Chapter 21
Naruto tak bisa menahan senyum ketika melihat penjual jimat kebingungan melayani pertanyaan kedua anaknya. Mereka belum juga menentukan jimat apa yang ingin dibeli.
"Yang ini buat apa paman?" tanya Kanata penuh keingintahuan.
"Um...itu untuk um...membuat wanita subur" kata penjual ragu sambil melirik Naruto meminta bantuan. Kanata menatap ayahya kebingungan.
"Jangan itu Kanata sayang...itu bukan buat laki-laki" kata Naruto membujuk.
"Kalo yang ini paman?" tanya Arata sambil meraba-raba jimat berwarna biru
"Yang itu biar kalian pintar" kata penjual sambil tersenyum seraya mengacak rambut Arata gemas. Jimat yang dipegang Arata memang biasa dibeli bagi orang yang ikut ujian.
"Kalau jimat yang bikin touchan cama kaachan cayang cama alata ada tidak paman?" tanya Arata sambil cemberut. Ia bosan tanya ini itu dengan sang penjual tapi tak juga menemukan jimat yang di inginkannya. Naruto tersenyum mendengar pertanyaan Arata.
"Nggak usah pakai jimat Arata sayang...tousan sama kaasan selalu sayang sama kalian berdua" kata Naruto sambil mencubit pipi tembem kedua putranya. Penjual hanya tersenyum melihat kerukunan ayah dan anak itu.
"Telus...alata beli jimat yang cepelti apa?" tanya Arata kebingungan.
"Um...mungkin Arata punya keinginan lain" kata Naruto kalem.
"Touchan Kanata beli yang ini caja..." kata Kanata sambil memegang jimat kesuburan tadi. Penjual jimat hanya garuk-garuk kepala. Naruto hanya ternganga. Ia tak siap memberikan penjelasan mengenai hal seperti ini pada anaknya.
"Um...nak...ini jimat kesuburan untuk wanita..ini hanya bisa untuk ibumu..." kata penjual membujuk.
"Kanata beli yang buat laki-laki deh..."kata Kanata santai. Naruto memucat.
"Anak muda...apa yang kau lakukan pada anak-anakmu?" bisik penjual jimat heran. Naruto hanya menggeleng dengan wajah pucat.
"Kanata sayang...buat apa beli jimat seperti itu sayang?" tanya Naruto dengan nada membujuk .
"Biar Kanata tambah tinggi" jawab Kanata polos.
"Hah?"
"Bunga-bunga kaachan tumbuh tinggi kalau cubul touchan...kalau Kanata cubul pasti tumbuh tinggi juga...Kanata kan nggak tinggi tinggi..." rajuk Kanata sambil cemberut. Naruto tersenyum lega. Sementara penjual jimat hanya terkekeh mendengar penjelasan Kanata.
"Um...begitu ya...tapi manusia beda sama tumbuhan sayang, um...subur buat manusia itu bukan berarti bertambah tinggi" kata Naruto
"Oh...telus belalti apa dong?" tanya Kanata polos. Naruto mati kutu.
"Berarti apa ya..." kata Naruto sambil garuk-garuk kepala.
"Itu berarti kalau jimat itu dipakai kaachan, kalian bisa dapat adik..." kata penjual membantu Naruto yang tergagap-gagap.
Tiba-tiba ada seorang gadis kecil yang berlari sambil menubruk Kanata sampai hampir jatuh. Untung saja Naruto sigap menangkap tubuh mungil Kanata.
"Kaachaaaaaaaan...disini jimatnya masiiiiiih..." gadis itu berteriak keras sampai-sampai Naruto ingin menutup telinganya.
"Hei itu jimat yang mau Kanata beli" kata Kanata menyambar jimat yang dipegang gadis kecil itu. Melihat jimat yang sedang dipegang direbut, gadis kecil yang berusia sekitar 8 tahun itu melirik marah pada Kanata.
"Kan...belum dibayar...pokoknya itu milikku" kata gadis itu seraya merebut jimat yang sedang dipegang Kanata. Kanata juga tak mau kalah ia enggan melepaskan jimat itu tanpa perlawanan.
"Eh...Kanata sayang...buat apa beli jimat itu..udah dikasih aja sama nee-chan ya..." bujuk Naruto. Ia heran kenapa Kanata masih ingin membeli jimat kesuburan itu padahal sudah dijelaskan.
"Kanata juga pengen adek..." raung Kanata sambil masih tarik ulur dengan gadis kecil didepannya.
