Chapter 16
Naruto tersenyum di depan gerbang penginapan Lotus milik keluarga hyuga. Ia memasuki bagian resepsionis di depan.
"Hokage sama..." sapa resepsionis dengan ramah.
"Aku mau pesan kamar..." kata Naruto cepat-cepat. Ia sudah berjanji akan mengajak Arata dan Kanata untuk menonton hujan meteor malam ini. Ia sudah kangen sekali dengan buah hatinya.
"Kami sudah menyiapkannya hokage sama...barang-barang anda tinggal saja disini...tuan muda Arata dan Kanata sedang bersiap-siap dikamarnya menunggu anda, sedangkan Hinata sama sedang menyiapkan makanan didapur." Sahut resepsionis itu ramah.
"Er...terimakasih...um...bisakah kau mengantarku kekamar Arata dan Kanata...um...aku masih bingung...penginapan ini besar sekali hehehe..." kata Naruto garuk-garuk kepala. Ia sedikit salah tingkah melihat ada bawahan Hinata yang mengenalinya.
Akhirnya Seseorang mengantar Naruto ke kamar si kembar dengan senang hati. sepanjang koridor ketika naruo berpapasan degan anggota klan hyuga, Naruto mendengar mereka berbisik-bisik. Naruto tak terlalu memikirkannya, pikirannya tersita menebak-nebak reaksi anak-anaknya ketika melihatnya nanti. Apa mereka akan senang? Apa Arata marah karena minggu kemarin Naruto tidak datang?
Naruto mengetuk pintu tiga kali. Karena tidak ada sautan, Naruto pun masuk begitu saja. Naruto tersenyum geli ketika melihat anak-anaknya berebut sweater.
"Hei hei hei...ada apa ini...paman datang kok malah liat kalian berengkar" kata Naruto sambil berusaha melerai kedua anaknya yang saling menarik jaket berwarna biru.
"Paman!" kedua bocah kembar itu berteriak dan berlari kearah Naruto. Naruto hanya tertawa sambail menggendong buah hatinya. Ia benar-benar kangen dengan mereka berdua.
"Paman benar-benar minta maaf minggu kemarin tidak bisa datang...paman janji besok paman ajarin melempar kunai ok?" kata Naruto sambil tersenyum kearah Arata dan Kanata. Arata dan Kanata hanya mengangguk-angguk sambil menggelendot manja pada Naruto.
"Paman kata kaa-chan paman mau ajak kita liat hujan meteol ya...pake telopong hadiah paman itu kan?" tanya Arata ingin tahu.
"Iya...lho kalian belum bisa membaca ya?" tanya Naruto penasaran.
"Alata udah dong paman..." kata Arata bangga, Kanata Cuma bisa memberengut.
" Kemalin nii-chan gak bica baca culat paman naluto..." kata Kanata menyahut, dia memang belum bisa membaca berbeda dengan kakaknya yang hobinya malah membaca.
" Itu gala-gala tulican paman naluto aneh...nggak kayak tulican kaa-chan" sahut Arata tidak mau kalah. Naruto hanya meringis, tulisannya memang seperti sandi rumput. Jadi memang tidak semua orang bisa membaca tulisan Naruto.
"Oke oke...sudah berdebatnya...kalian mau berangkat apa tidak...um...bawa apa saja ya..." kata Naruto sambil garuk-garuk kepala. Ia tidak pernah mengasuh balita jadi wajar saja ia bingung apa saja yang harus ia bawa jika ingin mengajak balita keluar...sepertinya ia harus menanyakan hal ini pada Hinata.
"Pokoknya aku nggak mau pake jaket itu...aku mau pake jaket yang ini"
Naruto melongo, baru saja ia melepaskan gendongannya, kedua buah hatinya sudah kembali ribut masalah sweater. Mereka kembali tarik menarik sweater berwarna biru.
"Hayo hayo kok mulai lagi sih berantemnya...udah dong... kan masih ada jaket yang lain..." bujuk Naruto manis.
"Tapi Kanata mau pake jaket yang ini paman..." kata Kanata memelas, ia masih memegang erat jaket biru itu.
"Gak bica...pokoknya ini gililan alata yang pake..." kata Arata mendelik. Naruto meringis, jika marah seperti ini Arata malah mirip neji.
