Holla!

Kali ini, aku bawa chapter ketiga nih. Jadi, langsung aja ya...

Selamat membaca...

#

"Katakan siapa kau!" kata James tegas.

Laki-laki di depannya masih menganga menatapnya. "A...aku... kami -"

"Bagaimana kalau kalian masuk dulu?" tawar Lily. Ia kasihan melihat anak-anak itu di jalanan.

James terkejut dibuatnya. "Lily! Bisa jadi mereka Pelahap Maut yang menyamar."

Lily menggeleng kuat-kuat. "Tidak. Aku yakin mereka bukan Pelahap Maut."

"Ayo masuk." ajaknya ramah.

Keempat remaja itu masuk dengan gugup dan ragu-ragu. Mereka duduk di salah datu sofa panjang yang berhadapan dengan tempat Lily, James, Sirius dan Remus duduk.

"Jadi, siapa kalian?" tanya Remus.

"A...aku -"

"Hey! Kau sangat mirip dengan James." seru Sirius.

"Sirius!" ancam Lily.

"A...aku... kami...kami berasal dari tahun 1999."

Mereka -kecuali keempat orang asing itu- terbelalak kaget.

"ja...jadi... kalian... kalian dari masa depan?" tanya Remus terbata-bata.

Keempat orang asing itu mengangguk. "Aku... aku Harry

Potter. Ini sahabatku, Ron Weasley dan Hermione Granger. Lalu ini adik Ron dan pacarku, Ginny Weasley."

Mereka masih tercengang menerima fakta itu. "Ha...Harry." Lily menarik Harry kedalam pelukannya. Ia mendekap Harry dengan sangat erat sehingga Harry dibuat tersedak karenanya.

"M...mum." Harry membalas pelukan Lily. Air mata yang tak bisa dibendungnya mengalir dari sudut matanya.

"Harry, mengapa kau menangis?" tanya James.

Harry terkejut dan segera melepas diri dari pelukan Lily lalu mengahapus air matanya.

"Ini... ini pertama kalinya aku bertemu kalian, secara langsung, tanpa perantara." ujar Harry.

"M...maksud...mu, aku d...dan Lily, mening...meninggal?" tanya James terkejut.

Harry tersenyum sedih. "Maaf." ucap Lily menunduk.

"tak apa Mrs. Potter, ini bukan kesalahanmu. Kesalahan si hidung pesek itulah kau tidak bisa melihat Harry tumbuh dewasa. Asal kalian tau saja, Harry merupakan Order of Merlin Kelas Satu!" cerocos Ron.

Hermione dan Ginny memelototinya sedangkan Harry hanya nyengir.

Sirius melotot. "Order of Merlin Kelas Satu? Merlin! Apa yang kau lakukan Harry? Rekor rambut paling berantakan sepanjang sejarah?" tanya Sirius beruntun.

"Karena Harry membunuh si kepala botak itu." kata Ron penuh kepuasan.

Lily, James, Sirius dan Remus membelalak. "Membunuh...membunuh Voldemort?" tanya Remus syok.

Harry berusaha mengelak. "Itu hanya -"

"Sebuah keberuntungan? Kau selalu saja mengatakan hal itu. Kau membunuh Voldemort! Hal itu sangat jelas bukan? Kau melakukannya tanpa bantuan siapapun." ujar Ron jelas-jelas jengkel.

"Tidak. Aku melakukannya dengan bantuanmu, Hermione, Ginny, LD, Orde Phoenix dan murid-murid Hogwarts. Bahkan kau, Herimone, Ginny, Neville dan Luna adalah Order of Merlin Kelas Dua!" bantah Harry.

Ron berusaha membalas tapi dihentikan oleh James. "Sudah cukup, sekarang kami ingin mendengar semuanya. Apapun yang menyangkut kalian." kata James.

"Tapi kami harus memodifikasi ingatan kalian saat kami akan kembali. Sepakat?" tawar Harry mengulurkan tangannya.

James dan Sirius terlihat enggan. Tapi toh, James menjabat tangan Harry sebagai pertanda kalau ia sepakat.

Harry, Ron dan Hermione bercerita secara bergantian. Ditambah Ginny sedikit-sedikit. Ada saatnya dimana suasana menegang (saat Harry bercerita tentang Quirrel, Basilisk, Dementor, dsb), James dan Sirius tertawa sangat keras (saat Ron bercerita tentang Fred dan George, Umbridge, dsb), saat Lily mengeluarkan isak kecil (saat Hermione bercerita tentang kematian Cedric, Duel di Kementrian Sihir yang menyebabkan kematian Sirius, kematian Dumbledore, dsb), saat James dan Sirius ber-'ehem-ehem' ria (saat Ginny bercerita tentang Ron dan Lavender -wajah Ron sudah berubah merah-, hubungannya dengan Harry, dan ciuman pertama Ron dan Hermione -keduanya sudah lebih merah dari rambut Weasley-, dsb).

"... lalu Ron menyelamatkanku yang nyaris tenggelam." kata Harry.

"Lily-Flower, bukankah rusa betina adalah patronusmu?" tanya Sirius.

Lily mengangguk membenarkan. "Dan itu juga Patronus Profesor Snape." ujar Harry.

"Snivellus?" tanya James memastikan.

Harry mengangguk, menatap Lily tajam. "Kalian tau? Dia sangat mencintaimu mum. Dia rela bergabung dengan Orde dan menjadi agen ganda hanya untuk menyelamatkanmu. Tapi apa daya, warisanmu kini hanya aku, foto dan surat-suratmu. Dia adalah orang yang paling berani yang pernah kutemui." tutur Harry.

Semua orang dibuat tercengang karenanya. "Cinta bisa membuat Snivellus gila." kutip Sirius.

Ron lalu kembali bercerita hingga... "Merlin! Harry!" seru Lily. Ia berlari menaiki tangga.

Semua orang memandang para Marauders dengan penuh tanda tanya.

"Tadi Lily meninggalkan Harry -maksudku bayi Harry- di kamarnya." terang James.

"Lanjutkan ceritanya." pinta Lily menuruni tangga. Dadanya ditutupi selimut dan tangannya menimang-nimang bayi Harry.

Hermione menceritakan tentang Battle of Hogwarts yang membuat Remus banyak meringis.

"Teganya kau Remus meninggalkan bayi malang tanpa kasih sayang orang tua." ujar Sirius dramatis.

Remus memutar bola matanya. Tapi toh, ia juga merasa bersalah dibuatnya.

"Apakah Teddy baik-baik saja." tanyanya khawatir.

"Tenang Remus, kami semua menjaganya di sini. Bahkan mum dan dad juga sudah menganggap Teddy sebagai cucu mereka." ucap Ron menenangkan.

Remus tersenyum penuh terima kasih. Dan mereka terus mengobrol hingga malam tiba

Tada!

Selesai nih chapter 3nya. Mudah-mudahan pada suka ya...

Peach!! ;)