Chapter 15
Naruto berkali-kali melirik jam dinding yang ada di ruangan hokage. Sesekali Naruto mengacak rambutnya lambatnya. Ia merasa sudah berjam-jam memeriksa berkas, menandatangani berkas yang perlu ditandatangani dan membagi-bagi misi. Namun entah kenapa sepertinya pekerjaannya bukannya cepat selesai tetapi malah bertambah. Ia kembali mengerang ketika terdengar pintu diketuk.
"Apa?" jawabnya galak. Setelah 2 hari yang lalu Naruto membentak dan memarahi sekertarisnya karena mengetuk pintu hanya karena ingin menawarinya kopi, sekertarisnya itu tidak pernah lagi mengganggunya untuk urusan hal-hal sepele. Bahkan menawari kopi saja ia tak akan berani. Sekertarisnya hanya membuatkan kopi jika Naruto memintanya. Bahkan sekarang sekertarisnya lebih banyak menunduk daripada mengerling nakal seperti biasanya.
"Hokage sama...haruno sama ingin bertemu..." kata sekertaris dari luar pintu. Amarah Naruto sepertinya sampai membuat sekertarisnya trauma. Ia sampai tak berani masuk ruangan Naruto jika tak disuruh. Dan menurut Naruto itu hal yang bagus.
"Suruh haruno san masuk" jawab Naruto malas.
Naruto hanya melirik sekilas melihat Sakura masuk, ia sempat mengernyit ketika melihat Sakura masuk tanpa membawa berkas atau apapun.
"Hei..." kata Sakura sambil tersenyum manis.
"Ada apa ?" tanya Naruto langsung. Ia sedang banyak pekerjaan. Ia ingin pekerjaannya cepat selesai. Ia memilah milih berkas yang dikiranya vital sehingga ia akan menyelesaikannya terlebih dahulu. Bila ia bingung ia akan langsung meminta nasihat shikamaru. Untuk berkas-berkas yang lainnya ia akan serahkan pada shikamaru pada hari sabtu minggu, karena sabtu minggu ia berencana pergi ke Roppan. Ia sudah berjanji pada Arata jika ia bisa, ia akan pergi ke Roppan minggu ini.
" Um...tidak ada apa-apa" kata Sakura agak ragu. Naruto hanya diam dan terus saja mengurus berkas – berkas. Sekarang ini waktu sangat berharga baginya. Ia tak ingin mendengarkan hal-hal yang tidak penting. Jika itu penting Naruto yakin Sakura akan mengatakannya.
"Aku dengar kau sangat sibuk..." Sakura diam sejenak sambil melirik kearah Naruto. Naruto Naruto mendengarkan Sakura tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkasnya.
"Aku mendengar kau sampai memarahi sekertarismu" lanjut Sakura lagi.
"Shikamaru juga bilang kau cepat sekali marah?". Naruto tetap bergeming
"kalau ada maslah kau bisa cerita padaku" pinta Sakura memelas.
"HEI NARUTO...KAU TAHU TIDAK SIH? AKU MENGKHAWATIRKANMU DASAR BODOH!" teriak Sakura, akhirnya kesal karena ia sama sekali tak diladeni oleh Naruto. Naruto hanya melongo melihat Sakura tiba-tiba berteriak. Namun sedetik kemudian Naruto tersenyum.
" Maaf Sakura telah membuatmu khawatir...aku tidak apa-apa...aku Cuma pusing karena berkas yang harus kuperiksa ternyata banyak sekali" kata Naruto masih sambil tersenyum. Melihat senyum Naruto, Sakura jadi merona.
"Ka.. kalau begitu kau harus mentraktirku makan...aku sampai harus meninggalkan rumah sakit gara-gara mengkhawatirkan kau, tahu tidak?" kata Sakura masih dengan pipi merona.
"Maaf Sakura lain kali saja...aku benar-benar harus menyelesaikan ini semua...kau bisa mengajak yang lain untuk makan bersama" kata Naruto kini mata Naruto sudah kembali tersita untuk berkas-berkas itu.
Sakura menghela nafas. Setelah kemarin mengobrol bersama Temari, Tenten dan Ino, Sakura ingin sekali membuat hubungannya dengan Naruto menjadi lebih hangat dan akrab. Namun sepertinya pekerjaan Naruto membuat mereka berdua jarang bisa menghabiskan waktu berdua. Sakura hanya bisa melangkah gontai kearah pintu. Ia benar-benar ingin dicintai seperti layaknya teman-temannya dengan pacar-pacar mereka.
