Chapter 20

Naruto dan Hinata saling berpandangan bingung ketika akan masuk pintu kamar.

"Naruto san masuk saja dulu" usul Hinata.

"Um...bagaimana kalau kau saja duluan Hinata" Kata Naruto ragu. Naruto memang sangat ingin di panggil touchan oleh kedua anaknya, namun entah mengapa ada rasa takut yang tiba-tiba menyusup. Apa kedua buah hatinya bisa menerimanya sebagai ayah? Apakah mereka akan membenci Naruto karena tidak pernah ada mendampingin mereka dimasa lalu?. ada perasaan ingin mundur saja, namun ia lebih tak tega melihat anak-anaknya diejek oleh teman-teman mereka.

Hinata masuk keruangan perlahan. Hinata bisa melihat anak-anaknya sedang bermain kuda-kudaan dengan bunshin Naruto. Hinata menghela nafas sesaat. Entah bagaimana caranya memberitahukan pada mereka bahwa Naruto adalah ayah mereka.

"Kaa-chan!" teriak Arata senang, Kanata turun dari punggung bunshin Naruto dan berlari memeluk Hinata. Arata pun tak mau kalah, i a juga berlari kearah Hinata tanpa melepas pedang-pedangan yang dibelikan Naruto berminggu-minggu yang lalu.

"Aghhhh akhirnya tugas kami sebagai baby sitter selesai..." kata bunshin Naruto sambil menepuk-nepuk punggungnya.

"Kau beri makan apa kedua troublemaker itu Hinata-chan" tanya bunshin yang lain sambil memegangi pinggangnya.

"Maaf merepotkan ya..."kata Hinata sambil tersenyum dan mengangguk sopan, berterimakasih karena bunshin itu telah menjaga kedua buah hatinya.

"Sudah kalian sudah tidak dibutuhkan...pergi sana" sungut Naruto pada kedua bunshinnya yang sok akrab pada Hinata. kedua bunshin yang tadinya cengar-cengir melihat Hinata sekarang mendelik pada Naruto. Sesaat kemusian mereka berdua pun menghilang meninggalkan kepulan asap tipis.

"Tadi main apa saja sayang?" tanya Hinata sambil membelai kedua anaknya yang sekarang tengah menggelendot manja di pangkuannya. Sedangkan Naruto hanya tersenyum simpul melihat kedua anaknya merebahkan kepala mereka di pangkuan Hinata sementara Hinata membelai kepala mereka sayang.

"Niichan kepalanya gecel cedikit...Kanata nggak kebagian..." kata Arata sambil menyundul kepala Arata.

"Aku juga Cuma cedikit...kamu yang gecel" kata Arata tidak mau kalah. Arata memang sangat mengalah pada adiknya, namun jika itu menyangkut dengan ibu mereka maka persaingan akan sangat sengit. Seperti sekarang ini, Arata dan Kanata tidak mau mengalah. Akhirnya mereka berdua saling menyundul di pangkuan Hinata. Hinata hanya geleng-geleng melihat tingkah anak-anaknya yang konyol.

"Hayo...kalian kan bisa bagi-bagi..." bujuk Naruto sambil menahan tawa.

"Niichan celakah paman...nggak mau gecel" kata Kanata bersugut-sungut sambil berusaha meggeser kepala Arata.

"Enak aja...Kanata yang nggak mau gecel..." kata Arata tak mau kalah juga menjedot-jedotkan kepalanya pada kepala Kanata.

Naruto bisa melihat tanda-tanda Hinata sudah mau mulai kesal. Kedua anakya memang imut, tapi jika sedang bertingkah mereka benar-bear melelahkan. Naruto pun menghela nafas panjang sebelum bertindak.

Dengan kecepatan yang tak disangka-sangka Naruto mendudukan Kanata dan Arata dihadapan Hinata, dengan amat sangat percaya dirinya ia merebahkan diri di pangkuan Hinata. Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. Sementara Naruto menghindari tatapan tak percaya Hinata dan malah memamerkan cengiran kemenangan pada kedua buah hatinya.