Naruto garuk garuk kepala bingung mau membujuk bagaimana lagi. Mata Naruto terbelalak ketika melihat Arata dan Kanata kini saling menarik dan memukul apa yang bisa ditarik dan dipukul. Naruto pun segera memisahkan Arata dan Kanata.
"Ouw ouw...aduh...ini tangan paman jangan digigit Arata...ouch ...Kanata sayang jangan tarik tarik rambut paman...ow...aduh...aduh...". Naruto berteriak-teriak ketika Arata dan Kanata masih saja menyerang membabi buta Cuma gara-gara sweater.
"ARATA...KANATA..."
Arata dan Kanata langsung diam mendengar suara bentakan ibunya.
"Kenapa malah bertengkar? katanya bisa siap-siap sendiri..." tegur Hinata begitu melihat tingkah anak-anaknya ketika ia masuk ke kamar.
"Kaa-chan...aku mau pake jaket walna bilu..." kata Kanata sambil mata berkaca-kaca.
Melihat tingkah Kanata Hinata hanya menghela nafas.
"Ini giliran nii-chan sayang...dan sudah kaa-chan bilang itu sweater bukan jaket..." kata Hinata tenang. Tangannya masih berkacak pinggang.
"Tapi Kanata nggak mau pake yang melah jambu kaa-chan..." kata Kanata belum menyerah.
"Nggak boleh...yang merah jambu juga bagus kok sayang ..."kata Hinata dengan lembut.
"Itu walna pelempuan kaa-chan" kata Kanata masih merajuk.
"kata siapa...paman Naruto juga pernah pakai baju pink kok..." kata Hinata terus membujuk.
"benal paman?" tanya Kanata pada Naruto. Naruto jadi salah tingkah. Kebanyakan pakaiannya kan warna orange. Tapi melihat Hinata yang memandang dengan memohon akhirnya Naruto hanya mengangguk membenarkan.
"Kalo gitu pakaian paman naluto yang walna melah jambu juga dipake..." kata Kanata merajuk. Naruto dan Hinata hanya saling pandang melihat kegigihan anak mereka yang satu ini. Sedangkan Arata hanya senyum-senyum melihat perjuangan adiknya yag benci warna merah jambu.
"Eh...pakaian merah jambu paman tidak paman bawa Kanata sayang..." kata Naruto lembut. tentu saja tidak ia bawa, punya saja tidak.
"Ya udah...Kanata gak mau pake jaket..." kata Kanata kini kembali cemberut. Hinata dan Naruto hanya saling pandang melihat kekeras kepalaan anaknya ini.
Tiba-tiba Naruto bisa melihat pancaran bahagia di mata Hinata. belum sempat Naruto menanyakan sesuatu, Hinata sudah berlari melesat keluar. Setelah beberapa saat Hinata kembali dengan senyum manisnya beserta kaos berwarna merah jambu.
"Kaa-chan tadi pinjam kaos punya paman shisui...ini ada yang merah jambu...paman Naruto bisa pakai..." kata Hinata sambil tersenyum. Naruto memucat. Dimana ia bisa meletakkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki jika ia harus pakai pakaian merah jambu seperti ini.
"Er...um...er...aku pakai pakaian ini saja Hinata...aku tidak mau merepotkan..."kata Naruto menghindar.
"Ini pakaian baru hokage sama...memang tadi aku berniat meminjamnya...begitu tahu aku meminjamkannya untukmu paman shisui bilang baju ini bisa untukmu...baju ini dibelikan oleh istrinya seminggu yang lalu..." kata Hinata menerangkan. Hinata tahu Naruto menghindar memakai pakaian itu. Tapi itu satu-satunya cara agar Kanata mau pakai sweater. Pakaian hangat yang lain kotor semua karena ulah usil kedua bocah kembar itu. Mereka berpikir pakaian-pakaian yang mereka kenakan kurang berwarna jadi mereka mempunyai inisiatif sendiri untuk mewarnai dan menggambari pakaian mereka dengan krayon. Hinata hanya melongo ketika melihat kamar berantakan dengan baju-baju bergambar karya anak-anaknya. Untung ada baju yang bisa diselamatkan. Yag tidak bisa diselamatkan terpaksa dicuci semua. Dan pakaian yang dicuci hampir satu lemari.
