Chapter 22
Flash back
Ino sibuk merangkai bunga sambil senyum-senyum. Ia tak menyangka dari teman-teman seangkatannya. Ia adalah orang pertama yang melepas masa lajangnya.
Ino masih ingat ketika ia bercerita pada Sai tentang pernikahan shikamaru. Ia bercerita dengan menggebu-gebu. ia iri pada temari yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. Selain itu temari sebentar lagi akan mendapatkan anak laki-laki dambaan shikamaru. Temari bilang shikamaru pusing dikelilingi wanita-wanita cerewet, dari mulai ibunya sampai putrinya sendiri. Ia ingin mendapatkan anak laki-laki yang akan membelanya.
Ino bertanya pada Sai dengan polosnya, apa Sai mau menikahinya suatu hari nanti. Dengan lugas Sai malah menjawab bahwa ia siap menikahi Ino kapan saja Ino minta. Ino hanya terdiam dengan mata terbelalak saking herannya.
Bagi Ino pernikahan bukanlah hal sepele. Apalagi bagi laki-laki. Ketika Seorang laki-laki menikah dia bukan hanya bertanggung jawab terhadap dirirnya sendiri tapi juga bertanggung jawab terhadap isteri dan anak-anak kelak. Melihat Sai dengan mantap menjawab siap, Ino hanya terpaku dengan mata pun segera mengatakannya pada pihak keluarganya. Seminggu kemudian mereka menikah diam-diam karena persiapan sangat mepet. Mereka berencana menggelar resepsi setelah shikamaru dan temari melangsungkan pernikahannya.
Ino benar-benar merasakan gairah baru sebagai seorang isteri. Ia lebih memperhatikan Sai dan berusaha menjadi isteri yang baik. Hal yang paling Ino sukai setelah menikah adalah menyiapkan makan dan menyiapkan baju untuk Sai. Mungkin itu adalah hal sepele. Tapi kedua hal itu mengingatkan Ino statusnya sekarang adalah isteri seseorang.
"Ino pig...hey...hey..."
Ino merasakan bahunya diguncang-guncang. Ino mendapati Sakura sedang mengguncangkan badannya sambil menatapnya sebal.
"Kau kenapa sih? Aku panggil dari tadi tidak sadar" kata Sakura kesal.
"Ah...uh...ehm...sedang merangkai bunga" kata Ino salah tingkah. Baru beberapa menit lalu ia melepas Sai untuk pergi kerja, sekarang ia sudah kangen ingin bertemu lagi. Mungkin ini adalah salah satu syndrom penyakit pengantin baru. Ino kembali senyam senyum sambil menatap keawang-awang.
"Inoooooo..." Sakura setengah berteriak untuk membangunkan temannya yang jelas-jelas sedang kasmaran. Ino hanya nyengir merasa bersalah pada Sakura.
"Oke...oke...sekarang aku sudah bangun..., ada apa kau kesini pagi-pagi, memangnya rumah sakit bangkrut ya...kau bisa berkeliling dengan sesuka hati." Kata Ino heran. Biasanya Sakura sudah sibuk mengurus rumah sakit Konoha karena Sakura memang kepala rumah sakit.
"A..Aku butuh...uhm...nasehat" kata Sakura ragu-ragu. Ino hanya mengangkat alisnya.
"Se..sepertinya hubunganku dengan Naruto kurang bisa berjalan dengan baik" lanjut Sakura pelan. Sebenarnya ia enggan menceritakan hal ini pada orang lain. Namun melihat Naruto yang semakin hari semakin sulit di jangkau, Sakura memutuskan untuk mencari nasihat pada teman-temannya. Awalnya ia ingin bercerita dengan temari. Namun keadaan temari sedang tidak sehat, dan pasti sedang sibuk memikirkan buah hati yang tengah dikandungnya. Temari tak akan sempat memikirkan perihal Sakura dan Naruto.
"Apa kau dan Naruto bertengkar?" tanya Ino hati-hati. Sakura menggeleng pelan.
"lalu?...um...apa Naruto punya selingkuhan?" tanya Ino lagi. Sakura malah melototkan matanya pada Ino.
"Hehehe...habis mukamu benar-benar tertekuk sih.." kata Ino nyengir melihat pelototan mata Sakura.