"Paman culaaaaang, ini kan macalah Kanata degan niichan" rajuk Kanata.

"Paman nggak boleh tidulan cama kaa-chan" protes Arata.

"Lho biar adil...daripada kalian bertengkar, terus nanti ada yang nangis kan mendingan paman saja yang tiduran di pangkuan kaa-chan kalian kan" kata Naruto masih sambil nyengir.

Hinata diam mendengarkan debat anatara kedua anaknya dengan ayah mereka yang sekarang masih tidur di pangkuannya. Hinata menggigit bibirnya gugup, Baru kali ini ia sedekat ini dengan seorang pria. Ia belum pernah memiliki kekasih sebelumnya. Dulu ketika masih di konoha, ia tidak bisa berkencan dengan pria lain karena masih mengharapkan cinta Naruto. Setelah pindah ke roppan, Hinata memang sudah tak mengharapkan cinta Naruto tapi sangat sulit menemukan laki-laki yang bersedia menjadi kekasihnya sementara ia sudah punya anak. Kebanyakan laki-laki yang mendekatinya adalah pria yang sudah punya isteri dan anak. Mereka kira Hinata adalah perempuan gampangan karena memiliki anak tanpa ikatan perkawinan.

"Naruto san..."panggil Hinata pelan, Hinata benar-benar risih ketika ada pria yang duduk dipangkuannya seperti ini.

Naruto tak menghiraukan panggilan Hinata, ia sengaja ingin berlama-lama berada dipangkuan Hinata. Tadi malam dia kelelahan dan tidak ada kesempatan untuk meyentuh Hinata, jadi selagi ada kesempatan berdekatan, ia akan mengambil kesempatan itu. Tubuh Hinata yang wangi vanila benar-benar menggodanya.

"Naruto san..."panggil Hinata agak keras. Arata dan Kanata pun sampai menengok kearah ibunya. Naruto mengeluh dalam ati, ia tentu tidak bisa berpura-pura tak mendengar lebih lama lagi.

"Eh...ada apa Hinata?" tanya Naruto pura-pura polos.

"Kita disini kan mau bicara ayahnya sikembar" kata Hinata sambil menekankan kata 'ayahnya sikembar'.

"Oh...iya ya.." kata Naruto sambil bangkit dari pangkuan Hinata. rasa gugup yang tadi sempat hilang kembali menyergap. Naruto sempat melihat kedua anaknya berpandangan bingung melihat dirinya dan Hinata berbisik bisik.

"Sayang...ada yang mau kaachan bicarakan dengan kalian" kata Hinata lembut mengawali.

"Bukan alata kaachan..." kata Arata panik. Hinata mengernyit heran.

"Bukan Kanata juga...mungkin ada bulung yang nakal kaachan" kata Kanata yang kini tak kalah ketakutan.

"Eh...kalian bicara apa?" tanya Hinata heran melihat kepanikan kedua anaknya itu. Arata dan Kanata hanya saling memandang takut-takut.

"Ehem..." deheman Hinata membuat kedua putranya yang tadi saling memandang takut-takut kini menunduk.

"Pot kecayangan kaa-chan pecah" kata Arata takut-takut.

"Maap kaachan" tambah Kanata sambil berkaca-kaca. Hinata membulatkan matanya. Ia baru paham ternyata anak-anaknya ketakutan gara-gara hal tersebut. Ia memag tahu beberapa hari yang lalu bibi ginko mengatakan pot bunga kesayangan Hinata pecah dan anehnya ditemukan di selokan. Hinata tak mempermasalahkannya karena ia sudah pesan dengan pot dengan model yag sama.

"Sudah tidak apa-apa...kaa-chan sudah pesan yang baru" kata Hinata menenangkan, "kaachan ingin bicara soal tousan kalian" lanjut Hinata pelan. Naruto yang daritadi menahan tawa melihat anak-anaknya mengaku memecahkan pot jadi terdiam seketika.

Naruto melirik kedua anaknya. Arata memandang hinaa dengan sorot ingin tahu sementara Kanata memandang Hinata dengan pandangan berbinar-binar.

