Sejak kecil sekali Sanada telah dikenalkan dengan dunia tenis dan mulai belajar di bawah bimbingan ayahnya. Antusiasmenya yang tinggi membuat sang ayah berpikir untuk memasukan anaknya tersebut ke sebuah klub tenis junior yang ternama saat itu. Alhasil, pada saat libur musim panas, Sanada bergabung ke dalam klub yang dimaksud agar dapat berlatih bersama teman-teman sebayanya.
Di hari pertama bergabung dengan klub tenis, Sanada masih di antar oleh sang ayah. Ternyata saat itu pun tidak hanya dia yang baru bergabung, melainkan ada satu anak lainnya yang juga datang bersama ayahnya.
Si kecil Sanada yang pemalu berjalan di samping sang ayah, bahkan terus menempel karena merasa canggung dengan lingkungan barunya. Bahkan saat sang ayah mengobrol dengan seorang lelaki yang mengantar anaknya juga, Sanada hanya bisa bersembunyi di samping badan ayahnya.
"Hei, Genichirou, jangan bersembunyi seperti itu! Ayo kenalkan dirimu!" perintah sang ayah dengan lembut.
Sanada akhirnya menurut dan mengintip ke arah dimana teman baru ayahnya itu berada. Ternyata, di samping lelaki itu berdiri seorang anak yang tampak sebaya dengannya. Anak itu pun langsung tersenyum ke arah Sanada yang mengintip dengan malu-malu. Dan pada saat itu lah si kecil Sanada berpikir bahwa teman barunya itu sangat manis.
"Yukki chan, perkenalkan dirimu pada Sanada kun!"
"Hai, Sanada kun, namaku Yukimura Seiichi. Salam kenal ya!" ujar anak tersebut sembari tersenyum lebar.
Sanada tidak langsung menjawab. Dia justru tertegun, dengan wajah yang memerah dia berkata dalam hati, 'Anak perempuan yang cantik.'
Dalam waktu singkat, Sanada dan Yuki menjadi teman dekat. Mereka selalu bersama saat latihan. Bahkan Sanada tidak menyangka teman barunya itu ternyata memiliki bakat dalam tenis, sama seperti dirinya. Oleh karena itu, selain menganggap sebagai seorang partner, Sanada menganggap Yuki sebagai seorang rival. Akan tetapi hubungan mereka berdua tidak pernah menjadi buruk.
"Gen kun jago sekali ya!"
"Terima kasih. Tapi Yukki chan jauh lebih hebat daripada aku."
"Oya? Dipuji seperti itu membuatku senang!" Yuki kembali tersenyum manis. Namun tidak pernah sadar bahwa senyumnya itu selalu berhasil membuat sang sahabat terpana. "Ahaha, wajah Gen kun memerah!"
"A-a?!" Sanada yang gugup mencoba menyembunyikan wajah di bawah topinya.
Selain karena Yuki sangat hebat dalam bermain tenis, keramahannya pun menjadi salah satu faktor kenapa Sanada merasa senang berteman dengannya. Selain itu juga, si anak bertopi benar-benar menyukai senyuman manis yang selalu Yuki perlihatkan setiap hari. Hal itu selalu membuat Sanada merasakan sebuah kehangatan di dalam hatinya. Meski dia tidak tahu kenapa tubuhnya bereaksi seperti itu.
Beberapa tahun lamanya Sanada dan Yuki selalu bersama. Mereka berdua pun berhasil menjadi perwakilan dari klub tenis untuk mengikuti kompetisi junior saat itu. Meski tiap kali juga Sanada harus merasa sedikit kesal karena belum pernah mengungguli prestasi Yuki. Hanya saja ada hal yang membuat dia tidak bisa membenci sahabatnya tersebut.
Di suatu sore, Sanada dan Yuki berjalan bersama untuk pulang ke rumah masing-masing. Rumah mereka berjarak cukup jauh, oleh karena itu mereka hanya bisa bersama hingga di tempat pemberhentian bus. Di tengah perjalanan, mereka melewati sebuah lapangan tenis dan melihat orang-orang yang tengah bermain di sana. Tiba-tiba saja Yuki menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Yukki chan?" tanya Sanada segera.
"Lihat itu, para anggota klub tenis SMP Rikkai! Mereka adalah orang-orang nomor satu di Jepang!"
Sanada turut melirik untuk melihat apa yang Yuki tunjukkan. Mengamati semua orang yang sedang sibuk dengan raketnya masing-masing.
"Gen kun!" panggil Yuki. "Dua tahun lagi kita akan lulus SD. Bagaimana jika kita berdua masuk ke SMP Rikkai? Dengan begitu kita bisa bergabung dalam klub yang sama!"
Sanada memandang wajah Yuki yang terlihat tidak sedang main-main. Ada secercah keyakinan bahwa kelak mereka berdua bisa menjadi petenis nomor satu di Jepang. Oleh karena itu, tidak ada hal lain yang dapat membuatnya menolak ajakan tersebut. "Un!" jawab Sanada singkat, namun cukup untuk membuat Yuki kembali tersenyum lebar.
