chapter 17

Hinata bangun sambil mengucek matanya, sepertinya ia baru saja tidur selama beberapa menit tapi ia merasa kedua anaknya yang manis itu menggoyang-goyangkan tubuhnya.

"Kaa-chan...kata paman naluto cebental lagi matahali mau telbit" kata Kanata semangat. Hinata Cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anaknya. Arata memang mudah bangun pagi namun Kanata merupakan anak yang sangat sulit dibangunkan. Hinata harus berusaha ekstra keras jika ingin membangunkan Kanata. Kalaupun sudah bangun biasanya mata Kanata masih mengantuk dan bangunnya ogah-ogahan. Berbeda sekali dengan sekarang. Mata Kanata berbinar senang, sepertinya tidak mengantuk sama sekali.

Hinata melawan keras hawa kantuk yang menyerangnya. Ia membuka kotak bekal yang tadi malam mereka bawa. Sepertinya makanannya sudah habis. Anak-anaknya harus menahan lapar sampai mereka tiba di penginapan.

"Minumannya masih ada coklat panas dan teh Hinata" kata Naruto sambil tersenyum.

"Mulai...itu udah melah-melah..." seru Arata semangat sambil menunjuk semburat matahari yang memang mulai muncul.

Untuk beberapa saat mereka berempat hanya diam menikmati pemandangan yang jarang mereka lihat.

"Bagus ya kaa-chan...kapan-kapan kita liat lagi ya.." kata Arata sambil menggelendot manja pada Hinata. Hinata hanya tersenyum sambil membelai kepala Arata sayang.

"Baiklah...nontonnya kan sudah selesai...ayo sekarang kita pulang...kalian pasti sudah lapar" kata Hinata sambil beranjak dari duduknya.

"Main dulu kaa-chan...ini kan hali libul" kataa Kanata merajuk, Arata hanya mengangguk angguk setuju.

Belum sempat Hinata menolak, Kanata sudah berlari –lari kearah nelayan yang baru saja pulang melaut. Hinata masih melihat Arata bingung antara ingin menuruti keinginan ibunya dan ikut bermain dengan adiknya. Melihat anak sulungnya menderita, Hinata melihat Naruto membisikan sesuatu pada Arata. Beberapa saat kemudian Arata sudah berlari menyusul Kanata yang sekarang sedang mengobrol dengan nelayan.

Melihat anaknya pergi begitu saja sekarang Hinata mendelik pada Naruto.

"Biarkan mereka bermain Hinata, mereka ingin melihat hal-hal baru...lagipula sekarang hari libur" kata Naruto sambil tersenyum. Hinata hanya menghela nafas.

"Aku akan mengawasi mereka...kau sepertinya masih mengantuk...istirahatlah...aku yakin kau pasti tidur larut selama seminggu ini" kata Naruto sambil tersenyum lembut. Hinata hanya mengguk sambil menghindari tatapan Naruto.

Hinata melihat Naruto menghampiri kedua buah hati mereka. Naruto ikut bercakap-cakap seru degan nelayan. Beberapa kali Hinata melihat mereka tertawa. Beberapa saat kemudian Hinata melihat Naruto beserta si kembar menenteng beberapa ikan laut kearahnya. Hinata entah sudah keberapa kalinya menghela nafas melihat tingkah laku Naruto yang selalu tak terduga.

"Kaa-chan...kita bakal ikan buat calapan..." kata Arata senang sambil membawa satu ikan besar di kanan tangannya.

"Kanata mau makan dua..." kata Kanata sambil mengacungkan dua ikan dtangan kanan dan kirinya.

"Aku Cuma ingin mereka merasakan pengalaman baru Hinata...maaf tak meminta izinmu dulu..." kata Naruto sambil tersenyum dengan rasa bersalah. Hinata Cuma diam tak menjawab.

Naruto kini memperlihatkan bagaimana membersihkan ikan dan menusukkan pada kayu untuk dibakar. Hinata hanya diam memperhatikan celoteh senang anak-anaknya yang sesekali ditanggapi oleh Naruto. Hinata mengeratkan pegangannya pada cangkir teh yang ia genggam. Ia ingin sekali mengatakan bahwa Naruto adalah ayah mereka. Tapi ketakutan menguasai Hinata sehingga lidah Hinata terasa kelu. Melihat kebersamaan Naruto dan anak-anaknya membuat Hinata tau bahwa selama ini anak- anak mereka membutuhkan figur seorang ayah.