###
"Kaa-chan...paman naluto macih lama ya kesininya?" tanya Kanata.
Mendengar pertanyaan anak bungsunya yang sudah entah keberapa kalinya membuat Hinata hanya tersenyum.
"Sabar ya...kalian kan bisa latihan lempar kunai sendiri..." kata Hinata memberi semangat. sejak Naruto pulang ke Konoha, anak-anaknya itu sebentar-sebentar memang menanyakan perihal Naruto. Sepertinya mereka sangat menyukai ayahya. Ya... memang ikatan ayah dan anak tidak bisa begitu saja diputuskan, meskipun anak-anaknya tak tahu bahwa Naruto adalah ayah mereka, namun mereka mudah sekali menerima Naruto. Bahkan ketika sasuke ke Roppan, anak-anaknya tak seantusias ini.
"bocan kaa-chan...paman naluto billang mau kenalin cama katak-katak becaaaaal" kata Arata sambil cemberut.
"Iyaaaaa...kaa-chan tau sayang...tapi paman Naruto punya pekerjaan, nanti paman Naruto dimarahi kalau tidak kerja" kata Hinata sabar sambil membelai kedua anaknya yang kompak untuk cemberut. Hinata hanya terkikik geli melihat tingkah anaknya itu, ingin sekali ia berlari untuk mengambil kamera lalu mengabadikan wajah cemberut si kembar yang imut-imut.
" Tapi benal kan kaa-chan hali cabtu nanti paman naluto datang?" tanya Arata semangat
"Um...paman Naruto kan nggak janji...paman Naruto biang kalau sempat, kalau tidak berarti minggu depannya lagi baru bisa kesini" jawab Hinata, mau tidak mau ia merasa kasihan. Selama ini, ia merasa Arata dan Kanata tumbuh baik dan tidak pernah kekurangan apapun. Hinata mengira tanpa ayah pun Arata dan Kanata bisa ia besarkan sendiri. Hinata baru menyadari, Arata dan Kanata sangat merindukan sosok seorang ayah.
Flash back
Hinata tengah sibuk merajut sweater untuk Arata dan Kanata, hijau dan biru pasti imut-imut sekali mereka pakai. Hinata senyum-senyum sendiri membayangkan Arata dan Kanata memakai sweater rajutannya. Ia berencana mengajak anak kembarnya menikmati onsen di pegunungan. Hinata segera menoleh kearah pintu mendengar kaki-kaki kecil anaknya yang berusia 3,5 tahunan berlarian. Benar saja beberapa detik kemudian Hinata mendengar pintu kamarnya dibuka. Hinata melihat kedua anaknya berlari menubruknya sampai-sampai Hinata oleng.
"Wah wah wah...ada yang kangen oka-chan ya?" goda Hinata. bukannya tertawa seperti yang Hinata harapkan Hinata malah dihadapkan dengan wajah murung kedua anaknya. Bahkan mata Kanata sudah berkaca-kaca.
"Hei...anak-anak ganteng kaa-chan kenapa?" tanya Hinata pelan seraya membelai kedua kepla anaknya.
"Kaachan...?"
"Hm...?"
"Touchan alata kemana...?" tanya Arata pelan. Hinata membeku.
"Touchannya natsu chan balu pulang dali cuna...bawa banyaaaak banget mainan" lanjut Kanata sambil menahan tangis, "Kanata pengen touchan Kanata cepet pulang bawa mainan kaachaaaaan...huwaaaaaaaa" Kanata kini menangis. Arata yang tadi murung kini sudah berkaca-kaca. Hinata masih membeku kebingungan.
"Kenapa Cuma alata cama Kanata yang nggak punya touchan, kaachaan hiks...hiks..?"tanya Arata kini mulai meneteskan air mata.
Melihat kedua buah hatinya menangis Hinata segera tersadar.
"Lho...kok malah menangis...ayo kaa-chan belikan mainan..., Kanata sama Arata mau yang kaya apa?ayo dong...jangan menangis oke...?cup...cup...cup" bujuk Hinata sambil menahan diri agar dirinya juga tidak ikut menangis bersama anak-anaknya.
