Halooo ini pertama kalinya gw kasih catatan sebelum cerita...
Gw harap semua baca ya...
Gw baca review kemaren ada yang bilang fic gw bosenin lah...kaya sinetronlah...etc etc
Gw bilangin ya...YANG NGGAK SUKA NGGAK USAH BACA! GW NGGAK MAKSA KALIAN BUAT BACA FIC GW!
Bukannya gw ogah dikritik...komentar lo yang isinya Cuma ngomong fic gw ngebosenin tu bikin gw sewot sendiri. Gw welcome bgt dikasih kritik...tapi please mutu dikit dong kalo mw kasih kritik...misal nih... 'eyd parah' kan bisa gw perbaikin, 'point of viewnya bingungin' bisa gw perbaiki, 'cara ngegambarin tokoh salah' bisa gw perbaikin etc etc . Nah...kalo 'fic lo ngebosenin' trus gw musti ngapain?
Heran deh...kalian yang ngomong fic gw ngebosenin gw usulin bikin fic sendiri aja okeh!
Kagak usah ngeribetin fic org lain...
Sayang nggak semua login. Kadang kalo gw dapat kritikan nggak jelas gw liat profilenya. Mungkin aja kan seleranya beda dengan fic gw. Fic gw kan temanya romance sama FAMILY, so gw masukin unsur keluarganya dong...masa fic tema keluarga, anak-anaknya nggak boleh ditonjolin,emang kadang ada fic Family tapi isi tentang keluarganya dikit bgt dan bikin gw kecewa jadi gw bikin fic sendiri...
Apalagi dari sekian yang bilang bosen ada yang ternyata nggak punya fic...kecewa berat gw...jd keinget komentator bola indonesia. Belum pernah main bola pro bisanya Cuma ngomentarin. Coba deh kalian buat fic sendiri. Mungkin akan lebih menarik. Nggak usah ngribetin fic org lain. Kasihan adek-adek yang masih kecil yang masih belajar nulis biasanya jadi ogah nulis gara-gara kena kritik and lo komentarin(walaupun kritikannya nggak mutu)
So kalo kalian ada yang nggak suka ma fic gw silakan pergi, GET OUT NOW !
.
.
.
.
.
.
Chapter 19
Naruto membuka matanya pelan ketika merasakan tangannya ditarik-tarik. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk melihat sekeliling lebih jelas. Ia bisa melihat senyum jahil kedua anakya. Arata naik keperut Naruto sedangkan Kanata sedang menarik-narik tangannya seakan membuat segel suatu jutsu.
"Hei...shinobi-shinobi hebat sudah bangun rupanya..." kata Naruto tersenyum sambil menowel-nowel pipi bakpao kedua anaknya.
"kapan paman kecini?" tanya Arata semangat.
"Paman bawa mainan?" tanya Kanata tak kalah semangat.
"Hm...tadi malam, mainannya paman tinggal dirumah hehehe..." kata Naruto terkekeh. Naruto mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan.
"Dimana kaa-chan kalian?" tanya Naruto sambil menguap.
"Cedang buat calapan...katanya mau buat donbuli" kata Arata semangat.
"Kata kaa-chan tadi diculuh bangunin paman..." saut Kanata.
"Baiklah...ayo kita bantu kaa-chan" kata Naruto semangat. Naruto menggendong kedua anaknya dan berjalan dengan semangat menuju dapur. Naruto dapat melihat Hinata sedang menumis bumbu. Baunya benar-benar membuat air liur menetes.
"Eh...sudah bangun Naruto san?" tanya Hinata sambail tersenyum sopan.
"Yup...anak-anak manis ini membangunkanku tadi" kata Naruto sambil bersiap didepan meja. Hinata mengerutkan keningnya pada Naruto.
"Um...ada yang salah?" tanya Naruto heran. Hampir satu setengah bulan ia ke Roppan tiap minggu ia jadi lebih paham mengartikan raut muka Hinata.
"Anda harus gosok gigi dan mandi dulu sebelum sarapan hokage-sama" kata Hinata tegas, "Dan tolong ajak anak-anak juga..."lanjut Hinata lagi.
"Oh...baiklah...maaf soalnya mencium bau bumbu yang kau tumis aku jadi lupa diri hehe" kata Naruto salah tingkah.