"Ini yang besal buat kaa-chan..." kata Arata semangat, "eh...kaa-chan...banyak digigit nyamuk..."lanjut Arata melihat bekas merah-merah di daerah leher sampai belahan dada ibunya.

"Eh...benarkah?" tanya Hinata heran, ia tak merasakan gigitan nyamuk sama sekali. Ia tidur sangat nyenyak tadi malam.

Hinata tak menyadari raut muka Naruto yang memucat. Tadi malam niat Naruto memang hanya mencium sekali, namun entah kenapa ia sangat sulit berhenti jadi 'terpaksa' semua bagian terbuka ia kecup. Ia tak tahu bahwa kecupannya meninggalkan bekas karena tadi malam gelap. Jika Arata tak mengatakannya Naruto juga tak akan menyadarinya.

"Sini kaa-chan lihat...kalian juga digigit tidak?" Hinata malah sibuk memeriksa Arata dan Kanata. Ia tidak mau anaknya yang imut-imut juga merah-merah digigit nyamuk. Hinata mengerutkan keningnya melihat anaknya baik-baik saja. Bukannya ia tidak senang, ia Cuma heran kenapa hanya dirinya yang digigit.

"Paman naluto digigit nggak?" tanya Arata. Mendengar itu Naruto serba salah.

"Um...kayaknya nggak..." kata Naruto sambil mati-matian mengontrol rasa hangat yang menjalar dipipinya.

"Mungkin nyamuknya Cuma doyan pelempuan kaa-chan" kata Arata nyengir sambil menyodorkan ikan yang sangat besar untuk Hinata makan. Sementara Naruto pura-pura sibuk membolak-balikkan ikan dan mengecek kematangan ikan untuk menyebunyikan wajahnya yang memerah.

####

Hinata sudah menggosokkan minyak untuk menghilangkan bekas gigitan serangga beberapa kali tapi merah-merah di leher hinta sama sekali tidak bisa hilang. Hinata mendengar pintu kamarnya diketuk.

"Hinata sama mau menu apa untuk makan siang?" tanya bibi ginko setelah Hinata mempersilakan masuk.

"Kanata ingin ramen bi...nanti biar Hinata masak sendiri" kata Hinata sambil terus mengoleskan minyak banyak-banyak, "Ugh...kenapa susah sekali sih.." Hinata menggerutu putus asa.

"Um...lebih baik pakai concealer saja Hinata sama..."kata bibi ginko sambil tersenyum, "sepertinya tadi malam Naruto-sama semangat sekali...pasti malam yang indah..." lanjutnya sambil tersenyum menggoda.

"Eh...um...begitulah" jawab Hinata sekenanya, kebingungan. Ia tak yakin harus menanggapi ucapan bibi ginko yang tidak nyambung menurutnya.

Hinata pun kembali sibuk didapur, ia membuat adonan ramen di campur dengan beberapa sayuran yang dihaluskan. Kanata memang membenci sayuran jadi Hinata harus pintar mengakali agar sayuran bisa masuk kedalam mulutnya. Hinata memilih beberapa sayuran berwarna-warni sehingga warna mie nya juga berwarna-warni.

Beberapa kali Hinata bertemu pelayan dan anggota klan yang lain tersenyum aneh padanya. Hinata mengabaikan mereka. Itu pasti karena mereka ahu bahwa Hinata sudah menghabiskan malam bersama anak-anak dan Naruto dipinggir pantai. Pasti gosip sudah menyebar kemana-mana.

####

Hinata tersenyum melihat kedua buah hatinya makan dengan lahap.

"Bagaimana? Ramen buatan kaa-chan enak?" tanya Hinata penasaran. Biasanya ia hanya menambahkan sayur-sayuran hijau seperti sawi dan bayam. Namun kali ini ia mencoba wortel dan tomat sebagai campuran adonan.

"Enaaaaaak kaa-chan...lamen kaa-chan memang paling enak..." kata Kanata semangat.

