan, ia mentraktir makan jika mereka kencan, ia mau mendengarkan keluhan dan ceritanya yang menurut orang lain membosankan, ia memperhatikan keadaannya, Naruto bisa langsung tahu jika ia sakit, atau perhatian-perhatian lain. Namun tak sekalipun Naruto mengungkapkan perasaanya melalui lisan.
Sakura memasuki gedung hokage dengan muka berseri-seri. Ia sempat mengernyit melihat kursi sekertaris hokage kosong. Sakura menyeringai. Jangan-jangan Naruto memecat sekertarisnya lagi. Seandainya ia tidak punya tanggung jawab di rumah sakit ia pasti melamar jabatan sekertaris agar bisa berdekatan dengan Naruto. Sakura mengetuk pintu berlahan. Begitu ada suara mempersilakan untuk masuk tanpa ba bi bu Sakura langsung masuk. Sakura mengernyit begitu melihat shikamaru sedang berkutat dengan kertas-kertas di meja hokage.
"Apa yang kau lakukan disini?" Sakura mendelik galak pada shikamaru. Shikamaru hanya mengangkat alis lalu kembali sibbuk dengan dokumennya.
"Berkas rumah sakit tarus saja di meja"kata shikamaru malas.
"Dimana Naruto?"mata Sakura kini melihat mengelilingi ruangan itu.
"Tamasya" sahut shikamaru singkat.
"Tamasya?" tanya Sakura dengan suara agak meninggi. Ini adalah kali pertama Naruto tamasya sejak ia menjadi hokage. Tapi kenapa ia tidak diberi tahu, bukankah ia pacarnya?.
"Disurat tertulis begitu, ia cuti sehari untuk tamasya" sahut shikamaru lagi "dia tak memeberitahumu?" lanjut shikamaru heran. Sakura merasa agak malu, bagaimana bisa pacar pergi ia tak tahu. Lagi pula kenapa Naruto diam jika tamasya kan mereka bisa tamasya bersama.
"Baiklah kalau begitu...ini berkasnya shikamaru..."kata Sakura sambil membanting berkas agak kasar ke meja hokage. Ia segera pergi sesegera mungkin, ia akan memastikan Naruto akan babak belur jika pulang nanti.
####
"Sayurnya dimakan Kanata sayang..."mendengar nada tegas pada suara ibunya Kanata cemberut.
"Paman naluto makan juga gak pake cayur kaa-chan"rajuk Kanata. Mendengar pembelaan Kanata Naruto jadi salah tingkah. Padahal tadi ia berjanji akan menjadi contoh untuk anak-anaknya.
"Tentu saja paman Naruto juga akan makan" kata Hinata sambil tersenyum mematikan kearah Naruto, ditatap wanita seperti itu Naruto jadi gugup. Naruto segera mengambil sayur dengan sumpitnya dengan sangat pelan.
Naruto kembali melirik Hinata dan kedua buah hati mereka, sialnya mereka masih melihat kearah Naruto, ia berniat membuangnya diam-diam jika tidak ada yang memperhatikan,Naruto pun memasukkan sayur kedalam mulutnya. Ia mengunyahnya dengan setengah hati lalu menelannya cepat cepat.
"Lihat paman Naruto makan sayur kan?" kata Hinata semangat, "Sekarang Kanata makan juga ya...,lihat itu Arata nii-chan juga makan lho..."bujuk Hinata lagi.
Melihat semua orang disitu makan sayur, dengan berat hati Kanata mengambil sayur dengan sumpitnya, ia mengamati dengan seksama sayur di sumpitnya itu lalu melirik ibunya, ia berniat membuang sayur disumpitnya jika perhatian ibunya teralihkan tapi sepertinya ibunya malah memperhatikan dengan mata berbinar-binar. Kanata memasukkan sayur itu kedalam mulutnya cepat-cepat lau mengunyahnya, belum ada 3 detik sayur itu dikunyah tiba-tiba wajah Kanata menjadi aneh, Kanata segera beranjak dari tempat duduknya dan berlari dari gazebo. Melihat tingkah Kanata Naruto dan Hinata hanya melongo dan saling pandang.
Mereka berdua melihat Kanata memuntahkan sayur yang tadi ia kunyah.
"Astaga...kenapa makan bayam jadi seperti makan racun seperti itu..."dengus Hinata kesal.
"Ini bayam?" tanya Naruto kaget.
"Iya..."
