Chapter 18

Hinata membelai kepala anak-anaknya sayang. Ia tak menyangka tidak mempunyai sesosok laki-laki benar-benar berpegaruh dalam kehidupan anak-anaknya. Ia pikir ia dan anak-anaknya akan baik-baik saja, toh Hinata sendiri punya ayah, tetapi tidak merasakan kasih sayang seorang ayah dan dia tetap baik-baik saja.

Flashback 3 hari lalu.

"Hinata sama...Hinata sama..."

Hinata yang sedang memberikan arahan pada koki restourant, menengok kearah sumber suara. Ia melihat bibi Ginko tergopoh-gopoh mendatanginya.

"Ada apa bi?" tanya Hinata sambil tersenyum. Bibi Ginko memang mudah sekali panik. Kadang ia berkaca-kaca hanya karena restorant kekurangan telur atau kehabisan terigu.

"Tuan muda Arata...tuan muda Kanata hah..hah..." kata bibi Ginko sambil tersengal sengal karena berlari-lari. Hinata hanya menghela nafas. anaknya memang sering membuat onar dengan teman-temannya. Hinata sempat khawatir, karena anaknya jarang bermain dengan anak lainnya. Arata dan Kanata lebih sering bermain berdua. Terkadang jika Hinata bertanya kenapa tidak main dengan teman yang lain, mereka hanya bilang teman yang lain tidak asik.

"Ada apa bi?" tanya Hinata setelah bibi Ginko meneguk air yang disodorkan Hinata.

"Guru dari akademi datang...katanya tuan muda berkelahi " kata bibi Ginko. Hinata masih mendengar nada panik dalam suara bibi Ginko. Hinata tahu bibi Ginko sangat memanjakan Arata dan Kanata. Bibi Ginko memang pembela sejati Arata dan Kanata. Bahkan jika mereka berdua yang salah, ketika Hinata menghukum mereka maka bibi Ginko entah bagaimana caranya akan membantu mereka.

"Biar Hinata yang ke akademi bi...Hinata yakin bukan masalah gawat...mungkin Kanata memasukkan kodok ke tas teman atau mengoleskan lem ke tempat duduk temannya" kata Hinata menenangkan.

"Tapi biasanya tidak sampai mengirimkan guru dari akademi kesini..." kata bibi Ginko masih panik.

"Mungkin kali ini Kanata memasukkan kodok ke tas gurunya, bukan pada para murid hehehe" kata Hinata nyengir. Bibi Ginko melongo melihat nona mudanya malah senyum senyum mendengar putranya bermasalah.

Awalnya Hinata kesal dengan tingkah anak keduanya yang usil dan susah diatur. Tapi mengingat siapa ayah mereka, Hinata jadi bisa sedikit memaklumi. Biasanya Hinata akan menyuruh Kanata berdiri selama satu jam dengan dua buah ember di kedua tangannya. Hinata bersyukur paling tidak anak pertamanya merupakan anak jenius yang penurut. Entah apa yang akan Hinata lakukan jika sifat kedua anaknya semua mengikuti ayah mereka. Hinata pasti pusing dibuatnya.

Hinata melihat guru akademi menyambutnya dengan senyum masam di depan gerbang. Pasti ulah usil Kanata agak keterlaluan kali ini.

Guru itu mengantar Hinata keruangan kepala akademi. Dan dikantor kepala akademi Hinata disambut dengan delikan mata yang tajam darikepala akademi yang memang dari dulu membencinya. Hinata sempat mendengar cerita dari bibi Ginko kalau ada gosip yang mengatakan bahwa suami kepala akademi menaruh hati padanya.

"Apa ada yang bisa saya bantu Koto-san?" tanya Hinata sambil tersenyum. Koto san menghembuskan nafas beberapa kali, sepertinya ia berusaha mengendalikan amarah.

"Saya yakin anda tahu...seperti biasa...putra-putra anda membuat masalah" kata Koto sinis.

"Oh...kalau boleh tahu apa yang Kanata perbuat kali ini?" tanya Hinata tenang.

"Kanata?...saya tidak membicarakan Kanata...yang saya bicarakan disini adalah Arata" saut Koto sengit. Hinata terkejut. Arata adalah siswa teladan. Hobinya adalah membaca dan berlatih menjadi shinobi. Ia tak pernah berulah. Ia merupakan kakak yang baik bagi Kanata. ia selalu berpikir dulu sebelum bertindak. Jika Arata yang bermasalah tentu ada alasannya.