"Enak mana dengan lamen di Konoha paman?" tanya Arata.

"Enak ramen buatan kaa-chan kalian dong..." kata Naruto. Ia memang tidak bohong. Ramen warna-warni buatan Hinata memang sangat lezat. Kuahnya kental dan rasa kaldunya sangat terasa. Hinata hanya mengernyit.

"Memang enak kok Hinata chan...aku tidak bohong..."kata Naruto meyakinkan raut wajah Hinata yang sepertinya kurang percaya dengan pujiannya.

"Boleh tambah...?masih banyak kan?" tanya Naruto malu-malu sambil mengcungkan mangkoknya.

"Kanata juga tambah kaa-chan" kata Kanata semangat.

Hinata hanya tersenyum dan mengisi kembali mangkok ayah dan anak itu penuh-penuh.

"Habis ini kalian belajar sebentar lalu tidur siang ya..." kata Hinata lembut.

Arata dan Kanata cemberut mendengar kata-kata Hinata.

"Alata mau latian lempal kunai lagi kaa-chan.." rajuk Arata.

"Kanata juga..."Kanata ikut merajuk.

Hinata hanya menghela nafas melihat kedua anaknya.

"Tidak boleh...pokoknya habis ini kalian kerjakan PR lalu tidur siang..." kata Hinata tegas. Arata dan Kanata memandang Naruto meminta bantuan. Mereka yakin paman Naruto mereka tersayang bisa membantu membujuk ibu mereka. Naruto menjadi kasihan.

"Hinata...ini kan hari libur...jadi.." Naruto tak melanjutkan kata-katanya ketika melihat tatapan tajam Hinata.

"Hari libur bukan berarti mereka bisa semaunya hokage sama" kata Hinata sengit. Hinata tahu Naruto menyayangi kedua putra mereka, namun Hinata tak akan membiarkan mereka berdua jadi anak yang manja dan berbuat semaunya.

Naruto menghela nafas. ia melihat kedua putranya tertunduk pasrah.

"Sudah...turuti saja perkataan kaa-chan oke? Minggu depan kan paman kesini lagi...nanti paman ajari lagi hm?" bujuk Naruto. Kedua putranya masih cemberut. "Kalau kalian jadi anak baik dan selalu menurut sama kaa-chan, nanti paman kirim hadiah lagi gimana?" bujuk Naruto lagi. Hinata sudah membuka mulut untuk protes agar Naruto tidak terlalu memanjakan kedua putra mereka. Namun Naruto menatap Hinata dengan tatapan memohon.

"Benal paman?" tanya Arata semangat.

"Tentu saja"

"Kanata mau mainan yang banyak paman"

"Oke..tenang saja...serahkan semua pada paman naluto " kata Naruto jenaka.

Hinata kembali menghela nafas panjang. Biarlah...sekali-kali Arata dan Kanata dimanja, sejak kecil mereka hanya memandang iri jika teman mereka di beri mainan oleh ayahnya.

Setelah Naruto berjanji Hinata bisa kembali melihat sikembar makan dengan lahap. Mereka berebutan mencuci tangan dan kaki untuk siap-siap masuk kamar dan mengerjakan PR".

"Um...Hinata...bolehkah aku menemani mereka mengerjakan PR?" tanya Naruto takut-takut.

Hinata agak terkejut mendengar pertanyaan Naruto. Sepertinya Naruto sekarang berhati-hati menjaga perasaannya.

"Tentu saja hokage sama, mereka juga putra anda.."jawab Hinata datar.

"Um...jika aku ingin menemani mereka tidur siang apa kau juga tak keberatan..." tanya Naruto takut-takut.

"Ya...tak masalah..." kata Hinata sambil tersenyum. Aneh rasanya melihat Naruto yang biasanya bersikap cuek dan semaunya sendiri seperti ini.

Hinata dan Naruto berusaha kompak menemani anak mereka mengerjakan PR. Hinata harus menahan tawa ketika Naruto mengajari Kanata membaca. Bukannya jadi bisa membaca, Kanata malah semakin bingung karena kata-kata yang digunakan Naruto sulit maknanya dan cara membacanya. Akhirnya Hinata menyuruh Naruto mengajari Arata yang memang sudah jago berhitung dan membaca. Hinata bisa melihat Naruto sangat menikmati mengajari Arata membaca tentang petualangan detektif.