"Apa...apa...kalian masih ingin tahu siapa tousan kalian?kalian masih ingin ketemu?" tanya Hinata lembut. mereka berdua mengangguk. Mereka tak meyadari bahwa Naruto yang ada dibelakang Hinata sedang meremas-remas pakaian yang dikenakan dengan wajah pucat pasi karena gugup.

"Memangnya kalau ketemu sama tousan kalian mau apa?" tanya Hinata penasaran.

"Alata mau tanya kenapa kita dibuang kaachan" kata Arata mantap. Hinata terdiam cukup lama, untuk pertanyaan Kanata biarlah nanti sang ayah yang menjawab. Hinata tidak tahu bagaimana lagi ia meyakinkan Arata bahwa mereka tidak dibuang.

"Kalau Kanata nanti kalau bertemu tousan mau bilang apa?" tanya Hinata penasaran.

"Kanata Cuma pengen punya touchan kayak teman-teman yang lain kaachan" kata Kanata pelan. Hinata jadi kasihan melihat raut muka Kanata.

"Oke...ehem...um...tousan juga pengen ketemu sama kalian" kata Hinata lembut. Hinata sempat melirik Naruto. Ia dapat melihat kegugupan Naruto, wajah Naruto pias.

"Benar kaachan?touchan penngen ketemu kita?" tanya Kanata berbinar binar, sedangkan Arata masih diam dengan wajah penasaran disamping Kanata.

"Ya..." kata Hinata sambil tersenyum melihat antusiasme kedua anaknya.

"Kapan touchan datang kaachan?" tanya Arata pelan.

"Sekarang..." kata Hinata mantap.

"Hah...cekalang?" kata Kanata terkejut, "Mana touchan?mana touchan?" lanjut Kanata sambil berjingkrak jingkrak.

"Itu..." kata Hinata sambil menunjuk Naruto yang mematung dibelakangnya dengan muka pucat pasi.

"Hai..." sapa Naruto ragu. Ia takut anak-anaknya tidak bisa menerima dirinya sebagai ayah. Kanata tampak bingung memandangi Naruto dan Hinata bergantian sedangkan Arata memandang Naruto seperti sedang menilai.

"TOUCHAAAAAN!" teriak Kanata sambil memeluk Naruto. Naruto menghembuskan nafas lega sekaligus merasakan rasa bahagia yang teramat sangat karena akhirnya ia di panggil tousan. Naruto memandang Arata yang masih duduk mematung dihadapan Hinata sambil terus memandanginya. Putra sulungnya yang jenius seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.

"Kanata cenang cekalang Kanata punya touchan" kata Kanata sambil terus memeluk Naruto erat.

"Em...Arata sayang?" panggil Hinata ragu-ragu melihat Arata yang diam saja.

"Alata mau ambil cecuatu" kata Arata sambil berlalu keluar dari ruangan.

Hinata dan Naruto hanya saling pandang. Hinata bisa melihat ada kesedihan dan kekecewaan pada mata Naruto. Naruto tersenyum sedih pada Hinata seakan ingin mengatakan bahwa ia memang pantas mendapatkannya.

Tiba- tiba Arata kembali masuk kamar dan mendekati Naruto. Tanpa disangka-sangka tiba-tiba Arata melemparkan tomat dan telur mentah kearah muka Naruto. Naruto mengerjap-ngerjap tak percaya. Matanya perih karena dilempari telur.

"Itu kalena touchan nggak pelnah nengok kita waktu kita macih kecil" kata Arata sambil merangkul Naruto sambil terisak isak.

Naruto yang tadinya kecewa karena Arata sepertinya tak mau menerimanya kini tersenyum lega. Jika dilempari telur atau tomat membuat anak-anaknya menerima dan memaafkan dirinya, ia rela dilempari berapapun.

"Maafkan tousan...tousan tahu tousan salah...mulai sekarang tousan akan sering menengok kalian oke?" kata Naruto sambil membelai kedua anaknya yang sedang terisak-isak dikedua pundaknya.