Ibu sang gadis berusaha membujuk sang gadis kecil untuk melepaskan jimat itu tapi sepertinya gadis itu sama keras kepalanya dengan Kanata.
"Sayang! bantu aku membujuk anakmu ini!" bentak ibu gadis kecil itu pada suaminya yang malah terkikik melihat tingkah putrinya yang brutal terhadap seorang bocah kecil.
"Ayo...Rin sayang...tidak perlu jimat...tousan sama kaasan pasti berusaha biar rin punya adik kok..." bujuk ayah gadis kecil yang ternyata bernama rin itu.
"Kanata sayang sudah... biar jimat buat neechan saja, pasti banyak jimat yang bagus-bagus tuh...Arata niichan juga sudah pilih jimat, kalian kembaran saja jimatnya, ya?" bujuk Naruto lagi. Naruto benar-benar tidak tahu apa yang ia akan katakan pada Hinata, jika Kanata membelikan jimat kesuburan untuk ibunya.
Sementara itu Arata hanya terdiam melihat adiknya dan si gadis kecil berebut jimat sementara para ayah membujuk anak masing-masing.
"Kamu masih kecil...nggak usah punya adik dulu...biar aku yang punya adik" kata gadis kecil itu sambil melotot.
"Kanata cudah becal" jawab Kanata ikut-ikutan melotot.
"Rin...tousan janji...rin pasti punya adik..."bujuk ayah rin gigih.
"Tapi Rin maunya sekarang...kalau pakai jimat kan adik Rin cepat datang " kata rin kesal, wajahnya mulai seperti mau menangis.
"kalau Rin mau adik bayi yang sehat perlu waktu Rin" kata ayah rin sabar.
"Tapi Rin mau adikh...huwaaaaaaa" rin mulai menangis.
Melihat Rin menangis Kanata jadi sedikit merasa bersalah.
"Ya cudah...ini jimatnya buat neechan caja" kata Kanata pasrah.
"Hiks...hiks...benar buat aku?" tanya rin sambil mengusap air matanya. Kanata hanya mengangguk sebal. Ia juga sebenarnya tidak rela. Tapi daripada ada yang nangis.
"Makasih.." kata rin malu-malu. Tanpa disangka-sangka rin mendekatkan wajahnya pada Kanata dan mengecup Kanata tepat dibibir.
Naruto ternganga sementara ayah dan ibu rin tersenyum geli. Mereka kemudian mengangguk sopan pada Naruto dan pergi setelah membayar jimat itu.
"Ya sudah sekarang Kanata pilih lagi..tuh niichan udah beli banyak" kata Naruto sambil membelai kepala Kanata sayang sambil cengar cengir. Sementara Kanata sibuk mengusap bibirnya yang telah dikecup oleh Rin dengan raut wajah jijik.
####
"Pelan-pelan sayaaang..."teriak Naruto pada kedua buah hatinya yang berlari- lari kearah tempat mereka meninggal kan Hinata tadi. Naruto geleng-geleng kepala melihat jimat-jimat yang dibeli anak-anaknya. Ia sampai tak tahu jimat apa saja yang mereka beli.
Naruto melihat Hinata oleng ditubruk anak-anaknya. Ia jadi merasa bersalah. Seharusnya memang ia menurut saja ketika Hinata mengajaknya pulang tadi. Hinata kan sedang tidak enak badan.
Wajah Naruto mengeras melihat Hinata ternyata tidak sendiri. Ia bisa melihat ada laki-laki dan perempuan mengajak Hinata mengobrol. Dari gerak tubuh Hinata yang kaku Naruto bisa mengetahui bahwa pasangan itu membuat Hinata tak nyaman. Mungkin saja itu adalah salah seorang penduduk roppan yang suka menjelek-jelekkan Hinata atau bisa saja itu adalah kepala sekolah yang mengeluarkan anak-anaknya. Naruto mempercepat langkah kakinya. Ia tak akan membiarkan Hinata dan anak-anaknya dihina.
"Apa ada masalah sayang?" tanya Naruto mesra sambil merengkuh pundak Hinata.
"Hi...Hinata? ada apa ini? Kau sudah menikah?" tanya perempuan sambil membelalakan matanya. Naruto membeku. Suara itu tak asing.
"I...Ino...?" tanya Naruto memastikan. Model rambut Ino yang digerai dan poni yang dijepit dengan jepit rambut warna pink membuat wajah Ino terlihat berbeda.