"Paman halus nemenin Kanata pake baju melah muda kalo paman nggak mau Kanata juga nggak mau pake" kata Kanata sambil cemberut.
Naruto hanya menghela nafas. ternyata mendidik anak itu tak semudah yang ia bayangkan.
Naruto segera melepaskan jaket yang ia kenakan. Ia tak meyadari bahwa Hinata sudah melongo melihat Naruto mau ganti baju disitu juga. Ketika Naruto membuka baju yang ia kenakan dan hanya bertelanjang dada Hinata hanya membalikan badannya membelakangi Naruto.
"Mana kaosnya Hinata?" tanya Naruto santai. Ia agak heran kenapa Hinata berbalik membelakanginya seperti itu.
"Kau kenapa Hinata?" tanya Naruto heran.
"Um...ini pakaiannya.." kata Hinata gugup. Naruto semakin heran melihat kegugupan Hinata.
"Paman gak copan... kata bibi ginko...kalo ganti baju jangan campe diliat wanita...yang boleh liat paman gak pake baju Cuma isteli cama kaa-chan paman gitu..." kata Arata menasehati.
Naruto tersadar. Iya...ya...kenapa ia tak memikirkan kalau Hinata ada diruangan ini. Ia mau ganti baju begitu saja. Naruto meringis. Hinata kan sudah pernah melihatnya tak memakai apapun, jadi tak masalahkan. Toh...ia tak keberatan. Cuma mendengar nasehat dari anak tertuanya sendiri memang sedikit memalukan. Seharusnya kan ia yang menasihati anak-anaknya. Bukan sebaliknya.
"Um...maaf Hinata...aku tak berpikir sejauh itu..." kata Naruto kikuk.
"Tak apa-apa hokage sama...ini um...pakaiannya" kata Hinata masih dengan membelakangi Naruto. Sedangkan Arata dan Kanata hanya memperhatikan interaksi Naruto dan Hinata yang kaku.
Naruto menyambar kaos pink yang diberikan Hinata dan cepat-cepat memakainya, ia tak ingin melihat Hinata lebih tak nyaman lagi.
"Nih...paman udah pake...Kanata pake juga ya..." bujuk Naruto semangat walaupun dalam hati ia menangis. Untung saja tidak akan ada yang kenal dia di Roppan ini.
Mendengar Naruto sudah memakai pakaiannya Hinata segera berbalik dan tersenyum melihat Kanata dengan berat hati memakai sweater warna merah muda. Sebenarnya daya tahan tubuh anak-anaknya memang diatas rata-rata. Tapi tetap saja Hinata selalu khawatir jika nak-anaknya itu tidak memakai pakaian hangat jika keluar malam.
"Untung saja anda berpakaian normal hokage sama..." kata Hinata sambil tersenyum kecil, matanya melihat kearah jaket hitam dan celana hitam yang Naruto pakai. Ia akan berusaha sebaik mungkin pada Naruto demi anak-anaknya. Ia tidak bisa memberikan ayah untuk anak-anaknya. Jadi ia akan berusaha membahagiakan anak-anaknya dengan cara yang ia bisa.
"Maksudmu apa Hinata? memangnya pakaianku yang biasa tidak normal ya" tanya Naruto sambil tersenyum. Naruto sempat heran melihat Hinata mengeluarkan aura agak ramah padanya. tidak seperti pertamakali Naruto bermain ke Roppan. Aura Hinata adaLah aura permusuhan. Sekarang Naruto memang tidak merasakan aura Hinata yang hangat seperti dulu, ketika gadis itu masih mencintainya. Paling tidak aura yang dipancarkan bukan aura kebencian atau permusuhan Naruto sudah sangat senang.
"Saya kira...orange dan pink itu paduan yang kurang bagus" kata Hinata sambil membetulkan syal yang dipakai Arata.
Entah apa yang ada dipikiran Naruto tiba-tiba ia mengeluarkan kalimat yang ada dipikirannya.
"Kalau orange dengan biru tua?"
Hinata berhenti sejenak membenarkan syal yang Arata pakai. Bukankah mereka membahas tentang pakaian. Entah kenapa Hinata merasa Naruto sudah tidak membiicarakan soal pakaian lagi.