Naruto bisa melihat mata Hinata berkaca-kaca melihat dirinya memeluk kedua buah hati mereka.

####

"Ini calah niichan...kenapa touchan dilempal pake telul...itu mata touchan jadi cakit" kata Kanata sambil mendelik pada Arata.

"Tidak apa-apa Kanata...ini Cuma memar..." kata Naruto sambil mengompreskan handuk dingin pada matanya.

"Tuh...touchan nggak malah kok" Sahut Arata sengit. Ia memag agak merasa bersalah melihat mata tousannya yang hitam sebelah.

"Hokage sama..." panggil Hinata pelan.

"Eh...Hinata? bukankah kau bilang mau belanja untuk makan malam?" tanya Naruto heran. Memang bisa memesan makan disini tapi harganya akan sangat mahal, lagipula Hinata lebih suka masak sendiri. Ia bisa memastikan kesegaran dan nutrisi makanan yang dimakan anak-anaknya. Padahal Naruto sudah membujuk Hinata untuk pesan makan saja karena melihat Hinata pucat dan kurang sehat.

Naruto mengernyit ketika Hinata mendekatinya.

"Biar saya bantu mengobati pakai salep hokage sama" kata Hinata sambil tersenyum. Naruto hanya mengangguk kaku. Hinata memegang wajah Naruto lembut. ia mendekatkan diri pada Naruto untuk mengecek luka dimatanya. Naruto kembali mencium aroma vanilla Hinata yang nyaris membuatnya tak bisa tidur berhari-hari. Apalagi tangan Hinata yang lembut membelai wajahnya. Coba yang dibelai bukan hanya wajah... Naruto harus menahan diri ketika pikirannya melantur kemana-mana.

"Sudah selesai hokage sama..." kata Hinata sambil menjauhkan diri dan melepas wajah Naruto perlahan. Naruto baru tersadar ketika Hinata akan beranjak berdiri. Ia terlalu larut akan lamunannya yang semakin lama semakin keterlaluan. Hinata hanya memegangi wajahnya dan ia sudah memikirkan tangan Hinata membelai bagian tubuhnya yang lain.

"Sepertinya akan hilang dalam seminggu hokage sama..." kata Hinata dengan nada minta maaf.

"Tidak apa-apa...lagipula aku memang pantas mendapatkannya" kata Naruto sambil memandang Hinata penuh arti.

"Touchan nggak malah cama alata?" tanya Arata memecah kebisuan antara Naruto dan Hinata. sepertinya kedua bocah itu memperhatikan interaksi kedua orang tua mereka dari tadi.

"Nggak dong...tousan senang punya Arata yang kuat..." kata Naruto sambil mengacak rambut Arata.

"Kanata juga kuat touchan...touchan mau Kanata lempal telul juga?" tawar Kanata tidak mau kalah. Hinata nyengir melihat Naruto bingung menenggapi tawaran putra bungsunya.

"Jangan sayang...besok tousan kan pulang ke konoha...nanti malu sama ninja lain..." bela Hinata sambil menahan tawa.

"Oh..." kata Kanata menganguk-angguk.

"Tousan mandi dulu ya...sudah sore...nanti malam kan mau manemani kalian menangkap serangga" kata Naruto seraya berdiri.

"Kanata juga mau mandi..." teriak Kanata semangat

"alata juga..." Sahut Arata tak mau kalah.

"Um...tousan mau mandi air dingin...tousan kepanasan..." kata Naruto meringis. Hinata mengerutkan kening heran. Hawa pegununngan dingin begini, Naruto malah kepanasan. Ia tentu saja tak akan mengijinkan Arata dan Kanata mandi air dingin. Ia tak mau mengambil resiko.

"Kalau begitu kalian mandi sama kaachan saja ya.." tawar Hinata semangat. Hinata melihat ada wajah keberatan di sana. setelah tahu Naruto adalah ayah mereka, Arata dan Kanata memang ingin selalu menempel dengan ayahnya.

Hinata tak menyadari bahwa Naruto semakin berdiri kaku.