"Aku tak tahu harus mulai dari mana" kata Sakura sambil memijit jidatnya pelan. Sudah lama Sakura memikirkan ini sendiri. Ia sudah tak bisa menyimpannya sendiri.
"Kau bisa menceritakannya pelan-pelan" kata Ino menenangkan.
"Hari ini Naruto tak ada di apartemennya lagi" kata Sakura pelan.
"Mungkin sedang lembur...kau tahu kan tugas hokage banyak jadi hari sabtu begini juga tidak libur" kata Ino. Sakura hanya menggeleng.
"ini sudah yang entah keberapa kalinya Naruto selalu pergi entah kemana, dulu ketika aku tiba-tiba muncul di apartemennya pada hari sabtu atau minggu ia selalu ada. Entah sedang tidur atau bermalas-malasan namun sudah dua kali aku datang ke apartemennya dan selalu kosong. Aku susul ke kantor hokage disana hanya ada shikamaru yang sedang sibuk mengurus dokumen. Bahkan sudah hampir 2 bulan kami tidak kencan. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan." Kata Sakura putus asa dengan mata berkaca-kaca. Ino hanya memberikan tisu sambil menatap Sakura simpati.
"Apa kau sudah menanyakan ini pada Naruto? Maksudku kau kan bisa tanya akhir-akhir ini dia pergi kemana setiap akhir minggu?" saran Ino sambil mengelus-elus pundak Sakura.
"aku sempat menanyakannya tapi ia hanya bilang pergi tamasya atau latihan. Jika aku bilang aku ingin ikut ia hanya bilng kapan-kapan ia akan mengajakku bersama sasuke dan kakashi sensei latihan bersama" geram Sakura.
"Kalau begitu katakan saja langsung bahwa kau ingin kencan dengannya...kau tahu kan Naruto itu laki-laki yang tidak peka. Dulu saja Hinata jelas-jelas jatuh cinta padanya, tapi dia sama sekali tidak paham" kata Ino kesal. Sakura terdiam cukup lama. Ia teringat kembali dengan salah satu temannya yang pergi dari Konoha begitu saja. Awalnya ia merasa tidak enak menjalin hubungan dengan Naruto karena tahu bahwa Hinata memendam perasaannya pada Naruto bertahun-tahun dan tak berani menyatakannya. Ia yang egois karena tidak rela jika kehilangan Naruto. Ia takut Naruto yang selama ini memberikan perhatiannya hanya pada dirinya akan berpaling pada Hinata. Sakura tahu bahwa Naruto seperti menyadari perasaan Hinata. Sakura takut ia akan kehilangan perhatian Naruto jika Naruto bersedia memberikan kesempatan pada Hinata. Tidak sulit bagi laki-laki manapun untuk mencintai wanita yang baik, cantik dan pengertian seperti Hinata. Maka sebelum Naruto memutuskan sesuatu ia mengizinkan Naruto mengajaknya berkencan.
Awalnya Sakura mengajak Naruto selain ingin memastikan perhatian Naruto juga untuk melihat reaksi sasuke. Ia kecewa ketika melihat sasuke biasa-biasa saja ketika ia menceritakan makan malam berdua dengan Naruto. Lama-kelamaan tanpa disadari Sakura menyerah untuk memperjuangkan cinta sasuke. Lama kelamaan Sakura menyadari ada laki-laki yang selalu ada untuknya. Apalagi sekarang Naruto lebih dewasa dan tidak seenaknya saja berteriak mengajaknya kencan di tengah jalan. Bahkan dulu Naruto sok-sokan mau mengantar kerumah sekarang malah sama sekali tak pernah menawarinya. Naruto beralasan bahwa tidak akan ada orang menggoda atau mengganggunya karena ia mengerikan. Naruto sempat benjol kepalanya karena mengatakan hal seperti itu.
"Aku kan wanita...tidak mungkin aku yang mengajaknya kencan duluan" kata Sakura menolak.
"Kalau begitu tunggu saja Naruto mengajakmu kencan...walaupun entah berapa tahun lagi" jawab Ino santai. Sakura melirik sebal. Ia sudah terbiasa diajak kencan oleh Naruto. Tentu saja ia enggan mengajak Naruto kencan terlebih dahulu.