"Saya kira itu jauh lebih buruk lagi..." kata Hinata kaku sambil melanjutkan kembali merapikan syal Arata.
Naruto hanya membodoh-bodohkan diri sendiri dalam hati. kenapa ia harus mengatakan hal yang salah disaat begini. Hinata sudah lumayan ramah padanya. hanya dengan satu kalimat Naruto bisa mebuat Hinata jadi dingin kembali. Dia benar-benar merasa jadi orang bodoh sekarang ini.
####
"Bulannya nggak keliatan paman..." rajuk Kanata sambil melihat langit bertaburan bintang. Mereka duduk diatas karpet yang lumayan lebar untuk mereka berempat. Hinata menyiapkan coklat hangat untuk melawan angin pantai yang lumayan kencang. Naruto memang sengaja mengajak Hinata dan putra mereka melihat hujan meteor dipinggir pantai, walaupun tidak ada bulan purnama disana tapi pemandangannya tetap saja indah. Langit kelihatan lebih luas. Langitnya juga bersih tidak ada awan sehingga bintang-bintang yang bertaburan bisa dilihat. Penerangan dengan lilin membuat suasana lebih hangat. Benar-benar sangat indah.
"Tidak apa-apa...ada yang mau tahu rasi bintang nggak?... sini paman ajari..."kata Naruto semangat. Arata dan Kanata segera berbaring dikiri kanan Naruto. Mereka mendengar dengan seksama penjelasan Naruto tentang rasi bintang.
Hinata hanya tersenyum kecil melihat kedua buah hatinya melihat Naruto dengan kekaguman dimatanya. Hinata memandang kearah pantai. Ia mengingat kembali kehidupan yang telah ia jalani selama ini. Adakah keputusannya yang salah sehingga ia diposisi sulit seperti ini?.
Ia sudah dua minggu pulang ke Roppan. Ia masih ingat bahwa ayahnya menyuruhya pulang ke Konoha jika urusan di Roppan sudah selesai. Hinata heran kenapa ayahya selalu bisa membuatnya kelimpungan. Ia tak tahu lagi harus mengatakan apa pada ayahnya agar ia diizinkan di Roppan lebih lama lagi. Ia harus segera memikirkan alasan sebelum surat dari ayahnya datang.
Naruto yang senang dengan perhatian anak-anaknya diam-diam melirik Hinata. mungkin jika Naruto bisa membuktikan bahwa ia bisa menjadi ayah yang baik untuk Arata dan Kanata, Hinata bisa mengijinkan mereka memanggil ayah padanya, tak pernah ia menginginkan sebuah gelar seperti ini,bahkan gelar hokage sekalipun. Ia tahu gelar seorang ayah biasanya diterima begitu saja. Naruto sudah menolak gelar itu dulu. Sekarang ia harus berjuang untuk mendapatkannya kembali.
Naruto tahu ia memberikan beban yang seharusnya ia pikul pada Hinata. sekarang pun Naruto tahu bahwa Hinata tengah memikirkan beban-beban yang sedang dipikulnya. Hinata memandang laut dengan sorot kesedihan dan putus asa. Ingin sekali Naruto memikul sebagian beban itu. Tapi sepertinya Hinata sudah tak percaya lagi padanya. Mungkin Hinata takut jika Naruto hanya main-main.
"Paman hujan meteolnya udah mulai belum cih?" tanya Arata tidak sabaran, mengalihkan perhatian Naruto yang tadi telah disita oleh Hinata.
"Hm...mungkin sebentar lagi...sekarang masih jarang-jarang..."kata Naruto sambil mengamati dari teropong.
"Coba liat nih..." kata Naruto sambil mengajari Arata menggunakan teropong.
" Wah...bintangnya juga keliatan lebih bagus paman...eh...itu ada meteol yang jatuh...eh...eh...ada lagi.." seru Arata semangat. Naruto hanya tersenyum melihat putra sulungnya.
"Paman Kanata juga mauuuu..." rajuk Kanata sambil mengacung-acungkan teropongnya.
"Sini paman ajarin..." kata Naruto sambil tersenyum senang. Ia tidak salah membelikan teropong ini untuk anak-anaknya.