"APA ANDA TAHU BAHWA ANAK ANDA TELAH MEMUKULI ANAK SAYA SAMPAI BABAK BELUR?" teriak Koto berang. Hinata sampai berjengit mendengar suara Koto.

"Mungkin ini hanya salah paham Koto-san. Saya yakin semuanya bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Arata adalah anak yang baik. Dia tak pernah membuat masalah. Saya yakin jika Kanata membuat masalah pasti ada pemicunya" kata Hinata menenangkan. Bukannya tenang Koto malah makin berang.

"JADI MENURUT ANDA ANAK SAYA YANG SALAH?" teriak Koto lagi. Hinata melongo. Memang susah bicara dengan orang yang sedang emosi.

"Bukan begitu maksud saya.."bujuk Hinata putus asa.

"TERSERAH ANDA MAU BILANG APA HYUGA SAN, POKOKNYA SAYA SUDAH TIDAK SANGGUP MENERIMA KEDUA ANAK ANDA SEKOLAH DISINI" kata Koto masih sambil berteriak-teriak. Hinata bahkan bisa melihat urat-urat dikepalanya menonjol. Nafasnya terengah-engah karena berteriak-teriak.

"Sebaiknya kita bicarakan lagi ketika anda sudah tenang Koto-san" kata Hinata tenang. Hinata bisa melihat Koto menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan untuk menenangkan diri.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan Hyuga san, Keputusan kami sudah bulat. Setelah Arata menghajar anak saya kami segera mengadakan rapat. Kami tidak ingin ada anak yang luka-luka karena anak anda." Kata Koto yang kini sudah lebih tenang.

Hinata mematung. Kenapa mereka mudah sekali mengeluarkan Arata dan Kanata.

"Bukankah yang bermasalah Arata, kenapa anda juga mengeluarkan Kanata?kenapa tidak diselidiki dulu masalah ini. Saya yakin Arata tidak akan memukul temannya tanpa sebab" protes Hinata.

"Maaf Hyuga san...keputusan sudah bulat. Saya akan mengantar anda ke ruang kesehatan untuk membawa anak anda pulang." Kata Koto seraya berdiri.

Hinata berjalan mengikuti Koto dengan berbagai kecamuk di pikirannya. Arata yang ia kenal tak akan memukul orang lain seenaknya. Gara-gara perlakuan Naruto yang lari dari tanggung jawab, Hinata slalu mengajari anak-anaknya untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka lakukan. Kanata memang kadang-kadang masih suka membandel, tapi Arata adalah anak kecil paling bertanggungjawab yang pernah Hinata kenal.

Hinata menatap kedua putranya yang duduk sambil menundukkan kepala ketika ia masuk ke ruang kesehatan.

"Sayang..." panggil Hinata lembut seraya mendekati kedua buah hatinya. Kedua anak itu mendongak menatap ibunya. Hinata melihat bibir Arata sobek disebelah kanan dan pipinya lebam disebelah kiri.

"Sayang...kenapa pipinya hm?" tanya Hinata lembut sambil mengelus pipi putra tertuanya. Hinta bisa melihat mata Arata dan Kanata berkaca-kaca. Hinata merengkuh kedua anaknya sayang.

"Kaaa-chaaan...hiks hiks..." Arata dan Kanata menghambur kepelukan Hinata.

Hinata terpaku memeluk tubuh kedua anaknya yang bergetar menahan tangis. Sejak Naruto mengatakan jika laki-laki tidak boleh cengeng, kedua anaknya memang belum pernah menangis. Apapun yang terjadi pasti telah melukai hati kedua anaknya. Hinata akan mencari tahu apa yang membuat anak-anaknya sampai menangis terisak-isak begini.

#####

Hinata memandang anak-anaknya yang makan dalam diam. Bahkan Kanata makan sayur bayam tanpa protes. Hinata bisa melihat mata mereka bengkak karena menangis. Memang mereka masih menangis ketika Hinata menggendong sampai pulang. Mereka sampai tidak makan siang karena tertidur kelelahan menangis.

"Tidak mau nambah sayang..." tanya Hinata halus pada Kanata yang biasanya makan sampai 5 mangkok nasi.