"Alata mau mainan yang dibelikan touchan, kaachan...hiks...?" kata Arata masih terus merengek.
"Mainan seperti apa sayang hm?" Hinata masih terus membujuk, ia tak tahu lagi harus bagaimana.
"Kanata mau touchaaaaann huwaaaaaaa" kini tangisan Kanata semakin parah. Kepala Hinata berdenyut denyut.
"Touchannya alata pergi kemana kaa-chan..hiks..hiks...?" tanya Arata menangis sesunggukan. Kepala Hinata makin berputar, ia kembali mengingat apa yang pernah Naruto katakan.
'kau merencanakan ini semua kan?'
mata Hinata terbelalak. Kenapa ia tiba-tiba mendengar suara Naruto.
'aku tahu kau menjebakku, benarkan hah?'
kepala Hinata makin berdenyut.
'kukira kau gadis baik-baik Hinata...teryata...'
Hinata kini mengelengkan kepala keras-keras. Ia tak mau mengingatnya.
'kau sama saja dengan gadis-gadis lain, ingin mendapatkan suami hokage...ingin mendapatkan tittle sebagai nyonya Namikaze...'
Hinata gemetar. Seluruh tubuhnya dingin.
'aku tidak peduli...aku tidak peduli anak yang kau kandung anakku atau bukan, aku sama sekali tidak peduli...ibu dari anak-anakku hanyalah Sakura chan...jika bukan Sakura chan yang menjadi ibunya..., itu bukan anakku'
Kini Hinata mual. ia hilang kesadaran sedikit demi sedikit. Hinata masih sempat melihat Arata dan Kanata ketakutan memanggil-manggilnya. Dan semuanya gelap begitu saja. Sebelum kegelapan itu menguasainya, Hinata masih mendengar gaung suara Naruto bersahut-sahutan. Mengusir Hinata dari kehidupan cinta pertamanya itu.
End flashback
"Kaa-chan...kenapa menangis?" tanya Arata takut-takut.
"Eh...kaa-chan menangis?" tanya Kanata heran.
"Tidak apa-apa kaa-chan Cuma senang sekarang Arata sama Kanata udah pinter lempar kunai" kata Hinata mengalihkan perhatian. Gara –gara Hinata pingsan dan akhirnya sakit ketika Kanata dan Arata menanyakan ayah mereka, mereka tak pernah lagi menyinggung-nyinggung soal ayah. Bahkan ketika Hinata sakit waktu itu anak-anaknya selalu mendampinginya dan berusaha membuatnya tersenyum. Sepertinya mereka ketakutan melihat kondisi rapuh ibu mereka. Bagi mereka, itulah pertama kalinya mereka melihat sisi lain dari ibu mereka. Sejak itu bisa dibilang Arata dan Kanata sangat overprotektif terhadap ibunya.
"Jangan nangis oka-chaaaaaan" kata Arata membujuk, ia mengerjap-ngerjapkan mata warisan Hinata polos. Hinata tahu Arata hanya menggunakan paggilan 'oka-chan' jika Arata ingin bermanja-manja atau ketakutan.
"Iya kaa-chan...nanti cakit lho..." lanjut Kanata, Hinata bisa melihat raut cemas diwajah imutnya.
" Kalau nggak ingin kaa-chan sakit...kalian latihan sama kaa-chan yuk...jangan lupain kaa-chan...sekarang kalian sayang paman Naruto, udah nggak sayang sama kaa-chan lagi" kata Hinata sambil pura-pura cemberut.
"Kita nggak lupa kok kaa-chan...kita tetep cayang ma kaa-chan" kata Kanata panik, sepertinya ia ketakutan kalau Hinata mengira begitu.
"Iya kaa-chan, kalo kaa-chan nggak cuka cama paman naluto...kita nggak akan main lagi dengan paman naluto" kata Arata tak kalah panik. Melihat kepaikan diwajah anak-anaknya, Hinata hanya tersenyum menenangkan.
"Kalian boleh main sama paman Naruto, tapi hanya akhir minggu...ok?" kata Hinata yang dibarengi dengan anggukan kepala kedua bocah kembarnya yang beberapa bulan lagi berusia lima tahun.