"Kau mengenalku?" tanya Ino heran
"Tunggu...tunggu...jika kau Ino berarti kau...Sai?" tanya Naruto heran melihat mantan teman setimnya men-cat rambutnya merah.
"Hai hokage-sama...tak disangka bisa bertemu disini..." jawab Sai santai.
"Na...Naruto...?" pekik Ino tak percaya. Naruto salah tingkah. Ia melirik Hinata yang kini berwajah seputih kapas.
"Ka...kau dan Hinata?" kini Ino sudah berteriak.
"Psssssst...jangan teriak-teriak...lihat semua melihat kita" kata Naruto sambil membungkam mulut Ino.
" Kalian menikah dan punya anak diam-diam?" bisik Ino tak percaya
"Keadaannya memang rumit...bagaimana kalau kita makan dulu,Hinata sedang kurang sehat, dia harus makan. Lagipula jangan mengobrol masalah ini dipinggir jalan." Kata Naruto serius.
Ino dan Sai hanya saling pandang dan pasrah mengikuti Naruto yang berjalan sambil merengkuh Hinata yang kelihatannya bisa pingsan sewaktu-waktu.
Ino melirik bocah kembar yang berjalan cepat mendahului orang tua mereka kearah restourant.
####
Naruto yakin jika tidak ada Arata dan Kanata suasananya pasti akan cangggung. Untung mereka berdua kadang berceloteh ini itu.
"Ehem..." Ino berdehem memecahkan kakakuan mereka berempat.
"Um...Hinata...um...mereka berdua benar-benar anakmu ya?" tanya Ino tak yakin. Hinata hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Anakmu dengan Naruto?" tanya Ino lagi. Naruto bisa melihat Hinata tegang. Naruto tahu bahwa Hinata bingung mau menjawab apa. Naruto pernah meminta Hinata merahasiakan bahwa ia adalah ayah dari Arata dan Kanata.
"Tentu saja denganku Ino...dengan siapa lagi memangnya kau pikir" kata Naruto berusaha agar nada yang digunakan sesantai mungkin. Ino mengerutkan kening. Ia melirik kekasihnya yang malah asik dengan makanan.
"jadi Hinata pergi dari konoha karena dia hamil?" tanya Ino penasaran.
"Begitulah..." jawab Naruto sambil melirik Hinata yang masih saja menunduk.
"Kenapa kau harus pergi Hinata? Kau juga tak pernah mengatakan apapun padaku" tanya Ino pelan.
"Waktu itu kami masih muda Ino...apa kau pikir ayah Hinata tidak akan mengamuk?" jelas Naruto.
"Kalau kau meminta baik-baik pada hiashi-sama aku yakin beliau akan mengijinkan Hinata bersamamu. Lagi pula kau kan pahlawan desa waktu itu. Aku yakin hiashi-sama pasti setuju." Kata Ino keras kepala.
"Keluarga hyuga selalu menikah dengan sesama anggota klan, kau pikir Hinata akan diijinkan bersamaku yang tidak punya byakugan ini?" kata Naruto. Ia kembali melirik Hinata. Ia memang belum membicarakan hal ini pada Hinata. Tapi ia sudah berniat akan menjaga harga diri Hinata semampu ia bisa.
Naruto sangat terkejut mendengar cerita bibi ginko tentang perlakuan orang-orang roppan pada Hinata. Secara logika jika ada seorang wanita memiliki anak diluar nikah dan tidak punya suami seharusnya orang-orang bersimpati. Tidak semua gadis tanpa suami yang punya anak adalah gadis-gadis murahan atau gadis genit. Bisa saja gadis itu gadis baik-baik yang sedang kena sial seperti Hinata.
Naruto sudah berniat dalam hati jika ada penduduk roppan yang menanyakan apa hubungan ia dan Hinata maka ia akan menjawab bahwa ia suaminya. Ia tak ingin penduduk roppan menghina dan merendahkan anak –anak dan Hinata lagi. Ia akan melindungi Hinata dan anak-anaknya.
Naruto tak menyangka pertama kali ia berakting malah berhadapan dengan salah dua sahabatnya dari konoha.
"Maafkan aku Ino-chan...waktu itu setelah perang aku tahu kalian semua masih sedih dengan teman maupun saudara kita yang gugur di medan perang, aku tak mau membuatmu cemas...saat aku hamil...aku bingung...aku tak bisa berpikir jernih...aku belum menikah dan hamil diusia yang sangat muda. Menurutku itu hal yang memalukan. Aku tak berani bertemu denganmu" kata Hinata pelan dengan mata berkaca-kaca. Naruto membelai punggung Hinata pelan. Ia kembali merasa bersalah mengingat ia malah melarikan diri saat Hinata hamil dulu.