"Pantas aku mual" kata Naruto sambil mengangguk-anggukkan kepala. Mendengar komentar Naruto Hinata menyipitkan matanya galak. Naruto jadi merasa agak bersalah.
"Bayam memang tidak cocok untukku Hinata chan, ayahku juga langsung mual kalau makan bayam, sepertinya itu penyakit yang turun temurun, aku membacanya dari diary kaa-san" kata Naruto memberi penjelasan.
Hinata hanya mendengus kesal mendengar perkataan Naruto. Mana ada penyakit turunan benci bayam. Yang benar saja. Buktinya Arata makan tidak pernah pilah-pillih.
"Kau baik-baik saja sayang?" tanya Hinata lembut pada Kanata yang kini sudah kembali duduk untuk melanjutkan makan.
"Kaa-chan bayam itu belacun..."rengek Kanata manja. Hinata hanya menggerutu dalam hati. dasar...ayah dan anak sama saja. Arata tidak mual makan tumis bayam buatannya.
"Ya sudah kau makan sayur yang lain saja ya..."kata Hinata melunak melihat Kanata yang pucat Cuma gara-gara makan bayam, "Biar kaa-chan, Arata niichan dan paman Naruto yang menghabiskan sayur bayamnya..."lanjut Hinata sambil membelai kepala Kanata sayang.
Wajah Naruto memucat mendengar ia harus makan sayur bayam, ia mencoba memberikan pandangan memohon pada Hinata, namun Hinata Cuma memandang balik memperingatkan. Akhirnya ia hanya pasrah hanya sesekali mencomot sayur bayam dan mengunyahnya cepat-cepat sambil menahan rasa mualnya.
#####
Hinata membuka pintu kamar Arata dan Kanata pelan. Ia tersenyum melihat kedua anaknya bermain bersama ayah mereka.
"Paman...jangan cepat-cepat..."rajuk Kanata cemberut. Naruto sedang berakting sebagai shinobi jahat yang harus ditangkap oleh Arata dan Kanata sebagai shinobi baik.
"lho paman harus cepat dong...kan lawan paman 2 shinobi hebat..."kata Naruto membela diri.
"SHARINGAN..." teriak Arata sambil berpura-pura menyerang membabi buta kearah Naruto. Naruto yang tidak menyangka kata-kata yang dikeluarkan adalah 'sharingan' hanya melongo dan membiarkan Arata menyerangnya.
"Paman...paman halusnya kecakitan..."kini gantian Arata yang merajuk. Naruto jadi tersadar dari keterkejutannya.
"oh iya..ya...aghhrrr...ampun...ampun sakit..."kini Naruto berteriak-teriak, pura-pura kalah. Kini ia berpura-pura mati, terlentang tak bernyawa.
"Paman kok cepet banget matinya...melawan cedikit dong paman..." Kanata cemberut. Naruto membuka mata sambil garuk-garuk kepala. Tadi ia tidak mati-mati Kanata protes...sekarang ia berpura-pura mati Kanata kembali protes...sebenarnya mau mereka apa sih...
"Baiklah kalau begitu...sekarang paman akan memberikan jurus andalan paman" kata Naruto dengan wajah seram. Melihat wajah seram Naruto si kembar pun mundur perlahan dengan wajah ketakutan.
"Jurus namikaze ganteeeeeeeng..." teriak Naruto sambil mengejar si kembar lalu menggelitiki mereka. Sontak kamar si kembar kembali ramai dengan gelak tawa ayah dan kedua anaknya itu.
Hinata hanya mematung melihat pemandangan itu. Perasaannya campur aduk tak bisa diungkapkan. Jika ia dulu memutuskan tinggal dikonoha, akankah Naruto peduli dengan si kembar?. Hinata menggelengkan kepala keras-keras. Ia tak boleh berandai-andai. Ia sudah punya kehidupan, dan ia juga yakin Naruto juga punya kehidupan lain dikonoha, bukankah ia sudah membaca sendiri surat dari ino yang mengatakan Naruto menjalin hubungan dengan Sakura. ia tidak boleh berpikir yang tidak-tidak.
"Ehem..." suara Hinata membuat Naruto dan kedua anak mereka terdiam.
"Kaa-chan mau ikut main?" tanya Kanata seraya menghambur ke pelukan ibunya.
"Nggak...kaa-chan cuma mau bilang hari sudah malam...kalian perlu tidur kan besok sekolah..." bujuk Hinata sambil membelai pipi gembul anaknya. Mendengar kata-kata ibunya kontan Kanata dan Arata langsung cemberut. Sepertinya mereka masih ingin bermain.