"Paman Naruto banyak kerjaan jadi nggak bisa setiap hari main sama kalian, hm?" lanjut Hinata lagi. Kedua bocah itu kembali mengangguk-anggukan kepala. Masih tersisa raut kecemasan di bocah-bocah kecil itu. Hinata kembali tersenyum melihat perhatian kedua anaknya. Bahkan ketika dulu Hinata meyusui, ketika Hinata sedih, Kanata atau Arata juga ikut menangis. Padahal bayi kan belum tahu apa-apa. Mungkin itulah ikatan batin ibu dan anak.
###
Mata Naruto berkunang-kunang melihat tulisan kanji dilaporannya. Laporan dari Kumogakure. Sialan...gara-gara Naruto pernah mengatakan benci tulisan kanji, mereka mengirim laporan tentang kerjasama dengan tulisan kanji semua. Padahal laporan itu harus Naruto periksa secepatnya karena 2 atau 3 bulan lagi ia harus bertemu dengan Raikage untuk mengevaluasi kerjasama mereka.
Jika Naruto lambat begini tentu akhir minggu ini ia tak akan bisa menemui Kanata dan Arata. Naruto menghela nafas panjang. Sepertinya ia harus mengakui kekalahannya terhadap berkas-berkas itu. Ia tak mungkin bisa menemui kedua putranya minggu ini.
####
"Ehem..." Sakura mengeluarkan deheman lebih keras. Sakura bisa melihat pipi Naruto merona karena ketahuan melamun, padahal seharusnya Naruto menyelesaikan berkas-berkas yang menumpuk.
"Maaf aku langsung masuk...tadi sekertarismu dan aku sudah mengetuk pintu berkali-kali tapi tidak ada jawaban dari dalam" kata Sakura sambil tersenyum.
"Tak apa...aku Cuma ada sedikit pikiran..." kata Naruto memaksakan senyum.
"Eh...ada masalah apa?" tanya Sakura heran. Biasanya jika Naruto ada masalah Naruto langsung menceritakannya pada sasuke, shikamaru atau padanya.
"Bukan apa-apa..." kata Naruto yang kini megambil berkas dan membukanya dengan kasar.
"Kau tahu kau bisa bicara semuanya padaku Naruto" bujuk Sakura lembut, Naruto mengernyit. Sejak kapan Sakura bisa bersikap lembut padanya. Ia kira Sakura hanya bisa lembut pada sasuke.
"Cuma masalah kecil Sakura...tenang saja..." kata Naruto.
"Tapi kalau kau bercerita padaku mungkin kau akan sedikit lega..." bujuk Sakura.
"Bukan masalah besar tenang saja..." kata Naruto lagi. Lama-lama Naruto sebal karena Sakura bersikap sok perhatian seperti ini. Ia baru menyadari jika beberapa hari ini Sakura selalu mempunyai alasan untuk bertemu dengannya. Entah ia terkena jutsu apa Naruto juga tak tahu.
"Jika aku bisa bantu pasti akan kubantu Naruto...jika kau diam saja aku tidak bisa membantumu..." bujuk Sakura disabar-sabarkan, Sakura memang bukan tipe wanita yang sabar dan lemah lembut. sekarang ini sebenarnya Sakura ingin sekali mengancam Naruto dengan 'shanaro'nya agar Naruto mau memberitahukan masalahnya. Tapi jika itu ia lakukan, ia takut perkataan ino akan menjadi kenyataan. Ino pernah berkata bahwa terkadang laki-laki ingin juga dimanja. Jika Sakura belum pernah memanjakan Naruto sedikitpun bisa saja Naruto akan memutuskan hubungan mereka.
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa..." kata Naruto sewot, sejak kapan sih Sakura semenyebalkan ini. Naruto jadi tahu kenapa sasuke tidak memilih Sakura untuk dijadikan istri. Sakura sama sekali tidak bisa membaca situasi dan kondisi. Dimana saat diam, dimana saat bicara, dimana saat memaksa atau dimana saat orang tidak ingin diganggu. Dan akhir-akhir ini Sakura berkali-kali lipat menyebalkan daripada biasanya.
"Ini bukan masalah besar Sakura, dan ini sama sekali bukan urusanmu..., sekarang bagaimana kalau kita bicara kenapa kau ada disini, kau bukan mau mengajak makan malam atau siang lagi kan?aku sudah bilang aku sibuk" kata Naruto cepat ketika melihat Sakura masih ingin berdebat.