Ino yang duduk diseberang Hinata menggenggam tangan Hinata. Ino juga ikut berkaca-kaca.
"Kau seharusnya menceritakan saja padaku Hinata...kurenai sensei juga hamil padahal tidak punya suami, tapi beliau baik-baik saja. Untung saja yang mengamilimu Naruto, kalau yang menghamilimu pria tak bertanggung jawab, kau pasti kesusahan" kata Ino sambil tersenyum. Ino tak melihat raut muka Naruto yang merasa bersalah ketika Ino dengan tidak langsung memujinya sebagai laki-laki bertanggung jawab.
"Ehem...sebaiknya kita makan dulu...Hinata sedang tidak enak badan Ino" kata Naruto serius sambil menyodorkan beberapa lauk pauk dan semangkuk sup hangat pada Hinata.
"wow...hokage sama bisa perhatian juga ternyata" kata Ino melihat tingkah Naruto.
"Aku kan Cuma menyuruhnya makan" kata Naruto sambil menahan agar pipinya tidak merah.
"Aku tadi tak percaya lho waktu tiba-tiba kau mengenalkan mereka berdua adalah anakmu Hinata, aku kira kau Cuma bercanda" kata Ino geleng-geleng kepala sambil melihat kearah Kanata dan Arata yang sibuk berbisik-bisik dan mengabaikan makan malam mereka.
"Kalian berdua ayo makanannya dimakan...habis ini kita pulang" kata Naruto pada kedua anaknya. Mendengar suara ayah mereka, mereka pun menoleh dan memulai makan dengan sedikit cemberut.
"Kita nggak nunggu lampion di lepas touchan?" kata Arata dengan wajah membujuk.
"Nggak...kalian butuh tidur, kaachan juga sedang sakit..." kata Naruto tegas.
"Kaachan macih pucing?" tanya Arata panik
"Kita pulang cekalang caja...bial kaachan bica istilahat" usul Kanata panik.
Hampir semua orang dewasa yang ada dimeja itu tersenyum melihat perhatian kedua bocah balita.
"Kaachan tidak apa-apa...kita makan dulu nanti baru pulang"kata Hinata sambil menyendok sup untuk menghangatkan tubuhnya.
"Awww...mereka imut-imut sekali Hinata...aku juga ingin punya" kata Ino sambil berbinar-binar melihat kearah Kanata dan Hinata yang sedang makan dengan lahap. Hinata hanya tersenyum mendengar Ino menanyai anaknya macam-macam. Tadinya ia cemas Ino marah padanya karena merahasiakan masalah Kanata dan Arata. Ia tadi sudah hampir berhasil kabur dari Ino, eh...malah Arata dan Kanata tiba-tiba datang menubruknya dan memanggil kaachan. Hinata pun terpaksa mengenalkan mereka sebagai anaknya.
"Makanmu sedikit Hinata" kata Naruto sambil mengernyit
"Sedang tidak nafsu makan hokage sama" jawab Hinata pelan. Naruto benar-benar cemas sekarang. Tadi pagi Hinata muntah-muntah lalu demam. Untung saja siang hari ia merasa baikan. Naruto sudah mengancam akan menyeretnya ke dokter jika Hinata masih saja demam.
"Kau harus makan Hinata..." bujuk Naruto
"Saya sudah makan hokage sama, saya tak sanggup menghabiskan kalau makannya sebanyak ini" kata Hinata keras kepala.
"Ini tidak banyak Hinata ...supnya saja hanya semangkok kecil" bujuk Naruto lagi. Naruto hanya menghela nafas ketika melihat Hinata keras kepala tidak mau menghabiskan makanan. Ia bersyukur kedua anaknya menuruni dirinya soal makanan.
"Kalau kau tidak suka menunya kita bisa pesan yang lain, kau mau apa hm...? biar aku carikan" kata Naruto tanpa sadar sambil membelai rambut Hinata pelan.
"Saya baik-baik saja hokage sama..." balas Hinata meyakinkan
"Ehem...kaachan sama touchan kalau mau berasyik masyuk jangan di depan anak-anaknya ya" kata Ino sambil tersenyum jahil pada Naruto dan Hinata. Naruto segera sadar dengan apa yang dilakukannya langsung menghentikan belaiannya pada Hinata dan duduk mengambil jarak.
