"Ohh, jadi cinta pertama fukubucho teman SD nya ya. Hmm..." komentar Akaya setelah mendapatkan cerita dari sang senior. Namun entah kenapa dia tidak bisa merasa puas.

Tentu saja Sanada tidak ingin cerita masa lalunya itu diketahui semua orang selain Yuki sendiri. Alahasil, di samping ingatan yang kembali berputar dalam kepala, dia menceritakannya dengan banyak sekali kebohongan. Dan berharap rekan-rekannya itu percaya dengan apa yang baru saja diceritakan.

Sayangnya ada satu orang yang menyadari semua kebohongan tersebut. Orang itu pun tersenyum penuh arti di balik kacamatanya yang mengilat. "Apa semua yang kamu ceritakan itu benar, Sanada kun?" tanya Yagyuu.

Meski terkejut, namun Sanada masih tetap menjaga sikap. "Tentu saja!"

"Tapi kenapa kamu tidak ceritakan juga tentang cinta pertamamu yang ternyata anak laki-laki itu?"

Kali ini Sanada tidak bisa terlihat tenang. Entah kenapa Yagyuu bisa mengetahui rahasia yang dengan susah payah ingin dilupakannya itu.

"Hah? Benarkah itu, Yagyuu senpai?!" tanya Akaya dengan sedikit berteriak.

"Bahkan kamu baru tahu identitas asli cinta pertamamu itu saat masuk ke sini. Tapi demi menjaga persahabatan yang sudah lama terjalin, kamu berusaha menutupi semua itu."

"Ah!" reaksi Bunta setelah mendengar penjelasan Yagyuu. "Sepertinya aku tahu siapa orangnya," tambahnya lagi sembari tersenyum ke arah Sanada yang mulai terintimidasi.

"Tentu saja, kita semua tahu siapa orangnya bukan?"

"Ya," hampir semua orang menjawab serentak, kecuali Sanada yang terlihat semakin panik dan seorang lagi yang masih berwajah penuh tanya.

"Kalian semua tahu siapa orangnya? Siapa? Siapa?" tanya Akaya.

"Siapa ya..."

"Ah, kenapa kamu jadi menyebalkan seperti itu, Yagyuu senpai! Cepat beritahu aku!" Akaya menatap semua orang namun tak satupun mau menjawab.

"Kamu benar-benar ingin tahu?"

"Tentu saja!"

"Orangnya adalah..."

"Yagyuu!" bentak Sanada langsung. "Dari mana kamu mendapatkan cerita itu?!"

Yagyuu kembali tersenyum penuh arti. "Dari siapa lagi selain Yukimura chan, eh, kun."

"Ppfft!" Bunta, Jackal, Niou, dan Renji langsung menahan tawa. Sementara Sanada berusaha dengan susah payah untuk menyembunyikan wajahnya yang sepertinya mulai memerah.

Tak lama kemudian, Akaya langsung berdiri sembari menggebrak meja. "Baiklah, aku tahu kepada siapa aku harus bertanya!" ucapnya dengan semangat sembari berjalan cepat menuju pintu.

"Mau kemana kamu Akaya?!" tanya Sanada.

"Ke rumah sakit menemui Bucho!" teriak Akaya sembari berlari.

"AKAYA! KEMBALI!"

.

.

.

"Ada apa, Seiichi?"

"Tidak apa-apa. Hanya saja entah kenapa langit sore ini tampak seperti sedang merona karena malu..."