"Ayo...mandi anak-anak..." ajak Naruto lantang. Naruto ternganga melihat mulut anaknya sudah belepotan saus udang goreng yang Hinata masak.
"Hehehehe lapal kaa-chan" kata Arata cengengesan.
"Buat enelgi kita mandi kaa-chan " tambah Kanata nyengir. Naruto dan Hinata hanya saling pandang. Naruto bisa melihat Hinata bersiap menceramahi mereka. Tiba-tiba tercium bau yang tidak enak.
"Aaaagh...gosong..." teriak Hinata panik sambil terburu-buru menengok bumbu yang ia goreng di penggorengan.
"Ayo...paman...celagi kaa-chan lengah..." bisik Arata.
Naruto pun di geret oleh kedua putranya kearah onsen dipinggir pondokan. Naruto masih mendengar Hinata menggumam 'ayah dan anak sama saja'. Ia hanya nyengir menanggapinya.
####
Naruto sedang menggosok shampo ke kepala Arata sedangkan Kanata sedang sibuk bermain dengan kapal-kapalan yang dibelikan Naruto beberapa minggu lalu. Ingin sekali Naruto menyinggung masalah disekolah mereka namun ia bingung mau mulai darimana.
"Apa liburan disini menyenangkan?" tanya Naruto.
"Mmmm...kita nggak pelu cekolah" kata Arata pelan.
"Memangnya disekolah teman-teman suka nakal ya?" pancing Naruto.
"nggak ada yang cuka cama kita" lanjut Arata pelan. Naruto menghentikan menggosok kepala Arata dan menghadapkan Arata padanya. Naruto bisa melihat raut muka kesedihan disana.
"Kenapa hm?" tanya Naruto
"Katanya kita anak buangan..." jawab Arata berkaca-kaca. Naruto terdiam. Seandainya saja Arata dan Kanata sudah agak besar, ia akan mengijinkan kedua anaknya untuk menghajarnya. Seandainya ia bisa minta maaf tentu ia akan minta maaf sekarang. tapi ia harus membicarakan langkah apa yang harus ditempuh pada Hinata sebelum ia melakukan sesuatu. Apapun keputusan yang akan Naruto dan Hinata ambil, Naruto akan memasikan bahwa kebahagiaan anak-anaknya beserta ibu mereka jadi prioritas utama.
"Paman kenal kaa-chan dari kecil kan?" tanya Arata membuyarkan lamunan Naruto.
"Ya...bukankah paman pernah cerita, ibu kalian imut-imut sekali waktu kecil?" kata Naruto sambil tersenyum.
"Apa paman kenal dengan tou-chan?" tanya Arata penasaran.
"Eh...oh...itu..." Naruto hanya membuka dan menutup mulutnya kebingungan melihat mata Arata mengarah padanya.
"Apa benal tou-chan gak cuka cama kita...?kita benelan di buang ya paman?" tanya Arata pelan sambil menundukkan kepala untuk menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Naruto terdiam sesaat.
"Hei...kata siapa kalian dibuang?...ayah kalian sangat sayang dengan kalian..."bujuk Naruto.
"Paman bohong...tou-chan gak cayang ma kita...tou-chan cudah lupa cama kaa-chan cama kita" kata Arata kini beberapa tetes air mata sudah jatuh. Mata Arata memerah karena menangis. Ia mengusap matanya kasar agar tidak ada air mata lagi yang jatuh.
"Paman akan bicara dengan kaa-chan kalian...paman janji kalian akan segera bertemu dengan tou-chan kalian oke?" bujuk Naruto berapi-api. Tak tega rasanya melihat anak pertamanya yang biasanya kalem sampai menangis seperti ini. Mendengar janji Naruto, Arata hanya mengangguk-angguk. Arata tahu bahwa Naruto belum pernah mengingkari janjinya. Namun ia yakin akan sulit bagi Naruto untuk mempertemukan ia dan saudaranya dengan ayah mereka.
"Paman gililan Kanata di kelamas kapan?" tanya Kanata sebal. Ia sudah bosan main sendiri menunggu giliran untuk digosok rambutnya oleh Naruto. Sebenarnya bisa saja Naruto menggunakan bunshin, namun kedua-duanya maunya dengan yang asli. Jadi ya terpaksa di gilir.