"Kau tahu aku sering sekali yang berinisiatif untuk kencan, Sai jarang sekali mengajakku kencan. Ia memang payah dalam percintaan jadi aku yang harus aktif mengajarinya. Kadang ibuku saja sampai tertawa terbahk-bahak kalau aku bercerita tentang tingkah Sai" kata Ino. Sakura hanya diam mencerna kata-kata Ino.
" Terkadang Sakura kau juga perlu mengalah, jangan biarkan Naruto terus yang mengalah. Kadang kau perlu memberikan kata-kata mesra, memberikan kejutan atau menyatakan cinta pada Naruto. Jangan Naruto terus yang memperlakukanmu sebagai ratu tapi kau hanya bisa memukulinya jika kau tidak suka degan tindakannya. Kau perlu memberitahu apa yang kau suka, apa yang kau benci dan masih banyak lagi. Jika kau hanya memukulnya maka Naruto akan merasa kau tidak menghargai apa yang telah dilakukannya untukmu" kata Ino hati-hati. Selama ini Ino sangat heran kenapa Naruto bisa mencintai Sakura yang hobi sekali kekerasan. Ia kadang berpikir Naruto punya kelainan.
"Lalu aku bagaimana?kalau aku mengubah perilakuku secara tiba-tiba Naruto pasti akan kaget" kata Sakura putus asa.
"Kaget dalam arti yang baik kan?" balas Ino.
"Masalahnya aku merasa Naruto semakin menjauh. Dulu waktu kami selalu makan malam saat akhir minggu. Kadang ia menceritakan dokumen-dokumen yang membosankan atau misi-misi unik. Namun kali ini ia seperti menganggap hal itu tak penting lagi" kata Sakura serius.
"Kunci dari sebuah hubungan adalah komunikasi Sakura. Apa komunikasimu dengan Naruto baik? Sesekali balas pernyataan cinta Naruto dengan kata-kata manis bukan dengan sebuah pukulan" kata Ino
"Ia bahkan tak pernah menyatakan cintanya lagi" kata Sakura sambil menunduk.
"Hah? Maksudnya?" kata Ino kaget. Naruto memang dikenal ninja yang suka mengatakan apa yang ada dipikirannya. Sejak kecil Naruto sering sekali menyatakan cinta pada Sakura. Apa kepribadian Naruto berubah.
"Ya...dia tak pernah menyatakan cintanya lagi"
"Sejak kapan?"
"Entahlah...aku sampai lupa...mungkin terakhir kali sebelum perang shInobi keempat"
Mendengar penjelasan Sakura Ino hanya terpekur. Naruto yang digambarkan Sakura bukanlah Naruto yang Ino kenal. Selama ini Ino tidak melihat perbedaan Naruto yang dulu dengan sekarang. Naruto yang sekarang hanay bertambah matang dan dewasa, itu saja.
"Lalu bagaimana dengan komitmen kalian?" tanya Ino hati-hati
"Maksudnya?" tanya Sakura tak mengerti.
"Maksudku bagaimana kalian mengawali hubungan ini? Apa Naruto yang memintamu jadi pacar atau kau mengasumsikan bahwa kau pacar Naruto" tanya Ino. Ino melihat raut wajah Sakura berubah. Ia tahu Sakura bersiap akan marah. Sakura menarik nafas dan menghembuskannya berkali-kali untuk mengontrol emosi.
"Apa menurutmu aku yang mengasumsikan bahwa aku adalah pacar Naruto?" kata Sakura dingin.
"Um...sory...berarti Naruto ya yang memintamu?" tanya Ino dengan nada minta maaf.
"Naruto mencintaiku sejak kecil" kata Sakura dengan nada tinggi
"Aku tahu Sakura...aku tahu" kata Ino menenangkan
"Dia yang mengajakku kencan berkali-kali" kata Sakura, nadanya naik beberapa oktaf.
"Psssst...Sakura tenang...jangan teriak-teriak" kata Ino mulai panik melihat tingkah Sakura.
"Bagaimana aku bisa tenang jika kau bertanya hal-hal yang tidak jelas seperti ini?" tanya Sakura histeris. Sakura terisak. Ino mengelus-elus pundak Sakura untuk menenangkan diri.
"Apa kau pikir hanya aku yang menganggap bahwa hubungan kami adalah pacaran?" tanya Sakura pelan sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh.
"Um...aku tidak tahu...entahlah yang punya hubungan kan kau jadi aku tak tahu detailnya" kata Ino iba.