Setelah mereka selesai mengerjakan PR Hinata meninggalkan Naruto untuk tidur siang bersama Arata dan Kanata. Bukannya tidur siang mereka bertiga malah bermain shinobi-shinobian ketika Hinata mengecek. Dengan sedikit omelan mereka bertiga pun tidur dengan lelap sampai sore. Hinata hanya geleng-gelang kepala. Ia merasa jadi punya anak 3 bukannya 2.

###

Naruto melongo ketika resepsionis menolak bayaran ia menginap ketika ia akan pulang ke Konoha.

"Mana bisa seperti itu...ini kan hotel...saya pesan kamar jadi saya harus bayar..." kata Naruto bersikeras.

"Tidak perlu hokage sama...lagipula kamar anda tidak ditempati... Hinata sama sudah memerintahkan untuk menolak bayaran dari anda, tolong hokage sama...minggu kemarin kami sudah dimarahi habis-habisan" kata sang resepsionis memelas.

"Tapi..." Naruto bingung mau mengatakan apalagi. Ia memang tidak menggunakan kamar itu untuk tidur. Tapi tetap saja tidak enak rasanya jika tidak membayar.

"Hokage sama..."

Naruto menoleh ketika suara Hinata memanggilnya. Hinata menggamit tangan Naruto dan mengajaknya kesamping penginapan yang sepi.

"Ini makanan..bagian atas hanya perlu digoreng sebentar bagian bawah hanya perlu dikukus. Besok pasti anda kelelahan jadi pasti malas membuat sarapan. Pagi-pagi ichiraku belum buka jadi..." kata-kata Hinata menggantung. Awalnya Hinata masa bodoh dengan Naruto. Naruto mau makan atau mati kelaparan itu bukan urusannya. Namun melihat Naruto begitu perhatian pada buah hatinya dan sudah berusaha membuat mereka bahagia Hinata mau tak mau jadi peduli sedikit.

"Eh...kau jangan repot-repot Hinata...kau kan pasti lelah setiap hari mengurus restoran dan hotel..." kata Naruto menolak.

"Ini sudah terlanjur saya masakkan hokage sama" kata Hinata bersikeras, "Oh...mungkin Sakura san akan memasakkanmu ya...um...kalo begitu um...mungkin besok untuk sarapan si kembar saja..." kata Hinata ragu.

"Eh...jangan..." kata Naruto sambil menahan tangan Hinata yang sedang memegangi bento. "um...setiap pagi aku menyuruh sekertarisku membeli onigiri untuk sarapan..." kata Naruto.

"Oh..." Hinata bingung mau menjawab apa. Suasana jadi sedikit kaku.

"Aku dan Sakura tidak punya hubungan khusus..." kata Naruto ragu-ragu. Entah kenapa Naruto merasa Hinata perlu tahu akan hal itu. Hinata hanya diam masih bingung mau menanggapi apa.

"Jika Ino mengatakan bahwa aku dan Sakura adalah kekasih...itu tidak benar...kami Cuma sahabat" kata Naruto lagi.

"Anda tak perlu menjelaskannya pada saya hokage sama.." kata Hinata sambil tersenyum.

"Aku merasa kau perlu tahu...apalagi gosip itu muncul gara-gara adikmu" sungut Naruto. Hinata hanya mengangkat alisnya.

"Kau tahu kan Sasuke tergila-gila dengan adikmu?" tanya Naruto, Hinata mengangguk mengiyakan.

"Setiap kali team tujuh berjanji untuk bertemu Sasuke tiba-tiba ada acara, membuat takoyaki dengan Hanabi lah, latihan taijutsu dengan Hanabi lah, Hanabi beginilah... Hanabi begitulah...pokoknya apa-apa Hanabi. Jadi terpaksa aku selalu pergi dengan Sakura chan, mau pergi dengan siapa lagi...daripada si kantor hokage melihat dokumen membuatku mual." Naruto berkata panjang lebar sambil memperhatikan raut muka Hinata. Naruto tak dapat menyembunyikan rasa senangnya ketika melihat Hinata tersenyum penuh pengertian.