"Kalian tadi main terus sama tousan...jadi lupa sama kaa-chan" kata Hinata sambil pura-pura cemberut

"Kita mau kok mandi sama kaachan.." kata Arata sambil memeluk ibunya.

"Kanata juga mau kok" sahut Kanata semangat.

"Um...kalau begitu...aku kekamar mandi dulu." Kata Naruto, secepat kilat Naruto berlari kekamar mandi. Ia benar-benar tidak tahan. Memimpikan Hinata setiap malam, memikirkannya setiap hari dan setelah bertemu mereka selalu berdekatan.

Naruto tahu Hinata tak ada niat menggodanya. Tapi melihat Hinata, mencium bau Hinata dan merasakan snetuhan Hinata benar-benar membuat Naruto harus mengerahkan segala cara agar ia bisa mengendalikan diri. Mencium baunya saja selalu ingin membuat Naruto menyeret Hinata kekamar, apalagi dibelai seperti tadi, oke...sebenarnya Hinata memang hanya menyentuh wajahnya hanya untuk mengolesi salep, tapi hal itu membuat Naruto mengingat lagi sentuhan lembut Hinata pada malam mereka membuat Arata dan Kanata.

Naruto menyalakan shower dan menyetelnya untuk yang paling dingin. Ia butuh pengendalian penuh. Entah apa tadi yang akan ia katakan ketika kedua putranya ingin ikut mandi. Untung Hinata menawarkan diri mandi bersama. Astaga...kenapa pikirannya sekarang Hinata sedang mandi? Siaaaaaaal...

####

"Hokage sama...apa perlu bantuan...?" tanya Hinata melihat Naruto kesulitan menggunakan pakaian tradisional. Hinata sebenarnya enggan membantu Naruto menggunakan hakama. Ia kan bukan siapa-siapa Naruto. Namun melihat kedua anak mereka bosan menunggu ayahnya memakai hakama Hinata berinisiatif menawarkan bantuan.

Naruto membeku ketika Hinata menawarkan bantuan memakaikan baju tradisional untuk laki-laki itu. malam ini memang malam festival lampion. Hampir semua orang menggunakan kimono. Bahkan kedua anaknya yang imut itu menggunakan baju tradisisonal berwarna biru tua sedangkan Hinata memakai baju berwarna biru muda dengan bunga-bunga putih yang indah.

Hinata sempat kebingungan kemari saat mencari hakama untuk Naruto. Untung saja ia menemukan satu yang cocok. Sebenarnya Naruto ingin memakai hakama berwarna orange. Namun melihat raut muka Hinata yang mengatakan 'aku tak mau mengenalmu jika kau memakai hakama itu' Naruto jadi mengurungkan niatnya dan memutuskan menurut saja dengan apapun pilihan Hinata. akhirnya Hinata memutuskan untuk membeli hakama yang hampir sewarna dengan si kembar.

"Oke...sudah siap..." kata Hinata sambil tersenyum setelah selesai membantu Naruto menggunakan hakamanya. Naruto harus kembali menahan diri ketika mencium bau Hinata yang khas. Sial pikirannya kembali ngelantur kemana-mana.

"Kaachan nanti alata mau beli lampion sendili..." kata Arata sambil menggandeng ibunya.

"Touchan...Kanata mau pelmen kapas" kata Kanata merayu. Naruto nyengir, ia juga ingin permen kapas.

Naruto melihat kiri kanan sudah ramai dengan stand-stand baik makan atau pun permainan.

"Ada yang mau ikan emas?" tanya Naruto saat melihat stand penangkapan ikan emas.

"Mauuuuuuu..." teriak Kanata dan Arata berbarengan. Mereka berdua berlari kearah stand tersebut. Hinata hanya geleng-geleng kepala. Ia tak bisa menyamai kecepatan kedua anaknya jika ia sedang menggunakan kimono seperti ini.

"Mereka senang sekali" kata Naruto sambil balas melambai tangan ketika kedua putranya melambaikan tangan agar dia cepat kesana.