"Nggak lapal" kata Kanata pelan masih sambil menunduk memainkan tempura disumpitnya.

"Kalau Arata mau nambah udang bakarnya? Enak lho...besar-besar lagi...tadi kaa-chan buat agak pedas" tawar Hinata pada Arata. Alangkah kecewanya Hinata ketika hanya dijawab dengan gelengan kepala.

Hinata menghembuskan nafas pelan. Ia harus bisa mengetahui kejadian sesungguhnya.

"Kaa-chan...Alata nggak mau cekolah lagi" rajuk Arata pelan. Hinata bisa melihat mata Arata kembali berkaca-kaca.

"Kanata juga kaa-chan...cekolah nggak acik..." seru Kanata tidak mau kalah.

Hinata menatap kedua buah hatinya sayang.

"Kenapa nggak mau sekolah sayang?" tanya Hinata lembut.

"Cekolah nggak acik kaa-chan" ulang Kanata. sementara Arata hanya diam.

"Kenapa nggak asik?" pancing Hinata.

"Acik belajal cama kaa-chan" saut Kanata tanpa dosa.

"eh...tapi kan disekolah kalian main sama teman-teman, kalau di rumah Cuma sama kaa-chan" Hinata mencoba beralasan.

"Nggak ada yang mau main cama kita..." kata Kanata merengut.

Tubuh Hinata membeku mendengar penuturan anak bungsunya.

"Okaa-chan...apa tou-chan seolang penjahat?" tanya Arata tiba-tiba membuyarkan pikiran Hinata.

"Hei...kata bibi Ginko jangan tanya coal tou-chan...nanti kaa-chan cakit lagi" teriak Kanata marah.

"Tidak apa-apa Kanata sayang..." kata Hinata mencoba menengahi pertengkaran kedua putranya. Sekarang Hinata melihat kedua putranya duduk sambil saling melirik tajam satu sama lain. Jika suasananya berbeda tentu Hinata akan tertawa melihat raut muka anak-anaknya yang lucu ketika marah, namun kali ini pertanyaan Arata benar-benar membuatnya kaget.

"Arata sayang...tou-chan kalian adalah orang yang baik" kata Hinata setelah sekian menit memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada anak-anaknya.

"Benal kaa-chan?" tanya Arata berbinar-binar.

"Kaa-chan jangan bohong" saut Arata sebelum Hinata bisa mengiyakan pertanyaan Kanata.

"Kata siapa kaa-chan bohong?..tou-chan kalian adalah orang yang baik" kata Hinata kembali meyakinkan.

"kalau tou-chan baik...kenapa nggak pelnah datang kecini?" sahut Arata keras kepala.

Hinata terdiam. Untuk pertanyaan ini Hinata harus memikirkan jawabannya matang-matang.

"Tou-chan...sibuk sayang" kata Hinata pelan.

"Touchannya souta juga cibuk kaa-chan, tapi tiap bulan pulang bawa mainan banyak?" tanya Kanata kini mendukung Arata.

"Touchan...um...um... ada ditempat yang jauh...jadi susah kesini..." kata Hinata kembali beralasan.

"Telus kenapa kaa-chan nangisy telus cakit pas alata tanya touchan dulu itu?" tanya Arata lagi.

"Itu...um..." Hinata memutar otak kembali.

"Touchan jahat cama kaa-chan kan? Makanya kaa-chan nangisy" kata Arata berapi-api. Hinata melihat mata kedua putranya kembali berkaca-kaca.

"Sayang...nanti kalau Arata sama Kanata sudah besar kaa-chan akan cerita. Kaa-chan janji" kata Hinata sembari tersenyum. Hinata bisa melihat raut kecewa pada wajah kedua anaknya. "sekarang kalian yang harus cerita ada apa tadi disekolah ?" lanjut Hinata hati-hati.

Kedua anaknya sepertinya enggan memberitahukan apa yang terjadi disekolah. Mereka hanya memainkan makan sambil saling melirik satu sama lain.

"sayang..." panggil Hinata membujuk.

"Maaf kaa-chan...alata mukul ken gara-gara dia nyebelin"kata Arata sambil melirik Hinata takut-takut.

"Nyebelin kenapa?"pancing Hinata.