"Iya...ini Arata nii-chan sudah selesai...ayo sini..paman gosok...kata kaa-chan kalian tadi malam kalian tidak sempat mandi setelah main keliling-keliling" kata Naruto sambil tersenyum.
"Capek paman...kita cali selangga nggak dapat-dapat telus pas mau dapat eh... malah kaa-chan teliak-teliak takut, celangganya jadi kabul"kata Kanata cemberut.
"Hei...kaa-chan kalian perempuan...mereka itu takut dengan serangga, jadi kalau mau berburu serangga jangan mengajak kaa-chan" nasehat Naruto geli.
"Kaa-chan bilang kita nggak boleh pelgi mutel-mutel cendili" kata Arata sambil mencoba membilas kepalanya yang penuh shampo.
"Hu uh lencananya kita mau kabul nanti malam cali celangga lagi" sahut Kanata sambil berbisik. Takut jika ibu mereka mendengar. Naruto ternganga mendengar keusilan anaknya. Jika Hinata tahu pasti akan panik.
"Eh...tidak boleh...biar nanti malam kalian cari serangga dengan paman...mau?biar kaa-chan istirahat dirumah, bagaimana?"tawar Naruto semangat. mencari serangga bersama anak-anaknya tentu akan menjadi pengalaman baru untuknya.
Wajah Arata dan Kanata jadi cerah.
"Okeeeeeeeee"jawab mereka serentak.
#####
"Bagaimana?enak?" tanya Hinata semangat.
"Enaaaaaaaak" koor ayah dan anak kompak menjawab pertanyaan Hinata. Hinata hanya tersenyum sambil tersipu. Memang sering masakannya dipuji enak. Tapi jika yang memuji adalah orang-orang terdekat maka rasanya akan berlipat-lipat berharga.
"Kanata mau nambah kaa-chan" teriak Kanata semangat sambil mengacungkan mangkoknya semangat. Hinata hanya tersenyum senang melihat antusiasme Kanata. sudah beberapa hari sejak pristiwa di akademi Kanata kehilangan nafsu makan. Melihat Kanata semangat seperti ini hati Hinata sedikit tenang bahwa pristiwa di akademi tidak berpengaruh banyak pada psikologis anaknya.
"Aku juga tambah Hinata" kata Naruto. Awal mereka makan bersama setiap Naruto berkunjung ke Roppan, Naruto selalu malu-malu untuk minta tambah. Namun sekarang, hal itu sudah biasa. Hinata juga sudah tahu porsi makan Naruto. Jadi jika waktu Naruto berkunjung ia akan menyuruh pelayan belanja lebih banyak.
"Arata juga tambah?" tawar Hinata setelah melayani permintaan Naruto dan Kanata.
"Nggak...alata cudah kenyang" kata Arata sambil menatap Naruto dan Kanata ngeri. Arata heran bagaimana bisa orag makan donburi buatan ibunya masihmita tambah. Enak memang...tapi perut Arata sudah kenyang dengan satu donburi. Sementara Naruto dan Kanata kini sedang meminta donburi ketiga mereka ckckck perut mereka elastis sekali.
"Laki-laki haus makan banyak Arata sayang" kata Naruto sambil mengernyit melihat Arata hanya makan satu porsi.
"Alata cudah kenyang paman...cini kaachan...juz cetobellinya alata minum" kata Arata. Hinata hanya tersenyum. Daaerah pegunungan memang buah dan sayurannya sangat segar-segar. Hinata jadi kalap melihat begitu banyak buah dan sayur segar. Ia membuat berbagaimacam jus agar anak-anak tidak kekurangan vitamin.
"Ini untuk Kanata dan paman Naruto ya..." kata Hinata seraya menaruh jus srawberry dihadapa mereka masing-masing.
"Kaa-chan...nanti malam kita mau cali celangga lagi boleh?" kata Kanata semangat. wajah Hinata yang sudah pucat semakin memucat.
"Erm...kalo main dengan paman Naruto disini saja bagaimana? Nanti kaa-chan buatkan ramen" bujuk Hinata. biasanya dengan sogokan ramen, Kanata akan melakukan apa saja. Kanata hanya cemberut mendengar perkataan Hinata, sedangkan Naruto hanya tersenyum kecil melihat Hinata berusaha membujuk putra mereka.