"Apa menurutmu Naruto masih mencintaiku?" tanya Sakura lagi
"Cinta bisa dirasa Sakura...apa kau bisa merasakan cinta Naruto?" Ino balik bertanya
"entahlah" jawab Sakura bingung.
End flashback
Ino menghembuskan nafasnya berat. Sekarang ia tahu bahwa Naruto sudah tidak mencintai Sakura lagi. Sakura lah yang terlalu percaya diri, Sakura terlalu yakin bahwa Naruto hanya bisa mencintai dirinya.
Dari pengamatan Ino tadi malam, Ino dapat melihat bahwa Naruto sangat peduli dan perhatian pada Hinata dan anak-anak mereka. Ino melihat keluarga kecil yang bahagia disana. Etah apa yang bisa Ino katakan pada Sakura ketika nanti pulang ke Konoha.
Jika beberapa tahun yang lalu Ino diberitahu bahwa Sakura akan patah hati gara-gara Naruto, Ino pasti tertawa terbahak-bahak. Naruto hanya bisa mencintai Sakura. Namun pemandangan tadi malam mengubahnya 180 derajat.
"Ada apa?" tanya Sai melihat isterinya melamun.
"Eh...um...apa kau kira Sakura akan menerima fakta bahwa Naruto sudah menikah sayang?" tanya Ino ragu.
"menerima atau tidak, ia harus tahu bahwa laki-laki yang ia cintai sudah menjadi orang lain. Dulu aku sudah memperingatkan Sakura. Tapi ia terlalu percaya diri. Ia hanya berpikir bahwa Naruto hanya akan melihatnya. Sekarang rasakan sendiri akibatnya" kata Sai tanpa mengalihkan perhatiannya dari dokumen yang sedang ia pelajari.
"Apa kau tidak sedikit terlalu kejam sayang?" bujuk Ino
"Tidak...menururtku Naruto juga berhak mendapatkan kebahagiaan. Naruto berhak mendapatkan wanita yang mau mengasihi. Bukan wanita yang selalu minta perhatian tanpa memikirkan pasangannya."jawab Sai santai.
Ino menghembuskan nafas panjang. Mau tak mau ia harus mengakui bahwa apa yang Sai katakan benar.
####
Naruto terbangun dan mendapati Hinata sudah tidak ada disampingnya. Padahal seingatnya tadi malam ia tidur sambil memeluk Hinata. Ia membisikkan permintaan maaf berkali-kali tadi malam.
Naruto bergegas pergi ke dapur. Ia mendapati Hinata sedang membuat sarapan. Aroma masakan Hinata sudah menguar kemana-mana.
"Sudah bangun hokage sama?" kata Hinata sambil terus meneruskan menggoreng udang kesukaan Arata.
"Sudah...ehm...aku bangunkan anak-anak dulu" kata Naruto sambil berbalik.
"Naruto san..."panggil Hinata membuat Naruto menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya kearah Hinata. "Anda suda membolos kemarin, sebaiknya anda mandi lalu sarapan, anda bisa langsung pulang ke Konoha...biar saya dan anak-anak pulang ke Roppan sendiri" lanjut Hinata sambil menatap Naruto dalam.
Naruto mendesah.
"Kau masih kurang sehat, aku tak tenang melepasmu sendirian bersama anak-anak, lihat wajahmu saja masih pucat" kata Naruto dengan wajah khawatir.
"Saya pulang ke Roppan dengan naik kereta kuda Naruto san, bukan jalan kaki ataupun berlari, anda tidak usah cemas. Anda punya tanggung jawab di Konoha" kata Hinata mencoba berdebat.
"Mulai sekarang kau dan anak-anak juga tanggung jawabku" kata Naruto tak mau kalah.
"Kami akan baik-baik saja Naruto san." Bujuk Hinata.
"Aku akan membangunkan dan memandikan anak-anak, baru nanti kita makan bersama" kata Naruto keras kepala.
Naruto tak akan tenang jika ia belum melihat dengan mata kepala sendiri Hinata dan anak-anaknya masuk ke kediaman hyuga dengan selamat. Ia segera membangunkan kedua bocah kecilnya yang masih ogah-ogahan bangun karena tadi malam kecapekan main. Naruto terpaksa menggendong kedua buah hatinya lalu melucti pakaiannya lalu menaruh mereka berdua dikolam air hangat begitu saja. Naruto hanya tertawa melihat kedua putranya yang masih mengantuk terkaget-kaget karena hampir tenggelam.