"Bahasa apa itu...berasyik masyuk" gerutu Naruto sambil berwajah merah.
"Oh ya..Ino chan pernikahan shikamaru kudengar ditunda, ada apa?" tanya Hinata mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh...temari sedang tidak sehat, memang kehamilan kedua ini tidak selancar yang pertama. Jadi pernikahannya ditunda sampai temari melahirkan" kata Ino agak sedih
"Semoga saja bayinya sehat" doa Hinata
"Ya...tenang saja Tsunade sama sendiri yang mengawasi" kata Ino menghibur."Aku jadi ingin punya anak juga" lanjut Ino sambil memandang Arata dan Kanata yang belepotan kemana-mana karena makan sendiri.
"Kau hutang cerita banyak padaku Hinata" kata Ino sambil pura-pura sebal. Hinata tersenyum.
"Ino chan bisa mampir roppan nanti kita ngobrol-ngobrol, disini tidak bebas " kata Hinata riang sambil melirik kearah Naruto dan Sai. Ia juga kagen dengan sahabatnya. Walaupun sering berkirim surat. Tapi tidak rutin karena Ino sibuk dengan misi dan rumah sakit.
"Aku akan membicarakannya dengan Sai dulu" kata Ino sambil melirik Sai yang kini sibuk bicara serius soal anbu dengan Naruto.
####
"Naruto san...saya pikir kita harus bicara" kata Hinata pada Naruto yang sedang menyeruput teh di dapur rumah yang mereka sewa.
"Hinata kenapa kau kesini?kau harusnya tidur bersama anak-anak. Kau perlu istirahat" kata Naruto sambil membelalakan matanya.
"Ada yang lebih penting yang perlu kita bicarakan hokage sama" lkata Hinata keras kepala.
"Hal yang ingin kau bicarakan bisa menunggu" kata Naruto tegas.
"Saya tidak akan lama...saya Cuma mau bertanya mengapa tadi saat dengan Ino anda mengesankan bahwa kita adalah suami isteri" kata Hinata bingung.
Naruto menghela nafas panjang. "Kita bicara besok, sekarang kau istirahat" kata Naruto tidak mau kompromi.
"Tapi saya perlu tahu Naruto san...saya bingung...saya tak ingin ada salah paham" kata Hinata keras kepala.
Naruto menghela nafas. Ia segera menggendong Hinata ala bridal style dan membawa Hinata kekamar. Hinata kaget.
"Naruto san...apa yang anda lakukan?" tanya Hinata dengan nada panik ketika Naruto membaringkannya di futon disamping anak-anak mereka.
"Kau butuh tidur" kata Naruto sambil menindih Hinata agar tidak bangun.
"Saya tidak akan bisa tidur jika anda tak menjawab pertanyaan saya Naruto san" bisik Hinata seperti mau menangis. Naruto memandang Hinata sayang. Betapa ia memberikan banyak hal sulit pada gadis ini.
Naruto ikut berbaring di futon sambil memeluk Hinata dari belakang.
"Naruto san...apa yang anda lakukan?" kata Hinata panik merasakan Naruto memeluknya erat.
"Maafkan aku..." bisik Naruto bergetar. Hinata membeku.
"Aku tidak tahu bahwa tindakanku yang pengecut bertahun-tahun yang lalu membuat kau dan anak-anak susah" lanjut Naruto. Hinata diam. Naruto tak perlu menjelaskan panjang lebar. Kata-kata Naruto sudah menjelaskan semuanya.
.
.
.
akhir setelah sekian lama bisa update juga
Laptop gw hardisknya rusak jadi ya updatenya nunggu laptop bener
Makasih bwt saran2 kalian nyari buku di jogja...gw Cuma pengenbeli buku –buku ringan buat ngusir bosen...
Sori ya gw nggak bisa bls review satu-satu. Kalo ada pertanyaan mengenai cerita akan gw jawab secara tersirat atau tersurat dicerita hehehe
Oh ya ada yang tanya masalah fanfic gw sama novel dirty little secret...itu sama sekali nggak disegaja. Fic gw kan publish oktober 2013 dan novel itu terbit 30 januari 2014 jadi nggak mungkin dong gw terinpirasi atau jiplak novel itu.
Mungkin aja karena ide fic ini yag pasaran jadi bisa sama hehehe oh dan gw bukan aliazalea. Nama azalea winter itu karena gw suka bunga azalea dan belum pernah liat musim winter itu aja.
nah...ini udah gw update jangan teriak-teriak minta update an lagi oke... :P