"Biar aku yang menemani mereka Hinata" kata Naruto lembut. Hinata menghela nafas lega. Ia memang mempunyai teman yang bisa mengendalikan serangga, tetapi bukan berarti ia bisa berteman nbaik dengan serangga. Shino juga menjaga jarak jika ia menggunakan serangganya dalam menghadapi musuh. Lagipula serangga yang shino gunakan bukan serangga menjijikkan atau serangga yang membuatnya takut. Ia masih jantungan ketika melihat kedua putranya mau menangkap kecoa karena mengira itu jangkrik.
"Baiklah kalau begitu...tapi jangan terlalu memanjakan mereka Naruto-san" kata memperingatkan. Wajar Hinata berkata seperti itu. Sejak Naruto membelikan teropong bintang dulu itu, anak-anaknya selalu minta oleh-oleh jika Naruto pergi ke Roppan. Ketika Naruto jalan-jalan ke pasar bersama anak-anak mereka, apapun yang mereka minta Naruto langsung membelikannya tanpa memikirkan harganya. Naruto jugalah yang membela mereka jika mereka dihukum, ia beralasan Arata dan Kanata masih kecil jadi wajar berbuat onar, Hinata jadi kewalahan sendiri menghadapi anak-anaknya. Mereka jadi tak takut usil karena tahu selain bibi ginko ada paman Naruto yang siap membela mereka.
"Kaa-chan...becok jadi ke feytival lampion?" tanya Arata ingin tahu
"Jadi...tapi kita di festival lampion hanya sampai jam 9 malam...tidak lebih oke?" kata Hinata sambil tersenyum.
"Aciiiiik, Kanata mau makan permen kapas kaa-chan..."teriak Kanata semangat.
"Boleh...tapi nanti sebelum tidur jangan lupa gosok gigi" kata Hinata sambil tertawa melihat Kanata berjingkrak-jingkrak.
"Ada festival rupanya" kata Naruto pelan.
"Iya...festival lampion...biasanya orang-orang membeli lampion dan menuliskan harapannya pada lampion tu lalu menerbangkannya. Mereka percaya bahwa harapan yang dituliskan akan segera terkabul...selain itu disepanjang jalan ada aksi-aksi pertunjukan dan stand makanan" jelas Hinata panjang lebar.
"Oh..." kata Naruto sambil mengangguk-angguk.
"Sayang sekali Naruto san tidak bisa ikut" kata Hinata menyayangkan. Naruto biasanya memang datang ke Roppan sabtu malam dan minggu malam sudah harus pulang karena hari seninnya ia harus kembali bekerja.
"Paman nggak ucah kelja aja dulu" bujuk Kanata
"Kanata! jangan membujuk paman yang tidak-tidak" tegur Hinata. Kanata hanya cemberut.
"Tidak apa-apa Hinata..." kata Naruto sambil mengacak rambut anak bungsunya. "Kalau dipikir-pikir ide Kanata bagus juga..." lanjut Naruto nyengir. Hinata terbelalak kaget.
"Tidak boleh begitu Naruto san, anda sudah bercita-cita sebagai hokage...setelah anda jadi hokage , anda harus bisa mengemban tugas anda dengan baik" nasihat Hinata.
"Aku kan sudah bertahun-tahun sibuk jadi hokage...aku Cuma mau ikut festival beresama kalian" kata Naruto menggerutu.
"Iya kaa-chan...kacihan opaman naluto" bela Kanata.
"Lagi pula aku kan tidak sering membolos Hinata...hanya sekali ini kok" kata Naruto kembali cengengesan setelah dibela Kanata.
"Iya kaa-chan...Kanata juga mau main cama paman naluto..." kata Kanata tambah semangat. Hinata melirik Arata meminta dukungan, anak jeniusnya pasti bisa membantu membujuk duo ayah anak membandel, Arata malah sibuk membaca buku yang Naruto belikan minggu lalu.
"Aku berjanji akan langsung pulang keesokan harinya Hinata" kata Naruto kini memohon.
Hinata menghela nafas panjang.
"Baiklah..."kata Hinata mengalah. Terserahlah...toh yang jadi hokage bukan dirinya...kalau nanti Naruto diturunkan itu bukan salahnya.
"Oke...sekarang kalian sudah kenyang...kalian berdua main dulu ya sama bunshin paman, paman mau bicara dengan kaa-chan" kata Naruto sambil tersenyum. Naruto bisa melihat wajah terkejut Hinata.