"Saya mengerti hokage sama...sekarang sepertinya anda harus pulang anda nanti tidak sempat isirahat jika disini terlalu lama" kata Hinata lembut.

"Tapi aku belum membayar..." protes Naruto

"Anda sudah menemani Arata dan Kanata, anda juga tak meminta imbalan" saut Hinata.

"Itu karena keinginanku...aku ayah mereka...sudah semestinya aku memperhatikan mereka." Sahut Naruto tak ingin kalah.

"Anda sudah capek-capek kesini untuk mengunjungi mereka...sudah semestinya saya memberikan tempat yang layak hokage sama..." Hinata menatap Naruto dengan tatapan memohon. Melihat tatapan mata Hinata Naruto pun tak kuasa menolak permintaan Hinata.

"Baiklah aku pulang dulu" kata Naruto. Secepat kilat Naruto mencium pipi Hinata kemudian hilang dengan hiraishinnya.

Hinata hanya diam terpaku. Setengah Sadar dengan apa yang baru saja Naruto lakukan.

####

Satu bulan kemudian

Naruto setengah mendengarkan laporan misi yang diberikan Kiba. Dia benar-benar merasa ngantuk. Setelah kunjungan kedua Naruto ke Roppan setiap minggu kini Naruto selalu pergi ke Roppan. Ketika ada teman yang bertanya kemana ia pergi setiap minggu Naruto hanya mengatakan ia pergi berlatih, ia tidak bohong ia memang pergi berlatih melempar kunai degan kedua putranya.

Sakura beberapa kali memaksa ikut latihan. Tapi Naruto selalu beralasan ia ingin kosentrasi latihan sendiri. Semakin hari tingkah Sakura semakin aneh pada Naruto. Sakura lebih sering muncul di kantornya walaupun ia tidak ada keperluan. Sakura bilang ia bosan di rumah sakit dan ingin mencari suasana segar. Naruto hanya mengerutkan keningnya, bisa dibilang tidak ada suasana segar di kantor hokagenya.

Naruto juga merasa Sakura sekarang sangat jarang membicarakan Sasuke. Padahal dulu hampir setiap bertemu selalu saja Sasuke yang jadi pokok bahasan. Naruto sampai bosan mendengarnya.

Setelah kiba dan timnya keluar dari ruangannya Naruto kembali melamunkan apa yang akhir-akhir ini jadi pikirannya. Ia senang setelah beberapa kali datang ke Roppan Arata dan Kanata makin akrab dengannya. Hinata juga sudah tak sedingin dulu, memang Hinata masih menjaga jarak, tapi Naruto bisa memaklumi karena ia pernah menyakiti Hinata.

"Ada apa kau memanggilku?" tanya Sasuke datar. Naruto yang sedang melamun terlonjak seketika.

"Kau mau membunuhku ya...jangan muncul tiba-tiba seperti itu...aku bisa jantungan tahu" kata Naruto galak.

"Aku sudah mengetuk pintu berkali-kali..kau saja yang tidak sadar"kata Sasuke sambil duduk di sofa yang ada di ruangan hokage. Naruto pun beranjak dari kursi kebesarannya dan ikut duduk di sofa berhadap-hadapan dengan Sasuke.

"Aku perlu pendapatmu..." kata Naruto lesu. Sasuke mengernyit.

"Kau kan punya shikamaru, aku tidak dibayar sebagai penasihat hokage" jawab Sasuke malas.

"Ini soal Hinata..." kata Naruto ragu-ragu. Raut muka Sasuke yang tadi ogah-ogahan langsung berubah jadi serius.

"Um...aku..um...itu...um...Hinata...maksudku..." Naruto malah salah tingkah, Sasuke malah heran melihat tingkah sahabatnya itu. Sasuke mengerutkan kening tanda tak mengerti apa yang Naruto katakan. Naruto memandang Sasuke sejenak lalu menghembuskan nafas pelan.

"AkumemimpikanHinatasetiapmalam" kata Naruto cepat cepat.

"Apa?" tanya Sasuke heran.