"Kata ken... touchan kita penjahat kaa-chan" kata Kanata tiba-tiba. "Katanya ken... touchan kita olang yang nggak baik, makanya kita dibuang" lanjut Kanata marah dengan mata berkaca-kaca.

"Kata siapa kalian dibuang?" tanya Hinata terkejut.

"ken bilang ibunya yang bilang begitu" saut Arata. Hinata berusaha meredam kemarahannya. Ia tahu keluarga Koto, terutama anak dan ibunya, sangat tidak menyukainya. Tapi bukan berarti mereka harus bicara seenaknya pada anak-anaknya.

"Telus minggu becok kan hali ayah kaa-chan...kata ken kalo ayahnya penjahat nggak boleh macuk...hiks..."kata Kanata kini kembali menangis.

"Katanya anak buangan nggak ucah datang" kata Kanata sambil menusukkan sumpinya pada tempura.

"Telus katanya kaa-chan pelempuan jahat...kata ken... ibunya bilang kaa-chan nggak tahu touchan kita ciapa...soalnya laki-laki kaa-chan banyak...makcudnya apa kaa-chan...?tanya Kanata polos. Wajah Hinata kini merah menahan marah.

"kaa-chan kan olang baik jadi punya teman pelempuan cama laki-laki banyak...nggak kayak ibunya ken...nggak punya teman gala-gala galak" sahut Arata tak kalah polos.

"Ya sudah...kalian selesaikan makan dulu...besok kita bicarakan lagi ok...sudah...sudah...Kanata sayang jangan nangis."

####

End flashback

Sejak obrolan makan malam itu, Hinata mengajak anak-anaknya pergi berlibur ke gunung payan. Hinata berharap anak-anaknya akan lebih ceria ketika mereka pulang ke roppan nanti. Selain itu Hinata juga memutuskan untuk mengajari sendiri anak-anaknya dirumah, ia baru tahu jika anak-anaknya mengalami diskriminasi di akademi. Mereka bilang ketika pelajaran menggambar mereka selalu tidak kebagian kertas gambar, jika bermain puzzle mereka tidak kebagian puzzle, jika belajar membaca mereka sering dimarahi, bahkan kadang guru mereka sengaja mengajari cara membaca yang salah. Arata bukan masalah karena dia jenius tapi bagi Kanata tentu makin membingungkan karena ia belum lancar membaca. Ia masih susah membedakan huruf d dan b.

Hinata kembali melirik jam dinding diruangan yang ia sewa. Sudah malam memang. Tapi Hinata tak merasakan kantuk sedikitpun. Ia baru ingat bahwa seharusnya Naruto saat ini sudah sampai ke roppan. Ia sudah berpesan pada bibi Ginko untuk menyuruh Naruto istirahat dan pulang ke konoha keesokan harinya. Ia sedang tak ingin di ganggu. Ia ingin memikirkan kembali masa depannya beserta anak-anaknya. Ia tak munggkin erus-terusan membiarkan anak-anaknya menngalami diskriminasi karena lahir diluar nikah. Ia juga tak ingin dianggap sebagai perempuan rendahan yang hanya bisa memuaskan kaum laki-laki.

####

Badan Naruto bergetar. Sudah lama ia tak merasakan kemarahan , perasaan bersalah dan kecemasan bercampur seperti ini. Ia mengetuk pintu rumah yang brenomor 701 itu.

"Naruto-san " Hinata terkejut bukan main ketika melihat Naruto di depan pondokan yang ia sewa. Naruto masuk ke pondokan begitu saja tanpa dipersilakan.

"Bagaimana anak-anak? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Naruto sambil duduk mencopot sepatunya.

"Um...ya um...tidak apa-apa" kata Hinata ragu. Hinata bingung mau mengatakan apa.

"Dimana mereka?" tanya Naruto cemas. Hinata pun berjalan menunjukkan Naruto kamar mereka. Naruto segera duduk disamping futon tempat anak-anaknya tidur.

Naruto memandangi wajah polos anak-anaknya yang tertidur sambil membelai kepala mereka. Ia sempat terkejut tadi ketika sampai di penginapan lotus para pekerja Hyuga mengatakan bahwa Hinata dan anak-anaknya sedang pergi berlibur ke gunung. Naruto memastikannya dengan menanyakan langsung pada bibi Ginko yang Naruto tahu sangat dekat dengan Hinata.