####
Hinata menyodorkan secangkir coklat panas pada Naruto. Setelah mereka kelelahan menonton hujan meteor, kedua putra kembarnya itu membujuk ayah dan ibunya untuk tidur di pantai. Mereka ingin melihat matahari terbit.
Awalnya Hinata menolak. Ia takut mereka kedinginan lalu demam. Naruto bukannya membantu Hinata membujuk Arata dan Kanata pulang malah mendukung ide tersebut. Bahkan Naruto bersemangat mencari kayu bakar untuk api unggun. Tentu saja si kembar makin senang. Hinata semakin kesal dibuatnya.
"Jangan terlalu cemas Hinata...aku yakin mereka tidak akan demam Cuma gara-gara bermalam dipantai. Lagi pula kau kan menyiapkan selimut tebal seperti ini"kata Naruto sambil menyeruput coklat panasnya. Bukannya tersenyum seperti yang Naruto harapkan, Hinata malah mendelik marah.
"Seharusnya kau tidak mendukung mendukung ide mereka ini hokage sama...mereka bisa sakit" kata Hinata jengkel.
"Mereka kan laki-laki Hinata chan" kata Naruto sabar.
"Memangnya laki-laki tidak bisa sakit" kata Hinata ketus sambil membenarkan selimut dan sweater yang dikenakan dua buah hatinya, kini mereka tertidur diantara Naruto dan dirinya.
"Kau sering mengajak mereka kemari?" tanya Naruto
"Mmm ya...biasanya jika bulan purnama...suasananya menyenangkan untuk makan malam bersama..." jawab Hinata. ingin sekali Hinata tidur untuk menghindari obrolan dengan Naruto. Akan tetapi ia belum mengantuk. Malah aneh jika pura-pura tidur tapi nanti malah ketahuan.
"Apa Kanata selalu keras kepala?" tanya Naruto ingin tahu.
"Ya...sebenarnya Arata juga keras kepala...Kanata hanya lebih vokal menyuarakan pendapatnya...dia jadi terlihat lebih keras kepala" kata Hinata sambil tersenyum kecil mengingat tingkah kedua putranya.
"Arata sepertinya suka sekali membaca" kata Naruto lagi. Aruto benar-benar serius ingin mengenal putranya.
"Ya...Arata suka sekali membaca...beda dengan Kanata yang suka usil, susah sekali membuat Kanata minat membaca. Ia lebih suka berlari kesana kemari berbuat onar" kata Hinata sambil melirik sebal kearah Naruto. Naruto hanya nyengir bersalah. Ia tahu Hinata menyalahkan keusilan Kanata padanya. keusilan Kanata memang turunan dari Naruto.
"Apa mata Arata tidak bermasalah Hinata? bukankah biasanya para hyuga menikah dengan sesama hyuga? Aku takut..." Naruto menggantung kata-katanya.
"tidak apa-apa...aku sudah memeriksanya, matanya berrfungsi dengan baik. aku memang tak sebaik Sakura...tapi aku ninja medis yang lumayan kok..." kata Hinata sambil menyeruput kembali coklat panasnya. Naruto merasa arah pembicaraan mereka mengarah pada arah yang kurang menyenangkan.
"Um...sepertinya Kanata kurang suka sweater pink...bagaimana jika nanti aku belikan di Konoha sweater...bagus-bagus lho...Kanata suka warna apa?" tanya Naruto mengalihkan pembicaraan.
"Biru...tapi tak perlu hokage sama...saya sedang merajut sweater untuk mereka, sebentar lagi jadi. Memang Kanata tidak terlalu suka dengan warna pink...tidak seperti ayahnya.." kata Hinata santai.
Mendengar kata-kata Hinata Naruto hanya membuka dan menutup mulutnya bingung mau mengatakan apa. Melihat Naruto kebingungan Hinata hanya tersenyum. Fakta Naruto menyukai Sakura toh semua orang juga sudah tahu. Tak perlu merasa tidak enak padanya. Naruto menyukai siapapun itu bukan urusannya. Dan Hinata menyadari sepenuhnya jika ia memang tak punya hak.
" Sudah larut malam hokage sama sebaiknya kita tidur...selamat malam" kata Hinata sambil merebahkan diri disamping Arata.