"Aku memimpikan Hinata setiap malam, bukan mimpi sebagai teman...kau tahu mimpi yang itu...aku tidak bisa tidur tenang Sasuke...aku harus mandi air dingin entah berapa kali dalam semalam...kadang aku harus berendam air dingin selama beberapa jam...kau harus menolongku Sasuke..." kata Naruto memohon.

Sasuke hanya ternganga. Bingung mau mengatakan apa.

"Bagaimana bisa aku menolongmu?" tanya Sasuke heran.

"Kau bisa melakukannya?" sungut Naruto.

"Melakukan apa?" tanya Sasuke heran. Lama-lama sahabatnya ini suka ngelantur. Memang Naruto kelihatan seperti orang beberapa hari tidak tidur, jadi mungkin saja otaknya ada yang salah.

"Kau hidup seperti biasa...kau bisa tidur nyenyak, tidak membayangkan hal yang tidak pantas pada tunanganmu...ajari aku bagaimana caranya?" tanya Naruto memelas.

Sasuke garuk-garuk kepala. Kadang ia juga memimpikan Hanabi. Tapi tidak separah Naruto yang harus berendam air dingin atau mandi air dingin berkali-kali.

"Sibukkan saja dirimu...Kalau sudah lelah baru istirahat...pasti langsung tidur" usul Sasuke. Naruto malah mendelik.

"Kau pikir aku tak melakukannya?aku sudah mengurus dokumen sampai mual, tetap saja kadang aku tiba-tiba membayangkan Hinata, jika aku tidur aku memimpikan Hinata." kata Naruto kesal.

"Kalau sudah parah ya nikmati saja..." jawab Sasuke setelah mereka terdiam cukup lama. Naruto melototkan matanya galak.

"Kenapa malah melihatku seperti itu? Habis mau bagaimana lagi?" kata Sasuke melihat ekspresi muka Naruto.

"Aku memintamu membantuku...bagaimana kau mengendalikan diri terhadap Hanabi?" tanya Naruto menyelidik. Naruto bisa melihat rona merah dipipi Sasuke.

"Sudah kubilang..aku menyibukkan diri...kalau aku kecapekan aku akan tidur pulas...kenapa memangnya jika kau menikmatinya...kau merasa bersalah pada Sakura?" tanya Sasuke dengan muka sedatar mungkin.

"Apa hubungannya Sakura dengan semua ini, aku menginginkan wanita manapun bukan urusannya." Kata Naruto sewot, "lagipula sejak kapan kau ikut-ikutan menggosip seperti perempuan seperti ini" lanjut Naruto.

"Gosipnya sudah menyebar kemana-mana tahu...Kalau kau tak ingin digosipkan jangan terlalu sering pergi berdua" kata Sasuke menasehati.

"Itu salahmu...sekarang keman-mana kau pergi dengan tunanganmu itu...aku sudah sering pergi berdua dengan Sakura sejak dulu...tapi dulu kami tidak digosipkan" sahut Naruto gemas.

"Dulu kau bukan siapa-siapa, berbeda dengan sekarang, semua gerak-gerikmu akan diawasi, apalagi penggemarmu sekarang banyak." Kata Sasuke santai.

"Masa bodoh dengan gosip...aku sedang menghadapi masalah yang lebih mendesak" kata Naruto.

"Paling tidak kau tidak kehilangan kendali saat bersama Hinata..." kata Sasuke menghibur. Sasuke tersentak melihat wajah bersalah Naruto yang meringis.

"Astaga...kau kehilangan kendali saat bersama Hinata? katakan paling tidak kau tidak melakukannya didepan Arata dan Kanata" lanjut Sasuke kaget.

"Tentu saja...aku melakukannya saat hinata tidur, awalnya aku Cuma menciumnya sekali" kata Naruto pelan dengan nada 'aku tahu itu salah'.

"Awalnya?" tanya Sasuke sambil mengerutkan kening.

"Sejak saat itu setiap aku ke Roppan saat ada kesempatan aku selalu mencium Hinata. saat pertemuan kedua aku meninggalkan bekas pada lehernya, untung Hinata mengira itu bekas gigitan nyamuk. Sejak itu aku hati-hati...jika memang meninggalkan bekas kupastikan bekasnya ada di bagian tubuh yang tidak terlihat. Sepertinya beberapa orang hyuga tahu itu bekas apa" terang Naruto dengan muka rasa bersalah. Sasuke hanya tenganga mendengar penjelasan sahabatnya.