"Nah...jagoan-jagoan touchan udah ganteng nih...ayo sekarang sarapan, udah ditunggu sama kaachan di ruang makan" kata Naruto menyemangati anak-anaknya. Ia menuntun kedua anaknya keruang makan.
"Udang goleng holeeee" kata Arata semangat. Hinata hanya tersenyum.
"ayo makan yang banyak..." kata Hinata sambil menahan tawa melihat tingkah anaknya yang tadinya ogah-ogahan langsung semangat melihat makanan yang terhidang dimeja.
"jam berapa keretaya menjemput Hinata?" tanya Naruto sambil menyumpit nasi banyak-banyak.
"Jam 9 Naruto san, saya sudah memberekan barang-barang termasuk punya Naruto san. Maaf kalau saya tidak sopan...saya Cuma ingin semuanya siap ketika kereta kuda menjemput" kata Hinata dengan nada minta maaf.
"Tidak apa, aku tidak keberatan. Terimakasih sudah memberekan barang-barangku ya" kata Naruto sambil tersenyum. Mungkin begini rasanya punya isteri. Baju dicucikan, makan sudah dimasakan, mau pergi semua sudah beres.
"Kaachan maianan yang dibeli tadi malam udah dibelecin juga?" tanya Arata agak khawatir. Pasalnya ibunya tidak terlalu suka ketika ayah mereka membelikan banyak mainan.
"sudah sayang" jawab Hinata sabar
"Ikan emasnya belum dibeli makan kaachan" Kanata berhenti mengunyah dan panik.
"Nanti diberi makan kalau kita sudah sampai di rumah" jawab Hinata menenangkan.
"sudah-sudah...semua pasti sudah beres dengan kaachan, kalian tak usah khawatir. Sekarang makan dulu terus kita pulang. Ok?" kata Naruto menengahi
"Touchan mau pulang ke Konoha ya?" tanya Kanata dengan muka tertekuk.
"Iya...touchan kan kerja disana" kata Naruto sambil mengelus kepala Kanata.
"Bolos lagi aja touchan, temani kita beldua main lagi" kata Kanata merajuk.
"Kanata..." kata Hinata memperingatkan.
"Kenapa cih touchan keljanya jauh-jauh, keljanya nggak bica pindah di loppan aja ya?" tanya Arata polos. Hinata dan Naruto hanya saling pandang bingung.
"Touchan kan udah temani kalian main dari kemarin...sekarang touchan harus kerja lagi, biar dapet uang, biar bisa beliin mainan yang banyak" kata Hinata mencoba menjelaskan.
"Kalo gitu kita nggak akan minta mainan lagi, tapi touchan maian telus cama kita ya?" kini Arata ikut merajuk. Naruto sungguh tak tega menghadapi kesua anaknya yang masih polos itu. Ia juga masih ingin memanjakan mereka. Tapi ia seorang hokage. Ia tak mungkin mengacuhkan tanggungjawabnya.
"Kanata...Arata...sekarang makan dulu...nanti kita bicarakan lagi ya?" bujuk Hinata. Kalau Arata dan Kanata ngambek bisa repot nanti.
####
Hinata hanya meggelengkan kepalanya ketika melihat ulah anak-anaknya ketika mereka telah turun dari kereta kuda.
"Sayang...sudah lepasin tangannya ya...touchan mau pulang dulu ke Konoha" bujuk Hinata
"Nggak mau..." kata Kanata sambil terus memegang erat kaki kiri Naruto.
"Arata pengin touchan kelja di loppan aja" kata Arata sambil memegang erat kaki kanan Naruto.
Naruto hanya memandang Hinata bingung. Dulu Arata dan Kanata tak seperti ini karena mereka tak berhakmeminta Naruto tinggal karena status Naruto hanyalah teman kaachan mereka. Namun sekarang Naruto adalah ayah mereka jadi mereka punya hak untuk meminta ayah mereka tetap tinggal.
"minggu depan touchan kesini lagi main sama kalian" bujuk Naruto sambil mengelus kedua anaknya yang masih tak mau melepaskan kedua kaki Naruto. Bukannya pegangan mengendur pegangan Arata makin mengerat sementara Kanata menggeleng keras.