Naruto hanya menghela nafas. ia memang menyukai Sakura dulu. Kenapa sekarang Hinata mengungkit-ungkitnya terus. Baru saja ia ingin menjelaskan bahwa dia dan Sakura tak ada hubungan apapun tapi Hinata malah menghindarinya dengan berpura-pura ingin tidur. Ia tak ingin interaksinya dengan Hinata jadi kaku Cuma gara-gara gosip yang tidak benar.
####
Naruto menngelus kepalanya yang sakit ditendang Kanata. Astaga...anak itu memang mirip sekali dengannya. Naruto melirik saudara kembar Kanata yang tidur manis disamping ibunya. Baru saja Naruto menyingkirkan tangan Kanata yang akan menonjok perut kakaknya, sekarang Kanata malah menindih Arata yang masih saja tidur tenang.
"Ugh..."Arata sepertinya kesakitan ditindih adiknya. Naruto pun berniat mengamankan Kanata agar tak mengusik kakak dan ibunya yang masih terlelap tidur.
Naruto memindahkan Kanata di samping kirinya sehingga sekarang hanya Arata yang berada diantara Naruto dan Hinata. Naruto meringis melihat perbedaan Kanata dan Arata.
Naruto melirik kearah Hinata, Hinata pasti mimpi indah karena ia tersenyum dalam tidurnya. Hinata memiringkan tubuhnya kearah Naruto. Naruto harus menelan ludah berkali-kali dan mengalihkan perhatiannya dari Hinata. bukannya tadi pakaian Hinata tertutup dan sopan. Kenapa yukata Hinata sekarang kelihatan terbuka dibagian dada?.
Naruto sudah berusaha menahan diri agar tidak melirik dada Hinata yang makin terekspos. Ketika Hinata bergerak lagi dalam tidurnya, bukannya makin tertutupi belahan dada Hinata malah makin terlihat. Leher jenjang Hinata makin indah dilihat dari pantulan cahaya lilin yang memang mereka bawa dari penginapan.
Naruto berusaha memejamkan matanya. Namun kelebat leher jenjang Hinata malah menggodanya. Ketika ia membuka mata lagi-lagi ia disuguhi pemandangan belahan dada Hinata dan leher jenjangnya yang indah. Bagaimana mungkin ia bisa tidur.
Naruto akhirnya bangkit. Ia Cuma ingin merapikan sedikit yukata Hinata sehingga belahan dadanya tidak terlihat. Toh ia pernah melihat semuanya, pernah menyentuhnya juga malah.
Pelan-pelan Naruto merapikan yukata Hinata. ia benar-benar harus menahan diri ekstra keras. Demi tuhan ia masih seorang pria normal.
Naruto menggaruk kepalanya bingung. Ia sama sekali tidak tahu soal pakaian yukata. Bagaimana memperbaiki yukata Hinata yang agak ' berantakan' ini. Akhirnya Naruto hanya ngawur tarik sana tarik sini. Bukannya jadi tertutup yukata yang Hinata kenakan malah jadi tambah terbuka. Naruto memucat, entah apa yang akan Hinata lakukan jika tahu perbuatan Naruto.
Naruto kembali melihat Hinata yag masih tertidur lelap. Ia kembali teringat bagian mana saja yang dulu pernah ia sentuh saat membuat Arata dan Kanata. Naruto melirik leher jenjang Hinata penuh minat. Mungkin jika ia mencicipi leher Hinata sedikit maka ia tidak akan tersiksa seperti ini dan bisa tidur dengan tenang.
"Maaf ya Hinata...Cuma sedikit kok..." kata Naruto.
.
.
.
.tada... chapter 16...
Ni ada Arata ma Kanata bagi kalian yang udah kangen ma mereka...
Ni udah gw update...jangan teriak-teriak minta updatean lagi ya...hehehe
Makasih atas dukungan kalian buat fic ini, apalagi buat yang review kalian buat gw tahu apa yang ada dipikiran kalian pas baca hasil karya gw...tapi maaf gak bisa gw bls satu2. tenang aja semua udah gw baca kok...
Btw chapter kemaren nama orang gak pake huruf kapital gara2 ada kesalahan teknis, makasih udah ngingetin ya... nanti gw perbaiki ok...
Bwt sasuhana mmmm gw usahain deh...
Ok sampe sini aja...jangan lupa review ya... ^_^