"Kanata mau ikutan..." rengek Kanata.
"Nggak boleh...ini pembicaraan orang dewasa" kata Naruto sambil memberi sinyal untuk menggendong Arata dan Kanata dari ruangan.
Hinata masih bisa mendengar rengekan Kanata ketika Naruto menutup pintu ruang makan rapat.
"Pintu ini aku buka ya...panas..." kata Naruto sambil membuka pintu yang mengarah ke pemandian air panas di samping ruang makan.
Sejenak suasana hening. Mereka berdua duduk berhadapan dan sama-sama tidak tahu mau mulai bicara darimana.
"A..aku minta maaf..." akhirnya Naruto lah yang memecah keheningan. Hinata hanya mendongak menatap Naruto yang membungkukkan badannya.
"Semua memang salahku..."kata Naruto lirih
"Hokage sama..."
"Aku tidak menyangka keputusan bodohku lima tahun lalu berakibat seperti ini. aku tahu rasanya dikucilkan dan aku membuat anak-anak merasakan hal yang sama. Aku tahu kau pasti sangat membenciku, maafkan aku Hinata" Kata Naruto masih dengan menunduk.
"Naruto san...semua sudah terjadi...mengungkit-ungkitnya hanya akan membuka luka lama, sebaiknya kita pikirkan masa depan anak-anak" kata Hinata pelan.
"Aku tahu kau terluka Hinata maaf..." kata Naruto kembali meminta maaf.
"Sudah saya bilang Naruto san...tidak usah membuka luka lama..." kata Hinata lagi.
"Aku tak bisa..."kata Naruto sambil tersenyum pahit, "Aku selalu menyesali keputusanku terhadap kehamilanmu dulu...aku tak bisa...aku tak sanggup melihat kalian terus bersembunyi seperti ini" kata Naruto tersendat.
"Kami tidak bersembunyi Naruto san" kata Hinata pelan.
"Kau benar-benar gadis yang jujur ya...berbohong saja tidak bisa" canda Naruto sambil tersenyum. Naruto ingin Hinata tidak terlalu was-was dengannya.
"Saya bukan gadis lagi Naruto san" kata Hinata sambil memutar bola matanya. Naruto hanya tertawa kikuk lalu berdehem.
"Aku tadi sempat berbicara dengan Arata saat sedang mandi" kata Naruto serius. Raut muka Hinata pun jadi ikut serius. "Ia bertanya apa aku membuangnya" lanjut Naruto parau. Melihat raut muka susah Naruto Hinata jadi kasihan.
"saya sudah mengatakan bahwa ayah mereka sangat menyayangi mereka, tapi sepertinya hanya Kanata yang percaya" kata Hinata sedih.
"Arata memang bocah cerdas...Hinata aku ingin mengatakan sesuatu padamu...tapi kau harus berjanji tidak akan marah" pinta Naruto memelas. Hinata hanya mengerutkan kening penasaran.
"Sebenarnya...sebenarnya...aku berjanji akan mempertemukan Arata dengan ayahnya" kata Naruto takut-takut. Naruto makin menciut melihat Hinata terbelalak tak percaya.
"Kumohon mengertilah Hinata...aku benar-benar kasihan melihat anak manis, pendiam dan penurut seperti Arata menangis. Aku memang sering melihat Kanata menangis atau merengek tapi Arata hampir tidak pernah. Aku benar-benar panik. Tanpa sadar aku sudah berjanji akan mempertemukan Arata pada ayahnya" kata Naruto cepat-cepat. Mata Hinata kini berkaca-kaca. Ia menggigit bibirnya keras-keras. Ia bingung.
"Saya...tahu saya memang egois" bisik Hinata pelan, "Maaf" lanjutnya.
Naruto malah bingung mendengar permintaan maaf Hinata.
"Hinata...aku yang seharusnya minta maaf...aku tahu rasanya hidup tanpa seorang ayah tapi aku membiarkan anak-anakku hidup tanpa kasih sayang seorang ayah. Kau harus mengasuh mereka sendirian. Selain itu kau juga harus menanggung malu dan cemoohan karena hamil tanpa suami. Kau pasti sakit hati sekali dituduh sebagai wanita rendahan"kata Naruto memohon. Kini Hinata terisak menahan tangis. Naruto mengangsurkan minuman untuk menenangkan Hinata.