"Ya...mereka memang suka dengan festival.." kata Hinata sambil tersenyum, " Sebaiknya anda kesana hokage sama, anak-anak anda sepertinya tidak sabaran" lanjut Hinata lagi. Naruto nyengir. Mereka memang tidak sabaran.

Malam itu Naruto merasakan festival paling menyenangkan yang pernah ia rasakan. Mereka mencoba berbagai permainan dan mencoba berbagai makanan. Naruto mati-matian bersikeras agar ia yang membayar semuanya. Bahkan semua permintaan Arata dan Kanata Naruto turuti. Kepala Hinata pening melihat banyak makanan yang mereka beli dan banyak permainan yang mereka coba. Yang lebih seru lagi Naruto memenangkan boneka yang merupakan boneka dirinya sendiri dari permainan melempar kunai. Untungnya dia menyamar malam itu menggunakan henge.

Selain boneka dirinya ia melihat boneka Gaara, Bee, Tsunade, Sakura, Sasuke dan banyak boneka pahlawan perang shinobi lain. Naruto memenangkan 2 boneka dirinya untuk dipeluk-peluk putranya jika putranya itu kangen.

"Hokage sama...sudah malam...sudah saatnya kita pulang..." bisisk Hinata ke telinga Naruto.

"Ini masih sore Hinata..." kata Naruto merajuk,"ini masih jam 9 malam" kata Naruto sambil memperhatikan jam tangannya.

"Mereka biasa tidur jam 8 malam Naruto san...lagi pula mereka sudah berjanji akan pulang jam 9" kata Hinata tajam.

"Tapi lampionnya kan dilepas jam 12 malam Hinata chan" kata Naruto lagi," kita juga belum makan malam" lanjut Naruto. Terus terang Naruto masih ingin merasakan bermain bersama keluarganya. Ia tak ingin semua cepat berakhir.

"Baiklah kita cari tempat makan lalu kita makan" kata Hinata, wajah Naruto cerah seketika, "Tapi setelah itu kita beli lampion lau kita pulang kepondokan dan langsung melepaskannya" lanjut Hinata tegas.

"Baiklah..." kata Naruto lesu.

"Touchan...ayo kita beli jimat dicana" kata Kanata sambil berjingkrak jingkrak semangat.

"Sini biar barang-barangnya sebagian saya yang pegang Naruto san" kata Hinata lembut. Hinata geleng-geleng kepala melihat berbagai macam barang dan makanan yang Naruto beli. Hinata mengira Naruto akan berhenti membelikan makanan atau mainan jika sudah terlalu banyak. Namun sepertinya Hinata salah. Semua yang anak kembar mereka minta tetap saja dibelikan. Sampai kerepotan sendiri Naruto membawanya.

"Terimakasih Hinata...astaga...anakmu itu sepertinya tidak pernah kehabisan energi ya..." kata Naruto. Hinata tertawa kecil melihat Naruto di geret oleh Kanata sdangkan Arata sudah menunggu ditempat penjualnya.

"Hinata?"

Hinata membeku ketika ia mendengar namanya dipanggil. Suaranya sangat familiar di telinga Hinata.

"Hinata chan... kau kah itu?"

Hinata menengok ke arah asal suara dengan ketakutan. Hinata membelalakan matanya ketika ia melihat sosok yang ada dihadapannya.

.

.

.

.

.

hai semua...chapter 20 tiba...

oh ya sasuke dan hanabi munculnya kalo diperlukan doang...soalnya ini kan ff naruhina sabar ya...nanti muncul kok

buat yang review and kasih pertanyaan sori gw nggak bisa jawab satu-satu...

nanti gw jawab pertanyaan kalian secara tersirat aja di cerita ya...

pokoknya makasih dah review...kalo ada yang pm, gw jg welcome bgt

btw ni chapter nggak ada editan, jadi maaf-maaf aja kalo typo...kapan-kapan kalo gw nggak males, gw edit deh

sekian dan terimakasih

jangan lupa review

ps. ada yang tahu nggak tempat jual buku-buku lama di jogja?