"Ayo...kaa-chan kalian benar...shinobi yang kuat juga butuh tidur..."Naruto memutuskan untuk membantu membujuk putranya melihat kedua putranya hanya bisa cemberut.
"Tapi becok paman cudah pulang"rengek Kanata pelan.
"Paman punya pekerjaan di konoha...tapi paman janji akan sering-sering kesini latihan sama kalian ok?" bujuk Naruto lagi. Kanata dan Arata hanya saling melirik.
"Bagaimana kalau paman cerita sebelum kalian tidur..."kata Naruto sambil menepuk-nepuk futon yang sudah digelar. Kanata dan Arata buru-buru tiduran di futo untuk mendengarkan cerita Naruto.
Melihat keakraban mereka Hinata berniat diam-diam keluar kamar.
"Kaa-chan...mau kemana?kaa-chan tidur disini juga"rajuk Arata cemberut. Kanata sudah berbaring dekat Naruto tidak adil jika tak ada yang berbaring disampingnya. Paling adil jika ibunya berbaring disampingnya.
Melihat tatapan semua mata diruangan itu menatapnya Hinata dengan tatapan memohon akhirnya Hinata pun luluh dan berbaring disamping Arata.
Naruto hanya tersenyum dan mulai bercerita.
####
Naruto memperhatikan ketiga wajah disampingnya. Kedua anaknya sepertinya tidur sambil olah raga, benar-benar tak bisa diam. Sedangkan ibunya, Naruto akui pantas sekali sebagai putri keluarga hyuga. Bahkan tidur pun masih kelihatan anggun. Naruto hanya ingat sekali seumur hidupnya ia melihat Hinata kehilangan keanggunanya. Ketika proses pembuatan Arata dan Kanata.
Naruto menggelengkan kepala keras-keras. Astaga...kenapa ia sering sekali teringat peristiwa itu.
Melihat pipi Hinata yang merona mengingatkan Naruto akan Hinata dimasa lalu yang naksir dengannya. Kalau dipikir-pikir Hinata selalu terlihat merah jika bertemu dengannya dulu. Dia yang tidak peka malah menduga Hinata sakit. Tanpa Naruto sadari kini ia tengah membelai pipi Hinata lembut. Sepertinya belum berubah sejak ia megecupnya. Astaga...lagi-lagi ia teringat peristiwa itu.
Naruto beranjak bangun dengan enggan. Ia benar-benar merasa punya keluarga ketika berada di roppan, kini ia harus pergi kembali ke konoha bertemu dengan berkas-berkas yang harus ia tanda tangani. Sial ia tak ingin pergi.
Ia kembali melirik Hinata. apakah ada yang mengecup bibir ranumnya selain dia?. Naruto menggendong Hinata ala bridal style. Ia akan memindahkannya ke kamar Hinata. jika Hinata tidur dengan si kembar pasti badan Hinata akan sakit semua ketika ia bangun.
"Maaf bisakah kau menunjukkan dimana kamar nona Hinata?" tanya Naruto ketika ia berpapasan dengan pelayan dikoridor.
Pelayan itu dengan senang hati menunjukkannya.
Naruto membaringkan Hinata di futonnya pelan-pelan. Matanya kembali tertuju pada bibir merah Hinata. Naruto memandanginya lama. Bertahun-tahun Ia tersiksa mengingat malamnya bersama Hinata. jika ia meninggalkan Hinata tanpa mencicipi bibirnya ia pasti akan lebih tersiksa.
'Sekali saja...Hinata maafkan aku...' ucap Naruto dalam hati. tanpa pikir panjang Naruto pun mencium Hinata mesra.
.
.
.
.
#####
tada...akhirnya chapter 13 setelah beberapa pm dan review minta update hehehe
maaf review gak bisa di blas satu-satu... tapi tetep gw baca kok...makasih bgt atas apresiasi kalian...dan makasih jg atas saran-sarannya ^_^
gw gak tahu ini bakal nyampe brp chapter karena gw buat ff ini sebagai pelarian dari rasa suntuk hehehe...dan update nya kapan lagi gw jg blm tau (tergaantung mood bgt nih gw nulisnya) malah sekarang lagi punya ide lain lagi...padahal ni fic lom kelar hehehe
well... semoga kalian bisa menikmati chapter ini and dont forget to tell me what do you think bout this chapter