"Saya kira saya bisa membesarkan mereka dengan baik" kata Hinata pelan setelah isaknya mereda.
"Kau membesarkan mereka dengan baik Hinata...sangat baik malah...aku sangat beruntung karena anak-anakku mendapatkan ibu sepertimu" Kata Naruto lembut.
"Apa menurutmu aku juga akan melakukan sebaik denganmu sebagai ayah?" tanya Naruto ragu. Hinata tersenyum.
"Aku rasa Naruto-san sudah jadi ayah yang baik sekarang..." kata Hinata menatap Naruto dalam-dalam. Naruto hanya tersenyum melihat kesungguhan dimata Hinata.
"Mereka masih memanggilku paman..." kata Naruto sedih. Hinata memucat mendengar perkataan Naruto. "Eh...bukannya aku ingin dipanggil sebagai ayah atau apa...hehe sudah Hinata jangan dipikirkan hehehehe"kata Naruto kaku . ia panik. Takut Hinata berpikir ia adalah orang tak tahu untung. Naruto sudah meniggalkan Hinata saat susah, seharusnya ia bersyukur ketika Hinata mengizinkan Naruto dekat dengan anak-anak mereka, ini malah minta dipanggil ayah juga.
"Tidak...kurasa memang sudah saatnya Arata dan Kanata tahu siapa ayah mereka" kata Hinata pelan sambil menyeruput jus stroberi. Naruto terpaku mendengar kata-kata Hinata.
"Kau yakin?" tanya Naruto
"Ya..." jawab Hinata. Naruto menghela nafas panjang.
"Aku ingin jika kau mengijinkanku menjadi ayah bagi mereka kau benar-benar rela Hinata..." kata Naruto lembut.
"Memangnya saya tidak rela?" tanya Hinata dingin. Naruto menatapnya sedih.
"Tanganmu bergetar...kau ketakutan..." kata Naruto sambil menunjuk tangan Hinata yang memang gemetaran memegang gelas jusnya. Hinata segera melepaskan pegangannya pada gelas jus yang akhirnya malah tumpah mengenai baju yukata panjang yang ia pakai.
"Hinata..." Naruto segera bergegas menghampiri Hinata yang tengah membersihkan sisa tumpahan jus.
"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto ketika Hinata hampir limbung saat akan berdiri dari duduknya.
"Saya baik-baik saja hokage sama" kata Hinata pelan. Naruto terkejut ketika ia membantu Hinata berdiri ia bisa merasakan Hinata yang gemetar.
"Hinata?" tanya Naruto pelan. Hinata menghindari tatapan Naruto. Ia tak ingin Naruto tahu bahwa ia sedang menahan tangis.
"Hinata...kau tidak baik-baik saja...kau kenapa?" tanya Naruto kini cemas.
"Sudah saya bilang Naruto san...saya baik-baik saja...anda sebaiknya kekamar saja, mengatakan bahwa anda adalah ayah mereka...biar saya yang mencuci piring." Kata Hinata sambil membungkuk memunguti piring dan mangkok. Naruto yakin ada yang salah. Hinata sama sekali tidak mau memandangnya. Akhirnya dengan paksa Naruto menghadapkan Hinata padanya. Naruto kini bisa melihat mata Hinata memerah dan air mata sudah menetes di kedua buah pipinya. Hinata sesegera mungkin memalingkan wajahnya begitu ia berhadap-hadapan dengan Naruto.
"Aku mohon Hinata...kita harus membicarakan ini dengan terbuka...aku sudah berjanji keputusan kita ini akan mengutamakan kebahagiaanmu dan anak-anak, aku tak mau kau terluka hm?" bujuk Naruto sambil menghapus air mata Hinata lembut.
"Saya tidak apa-apa Naruto-san..." jawab Hinata menunduk. Naruto menghela nafas. jelas-jelas Hinata menangis kenapa masih bilang tidak apa-apa.
"Kalau kau tak rela aku diakui ayah oleh kedua anak kita...tak apa, kita masih bisa mencari solusi lain" kata Naruto berat. Hinata membelalakan matanya.
"JANGAN ! maksud saya...saya juga tidak tega melihat mereka diejek-ejek dan dikucilkan oleh teman-temannya" kata Hinata.