"Wow kau berani sekali.." kata Sasuke antara campuran kagum dan kasihan.

"Mau bagaimana lagi...saat aku melihat Hinata tidur beberapa saat kemusian tanpa kusadari aku sudah.."

"Stop! Dengar aku tak mau tahu kau melakukan apa atau kau menciumnya dibagian mana oke..." kata Sasuke cepat-cepat memotong kata-kata Naruto.

"Lalu aku harus bagaimana teme?" kata Naruto memohon.

"Kau...mencintai Hinata?" tanya Sasuke ragu-ragu.

"Ap...tentu saja tidak?" bantah Naruto keras kepala.

"Kenapa tidak...aku tahu suasana hatimu selalu baik setelah kau 'tamasya' " lanjut Sasuke menekankan kata tamasya.

"Itu karena anak-anakku...Hinata adalah wanita yang baik tentu saja tapi aku tak mencintainya..." kata Naruto masih keras kepala.

"Kau memimpikannya setiap malam, membayangkannya setiap saat, apa kau sadar?" kata Sasuke keras.

"Itu wajar...kau belum pernah melihat tubuh Hinata...aku masih normal kau tahu..." kata Naruto membela diri.

"Hhh...terserah kau saja lah...aku Cuma bisa memberikan saran buat capek tubuhmu secapek-capeknya, mungkin kau akan tidur nyenyak. " kata Sasuke sambil beranjak dari duduknya.

"Hei kau mau kemana...aku belum selesai bicara" kata Naruto sebal melihat sahabatnya beranjak pergi.

"Aku ada janji dengan Hanabi mau mengajari genjutsu..." kata Sasuke sambil lalu.

"Tapi.."

"Dengar... besok kau akan ke Roppan...lebih baik kau segera memikirkan semuanya...apa benar kau hanya menginginkan anak-anakmu?, apa benar kau tidak punya perasaan khusus pada Hinata? kau dekat dan mengejar-ngejar Sakura selama beberapa tahun, tapi aku tak pernah melihat kau sampai tidak bisa tidur seperti ini. Jadi pikirkanlah semuanya, kau tahu paman Hiashi mengirimi Hinata surat setiap minggu menyuruh Hinata pulang. Tidak mungkin selamanya Hinata tinggal di Roppan. Hinata juga shinobi Konoha, sudah saat ia mengambil misi selayaknya shinobi yang lain. Pikirkan juga tentang kedua putramu, apa yang akan kalian lakukan terhadap kau akan mengajak mereka tinggal di Konoha atau akan kau tinggalkan di Roppan. Bicarakan dengan Hinata. Hinata tak akan bicara terlebih dahulu padamu. Ia cenderung menyimpan semua masalahnya sendiri. Dan kurasa masalah ini terlalu besar untuk Hinata hadapi sendirian." Kata Sasuke panjang lebar.

Naruto hanya terdiam mendengar penjelasan Sasuke. Sasuke benar, sudah saatnya Naruto bicara tentang masa depan kedua buah hati mereka.

.

.

.

Tadaaaaaa chapter 17...

Btw gw udah bilang dari dulu jalan crita yang gw buat tuh lambat...jadi ya buat yang bisa menikmati cerita gw silahkan baca...buat yang gak bisa menikmati karena crita gw terlalu kayak sinetron ya udah...gak usah baca...toh gw gak pernah maksa kok...

Terus terang gw gak bisa bayangin naruto ma hinata mesra-mesraan secepat itu. Chapter kemaren tuh baru pertemuan kedua hinata ma naruto setelah terpisah sekian tahun. Bayangin deh buat yang perempuan. Kalo lo pada jadi hinata...di hamili terus lo terpaksa ninggalin keluarga and membesarkan anak-anak lo sendirian, lo mau mesra-mesraan sama cowok yang ngehamilin lo padahal ketemu aja baru dua kali? Gw sih ogah bgt

Bwt yang teriak- teriak update ni udah gw update...

Makasih buat yang udah review ya...saran dan kritik kalian selalu gw nantikan...

Jangan lupa review... ^_^