"Ya sudah...Naruto san sebaiknya masuk saja, sekalian makan siang. Setelahmereka berdua makan siang. Naruto san bisa diam-diam pulang" bisik Hinata pelan ditelinga Naruto. Naruto hanya mengangguk pasrah. Toh tak rugi juga bisa makan siang bersama keluarga.
"Oke...touchan masuk deh..." kata Naruto mengalah.
"Holeeeeee..." kata Arata dan Kanata. Mereka melepaskan pegangannya dan meraih tangan Naruto lalu menyeret Naruto kedalam penginapan lotus. Hinata hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Hinata berjalan dibelakang dan membawa beberapa barang yang kecil. Barang-barang yang besar biar nanti ia minta tolong dengan pekerja hyuga saja.
Naruto sedikit mengernyit melihat para hyuga yang bekerja di penginapan tida menyapanya. Mereka yang biasanya ramah malah menatap Naruto dengan wajah menggeleng-gelengkan kepala entah maksudnya apa.
Naruto terus memasuki bagian dalam penginapan menuju kamar si kembar. Beberapa kali berpapasan dengan pekerja hyuga. Mereka melakukan hal yang sama menggelengkan kepala, namun ketika Naruto ingin menanyakan apa maksudnya mereka burur-buru pergi.
"Eh...kakek ciapa? Kok ada dikamal kita?" suara Arata bertanya dari kamar mereka. Naruto berlari secepat kilat kearah kamar si kembar. Ia tak mau ada orang asing tidak jelas dekat-dekat dengan anaknya.
Naruto tak bisa menggerakkan badannya begitu melihat siapa yang ada dihadapannya.
"Lama tak bertemu hokage sama"
Naruto masih diam tak membalas perkataan orang dihadapannya. Arata dan Kanata hanya bisa melihat ayahnya terdiam dan memucat dengan raut muka bingung. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berlari kearah mereka.
"Kaachan?" kata Arata heran melihat ibunya tiba-tiba muncul dikamar mereka. padahal waktu menjelang makan ibunya kan biasa ribut didapur.
Hinata tidak memperdulikan panggilan Arata. Saat ia pergi kedapur banyak sekali pekerja yang tak mau melihat wajahnya. Saat Hinata tanya kenapa, mereka hanya menggeleng sambil mengatakan tidak apa-apa dengan suara bergetar.
Saat bertemu bibi Ginko yang dengan panik memberitahu Hinata apa yang terjadi. Hinata segera berlari menyusul Naruto dan kedua anak mereka. sayangnya semua sudah terlambat, tadinya ia ingin Naruto pergi ke Konoha sebelum semua menjadi rumit. Namun sekarang ini mereka malah berkumpul dikamar si kembar. Kamar ini seperti kamar yang dipasangi bom yang bisa meledak setiap saat.
"Ah...Hinata kau sepertinya sehat walaupun sedikit pucat"
Hinata hanya diam menunduk disamping Naruto. Belum pernah Hinata sepanik ini. Hinata melirik Naruto yang wajahnya juga memucat.
"Kenapa kau diam saja Hinata? Apa kau lupa jika kau bertemu dengan ayahmu kau harus memberi salam"
Hinata mengigit bibir nya keras. Dengan suara bergetar ia pun memberi salam.
"selamat datang ayah...semoga perjalanannya tidak melelahkan"
.
.
.
Tada...chapter 22
Thaks bagi yang kemarin udah review... gw dah baca reviewnya.
Semoga di chapter ini beberapa pertanyaan direview sudah gw dah bilang gw jawab review bisa tersirat atau tersurat hehehe
Menurut gw tiap chapter udah lumayan panjang karena gw yang bkin kali ya jadi berasa panjang bgt gw ngetiknya. Nanti deh gw panjangi kalo reviewnya jg pada panjang *ngeles*
Btw gw gak janji bakal update cepet n rutin karena gw lg sibuk. Buat kalian2 yang suka baca, kalian kan bisa baca fic2 lain
Fic2 lain juga gak kalah bagus lho, misal nih fic by your side, the ring that binds, Intertwining Fate, A Reluctant Return, A Father's Duty
Fic diatas bagus bagus lho. Bahasanya enak dibaca selain itu ceritanya nggak norak and maksa...
Jangan lupa review ya...
Btw nggak ada editan