Saat Naruto menanyakan kenapa mereka berlibur pada saat hari sekolah bibi Ginko menolak menatap matanya sambil bergumam kurang tahu. Seketika Naruto tahu ada yang salah. Naruto arus mati-matian mendesak bibi Ginko agar mau memberitahu semua yang terjadi. Akhirnya dengan beberapa desakan bibi Ginko pun luluh dan menceritakan semua yang terjadi. Hampir saja Naruto mengamuk di roppan. Ingin sekali ia mengamuk pada keluaga Koto yang seenaknya menyebutnya penjahat, menuduhnya membuang Arata dan Kanata dan mengeluarkan putranya seenaknya. Sayang sekali bibi Ginko menolak memberitahukan alamat keluarga Koto padanya. bibi Ginko hanya menyarankan untuk menyusul Hinata dan putra-putranya yang sedang berlibur.

"Kau baik-baik saja Hinata?" tanya Naruto yang kini melihat ke arah Hinata dengan raut muka cemas.

"Eh...um...ya...saya baik-baik saja Naruto-san" jawab Hinata sambil menunduk. Tiba-tiba Hinata bisa merasakan tangan Naruto membelai pipinya.

"Kau pucat sekali...apa kau sudah makan?" tanya Naruto lembut.

"Tadi sudah makan di restourant shushi Naruto-san...tenang saja" kata Hinata pelan sambil melepaskan tangan Naruto dari pipinya lembut.

Naruto menghela nafas lega.

"Um...kenapa Naruto-san bisa kemari?" tanya Hinata penasaran. Padahal ia sudah bilang pada bibi Ginko untuk merahasiakan ini dari Naruto, tapi sepertinya bibi Ginko tak mengindahkan perkataannya.

"Bibi Ginko menceritakan semuanya padaku" kata Naruto sambil memandang iba pada Hinata. Ia kembali menorehkan luka pada Hinata dan putra-putranya. "sepertinya kita harus membicarakan banyak hal" lanjut Naruto pelan. Walaupun Hinata mengatakan ia baik-baik saja, namun Naruto bisa melihat wajah Hinata benar-benar pucat.

"Sebaiknya besok saja Naruto-san...ini sudah malam...anda pasti lelah menempuh perjalanan dari konoha ke sini...lagipula ini sudah jam satu malam...anda butuh tenaga ekstra jika besok Arata dan Kanata mengajak anda bermain"kata Hinata pelan. Naruto hanya meghela nafas mendengar penolakan Hinata.

"baiklah...besok kita akan bicara...dimana aku akan tidur?" tanya Naruto

"Um...kebanyakan orang yang datang kemari untuk bulan madu...jadi...um...hanya ada satu kamar...sepertinya kita berempat harus berbagi tempat" kata Hinata ragu.

"Aku tak keberatan..."kata Naruto sambil mengangguk-angguk."Kau benar sudah makan? Wajahmu pucat sekali...apa perlu aku keluar mencarikan makanan?" tanya Naruto cemas. Hinata menggelengkan kepala kuat-kuat.

"Saya baik-baik saja hokage sama...um...disamping ruang makan ada kolam air panas terbuka...anda bisa mandi disana biar saya siapkan futonnya" tawar Hinata sambil tersenyum. Mau tidak mau Naruto keluar untuk mandi, meninggalkan Hinata yang sudah sibuk menyiapkan futon disamping anak-anaknya. Hinata pasti akan menjadi istri yang baik jika menikah nanti.

.

.

.

.

hi semua...chapter 18 dataaaaang...

makasih bwt reviewnya ya...buat yang minta update nih udah gw update...

btw ada yang tanya ni mpe chapter berapa, kapan naruto ma hinata bersatu, kapan anak-anaknya tahu naruto ayah mereka etc etc...jawabannya...gw jg gak tahu hehehe *ampun jangan pukulin gw*

kan gw dah pernah bilang ini fic untuk mengurangi suntuk and jalannya lambat jadi ya...gw blm tahu chapter berapa-berapanya soalnya kalo lg luang and mood baru gw ketik...

oh ya ni chapter kagak gw baca ulang jd ga ada editan...mohon maklum jika banyak typo

udah segitu aja...

jangan lupa review ok ^_^