Sejak hari itu, Sanada merasa semakin bersemangat untuk berlatih tenis dan belajar agar kelak dapat lulus dalam seleksi masuk SMP Rikkai. Akan tetapi, hari-hari yang semula selalu terasa menyenangkan itu harus berubah seketika saat Sanada menerima kabar buruk dari sang sahabat.
"Gen kun, aku harus pindah ke kota lain. Atasan ayah menyuruhnya untuk menjadi kepala cabang di kota itu," Yuki bercerita dengan mata berkaca-kaca. Namun setelah melihat Sanada yang terdiam dengan wajah murung, dia lekas memaksakan untuk tetap tersenyum. "Tapi, tenang saja," sambungnya lagi. "Aku pasti akan menepati janjiku untuk masuk ke SMP Rikkai!"
Kedua anak itupun mengaitkan jari kelingkingnya satu sama lain, pertanda bahwa mereka akan tetap menjaga janji tersebut.
Semalaman penuh Sanada berharap akan datangnya keajaiban yang membuat Yuki tidak perlu pergi. Namun hingga keesokan harinya, dia tetap harus mengucapkan selamat tinggal. Ternyata tidak ada keajaiban apapun yang terjadi.
Sejak saat itu hari-hari terasa sangat berbeda. Sanada mendapatkan partner baru di klub, namun tidak ada yang bisa menggantikan Yuki. Senyuman manisnya, suara lembutnya, semua itu mulai memudar seiring dengan berjalannya waktu. Tanpa sadar terkadang membuat Sanada harus menangis dalam tidurnya. Namun dia masih terus menyemangati diri dengan memegang keyakinan bahwa dia dan anak perempuan yang paling disukainya itu akan kembali bertemu di kemudian hari.
Hari-hari berlalu, bulan pun berganti, tak terasa sakura telah berkembang menyambut keadatangan para siswa baru di SMP Rikkai. Sanada berdiri di depan cermin dengan seragam kebanggannya. Dia baru terasadar bahwa badannya ternyata berubah dengan sangat drastis. Dia jauh lebih tinggi dan lebih kekar, siapapun wanita yang melihat pasti akan langsung tertarik kepadanya.
Sanada berusaha tampil serapi mungkin di hari pertamanya masuk sekolah. Hari ini dia akan menghadiri upacara penyambutan mahasiswa baru. Namun dia tidak peduli dengan semua itu, karena ada hal lain yang menguasai pikirannya sejak lama. 'Hari ini aku pasti bertemu dengannya' ucap Sanada dalam hati. Wajahnya seketika memerah, namun dia segera batuk untuk menghilangkan rasa malunya itu.
Di dalam aula semua siswa baru telah berkumpul. Semua orang terlihat senang dan bergegas saling berkenalan. Namun tidak begitu dengan Sanada. Dia berdiri dengan tidak tenang, menanti seseorang yang masih belum terlihat keberadaannya. Hingga akhirnya saat yang ditunggu pun datang. "Hai, Genkun," sapa seseorang di belakangnya.
Sanada tidak langsung merespon. Dia masih mencoba menenangkan diri agar tidak perlu salah tingkah saat bertemu dengan sahabat lamanya itu. Padahal, sebenarnya dia sedang membayangkan sosok Yuki yang pasti terlihat sangat manis di balik sefuku dan rok pendeknya. Karena sejak pertama bertemu hingga berpisah, sahabatnya itu bahkan selalu mengenakan kaos dan celana pendek. Meski dandanannya terlihat tomboi, namun Yuki masih menjadi anak perempuan yang paling manis bagi Sanada. Bahkan dia yakin bahwa Yuki yang sekarang sudah menjadi jauh lebih cantik dari sebelumnya. Apalagi jika dia mencoba untuk memanjangkan rambut birunya yang indah itu.
Sanada mulai merasakan panas pada wajahnya. Itu tandanya dia harus segera membuang semua hal yang terus terbayang dalam kepala sebelum membuat wajahnya kembali memerah.
"Kamu benar-benar menepati janjimu, ya!" tambah Yuki lagi karena merasa aneh kenapa Sanada terus diam.
Sebelum membuat sang sahabat merasa kesal karena tidak kunjung mendapatkan tanggapan, Sanada bergegas membalikkan badan.
"Akhirnya kamu kembali, Yuk," tiba-tiba saja kata-kata seakan tertahan dalam tenggorokkan. Betapa terkejutnya Sanada saat mendapati Yuki yang seharusnya mengenakan rok ternyata berdiri di balik celana panjang dan blazer SMP Rikkai dengan gagah. Bahkan tinggi tubuhnya hampir setara dengannya.
Dan... bayangan akan cinta pertama Sanada pun, harus kandas dalam seketika...