"kalau begitu katakan apa yang mengganjal pikiranmu Hinata...aku bukan ino yag bisa membaca pikiran" bujuk Naruto.
"Bagaimana jika anda menikah nanti?...apa...apa sakura-san akan menerima mereka?...bagaimana ...bagaimana...pembagian hak asuh mereka?" kata Hinata takut takut. Suaranya parau. Naruto terkejut, ia tak menyangka Hinata sampai memikirkan hal itu.
"Hinata...kau memikirkan hal-hal yang tak perlu...tugasku sebagai hokage sangat banyak, aku tak akan sanggup mengurus mereka yang suka sekali berlari kesana-kemari. Sudah kubilang aku senang kau adalah ibu mereka dan tidak ada hubungannya sakura dengan semua ini. aku belum ada rencana menikah" kata Naruto lembut sambil mengenggam erat kedua tangan Hinata.
"Untuk sekarang memang belum rencana menikah...tapi kedepannya saya yakin anda akan menikah Naruto san. Saya tidak mau terjadi perebutan hak asuh dikemudian hari. Anda adalah orang yang disegani di dunia shinobi, saya tidak yakin akan memenangkan pertaruangan hak asuh jika lawannya adalah anda" kata Hinata putus asa.
"Hinata...aku berjanji hal itu tak akan terjadi...kau dan anak-anak adalah prioritasku yang paling atas. Aku berjanji tidak ada yang lain. Bahkan sakura sekalipun. Sakura hanya sahabat, tidak kurang tidak lebih. Sudah sejak lama aku tidak menyukai sakura. baru setelah perang aku menyadarinya."kata Naruto pelan. Hinata terdiam cukup lama.
"Bisakah bisakah anda berjanji hokage sama" pinta Hinata sunguh-sungguh.
"Hm...apa?" tanya Naruto sambil tersenyum
"Tolong izinkan hanya saya yang dipanggil ibu oleh mereka, walaupun suatu saat anda menikah...saya meminta jangan mengizinkan wanita yang anda nikahi di panggil kaa-chan oleh Arata dan Kanata" kata Hinata sambil menunduk. Naruto hanya terdiam sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Saya tahu itu permintaan egois...saya Cuma..." kata Hinata ragu.
"Sudah kubilang...aku belum punya rencana untuk menikah...dan...aku juga meminta jika suatu saat kau menikah jangan sampai anak kita memanggil pria yang nikahi touchan oke?" kata Naruto. Hinata hanya mengangguk sambil tersenyum.
Naruto berpikir permintaan Hinata sama sekali bukan permintaan yang egois. Ia juga tidak rela ada pria lain yang dianggap ayah oleh kedua putranya.
"Baiklah...kurasa sekarang saatnya kita memberi kabar gembira pada dua monster kecil itu bahwa mereka akan bertemu dengan ayah mereka yang ganteng" kata Naruto semangat. ia merengkuh Hinata dan membantunya berjalan. Hinata kelihatan pucat sehingga Naruto takut Hinata akan ambruk jika dibiarkan jalan sendiri.
.
.
.
Tada...makasih mau baca fic gw dengan sukarela
Maap tadi diawal gw kasih peringatan...
Soalnya komentar macam itu bikin gw sewot sendiri...jadi keinget politikus2 yang ngomentarin kerja jokowi. Mereka bisanya Cuma komentar, jelek-jelekin kerja org padahal blm tentu mereka sendiri bisa kerja. (nah ...lho kok jadi jokowi?)
Ok lupakan jokowi...pokoknya makasih bwt yang udah review...
Semoga kalian-kalian yang pada punya fic...nggak sewot kayak gw hehehe
Gw tetep welcome sama kritik kok...tapi please kalo mw kritik mutu dikit...yang jelas gt...kalo Cuma mau bilang fic gw ngebosenin gw cuma bisa bilang ya...ngapain fic ngebosenin masih dibaca...mending lo cari fic lain yang nggak ngebosenin, daripada lo buang-buang waktu lo disini...ya nggak...
Ok sekian dulu...jangan lupa review... ^_^
Btw dulu ada yang izin pos di fb...please warning gw dicantumin ya...kali aja ada yang bosen ama fi gw masih memaksakan diri tetep baca...kasihan...barangkali kebosenan nanti...