Sakura Cuma mendengus kesal. Pipinya merona saat Naruto mengatakan 'makan malam atau makan siang'. Memang beberapa hari ini Sakura selalu menyempatkan untuk mampir ke kantor Naruto SESERING mungkin. Ia Cuma ingin menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Namun sepertinya kekasihnya itu tidak menghiraukan ajakannya dengan alasan sibuk.
"Ini berkas dari rumah sakit..."kata Sakura agak ketus. Sakura benar-benar merasa tak dihargai. Ia juga sibuk bukan Cuma Naruto yang sibuk. Tapi sepertinya Naruto tak merasa tersanjung Sakura meluangkan waktu untuknya.
"Terimakasih...taruh saja disitu" kata Naruto malas. Ia membayangkan seandainya berkas-berkasnya tak terlalu banyak tentu ia bisa mengunjungi kedua buah hatinya hari ini.
Sebagai permintaan maaf Naruto akan memberikan mainan pada Kanata dan Arata, ia akan mengirimkan lewan hewan summonnya.
Sakura masih berdiri menunggu Naruto mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu. Biasanya jam-jam ini Naruto sudah bersiap-siap pulang, karena Sakura memberikan berkas sekaligus ingin pulang maka biasanya Naruto mengajaknya pulang bersama. Mereka biasanya mampir ke ichiraku atau restoran lain untuk makan malam. Namun kali ini Sakura tidak melihat indikasi Naruto ingin mengajaknya pulang atau makan bersama.
Sakura menghela nafas.
"Baiklah...aku pulang dulu" kata Sakura pelan. Berharap Naruto mau sekadar mengantarnya.
"Ya...hati-hati" jawab Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas yang ia baca.
####
Naruto garuk-garuk kepala melihat barang-barang yang dipajang ditoko mainan aanak yang ia masuki. Tadi malam ia mengurus pekerjaan sampai lembur, jadi saat ia pulang tidak ada toko mainan yang masih buka.
Penjaga toko hanya heran melihat tingkah hokage yang sudah satu jam mondar-mandir dari rak mainan yang satu ke rak mainan yang lain.
"Ada yang bisa saya bantu hokage sama?" tanya penjaga toko sopan.
"Oh...eh...ap...er...tidak..." Naruto gelagapan mendengar pertanyaan penjaga toko. Memang ia tak tahu mainan apa yang disukai oleh anak seusia Arata dan Kanata.
Naruto menghela nafas panjang.
"Sebenarnya aku ingin menghadiahi anak kecil tapi aku tak tahu hadiah apa yang mereka suka" kata Naruto memelas. Melihat wajah hokagenya yang biasa ramah dan berwibawa begitu memelas, penjaga toko jadi tidak tega.
"Berapa usianya hokage sama?" tanya penjaga toko ramah.
" Um...4 tahun lebih...hampir lima tahun..."
"Anda bisa memberikan hadiah terganung dari umur juga dari hobi"
"Er...aku tak tahu hobi mereka apa." Kata Naruto dengan rona dipipinya. Padahal ia ayah mereka, tapi ia belum pernah memberikan apapun.
"Bagaimana kalau teropong bintang ini...sedang laris lho...kemarin datang beberapa kodi langsung diserbu pelanggan. Sekarang hanaya tinggal 2. Sepertinya para rang tua ingin mengajak anak-anak mereka melihat hujan meteor minggu depan" tawar penjaga toko promosi.
"Aku ambil..." jawab Naruto semangat. Teropong bintang menurutnya sangat menarik.
"Eh...maksudku dua-duanya aku ambil" teriak Naruto ketika penjaga toko hanya mengambil satu teropong saja.
"Oh...baiklah hokage sama..."kata penjaga toko sambil tersenyum.
Akhirnya...Naruto tinggal meyuruh gamabunta untuk mengatarkannya secepatnya.
.
Yuhu...chapter 15
Makasih bgt buat kalian-kalian yang udah pada review..
Gw bersyukur kalo ternyata gak perlu pindah rate *ups ...jangan kecewa ya yang berharap gw pindah rate...gw blm tentu sangguup di ate m soalnya*
Well just review this chapter then.
